Saya sampaikan dulu keburukan-keburukan hemat dari berbagai frame;

 

• Frame mentalitas

 

Dari frame mentalitas, hemat uang sama saja latihan meringkihkan mental atas uang, sebab hemat itu latihan meringankan beban biaya. Anda atlet angkat besi, agar ototnya kuat, apa mungkin latihannya dengan mengangkat beban yang lebih ringan? Tidak ketemu akal. Tentu latihannya dengan angkat beban lebih berat.

 

Sekarang, hemat itu latihan mental memberatkan diri apa meringankan diri dengan beban biaya? Tentu latihan meringankan diri. Pakai listrik 900 watt lalu karena merasa miskin lalu pakai listrik bersubsidi yang 450 watt, mental dilatih dengan keringanan-keringanan beban, akankah terlatih kokoh? Yang dihasilkan tentu mental ringkih yang masuk anginan kepada uang.

 

• Frame matematis

 

Dari frame matematika, hemat itu langkah konyol ingin kaya. Hemat itu rumus ingin tambah tapi dengan cara mengurangi. Anda ingin 1+1=2, tapi praktek yang Anda lakukan justru hemat dengan mengurangi, ujar-ujar bisa 1-1=2. Konyol kan?

 

Hemat itu langkah konyol sekali untuk menambah kekayaan. Misal Anda ingin naik penghasilan jadi 5 juta perbulan, kemudian Anda berhemat yang justru angka kebutuhannya mendekati penghasilan 2 juta perbulan, bukankah konyol? Karena berhemat itu ingin kaya tapi pakai langkah mengurangi.

 

• Frame finansial.

 

Dari frame finansial, hemat itu artinya langkah mengurangi kebutuhan. Sementara rezeki itu diturunkan Tuhan untuk cukupi kebutuhan, kalau kebutuhannya dihilangkan, akankah rezeki diturunkan?

 

Cacing kebutuhan rezekinya hanya makan dan berkolonisasi, tidak ada kebutuhan rezeki uang buat jajan, lantas apa ada cacing yang jadi milyader? Kebutuhan atas materi ditiadakan, rezekinya juga dihapuskan.

 

Karena itu misal Anda punya kebutuhan rokok, kemudian turunlah rezeki untuk beli rokok, lantas kebutuhan rokoknya dihilangkan dengan berhenti merokok, lalu masihkan rezeki untuk beli rokok ada? Tentu rezeki untuk beli rokok dihapus oleh-Nya, sama seperti cacing yang tidak butuh rezeki uang.

 

Hemat tentu praktek mempersempit kebutuhan. Kebutuhan rokok 30 ribu perhari, dengan hemat kebutuhan rokoknya dipersempit, misal jadi 15 ribu perhari, lah kalau diperkecil kebutuhan finansialnya, ya auto kecukupan rezekinya juga diperkecil. Iya kan?

 

• Frame religious

 

Dari frame religius, hemat itu disebut taqtîr. Hemat posisinya sama saja dengan pemborosan. Kalau boros itu tercela, hemat juga tercela, kalau boros itu memiskinkan, hemat juga memiskinkan.

 

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

 

”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) irit, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S. Al-Furqan: 67)

 

• Frame sosial.

 

Dari frame sosial, hemat itu pelit dan bakhil namun pelit kepada diri sendiri. Lah pelit, kikir, bakhil, apa ada yang terpuji? Jauh dari standar akhlaqul karimah.

 

• Frame spiritual

 

Dari getaran spiritual, hemat cenderung muncul dari rasa khawatir kekurangan.

 

Rasa khawatir kekurangan jelas getaran rasa miskin. Hati memiliki rasa miskin itu tidak jauh beda dengan orang yang mengingkari nikmat, sebab tidak mampu berterima kasih kepada-Nya. Padahal Tuhan kurang apa kasih nikmat kepada Anda?

 

Di samping itu, rasa khawatir kekurangan itu sama saja meragukan janji Tuhan kalau rezeki itu jaminan-Nya. Tuhan diragukan konsistensi janji-Nya, ya jelas sikap kufur.

 

Nah semua mode hemat di atas, kenapa buruk? Itu karena mode hemat di atas semuanya berkode menerpurukan kualitas jiwa Anda.

 

Lah iya, cek saja satu-satu per frame; dari frame mental dilatih ringkih atas uang, ini program penerpurukan jiwa yakni mental.

 

Dari sisi matematis, logika dilatih berpikir konyol dengan inginkan hasil tambah tapi dengan mengurangi, ini program penerpurukan jiwa yakni penafian nalar logis. Dari sisi finansial, kecukupan hidup yang adalah bagian dari kebahagiaan hati malah kebutuhannya dikurangi, ini program penerpurukan jiwa yakni menolak bahagia.

 

Dari sisi religi, tahu-tahu irit itu sama dengan boros, dan boros itu temannya setan, eeh setan ditemani, kan tidak qur’ani? Dari sisi sosial, irit sama dengan bakhil pada diri sendiri, diri sendiri dibakhili kan kejahatan pada jiwa manusia? Dari sisi spiritual, itu sudah jelas sekali, rasa khawatir kekurangan atas uang itu sejelek-jeleknya kondisi jiwa kepada Tuhannya.

 

Jadi semua mode hemat di atas faktor pemicunya adalah program penerpurukan jiwa.

 

Sekarang begini.

 

Puasa itu sebenarnya mode hemat, makan minum dikurangi. Kenapa puasa jadi sebuah kebaikan? Itu dikarenakan puasa punya akses niat untuk menguatkan jiwa.

 

Puasa Ramadhan misalkan, akses niatnya untuk tingkatkan kualitas iman sehingga dapatkan maghfirah Tuhan, akhirnya puasa yang sebenarnya mode hemat jadi kebaikan.

 

Atau seperti Mahapatih Gajah Mada yang berikrar Amukti Palapa, itu sebenarnya mode hemat, karena menurut tafisiran M. Yamin, Sumpah Palapa artinya Gajah Mada tidak akan menikmati kesenangan apapun sebelum sumpahnya untuk satukan nusantara terwujud. Namun karena mode hemat Sumpah Palapa punya misi kuatkan jiwa yakni demi visi kejayaan negara, jadinya mode hemat jadi kegemilangan.

 

Jadi hemat asalkan punya visi kuatkan jiwa itu tidak masalah, malah utama.

 

Persoalannya, di alam penciptaan Tuhan ini yang tercipta tersempurna itu jiwa Anda. Lihat saja ambulan yang bebas di jalanan, lampu lalu lintas boleh ditabrak, kendaraan umum harus minggir dahulukan ambulan, itu karena ambulan sedang bawa misi selamatkan jiwa manusia.

 

Ada bencana alam, jiwa manusia diutamakan selamat. Jiwa diciptakan paling sempurna lalu Anda rusak kualitasnya dengan hemat, itu kan sama saja merendahkan martabat jiwa kepada uang.

 

Sehingga ketika Anda berhemat, Anda harus cek ke kedalaman niat, visi dan misi Anda, merupakan visi kokohkan kualitas jiwa atau lemahkan kualitas jiwa? Artinya hemat Anda itu merupakan penghormatan untuk jiwa Anda apa perendahan untuk martabat jiwa Anda? Itu harus dicek.

 

Berikut contoh-contoh mode hemat dengan akses visi kokohkan jiwa;

 

• Hemat agar bisa sekolah atau bisa biayai pendidikan.

 

Sekolah merupakan akses ilmu. Ilmu jelas prioritas pertama untuk punya jiwa berkualitas.

 

Atau seperti para santri di pondok pesantren yang makan sehari cuma 2 kali. Mereka lakukan itu demi akses peroleh ilmu, itu jelas hemat dengan program kokohkan kualitas jiwa.

 

• Hemat agar punya modal dagang.

 

Dagang itu merupakan pengembangan potensi diri. Kalau potensi diri tidak kreatif dikembangkan, hidup akan cenderung terpuruk. Hemat demi bisa mengumpulkan atau menambah modal itu berarti jiwa kreatif dalam dagang.

 

• Hemat agar bisa sejahterakan keluarga, misal hemat agar punya rumah mapan, punya kendaraan, itu semua kewajiban untuk sejahterakan keluarga.

 

Hemat demi program sejahterakan keluarga jelas itu visi kokohkan jiwa karena bermisi sukseskan tanggung jawab.

 

• Hemat agar bisa naik haji.

 

Haji itu bagian dari panggilan spiritual. Hemat demi bisa naik haji ya jelas program kokohkan jiwa yakni nilai-nilai spiritual.

 

• Hemat demi bisa menikah.

 

Menikah itu jelas menyempurnakan jiwa, karena jomblo itu sama saja hidup dengan satu tangan, tidak punya pasangan. Agar sempurna jiwanya lalu menikah.

 

Alhasil, hemat itu baik-baik saja asal punya visi beri penghormatan kepada jiwa, hemat yang menguatkan jiwa. Kalau hemat kemudian visinya merendahkan jiwa atau melemahkan jiwa, ya itulah hemat pangkal miskin.

 

Muhammad Nurul Banan

 

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *