MEI 2023

MEI 2023

JAJAN DAN PLESIRAN FÎ SABÎLILLAH

Di video Tiktok saya pernah sampaikan kalau urusan spiritual itu memiliki nilai privilege, sehingga nilai-nilai spiritual semacam nilai ibadah, nilai ikhlas, nilai tawakal, dan lain-lain itu bukan hanya milik orang yang sedang menahan hawa nafsu, orang yang di keadaan mengikuti hawa nafsu pun juga punya kesempatan sama.   Jadi peroleh nilai spiritual itu jalannya tidak hanya menghadang hawa nafsu, tetapi menungganginya juga bisa agar hawa nafsu mengantar Anda menuju Tuhan.   Di tanggal tua, Anda pulang kerja, istri pasang muka judes kepada Anda karena duit belanja habis sementara cicilan kredit waktunya dibayarkan, lalu di hati Anda diniati untuk latihan sabar dan tawakal, di situ di keadaan tidak punya uang jadi ladang pahala untuk Anda karena berlatih peroleh ridha Allah dengan sabar dan tawakal.   Sebaliknya di tanggal muda seusai gajian, Anda sedang luas duitnya, sesudah bayar semua tanggungan kewajiban, Anda ajak istri ke mall, niat Anda peroleh ridha Allah dengan menggembirakan istri, hasilnya ya pahala dan ridha Allah juga.   Jelas kan, kondisi melarat ataupun punya uang, keduanya punya potensi sama dalam capaian nilai spiritual asal kesadaran Anda mendukungnya. Tinggal kemana kesadaran Anda.   Maka itu hawa nafsu itu mau dihadang ataupun ditunggangi berpotensi capai nilai spiritual dengan kualitas kesucian yang sama. Menghadang nafsu untuk capai nilai spiritual ya seperti puasa, menunggangi nafsu untuk capai nilai spiritual ya seperti ajak istri ngresto dan traveling untuk cari ridha Allah dengan gembirakan istri.   Imam Asy-Syadzili cenderung berorientasi menunggangi hawa nafsu agar peroleh ridha Allah, Imam Ghazali sebaliknya cenderung menghadang hawa nafsu, sehingga ajaran-ajaran Imam Ghazali cenderung mengajak untuk prihatin seperti riyadhah (tirakat), mujahadah (berjuang keras lawan hawa nafsu), ‘uzlah (mengasingkan diri), istihqâr (meremehkan harta), dan lainnya.   Imam Asy-Syadzili sebaliknya, cenderung menunggangi nafsu, seperti termaktub dalam Kitab Syarhul Minahis Saniyyah karangan Sayyid Abdul Wahhab Ady-Sya’rani, halaman 5, berikut ini;   وقد كان أبو الحسن الشاذلى رحمه الله يقول لأصحابه : كلوا من أطيب الطعام واشربوا من ألذ الشراب وناموا على أوطاء الفراش وألبسوا ألين الثياب.   “Al-Imam Abul Hasan Ali as-Syadzili, pendiri Tarekat as-Syadziliyah berkata kepada murid-muridnya, “Makanlah makanan yang paling enak, minumlah minuman yang paling nikmat, tidurlah di atas kasur yang paling lembut, dan pakailah pakaian yang paling bagus.”   فإن أحدكم إذا فعل ذلك وقال الحمد لله يستجيب كل عضو فيه للشكر بخلاف ما إذا أكل خبز الشعير بالملح ولبس العباءة ونام على الأرض وشرب الماء المالح السخن وقال الحمد لله فإنه يقول ذلك وعنده اشمئزاز وبعض سخط على مقدور الله تعالى.   “Jika di antara kalian melakukan itu semua, lalu mengucapkan, ‘Alhamdulillah,’ maka semua anggota badannya telah memenuhi syukurnya dengan benar. Beda halnya, jika di antara kalian makan roti terigu yang kasar dicampur dengan garam, memakai jubah kasar, tidur beralaskan tanah, minum air asin yang panas, lalu mengucapkan Alhamdulillah, maka ucapan syukur tersebut bercampur dengan rasa muak, dan sedikit benci dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah ﷻ.”   ولو أنه نظر بعين البصيرة لوجد الاشمئزاز والسخط الذى عنده يرجح في الإثم على من تمتع بالدنيا بيقين.   “Andai dia bisa melihat dengan mata hatinya, dia akan menemukan rasa muak dan tidak rela dengan takdir Allah ﷻ itu adalah lebih besar dosanya dibanding orang yang bersenang-senang dengan dunia dengan yakin.”   فإن المتمتع بالدنيا فعل ما أباحه الحق سبحانه وتعالى، ومن كان عنده اشمئزاز وسخط فقد فعل ماحرمه الحق عز وجل.   “Sebab orang yang bersenang-senang dengan dunia dia melakukan yang perkara yang diperbolehkan oleh Allah ﷻ, sedangkan orang yang tidak rela dan benci dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah ﷻ dia melakukan perkara yang diharamkan oleh Allah ﷻ.”   Imam Ghazali melihat nafsu sebagai musuh menuju Tuhan, Imam Syadzili cenderung melihat nafsu sebagai teman menuju Tuhan, sebagai fasilitas yang bisa ditunggangi menuju-Nya.   Sayyid Zaini Dahlan dalam kitab Taqrîbul Ushûl halaman 12-13 menjelaskan, Imam Syadzili merupakan pejalan Tuhan yang cenderung meringankan perkara bagi para pejalan Tuhan sehingga mereka tidak membutuhkan banyak perjuangan (mujahadah) untuk menuju Tuhan, tidak perlu neko-neko.   Bagi Imam Syadzili menuju Tuhan itu cukup dengan menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, memperbanyak syukur dan menyaksikan anugerah dan pemberian-Nya.   Menurut Sayid Zaini Dahlan, Imam Ghazali itu sebaliknya. Imam Ghazali menunjukkan konsistensi yang kuat untuk menuju Tuhan dengan ketekunan berjuang (mujahadah) memerangi syahwat.   Sekali lagi, nafsu itu bisa jadi teman menuju-Nya yang Anda bisa menungganginya, juga bisa jadi musuh penghalang menuju-Nya sehingga Anda harus memeranginya. Dua-duanya tidak ada yang salah, tidak ada yang lebih suci, sama. Itu semua tergantung cara pandang kesadaran Anda sendiri.   Anda pagi-pagi sudah menikmati kopi di hotel bintang 5 yang secangkirnya 60 ribu, namun Anda sadar sepenuhnya sedang menikmati anugerah keberlimpahan hidup dari Allah, itu pahalanya menyamai Anda yang pagi-pagi sedang sabar puasa.   Jadinya memang Anda yang keluar masuk restoran dengan Anda yang puasa itu kedudukannya sama untuk capai nilai spiritual.   Nabi S.A.W bersabda,   الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ بِمَنْزِلَةِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ   “Orang makan yang syukur menduduki derajat orang puasa yang sabar.” (H.R. Bukhari)   Atau Anda sedang plesiran di pantai, lalu Anda saksikan debur ombak menghantam karang, di situ Anda berdecak kagum baca, “Subhanallah,” karena kagum dengan indahnya ciptaan Allah, yang berarti Anda zikir kepada Allah di saat orang lain hanya menikmati kegembiraan plesiran, di situ kedudukan Anda menyamai kedudukan orang yang sedang pertaruhkan nyawa jihad di jalan Allah.   Nabi S.A.W bersabda,   ذَاكِرُ اللَّهَ فِي الْغَافِلِينَ مِثْلُ الَّذِي يُقَاتِلُ عَنِ الْفَارِّينَ   “Orang yang zikir kepada Allah di tengah-tengah orang yang lupa ingat kepada-Nya itu menyamai orang yang maju di medan perang di tengah para prajurit yang melarikan diri.” (H.R. Baihaqi)   Wah kalau begitu enak ya, menuju Tuhan cukup dengan senang-senang saja? Tidak begitu. Segalanya punya tempatnya masing-masing. Misal di saat Anda bangun bisnis atau sedang sekolah ya mau tidak mau Anda harus melawan nafsu, khususnya nafsu malas dan nafsu boros karena uang Anda dipakai modal atau untuk biaya sekolah. Namun di saat Anda sudah punya uang, saat Anda menikmatinya, di situlah Anda tunggangi nafsu Anda agar capai ridha-Nya.   Alhasil hidup itu semata-mata nikmat kok. Melawan nafsu itu ibadah, menunggangi nafsu juga ibadah. Berjuang itu ibadah, menikmati juga ibadah.   Muhammad Nurul Banan   Gus

MEI 2023

UANG ITU MATRE; SPIRITUAL BERKONSEP SAMA SEPERTI UANG #Part 2

Sebelum baca ini harus baca dulu part 1-nya, “Uang itu Matre; tidak Berharga, tidak Berduit.”   Banyak artis yang karirnya tetap eksis sekalipun ia pernah memiliki rasa malu besar karena video asusilanya. Waktu kasusnya terpublis, terekam kamera saja, si artis sampai tutupi wajahnya saking merasa betapa dirinya tidak berharga.   Andai ia terus-terusan di kondisi psikis demikian; malu, menyesal, menyalahkan diri, merasa berengsek, sudah pasti ia ambruk finansialnya, karena uang paling enggan datangi orang yang berperasaan tidak berharga.   Para artis yang terjerat kasus asusila pasti punya kemampuan mempertahankan diri dari desakan rasa-rasa malu tersebut, dan faktanya hingga detik ini karir para artis tersebut tetap eksis.   Itu juga yang terjadi pada Maria Ozawa. Ia tidak merasa kalau menjadi porn star itu memalukan, profesi yang merusak harga dirinya, justru—barangkali—ia merasa kalau profesi itu adalah passion dan potensi terbaiknya, sebab ini ia makin gaek saja karirnya.   Dinner bareng Miyabi di Jakarta yang kemarin dibatalkan, itu tarif untuk bisa semeja bareng Miyabi 50 juta. Kan wow.   Sebuah hadits Nabi S.A.W mengisyaratkan,   الزِّنَى يُوْرِثُ الْفَقْرَ   “Zina mewariskan kefakiran.” (H.R. Baihaqi & Al-Qudha’i)   Lah kok tidak berlaku kepada orang-orang di atas? Itu dikarenakan sistem ketahanan mentalitas mereka kepada rasa bersalah zina itu kuat, mereka kecil rasa berdosanya, sehingga semalu apapun mereka, tidak sampai merasa tidak berharga.   Sama saja seperti dunia premanisme. Para geng preman itu ketika menganiaya orang lain bukannya merasa berdosa atau menzalimi, justru mereka merasa punya kuasa dan punya rasa hebat. Hasilnya ya banyak mafia yang kaya raya kan?   Jadi intinya uang itu tidak mengenali getaran baik atau buruk, dosa apa pahala, yang dikenali uang hanya getaran perasaan berharga. Itulah matrenya uang, “elu berharga, gue beli.” Otak matre kan tidak bisa lihat baik atau buruk, apalagi lihat value, yang ia lihat cuma wujud luar saja. Uang persis seperti itu.   Ada kisah dari teman saya, ia seorang ibu muda. Suatu ketika ia besuk bayi tetangganya. Si tetangga punya mental inferiority complex; merasa rendah diri dan merasa bermutu rendah karena keadaan hidup yang pas-pasan.   Lucu, besuk bayi tetangga kalau di kampung itu kasih amplop 50 ribu sudah umum, tapi anehnya rombongan teman saya tersebut, pulangnya dikasih amplop balikan berisi 100 ribuan. Serombongan teman saya kaget semua, sebab melihat kondisi ekonomi tetangganya ini yang masih morat-marit banget.   Semua orang paham, pengembalian amplop tersebut bukan digetarkan dari rasa kaya, rasa menghargai orang ataupun rasa dermawan, tapi digetarkan dari rasa inferioritas berlebih, di mana si tetangga yang punya bayi ini punya perasaan sangat takut merepotkan tetangga karena kemiskinannya. Akhirnya serombongan teman saya sepakat uang balikan yang 100 ribu itu dikembalikan lagi.   Coba, dikasih 50 ribu dikembalikan 100 ribu, itu kan perbuatan baik? Namun karena dilatari inferioritas yakni rasa tidak berharga, rasa rendah diri, hasilnya kehidupan finansial si tetangga yang punya bayi tidak pernah dibeli mahal oleh uang, kehidupan hariannya sangat-sangat kekurangan.   Hahaha matre banget ya uang itu? Orang baik dicueki saja karena ia merasa tidak berharga.   Tentu di sini saya mutlak sedang bicara hakikat uang yang sebenarnya, saya tidak sedang mengaitkan dengan spiritual, kebaikan apalagi kesalehan.   Nah tentu yang Anda impikan adalah uang yang ditarik dari kesalehan spiritual kan? Sehingga uang tidak sekedar bernilai materialistik namun juga spiritualistik.   Spiritualistik pun konsepnya sebenarnya sama dengan materialistik yakni rasa berharga. Lah iya, Anda sedekah diumpet-umpetin dari publik, dihindar-hindarkan dari rasa pamer, itu kan demi menghargai nilai diri Anda di depan Tuhan? Artinya agar diri Anda berharga di depan-Nya sampai Anda melakukan hal demikian.   Sampai ada spiritualis yang memegang kuat konsep fanâ, moksa, kesadaran murni, konsep kosong, konsep eneng (diam) atau yang kemarin baru ngetrend konsep sufi malamatiyah dimana harga diri dirusak sedemikian rupa di depan manusia, misal sengaja keluar masuk diskotik agar publik menyangka dia ahli maksiat, walau hakikatnya dia ahli zikir, konsep malamatiyah ini kan ujung-ujungnya juga orang yang sedang berusaha keras agar dia berharga di depan Tuhannya?   Jadi sedemikian rumitnya menjalani lelaku spiritual, ujung-ujungnya sama kan yakni dapatkan rasa berharga, sama-sama sedang jalankan kepentingan diri agar lebih berharga?   Jadi spiritualistik dan materialistik itu sama saja, sama-sama kepentingan ingin berharga.   Selagi mencari rasa berharga, itu uang masih akan membeli. Karena itu mendalami spiritual dengan jalan menghancurkan ego seperti fana, moksa, hening, suwung, diam, tawadhu’, rendah hati, malamatiyah, ‘uzlah, tirakat, riyadhah, mujahadah, memurnikan kesadaran, dan lain-lain itu juga ujung-ujungnya didatangi uang.   Hanya saja catatannya selagi masih mencari nilai harga untuk diri, yakni berharga di depan Tuhannya. Dan ini adalah penghargaan terhadap diri yang paling mulia.   Lalu kenapa Uwais Al-Qarni, Rabi’ah Adawiyah, Al-Hallaj, hidup begitu miskinnya padahal aktifitas hidup mereka adalah mencari rasa berharga di depan Tuhan? Itu bukan uang tidak mau menghargai mereka untuk datang, tapi memang mereka saja yang sudah tidak butuh uang lagi. Sudah malas.   Al-Hallaj sendiri misalkan, ketika hendak dieksekusi mati, ditanyai oleh sahabatnya; As-Syibli, “Guru, zuhud itu apa?” Tanpa menjawab Al-Hallaj meludahi batu, dan seketika batu menjadi emas. Lantas Al-Hallaj berkata, “Itu zuhud,” sembari pandangan matanya menunjuk ke arah batu yang jadi emas.   Artinya Al-Hallaj bukan tidak dihargai uang, batu saja diludahi terus jadi emas, tapi ia yang memang merasa tidak butuh uang. Sama seperti Nabi Muhammad S.A.W yang gunung Uhud bersedia jadi emas untuknya, tapi beliau tidak butuh lagi.   Jadi kalau ada orang mengaku sedang berjalan di jalan Allah kok bilang, “Duit susah dicari,” itu pejalan Allah abal-abal sebab harga tertinggi di kehidupan ini adalah berharga di depan Tuhan, sementara uang yang matre itu sederhana konsepnya, “elu berharga, gue beli.” Kalau sudah berharga di depan Tuhan, masalah uang itu cuma masalah sampah.   Sehingga Anda yang sedang memurnikan diri kepada Tuhan, lanjutkan terus, karena konsep menuju Tuhan justru itu adalah konsep penghargaan tertinggi kepada diri sendiri. Tidak usah khawatir miskin, sebab mau serumit apapun Anda dalam melepaskan ego demi mencari pencerahan-Nya, di situ Anda sebenarnya sedang berjuang untuk berharga. Kapan berharga, pasti dibeli oleh uang.   Dan kalaupun Anda memilih kesalehan spiritual namun Anda masih kesulitan uang, itu karena memang Anda masih kurang shaleh, sehingga prestasi spiritual Anda belum

MEI 2023

UANG ITU MATRE; TIDAK BERHARGA, TIDAK BERDUIT

Uang itu makhluk materialistik, karena itu yang menarik uang untuk hadir dalam jumlah besar ataupun kecil adalah nilai harga. Apapun yang sudah tidak berharga secara material, uang enggan-engganan datang. Barang rongsokan selalu dihargai murah, sekalipun itu rongsokan barang mewah, karena rongsokan tidak lagi berharga. Uang itu matre.   Sebuah harga bisa dinilai dari berbagai aspek, bisa dari kualitas, dari manfaat, dari keantikan, dari nilai artistik, dari kebaikan dan lainnya. Yang jelas kalau sesuatu itu dinilai berharga, uang baru berkenan datang, makin nilai harganya tinggi, uang makin agresif mendatangi.   Karena tabiat materialis inilah, uang ketika hendak mendatangi seseorang juga melihat nilai harga pada diri orang tersebut. Seorang presiden karena punya harga lebih tinggi dari gubernur maka presiden dilayani oleh uang dengan lebih baik. Gubernur karena lebih berharga dari bupati, maka gubernur dilayani oleh uang dengan lebih baik. Matre banget, ya?   Kalaupun ada gubernur lebih kaya dari presiden, itu karena faktor khusus, mungkin nilai harga si gubernur di dunia wirausaha, bukan di dunia pemerintahan, punya harga lebih tinggi dari si presiden, misal si gubernur seorang pengusaha kaya dengan 10 ribu karyawan, sementara presidennya hanya punya nilai harga di pemerintahan.   Dan nyebelinnya standar harga yang ditetapkan uang adalah standar harga materialistik. Karena standar harga materialistik ini, uang enteng-enteng saja hargai wanita cantik. Asal cantik saja, tidak usah menilai shalehah atau tidak, berilmu atau tidak, peluang kaya menjadi besar.   Banyak kan lelaki kaya sudah tua, nikahi gadis muda karena kecantikannya? Ya banyak, karena cantik itu nilai harga secara materialistik.   Karena itu uang sangat enggan mendatangi orang yang punya perasaan kalau dirinya tidak berharga.   Anda lihat kondisi mental orang miskin, mereka perasaan berharganya kecil karena secara materistik tidak ada yang dibanggakan. Keadaan hidup dimana tidak ada lagi sesuatu yang dibanggakan sebagai pemicu munculnya rasa berharga, di situlah pemicu utama uang seret.   Dari sisi ilmu, sekolahnya cuma tingkat dasar. Dari sisi usaha, profesinya cuma pedagang kecil. Dari sisi iman spiritual tidak pernah shalat dan puasa. Dari sisi keluarga cuma keturunan balung kere. Dari sisi emosional sangat temperamental.  Dari sisi keturunan, anak-anaknya jadi preman gelandangan. Dari sisi masalah kehidupan selalu punya tekanan masalah ruwet. Dan seterusnya. Sisi-sisi hidupnya banyak yang tidak berharga.   Anda amati, orang-orang yang hidupnya tidak ada kebanggaan diri yang memicu rasa diri berharga, mereka sangat dikucilkan oleh uang. Itu karena uang itu tabiatnya matre, tidak berharga ya tidak dibeli mahal-mahal.   Mereka kondisi keuangannya baru akan berubah baru setelah mereka menemukan rasa berharga, misal ada salah satu anak yang sukses sehingga mampu angkat martabat keluarga, di situ urusan keuangan mereka baru agak melonggar.   Ada sebuah gangguan psikologi yang disebut feeling worthless adalah kondisi ketika seseorang merasa tidak berharga. Perasaan seperti ini cenderung membuat orang merasa putus asa, tidak berguna, dan yakin bahwa dirinya tidak bernilai apa-apa.   Feeling worthless terjadi mungkin karena selalu mengalami hal buruk yang berkelanjutan, seperti dipecat dari tempat kerja, susah mendapatkan pekerjaan, gagal dalam percintaan, atau mengalami kesulitan finansial. Bisa juga karena kritik negatif yang datang terus-menerus.   Bayangkan bila setiap gerakan Anda selalu dikritik oleh orang lain, lambat laun akan muncul perasaan bahwa Anda memang selalu salah dan tidak berguna.   Tekanan masalah yang terus-menerus datang, trauma masa kecil yang begitu terpuruk, pengucilan dan bullying yang kerap dialami, itu semua bisa memicu rasa tidak berharga.   Pengindap gangguan psikologis feeling worthless akan susah sekali didatangi nilai uang berharga karena dirinya saja sudah merasa tidak berharga.   Minderan, pemalu, apatis, tidak percaya diri, putus asaan, itu semua juga bagian dari rasa tidak berharga, walaupun tidak sampai di level feeling worthless namun sudah bagian dari rasa tidak berharga yang akan memicu uang menilai Anda murahan.   Karena itu, mau tidak mau Anda harus punya prestasi berharga di hidup ini, harus berjuang sehingga ada prestasi berharga yang layak dibanggakan, karena dari situlah matrenya uang baru mau menghargai.   Prestasi berharga tersebut bisa dalam hal apa saja. Bisa dari spiritual, misal Anda tercatat sebagai ahli Tahajud dan jamaah. Bisa dari intelektual, misal sekolah Anda tinggi atau Anda ilmuwan pintar. Bisa dari sosial, misal Anda tokoh agama yang tersohor atau public speaker yang profesional. Bisa dari profesi, misal Anda pejabat sukses atau pedagang sukses. Bisa dari sisi keluarga, misal punya anak shaleh yang sukses.   Intinya ukir prestasi berharga agar muncul rasa berharga di dalam diri, dari rasa berharga inilah uang yang matre akan bertransaksi dengan Anda.   Anda lihat songongnya para artis di depan publik seperti apa, beli cawet mahal dipamerin, rumah mewah dipamerin, mobil mewah dipamerin, bahkan sedekah dipamerin juga. Namun perasaan yang memicu mereka adalah rasa bangga. Rasa bangga muncul karena rasa berharga yang kuat. Hasilnya duit mereka berjibun, kan? Mengalahkan duit Anda yang aktif shalat jamaah di masjid? Itulah karakter matrenya uang.   Orang kaya juga kerap songongnya tidak tertolong, omongannya tinggi, sombong, belagu, tapi ya datangnya duit makin menjadi, itu karena rasa berharga di dalam diri mereka sangat kuat. Bukan cuma orang kaya kok, para ulama juga banyak yang songongnya begitu, ya karena ulama juga manusia biasa.   Intinya prinsip uang itu “elo berharga, gue beli”, uang sangat matre, karena itu Anda harus berjuang agar punya prestasi berharga sehingga uang menilai diri Anda mahal.   Lah kalau begitu, uang itu telah membeli harga diri kita? Begitu rendahnya kah diri kita hingga selevel harga barang? Tidak begitu. Saya sedang jelaskan mekanisme yang berlaku di alam material ini, permasalahannya Anda kan tidak bisa melarikan diri dari hukum materialistik alam duit ini, mau tidak mau Anda tidak bisa luput dan lari, dan adanya hukum yang berlaku ya itu tadi “uang itu matre, elu berharga, gue beli.”   Nah punya rasa berharga hingga kadang jadikan bangga, itu kan menabrak prinsip-prinsip spiritual, menabrak tawadhu’, menabrak andap asor, menabrak rendah hati, lalu seluk beluk spiritualnya bagaimana? Ya kita lanjut di part 2, ya?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

“DIRIKU JELEK,” ITU PENYEBAB MISKINMU

Tuhan sangat anti menyakiti Zat-Nya sendiri, enggan melihat Zat-Nya sendiri sebagai sesuatu yang rendah, enggan bersikap inferior, sebaliknya Dia sangat superior atas Zat-Nya sendiri,   عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فِيمَا رَوَى عَنِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي ، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا ، فَلَا تَظَالَمُوا   Dari Abu Dzar Al-Ghifary R.A, dari Nabi S.A.W dalam hadits yang beliau meriwayatkan dari Allah Tabâraka wa Ta’âlâ bahwa Dia berfirman, ”Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku-pun jadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (H.R. Muslim)   Jadi Allah telah mengharamkan kezaliman atas Zat-Nya, penghargaan Allah atas Zat-Nya sendiri sangat kokoh. Karena mekanisme ini, Allah mengharamkan pula kezaliman terjadi di antara para makhluk-Nya.   Sebab itu Allah kemudian membekali mekanisme defensif dalam diri Anda untuk mempertahankan diri. Pikiran Anda akan mengaktifkan mode pertahanan diri ini secara otomatis, yang berarti di luar kesadaran dan kendali Anda.   Ketika menghadapi situasi, pikiran, atau orang yang membuat diri merasa tak nyaman, secara alami seseorang akan mengeluarkan mekanisme pertahanan atau defense mechanism, entah dengan menolak, menyangkal, menghindari, hingga melampiaskan kekesalan. Itu semua installan mekanisme defensif dari Tuhan agar Anda punya pertahanan diri dari kezaliman.   Sedemikian sayang Allah merawat diri Anda agar tidak terzalimi, eeh malahan Anda yang kerap mencela, membully, merendahkan, menyakiti, bahkan menghujat diri Anda sendiri.   Coba cek saja, dalam sehari berapa kali Anda berkata kepada diri sendiri, “Aku kurang duit,” “Aku orang miskin,” “”Ya Tuhan, hidupku kok susah terus,” “Ya Allah, aku kok menderita sekali,” dan seterusnya.   Iya kan, diri sendiri dihujat dan dibully sendiri? Dan pikiran, perasaan serta self talk yang menjelek-jelekan diri Anda sendiri dalam sehari saja berapa kali Anda lakukan? Dalam sehari saja, berapa kali?   Wajah Anda sendiri tiap hari dicakar-cakar, ditampar-tampar, dipukuli sendiri, kan oon?   Diri Anda itu tempat Anda meneduh, tiap hari Anda rusak sendiri, hari ini pagarnya dibobol, esoknya genteng dan kacanya dipecahin, lah gila kan diri Anda itu? Demikian pula ketika Anda mencela diri Anda dengan umpatan buruk begitu, kira-kira Anda waras, tidak?   Satu maqalah ulama berkata,   نَفْسُك مَطِيَّتُك فَارْفُقْ بِهَا   “Dirimu adalah kendaraanmu, berwelas-asihlah dengannya.”   Diri Anda supaya dikasihi, diwelasi, disayangi, dilindungi, dihargai. Makan saja Anda tidak boleh kurang kenyang karena energi jadi loyo, tidak boleh juga terlalu kenyang karena bisa undang kerusakan lambung dan banyak penyakit. Itu artinya diri Anda benar-benar agar dikasihi.   Anda menyembah Allah dengan apa? Dengan diri Anda. Anda berbuat baik dengan apa? Dengan diri Anda. Karena itu bila diri Anda dijelek-jelekan sendiri, betapa semua kewajiban dan tugas hidup Anda akan alami kerusakan?   Apa Anda senang dihina kere oleh orang lain? Jelas sakit hati. Lah kok bisa-bisanya tiap hari Anda kata-katain diri Anda kere. Hahaha jadi sadar ya betapa kita hobi menghina diri kita sendiri?   Karena itu ketika Anda ditimpa kemiskinan, kesulitan, penderitaan, dan lainnya, Allah tidak pernah mau mengakui kalau itu adalah kezaliman-Nya kepada Anda, Allah nyatakan itu adalah ke-oon-an Anda sendiri.   ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْكُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِۙ   “Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Al-Anfâl : 51)   Ada bully dari luar diri Anda sendiri saja, Allah sudah pasangkan defense mechanism-nya, lah kok malah Anda yang jelek-jelekin diri Anda sendiri dengan merasa kekurangan, miskin, duit kurang, dan lainnya.   Cobalah ubah prasangka, perasaan, pikiran dan self talk Anda setiap hari, keraplah berkata kepada diri sendiri, “Aku kaya. Aku cukup. Aku penuh nikmat. Aku penuh anugerah.”   Dalam ilmu dan urusan soul ada ajaran tawadhu’, dimana Anda supaya rendah hati; merasa masih bodoh, merasa belum bisa, merasa masih banyak kekurangan, namun apakah tawadhu’ itu sedang jelekan diri sendiri? Bukan menjelekan, itu tehnik merendahkan hati agar lebih berharga diri.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

HOKI CUAN ITU CIRI DAGANGAN YANG DIBERKAHI

Sahabat Nabi S.A.W yang profesional sekali dalam dagang adalah ‘Urwah Al-Bâriqi. Dikisahkan satu ketika ia diamanahi oleh Nabi S.A.W uang 1 dinar untuk membelikan satu ekor kambing.   Dan Nabi terperanjat kaget karena uang 1 dinar nilai tukarnya hanya untuk beli 1 kambing, namun ‘Urwah Al-Bâriqi malahan dapat 2 ekor kambing. Satu kambing diserahkan kepada Nabi, yang 1 ekor dijual lagi dengan harga 1 dinar lalu uangnya diserahkan kepada Nabi S.A.W.   Gara-gara menyaksikan hoki dagangnya ‘Urwah yang besar, Nabi S.A.W mendoakan keberkahan untuk bisnis ‘Urwah.   Bahkan, sosok ‘Urwah Al-Barqi ini disebut-sebut sebagai sosok pedagang profesional, pintar sekali berdagang, konon andai dia beli debu niscaya jadi cuan.   عَنْ عُرْوَةَ: “أَنَّ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي بِهِ شَاةً، فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ، فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ، وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ، فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ، وَكَانَ لَوِ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ”.   “Dari ‘Urwah bahwa Nabi S.A.W memberinya 1 dinar untuk membelikan 1 ekor kambing. Lalu ‘Urwah membelikannya 2 ekor kambing. Salah satunya ia jual dengan harga 1 dinar. Ia pun menghadap Nabi dengan menyerahkan uang 1 dinar dan kambing 1 ekor. Nabi pun mendoakan ‘Urwah dengan keberkahan dalam dagangnya. Dan ‘Urwah ini andai saja ia beli debu pasti ia peroleh untung di dalamnya.” (H.R. Bukhari Muslim)   عَنْ عُرْوَةَ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ الْبَارِقِيِّ قَالَ عَرَضَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَبٌ فَأَعْطَانِي دِينَارًا وَقَالَ أَيْ عُرْوَةُ ائْتِ الْجَلَبَ فَاشْتَرِ لَنَا شَاةً فَأَتَيْتُ الْجَلَبَ فَسَاوَمْتُ صَاحِبَهُ فَاشْتَرَيْتُ مِنْهُ شَاتَيْنِ بِدِينَارٍ فَجِئْتُ أَسُوقُهُمَا أَوْ قَالَ أَقُودُهُمَا فَلَقِيَنِي رَجُلٌ فَسَاوَمَنِي فَأَبِيعُهُ شَاةً بِدِينَارٍ فَجِئْتُ بِالدِّينَارِ وَجِئْتُ بِالشَّاةِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا دِينَارُكُمْ وَهَذِهِ شَاتُكُمْ قَالَ وَصَنَعْتَ كَيْفَ قَالَ فَحَدَّثْتُهُ الْحَدِيثَ فَقَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ فَلَقَدْ رَأَيْتُنِي أَقِفُ بِكُنَاسَةِ الْكُوفَةِ فَأَرْبَحُ أَرْبَعِينَ أَلْفًا قَبْلَ أَنْ أَصِلَ إِلَى أَهْلِي وَكَانَ يَشْتَرِي الْجَوَارِيَ وَيَبِيعُ   “Dari ‘Urwah bin Abul Ja’d Al-Bâriqi, ia berkata; Suatu ketika Nabi S.A.W melihat barang-barang impor, maka beliau pun memberiku satu dinar seraya bersabda, “Wahai ‘Urwah, datangilah barang impor itu, dan belilah untuk kami satu ekor kambing.” Saya pun mendatangi barang-barang impor itu, dan melakukan tawar menawar dengan pemiliknya hingga saya dapat membeli dua ekor kambing darinya dengan harga satu dinar. Akhirnya saya segera menuntunnya, lalu seorang laki-laki menjumpaiku dan menawar kambing itu, maka saya pun menjual satu ekor kambing dengan harga satu dinar. Saya pun segera menuntunnya, lalu seorang laki-laki menjumpaiku dan menawar kambing itu, maka saya pun menjual satu ekor kambing dengan harga satu dinar. Saya pun kembali dengan membawa kembali satu dinar dan satu ekor kambing. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, ini uang dinar Anda, dan ini kambing Anda.” Beliau S.A.W bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” Maka saya pun menceritakan alur kejadiannya. Beliau S.A.W berdo’a, “Ya Allah, berilah keberkahan dalam transaksi tangannya.” Maka kalian telah melihatku saat berada di tempat sampah di Kufah, saya telah meraih keuntungan empat puluh ribu sebelum aku sampai ke keluargaku. Saat itu, “Urwah membeli budak-budak wanita dan menjualnya. (H.R. Ahmad bin Hanbal)   Jadi tanda dagangan Anda berkah adalah “modal kecil, cuannya gede. Capek enggak, duitnya gede.”   Namun keberuntungan tersebut tidak diada-ada apalagi diakal-akal agar modal kecil cuan gede, terjadi alamiah dan boleh disebut “ndilalah” alias kebetulan, serta sifatnya seolah menjadi bawaan hoki diri.   Catat! Catat! Catat! Seolah menjadi hoki diri, itu pedagang yang dagangannya berkah.   Jadi sangat bohong ada orang dagang yang bilang, “Untung sedikit nggak papa asal berkah,” itu bukan berkah tapi itu pelarian saja dari ketidakberuntungannya. Berkah dagang justru cuan besar modal kecil, capek enggak duitnya gede, kulak semurah-murahnya untung sebesar-besarnya.   Atau orang dagang kok capeknya bukan main tapi tidak ada duitnya, atau modalnya besar cuannya kecil, butuh karyawan banyak duit untuk gaji seret, itu semua ciri dagang yang tidak berkah.   Ada 2 hal yang saya amati jadikan pedagang susah berada di level dagang yang berkah. 1). Terlalu kuat mentalitas dagangnya. 2). Terlalu lemah mentalitas dagangnya.   Pertama, kuatnya mentalitas dagang. Yang namanya mental dagang itu mentalitas yang tidak kenali rasa kemanusiaan.   Anda lihat manajemen rumah sakit, tahu-tahu orang kena musibah atau malah sedang sekarat, dengan tega hati malah dipalak bayaran.   Kalau atas nama kemanusiaan, seharusnya orang sekarat ya dibantu, malahan dipalak duitnya. Namun karena brandingnya dagang, rumah sakit tidak jahat tidak apa, malah berkah.   Jadi persoalan dagang adalah persoalan skill menguntungkan diri sendiri, kalau lemah skill cari keuntungan untuk dirinya, itu dagangnya sama saja sedang gotong royong atau bakti sosial.   Makanya orang yang mental dagangnya terlalu kuat, ia jadi serigala pemakan sesama yang tidak bisa ingat lagi kalau orang lain butuh diuntungkan. Ia jadi super tega dan super itung-itungan.   Karena tidak pernah bisa melonggari orang lain, selalu bikin orang lain tercekik, orang dengan mentalitas dagang yang terlampau kuat, akhirnya tercekik sendiri. Berkah dagangnya dicabut.   Kedua, mentalitas dagang yang terlalu lemah. Sudah saya jelaskan di atas, dagang sebenarnya sistem yang tidak kenali rasa kemanusiaan, lepas dari rasa sosial, pedagang butuh mental seperti manajemen rumah sakit yang melihat orang kena musibah sebagai peluang duit, bukan peluang jasa sosial.   Nah orang yang terlampau lemah mental dagangnya biasanya karena rasa sosialnya terlalu gede, rasa kasihan, rasa tidak enakan hati dan rasa tidak tegaannya terlalu besar, akhirnya ia jalankan dagang tapi dengan mentalitas sosial, ibarat jalankan manajemen Kementerian BUMN dengan manajemen Kementerian Sosial. Ya bangkrut kan Kementerian BUMN-nya? Minyak dan gas seharusnya dijual untuk diambil keuntungannya untuk negara malahan disubsidikan gratis.   Pedagang dengan mentalitas dagang lemah tidak bisa melihat keuntungan untuk dirinya, ia sibuk gotong royong dan bakti sosial mengatasnamakan dagang.   Ketika terjun dagang dengan mental begini, maaf mending cari profesi lain saja, karena kalau dagang terus, cuma mau cari kebangkrutan saja, sebab mental begini tidak ada menariknya di dunia dagang.   Anda petinju tapi mentalnya santun, apa menarik? Petinju ya beringas. Mental santun itu mental sosial, sementara mental beringas adalah mental petarung. Dagang dengan mental sosial terlampau kuat ya seperti petinju dengan mental santun, babar blas tidak menarik bagi dunia dagang, pembeli pun enggan datang, investor enggan melirik.   Pedagang begini hidupnya memang diberkahi, secara prifasi ia penuh berkah karena hatinya penuh kasih,

MEI 2023

UANG DI LINGKUNGAN GETARAN FORCE

Oke. Saya kembali bicara vibrasi dengan tabel Hawkins. Permisi ya Mas Arif Rahutomo.   Mode getaran vibrasi force yang punya kemampuan kuat mendatangkan uang itu; 1). Bangga. 2). Marah. 3). Keinginan.   Ya persoalannya seperti kemarin saya jelaskan, uang itu karakternya matre, apapun yang berharga akan dibeli oleh uang. Makin berharga, uang yang datang makin besar. Emas berharga, dihargai tinggi, rongsokan tidak berharga, dihargai murah oleh uang.   Rasa bangga, marah dan keinginan itu punya getaran harga diri besar. Bangga merasa “aku orang hebat”. Marah merasa “aku berharga karena itu aku layak tersinggung”. Keinginan merasa “aku sangat penting karena itu keinginanku juga sangat penting”. Karena itu sekalipun getaran vibrasi force, rasa bangga, marah dan keinginan masih kuat menarik duit.   Tiga getaran vibrasi force tersebut yang kerap nempel lekat di hati orang-orang kaya, para tokoh dan para pemimpin.   Kasusnya Fir’aun, Tsa’labah dan Qarun yang begitu kaya raya juga mereka menggunakan 3 mode getaran rendah; sombong, bangga, marah, dan ambisi besar.   Ya kalau nempelnya di hati kaum dhuafa yang lemah si resikonya tidak begitu besar, paling banter keluarganya saja yang terpapar resiko, cuma memang 3 getaran force tersebut adalah sifat melekat pada para pesohor, sehingga efek konflik sosialnya juga bisa sangat besar.   Orang yang kesadarannya dalam 3 mode getaran rendah akan keluarkan dampak force. Dampak force ini energi pemaksaan alias pemerkosaan kepentingan kepada siapa saja yang berada di lingkungan pengaruhnya.   Diperkosa itu enak, nggak sih? Korban perkosaan jelas merasa menderita, stres, tertekan, tidak nyaman, merasa jadi korban dan dampak negatif lainnya.   Cirinya orang bermode 3 getaran force itu setiap Anda yang terlibat di dalam network pengaruhnya, akan merasa terpaksa dan berat hati menjalankan sebuah misi dengan iringan rasa tidak nyaman seperti benci, tertekan, loyo, tidak gairah, malas, berat hati, dendam dan lainnya. Satu sisi seolah diikat kewajiban kerja, sisi lain ada rasa berat hati sangat kuat, juga diiringi ada rasa benci. Itu terjadi karena Anda hanya dijadikan korban getaran forcenya.   Network pengaruh artinya bisa di segala lingkungan seperti hubungan kerja, hubungan pernikahan, hubungan keluarga, hubungan keumatan seperti antara tokoh agama dengan umatnya, hubungan pemerintahan seperti warga dan kepala desanya, dan lainnya.   Ada karyawan rasanya berat banget jalankan tugas-tugas bos diselingi rasa benci, ada istri rasanya berat banget layani suami dengan iringan rasa tertekan, ada warga rasanya terpaksa sekali jalankan program-program kerja kepala desa dengan iringan rasa benci, ada umat rasanya sangat berat sukseskan misi dakwah ustadz dengan iringan rasa marah, itu karena lingkaran pengaruh lingkungannya terpapar getaran force dari figur terkait.   Kasus paparan force di network lingkungan biasanya karena si figur pemimpin punya rasa bangga diri terlampau besar yang dampak getarannya menghina dan merendahkan, atau punya ambisi besar sehingga dampaknya menuntut sehingga hanya mimpi dan kepentingannya saja yang terpenting, atau punya emosi tak terkontrol yang dampaknya menakutkan bawahan.   Orang bangga dan sombong itu hakikatnya orang yang memaksa orang lain mengaguminya.   Orang dengan keinginan besar itu hakikatnya orang yang memaksa orang lain agar orang lain wujudkan mimpi dan keinginannya.   Orang temperamental hakikatnya orang yang menganggap orang lain tidak berharga sehingga ia memaksa orang lain sebagai budak emosi marahnya.   Kalau Anda berada di lingkungan pengaruh 3 getaran force ya sebaiknya memang “keluar” saja dari lingkungan tersebut. Tegas pergi. Tapi kalau masih bisa keluar.   Yang sulit itu kalau ikatannya seperti hubungan pernikahan, karena cerai tidak semudah itu.   Atau malah hubungan ortu anak yang akan selalu terikat darah. Cuma kalau ortu sebaiknya menjauh saja, persoalannya makin dekat makin sering sakit hati. Makin sering sakit hati, shilaturrahim makin terputus. Boro-boro bisa berpikir berbakti, tidak mendendam sudah lumayan.   Menjauh lebih mending, tidak kerap merasa sakit hati karena jarang terhubung sehingga peluang untuk muncul rasa kasih lebih besar. Jadi memang shilaturrahim tidak selamanya terjaga dengan kedekatan, menjauhi pun kadang itu langkah jaga shilaturrahim.   Namun keluar dari lingkungan 3 getaran force juga tidak mudah. Persoalannya hidup sudah tertata di situ, ibarat tanaman sudah tumbuh di situ, harus diboyong ke lokasi lain. Resikonya berat. Karena itu hanya orang yang punya kesadaran penuh dengan harga dirinya saja yang sanggup melakukan.   Kalau tidak sadar penuh dengan harga dirinya, paling hanya berani neriman dan mengalah demi sebagian rezeki yang sudah mapan di lingkungan tersebut.   Nabi Muhammad S.A.W yang hijrah ke Madinah untuk keluar dari pengaruh getaran force kafir Quraisy, atau seperti Nabi Musa A.S yang keluar dari pengaruh getaran force Fir’aun, bukankah mereka menjadi sangat heroik?   Bukan hanya harta benda yang ditinggalkan, nyawa juga jadi taruhan. Maka ini hanya orang yang sadar penuh dengan harga dirinya saja yang berani melakukan untuk keluar dari lingkaran getaran force.   Jadi di lingkaran 3 getaran force di atas, uang banyak, tapi yang tertindas adalah manusianya karena mereka menjadi korban perkosaan dari sebuah kesadaran force yang memanfaatkan, menindas, merendahkan, dan seterusnya. Karena masih menindas sesama tentu uangnya boleh saja banyak tapi berkahnya tidak ada.   Lantas adakah rasa bangga, marah dan keinginan yang bergetar dari getaran vibrasi power? Ya ada. Itu adalah getaran rasa bangga, marah, dan keinginan yang sudah dilandasi kebijaksanaan.   Artinya mereka sebenarnya orang-orang yang sudah tercerahkan hatinya, hanya saja pada kasus-kasus tertentu mereka butuh aplikasi kesadaran bangga, marah atau keinginan untuk mengupdatenya.   Seperti Nabi Sulaiman, beliau jelas orang suci yang berada di getaran power, namun untuk taklukan Ratu Balqis yang serba megah agar Balqis menyembah Allah, lantas Sulaiman tonjolkan bangga dirinya dengan berkata, “Janganlah kalian mengungguliku, datanglah kalian kepadaku sebagai orang yang berserah pasrah.”   Jadi mereka yang berada di getaran power tetap gunakan 3 mode getaran force tersebut namun dengan kebijaksanaan dan kesadaran tinggi. Karena sudah dengan kebijaksanaan, lantas 3 mode getaran rendah tersebut tidak lagi menyiksa orang-orang di sekitarnya, namun digunakan sebatas untuk menarik keseimbangan.   Nah kalau getaran force yang lain seperti takut, kesedihan mendalam, apatis, rasa bersalah, malu, itu getaran tidak ada uangnya, karena itu getaran-getaran vibrasi dari orang yang merasa dirinya tidak berharga, merasa tidak berguna. Efeknya cuma melarat saja.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

INTENSI CARI UANG YANG STRESKAN UANG

Intensi (niat) sekalipun hanya gerakan hati tetapi intensi itulah hakikat sebuah aktifitas.   Sering saya sampaikan, shalat Hajat dan shalat Taubat yang dilakukan di jam yang sama, itu semua gerakan dan rukunnya sama, doa bacaannya sama, cuma beda di intensinya saja. Cuma selisih di getaran intensi, lantas segala fadhilah beserta hasilnya jadi beda telak. Shalat Hajat punya hasil diijabah hajatnya, shalat Dhuha punya hasil diampuni dosanya, padahal cuma beda “nawaitu-nya” saja.   Sebuah aktifitas tanpa kesadaran intensi itu sedikit sekali membawa perubahan hidup. Kuda delman seperti apa kerja kerasnya dengan lari, tapi tidak punya intensi kaya ya kuda delman tidak ada yang kaya.   Di desa saya ada pengusaha keturunan Tionghoa, dia mulai dagang dengan jualan jajanan anak pakai etalase meja makannya yang dipindah ke teras rumah, eeh sekarang toko kelontongnya menjadi toko terbesar di desa. Itu karena dia ada niat kuat menjadi kaya. Namun ada juga tetangga saya yang buka warung dengan etalase meja makannya lalu amblas tak berbekas, itu karena niatnya lemah.   Getaran niat adalah kerangka dasar untuk menghasilkan apa yang akan Anda kerjakan. Pekerjaan boleh sama, hasilnya akan beda tajam karena beda niat.   Harta itu makhluk pelayanan yang diciptakan untuk layani kepentingan Anda. Semua pelayanan diciptakan hakikatnya untuk memberikan kenyamanan. Di setiap bandara dan stasiun kereta api disediakan layanan ruang khusus merokok, itu artinya agar para perokok merasa nyaman.   Mau melayani tentu karena menghormati dan mencintai. Uang mau melayani tentu karena uang hormat dan mencintai Anda.   Karena itu ketika Anda mencari uang dengan akses niat merendahkan manusia, di situ uang akan alami tekanan stres bersama Anda, dan pungkasnya Anda yang hancur lebur sebab telah bikin stres uang. Ya betapa uang tidak stres, karakternya uang melayani dengan hormat dan cinta kepada tuannya yakni manusia, malahan oleh Anda diajak untuk merendahkan manusia.   Peta niat mencari uang, mencari kekayaan agar uang harmoni bukannya stres bersama Anda, sebagaimana dipetakan dalam hadits berikut ini;   مَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا حَلاَلاً اِسْتِعْفَافًا عَنِ الْمَسْأَلَةِ وَسَعْيًا عَلَى أَهْلِهِ وَتَعَطُّفًا عَلَى جَارِهِ لَقِيَ اللهُ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ، وَمَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا مُكَاثِرًا بِهَا حَلاَلاً مُرَائِيًا لَقِيَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهَ غَصْبَانُ   “Barangsiapa mencari (kenikmatan) dunia dengan halal untuk menjaga diri dari meminta-minta; untuk memenuhi kebutuhan keluarganya; dan untuk berderma kepada tetangganya, maka di hari kiamat ia akan bertemu Allah dan wajahnya bersinar terang laksana bulan purnama. Sedangkan barangsiapa mencari (kenikmatan) dunia dengan halal untuk menumpuk-numpuknya dan pamer kepada sesama maka di hari kiamat ia akan bertemu Allah sedang Allah murka kepadanya. (H.R. Baihaqi dalam Kitab Syu’bul Îmân)   Di hadits di atas, sesudah Anda melewati mekanisme rezeki halal, Anda diajarkan untuk menata niat, mana niat yang bikin uang harmoni bersama Anda, dan mana niat yang bikin uang stres tertekan bersama Anda.   Pertama niat yang bikin uang harmoni, ini adalah getaran hati yang akan memanggil ridha Allah, bahkan dijanjikan kelak di hari kiamat wajah Anda akan bersinar terang bak rembulan purnama, yakni 1). Niat menjaga diri agar tidak meminta-minta. 2). Niat cukupi kebutuhan keluarga. 3). Niat agar bisa berderma kepada sesama manusia.   Anda perhatikan, ketiga niat di atas punya getaran memuliakan manusia. Niat jaga diri agar tidak meminta-minta jelas itu getaran agar harga diri Anda terjaga juga agar Anda tidak menjadi beban bagi orang lain. Demikian pula niat cukupi kebutuhan keluarga itu demi mengangkat martabat keluarga Anda agar sejahtera. Dan niat agar bisa berderma, ini jelas sekali fokusnya untuk memuliakan sesama manusia.   Kedua niat yang bikin uang stres bersama Anda. Ini adalah cari uang dengan getaran niat yang jika dusimpulkan adalah getaran niat yang merendahkan martabat manusia, yakni 1). Niat untuk menumpuk-numpuk harta artinya niat memperkaya diri agar tampak paling banyak hartanya. Dalam niat ini jelas harta digunakan untuk merendahkan martabat orang lain atas diri Anda. 2). Niat pamer-pameran ya karena pamer berpotensi melukai hati orang lain yang ujung-ujungnya juga merendahkan derajat orang lain.   Jadi tali simpulnya uang diciptakan untuk layani manusia dengan hormat dan cinta, maka itu kalau cari uang dengan niat merendahkan martabat manusia di antaranya dengan mengungguli sesama dengan harta. Di situlah uang akan stres bersama Anda karena uang dilencengkan dari karakter aslinya yakni melayani manusia dengan hormat dan cinta.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

WELASI DIRIMU

Semalam saya suruh santri saya bikin baretan di mobil saya pakai batu. Dia keheranan dan kaget. Ia menolak. Terus dia saya suruh bikin baretan di sepeda rongsok, bekas dipakai anak saya. Dan ia melakukan.   Saya tanya padanya, “Kenapa kamu tidak berani baretin mobil saya?”   “Mobil itu berharga, Gus,” jawab santri.   “Kenapa dengan sepeda bekas berani baretin?” Tanya saya lagi.   “Karena tidak berharga, Gus,” jawabnya.   Itulah sesuatu yang tidak berharga akan mudah menarik koyakan, serangan, bullying dan mudah disakiti.   Setiap diri Anda itu pancarkan getaran perasaan dan pikiran yang pancarannya selalu akan ditangkap oleh obyek di sekitar Anda.   Kalau Anda masuk suatu rumah, dimana Anda telah berpikir ada hantu di situ, selanjutnya pikiran ada hantu men-down-kan mentalitas Anda, muncullah rasa takut. Dan saat mental Anda ketakutan, di situlah hantu akan beneran nongol dan meneror Anda. Artinya hantu pun menangkap pancaran diri Anda, hantu tahu mana orang yang layak dijadikan korbannya.   Itu hantu. Demikian pula penjahat, pembully, pengejek, penghina, penodong, akan datangi korbannya karena mereka sebenarnya sudah mengenali dulu mentalitas korbannya melalui antena tangkapan perasaan mereka. Ketika Anda pancarkan stres dan dalam kondisi mental lemah, penjahat menangkap pancarannya, selanjutnya target korban dijalankan.   Sebab itu wanita ketika di luar rumah banyak menjadi korban kriminalitas dan kejahatan karena mayoritas wanita memang kuat memancarkan perasaan takut, lemah, dan pemalu karena feminisnya.   Begitu juga para penderma datang kepada penerima derma sesuai daya tangkap perasaannya, para penderma tahu mana orang yang mau diberi derma santunan ataukah derma penghormatan.   Ketika penderma menangkap bahwa Anda orang lemah tidak mampu, ia akan bergerak menyantuni. Ketika penderma menangkap bahwa Anda orang terhormat, maka penderma akan bergerak berikan hadiah penghormatan.   Bukan saya bermaksud merendahkan, namun Anda bisa amati realitas nyatanya, kaum dhuafa itu anggota keluarganya rawan sekali sakit-sakitan, ada-ada saja keluhan sakitnya, satu anak mengeluh sakit kepala, esok anak lainnya mengeluh masuk angin, si ayah mengeluh perut kembung, si ibu mengeluh radang tenggorokan.   Terus bergantian begitu. Itu disebabkan keluarga dhuafa kerap pancarkan perasaan sebagai orang lemah. Ya baik lemah dalam finansial, dalam kehormatan sosial maupun lemah dalam kontrol sosial karena mereka tidak punya kuasa sosial.   Karena memancarkan perasaan lemah, virus penyakit menangkapnya, selanjutnya si virus berparadigma, “Ini layak jadi korbanku.” Jadi virus penyakitpun nempel ke tubuh Anda dengan menangkap getaran diri Anda.   Dulu waktu saya masih lemah sekali finansialnya, otomatis perasaan yang saya pancarkan juga perasaan lemah, ya Allah saya buka toko di pinggir jalan raya, bolak-balik saya jadi korban kejahatan, ada sales penipu, ada pembeli penipu yang pakai trik hypnosis untuk kelabui kasir, ada karyawan sendiri yang mencuri uang dan badang dagangan, bahkan sampai laptop toko dibawa kabur penjahat.   Sudah keadaan finansial lemah, tidak punya duit, dagang cuannya kecil, bercampur orang lain sering dapat perendahan dan hinaan, musibah silih berganti datang, eeh malah banyak penjahat mampir dan menyatroni, itu karena para penjahat menangkap getaran lemah diri saya sehingga saya dinilai layak dijadikan korban.   Justru sekarang ini setelah finansial saya menguat, kehormatan menguat, harga diri menguat, malahan kejahatan penjahat di toko saya tidak ada lagi, padahal saya dagang di ruko toko yang sama.   Salah satu teman saya ada yang lebih tragis. Dalam kondisi istri hamil anak pertama, dirinya belum punya pekerjaan dan penghasilan, dia masih serumah dengan mertua. Ia kerap tidak dicocoki mertua, disalah-salahkan, direndahkan dan disakiti mertua. Sisi lain ia dicibir mertua, sisi lain karena ia nganggur, ia harus kerja bantu sawah mertua tanpa dibayar hanya dikasih uang rokok.   Ia memang mampu tabahkan dirinya, namun rasa terpuruknya kemudian anak yang terlahir sedikit cacat di bagian kaki. Anaknya sedikit pincang karena kaki kanannya lebih panjang dari kaki kiri dengan jumlah jari kaki kanan ada enam, jempol kakinya muncul anakan jari.   Karena itu ketika dalam keadaan terpuruk sebaiknya banyaklah beristighfar dan banyak baca lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh untuk menangkis pancaran getaran lemah diri, karena ketika getaran lemah diri sangat kuat terpancar, musibah, hinaan, kefakiran, penyakit, penjahat, perendahan, mudah sekali datang, malahan anak saja bisa lahir cacat karena getaran rasa lemah diri.   Rasionalitasnya sederhana sekali, santri saya tidak bersedia bikin baretan di mobil karena ia tahu mobil itu berharga, tapi ia dengan mudah bareti sepeda rongsok bekas milik anak saya karena tahu itu barang tidak berharga.   Sesuatu yang tidak berharga akan mudah menarik koyakan, serangan, bullying dan mudah disakiti, karena itu rasa diri yang menuduh diri tidak berharga, menuduh diri sendiri tidak berdaya, menuduh diri sendiri lemah, menuduh diri sendiri balung kere, menuduh diri sendiri seperti itu sama saja sedang menganggap diri sendiri sebagai barang rongsok tak berguna. Diri sendiri dibully dan dihujat.   Tiap hari merasa hidup penuh ujian, hidup penuh nasib buruk, merasa kekurangan uang, merasa orang lemah, dan lainnya. Merasa begitu itu sama saja menganggap diri sendiri rongsok.   Sering menuduh diri sendiri begitu, bagaimana diri Anda akan pancarkan getaran berharga? Kalau sudah tertangkap sebagai getaran tidak berharga, ya sepeda rongsok akan begitu mudah terima baretan.   Rasa lemah diri itu biasanya dicirikan dengan orang tersebut susah sekali berkata, “Tidak,” berat sekali menolak. Tahu-tahu diri sendiri merasa tidak nyaman bolak-balik dihutangi, kalau ada orang minta hutangan tidak berani tegas menolak.   Tahu-tahu hanya dimanfaatkan tanpa pernah dihargai, malah mengalah terus tidak ada keberanian menentang.   Tahu-tahu sedang dagang, ada orang minta harga seduluran bahkan minta gratisan, hatinya goyang-goyang tidak berani menegaskan kalau dirinya sedang dagang cari rezeki cuan.   Tahu-tahu kalau ia diberi malahan melunjak, minta lagi, masih terus saja tidak mau hentikan pemberian. Ada kalanya Anda harus berhenti memberi, ketika tahu ia tidak sadar untuk berhenti meminta dan merepotkan.   Banyak orang berpersepsi bahwa “tidak” itu kejahatan, “tidak” berarti tidak berakhlak mulia, kalau menolak takut dianggap tidak berbudi luhur, tidak punya hati, dan lain sebagainya, padahal diri sendiri tersiksa tidak nyaman, bukankah racun bisanya tertolak bila Anda tegas menolaknya alias berani berkata “tidak”?   Welas asihlah dengan diri Anda sendiri, siapa yang akan hormati dan welas asih kepada Anda, bila bukan diri Anda sendiri yang welas asih dan menghormati? Anda sakit, emang orang pertama

MEI 2023

ENERGI DIAM PENARIK KEBERLIMPAHAN #Part2

Anda yang belum menyimak part 1-nya silakan simak dulu Energi Diam Penarik Keberlimpahan Part 1 di konten sebelum ini.   Mangka ta kang aran laku, lakune ngelmu sejati. Tan dahwen pati openan, tan panasten nora jahil. Tan njurungi ing kadurakan, amung eneng amrih ening.   Demikian kutipan Bait ke-94, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV, yang artinya;   Inilah yang disebut laku, pengamalan ilmu sejati. Yakni, tidak suka mencerca, tak suka memungut (berita buruk), tidak nyinyir (mempovokatori) dan tidak suka mengganggu orang lain. Tidak mendorong pada tindak kejahatan, hanya diam agar (hati) menjadi bening.   Eneng atau diam di sini tentu diam dengan kesadaran, bukan sifat pendiam bawaan lahir.   Diam yang tanpa kesadaran tentu tidaklah menjernihkan hati, paling sebatas menyelamatkan, karena bagaimanapun diam itu akses selamat karena mimimnya resiko berat.   مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ   “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, sebaiknya berucaplah yang baik atau diam.” (H.R. Bukhari & Muslim)   Diamnya hati dengan kesadaran inilah yang punya power untuk menarik kelimpahan.   Yang Anda kenal air itu bergerak mengalir, matahari bergerak melakukan rotasi dan revolusi, angin bergerak berhembus. Tidak kok, mereka semua diam.   Kalau Anda membunuh orang, Anda terima resiko berdosa dan kena hukuman, bahkan Anda layak dijahanamkan, tapi kalau ada air dengan banjir bandangnya membunuh ratusan orang, apa air berdosa? Apa air layak masuk neraka Jahanam? Tidak.   Jika air berbuat baik dengan bersihkan tubuh Anda, apa air dapat pahala? Tidak.   Itu karena perbuatan gerak yang dilakukan air tidak dilatari kesadaran, artinya kesadarannya diam. Karena diam tidak punya kesadaran, gerak air tidak menuai hisab baik dan buruk, dosa dan pahala. Beda dengan Anda, berbuat buruk dan baik punya konsekuensi hisab dosa dan pahala, karena kesadaran Anda tidak diam, artinya Anda ada pergerakan emosi dan perasaan.   Jadi air, matahari, angin dan semua komponen alam semesta itu diam, maksudnya kesadarannya yang diam. Walaupun partikel fisikanya bergerak, tapi tidak beresiko apapun karena kesadarannya diam.   Karena itu diamnya hati adalah diam yang sesungguhnya, karena alam semesta ini hakikat kesadarannya adalah diam.   Tentu tidaklah normal kalau kesadaran Anda diam seperti air, Anda manusia yang punya taklif bergerak secara emosi dan kesadaran, hanya saja Anda perlu berlatih mendiamkan hati untuk kurangi kebisingan hati agar hidup lebih tenang, lebih bahagia dan lebih mulia.   Dalam filsafat tasawuf diajarkan, kesadaran manusia akan esensi Tuhan itu dibagi 3;   1.      Kesadaran yang masih lâ ilâha illâ huwa (tiada tuhan selain Dia) di situ kesadaran Anda masih berjarak terlampau jauh dari Zat-Nya. Sebab kata ganti “huwa” itu beresensi ghâib (gaib). Anda sebut teman Anda dengan dia, bukankah teman Anda tidak hadir di depan mata Anda, dia gaib?   Kalau kesadaran Anda menyaksikan Allah dengan huwa, artinya kesadaran Anda berjarak terlampau jauh dengan-Nya, karena esensi kata ganti orang ketiga adalah gaib.   2.    Kesadaran lâ ilâha illâ anta (tiada tuhan selain Engkau). Di situ kesadaran Anda sudah mending, karena kata ganti anta (engkau/kamu) itu beresensi khudhûr (hadir). Kalau Anda menyebut kamu kepada teman Anda, tentu teman Anda itu ada di depan mata Anda, tidak mungkin Anda menyebut kamu tapi orangnya tidak hadir di depan mata.   Karena ini kesadaran hati yang menyaksikan lâ ilâha illâ anta itu sudah mendingan dekat, karena Zat Allah hadir utuh di depan Anda.   3.    Kesadaran hati yang lebih intens lagi, yakni kesadaran lâ ilâha illâ anâ (tiada tuhan selain Aku). Inilah kesadaran yang diajarkan Syaikh Siti Jenar lewat ajaran Manunggaling Kawula Gusti, oleh Ibn ‘Arabi lewat ajaran Wahdatul Wujûd, oleh Al-Hallaj lewat ajaran Hulûl, oleh Abu Yazid Al-Busthami dengan ajaran Ittihâd.   Kalau sudah di kesadaran lâ ilâha illâ anâ menjadi dekat tanpa sekat, tanpa batas, tanpa jarak, beda kualitas dengan yang masih berkesadaran lâ ilâha illâ huwa atau pun lâ ilâha illâ anta.   Nah dari ketiga level kesadaran tersebut, semuanya masih punya kepentingan, satu pun tidak ada yang tulus. Bahkan yang level kesadaran terakhir pun yakni lâ ilâha illâ anâ, kepentingan egonya masih sangat nyata yakni kepentingan ingin manunggal dengan Gustinya. Ingin murni bersatu dengan Tuhannya, bukankah itu juga kepentingan ego?   Sehingga kesadaran untuk diamnya hati justru memuncaki ketiga level kesadaran di atas karena kosong tidak ada apa-apa lagi.   Cuma itu, diamnya hati yang dimaksud adalah diam dengan kesadaran. Sadar untuk diam.   Cuma perlu dimengerti, diam itu artinya sunyi, hening dan kosong. Banyak kasusnya kan, rumah ketika terlalu lama kosong yang berarti lama dalam situasi diam, justru diisi oleh hantu-hantu angker. Diisi pocong, kuntilanak, gendruwo, wewe gombel, dan lain-lain.   Diamnya hati pun bisa begitu, bila tidak diisi dengan tujuan-tujuan kebaikan juga bisa diisi sembarang energi.   Karena itu, ketika Anda diamkan hati, Anda harus punya tujuan-tujuan kebaikan biar hati Anda tidak diisi sundel bolong.   Kalau para spiritualis murni, biasanya diam mereka bertujuan menggapai ridha Tuhan, bertujuan memurnikan hati agar hanya mencintai Allah.   Jika spiritualis prosperity yakni spiritual yang menuju keridhaan Tuhan dengan tarikan keberlimpahan rezeki, bagaimana?   Ya tinggal tunggangi saja pencarian rezeki Anda untuk dapatkan ridha Allah. Energi diamnya hati Anda tinggal diniati untuk menarik kelimpahan rezeki agar dapatkan ridha Tuhan. Itu saja, tata niat dan tujuannya.   Tahun lalu pernah ada satu channel Youtube yang posting konten aksi diam di depan kamera selama berjam-jam. Mata diam dalam melek, bibir diam tertutup, duduk di posisi diam tidak gerak, itu dilakukan di depan kamera shooting selama berjam-jam. Hasilnya viral, jutaan viewers menontonnya.   Diamnya si pembuat konten jelas punya niat dan tujuan menarik penonton, dia diam tapi punya tujuan bikin konten yang ramai. Jadi diamnya bukan bertujuan kesunyian dan keheningan, namun diam untuk bertujuan ramai-ramai.   Kodrat alamnya diam itu sebuah kesunyian, ketenangan dan keheningan, tetapi ketika dipengaruhi niat menarik penonton, diam bisa menjadi energi penarik keramaian, popularitas, dan hiruk-pikuk publik.   Itulah ajaibnya hati Anda, hati bisa merubah prilaku A jadi B, hasil B jadi A, resiko C jadi A, dan seterusnya, hanya dengan mengubah niat hati. Dahsyat kan hati Anda?   Sekarang energi diam bisakah digunakan menarik segala keberuntungan, menarik kemuliaan, menarik uang,

MEI 2023

ENERGI DIAM PENARIK KEBERLIMPAHAN #Part1

Ketika Anda menjadi anak over aktif, semua orang akan risi didekat Anda, keaktifan gerak dan aksi Anda jadikan orang-orang di sekitar Anda ingin menyingkir dan menjauhi.   Ketika gunung berapi meletus, si gunung bergerak terlalu aktif, semua orang akan menyingkir menjauh, ketika air sungai bergerak terlalu aktif dengan meluap-luap juga semua orang akan menjauhi, ketika tanah alami gemoa, tanah bergerak aktif sendiri, semua orang juga menjauhi. Mobil bergerak melaju terlalu cepat juga penumpangnya panik semua, mereka ingin keluar dari dalam mobil cari selamat.   Jadi efek sebuah gerakan ekstrem, apalagi pergerakan dalam skala energi besar, itu hasilnya bukan cuma manusia yang bergerak menjauh, tapi seluruh isi kehidupan akan menjauhi.   Gerak memang tanda kehidupan, tidak ada pergerakan artinya mati, namun di level ekstrem tertentu, gerak itu justru dijauhi karena mematikan.   Hati Anda dengan seisi kesadarannya itu selalu bergerak. Dihina orang, hati Anda bergerak tersinggung. Ditipu orang, hati Anda bergerak membenci. Dipuji orang, hati Anda bergerak tersanjung. Menjadi pemenang, hati Anda bergerak bangga. Lihat bangunan rumah mewah, hati Anda bergerak mencintai. Lihat ruangan rumah kotor, hati Anda bergerak risi dan jijik. Dan seterusnya.   Hati Anda aktif bergerak merespons segala kejadian dalam hidup Anda, buruk dan baik, susah dan senang, hitam dan putih, semua direspons oleh hati Anda dengan melakukan pergerakan emosi, pergerakan kesadaran dan perasaan.   Gerak itu butuh energi, ketika pergerakan hatinya terus menerus aktif berpotensi menguras energi hidup Anda.   Titik masalahnya ketika pergerakan hati Anda terlampau aktif dan agresif. Bertemu dengan pendengki, Anda membenci sehebat-hebatnya, lalu dengan rasa marah berpikir lakukan serangan balik. Bertemu haters, Anda sangat sakit hati lalu marah-marah jengkel, sangat tersinggung.   Bertemu orang yang kurang etika, Anda tersinggung berat lalu menyinyirinya di belakang dengan ketus. Bertemu pesaing karir, Anda gelisah mendalam, khawatir dan ketakutan.   Nanti ketika Anda bertemu fans dan pengagum, Anda girang euforia. Bertemu dengan keberuntungan, Anda gembira bersuka ria. Bertemu dengan kemenangan, Anda bertepuk dada. Dan seterusnya.   Anda pikir sendiri dech? Kira-kira pergerakan hati yang begitu menguras energi, tidak? Capek, tidak?   Energi terkuras hanya untuk membenci yang tidak disukai, terkuras hanya untuk mencintai yang disukai, terkuras hanya untuk stres dan panik untuk yang ditakuti dan dikhawatiri, terkuras hanya untuk bergembira ria dengan keberuntungan yang diperoleh, terkuras hanya untuk melayani pencaci dan pemuji Anda.   Dalam keadaan begitu, kapan Anda punya energi untuk menguatkan dan memberdayakan hidup Anda? Anda bisa mati lemas duluan sebelum Anda bergerak membangun hidup Anda.   Parah lagi ketika ketika keaktifan gerak hati Anda mencapai titik hiperaktif, di titik itu semua hal akan menjauhi Anda, tidak ada yang ingin mendekat dan dekat dengan Anda.   Nah sekarang barangkali hidup Anda sedang sunyi dari rezeki? Bisnis sepi, dagangan tidak laku, orderan sepi, pekerjaan susah didapatkan, cobalah dicek ke dalam, jangan-jangan hati Anda selama ini terlalu banyak keluarkan energi gerak sehingga terlalu gaduh dan bising di dalam.   Barangkali kalau eyel-eyelan dan nyinyir-nyinyiran di medsos tidak mau mengalah, barangkali sedikit tersinggung langsung labrak, barangkali kalau marah langsung meledak-ledak, barangkali kalau jatuh hati, rasa cintanya melekat erat seperti perangko, barangkali kalau mengagumi sesuatu suka hingga berdecak-decak. Dan seterusnya.   Pergerakan hati yang demikian satu pergerakan energi hati yang terlampau aktif, hiper dan over, sehingga energi hati Anda habis di situ, hasilnya ketika energi hati Anda mau digunakan untuk membangun bisnis dan karir, bisnis dan karir Anda stuck tidak bertumbuh, sebab tidak ada lagi stok energinya.   Coba cek, kalau bisnis atau karir Anda sunyi, rezeki Anda sunyi, barangkali hati Anda terlalu agresif bergerak. Kalau benci, kalau cinta, kalau kecewa, kalau gembira, kalau gelisah, kalau khawatir, dan emosi-emosi lain, sering terlalu agresif.   Otak pancarkan gelombang pikiran, jantung pancarkan gelombang perasaan. Nah ketika pancaran gelombang otak dan perasaan begitu kuat membenci, begitu kuat mencintai, begitu kuat bersedih, begitu kuat bergembira, lalu getaran gelombangnya menghantam apapun yang dilalui, seperti apa penderitaan tekanan balik untuk hati Anda? Dalam keadaan ini maka sebenarnya banyak orang yang terkuras lalu kehabisan energi.   Di pusaran energi begitu yang Anda butuhkan adalah diamnya hati.   Hati Anda butuh diam agar kebisingan dan kegaduhan berkurang. Di situasi bising dan gaduh hati, segala hal akan bergerak menjauh, termasuk rezeki juga menjauh dari hati yang bersituasi gaduh dan bising.   Diam hati merupakan situasi hati yang meditatif. Selayaknya Anda sedang semedi, dalam semedi Anda tidak membeli apapun situasi yang terjadi di luar hati Anda. Tidak peduli ada petir, ada hujan, ada keramaian, ada percintaan, ada perkelahian, semua tidak Anda beli karena Anda sedang semedi alias meditasi.   Kalau dalam Islam situasi meditatif itu terjadi dalam shalat dan zikir. Di situasi hati yang khusyuk dalam shalat dan zikir, hati berhenti untuk merespons kejadian-kejadian di luar hati Anda. Hati Anda tidak urus dengan huru-hara di luar diri karena Anda tenggelam dalam nikmat shalat dan zikir.   Diam hati itu artinya Anda berhenti untuk merespons apalagi agresif hati terhadap situasi yang terjadi di luar diri Anda. Ada sesuatu yang dibenci menghampiri, hati diam saja, ada sesuatu yang disenangi datang, hati diam saja. Tidak merespons apalagi bereaksi agresif. Diam.   Jantung yang pancarkan gelombang perasaan hati, karena itu untuk mendiamkan hati agar terukur dalam keluarkan pancaran gelombang perasaan, Anda ketika merasakan ada kejadian hidup yang harus direspons oleh hati, misal perasaan sedang benci sekali dengan orang yang mendengki Anda, atau marah sekali kepada musuh Anda, atau sakit hati sekali, atau sedang sangat gembira, atau sedang cinta sekali, Anda peganglah dada Anda di bagian jantung, lalu usap-usaplah pelan-pelan untuk rilekskan diri sambil berucap Istighfar pelan-pelan.   Atau bisa juga dengan menyerap nafas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan sambil beristighfar.   Trik ini untuk turunkan frekuensi gelombang hatinya. Selanjutnya rasa apapun yang muncul dalam hati, tidak usah dibeli. Lengahkan pikiran ke ruang-ruang pikiran yang tenang, yang meditatif, yang kosong tidak berisi apa-apa.   Umpama muncul rasa benci, rasa dendam, rasa marah, rasa sedih, jangan dibeli. Muncul rasa euforia, rasa gembira, jangan dibeli. Biarkan hati lengang tanpa suara, tanpa bunyi, tanpa kata.   Hati yang diam tentu itulah yang disebut qalbun salîm (hati yang bersih) yakni hati yang tidak banyak mondar-mandir bergerak.   Hadapi

Scroll to Top