MEI 2023

MEI 2023

JALAN LURUS ITU HARUS KELAK-KELOK, MENANJAK-MENURUN

“Saya ini, Gus, jika baru ikuti kelas training Gus Banan, atau ikuti konten-konten online Gus Banan, saya selalu termotivasi. Tapi saya kerap sedih, hari ini saya konsisten, besok mogok. Biar istiqamah bagaimana sih, Gus?” Tanya seorang alumni kelas training saya.   Shirâthal mustaqîm (jalan lurus) itu bukan berarti tidak berkelok-kelok, tanpa hambatan, tanpa naik turun. Coba Anda dari tempat Anda berada, Anda jalan lurus ke Timur dengan tujuan Surabaya, tanpa belok, tanpa berhenti, tanpa menanjak, tanpa turunan, apa akan sampai?   Untuk sampai di Surabaya, Anda harus belak-belok, maju-mundur, menanjak-menurun, kadang harus berhenti, dan sebagainya, di situ Anda baru bisa sampai di alamat. Demikian halnya shirâthal mustaqîm, Anda perlu taat dan maksiat, senang dan sedih, gembira dan susah, takwa dan durhaka, marah dan mengasihi, dan itulah jalannya untuk lurus.   Namun itu jalan saja, tujuannya bukan belak-belok terus. Tujuannya sampai di alamat.   Kalau shirâthal mustaqîm diartikan hanya jalan tol yang lurus, nanti Anda merasa paling lurus, bisa-bisa merasa jadi “ustadz garis lurus”, menghakimi segala hal yang dinilai bengkok, karena tidak sadar kalau shirâthal mustaqîm itu garis bengkak-bengkok, naik-turun dan lengkang-lengkung dan kadang juga harus garis lurus.   Jadi manusiawi, Anda naik-turun emosi dan spiritualnya karena begitu adanya mekanisme shirâthal mustaqîm. Komitmen kepada tujuan husnul khatîmah itulah yang akan membawa Anda di titik shirâthal mustaqîm, sekalipun jalannya kelak-kelok, menanjak-menurun, macet dan lancar, ngebut dan pelan, mogok, dan seterusnya.   Istiqamah itu artinya tegak berdiri. Iya jalan tempuhnya harus lewati shirâthal mustaqîm yang kelak-kelok itu, namun sekalipun kelak-kelok, menanjak-menurun, mogok dan lancar, berhenti dan jalan, asalkan tetap konsisten dengan tujuan ke masa depannya ya itu yang disebut istiqamah.   Waktu bujangan saya memang punya cita-cita ingin jadi public speaker dan writer. Saya perjuangkan 3 tahunan belum gol juga. Sampai akhirnya saya menikah. Usai nikah saya malahan dagang. Cita-cita saya ini pun terbengkalai begitu saja.   Terbengkalai karena dagang, namun minat saya masih ada, sebab minat terbesar saya memang bukan bisnis, lebih dominan ke arah minat ilmiah dan publik. Di situ saya berhenti, tidak lanjutkan menempuh cita-cita baik menuju public speaking maupun writer.   Namun ternyata karena memang minatnya dari dulu kepada public speaking dan writer, sekalipun ikhtiyarnya sudah berhenti, ternyata sesudah saya lupa, eeh malah ijabahnya datang sendiri. Dan sederhana sekali ijabahnya, cuma main fb-an kok malah diijabah cita-cita yang dulu pernah saya perjuangkan dengan penuh ketekunan.   Anda sekarang paham, kan? Kurang lebih begitulah yang disebut istiqamah.   اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ ﴿۶﴾ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ە ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ﴿۷﴾   “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.S. Al-Fatihah : 6 – 7)   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class  

MEI 2023

MENTAL KAYA PUN ADA AFAT BAHAYANYA

Mental dagang itu sebenarnya mental fakir, karena dagang memang upaya menarik keuntungan untuk diri sendiri, penuh tarikan ego. Ketika promosi saja sudah jelas meminta-minta dibeli, upaya keras bagaimana laku, belum lagi nanti ketika tawar-menawar berbagai trik dipakai agar bisa peroleh keuntungan maksimal. Dagang berlawanan dengan mental kaya yang ajarkan semugih kepada orang lain. Dagang justru ajarkan rasa fakir, rasa butuh kepada orang lain.   Spirit dagang adalah spirit menghargai diri sendiri, bahwa diri Anda ingin diuntungkan oleh orang lain.   Saat Anda tawar menawar barang dalam jual beli, bukankah harga 10 ribu masih menjadi daya tawar yang sangat alot? Padahal dalam urusan sosial uang 10 ribu dikasihkan kepada keponakan kecil juga masih memalukan.   Uang sangat berharga dalam jual beli karena adanya tarik menarik ego saling menguntungkan diri antara penjual dan pembeli. Kepentingan penjual adalah untung, kepentingan pembeli adalah dapat semurah mungkin.   Nah mental dagang itu berlawanan dengan mental kaya. Mau tidak mau kalau Anda dagang Anda harus ada rasa fakir yakni rasa butuh dibeli oleh orang lain. Saya sendiri lah, ketika ingin kelas training saya dibeli ya saya beriklan, promosi, pakai testimoni, kadang juga pakai trik earlybird. Jelas ketika dagang saya pakai mental fakir.   Nah beberapa kali saya temukan para pengusaha yang bangkrut karena salah pasang mental kaya.   Misal, bayar karyawan tinggi sekali, melampoi UMR setempat dan kelumrahan gaji. Sikap seperti itu betul lahir dari rasa kaya sehingga menumbuhkan rasa dermawan. Tetapi hubungan karyawan dengan bos adalah hubungan managemen dagang, nah sikap begitu bila terus diterapkan dalam waktu lama maka mental kayanya dapat mematikan mental dagangnya.   Ketika mental dagang sudah mati, atau minimal melemah, dagang Anda jadi babgkrut, kurang laku.   Kenapa membangkrutkan? Karena kalau Anda nengajar murid di kelas namun mental Anda bukan mental pengajar namun mental pacar, kacau-balau tidak? Demikkan pula dagang dimentali mental kaya, dimana mental kaya itu mental spiritual dan sosial, dipasang di dagang, ya kacau-balau juga. Apalagi jika dalam kurun waktu lama, lama kelamaan mempengaruhi pikiran bawah sadar, lalu jadi belief. Sesudah jadi belief, pikiran bawah sadar Anda tidak kenal lagi “dagang”. Bubar.   Kalau saya kepada karyawan tidak ada yang saya gaji istimewa, semua normal saja gajinya, hanya saja saya juga harus berbagi dengan mereka secara sosial, jangan sampai jadi bos bakhil.   Karena itu saat bayar gaji mereka, dalam slip gaji saya tulis jelas, “Gaji : Sekian. Transport : Sekian. Sedekah : Sekian.” Artinya gaji biasa saja, hanya saja saya kasih sedekah di luar gaji setiap mereka gajian. Tujuannya agar mental kaya saya tidak mematikan mental dagang saya, dan sebaliknya mental dagang saya juga tidak mematikan mental kaya saya.   Saya sebenarnya punya bakat seni suara, dari kecil ya tidak jelek-jelek amat suaranya, maklum keluarga saya penyanyi semua, gen seni suara saya sangat kuat.   Tapi bakat ini tidak pernah saya hargai, saya tidak pernah berkeinginan mengembangkan, bahkan saya cenderung tak acuh. Apalagi pegang mic lalu nyanyi, azan saja saya berjuang keras untuk tidak melakukannya. Orang yang seumur hidup belum pernah kumandangkan azan ya diri saya.   Alasannya apa saya tidak mau kembangkan bakat seni suara saya? Anda tidak perlu tahu dan tidak perlu mengkritik. Hehehe. Hasilnya apa? Suara saya benar-benar jelek, tidak punya cengkok.   Apapun yang tidak dihargai mudah rusak. Banyak alat elektronik saya dari microphone wireless, laptop, kamera yang mangkrak rusak akibat kerap tidak saya pakai. Jarang dipakai, perhatian saya pun berkurang, artinya tidak begitu saya hargai. Hasilnya barang-barang tersebut cepat binasa.   Mental dagang yang tidak dihargai juga lama-lama binasa, persis seperti bakat seni suara saya.   Saya ada teman pengusaha restaurant. Setiap saya kesana saya disuguhi makanan gratis, yang teristimewa lagi. Nanti pulang saya dikasih oleh-oleh. Dibayar tidak pernah mau.   Dua tahun kemudian dia gulung tikar, bangkrut. Itu pun tidak lebih karena mental dagangnya rusak karena terbunuh oleh mental kayanya.   Ada lagi yang kalau dagang senang gratiskan dagangannya. Ini juga sama, bisa terbunuh mental dagangnya.   Juga ada yang minatnya kasih harga murah saja hingga dia tidak sadar kalau dirinya harus dihargai. Dagang itu melayani, sangat capek. Kalau layanannya full tapi untungnya kecil ya itu berarti tidak mau menghargai diri sendiri. Lama-lama ya mental dagangnya terbunuh juga.   Bergaul dengan murid di kelas dimentali mental jadi pacar, hancur kan? Dagang dimentali mental kaya juga begitu.   Lah kok kita pakai mental fakir juga dalam hidup ini seperti dalam dagang? Ya iya. Anda masak cuma pakai asin emang enak? Ya harus dipadukan dengan musuhnya yakni rasa manis. Hidup yang bertumbuh juga demikian, bukan hanya pakai mental kaya namun mental fakir pun kadang perlu.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class  

MEI 2023

MEMBERI YANG MELANGKAKAN UANG DAN CARA ME-RELEASE-NYA

Kucing naik mobil mewah, baginya tidak membanggakan tidak apa. Mobil mewah baginya tidak lebih naik gerobak. Bagi Anda? Mobil mewah suatu kebanggaan besar. Karena itu Anda berlomba-lomba gonta-ganti mobil karena Anda ada update rasa kepada mobil.   Jadi sebenarnya Anda sesibuk sekarang berlomba membangun hidup karena Anda punya rasa terhadap benda-benda duniawi, artinya benda-benda duniawi tersebut bagi rasa Anda punya arti penting.   Unggulnya, karena ada update rasa terhadap benda-benda duniawi tersebut, lantas dalam kehidupan ini hadir kemegahan, keberlimpahan, kekayaan, keglamoran, kesederhanaan, bahkan hadir juga keberhikmahan yakni meaning-nya.   Jadi yang menghadirkan realita dan sekaligus meaning di baliknya itu adalah rasa Anda sendiri. Tanpa update rasa, dalam kehidupan Anda tidak akan hadir apa-apa.   Nah rasa di dalam hati Anda itu juga yang bisa menghilangkan segala-galanya. Anjing bisa kehilangan hewan buruannya walaupun ia yang bekerja keras berburu lantaran ia hanya membangun rasa setia kepada tuannya, dan dia tidak pernah membangun rasa memiliki hewan hasil buruan.   Memberi itu tindakan melepaskan, energi yang Anda peroleh bisa energi kehilangan namun juga bisa energi mendapatkan, itu terhubung bagaimana Anda memberikan atensi rasa kepada pemberian Anda.   Ada beberapa atensi rasa yang bisa menghilangkan harta Anda saat memberi sehingga efeknya duit jadi langka, di antaranya;   1. Memberi dengan rasa khawatir berkurang.   Rasa ini sadis menyabotase energi keberlimpahan uang Anda, karena atensi rasa Anda memberi sugesti “memberi berarti berkurang”.   Sebab itu sebaik-baik sedekah—menurut Nabi S.A.W—adalah sedekah yang muncul dari sikap zhahril ghinâ (punggung kaya) artinya Anda memberi dalam rasa, “Saya dan keluarga sudah kecukupan, saya dan keluarga sudah penuh kekayaan karena itu saya memberi”.   الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ   “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah—pemberian—dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah itu dari punggung kaya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa kaya maka Allâh akan memberikan kekayaan kepadanya.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih)   2. Memberi karena rasa terpaksa.   Seks sebenarnya enak sekali, tapi kalau dipaksa? Tidak ada enaknya bila sesuatu dipaksa oleh kemauan orang lain, termasuk dipaksa memberi.   Allah ridha kalau Anda ridha, sementara ketika dipaksa oleh orang lain apakah Anda ridha?   Karena itu saya kerap berikan statement, “Sukalah berbagi tapi jangan suka dimintai. Karena berbagi dengan suka rela itu bahagiakan diri sendiri juga bahagiakan orang lain. Beda kalau dimintai, itu hanya bahagiakan orang lain tapi kerap sakiti hati sendiri.”   Orang berbagi karena dimintai kerap karena tidak enak hati, kan? Tidak enak hati itu artinya terpaksa, dan itu beresiko si pensedekah mengungkit-ungkit dengan rasa enek, marah dan dendam.   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى   “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (Q.S. Al-Baqarah: 264).   Memberi dengan rasa terpaksa karena dimintai atau pun dipaksa, jika di belakang waktu krmudian tidak bisa mencapai rasa ridha, itu sama saja cari trauma mental. Trauma itu penyakit. Penyakit—bagi si pengindap—tidak ada yang bawa energi rezeki uang.   Menghindari berbagi dengan rasa terpaksa ya Anda harus punya sikap berani dan tegas untuk berkata dan bertindak, “Tidak.”   Sebab itu pemberian yang dilakukan oleh orang yang pelit itu sedekahnya akan menarik kelangkaan uang di dalam hidupnya sebab disabotase oleh rasa terpaksanya.   3. Memberi dengan rasa kasihan.   Ini kerap saya ajarkan. Derajat manusia itu setinggi-tingginya derajat makhluk. Uang di bawah derajat manusia. Bukan derajat uang membelaskasihani manusia. Karena itu kalau Anda sedekah dengan rasa kasihan itu Anda menghina dan merendahkan martabat manusia.   Rasa kasihan dalam memberi itu disebut sedekah. Rasa hormat dalam memberi itu disebut hadiah. Karena itu Nabi S.A.W menolak diberi sedekahan, beliau hanya berkenan menerima hadiah.   عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ أَكَلَ مِنْهَا وَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا   “Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi S.A.W apabila beliau diberi makanan, beliau pasti menanyakannya. Bila dikatakan itu hadiah, beliau memakannya, dan bila dikatakan itu sedekah, beliau tidak memakannya.” (H.R. Muslim)   4. Memberi dengan rasa mengharap imbalan.   Berbagi dengan mengharap imbalan balik itu artinya sedang meminta-minta.   Banyak kan calon anggota dewan atau calon pejabat politik mendadak dermawan ketika jelang pemilihan umum karena minta imbalan dipilih.   Banyak juga pacar yang mendadak dermawan kepada pacarnya karena sedang mengharap imbalan peroleh romantisme.   Ya memberi dengan rasa ingin dapatkan imbalan balik ya tidak beda lintah darat.   Pemberian model keempat ini memang tidak melangkakan uang, karena imbalan yang diharapkan bisa saja berbalik, tetapi energi lintah daratnya ini yang getarkan kerakusan. Di mana-mana lintah darat dibenci orang, ujung-ujungnya rezekinya tidak berkah.   Terus bagaimana me-release-nya?   Kondisi rasa hati itu berubah-ubah. Kalau Anda berbagi dalam kondisi hati seperti di atas, lalu Anda menundanya, itu sama halnya Anda tidak mau menraining diri. Tinggal alihkan kesadaran Anda menjadi kesadaran training diri.   Umpama, Anda mau berbagi, tetapi di hati muncul rasa khawatir kekurangan, Anda tinggal niatkan, “Ya Allah saya sedekah, tapi saya khawatir kekurangan, ampuni saya ya Allah, semoga saya diberi keikhlasan.”   Dengan mengubah kesadaran training spiritual begitu, pemberian Anda menjadi sedekah yang utama, sesuai tuntunan hasits Nabi S.A.W;   يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ « أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ »   “Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.” (H.R. Muttafaqun ‘alaih)   Sedang muncul rasa kekurangan, sedang muncul rasa ingin tambah kaya artinya muncul rasa rakus, justru tabrak sekalian dengan memberi. Sedang muncul rasa terpaksa, tabrak dengan merelakan. Sedang muncul rasa kasihan, tabrak

MEI 2023

HIDUP ITU PETUALANGAN PASRAH YANG TETAP DENGAN AMBISI

Waktu anak-anak saya ketika mau berangkat sekolah kerap punguti buah Kedondong jatuh (Jawa: nutur Dondong) milik kakak sepupu.   Ketika obsesi saya besar ada Kedondong jatuh di pagi itu, malah tidak ada. Ketika hati saya landai, justru kerap temukan Kedondong jatuh.   Saya kerap punya ekspektasi tinggi terhadap tulisan ataupun konten medsos yang saya unggah. Ekspektasinya ini konten pasti ramai. Realitanya malah enggak. Sepi.   Sebaliknya kadang saya tidak punya ekspektasi apapun pada konten saya, malah sambutannya ramai.   Obsesi, ambisi, ekpektasi, hasrat, itu semua ketika terunggah kepada-Nya disertai nafsu-nafsu.   Anda amati ketika ada cowok nakal dengan penuh nafsu menggoda cewek yang dia temui. Bukankah si cewek justru ketakutan, risih dan marah. Penolakan si cewek terjadi disebabkan saat si cowok nakal menggodanya yang ada hanya hasrat nafsu.   Jadi mengapa ketika Anda punya obsesi, ambisi, ekpektasi, atau hasrat tertentu lantas realitanya tidak seindah ekspektasinya? Itu karena pada saat itu nafsu lah yang terunggah kepada-Nya.   Sebab saat saya berambisi pungut Kedondong jatuh atau saya berekspektasi pada konten medsos tertentu justru hasilnya haihata; jauh panggang dari api.   Berbeda ketika obsesi dan ekspektasi saya landai-landai saja, di situ getaran nafsunya kecil, sehingga mudah terwujud realitanya. Namun sekarang begini. Ekspektasi, ambisi, obsesi, atau hasrat itu sendiri adalah doa. Iya, udang tidak pernah punya ambisi makan daging, artinya udang tidak pernah punya doa untuk dapatkan daging segar, selama hidupnya udang pun tidak pernah temui daging segar. Ijabah doanya dapatkan daging segar tidak pernah terjadi. Beda dengan macan yang ambisinya kepada daging segar.   Tuhan itu konsisten ijabahi doa Anda. Janji-Nya;   وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ   “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.” (Q.S. Al-Mu’mîn : 60)   Cuma kalau tidak ada doanya, Tuhan mau ijabahi apa?   Bagian dari doa itu adalah keinginan-keinginan, harapan-harapan, dan kemauan-kemauan, yang di dalamnya termasuk ambisi, obsesi, ekspektasi dan hasrat.   Lah iya, beda orang sukses dan orang biasa itu cuma beda “dalemannya”, beda mindsett-nya saja. Sama-sama buka toko dengan modal kecil, orang sukses berpikir untuk besar, ia punya ambisi pada kemajuan.  Sementara orang biasa buka toko yang sama, namun ia hanya berpikir dan berniat buka toko untuk tambah-tambah penghasilan. Beda “daleman” beda pula tindakan dan resikonya, hasilnya juga jadi jauh beda.   Jadi sekali lagi, ambisi, obsesi, ekspektasi, hasrat, itu doa. Tanpa doa, Tuhan yang Maha Ijabah mau ijabahi apa?   Paradox ya? Punya ambisi ditolak doanya karena penuh nafsu, tanpa ambisi tidak diijabah karena tidak punya doa. Mumeti. Terus jalan keluarnya?   Kalau Anda sedang terima keadaan ekspektasi tak seindah realita, itu Anda kecewa, tidak? Tentu kecewa, ada muncul rasa sedih, dan kadang hati dibesar-besarkan, dilegawa-legawakan, dan disabar-sabarkan.   Artinya ketika ambisi, obsesi, hasrat atau ekspektasi ditolak oleh-Nya, di situ Anda mengalami proses pelepasan ego dan nafsu. Ketika ego dan nafsu menurun kemelekatannya, di situ jiwa Anda berproses mengunggah doa-doa yang termurnikan.   Setiap hasrat, ambisi, obsesi, dan ekspektasi yang tertolak, di situ Tuhan melatih Anda untuk belajar rela hati, lapang dada, ridha, tawakal, dan pasrah.   Karena itu Nabi Musa pernah bertanya kepada Allah,   حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنِي أبِي، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ عِمْرَانَ الْقَصِيرِ قَالَ: قَالَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ: أَيْ رَبِّ، أَيْنَ أَبْغِيكَ؟ قَالَ: ابْغِنِي عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوبُهُمْ؛ إِنِّي أَدْنُو مِنْهُمْ كُلَّ يَوْمٍ بَاعًا، وَلَوْلَا ذَلِكَ لَانْهَدَمُوا   “Abdullah bercerita, ayahku bercerita kepadaku, Sayyar bercerita, Ja’far bercerita, dari ‘Imran Al-Qashiri, ia berkata, Musa bin ‘Imran A.S. berkata, “Wahai Tuhan, di mana aku mencari-Mu?” Allah menjawab, “Carilah Aku di sisi orang-orang yang hancur hatinya. Sesungguhnya Aku dekat dengan mereka setiap hari (sejarak) satu bâ’ (sekitar dua lengan). Jikalau tidak demkian, mereka pasti roboh (binasa).” (H.R. Imam Ahmad bin Hanbal).   Ya orang yang ekspektasinya sedang tidak tercapai, hasratnya kandas, ambisinya amblas, dia sedang hancur hatinya, di saat itu dia sedang berproses dengan pelepasan ego dan nafsu, sehingga ketika Musa A.S. menanyakan, “Di mana Engkau berada, ya Rab?” Jawab Tuhan, “Di hati orang yang sedang hancur hatinya.”   Nah sesudah Anda jatuh-bangun, maju-mundur, senang-sedih, menang-kalah, tawa-tangis, dan alami banyak haru-biru, banyak makan garam, di situ Anda setahap-tahap tertata nuraninya, nafsunya buruknya perlahan jinak. Sesudah di keadaan pasrah, baru ambisi, obsesi, hasrat, ekspektasi Anda itu diijabah.   Jangan langsung pasrah, karena kalau langsung pasrah, Anda jadi lemah kemauannya, lemah kemauannya jadi lemah doanya. Lemah doanya ya tidak ada ijabah.   Jadi jangan gampang pasrahan ya? Hahaha.   Yang elegan itu ambisi besar, kemauan besar, hasrat penuh, karena itu sebagai “modal doa”, selanjutnya tempuh dengan kesungguhan, dan hadapi pahit-getirnya dengan kuat hati. Nanti setelah Anda dinilai beserah pasrah, Tuhan ijabahi doa Anda, di situ gol baru terjadi.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

BIAR UANG MENGABDI, OJO SAMBAT DUIT

Ojo sambat itu bahasa Jawa artinya jangan mengaduh; jangan mengeluh.   Kerap saya sampaikan, Anda adalah makhluk yang sudah dimuliakan penciptaannya. Sistem alam semesta pun sudah tempatkan Anda di kursi maharaja. Amati saja semua makhluk tercipta melayani Anda.   Oksigen, rerumputan, tumbuhan, hewan-hewan, planet-planet semua tercipta hanya untuk fasilitasi hidup Anda. Kedelai tercipta untuk Anda makan, tidak kemudian Anda tercipta sebagai makanan kedelai. Anda maharajanya, makhluk lainnya pelayanan.   Rezeki untuk Anda pun rezeki pilihan yang paling berkualitas. Dari sisi makanan saja, rezeki Anda dipilihkan yang paling higienis dan paling enak. Macan cuma dijatah rezeki daging segar, Anda rezekinya daging olahan dengan aneka resep kuliner. Kangkung rezekinya cuma unsur hara tanah yang tidak lebih sisa kotoran di alam semesta, Anda rezekinya makanan sehat yang tidak cuma dimasak matang dan dibumbui namun telah dicuci bersih agar steril dari kotoran.   Makhluk lain tidak ada yang diberi rezeki pakaian, perhiasan, dan kendaraan hanya Anda yang berbusana, pakai perhiasan dan ada kendaraan.   Makhluk lain tidak ada yang diberi fasilitas kesehatan, hanya Anda yang disediakan rumah sakit dan klinik kesehatan dengan seabrek fasilitas medis.   Jatah hunian Anda juga seperti apa istimewanya? Rumah-rumah milyaran hingga trilyunan tersedia untuk Anda. Coba makhluk lain paling banter dijatah kandang.   Rambut dan kulit Anda saja dijatah rezeki teristimewa, aneka sabun dan aneka shampo hal lumrah untuk merawat kulit dan rambut Anda. Coba makhluk lain apa dapatkan fasilitas itu? Jangankan perawatan kulit dan rambut, rezeki mandi saja makhluk lain jarang yang dijatah.   Benda-benda termewah dijatahkan untuk Anda. Emas, permata, berlian, perak, mutiara, benda-benda mahal tersebut untuk Anda, makhluk lain tidak ada yang sanggup memiliki.   Rezeki Anda sudah disistemkan teristimewa, terbaik, terpilih dan paling berkualitas.   وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ۞   “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (Q.S. Al-Isrâ : 70)   Sudah jadi maharaja alam semesta di mana makhluk lain hanya sebagai pelayan, ditambah dianugerahi rezeki terbaik (ath-thayyibât). Kurang apa coba diunggulkannya? Rezeki Anda rezeki terbaik.   Rezeki itu sebenarnya bertabiat mengabdi kepada Anda, andai disuruh datang, rezeki dengan tergopoh-gopoh datang. Kenapa demikian? Karena setting penciptaannya begitu, Anda raja, rezeki pelayannya.   Hanya lemahnya Anda itu, disetting jadi raja, namun Anda lemah dalam mental kemaharajaannya. Ibarat pemimpin, leadership skill Anda kerap lemah di depan bawahan Anda, sehingga rezeki yang mau layani Anda jadi bingung dan merasa tidak nyaman bersama Anda.   Kalau Anda seorang manager perusahaan, misalkan, lalu Anda cengeng dalam mengambil kebijaksanaan perusahaan, tidak percaya diri memimpin karyawan, kira-kira pemimpin begitu punya kharismatik, tidak? Manager kok cengeng, karyawan mana yang betah di sampingnya?   “Sambat-sambat duit” artinya mengaduh tentang uang, itu petunjuk Anda cengeng di depan uang. Ada manager cengeng di depan karyawannya, karyawan mana yang mau mengabdi kepadanya? Demikian pula Anda bila “sambat-sambat duit”, itu uang mana yang mau mengabdi kepada Anda? Uang akan melihat Anda sebagai raja yang tidak layak dimahkotai raja.   “Sambat ora due duit” yakni mengaduh tidak punya uang, “sambat duit langka” yakni mengaduh uang langka, “sambat duite sitik” yakni mengaduh uangnya sedikit, “sambat duit angel digolet” yakni mengaduh uang susah dicari, dan keluhan-keluhan keuangan lainnya, itu jadikan uang yang sebenarnya ditabiatkan mengabdi kepada Anda, lantas tidak betah, karena uang merasa punya raja tapi bermental cengeng.   Padahal “sambat-sambat kekurangan dan kesulitan duit” begitu Anda dalam sehari bisa berapa kali? Keluhan-keluhan itu mempengaruhi mental Anda setiap saat, lalu direkam oleh pikiran bawah sadar Anda, selanjutnya menjadi belief di pikiran bawah sadar.   Setelah mempengaruhi mental, perasaan, lalu jadi belief pikiran bawah sadar, selanjutnya menetap permanen sebagai karakter Anda. Ya raja berkarakter kerupuk. Lalu bagaimana uang akan betah mengabdi?   Sifat pesimis, merasa susah, merasa miskin, saat tidak punya uang, itu semua bagian dari pengeroposan mental kemaharajaan Anda. Bila terbiasa selanjutnya uang tidak akan percaya lagi mengabdi kepada Anda.   “Ojo sambat duit” sesulit apapu kondisi keuangan Anda, ambillah sikap tegar, tawakal dan optimis, itu latihannya membangun leadership skill di depan uang sebagai maharaja uang.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word   Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

BERI RUANG UNTUK MENYINGKIR SEJENAK

Karakter urusan dunia itu multiverse, yakni majemuk dan beragam.   Sementara alam semesta ini dicipta dengan karakter universe yakni tunggal. Diri Anda ada berapa? Ada satu. Bulan ada berapa? Satu. Matahari berapa? Satu. Bumi berapa? Satu. Samudera Hindia ada berapa? Satu.   Diri Anda dengan identitasnya masing-masing itu tunggal, tidak sama antara satu dengan yang lain, sehingga Anda diwarisi identitas khas yakni sidik jari, di mana sidik jari Anda tidak dapat diduplikasi.   Ya alam semesta ini ciptaan-Nya, sehingga ayat-ayat keberadaan Zat-Nya nyata ada di alam semesta ini. Kalau Dia Sang Maha Tunggal yang Wahdahu Lâ Syarîka lahu; maka ayat-ayat-Nya juga nyata ada.   Sehingga karakter multiverse urusan dunia ini berlawanan ekstrem dengan karakter alam semesta yang uni-verse, termasuk karakter diri Anda sendiri yang tunggal.   Hati Anda kerap bising kan, karena pikiran Anda kerap ditarik untuk memikirkan banyak hal? Setiap hari, Anda pasti dihadapkan dengan masalah yang silih berganti. Selesai satu, muncul masalah baru. Malah terkadang, masalah yang satu belum selesai, Anda berhadapan lagi dengan masalah yang lain.   Ibaratnya, hidup itu kayak runtutan masalah yang tidak habis-habis. Bahkan, jalan keluar dari sebuah masalah saja, kerap mendatangkan masalah lain yang bisa jadi lebih berat.   Sebab itu tubuh Anda perlu menyingkir sejenak dari hiruk-pikuk urusan dunia yang multiverse, sejenak kembali kepada diri Anda sendiri yang tunggal, kembali kepada alam semesta yang uni-verse, kembali kepada Pencipta Anda yang Maha Ahad.   Anda sehabis zikir tentu dapatkan ketenangan hati, karena zikir itu usaha agar pikiran untuk hanya terkoneksi pada satu Zat, yakni Asmâ Allah. Anda sehabis meditasi juga hati menjadi tenang karena meditasi itu usaha untuk hanya terkoneksi dengan satu gerak alam, misal hanya terkoneksi dengan gerak keluar-masuknya nafas.   Ketenangan hati sesudah zikir ataupun meditasi karena Anda menarik pikiran Anda kepada hakikat tunggal alam semesta, yakni fokus ke satu titik yaitu fokus “ingat Allah” ataupun fokus “sadar nafas”.   Nabi Muhammad S.A.W yang fardhu dalam sehari 5 kali menyingkirkan diri dari hiruk-pikuk dunia, dengan hanya hening mengingat Tuhannya, yakni dengan shalat.   Setiap shalat Nabi S.A.W mengistirahatkan pikirannya, karena itu beliau mengaku kalau shalat beliau adalah istirahat beliau. Beliau jika sedang menyuruh sahabat Bilal untuk iqamat shalat, beliau memerintahkannya dengan, “Bilal, Istirahatkanlah kami?   “‏ يَا بِلاَلُ أَقِمِ الصَّلاَةَ أَرِحْنَا بِهَا ‏”‏   “Wahai Bilal, segera iqamat lah, istirahatkan kami dengan shalat,”. (H.R. Abu Dawud)   Setiap shalat Nabi S.A.W merilekskan diri. Tentu kualitas shalatnya Nabi S.A.W adalah shalat khusyuk.   Bahkan shalat itu bagi Nabi S.A.W adalah “qurratu ‘ain” (penenang hati).   حُبِّبَ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِى فِى الصَّلاَةِ   “Diberikan rasa cinta kepadaku dari dunia; wanita dan wewangian dan dijadikan penenang hatiku di dalam shalat”. (H.R. Ahmad)   Anda kan kerap kalau sedang shalat, badan sedang baca Al-Fatihah tapi beda dengan yang pikiran Anda yang sedang pikirkan duit? Di situ Anda tidak bisa hadir dalam shalat karena tindakan dan pikiran tidak menyatu. Shalat begitu tidak punya kualitas “istirahat”.   Menurut Imam Al-Ghazali, untuk masuk ke level khusyuk harus berlatih dulu di level “khudhûrul qalbi (kehadiran hati). Khudhûrul qalbi cukup dengan sadari saja. Misalkan Anda sedang Takbîratul Ihrâm ya sadari sepenuhnya Anda sedang baca Takbîratul Ihrâm dengan tangan terangkat lalu bersedekap. Dan terus begitu, cukup berusaha sadari setiap gerak dan bacaan shalat.   Demikian pula cara hadirkan hati (khudhûrul qalbi) ketika Anda zikir ataupun meditasi.   Tehnik khudhûrul qalbi ini kalau dalam ilmu pemberdayaan diri disebut tehnik mindfullness.   Yang jelas dalam 24 jam tubuh Anda perlu d irelekskan dengan cara “kembali kepada hakikat diri Anda yang tunggal, kepada alam semesta yang uni-verse dan kepada Tuhan yang Maha Ahad”. Dalam sehari semalam perlu ada waktu Anda perlu menyingkir dulu dari hiruk-piruk isi dunia yang multiverse.   Kalau tidak memberi kesempatan kepada pikiran untuk menyingkir, artinya pikiran Anda tidak pernah diistirahatkan. Akibatnya tubuh Anda—baik kesehatan fisik, kesehatan mental dan kesehatan rezeki—mudah remuk dan rapuh.   Caranya bebas, mau dengan shalat, mau dengan zikir, mau dengan meditasi, yang jelas walaupun hanya satu jam ada waktu untuk rehatkan diri, hadir penuh ke alam uni-verse. Paling lazim pada sepertiga malam terakhir.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word   Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

2 HAL PERUSAK REZEKI MENURUT NABI S.A.W

  عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنْفِقِي وَلَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَلَا تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ   “Dari Asma’ bahwa Rasulullah S.A.W bersabda, “Belanjakanlah (hartamu) dan jangan kamu hitung-hitung karena nanti Allah akan berhitung kepadamu dan jangan kamu tutup rapat guci tempat menyimpan makanan karena nanti Allah akan menutup rezekimu”. (H.R. Bukhari)   Hadits di atas jelas sekali menerangkan, perusak rezeki itu ada 2;   1. Menghitung-hitung ketat keluar-masuknya uang.   Rezeki itu diunduh dengan perasaan, bukan pakai ilmu, bukan pakai tenaga, bukan pakai pikiran, bukan pakai talent, bukan pakai kerja, bukan pakai marketing, tapi pakai perasaan. Karena itu yang didorongkan untuk melimpahkan rezeki adalah rasa syukur, rasa tawakal, rasa takwa.   Karakter perasaan itu karakter qalbu (hati). Hati berkarakter muqallib atau gonta-ganti rasa. Apa Anda bisa merencana berapa persen cinta Anda pada suami di nanti sore? Bisa-bisa Anda merencana cinta, malah nemunya marah lalu bertengkar.   Artinya Anda tidak punya kemampuan mengontrol perasaan, sore direncana cinta mati pada suami ternyata dapatkan kemarahan, siapa bisa menjadwalkan situasi perasaan?   Perasaan juga tidak ada takaran volumenya, Anda tidak bisa mengukur pakai kilometer, kubik, celcius, persen, dan seterusnya. Artinya karakter perasaan itu tidak dapat diukur dan dianggarkan. Perasaan sangat berbalik karakter dengan uang. Kalau uang karakternya bisa dihitung, dikurs, dikalkulasi, dijumlah, bahkan bisa direncanakan dan dianggarkan.   Uang bisa dihitung-hitung dan direncanakan karena benda material, namun timba yang digunakan mengunduh uang adalah perasaan yang karakternya berbalik. Makanya kalau Anda suka menghitung-hitung keluar-masuknya uang, perasaan Anda jadi matre, perasaan jadinya dibatasi oleh uang, dipengaruhi oleh karakter uang.   Kalau uang bisa dihitung, sementara alat pengunduhnya adalah perasaan yang sudah dipengaruhi oleh uang yang terbatas, akhirnya perasaan itu terunggah kepada Allah sebagai “zhann”; sebagai persangkaan kepada-Nya, padahal Tuhan sesuai persangkaan hamba kepada-Nya. Kalau Anda berhitung uang kepada-Nya, rezeki yang diturunkan-Nya juga sesuai hitungan Anda.   Sehingga jelas, di sini Nabi S.A.W berpesan,   وَلَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ   “Janganlah kamu hitung-hitung, nanti Allah akan berhitung kepadamu.”   Saya sudah lama tidak pernah lagi perhatikan nota pembayaran, lama tidak tahu harga-harga. Nota pembayaran cuma saya terima, lalu tanpa saya lihat apalagi saya perhatikan, terus saya buang.   Memperhatikan harga-harga itu sangat membatasi persangkaan Anda pada rezeki berlimpah kepada-Nya.   Ada orang yang gemar audit keuangan rutin tiap bulan, diingat-ingat uang yang keluar kemana saja, uang yang masuk darimana saja, hapal sekali itu warung mahal, itu warung murah, hapal harga-harga barang. Akhir bulan kumpul-kumpulkan nota, lalu dicek ada cashflow apa tidak. Kesalahan belanja dimana, kesalahan pengeluaran dimana, semua diaudit.   Hehehe Allah yang turunkan rezeki oleh Anda diperlakukan seperti barang dagangan yang harus diaudit marketingnya.   Kalau Anda hitung-hitung dengan Allah, Dia akan berhitung sesuai prasangka Anda kepada-Nya.   Hitung-hitung atau ilmu tentang kalkulasi, arus kas, cashflow, dan lain-lain itu ilmu bisnis. Kalau dalam dagang harus dihitung dan diaudit. Tapi kalau untuk uang pribadi, emang Anda sedang dagang kepada Tuhan?   2. Menutup rapat guci makanan, artinya menyimpan harta.   Bukan karakter harta disimpan, karakternya justru dialirkan.   Allah Maha Al-Ghaniyy, Dia Maha Kaya karena Dia selalu alirkan rezeki-Nya untuk semua makhluk-Nya. Rezeki di sisi-Nya hingga tak tersisa karena dialirkan semua. Namun keadaan itu justru jadikan Dia Maha Kaya.   Karena itu wirausaha adalah model cari rezeki yang paling banyak hasilkan uang. Sebab dalam wirausaha penuh resiko pembayaran, resiko alirkan uang. Harus kulakan, harus bayar karyawan, harus bayar pajak, harus biayai promosi, harus modal ini dan itu, uang terus saja mengalir.   Masjid uangnya sedikit, karena sistem keuangan masjid terbatas, karena memang masjid tjdak bertujuan bisnis. Paling biayai listrik dan air. Tidak ada sistem gaji untuk imam, khatib, muadzin, dan lain-lain. Uang tidak banyak mengalir, akhirnya uang masjid terbatas.   Karena itu cara miskin ya gemarlah menghambat aliran rezeki, disimpan-simpan, diirit-iritkan, dipelit-pelitkan, dan seterusnya. Itu maksud dari,   وَلَا تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ   “Jangan kamu tutup rapat guci tempat menyimpan makanan karena nanti Allah akan menutup rezekimu”.   Dalam hadits lain,   لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ   “Janganlah engkau menyimpan harta, nanti Allah akan menahan rezeki untukmu.” (H.R. Bukhari)   Ingat ya? Uang iti jangan dihitung-hitung kecuali urusan bisnis. Dan jangan disimpan. Saran Nabi S.A.W dalam hadits di atas, harta itu harus “Anfiqî!” artinya “belanjakanlah”. Belanja untuk cukupi kebutuhan diri sendiri dulu, baru sedekah untuk orang lain. Itu cara rezeki dimudahkan.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

HARTA ITU DOMINASI ANASIR TANAH, BAGAIMANA MENGAKSESNYA?

Uang, emas, perak, berlian, permata, besi, minyak bumi, dan semua benda-benda hartawi itu bentukan energi tanah. Iya, apa emas terbentuk dari unsur bahan dasar api? Tentu itu unsur anasir tanah.   Karena itu harta benda juga maunya mendekat kepada Anda yang punya energi anasir tanah dominan.   Di antara karakter unsur energi anasir tanah itu sebagai berikut;   1. Tanah itu tempat berpijak.   Kalau tidak ditopang oleh tanah, Anda semua amblas ke bawah. Karena itu, harta benda mendekatnya kepada Anda yang punya keberanian menjadi topangan hidup orang lain.   Biasanya suami itu topangan hidup keluarganya, karena dalam 1 keluarga biasanya rezeki yang paling deras ya rezekinya suami. Suami ketika dia masih bujangan, rezekinya stagnan, justru setelah menikah dan menjadi topangan hidup banyak orang, ia malahan jadi meningkat hartanya, itu karena setelah menikah ia mendekat kepada energi anasir tanah.   Bos itu hartanya banyak karena menjadi topangan hidup banyak karyawan. Pejabat politik semacam kades, bupati, gubernur, presiden juga hartanya banyak walaupun gajinya kecil, itu karena mereka sesuai levelnya masing-masing menjadi topangan kesejahteraan rakyatnya. Direktur, manager, kepala suka dan seterusnya juga begitu, sesuai peran mereka masing-masing, mereka menjadi topangan hidup banyak orang.   Karena itu pengecut yang tidak mau menanggung banyak resiko menjadi topangan hidup banyak orang, dia ya stagnan saja rezekinya.   2. Tanah itu diinjak-injak tapi tidak merasa menjadi korban.   Anda yang punya hoki rezeki tinggi itu Anda yang punya kualitas baik menanggung beban ujian hidup, karena ujian hidup itu hakikatnya injakan.   Kalau menyimak perjalanan hidup Yusuf Hamka dan Jack Ma, mereka semua punya riwayat tangis pilu masa lalu yang bikin haru-biru, namun mereka tangguh menghadapinya.   Penjahat itu memahami orang-orang yang layak jadi korbannya, mereka paham mentalitas yang layak jadi korban, seperti penakut, ragu-ragu, dan lemah hati.  Mental-mental beginilah yang mereka makan lahap.   Nah Anda yang punya energi anasir tanah kuat, itu Anda yang tekanan injakan hidupnya lumayan hebat, namun Anda tidak pernah merasa menjadi korban hidup.   Kalau hidup isinya mengeluh, merasa penuh derita, merasa termiskin di dunia, pesimis, sedih, putus asaan, ya energi anasir tanahnya lemah, dan harta yang bendawi ini pun enggan mendatangi.   Sabar, tangguh, tawakal, berani, itulah karakter tanah yang selalu diinjak-injak tapi tidak merasa menjadi korban.   3. Menerima dan terus memberi.   Anasir bumi atau tanah berkarakter menerima apapun yang dikenakan padanya (tanah/bumi).   Semua kehidupan ada pada tanah, manusia membuang kotoran (maaf buang air besar kecil, sampah, laku manusia semua ada di atas bumi/tanah tidak pernah ada protes diperlakukan apapun, bahkan ketika matipun “manusia membusuk” tanah/bumi menerima dengan iklas tanpa protes apapun.   Maka energi anasir bumi/tanah adalah kegunaan manusia hidup adalah memberi terbaik dan yang paling baik. Akhirnya dengan sikap mental memberi ini tanah memiliki pesan moral pada manusia “hidup hendaklah memberi apapun, sekalipun diperlakukan dengan tidak baik atau tidak adil”; karena barangsiapa memberi kehidupan ia akan menerima kehidupan demikian sebaliknya.   4. Bersedia menjadi ibu.   Tanah itu unsur ibu yang menjadi bibit anak-pinak. Tanah bersedia dicurahi air, dicurahi angin, curahi sinar matahari, dan seterusnya sehingga ia menjadi produktif menghasilkan. Persis ibu.   Anda yang berkarakter anasir tanah baik itu adalah Anda yang produktif. Karena itu harta enggan seenggan-enggannya mendekat kepada Anda yang pemalas dan penunda, Anda yang bermazhab “nanti-nanti” itu sangat dienggani harta.   Di atas baru 4 karakter, selanjutnya Anda bisa kembangkan sendiri.   Ketiga anasir alam lainnya yakni api, angin dan air itu dalam soal menghadirkan harza itu hanya energi pelengkap saja supaya makin seimbang, yakni;   • Anasir api.   Kurang energi anasir api Anda bisa mati semacam tanaman yang kurang sinar matahari. Terlalu mengalah, terlalu pendiam, terlalu kalem, terlalu nerimanan, terlalu banyak berkorban, itu tanda-tanda Anda kurang anasir api. Kurang panas Anda mati. Dan yang diwaspadai api itu membakar. Kalau Anda kebesaran api, harta Anda bisa habis terbakar. Anasir api ini adalah sombong dan besar diri.   • Anasir air.   Kebanyakan air tumbuhan tanamannya busuk. Mengalah terus, legawa terus, ya akar hidup Anda membusuk. Sekali-kali harus berani sombong dan berani.   Namun kurang air ya gersang. Sombong dan besar diri tidak terkontrol ya Anda gersang terbakar, kekurangan anasir air.   • Anasir angin   Angin itu tidak bisa menetap. Saat Anda tidak bisa tetapkan sikap, sedang bimbang, itu Anda sedang dominan di energi anasir angin.   Jadi kebanyakan bimbang, plin-plan, suka khianat, tidak tepati janji, itu menjauhkan harta dari tubuh Anda karena kegedean anasir angin.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

MINDSETT KEKAYAAN BAGI PEMBOROS

Kalau Anda masuk toko handphone bayarkan uang 1 juta, Anda cuma dapatkan handphone ram 3/32 GB. Hanphone begini baru unduh 2 aplikasi handphone sudah penuh ditambah super lelet.   Namun kalau Anda bawa uang 22 jutaan, Anda dapatkan handphone ram 12/512 GB. Leluasa simpan video, leluasa unduh aplikasi, kamera jernih berkualitas, anti lelet, dan tentu merasa eklusif.   Jadi hukum pasar alam semesta itu berbunyi, “Kualitas hidup yang Anda peroleh itu sesuai kualitas yang Anda bayarkan.” Membayar itu Anda keluarkan sesuatu dari diri Anda kepada orang lain. Setelah Anda keluarkan sesuatu dari diri Anda kepada orang lain, baru kemudian Anda menerima sesuatu yang sesuai dengan apa yang Anda keluarkan. Kalau mau bayar tinggi, tentu apa yang Anda terima juga makin berkualitas.   Kalau Anda mau terima rezeki dari toko, Anda harus keluarkan sesuatu lebih dulu kepada orang lain. Anda harus beli, atau membangun, atau sewa ruko lebih dulu. Lalu Anda harus punya uang untuk kulakan dan lengkapi fasilitas jual beli di toko. Semua itu disebut modal.   Modal itu sebenarnya Anda mengeluarkan sesuatu dari diri Anda kepada orang lain. Semakin modalnya besar, keuntungan yang bisa Anda ambil dari toko makin besar. Keuntungan yang bisa diambil dari penjual bensin eceran yang modal ratusan ribu dengan SPBU yang modal milyaran, tentu beda jauh. Itu karena beda modal.   Jadi modal itu adalah apa yang Anda bayarkan ke alam semesta ini.   Karena itu kesuksesan selalu menanyakan jerih payah Anda, makin tinggi jerih payahnya biasanya sukses perolehannya juga makin gemilang. Ketika Anda sedang berjerih payah itu hakikatnya Anda sedang membayar lebih dulu ke alam semesta, sedang keluarkan modal, hanya saja modal dalam bentuk non material.   Nah kalau Anda belanja, lalu membayar, itu sebenarnya Anda sedang mengeluarkan sesuatu untuk membayar orang lain alias keluar modal. Kalau modal toko makin besar, keuntungan yang ditarik juga makin besar, maka belanja di dalam hidup Anda juga hakikatnya begitu, makin gede nilai belanja, maka kekayaan yang dapat Anda tarik juga makin besar.   Lihat saja orang kaya, belanja rumah harganya milyaran, belanja mobil harganya milyaran, belanja tanah harganya milyaran, belanja tas saja harganya ratusan juta. Bukankah mereka makin kaya raya?   Lah orang miskin, beli rumah di bawah 10 juta, beli kendaraan di bawah 5 juta, beli baju di bawah 100 ribu. Bukankah mereka tetap seret saja rezekinya?   Itu karena antara orang kaya dan orang miskin selisih kapasitas dalam pengeluaran yang dapat mereka bayarkan kepada orang lain, alias selisih kemampuan kapasitas belanja.   Jadi pada dasarnya semua pengeluaran itu penarik rezeki, makin besar pengeluarannya, makin besar pula kekayaan yang bisa ditarik.   Jadi orang terbodoh itu orang irit dan pelit yang ingin kaya. Bodoh. Pengeluaran diperkecil artinya modal diperkecil, lalu mau jualan apa? Kalau tidak ada yang dijual, bagaimana bisa peroleh laba? Bodoh.   Nah disini, pemboros sebenarnya punya keunggulan luar biasa untuk kaya, karena pemboros itu artinya kerap membayar, kerap keluarkan sesuatu dari dirinya untuk orang lain, potensi berani modalnya itu bagus. Peluang mereka untuk peroleh rezeki berlimpah juga sebenarnya sangat baik, karena punya modal besar, peluang untuk tarik laba kekayaan juga sangat besar.   Selamat untuk Anda para pemboros!   Namun kenapa banyak juga para pemboros yang jadikan mereka terpuruk rezekinya?   Itu karena mereka disabotase oleh beberapa hal. Di antaranya;   1. Rasa bersalah boros.   Ya realitanya boros memang teman setan, tapi boros yang tidak memberdayakan, sehingga harta yang dikeluarkan cenderung mubadzir (sia-sia).   وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ   “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (Q.S. Al-Isrâ’ : 26-27).   Anda muslim yang terdoktrin babi najis, lalu Anda memakannya bisa muntah-muntah karena jijik, sebab muncul rasa bersalah. Padahal bagi orang Hindu Bali, makan guling babi itu nikmat sekali karena mereka tidak punya rasa bersalah.   Nah boros temannya setan itu bisa jadikan Anda punya rasa bersalah keluarkan uang. Kalau punya rasa bersalah, kejadiannya Anda boros jadi muntah-muntah penyakitan.   Di sini Anda perlu meluruskan mindsett. Boros itu keburukan, tapi dermawan—baik dermawan kepada diri sendiri maupun kepada orang lain—itu adalah kebaikan. Padahal boros dan dermawan itu tindakannya sama, aksi yang diperbuat sama, tapi kenapa value-nya berbeda?   Itu karena pelaku boros dan dermawan beda kesadaran di balik aksi perbuatannya. Persis shalat Dhuha dan shalat Hajat di jam 8 pagi, value kedua shalat tersebut beda cuma karena digeser kesadarannya saja yakni niatnya, adapun aksi perbuatannya, shalat keduanya sama, doanya sama, rekaatnya sama, rukun-rukunnya sama.   Berarti agar aksi boros menjadi dermawan, Anda perlu menggeser kesadaran dirinya saja.   Lalu bagaimana menggeser kesadaran? Belajar, menuntut ilmu kesadaran.   Anda hanya karena baca tulisan saya ini bukankah kesadaran Anda tentang mengeluarkan uang jadi berubah? Ya di situ, kalau boros Anda mau menjelma jadi dermawan, Anda harus gemar belajar ilmu kesadaran diri.   Nah kalau tindakan Anda keluarkan uang sudah diiringi ilmu kesadaran keberlimpahan, tentu rasa bersalah ketika Anda suka boros itu hilang, berganti jadi rasa dermawan, Anda pun jadi tidak muntah-muntah, artinya boros Anda jadinya tidak memelaratkan.   2. Salah sugesti pada uang yang dikeluarkan.   Boros itu tindakan mengeluarkan uang, namun diri Anda meyakini kalau mengeluarkan uang adalah mengurangi harta. Nah di situ sugesti keyakinan Anda akan benar-benar menarik wujud nyata. Harta Anda pun akan berkurang setiap kali Anda keluarkan uang.   Lalu sugestinya bagaimana agar jadi kekayaan? Ya iringi pengeluaran harta Anda dengan sugesti rasa kaya, di antaranya Anda memahami kalau keluarkan harta itu berarti modal membayar yang sedang dikeluarkan. Kalau modal bisnisnya besar, untungnya juga besar. Hal ini jadikanlah mindsett untuk menyugesti keyakinan Anda.   3. Salah niat.   Orang egois itu menyerap apapun dari luar dirinya untuk kepentingannya sendiri.   Dalam keluarkan uang pun sikap egois kerap terjadi. Egois dalam keluarkan uang itu keluarkan uang tapi untuk turuti nafsu kesenangan dan kepuasan sendiri. Ia belanja karena hura-hura, belanja demi turuti hedon, itu semua belanjanya orang yang turuti nafsu diri. Belanjanya salah niat.   Lalu bagaimana agar Anda keluarkan uang namun tidak menjadi sikap egois? Ya tinggal ganti niatnya, sadari bahwa Anda keluarkan uang untuk alirkan rezeki kepada orang lain.  

MEI 2023

KEBURUKAN PEKERJA KERAS DAN KEUNGGULAN PEMALAS

Sudah menjadi asumsi umum kalau kerja keras itu pangkal semua keberuntungan dan kesuksesan. Sebaliknya malas itu pangkal semua keburukan dan kegagalan.   Namun Anda tahu, tidak? Dari malas lalu muncul milyader-milyader dunia karena mereka melihat peluang bisnis dari kemalasan Anda. Malas pergi ke warung, muncul bisnis Gofood. Malas cuci baju, muncul bisnis laundry. Malas setir sendiri, muncul bisnis transportasi. Malas jalan kaki, muncul bisnis sepeda motor dan mobil. Malas lama-lama di perjalanan jarak jauh, muncul bisnis pesawat. Ya hakikatnya kemalasan Anda memunculkan banyak berkah untuk kehidupan ini.   Tentu karena malas jadikan harga menjadi mahal. Iya kalau Anda tidak malas jalan kaki ke warung, Anda cukup keluarkan 15 ribu sekali makan, lantaran pesan Gofood, ya tambah mahal. Cuci baju cuma butuh modal sabun, air dan listrik, lantaran malas mencuci, Anda harus bayar jasa laundry. Malas jadikan harganya relatif mahal.   Termasuk munculnya para bos itu juga karena mereka malas mengerjakan kerjaan mereka sendiri. Andai mereka tangkas, gesit dan apa-apa siap dikerjakan sendiri, niscaya tidak ada status bos di kehidupan ini.   Ya memang bagian dari karakter mandiri itu pekerja keras, yakni orang-orang yang tidak mengharap-harap dibantu orang lain, tidak berpikir merepotkan orang lain, tidak bermental menyuruh-nyuruh orang lain, tidak berkenan menjadi beban bagi orang lain. Dari kesadaran ini lalu lahir tanggung jawab untuk bekerja mandiri, mengerjakan apa-apa sendiri.   Mandiri yakni mengerjakan apa-apa sendiri sehingga enggan mendelegasikan kepada orang lain, mereka pun cenderung fulltime kerja, dan cenderung cekatan. Namun keburukan karakter seperti itu banyak juga lho, di antaranya;   1. Susah mengakses rasa bos.   Bos itu apa-apa mendelegasikan kepada orang lain karena dia merasa mampu membayar orang. Rasa mampu membayar ini yang memunculkan rasa kaya di hati, rasa bahwa “saya orang kaya, bisa bayar orang”.   Rasa sebagai bos ini yang terus menerus terunggah kepada-Nya. Karena mengunggah rasa bos, Tuhan tinggal merespons prasangka hamba kepada-Nya. Karena prasangka si hamba sebagai bos, ya jadilah dia bos. Sementara resiko bos itu membayar. Karena banyak yang harus dibayar lalu rezekinya jadi lebih banyak dari yang lain.   Nah di sini jebakan buruknya pekerja keras yang hobi kerjakan apa-apa sendiri. Dia minatnya kecil untuk jadi bos. Kalau minat saja kecil untuk jadi bos, lalu kapan strata sosial dan finansialnya naik ke level bos?   2. Susah mengakses rasa mampu bayar.   Sudah lazim tidak mampu bayar orang lain ya dikerjakan sendiri. Nah mengerjakan apa-apa sendiri tapi karena dipicu rasa tidak mampu bayar orang itu artinya sedang menyuburkan rasa miskin, yakni rasa tidak mampu bayar orang. Kalau rasa miskin yang banyak diunggah, ya sudah hasilnya juga kemiskinan.   3. Susah punya branding tuan.   Personal branding muncul karena Anda punya authority. Misal perintah guru ditaati oleh murid itu karena si guru punya authority di belief si murid kalau ia adalah gurunya yang banyak berjasa mengajarkan ilmu pengetahuan.   Authority personal ini terbangun kuat di dalam belief si murid, akhirnya si murid disuruh apapun nurut. Padahal kalau dinalar logis ya tidak ketemu akal, lahir sama-sama sebagai manusia, kok ya yang satu menyuruh-nyuruh dan yang satunya siap sedia disuruh-suruh. Itu akibat efek branding.   Nah pekerja keras yang suka kerjakan apa-apa sendiri dari sisi branding sebagai tuan itu lemah sekali. Lah wong nggak pernah terlihat menyuruh-nyuruh orang, siapa yang akan memberi prasangka kalau dia itu tuan yang layak menyuruh.   Kalau prasangka dirinya itu tuan saja tidak ada, bagaimana dia bisa bangun brand kalau dirinya tuan?   4. Kerap tidak hargai kesehatan sendiri.   Kerja keras dengan mengerjakan apa-apa sendiri tentu capeknya lebih walaupun hemat dan efesiennya juga lebih. Sehingga model orang begini cenderung tidak perhatikan kesehatan sendiri. Iya selagi tenaganya masih fitt dia segar dan tangkas, nanti usia 55 tahun saja sudah mulai ambruk-ambrukan.   5. Cepat mati.   Lah kok cepat mati? Ya pekerja keras itu orang yang cepat berjalannya.   Kalau Anda punya tujuan ke Jakarta lalu mobil Anda dipacu cepat, di situ Anda lekas sampai Jakarta. Kalau sudah sampai di Jakarta tidak ada alternatif lain selain pulang. Atau Anda ditugasi sapu rumah tetangga, kalau Anda cepat-cepat dalam mengerjakannya, Anda cepat selesai. Kalau sudah selesai, pilihannya tinggal apa? Pilihannya cuma pulang.   Karir, tujuan, cita-cita, tugas-tugas dalam hidup kalau Anda terlalu cekatan dalam kerja keras juga begitu, Anda cepat dipanggil pulang alias mati.   Jadi malas pun banyak manfaatnya. Karena malas, Anda jadi punya ide-ide bagaimana membayar orang lain, bagaimana menjadi bos, bagaimana menjadi tuan, bagaimana menjadi atasan, bagaimana menjadi pemimpin, dan seterusnya.   Selamat jadi pemalas yang cerdas dan brilian.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

Scroll to Top