Dengki itu kondisi hati yang cari bahagia dengan bersyarat yakni menggantungkan kebahagiaan pada celakanya orang lain. Kalau orang lain celaka, hati dengki akan bahagia, sebaliknya kalau orang lain beruntung, hati dengki akan sedih merana.

 

Karena menggantungkan kebahagiaan hati pada celakanya orang lain, hakikat dengki adalah getaran hati yang terus kirimkan getaran san+et terus menerus. Iya, Anda menyan+et, di situ kondisi hati Anda kan sedang cari bahagia, hanya saja bahagianya bersyarat dengan terjadinya kecelakaan buruk pada korban san+et Anda.

 

Jadi hati dengki itu getaran hati yang sedang kirimkan getaran san+et terus menerus kepada orang lain.

 

Kalau Anda disan+et orang, Anda sebagai korban san+et bukankah jadinya mendengki kepada pelaku? Mungkin awalnya hati Anda biasa saja kepada pelaku, tapi begitu tahu siapa pelakunya, hati Anda akhirnya mendengki juga kepada pelaku. 


Sebab ini pendengki dan korbannya akan terjebak dalam kondisi saling mendengki yang sama dahsyat. Pelaku jadi pendengki, korban juga jadi pendengki. Multi efek.

 

Bahagia yang digantungkan pada celakanya orang lain, sementara hidup itu menganut sistem tebar tuai, sehingga dengki berpotensi besar celakai diri sendiri sebab tuaian atau efek dari aktifitas getaran hati yang berharap akan celakanya orang lain.

 

Sama seperti Anda yang curi kendaraan tetangga, di situ Anda menebar celaka untuk orang lain, tuaiannya Anda digebuki orang, dipenjara, dikucilkan masyarakat, dan juga harus ganti kerugian materi orang yang Anda curi kendaraannya. Dengki pun begitu, hati Anda menebar kecelakaan pada orang lain, tuaian kecelakaan itu akan menghantam diri Anda sendiri.

 

Guru saya berwasiat, seorang pendengki sangat berpotensi punya keturunan yang bobrok kualitasnya, dikarenakan hukum tebar tuai berharap celaka pada orang lain. Orang tuanya alimnya luar biasa, anaknya goblok tidak punya karakter ilmu, orang tuanya kaya raya, anaknya miskin sengsara, orang tuanya akalnya sehat, anaknya gila. Dan seterusnya.

 

Potensi efek buruknya bisa diwariskan kepada anak karena memang hidup ini mengenut sistem warisan. Bukan hanya harta yang diwariskan, kemiskinan diwariskan, masalah diwariskan, hutang diwariskan, visi misi diwariskan, bahkan pahala dan karma juga diwariskan, dan seterusnya.

 

Rusia itu wilayah negaranya mewarisi Uni Soviet, negara penerus Uni Soviet, segalanya juga mewarisi Uni Soviet. Musuh Rusia adalah musuh warisan Uni Soviet, politik internasional Rusia adalah warisan kebijakan Uni Soviet, sekutu Rusia adalah sekutu Uni Soviet, dan seterusnya.

 

Jadi logis kalau efek dengki itu akibat dan resikonya bisa diterima oleh anak keturunan karena hukum waris ini, sebagai warisan karma buruk.

 

Dengki itu jelas buruk, namun adakah di antara Anda yang seumur hidup belum pernah mendengki ataupun didengki? Saya percaya tidak ada.

 

Mungkin ada yang merasa belum pernah mendengki atau didengki tetapi saya yakin itu hanya “merasa” saja dikarenakan kualitas self control yang buruk. Kalau mau cek diri, saya percaya semua orang pernah alami mendengki ataupun didengki.

 

Minimalnya kalau sedang tidak menyukai orang lain, disitu secara auto Anda akan terlibat dalam kedengkian. Begitu tidak suka, otomatis muncul pula harapan orang yang tidak Anda sukai alami celaka. Nah siapa yang belum pernah alami keadaan ini? Tidak ada.

 

Hal ini ditegaskan oleh ulama Ibn Rajab bahwa hasad lekat dengan tabiat manusia, yakni tidak ingin diungguli oleh siapapun dalam hal-hal kebaikan.

 

Oleh karena itu, sangat disarankan untuk tidak mengikuti rasa dengki saat ia muncul. Jangan ekspresikan hasad tersebut melalui anggota tubuh ataupun ekspresi wajah.

 

مَا خَلَا جَسَدٌ مِنْ حَسَدٍ، لَكِنَّ اللَّئِيمَ يُبْدِيهِ وَالْكَرِيمَ يُخْفِيهِ

 

“Tak ada jasad yang selamat dari dengki. Akan tetapi orang yang buruk menampakkannya dan orang yang baik menyembunyikannya.” (Majmu’ Fatawa : 10/125)

 

Jadi tidak ada yang bisa luput dari rasa dengki, hanya saja bagi Anda yang menyadarinya akan berusaha keras mengistighfarinya dan berusaha tidak menampakannya.

 

Sebegitu buruknya dengki, kenapa Tuhan tidak pernah meluputkan dengki dari hati seorang pun? Sedemikian mengerikannya, kenapa tidak ada hati seorangpun yang tidak pernah dihampiri rasa dengki?

 

Karena dengki itu manfaatnya besar juga untuk proses hidup Anda. Dengki itu manajemen stres. Sementara segala perubahan hidup itu karena adanya sistem stres di alam semesta.

 

Bodi tubuh Anda bisa tumbuh karena adanya stres yang dialami oleh sistem metabolisme tubuh dalam mencerna, menyerap, dan mengasimilasi makanan untuk diubah menjadi energi. 


Dalam proses metabolisme ada stres akut pada sistem pencernaan Anda, dimana usus-usus Anda begitu sadis mendengki kepada makanan, dihancurleburkan lalu diolah sedemikian rupa sehingga metabolisme tubuh benar-benar menggerus-gerus penuh dengki dengan utuhnya makanan yang masuk lewat mulut Anda.

 

Padi digubah jadi beras juga melalui mamajemen stres serupa, dimana padi masuk mesin penggilingan yang disitu kedengkian mesin penggiling padi pada kulit padi begitu sadis.

 

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lahir karena manajemen stres yang berlangsung cukup lama. Dimulai dari penaklukan satu persatu wilayah di nusantara oleh Belanda, sehingga menjadi satu wilayah Hindia Belanda.

 

Dalam proses penaklukan tersebut yang namanya stres berlangsung akut. Dilanjutkan stres perang kemerdekaan RI yang begitu banyak memakan korban. Baru kemudian dari manajemen stres ini lahirlah NKRI.

 

Nah dengki itu manajemen stres, sementara stres itu manfaat besar untuk alam semesta. Sebab ini sekalipun dengki begitu diiblis-ibliskan oleh Anda sebagai keburukan, tapi ya Tuhan tetap memeliharanya dan merawatnya, hingga hampir tidak ada seorangpun yang bisa lepas dari rasa mendengki dan didengki, sebab dengki itu hakikatnya adalah proses perubahan itu sendiri.


Kembali ke masalah dengki merupakan bahagia bersyarat yang digantungkan pada celakanya orang lain.

 

Bahagianya pendengki jika nikmat yang hadir dalam hidup Anda hilang. Nah di masalah ini, jika Anda menerima begitu saja nikmat yang Anda peroleh hilang, maka hati si pendengki makin angkuh dan bertepuk dada, dan tentu dengkinya tidak akan temui kesembuhan.

 

Sebab ini satu hal yang Anda harus berupaya keras bertahan, tidak boleh mengalah begitu saja, apalagi mengalah karena merasa lemah, yakni di perihal nikmat yang didengki. Umpama Anda didengki karena popularitas Anda terus naik daun, di permasalahan popularitas ini Anda jangan sekalipun berpikir mengalah dan kalah.

 

Kelahi, labrakran, serangan, cacian, barangkali Anda boleh mengalah, bahkan kadang wajib mengalah, tapi nikmat yang diperoleh yang didengki olehnya harus diperjuangkan untuk bertahan, syukur bisa bertambah nikmatnya. Dengan begitu Anda dapat pahala karena membantu si pendengki untuk sembuh dari penyakit hatinya.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *