Anda pakai sarung sudah kusut, banyak bolong-bolong kena percikan bara rokok, dan di hati Anda diiringi rasa neriman sebagai orang yang tidak mampu beli sarung baru, itu bukan disebut qana’ah, tapi itu kemiskinan.

 

Persoalannya kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa, lah betapa lemah jiwa Anda jika hanya oleh harga 1 sarung saja kalah. Memalukan kan?

 

Apa Anda rela jika Anda saya bayar 10 juta namun kepala Anda saya injak-injak? Itu pertanda jiwa Anda yang disimbolkan dengan kehormatan kepala adalah sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan materi uang.

 

Jiwa Anda yang semulia itu lalu hanya hadapi satu sarung kusut lalu hati Anda merasa lemah yang berefek Anda neriman dengan kondisi sarung rusak, itu namanya jiwa Anda di-TKO oleh harta.


Hati manusia kok kalah TKO dengan harta, apa itu qana’ah? Justru hal seperti ini yang disebut miskin.

 

Lalu qana’ah itu seperti apa? Ibn Baththal mendefinisikan,

 

الرضا بقضاء الله تعالى والتسليم لأمره علم أن ما عند الله خير للأبرار،

 

”Ridha dengan ketetapan Allah Ta’ala dan berserah diri pada keputusan-Nya yaitu segala yang dari Allah itulah yang terbaik.” Itulah qana’ah.

 

Jadi qana’ah itu akses rasa neriman namun bukan neriman kepada harta yang pas-pasan, tetapi neriman kepada ketetapan-Nya.

 

Jadi qana’ah dan kemiskinan itu cuma selisih kesadarannya doang? Kalau qana’ah neriman dengan ketetapan Tuhan (pandumė Gusti), kalau kemiskinan itu neriman dengan harta? Iya. Betul. Cuma selisih sadar.

 

Namun sebelum kesadarannya selisih—antara sadar neriman kepada Allah dan sadar neriman dengan harta yang pas-pasan—ada beberapa proses mental yang melatari.

 

Kalau rasa neriman kepada harta yang pas-pasan itu dipicu oleh rasa lemah hati. Merasa dirinya miskin, merasa dirinya tidak punya uang, merasa dirinya wong cilik, lantas belum lakukan usaha apapun sudah menyimpulkan dirinya tidak mampu akhirnya neriman terima barang rongsok.

 

Misal pakai sarung kusut. Karena merasa miskin, merasa tidak mampu, lalu ketika tahu sarungnya kusut, ia belum usaha cari uang untuk beli sarung, lantas langsung saja neriman. Lantas sarung kusut dipakai saja. Itulah kemiskinan.

 

Beda kalau rasa neriman kepada ketetapan Allah. Kondisi neriman ini adalah kondisi neriman dimaja tidak lagi dilatarbelakangi rasa lemah hati, artinya si pelaku sudah berusaha keras untuk mengubah keadaan, tapi keadaan tetap juga tidak berubah, hingga akhirnya dia sadar bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik-Nya. Itulah qana’ah.

 

Misal mau lebaran Idul Fitri belum punya sarung baru. Selama bulan Ramadhan sudah usaha kerja peras keringat agar bisa beli sarung baru, eeh ternyata jelang lebaran malahan duitnya ilang dimaling, dan akhirnya hari H lebaran tetap pakai sarung kusut, dan di situ Anda sadar sesadarnya bahwa Allah berkuasa atas segala kehendak, maja itulah yang disebut qana’ah.

 

Jadi beda banget kan akses rasa dan mentalitas qana’ah dan miskin?

 

Dan ketika akses rasa dan prosedur prosesnya adalah qana’ah akan hadirkan kekayaan dan kecukupan, sementara akses rasa dan prosedur proses miskin akan hadirkan kemiskinan dan kekurangan.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *