Sebelum baca tulisan ini, bagi yang belum baca part 1-nya, harus
baca dulu di postingan sebelum ini, berjudul “Sadar Penuh Diriku Berharga;
Sistem Recharge Energy Rezeki.”
Recharge energy system itu merupakan sistem sirkulasi energi
alam semesta, di mana semua benda-benda alam semesta melakukannya, seperti
halnya Anda yang makan minum, cari cuan, terima gaji, dan lainnya, atau
smartphone Anda yang di-charge ulang, atau kendaraan Anda yang diisi BBM, dan
seterusnya.
Dalam proses recharge energy ini mau tidak mau Anda ambil energi
dari luar diri Anda untuk kepentingan diri Anda sendiri, semacam membangun ego
sentris.
Kadang Anda itu kerap keblinger ketika belajar ilmu-ilmu
spiritual, diajari legawa, pemaaf, hening, diam, dermawan, lepas nafsu, dan
lainnya, akhirnya punya mindset kalau mementingkan ego diri itu bersalah dan
tidak menyucikan spiritual.
Padahal ego sentris itulah sistem dimana Anda sedang recharge
energy untuk diri Anda.
Anda amati prilaku orang-orang sukses, orang-orang besar, mereka
selalu memiliki sistem recharge energy diri dengan baik. Amati orang-orang alim
atau orang-orang kaya, mereka ada-ada saja narsisnya untuk mengunggulkan
dirinya sendiri atas orang lain.
Gus Baha misalkan, kerap mengaku orang alim yang hapal Al-Qur’an
dan hapal ribuan hadits, ahli ilmu ini dan itu, kerap juga beliau komentar,
“Saya itu hapal puluhan ribu hadits, kalian baru hapal hadits arba’in
(hadits 40) kok mau mendebat saya? Ukur level lah!”
Sekilas narsis dan sombong, tapi sebenarnya itulah sistem
recharge energy yang terpasang baik di dalam diri Gus Baha.
Nabi Musa, ketika ditanyai kaum Bani Israil, “Siapa orang
yang paling alim di antara orang-orang Bani Israil?” Musa jawab dengan
pede, “Aku.”
Hanya waktu itu kepedean Musa A.S sudah di level berlebih
sehingga kemudian dipertemukan dengan Nabi Khidir yang alimnya melampoi Musa.
Nabi Sulaiman tidak pernah mau kalah dalam soal kemegahan
kerajaannya, di hadapan para raja yang lain seolah dia yang paling harus unggul
dan termegah, karena itu ketika beliau menyurati Ratu Balqis, tersirat jelas
kata-kata narsisnya, “Alâ ta’lû ‘alayya wa’tûnî muslimîn (janganlah kalian
mengungguliku, kalian datanglah kepadaku sebagai orang yang berserah diri.”
Amati saja orang-orang kaya dan para pemimpin yang punya kuasa,
mereka ada-ada saja ulah dimana mereka sangat ketara punya rasa kalau dirinya
unggul dari yang lain, mereka jadinya sangat susah untuk mau mengalah, alot
untuk mau merendahkan dirinya.
Karena ego sentris itulah kekuatan mereka sehingga bisa menonjol. Kalau dari awal mereka orang-orang yang tawadhu dan andap asor, bagaimana mereka bisa unggul dan kemudian jadi pemimpin? Itu mereka lakukan karena mereka butuh energi besar untuk dirinya sendiri sehingga dirinya bisa menerangi orang lain, bisa bermanfaat bagi orang lain.
Lah katanya orang sombong itu walaupun sebiji sawi tidak akan masuk surga?
Sombong itu,
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. (H.R. Muslim)
Gus Baha dan Nabi Musa mengaku alim di depan umat, tapi mereka sangat alim beneran kan? Nabi Sulaiman harus selalu unggul megahnya, tapi beliau benar-benar raja termegah kan? Padahal sombong itu menolak kebenaran, lah kalau faktanya benar-benar alim dan benar-benar unggul, kan itu nyata karena fakta kebenarannya memang demikian.
Orang sombong itu yang menolak kebenaran, dikasih motivasi tersinggung, mendebat, nyiyir. Atau kalau bicara tinggi tapi kenyataan hidupnya ambruk. Lord Rangga dari Sunda Empire itu orang sombong beneran, mengaku bisa kendalikan Putin, Biden, Kim Jong-un, Uni Eropa, eeh diciduk Kapolsek yang hanya level polisi kecamatan saja tidak bisa berkutik.
Gus Baha, Nabi Musa, Nabi Sulaiman itu bukan sombong tapi itulah sistem recharge energy yang terpasang baik dalam diri mereka karena mereka butuh energi besar untuk dirinya sendiri agar mereka kuat untuk jadi penerang orang lain.
Rasa bahwa “diriku itu sangat berharga” itulah sumber energi diri dimana Anda berkemampuan untuk ambil energi dari luar diri Anda untuk kepentingan ego Anda sendiri, yang selanjutnya saya sebut self worth energy.
Biasanya seseorang akan gunakan self worth energy-nya sesuai dengan minat mereka sendiri-sendiri, sesuai selera kebesaran diri yang mereka minati. Minat ilmu, ya kegemarannya tonjolkan diri di ilmu. Minat kepada bisnis, ya kegemarannya tonjolkan diri di uang. Minat kepada kekuasaan, ya kegemarannya tonjolkan diri di politik. Minat popularitas, ya kegemarannya tonjolkan diri di kemasyhuran diri.
Nabi Muhammad S.A.W orang yang sangat murah hati dan pemaaf. Saking dermawannya beliau kerap hutang kepada orang lain hanya karena beliau dimintai oleh peminta-minta tapi beliau sudah tidak punya apa-apa lagi. Sekilas Nabi S.A.W tidak punya self worth energy? Nanti dulu.
Nabi Muhammad itu seleranya bukan pada kemegahan harta, sejak menjadi suami Khadijah yang kaya raya, Nabi S.A.W dalam soal harta lebih selera sederhana.
Self worth energy Nabi S.A.W sangat ketara di ranah kepemimpinan, harga diri, ilmu dan kekuasaan.
Dalam kepemimpinan, beliau kerap menyatakan diri sebagai sayyidu waladil âdam (sayyid atau tuannya anak-anak adam), beliau juga berselera menjadi nabi dengan pengikut terbesar sampai umatnya diperintahkan untuk memiliki banyak anak.
Dalam harga diri, beliau menolak diberi zakat dan sedekah, karena beliau merasa diri beliau berharga, zakat dan sedekah hanya layak diberikan kepada orang-orang lemah.
Dalam ilmu beliau mengaku, “Ana madînatul ‘ilmi wa ‘aliyyu bâbuhâ (aku kotanya ilmu, dan Ali itu pintunya).
Dalam kekuasaan, beliau tidak pernah mau mengalah kepada dominasi kafir Quraisy, Abu Jahal dan kawan-kawan beliau hadapi dengan jantan. Kafir Quraisy dan sekitarnya takluk, beliau berhadapan dengan jaringan kekuasaan internasional seperti kekuasaan Persia dan Romawi, dan tidak pernah mau mengalah.
Jadi cara instalasi recharge energy diri, satu sisi ada yang dimurahhatikan, sisi lain ada ego sentris yang dipelihara.
Saya kasih contoh diri saya. Bikin tulisan panjang begini, belum lagi bikin konten Youtube dan Tiktok, itu semua kemurahan hati yang saya keluarkan untuk menerangi orang lain, tapi sisi lain saya jarang sekali mau jawab orang tanya-tanya di kolom komentar.
Aatau ada orang kirim pesan pribadi untuk konsultasi kepada saya. Ada pesan konsultasi masuk, pasti saya jawab, “Tidak melayani konsultasi publik karena keterbatasan tenaga. Konsultasi hanya dilayani di kelas training baik online maupun offline.” Ikut kelas training artinya harus bayar kalau mau konsultasi.
Itu karena saya menghargai diri saya sendiri, saya bukan tempat pembuangan sampah masalah Anda.
Saya selalu kedepankan kedermawanan, suka nyah-nyoh, tapi saya tegas menolak ketika ada orang minta-minta, termasuk orang minta hutang. Bahkan di urusan mobil, walaupun mobil saya ada 2, dan masih banyak tetangga dan saudara yang butuh, tapi saya sangat membatasi diri soal pinjam meminjam mobil, angkut-angkut orang. Sebab saya sangat tersinggung di soal ini.
Itu semua ego sentris yang saya pasang agar sistem recharge energy di dalam diri saya berlangsung. Jadi tidak semua harus dimurahhatikan untuk menerangi orang lain sampai-sampai diri sendiri tidak dihargai.
Intinya tidak semua dimurahkan untuk orang lain, ada sisi lain yang Anda harus bertahan dengan egoisme Anda. Dan yang kerap dipertahankan egoismenya biasanya adalah bidang yang memang Anda minati.
Namun sistem kemurahan hati juga bisa diolah agar menjadi self worth energy yang berfungsi untuk recharge energy, tapi saya lanjutkan di part 3 ya.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply