JAGA SILATURAHIM DENGAN JAGA JARAK Orang selingkuh itu karena dekat. Orang dengki itu karena dekat. Orang memanfaatkan orang lain karena dekat. Orang terluka hatinya dalam cinta itu karena dekat. Orang bertengkar karena dekat. Bahkan, bisnis kondangan terjadi karena memanfaatkan pertemuan dan kedekatan. Lah, kok Anda masih berpersepsi kalau silaturahim itu artinya kumpul-kumpul dan saling mendekatkan diri? Tidak. Silaturahim itu menjaga hati agar tidak terjadi keretakan hubungan. Karena itu, silaturahim kadang justru dilakukan dengan membatasi diri, menjaga jarak, bahkan kadang harus disconnected dulu. Kadang kala kita memaksakan diri untuk connected, tetapi ternyata luka menjadi makin terbuka. Kita memaksa untuk bertemu, rasanya seperti munafik kepada diri sendiri karena hakikat isi hati belum bisa clear. Saat begitu, mau bagaimana lagi? Satu-satunya cara menjaga

Read More »

Baca di kitab tafsir Al-Qur’an As-Sa’di surat Al-Infithar ayat 13 – 14;   إِنَّ الْأَبْرارَ لَفِي نَعِيمٍ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ   “Sesungguhnya para al-abrar (orang-orang yang banyak berbuat baik) benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya al-fujjâr (orang-orang yang kurang ajar) benar-benar berada dalam neraka jahîm).”   Imam As-Sa’di menguraikan;   المراد بالأبرار، القائمون بحقوق الله وحقوق عباده، الملازمون للبر، في أعمال القلوب وأعمال الجوارح، فهؤلاء جزاؤهم النعيم في القلب والروح والبدن، في دار الدنيا وفي دار البرزخ وفي دار القرار.   وإن الفجار الذين قصروا في حقوق الله وحقوق عباده، الذين فجرت قلوبهم ففجرت أعمالهم لفي جحيم أي: عذاب أليم، في دار الدنيا و دار البرزخ وفي دار القرار.   Artinya: “Al-abrar adalah orang-orang yang menegakan

Read More »

Ini juga nasehat untuk diri saya sendiri. Semoga dengan saya tulis dan saya share menjadi taufiq bagi saya untuk konsisten mengamalkannya.   Saat Musa A.S. berguru kepada Khidhir A.S., salah satu prilaku Khidhir yang bikin Musa terperangah heran adalah saat keduanya tiba di sebuah desa yang dihuni penduduk yang mayoritas kikir.   Keduanya mencari orang-orang yang berkenan menjamu. Namun, tidak mendapatinya seorang pun. Meski demikian, Khidir tetap memperbaiki sebuah dinding rumah di kampung tersebut yang nyaris roboh.   Lagi-lagi merupakan perkara aneh. Mereka diketahui sebagai kaum yang kikir, namun Khidir mau memperbaiki dinding rumah mereka tanpa mendapat imbalan apa pun. Dipeliti malah Khidhir membantu dengan sukarela.   “Adapun dinding (rumah) itu adalah milik dua anak yatim di kota tersebut dan

Read More »
Scroll to Top