MEI 2023

MEI 2023

KHAWATIR DI BALIK TINDAKAN UANG

Malaikat tidak punya rasa khawatir, justru hidupnya stagnan, tidak bertumbuh kecuali seperti apa yang telah dikodratkan alam semesta. Maka ini rasa khawatir bukan berarti keburukan, rasa khawatir sebenarnya perangkat lunak motivasi yang ter-install dalam diri Anda.   Rasa khawatir dalam spiritual Islam disebut khauf sebagai lawan “raja’” atau “harapan”. Karena harapanlah, Anda lalu memiliki kekhawatiran, itulah yang kemudian menyuguhkan rasa “harap-harap cemas” dalam diri Anda.   Kucing sering kali tertabrak kendaraan di jalanan karena si kucing hanya sedikit kekhawatirannya ketika menyeberang atau ketika tiduran di jalanan. Jadi khawatir sebenarnya bukan keburukan, merupakan energi penyeimbang dari rasa berharap.   Khawatir adalah sikap berpikir berlebihan atau terlalu cemas tentang suatu masalah atau situasi. Kekhawatiran biasanya disertai dengan rasa tidak nyaman dan kecemasan.   Sikap ini menyebabkan seseorang menjadi terganggu, memusatkan pikiran pada kejadian negatif yang mungkin terjadi, serta dilanda ketakutan yang tidak masuk akal dan tidak berdasar. Pada kondisi parah, rasa khawatir dapat menyebabkan kecemasan parah serta panik, dan mungkin akan menjadi masalah kronis.   Dalam urusan spiritual uang, khawatir itu musuh bebuyutannya uang.   Anak Anda–sampai kelas 9–sekolahnya sudah dijamin negara melalui BOS (Biaya Operasional Sekolah), lalu Anda khawatir sekali tidak bisa sekolahkan anak hingga lulus SMP, apa mental Anda waras?   Uang itu jaminan rezeki dari Allah, makanya antipati dikhawatiri, entah dengan alasan apapun.   Nah disini sebenarnya yang kerap menyabotase tindakan Anda dalam memperbaiki finansial. Gara-gara rasa khawatir, tindakan Anda sebenarnya “mengamankan uang” tapi hasilnya malah berantakan tidak karuan.   Anda bertindak menabung, itu tindakan mengamankan uang, tapi getaran kesadarannya karena Anda khawatir di hari depan kekurangan dana, atau khawatir kalau tifak menabung nanti tidak bisa kaya, nah itu sabotasenya. Andai Anda menabung dengan getaran kesadaran memelihara amanah rezeki Allah kan jadi beda resikonya?   Anda bertindak ikut BPJS Kesehatan, itu tindakan amankan uang, namun getaran kesadarannya khawatir kalau sewaktu-waktu sakit tidak bisa biayai, di situ sabotasenya. Andai kesadaran ikut BPJS Kesehatan karena hargai jiwa raga Anda agar lebih sehat, hasilnya tentu lain.   Yang banyak terjadi itu irit yang ujar-ujar akan aman dari pemborosan tap hasilnya malah kebobolan uang sekalian, itu jelas karena rata-rata orang irit karena khawatirnya pada kekurangan uang terlalu besar.   Nah banyak orang bangun sistem amankan uang, namun tidak ada pertumbuhan berarti, itu karena kesadarannya disetir kekhawatiran-kekhawatiran.   Jika khawatirnya pada kualitas jiwa sebenarnya tidak masalah. Misal Anda irit tapi karena khawatir tidak bisa biayai anak kuliah. Kuliah itu urusan ilmu, ilmu itu terhubung dengan kualitas jiwa.   Atau seperti santri-santri saya yang puasa harian. Mereka puasa bukan khawatir uangnya boros namun puasa karena khawatir kalau menuntut ilmu tidak disertai laku prihatin nanti ilmunya kurang manfaat.   Jiwa itu berlawanan dengan rezeki. Kualitas jiwa tidak ada jaminannya. Anda tidak ada jaminan jadi orang berilmu, tidak ada jaminan jadi orang shaleh, tidak ada jaminan orang bertakwa, karena itu segala hal terkait urusan jiwa itu harus dikhawatiri. Nah kalau rezeki yang jaminan lantas dikhawatiri, itu namanya bego kuadrat.   Jadi ceck and riceck ke dalam, sudahkah tindakan Anda dalam finansial itu terminimalisir dari kesadaran khawatir urusan rezeki? Makin terminimalisir, rezeki Anda makin mengalir harmoni.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

PENGHASILAN BESAR, UANG LANGKA

– Sengkolo Kantong Bolong   Salah satu persoalan spiritual uang itu terseret dalam kondisi penghasilannya besar tapi uangnya langka, orang Jawa bilang “sengkolo kantong bolong” yakni kesialan kantongnya berlubang.   Energi sengkolo kantong bolong adalah lawannya energi berkah. Energi berkah itu rezekinya pas-pasan tapi luber untuk dikonsumsi banyak orang. Seperti seekor kambing dan satu gantang gandum milik sahabat Jabir bin Abdullah yang disembelih untuk kasih makan 1000 sahabat Nabi S.A.W yang sedang gotong royong gali parit (khandaq).   Satu kambing dengan satu gantang gandum untuk menyuguh Nabi S.A.W dan 1000 sahabatnya, ternyata kenyang semuanya, dan bahkan sisa. Itulah energi berkah. Penghasilannya besar, tapi uangnya langka, boro-boro cukup malah tombok, lalu kemana hasil besar tersebut? Tentu diserap oleh kesadaran perasaan Anda.   Kesadaran berperasaan itu energi yang gubah semua wujud realita. Vladimir Putin punya perasaan marah kepada pemerintah Ukraina, bukankah satu negara Ukraina jadi luluh-lantak? Ukraina yang selama ini stabil dan terkenal denfan stok gadis cantiknya seketika luluh-lantak hanya karena dipicu rasa marahnya Putin.   Energi perasaan itu juga yang menyerap realita nikmat jadi penderitaan, realita derita jadi nikmat.   Seks itu gurih dan enak, tapi kalau perasaan yang muncul adalah rasa terpaksa, hubungan seks jadi menyakitkan. Tanya saja para korban pemerkosaan. Seks sebenarnya enak, bagi korban pemerkosaan jadi penderitaan.   Dirampok sebenarnya kedudukannya sama dengan sedekah karena hakikatnya menyerahkan harta sendiri kepada orang lain dengan cuma-cuma, tapi karena dirampok dilatarbelakangi rasa dipaksa, sedekah dilatarbelakangi rasa sukarela, akhirnya hukum akibat yang terjadi menjadi fatal bedanya. Dirampok melahirkan sosok korban, sedekah melahirkan sosok dermawan.   Para tentara ketika di kamp latihan, realita sebenarnya orang-orang yang sedang disiksa, tapi karena dilatarbelakangi kesadaran rasa tanggung jawab karir sebagai prajurit, akhirnya realita penderitaan menjadi kebahagiaan.   Jadi jelas kesadaran rasa itu berenergi dahsyat dalam implikasi realita.   Penghasilan besar, duitnya langka, itu juga jelas duitnya diserap oleh kesadaran perasaan Anda.   Lalu kesadaran perasaan seperti apa yang menyerap uang?   Begini. Kalau Anda egois, itu semua orang di sekitar Anda menjauh, mereka jadi langka dalam kehidupan Anda, hidup Anda jadi sunyi dalam keramaian. Penghasilan besar tapi duitnya langka itu karena Anda egois kepada uang.   Egois itu cari menang sendiri, cari untung sendiri, cari nikmat sendiri, cari enak sendiri, tidak peduli keadaan orang lain. Nah kesalahan kesadaran dalam membelanjakan uang itu yang jadikan Anda egois kepada uang.   Anda belanjakan uang tapi untuk layani rasa hedonis Anda, belanjakan uang tapi untuk turuti gaya hidup Anda, belanjakan uang tapi untuk menyenangkan diri sendiri saja, belanjakan uang tapi untuk turuti hura-hura, tanpa ada transfer kesadaran untuk menguntungkan dan membahagiakan orang lain, yang seperti itu yang disebut sikap egois kepada uang.   Kondisi kesadaran seperti itu ya sudah uang yang hadir dalam hidup Anda mau sebesar apapun akan raib semua, malah kurang.   Perbaikannya, bagaimana? Biasanya mereka yang alami keadaan sengkolo kantong bolong sibuk mengevaluasi uang, diingat-ingat buat apa saja, kesalahan pengeluaran uangnya dimana, berpikir harus lebih hemat lagi, dan seterusnya.   Lah wong uang salah apa-apa tidak, uang punya kesadaran juga tidak, malah dievaluasi. Kalau uang punya salah dan khilaf, baik dan benar, ya nanti Tuhan akan menghisab uang di hari kiamat, lalu ada mata uang yang masuk neraka dan masuk surga, ada mata uang mukmin dan kafir.   Yang harus dievaluasi itu diri Anda, bego!   Perbaikannya dengan ganti kesadaran perasaan Anda.   Masalahnya kan kesadaran egois kepada uang, segala bentuk pembelanjaan harta hanya untuk kesenangan dan hura-huranya sendiri, nah tinggal ganti niatnya, yakni dengan Anda belanjakan harta untuk alirkan rezeki kepada orang lain. Lah iya, Anda beli sandal harga 30 juta, diniatkan sesadar-sadarnya untuk alirkan rezeki kepada si penjual beserta seluruh jaringan bisnisnya, kan jadi enak di iman, enak juga di uang?   Sederhana ya, hanya ganti kesadaran rasa? Eits nanti dulu. Anda benci kepada seseorang, apa bisa begitu dinasehati agar jangan membencinya lalu seketika Anda bisa menggantinya? Tidak bisa. Rasa sayang jadi benci, rasa benci jadi sayang, butuh proses berliku dan waktu panjang.   Demikian pula mengganti kesadaran hedonis menjadi kesadaran melimpahi orang lain, butuh proses dan waktu yang sama. Untuk mempercepat perbaikan kesadaran, sebaiknya banyak-banyak istighfar kepada-Nya, mohonlah ampunan. Konsisten baca istighfar seharinya 3000 kali dalam waktu 3 tahun dengan istiqamah juga biasanya sudah clear. Sebentar, ya?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

BEDA QANA’AH DAN MISKIN

Anda pakai sarung sudah kusut, banyak bolong-bolong kena percikan bara rokok, dan di hati Anda diiringi rasa neriman sebagai orang yang tidak mampu beli sarung baru, itu bukan disebut qana’ah, tapi itu kemiskinan.   Persoalannya kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa, lah betapa lemah jiwa Anda jika hanya oleh harga 1 sarung saja kalah. Memalukan kan?   Apa Anda rela jika Anda saya bayar 10 juta namun kepala Anda saya injak-injak? Itu pertanda jiwa Anda yang disimbolkan dengan kehormatan kepala adalah sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan materi uang.   Jiwa Anda yang semulia itu lalu hanya hadapi satu sarung kusut lalu hati Anda merasa lemah yang berefek Anda neriman dengan kondisi sarung rusak, itu namanya jiwa Anda di-TKO oleh harta. Hati manusia kok kalah TKO dengan harta, apa itu qana’ah? Justru hal seperti ini yang disebut miskin.   Lalu qana’ah itu seperti apa? Ibn Baththal mendefinisikan,   الرضا بقضاء الله تعالى والتسليم لأمره علم أن ما عند الله خير للأبرار،   ”Ridha dengan ketetapan Allah Ta’ala dan berserah diri pada keputusan-Nya yaitu segala yang dari Allah itulah yang terbaik.” Itulah qana’ah.   Jadi qana’ah itu akses rasa neriman namun bukan neriman kepada harta yang pas-pasan, tetapi neriman kepada ketetapan-Nya.   Jadi qana’ah dan kemiskinan itu cuma selisih kesadarannya doang? Kalau qana’ah neriman dengan ketetapan Tuhan (pandumė Gusti), kalau kemiskinan itu neriman dengan harta? Iya. Betul. Cuma selisih sadar.   Namun sebelum kesadarannya selisih—antara sadar neriman kepada Allah dan sadar neriman dengan harta yang pas-pasan—ada beberapa proses mental yang melatari.   Kalau rasa neriman kepada harta yang pas-pasan itu dipicu oleh rasa lemah hati. Merasa dirinya miskin, merasa dirinya tidak punya uang, merasa dirinya wong cilik, lantas belum lakukan usaha apapun sudah menyimpulkan dirinya tidak mampu akhirnya neriman terima barang rongsok.   Misal pakai sarung kusut. Karena merasa miskin, merasa tidak mampu, lalu ketika tahu sarungnya kusut, ia belum usaha cari uang untuk beli sarung, lantas langsung saja neriman. Lantas sarung kusut dipakai saja. Itulah kemiskinan.   Beda kalau rasa neriman kepada ketetapan Allah. Kondisi neriman ini adalah kondisi neriman dimaja tidak lagi dilatarbelakangi rasa lemah hati, artinya si pelaku sudah berusaha keras untuk mengubah keadaan, tapi keadaan tetap juga tidak berubah, hingga akhirnya dia sadar bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik-Nya. Itulah qana’ah.   Misal mau lebaran Idul Fitri belum punya sarung baru. Selama bulan Ramadhan sudah usaha kerja peras keringat agar bisa beli sarung baru, eeh ternyata jelang lebaran malahan duitnya ilang dimaling, dan akhirnya hari H lebaran tetap pakai sarung kusut, dan di situ Anda sadar sesadarnya bahwa Allah berkuasa atas segala kehendak, maja itulah yang disebut qana’ah.   Jadi beda banget kan akses rasa dan mentalitas qana’ah dan miskin?   Dan ketika akses rasa dan prosedur prosesnya adalah qana’ah akan hadirkan kekayaan dan kecukupan, sementara akses rasa dan prosedur proses miskin akan hadirkan kemiskinan dan kekurangan.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

TIDAK ADA BANTUAN UANG YANG MENARIK KEKAYAAN

Sistem jual beli alam semesta itu konsumen dapat manfaat, produsen dapat bayaran. Nah kalau konsumen dapat bayaran apa ada sistemnya di alam semesta? Misal Anda ditugasi tidur di hotel tiap malam, lalu tiap bulan Anda dapat gaji seperti karyawan, apa mungkin?   Di alam semesta ini yang dibayar selalu produsen, bisa dibayar karena memroduksi jasa, bisa juga karena memroduksi barang.   Anda memroduksi konten Youtube, biaya untuk penuhi kebutuhan alat shooting atau biaya menyewanya, ide produksi konten, belum lagi nanti mematuhi algoritma Youtube, semua harus Anda urusi. Setelah Anda memroduksi konten Youtube, dan manfaat jasa konten diterima konsumen yakni viewers Youtube, baru kemudian Anda layak dapat bayaran.   Di atas pelogisannya dengan jual beli, sekarang temanya saya tarik ke tema sosial.   Hakikat menarik rezeki juga demikian, power menarik rezeki itu adanya bila Anda sebagai produsen yakni pihak yang memberi jasa atau barang, bukan pihak konsumen yang terima manfaat. Karena selamanya penerima manfaat itu tidak layak dibayar.   Anda sedekah, di situ Anda memberikan jasa amal kemanusiaan, Anda layak dibayar. Anda belanja, di situ Anda memberikan jasa mengalirkan rezeki kepada orang lain, Anda layak dibayar. Anda berikan nafkah, di situ Anda berikan jasa tanggung jawab nafkah, Anda layak dibayar.   Sekarang, kalau posisi Anda sebagai penerima bantuan uang, bagaimana? Lah ketika posisi Anda sebagai penerima bantuan uang, di situ posisi Anda sebagai penerima manfaat, bukan nemroduksi manfaat, Anda konsumen bukan produsen, layakah Anda dibayar dengan keluasan rezeki? Sebab tidak mungkin Anda menerima manfaat menonton konten Youtube lalu Anda yang digaji oleh Youtube, yang digaji tentu yang memroduksi jasa konten.   Tapi lumayan sih sebagai konsumen penerima manfaat itu, dia punya jasa kerap gunakan kata, “Terima kasih.”   Lebih sadis lagi, penerima manfaat malahan yang terkena hukum harus membayar, bukan dibayar. Anda mendapat manfaat makan di restoran, ya Anda harus bayar kan?   Sebab ini, kalau Anda terlalu nyaman sebagai penerima bantuan, justru rezeki Anda sukar bertumbuh, karena Anda memasang diri sebagai penerima manfaat, sebagai konsumen penerima manfaat. Dari sistem rezeki di alam semesta saja sudah jelas, penerima manfaat tidak layak dapat bayaran.   Malahan jika kenyamanannya hanya terima bantuan, nyamannya sebagai tangan di bawah, sehingga Anda tidak pernah lagi pikirkan imbal balik, justru nanti Anda yang ditagih oleh alam semesta untuk membayar, sebab kewajiban konsumen penerima manfaat adalah membayar.   Sistem tagihan bayarannya biasanya melalui sistem paksaan dari alam semesta, entah musibah yang datang min haitsu lâ yahtasib, entah sakit, entah jadi diseretkan rezekinya, entah jadi punya utang menumpuk, dan lain-lain, pokoknya oleh alam semesta dipaksa untuk membayar.   Anda amati saja, yang terima bantuan sosial gratis itu selalu orang miskin, tapi apa ada yang kemudian jadi milyader lantaran bantuan sosial? Tidak ada. Tidak ada bantuan sosial lalu mengentaskan kemiskinan.   Kecuali yang dapat bantuan karena prestasi, misal pebulu tangkis, lantaran punya prestasi jadi juara Thomas dan Uber Cup, lantas terima hadiah milyaran dari negara. Itu sih bukan bantuan sosial, tapi hadiah, dan hadiah pasti karena ada jasa yang diberikan.   Sekarang Anda tanya, “Lah kok ada pengemis kaya?” Barangkali ada, tapi itu di balik hidupnya pasti ada paksaan tagihan membayar dari alam semesta, entah apapun bentuknya.   Anda bisa amati kok, sistem rezeki alam semesta itu pihak penerima manfaat alias konsumen selalu yang tidak punya power rezeki. Yang power rezekinya besar selalu pihak pemroduksi jasa.   Para dermawan selalu menjadi orang kaya yang power rezekinya besar karena mereka pemroduksi jasa, pihak penerima manfaat bantuan justru yang konsisten tetap hidup kekurangan.   Kebanyakan para suami yang produktif memberi nafkah, power rezeki suami justru yang paling besar. Istri dan anak-anaknya sebagai pihak penerima manfaat nafkah, justru kerap tidak punya penghasilan besar.   Andai kemudian istri yang banting tulang memberi nafkah, hasilnya ya yang berikan jasa nafkah itu yang kaya, hasilnya si istri lebih kaya dari suami.   Jadi “amit-amit” punya mental tangan di bawah, punya mental penerima bantuan, punya mental pengemis, karena tidak ada sistemnya di alam semesta ini kalau penerima manfaat itu punya power rezeki besar.   Berarti tidak boleh terima bantuan dong? Tidak begitu, maksudnya jangan bermental nyaman atau bahkan bangga sebagai penerima bantuan, sebagai tangan di bawah.   Boleh terima bantuan, tapi jangan nyaman, itu saja kalau Anda ingin power rezekinya naik. Kalau yang diingini tetap konsisten miskin, ya silakan yang nyaman dan bangga hati saja sebagai penerima bantuan.   Karena itu mau Anda lacak ke ayat suci manapun, tidak akan pernah ditemukan perintah, “Hai manusia, kalau kalian ingin kaya, minta-mintalah, mengemislah, taruhlah tanganmu di bawah,” dan lain-lain. Yang ada perintahnya justru berinfak, berbelanja, bersedekah, dermawan, berikan nafkah, bertangan di atas, dan tindakan-tindakan lain yang terhubung dengan aktifitas pemroduksi jasa.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

SADAR PENUH “DIRIKU BERHARGA”; SISTEM RECHARGE ENERGY REZEKI

Kemarin saya pijat kepada salah satu wali santri di pesantren saya. Saya sudah kenal lama dengannya. Memang dia sangat baik hati. Hatinya sangat mulia. Pemurah, pemaaf, rendah hati, dan selalu kedepankan kenyamanan dan kepentinhan orang lain ketimbang dirinya sendiri.   Ketika saya dipijat, saya coba koreksi dirinya, karena saya curiga dia tipe orang yang tidak bisa kenali dirinya kalau dia pun berharga, ingin beruntung dan ingin dapat pertolongan juga seperti kemurahan hatinya mengedepankan orang lain.   Saya ingin mengoreksinya karena tahu dia terlihat kekurangan finansial. Dilihat dari motornya kalau datang ke rumah saya, ya bukan motor baik-baik, tapi sisi lain kalau bawa oleh-oleh bertamu terbilang istimewa.   Saya koreksi, dan eits betul, apa yang saya curigai benar adanya. Dia dagang di pasar kecamatan. Kalau ada tetangga rukonya berhalangan tidak bisa buka ruko, ia bergegas bukakan untuk jualkan dagangan temannya, dan tanpa mau diberi imbalan sedikitpun.   Kalau ada pembeli menawar sangat rendah, ia sudah beranikan diri batalkan transaksi karena tipis sekali untungnya. Tapi begitu si pembeli beranjak pergi, ia panggil lagi, tidak tega, lalu transaksi dilanjutkan.   Apalagi kalau ada pembeli terlihat pas-pasan uangnya, dengan kemurahan hatinya, ia berikan harga termurah, hatinya berkata, “Untung sedikit nggak papa, asal berkah.”   Dengar itu, saya lalu nasehati dia pentingnya menghargai diri, yang nanti akan saya jekaskan di sini.   Dan dia kan mijat pasien selalu dengan istrinya, datang ke rumah saya juga dengan istrinya. Dia pijat saya, dan istrinya pijat istri saya. Durasi mijatnya 2 jam.   Karena 2 jam mijat, saya kasih amplop lebih. Suaminya menerima karena sudah saya nasehati pentingnya hargai diri, istrinya karena memijat istri saya belum dinasehati. Ketika saya amplop untuk pengganti jasa pijatnya, suami menerima, istri menolak keras.   Si istri malah bilang, “Kalau dibayar, Gus, besok saya ga mau lagi diundang pijat kesini. Betul, Gus, kami memijat Gus Banan dan keluarga tulus hanya ingin cari berkah.”   Dijawab begitu, saya bereaksi lebih ugal-ugalan lagi, “Kalau mau ambil berkah dari saya syaratnya harus mau terima ini,” jawab saya tegas sambil paksakan berikan amplopnya, “Kalau ga mau terima, ga ada berkah.”   Sebenarnya saya jawab begitu sambil ngakak sendiri di hati, “Berkahnya Gus Banan, dia tidak tahu Gus Banan ngefansnya sama Maria Ozawa.”   Lain kali ada satpam SMK Darul Abror. Dia juga penyakitnya begitu. Sangat mulia hatinya, murah hati, dan total pengabdiannya.   Dia diangkat sebagai satpam sekolah, tapi kepeduliaan kerjanya meluas kemana-mana. Ada WC kotor, tandang bersihkan, ada ruang berantakan, tandang beres-beres. Padahal tenaga caraka ya sudah ada sendiri.   Dan saya tahu, satpam ini sangat kekurangan finansial. Rokoknya saja kadang jalan, kadang terhenti.   Suatu ketika dia ke rumah saya mengadukan caraka sekolah yang dinilainya kurang tanggung jawab kerja. Bukan cuma sekali dia datang mengadu, tapi bolak-balik.   Nah pada pengaduan terakhir, saya jitak dia dengan pentingnya menghargai diri. Lah dia sampai stres bolak-balik mengadu kok ya hanya untuk mengadukan persoalan milik orang lain. Lah iya, soal caraka tidak efektif kerja, itu kan tanggung jawab kepala sekolah untuk menertibkan, bukan tanggung jawab satpam. Kenapa orang yang berhati mulia seperti di atas malahan kesulitan finansial? Begini.   Kalau Anda seharian penuh hanya bantu dorong gerobak orang, padahal tidak ada bayaran tidak apa, kira-kira dalam sehari itu masihkan ada sisa energi untuk membantu diri Anda sendiri? Seharian hanya bantu dorong gerobak orang, lalu malamnya Anda disuruh kerja lagi cari rezeki untuk makan Anda, apa Anda masih kuat? Tentu sudah habis energinya.   Karena itu semua energi alam semesta memiliki sistem pengisian energi untuk dirinya sendiri. Ada yang dengan cara makan minum, ada yang dengan isi ulang, ada yang dengan ganti suplai energi, dan lain-lain.   Makhluk hidup melakukan pengisian energi dengan makan dan minum. Smarphone dengan recharge. Jam dinding dengan ganti baterai baru. Tumbuhan dengan ambil humus tanah, penyiraman dan fotosintetis.  Kendaraan bermesin dengan isi ulang bahan bakar. Dan seterusnya. Yang jelas, semua energi punya sistem recharge energy. Ini sunnatullah.   Lampu senter Anda dipakai terus menerus untuk menerangi tanpa recharge energy, bukankah lama-lama mati karena kehabisan energi? Setelah habis energinya, apa lampu senter bisa bermanfaat?   Nah sekarang diketahui kenapa wali santri pesantren saya dan satpam SMK Darul Abror di atas hidup kekurangan dan serba pas-pasan, padahal mereka sangat mulia hatinya?   Jawabannya karena mereka lampu senter yang terus menerangi orang lain tapi tidak sadar pentingnya recharge energy untuk dirinya sendiri, tidak sadar pentingnya makan. Hasilnya ya energi rezekinya redup karena lapar tidak pernah kenyang.   Terus-terusan mereka bikin orang lain dapatkan kemudahan, sampai mereka kerap mempersulit diri sendiri. Terus-terusan mereka peduli kepada orang lain sampai mereka tidak peduli kalau diri mereka terbebani. Terus-terusan mereka menguntungkan orang lain sampai tidak peduli telah merugikan dirinya sendiri.   Terus-terusan mereka mengutamakan orang lain sampai mereka tidak tahu kalau dirinya jauh lebih berharga. Lah energi cuma dipakai saja untuk terangi orang lain, ya lama-lama mati lemas karena energinya sendiri tidak pernah diisi.   Saat Anda mengalah, saat Anda neriman, saat Anda memaafkan, saat Anda melepaskan ego, saat Anda dermawan kepada orang lain, saat Anda membantu orang lain, saat Anda berdamai dengan tekanan hidup, saat Anda mengabdi, saat Anda berbakti, ingat ya, itu semua sistem pemakaian energi diri Anda yang dipakai untuk kelestarian orang lain. Bila Anda tidak sadar bahwa diri Anda juga berharga, Anda mati sendiri kehabisan energi.   Orang yang sedemikian mulia hatinya betul mereka orang shaleh, ahli surga, ahli peroleh ampunan Tuhan, ahli kebaikan, ahli berkah, cuma itu mereka kerap kesulitan duit.   Barangkali mereka energi surganya besar, namun itu kehidupan dunianya sepertinya jauh dari hasanah.   Karena itu berpikir cari untung untuk diri sendiri itu kadang perlu, berpikir egois itu kadang perlu, berpikir cari menang sendiri itu kadang perlu. Tersinggung, marah, berontak, narsis, bahkan mengamuk itu kadang perlu.   Minat menonjol, minat terdepan, minat kaya, minat berprestasi, minat sukses, minat superior, itu kadang perlu. Intinya hargai diri Anda sendiri.   Sebab dari sikap-sikap ego sentris seperti itulah sistem recharge energy hidup berlangsung. Tanpa recharge energi, bagaimana Anda mau bermanfaat untuk orang lain? Bahan bakar mesinnya habis, bagaimana mobil akan bermanfaat?   Loh Nabi SAW kan kalau

MEI 2023

INSTALASI RECHARGE ENERGY SYSTEM; HARGAI DIRI AGAR BISA MENERANGI ORANG LAIN

Sebelum baca tulisan ini, bagi yang belum baca part 1-nya, harus baca dulu di postingan sebelum ini, berjudul “Sadar Penuh Diriku Berharga; Sistem Recharge Energy Rezeki.”   Recharge energy system itu merupakan sistem sirkulasi energi alam semesta, di mana semua benda-benda alam semesta melakukannya, seperti halnya Anda yang makan minum, cari cuan, terima gaji, dan lainnya, atau smartphone Anda yang di-charge ulang, atau kendaraan Anda yang diisi BBM, dan seterusnya.   Dalam proses recharge energy ini mau tidak mau Anda ambil energi dari luar diri Anda untuk kepentingan diri Anda sendiri, semacam membangun ego sentris.   Kadang Anda itu kerap keblinger ketika belajar ilmu-ilmu spiritual, diajari legawa, pemaaf, hening, diam, dermawan, lepas nafsu, dan lainnya, akhirnya punya mindset kalau mementingkan ego diri itu bersalah dan tidak menyucikan spiritual.   Padahal ego sentris itulah sistem dimana Anda sedang recharge energy untuk diri Anda.   Anda amati prilaku orang-orang sukses, orang-orang besar, mereka selalu memiliki sistem recharge energy diri dengan baik. Amati orang-orang alim atau orang-orang kaya, mereka ada-ada saja narsisnya untuk mengunggulkan dirinya sendiri atas orang lain.   Gus Baha misalkan, kerap mengaku orang alim yang hapal Al-Qur’an dan hapal ribuan hadits, ahli ilmu ini dan itu, kerap juga beliau komentar, “Saya itu hapal puluhan ribu hadits, kalian baru hapal hadits arba’in (hadits 40) kok mau mendebat saya? Ukur level lah!”   Sekilas narsis dan sombong, tapi sebenarnya itulah sistem recharge energy yang terpasang baik di dalam diri Gus Baha. Nabi Musa, ketika ditanyai kaum Bani Israil, “Siapa orang yang paling alim di antara orang-orang Bani Israil?” Musa jawab dengan pede, “Aku.”   Hanya waktu itu kepedean Musa A.S sudah di level berlebih sehingga kemudian dipertemukan dengan Nabi Khidir yang alimnya melampoi Musa.   Nabi Sulaiman tidak pernah mau kalah dalam soal kemegahan kerajaannya, di hadapan para raja yang lain seolah dia yang paling harus unggul dan termegah, karena itu ketika beliau menyurati Ratu Balqis, tersirat jelas kata-kata narsisnya, “Alâ ta’lû ‘alayya wa’tûnî muslimîn (janganlah kalian mengungguliku, kalian datanglah kepadaku sebagai orang yang berserah diri.”   Amati saja orang-orang kaya dan para pemimpin yang punya kuasa, mereka ada-ada saja ulah dimana mereka sangat ketara punya rasa kalau dirinya unggul dari yang lain, mereka jadinya sangat susah untuk mau mengalah, alot untuk mau merendahkan dirinya. Karena ego sentris itulah kekuatan mereka sehingga bisa menonjol. Kalau dari awal mereka orang-orang yang tawadhu dan andap asor, bagaimana mereka bisa unggul dan kemudian jadi pemimpin? Itu mereka lakukan karena mereka butuh energi besar untuk dirinya sendiri sehingga dirinya bisa menerangi orang lain, bisa bermanfaat bagi orang lain.   Lah katanya orang sombong itu walaupun sebiji sawi tidak akan masuk surga?   Sombong itu,   الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ   “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. (H.R. Muslim)   Gus Baha dan Nabi Musa mengaku alim di depan umat, tapi mereka sangat alim beneran kan? Nabi Sulaiman harus selalu unggul megahnya, tapi beliau benar-benar raja termegah kan? Padahal sombong itu menolak kebenaran, lah kalau faktanya benar-benar alim dan benar-benar unggul, kan itu nyata karena fakta kebenarannya memang demikian.   Orang sombong itu yang menolak kebenaran, dikasih motivasi tersinggung, mendebat, nyiyir. Atau kalau bicara tinggi tapi kenyataan hidupnya ambruk. Lord Rangga dari Sunda Empire itu orang sombong beneran, mengaku bisa kendalikan Putin, Biden, Kim Jong-un, Uni Eropa, eeh diciduk Kapolsek yang hanya level polisi kecamatan saja tidak bisa berkutik.   Gus Baha, Nabi Musa, Nabi Sulaiman itu bukan sombong tapi itulah sistem recharge energy yang terpasang baik dalam diri mereka karena mereka butuh energi besar untuk dirinya sendiri agar mereka kuat untuk jadi penerang orang lain.   Rasa bahwa “diriku itu sangat berharga” itulah sumber energi diri dimana Anda berkemampuan untuk ambil energi dari luar diri Anda untuk kepentingan ego Anda sendiri, yang selanjutnya saya sebut self worth energy.   Biasanya seseorang akan gunakan self worth energy-nya sesuai dengan minat mereka sendiri-sendiri, sesuai selera kebesaran diri yang mereka minati. Minat ilmu, ya kegemarannya tonjolkan diri di ilmu. Minat kepada bisnis, ya kegemarannya tonjolkan diri di uang. Minat kepada kekuasaan, ya kegemarannya tonjolkan diri di politik. Minat popularitas, ya kegemarannya tonjolkan diri di kemasyhuran diri.   Nabi Muhammad S.A.W orang yang sangat murah hati dan pemaaf. Saking dermawannya beliau kerap hutang kepada orang lain hanya karena beliau dimintai oleh peminta-minta tapi beliau sudah tidak punya apa-apa lagi. Sekilas Nabi S.A.W tidak punya self worth energy? Nanti dulu.   Nabi Muhammad itu seleranya bukan pada kemegahan harta, sejak menjadi suami Khadijah yang kaya raya, Nabi S.A.W dalam soal harta lebih selera sederhana.   Self worth energy Nabi S.A.W sangat ketara di ranah kepemimpinan, harga diri, ilmu dan kekuasaan.   Dalam kepemimpinan, beliau kerap menyatakan diri sebagai sayyidu waladil âdam (sayyid atau tuannya anak-anak adam), beliau juga berselera menjadi nabi dengan pengikut terbesar sampai umatnya diperintahkan untuk memiliki banyak anak.   Dalam harga diri, beliau menolak diberi zakat dan sedekah, karena beliau merasa diri beliau berharga, zakat dan sedekah hanya layak diberikan kepada orang-orang lemah.   Dalam ilmu beliau mengaku, “Ana madînatul ‘ilmi wa ‘aliyyu bâbuhâ (aku kotanya ilmu, dan Ali itu pintunya).   Dalam kekuasaan, beliau tidak pernah mau mengalah kepada dominasi kafir Quraisy, Abu Jahal dan kawan-kawan beliau hadapi dengan jantan. Kafir Quraisy dan sekitarnya takluk, beliau berhadapan dengan jaringan kekuasaan internasional seperti kekuasaan Persia dan Romawi, dan tidak pernah mau mengalah.   Jadi cara instalasi recharge energy diri, satu sisi ada yang dimurahhatikan, sisi lain ada ego sentris yang dipelihara.   Saya kasih contoh diri saya. Bikin tulisan panjang begini, belum lagi bikin konten Youtube dan Tiktok, itu semua kemurahan hati yang saya keluarkan untuk menerangi orang lain, tapi sisi lain saya jarang sekali mau jawab orang tanya-tanya di kolom komentar.   Aatau ada orang kirim pesan pribadi untuk konsultasi kepada saya. Ada pesan konsultasi masuk, pasti saya jawab, “Tidak melayani konsultasi publik karena keterbatasan tenaga. Konsultasi hanya dilayani di kelas training baik online maupun offline.” Ikut kelas training artinya harus bayar kalau mau konsultasi.   Itu karena saya menghargai diri saya sendiri, saya bukan tempat pembuangan sampah masalah Anda.   Saya selalu kedepankan

MEI 2023

INSTALASI RECHARGE ENERGY; AGAR KEMURAHAN HATI MENGUATKAN DIRI

Yang belum baca part 1 dan part 2-nya, silakan baca dulu, di artikel sebelum ini.   Lelaki ketika menikah, ditilik dari kacamata “tindakan” sebenarnya sebuah kesepakatan pemerasan. Lah iya, sesudah menikah, seks dinikmati bersama, lelaki yang harus bayar maharnya. Belum lagi kalau ikuti adat tertentu, seperti adat Jawa, lelaki harus “mbesan” yakni harta tertentu yang diserahkan kepada keluarga pengantin wanita sebagai bawaan besan, padahal ya kepentingannya sama antara 2 besan yaitu bikin resepsi nikahkan anak-anak mereka.   Sesudah bangun keluarga, lelaki makin jauh dijerat dalam kesepakatan pemerasan, karena dia dituntut kasih nafkah istri yang merupakan anak orang. Kalau kasih nafkah anak sendiri mending, karena anak itu darah daging sendiri, lah istri itu kan anak orang lain? Bayangkan coba, banting tulang hingga stres-stres cuma untuk kasih makan anak orang? Wkkkk pemerasan, kan?   Dimana pun resiko sebuah kesepakatan pemerasan adalah korban. Menjadi korban, efek getaran yang ditangkap adalah keterpurukan.   Namun pada kenyataannya, lelaki sesudah masuk dalam kesepakatan nikah, mayoritas lelaki malah temukan harga dirinya sebagai lelaki, bukan temukan dirinya sebagai korban pemerasan. Ketika bujangan rezeki lelaki sempit, sesudah menikah malah kaya. Ketika bujangan tidak punya rumah sendiri, sesudah menikah malahan bisa bangun rumah. Banyak harga diri pria yang terbangun justru setelah kasih makan anak orang dalam ikatan nikah.   Praktek tindakannya pemerasan, tapi hasilnya bukan korban, justru hasilnya adalah keberlimpahan. Kok bisa?   Itulah pengaruh penempatan rasa di dalam hati. Sesudah menikah laki-laki menempatkan diri sebagai pejantan yang siap bertanggung jawab beri nafkah, hasilnya alam semesta merespons apa yang dirasa di hati lelaki. Rasa pejantan itulah yang lelaki dapatkan sehingga energi yang dia tarik berwujud keperkasaan dan keberlimpahan.   Bahkan tidak sedikit yang merasa kurang jika hanya kasih nafkah untuk 1 anak orang lain, sehingga nambah lagi jadi 2, 3 atau 4. Kalau akses rasanya jadi korban pemerasaan, mana mungkin ingin nambah?   Andai ketika menikah dan dalam jalani rumah tangga, lelaki mengakses rasa jadi korban pemerasaan, apa yang terjadi? Dari contoh kasus hidup lelaki, artinya akses rasa hati di balik tindakan dan aktifitas itu pengaruh akurat pada hasil nyata yang diterima.   Murah hati Anda kepada orang lain seperti dermawan, pemaaf, legawa hati, neriman, mengalah, itu semua bisa diolah sebagai energi yang menguatkan diri Anda, sebagai self worth energy yang terus bekerja me-recharge energy untuk Anda, namun asal pas dalam mengakses rasa di hatinya.   Akses rasa kemurahan hati, dalam pengamatan saya, ada 3 hasil yang bisa didapatkan; 1). Hasil kerugian. 2). Hasil kebaikan. 3). Hasil kekayaan. Dan ketiganya cuma beda akses rasanya saja.   • Pertama, kemurahan hati dengan hasil kerugian. Hasil ini efek akses rasa hati sbb;   1. Rasa jadi korban. Umpama Anda dibegal dengan todongan senjata, di situ Anda murahkan hati Anda dengan terpaksa sebagai korban. Hasilnya Anda sakit hati, kehilangan, dan keterpurukan. Begitu pula ketika Anda sedekah, kasih nafkah, membayar dan lainnya, kalau dipicu rasa terpaksa juga hasilnya sakit hati, selalu merasa jadi korban yang konsekuensi korban adalah kehilangan dan keterpurukan.   2. Akses rasa ingin imbal balik. Ini akses rasa rentenir seperti jasa pinjol, kasih hutangan tapi ingin imbal balik keuntungan. Atau seperti praktek money politic, bagi-bagi duit tapi dengan akses rasa imbal balik ingin dipilih. Kalau Anda sedekah ingin imbal balik ya sama saja rentenir atau pemraktek money politic. Dan dua-duanya haram.   Dua akses rasa di atas sih bukan kemurahan hati, tapi malah sebaliknya; kategori rakus.   3. Akses rasa kekurangan. Umpama pagi-pagi Anda dimintai uang saku dan uang bensin oleh anak Anda yang mau sekolah, lalu muncul rasa, “Haduh uang tinggal sedikit,” itu uang yang Anda keluarkan kepada Anak berenergi kekurangan. Di getaran kesadaran demikian, Anda bermurah hati namun efeknya mengurangi harta, atau minimal berefek rezeki terbatas.   • Kedua, kemurahan hati dengan hasil kebaikan. Hasil ini efek akses rasa hati “berbuat baik” kepada yang lain.   Murah hati karena rasa ingin menolong dan kasihan, ini kesadaran berbuat baik secara sosial, benar-benar kemuliaan hati yang murni. Punya getaran rasa hati ini secara spiritual dan moralitas sangat utama. Kesalehan spiritual, kebeningan hati, dan surganya tidak perlu ditanyakan. Hanya saja titik lemahnya akses energi untuk menguatkan diri, untuk bangun self worth energy.   Murah hati dengan akses rasa berbuat baik ini jika tidak waspada berpotensi menerangi orang lain tapi diri sendiri terbakar, mengenyangkan orang lain tapi diri sendiri lapar. Mereka berpotensi besar kehabisan energi untuk dirinya sendiri sehingga seperti lampu senter yang kehabisan baterai. Kalau energi baterai sendiri habis, bagaimana bisa menerangi yang lain? Redup.   Berkah, ridha, ampunan Tuhan, jelas mereka peroleh, hanya itu—jika tidak waspada—berpotensi melemahkan diri.   • Ketiga, kemurahan hati dengan hasil kekayaan. Hasil ini efek bermurah hati dengan akses rasa kaya.   Misalkan, Anda bermurah hati dengan sedekah, sementara sedekah Anda dipicu rasa kaya, di mana rasa kaya diri adalah rasa menghargai diri, di situlah kemurahan hati Anda yang sebenarnya secara tindakan sedang keluarkan energi untuk menerangi orang lain, lalu efek hasilnya menjadi energi yang menguatkan diri sendiri.   Model akses rasa kaya dalam bermurah hati inilah akses rasa yang dimiliki orang-orang kaya dan para pemimpin kuat. Abdurrahman bin Auf, Umar bin Khatab, Abu Bakr, Utsman bin Affan, Yusuf Hamka, Jusuf Kalla, mereka punya power tangguh diakses rasa ini, sehingga ketika harta mereka dihambur-hamburkan untuk menerangi orang lain, justru mereka malahan makin kuat, tangguh dan kaya.   Akses rasa kaya dalam bermurah hati sangat susah muncul dari orang yang isi otaknya masih merasa kekurangan duit dan merasa pas-pasan.   Jadi kalau Anda masih merasa duit cekak, duit terbatas, duit sedikit, duit susah dicari, ya tidak akan muncul getaran rasa kaya ini dalam bermurah hati, hehehe apalagi yang isi otaknya pinginnya ngeluh kurang duit, sambat ora due duit, mereka masih akan susah sekali getarkan rasa kaya dalam bermurah hati. Sudah jelas ya?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

HEMAT DENGAN TERHORMAT; HEMAT YANG MENGUATKAN

Saya sampaikan dulu keburukan-keburukan hemat dari berbagai frame;   • Frame mentalitas   Dari frame mentalitas, hemat uang sama saja latihan meringkihkan mental atas uang, sebab hemat itu latihan meringankan beban biaya. Anda atlet angkat besi, agar ototnya kuat, apa mungkin latihannya dengan mengangkat beban yang lebih ringan? Tidak ketemu akal. Tentu latihannya dengan angkat beban lebih berat.   Sekarang, hemat itu latihan mental memberatkan diri apa meringankan diri dengan beban biaya? Tentu latihan meringankan diri. Pakai listrik 900 watt lalu karena merasa miskin lalu pakai listrik bersubsidi yang 450 watt, mental dilatih dengan keringanan-keringanan beban, akankah terlatih kokoh? Yang dihasilkan tentu mental ringkih yang masuk anginan kepada uang.   • Frame matematis   Dari frame matematika, hemat itu langkah konyol ingin kaya. Hemat itu rumus ingin tambah tapi dengan cara mengurangi. Anda ingin 1+1=2, tapi praktek yang Anda lakukan justru hemat dengan mengurangi, ujar-ujar bisa 1-1=2. Konyol kan?   Hemat itu langkah konyol sekali untuk menambah kekayaan. Misal Anda ingin naik penghasilan jadi 5 juta perbulan, kemudian Anda berhemat yang justru angka kebutuhannya mendekati penghasilan 2 juta perbulan, bukankah konyol? Karena berhemat itu ingin kaya tapi pakai langkah mengurangi.   • Frame finansial.   Dari frame finansial, hemat itu artinya langkah mengurangi kebutuhan. Sementara rezeki itu diturunkan Tuhan untuk cukupi kebutuhan, kalau kebutuhannya dihilangkan, akankah rezeki diturunkan?   Cacing kebutuhan rezekinya hanya makan dan berkolonisasi, tidak ada kebutuhan rezeki uang buat jajan, lantas apa ada cacing yang jadi milyader? Kebutuhan atas materi ditiadakan, rezekinya juga dihapuskan.   Karena itu misal Anda punya kebutuhan rokok, kemudian turunlah rezeki untuk beli rokok, lantas kebutuhan rokoknya dihilangkan dengan berhenti merokok, lalu masihkan rezeki untuk beli rokok ada? Tentu rezeki untuk beli rokok dihapus oleh-Nya, sama seperti cacing yang tidak butuh rezeki uang.   Hemat tentu praktek mempersempit kebutuhan. Kebutuhan rokok 30 ribu perhari, dengan hemat kebutuhan rokoknya dipersempit, misal jadi 15 ribu perhari, lah kalau diperkecil kebutuhan finansialnya, ya auto kecukupan rezekinya juga diperkecil. Iya kan?   • Frame religious   Dari frame religius, hemat itu disebut taqtîr. Hemat posisinya sama saja dengan pemborosan. Kalau boros itu tercela, hemat juga tercela, kalau boros itu memiskinkan, hemat juga memiskinkan.   وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا   ”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) irit, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S. Al-Furqan: 67)   • Frame sosial.   Dari frame sosial, hemat itu pelit dan bakhil namun pelit kepada diri sendiri. Lah pelit, kikir, bakhil, apa ada yang terpuji? Jauh dari standar akhlaqul karimah.   • Frame spiritual   Dari getaran spiritual, hemat cenderung muncul dari rasa khawatir kekurangan.   Rasa khawatir kekurangan jelas getaran rasa miskin. Hati memiliki rasa miskin itu tidak jauh beda dengan orang yang mengingkari nikmat, sebab tidak mampu berterima kasih kepada-Nya. Padahal Tuhan kurang apa kasih nikmat kepada Anda?   Di samping itu, rasa khawatir kekurangan itu sama saja meragukan janji Tuhan kalau rezeki itu jaminan-Nya. Tuhan diragukan konsistensi janji-Nya, ya jelas sikap kufur.   Nah semua mode hemat di atas, kenapa buruk? Itu karena mode hemat di atas semuanya berkode menerpurukan kualitas jiwa Anda.   Lah iya, cek saja satu-satu per frame; dari frame mental dilatih ringkih atas uang, ini program penerpurukan jiwa yakni mental.   Dari sisi matematis, logika dilatih berpikir konyol dengan inginkan hasil tambah tapi dengan mengurangi, ini program penerpurukan jiwa yakni penafian nalar logis. Dari sisi finansial, kecukupan hidup yang adalah bagian dari kebahagiaan hati malah kebutuhannya dikurangi, ini program penerpurukan jiwa yakni menolak bahagia.   Dari sisi religi, tahu-tahu irit itu sama dengan boros, dan boros itu temannya setan, eeh setan ditemani, kan tidak qur’ani? Dari sisi sosial, irit sama dengan bakhil pada diri sendiri, diri sendiri dibakhili kan kejahatan pada jiwa manusia? Dari sisi spiritual, itu sudah jelas sekali, rasa khawatir kekurangan atas uang itu sejelek-jeleknya kondisi jiwa kepada Tuhannya.   Jadi semua mode hemat di atas faktor pemicunya adalah program penerpurukan jiwa.   Sekarang begini.   Puasa itu sebenarnya mode hemat, makan minum dikurangi. Kenapa puasa jadi sebuah kebaikan? Itu dikarenakan puasa punya akses niat untuk menguatkan jiwa.   Puasa Ramadhan misalkan, akses niatnya untuk tingkatkan kualitas iman sehingga dapatkan maghfirah Tuhan, akhirnya puasa yang sebenarnya mode hemat jadi kebaikan.   Atau seperti Mahapatih Gajah Mada yang berikrar Amukti Palapa, itu sebenarnya mode hemat, karena menurut tafisiran M. Yamin, Sumpah Palapa artinya Gajah Mada tidak akan menikmati kesenangan apapun sebelum sumpahnya untuk satukan nusantara terwujud. Namun karena mode hemat Sumpah Palapa punya misi kuatkan jiwa yakni demi visi kejayaan negara, jadinya mode hemat jadi kegemilangan.   Jadi hemat asalkan punya visi kuatkan jiwa itu tidak masalah, malah utama.   Persoalannya, di alam penciptaan Tuhan ini yang tercipta tersempurna itu jiwa Anda. Lihat saja ambulan yang bebas di jalanan, lampu lalu lintas boleh ditabrak, kendaraan umum harus minggir dahulukan ambulan, itu karena ambulan sedang bawa misi selamatkan jiwa manusia.   Ada bencana alam, jiwa manusia diutamakan selamat. Jiwa diciptakan paling sempurna lalu Anda rusak kualitasnya dengan hemat, itu kan sama saja merendahkan martabat jiwa kepada uang.   Sehingga ketika Anda berhemat, Anda harus cek ke kedalaman niat, visi dan misi Anda, merupakan visi kokohkan kualitas jiwa atau lemahkan kualitas jiwa? Artinya hemat Anda itu merupakan penghormatan untuk jiwa Anda apa perendahan untuk martabat jiwa Anda? Itu harus dicek.   Berikut contoh-contoh mode hemat dengan akses visi kokohkan jiwa;   • Hemat agar bisa sekolah atau bisa biayai pendidikan.   Sekolah merupakan akses ilmu. Ilmu jelas prioritas pertama untuk punya jiwa berkualitas.   Atau seperti para santri di pondok pesantren yang makan sehari cuma 2 kali. Mereka lakukan itu demi akses peroleh ilmu, itu jelas hemat dengan program kokohkan kualitas jiwa.   • Hemat agar punya modal dagang.   Dagang itu merupakan pengembangan potensi diri. Kalau potensi diri tidak kreatif dikembangkan, hidup akan cenderung terpuruk. Hemat demi bisa mengumpulkan atau menambah modal itu berarti jiwa kreatif dalam dagang.   • Hemat agar bisa sejahterakan keluarga, misal hemat agar punya rumah mapan, punya kendaraan, itu semua kewajiban untuk

MEI 2023

KALAU DIDENGKI, SATU HAL INI YANG ANDA TIDAK BOLEH MENGALAH

Dengki itu kondisi hati yang cari bahagia dengan bersyarat yakni menggantungkan kebahagiaan pada celakanya orang lain. Kalau orang lain celaka, hati dengki akan bahagia, sebaliknya kalau orang lain beruntung, hati dengki akan sedih merana.   Karena menggantungkan kebahagiaan hati pada celakanya orang lain, hakikat dengki adalah getaran hati yang terus kirimkan getaran san+et terus menerus. Iya, Anda menyan+et, di situ kondisi hati Anda kan sedang cari bahagia, hanya saja bahagianya bersyarat dengan terjadinya kecelakaan buruk pada korban san+et Anda.   Jadi hati dengki itu getaran hati yang sedang kirimkan getaran san+et terus menerus kepada orang lain.   Kalau Anda disan+et orang, Anda sebagai korban san+et bukankah jadinya mendengki kepada pelaku? Mungkin awalnya hati Anda biasa saja kepada pelaku, tapi begitu tahu siapa pelakunya, hati Anda akhirnya mendengki juga kepada pelaku.  Sebab ini pendengki dan korbannya akan terjebak dalam kondisi saling mendengki yang sama dahsyat. Pelaku jadi pendengki, korban juga jadi pendengki. Multi efek.   Bahagia yang digantungkan pada celakanya orang lain, sementara hidup itu menganut sistem tebar tuai, sehingga dengki berpotensi besar celakai diri sendiri sebab tuaian atau efek dari aktifitas getaran hati yang berharap akan celakanya orang lain.   Sama seperti Anda yang curi kendaraan tetangga, di situ Anda menebar celaka untuk orang lain, tuaiannya Anda digebuki orang, dipenjara, dikucilkan masyarakat, dan juga harus ganti kerugian materi orang yang Anda curi kendaraannya. Dengki pun begitu, hati Anda menebar kecelakaan pada orang lain, tuaian kecelakaan itu akan menghantam diri Anda sendiri.   Guru saya berwasiat, seorang pendengki sangat berpotensi punya keturunan yang bobrok kualitasnya, dikarenakan hukum tebar tuai berharap celaka pada orang lain. Orang tuanya alimnya luar biasa, anaknya goblok tidak punya karakter ilmu, orang tuanya kaya raya, anaknya miskin sengsara, orang tuanya akalnya sehat, anaknya gila. Dan seterusnya.   Potensi efek buruknya bisa diwariskan kepada anak karena memang hidup ini mengenut sistem warisan. Bukan hanya harta yang diwariskan, kemiskinan diwariskan, masalah diwariskan, hutang diwariskan, visi misi diwariskan, bahkan pahala dan karma juga diwariskan, dan seterusnya.   Rusia itu wilayah negaranya mewarisi Uni Soviet, negara penerus Uni Soviet, segalanya juga mewarisi Uni Soviet. Musuh Rusia adalah musuh warisan Uni Soviet, politik internasional Rusia adalah warisan kebijakan Uni Soviet, sekutu Rusia adalah sekutu Uni Soviet, dan seterusnya.   Jadi logis kalau efek dengki itu akibat dan resikonya bisa diterima oleh anak keturunan karena hukum waris ini, sebagai warisan karma buruk.   Dengki itu jelas buruk, namun adakah di antara Anda yang seumur hidup belum pernah mendengki ataupun didengki? Saya percaya tidak ada.   Mungkin ada yang merasa belum pernah mendengki atau didengki tetapi saya yakin itu hanya “merasa” saja dikarenakan kualitas self control yang buruk. Kalau mau cek diri, saya percaya semua orang pernah alami mendengki ataupun didengki.   Minimalnya kalau sedang tidak menyukai orang lain, disitu secara auto Anda akan terlibat dalam kedengkian. Begitu tidak suka, otomatis muncul pula harapan orang yang tidak Anda sukai alami celaka. Nah siapa yang belum pernah alami keadaan ini? Tidak ada.   Hal ini ditegaskan oleh ulama Ibn Rajab bahwa hasad lekat dengan tabiat manusia, yakni tidak ingin diungguli oleh siapapun dalam hal-hal kebaikan.   Oleh karena itu, sangat disarankan untuk tidak mengikuti rasa dengki saat ia muncul. Jangan ekspresikan hasad tersebut melalui anggota tubuh ataupun ekspresi wajah.   مَا خَلَا جَسَدٌ مِنْ حَسَدٍ، لَكِنَّ اللَّئِيمَ يُبْدِيهِ وَالْكَرِيمَ يُخْفِيهِ   “Tak ada jasad yang selamat dari dengki. Akan tetapi orang yang buruk menampakkannya dan orang yang baik menyembunyikannya.” (Majmu’ Fatawa : 10/125)   Jadi tidak ada yang bisa luput dari rasa dengki, hanya saja bagi Anda yang menyadarinya akan berusaha keras mengistighfarinya dan berusaha tidak menampakannya.   Sebegitu buruknya dengki, kenapa Tuhan tidak pernah meluputkan dengki dari hati seorang pun? Sedemikian mengerikannya, kenapa tidak ada hati seorangpun yang tidak pernah dihampiri rasa dengki?   Karena dengki itu manfaatnya besar juga untuk proses hidup Anda. Dengki itu manajemen stres. Sementara segala perubahan hidup itu karena adanya sistem stres di alam semesta.   Bodi tubuh Anda bisa tumbuh karena adanya stres yang dialami oleh sistem metabolisme tubuh dalam mencerna, menyerap, dan mengasimilasi makanan untuk diubah menjadi energi.  Dalam proses metabolisme ada stres akut pada sistem pencernaan Anda, dimana usus-usus Anda begitu sadis mendengki kepada makanan, dihancurleburkan lalu diolah sedemikian rupa sehingga metabolisme tubuh benar-benar menggerus-gerus penuh dengki dengan utuhnya makanan yang masuk lewat mulut Anda.   Padi digubah jadi beras juga melalui mamajemen stres serupa, dimana padi masuk mesin penggilingan yang disitu kedengkian mesin penggiling padi pada kulit padi begitu sadis.   Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lahir karena manajemen stres yang berlangsung cukup lama. Dimulai dari penaklukan satu persatu wilayah di nusantara oleh Belanda, sehingga menjadi satu wilayah Hindia Belanda.   Dalam proses penaklukan tersebut yang namanya stres berlangsung akut. Dilanjutkan stres perang kemerdekaan RI yang begitu banyak memakan korban. Baru kemudian dari manajemen stres ini lahirlah NKRI.   Nah dengki itu manajemen stres, sementara stres itu manfaat besar untuk alam semesta. Sebab ini sekalipun dengki begitu diiblis-ibliskan oleh Anda sebagai keburukan, tapi ya Tuhan tetap memeliharanya dan merawatnya, hingga hampir tidak ada seorangpun yang bisa lepas dari rasa mendengki dan didengki, sebab dengki itu hakikatnya adalah proses perubahan itu sendiri. Kembali ke masalah dengki merupakan bahagia bersyarat yang digantungkan pada celakanya orang lain.   Bahagianya pendengki jika nikmat yang hadir dalam hidup Anda hilang. Nah di masalah ini, jika Anda menerima begitu saja nikmat yang Anda peroleh hilang, maka hati si pendengki makin angkuh dan bertepuk dada, dan tentu dengkinya tidak akan temui kesembuhan.   Sebab ini satu hal yang Anda harus berupaya keras bertahan, tidak boleh mengalah begitu saja, apalagi mengalah karena merasa lemah, yakni di perihal nikmat yang didengki. Umpama Anda didengki karena popularitas Anda terus naik daun, di permasalahan popularitas ini Anda jangan sekalipun berpikir mengalah dan kalah.   Kelahi, labrakran, serangan, cacian, barangkali Anda boleh mengalah, bahkan kadang wajib mengalah, tapi nikmat yang diperoleh yang didengki olehnya harus diperjuangkan untuk bertahan, syukur bisa bertambah nikmatnya. Dengan begitu Anda dapat pahala karena membantu si pendengki untuk sembuh dari penyakit hatinya.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

MODE GETARAN TINGGI DAN GETARAN RENDAH UANG

Saya di tahun ini selama 5 bulan menjadikan diri saya sendiri sebagai kelinci percobaan terhadap getaran penarik uang. Jujur saya menggunakan Tabel Vibrasi Hawkins dari Mas Arif Rahutomo.   Saya sengaja pasang diri saya di medan getaran vibrasi rendah yakni bangga dan marah. Lalu saya mengamati apakah ada penurunan penghasilan finansial apa tidak?   Sengaja saya pasang diri di mode bangga dan marah saja, tidak sampai ke mode rasa tidak berharga seperti pemalu dan pesimis, karena pasang mode bangga dan marah itu bagi saya mudah-mudah saja sebab memang saya punya watak bawaan itu, wkkkk. Tapi kalau pemalu, tidak percaya diri, pesimis, minder, mikirin saja malas apalagi memasangnya untuk diri saya.   Dalam kurun waktu 5 bulanan, ada orang nyakiti saya ya saya jengkel, membenci, mendendam bahkan mencaci maki. Kalau bicara di depan orang, bahkan di depan publik ya saya dengan percaya diri membanggakan diri.   Hasilnya bagaimana? Ternyata finansial saya baik-baik saja, artinya rasa bangga dan marah itu tetap punya daya kuat menarik uang.   Saya renungi walaupun rasa bangga dan rasa marah itu mode getaran vibrasi rendah, namun bangga dan marah itu rasa yang masih menghargai diri sendiri.   Jadi pantas kan kalau Qarun yang sangat bangga diri tetap kaya, Fir’aun yang congkak dan otoriter tetap kaya, Namrudz (Nimrod) yang sangat sombong tetap kaya raya, itu karena memang rasa bangga dan marah itu rasa yang kuat dalam soal penghargaan kepada diri sendiri.   Uang itu derajatnya jauh di bawah martabat manusia, sehingga ketika si manusia memiliki mode menghargai diri sendiri entah apapun bentuk casing-nya, entah casing kebaikan seperti rasa berani dan rasa percaya diri, ataupun casing keburukan seperti rasa bangga diri, rasa dominan, rasa berkuasa, rasa marah, di situ uang masih antusias mendekat.   Nah sekarang Anda amati kondisi mentalitas kaum dhuafa, mengapa mereka finansialnya sangat buruk? Karena rata-rata mereka berada di mode getaran vibrasi rendah tapi yang tidak punya akses menghargai diri. Seperti mode getaran rasa minder, rasa tidak berharga, rasa lemah diri, rasa pesimis, rasa putus asa, rasa mengeluh, rasa miskin, itu semua mode getaran vibrasi rendah tapi tidak menghargai diri.   Orang-orang dhuafa itu mudah mengalah tapi karena merasa lemah, mereka mudah menurunkan frekuensi marah tapi karena rasa kalahan, mudah ridha dan merelakan tapi karena rasa tidak berdaya, mudah menurut tapi karena rasa tidak punya kuasa, mode-mode perasaan rendah ini yang hancur-hancurkan finansial mereka karena itu semua akses rasa tidak menghargai diri. Uang enggan mendekat kepada getaran rasa yang tidak hargai diri.   Bukan cuma uang yang enggan mendekat kepada mereka, penyakit, aniaya, hinaan, perendahan juga mudah datangi mereka saking rendahnya getaran vibrasi mereka dalam menghargai diri mereka sendiri.   Lalu titik lemah orang yang berada di mode bangga diri dan marah itu dimana? Anda pernah kan lihat postingan saya sedang dirawat di rumah sakit karena DBD? Itu karena saya kalah tarung getaran energi vibrasi dengan orang yang sebenarnya tidak begitu bagus getaran vibrasinya.   Selama ini saya amati dia orang yang begitu kuat rasa bangga dirinya sehingga suka merendahkan orang, suka memanfaatkan orang demi keuntungannya sendiri, suka menuntut, suka egois mengikat orang lain demi kepentingannya sendiri, namun saya kok kalah bertarung energi vibrasi dengannya?   Ternyata karena saya menghadapinya dengan rasa marah, dendam dan benci. Jadi rasa bangga itu masih menang energi dengan rasa marah. Bangga versus marah, ternyata bangga diri yang menang.   Sehingga jebakan kelemahan orang dengan mode getaran vibrasi bangga dan marah itu dia sekalipun uangnya masih kuat namun dia mudah kualat, rentan kena musibah karena kualat, khususnya ketika dia berhadapan dengan mode getaran vibrasi tinggi.   Orang bangga diri kok berhadapan dengan orang diam dalam kepasrahan, ya sudah si pembangga diri tersebut hancur lebur kena kualat, celaka.   Apalagi berhadapan dengan mereka yang punya mode vibrasi tinggi, lah saya pasang mode vibrasi marah dan benci lalu hadapi mode vibrasi bangga diri saja kalah.   Kembali ke mode getaran vibrasi penarik uang. Kuncinya uang itu adalah mode perasaan menghargai diri, entah Anda berada di mode getaran rendah maupun tinggi.   Anda di mode getaran rendah, namun Anda frekuensi getarannya masih menghargai diri seperti rasa bangga, rasa marah, rasa keras kepala, itu masih kuat menarik uang. Maria Ozawa keras kepalanya seperti apa, keluarganya menyerang tidak mendukungnya ketika dia memutuskan di karir pornografi, tapi Maria Ozawa duitnya makin gaek saja, itu karena keras kepala adalah getaran kuat menghargai diri.   Demikian pula Anda di mode getaran vibrasi tinggi namun Anda masih bergetar di getaran menghargai diri juga masih kuat menarik uang.   Misal Anda sedang sedih dan berduka yang merupakan mode getaran rendah, tapi Anda masih punya rasa optimis besar dan tetap semangat memperjuangkan impian Anda, di situ uang masih enjoy mendekat, karena optimis dan semangat diri itu getaran menghargai diri.   Nah yang hancur-hancurkan tarikan uang itu getaran yang tidak menghargai diri entah dimanapun mode vibrasi Anda berada. Di mode vibrasi rendah, Anda bisa kesulitan uang, demikian pula di mode vibrasi tinggi Anda bisa kesulitan uang, itu tergantung Anda punya getaran menghargai diri atau tidak.   Umpama Anda di mode getaran rendah seperti rasa sedih, tapi diiringi rasa pesimis, rasa tidak berharga dan menyesal, di situ Anda total off dari rasa menghargai diri, di situ Anda hancur uangnya.   Sama juga Anda di mode getaran tinggi seperti rasa berserah pasrah, tapi diiringi rasa polos sehingga Anda mudah dimanfaatkan orang rakus, di situ getaran penarik uang Anda lemah, karena polos sehingga mudah dimanfaatkan orang itu getaran tidak menghargai diri.   Karena itu orang-orang suci seperti para waliyullah banyak kan yang miskin papa? Karena sebenarnya mereka saking nolnya dari ego demi mendapatkan pencerahan spiritual hingga mereka lupa untuk menghargai diri mereka sendiri.   Namun orang-orang suci seperti itu bukan orang dhuafa, mereka tetap kuat, maka itu model seperti mereka kerap “ngualati” kalau direndahkan, bahkan kerap keluar karamah dan keramatnya sebab tingginya mode getaran vibrasi mereka, hanya saja untuk urusan uang mereka terpinggirkan. Itu saja.   Catatan: takut masih ada yang awam banget ilmu vibrasi, saya sertakan Tabel Vibrasi Hawkins. Energi 175 ke bawah itu mode getaran rendah, energi 200 ke atas itu mode getaran

Scroll to Top