Yang belum baca part 1 dan part 2-nya, silakan baca dulu, di artikel sebelum ini.
Lelaki ketika menikah, ditilik dari kacamata “tindakan” sebenarnya sebuah kesepakatan pemerasan. Lah iya, sesudah menikah, seks dinikmati bersama, lelaki yang harus bayar maharnya. Belum lagi kalau ikuti adat tertentu, seperti adat Jawa, lelaki harus “mbesan” yakni harta tertentu yang diserahkan kepada keluarga pengantin wanita sebagai bawaan besan, padahal ya kepentingannya sama antara 2 besan yaitu bikin resepsi nikahkan anak-anak mereka.
Sesudah bangun keluarga, lelaki makin jauh dijerat dalam kesepakatan pemerasan, karena dia dituntut kasih nafkah istri yang merupakan anak orang. Kalau kasih nafkah anak sendiri mending, karena anak itu darah daging sendiri, lah istri itu kan anak orang lain? Bayangkan coba, banting tulang hingga stres-stres cuma untuk kasih makan anak orang? Wkkkk pemerasan, kan?
Dimana pun resiko sebuah kesepakatan pemerasan adalah korban. Menjadi korban, efek getaran yang ditangkap adalah keterpurukan.
Namun pada kenyataannya, lelaki sesudah masuk dalam kesepakatan nikah, mayoritas lelaki malah temukan harga dirinya sebagai lelaki, bukan temukan dirinya sebagai korban pemerasan. Ketika bujangan rezeki lelaki sempit, sesudah menikah malah kaya. Ketika bujangan tidak punya rumah sendiri, sesudah menikah malahan bisa bangun rumah. Banyak harga diri pria yang terbangun justru setelah kasih makan anak orang dalam ikatan nikah.
Praktek tindakannya pemerasan, tapi hasilnya bukan korban, justru hasilnya adalah keberlimpahan. Kok bisa?
Itulah pengaruh penempatan rasa di dalam hati. Sesudah menikah laki-laki menempatkan diri sebagai pejantan yang siap bertanggung jawab beri nafkah, hasilnya alam semesta merespons apa yang dirasa di hati lelaki. Rasa pejantan itulah yang lelaki dapatkan sehingga energi yang dia tarik berwujud keperkasaan dan keberlimpahan.
Bahkan tidak sedikit yang merasa kurang jika hanya kasih nafkah untuk 1 anak orang lain, sehingga nambah lagi jadi 2, 3 atau 4. Kalau akses rasanya jadi korban pemerasaan, mana mungkin ingin nambah?
Andai ketika menikah dan dalam jalani rumah tangga, lelaki mengakses rasa jadi korban pemerasaan, apa yang terjadi?
Dari contoh kasus hidup lelaki, artinya akses rasa hati di balik tindakan dan aktifitas itu pengaruh akurat pada hasil nyata yang diterima.
Murah hati Anda kepada orang lain seperti dermawan, pemaaf, legawa hati, neriman, mengalah, itu semua bisa diolah sebagai energi yang menguatkan diri Anda, sebagai self worth energy yang terus bekerja me-recharge energy untuk Anda, namun asal pas dalam mengakses rasa di hatinya.
Akses rasa kemurahan hati, dalam pengamatan saya, ada 3 hasil yang bisa didapatkan; 1). Hasil kerugian. 2). Hasil kebaikan. 3). Hasil kekayaan. Dan ketiganya cuma beda akses rasanya saja.
• Pertama, kemurahan hati dengan hasil kerugian. Hasil ini efek akses rasa hati sbb;
1. Rasa jadi korban. Umpama Anda dibegal dengan todongan senjata, di situ Anda murahkan hati Anda dengan terpaksa sebagai korban. Hasilnya Anda sakit hati, kehilangan, dan keterpurukan. Begitu pula ketika Anda sedekah, kasih nafkah, membayar dan lainnya, kalau dipicu rasa terpaksa juga hasilnya sakit hati, selalu merasa jadi korban yang konsekuensi korban adalah kehilangan dan keterpurukan.
2. Akses rasa ingin imbal balik. Ini akses rasa rentenir seperti jasa pinjol, kasih hutangan tapi ingin imbal balik keuntungan. Atau seperti praktek money politic, bagi-bagi duit tapi dengan akses rasa imbal balik ingin dipilih. Kalau Anda sedekah ingin imbal balik ya sama saja rentenir atau pemraktek money politic. Dan dua-duanya haram.
Dua akses rasa di atas sih bukan kemurahan hati, tapi malah sebaliknya; kategori rakus.
3. Akses rasa kekurangan. Umpama pagi-pagi Anda dimintai uang saku dan uang bensin oleh anak Anda yang mau sekolah, lalu muncul rasa, “Haduh uang tinggal sedikit,” itu uang yang Anda keluarkan kepada Anak berenergi kekurangan. Di getaran kesadaran demikian, Anda bermurah hati namun efeknya mengurangi harta, atau minimal berefek rezeki terbatas.
• Kedua, kemurahan hati dengan hasil kebaikan. Hasil ini efek akses rasa hati “berbuat baik” kepada yang lain.
Murah hati karena rasa ingin menolong dan kasihan, ini kesadaran berbuat baik secara sosial, benar-benar kemuliaan hati yang murni. Punya getaran rasa hati ini secara spiritual dan moralitas sangat utama. Kesalehan spiritual, kebeningan hati, dan surganya tidak perlu ditanyakan. Hanya saja titik lemahnya akses energi untuk menguatkan diri, untuk bangun self worth energy.
Murah hati dengan akses rasa berbuat baik ini jika tidak waspada berpotensi menerangi orang lain tapi diri sendiri terbakar, mengenyangkan orang lain tapi diri sendiri lapar. Mereka berpotensi besar kehabisan energi untuk dirinya sendiri sehingga seperti lampu senter yang kehabisan baterai. Kalau energi baterai sendiri habis, bagaimana bisa menerangi yang lain? Redup.
Berkah, ridha, ampunan Tuhan, jelas mereka peroleh, hanya itu—jika tidak waspada—berpotensi melemahkan diri.
• Ketiga, kemurahan hati dengan hasil kekayaan. Hasil ini efek bermurah hati dengan akses rasa kaya.
Misalkan, Anda bermurah hati dengan sedekah, sementara sedekah Anda dipicu rasa kaya, di mana rasa kaya diri adalah rasa menghargai diri, di situlah kemurahan hati Anda yang sebenarnya secara tindakan sedang keluarkan energi untuk menerangi orang lain, lalu efek hasilnya menjadi energi yang menguatkan diri sendiri.
Model akses rasa kaya dalam bermurah hati inilah akses rasa yang dimiliki orang-orang kaya dan para pemimpin kuat. Abdurrahman bin Auf, Umar bin Khatab, Abu Bakr, Utsman bin Affan, Yusuf Hamka, Jusuf Kalla, mereka punya power tangguh diakses rasa ini, sehingga ketika harta mereka dihambur-hamburkan untuk menerangi orang lain, justru mereka malahan makin kuat, tangguh dan kaya.
Akses rasa kaya dalam bermurah hati sangat susah muncul dari orang yang isi otaknya masih merasa kekurangan duit dan merasa pas-pasan.
Jadi kalau Anda masih merasa duit cekak, duit terbatas, duit sedikit, duit susah dicari, ya tidak akan muncul getaran rasa kaya ini dalam bermurah hati, hehehe apalagi yang isi otaknya pinginnya ngeluh kurang duit, sambat ora due duit, mereka masih akan susah sekali getarkan rasa kaya dalam bermurah hati.
Sudah jelas ya?
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply