– Sengkolo Kantong Bolong
Salah satu persoalan spiritual uang itu terseret dalam kondisi penghasilannya besar tapi uangnya langka, orang Jawa bilang “sengkolo kantong bolong” yakni kesialan kantongnya berlubang.
Energi sengkolo kantong bolong adalah lawannya energi berkah.
Energi berkah itu rezekinya pas-pasan tapi luber untuk dikonsumsi banyak orang. Seperti seekor kambing dan satu gantang gandum milik sahabat Jabir bin Abdullah yang disembelih untuk kasih makan 1000 sahabat Nabi S.A.W yang sedang gotong royong gali parit (khandaq).
Satu kambing dengan satu gantang gandum untuk menyuguh Nabi S.A.W dan 1000 sahabatnya, ternyata kenyang semuanya, dan bahkan sisa. Itulah energi berkah.
Penghasilannya besar, tapi uangnya langka, boro-boro cukup malah tombok, lalu kemana hasil besar tersebut? Tentu diserap oleh kesadaran perasaan Anda.
Kesadaran berperasaan itu energi yang gubah semua wujud realita. Vladimir Putin punya perasaan marah kepada pemerintah Ukraina, bukankah satu negara Ukraina jadi luluh-lantak? Ukraina yang selama ini stabil dan terkenal denfan stok gadis cantiknya seketika luluh-lantak hanya karena dipicu rasa marahnya Putin.
Energi perasaan itu juga yang menyerap realita nikmat jadi penderitaan, realita derita jadi nikmat.
Seks itu gurih dan enak, tapi kalau perasaan yang muncul adalah rasa terpaksa, hubungan seks jadi menyakitkan. Tanya saja para korban pemerkosaan. Seks sebenarnya enak, bagi korban pemerkosaan jadi penderitaan.
Dirampok sebenarnya kedudukannya sama dengan sedekah karena hakikatnya menyerahkan harta sendiri kepada orang lain dengan cuma-cuma, tapi karena dirampok dilatarbelakangi rasa dipaksa, sedekah dilatarbelakangi rasa sukarela, akhirnya hukum akibat yang terjadi menjadi fatal bedanya. Dirampok melahirkan sosok korban, sedekah melahirkan sosok dermawan.
Para tentara ketika di kamp latihan, realita sebenarnya orang-orang yang sedang disiksa, tapi karena dilatarbelakangi kesadaran rasa tanggung jawab karir sebagai prajurit, akhirnya realita penderitaan menjadi kebahagiaan.
Jadi jelas kesadaran rasa itu berenergi dahsyat dalam implikasi realita.
Penghasilan besar, duitnya langka, itu juga jelas duitnya diserap oleh kesadaran perasaan Anda.
Lalu kesadaran perasaan seperti apa yang menyerap uang?
Begini. Kalau Anda egois, itu semua orang di sekitar Anda menjauh, mereka jadi langka dalam kehidupan Anda, hidup Anda jadi sunyi dalam keramaian. Penghasilan besar tapi duitnya langka itu karena Anda egois kepada uang.
Egois itu cari menang sendiri, cari untung sendiri, cari nikmat sendiri, cari enak sendiri, tidak peduli keadaan orang lain. Nah kesalahan kesadaran dalam membelanjakan uang itu yang jadikan Anda egois kepada uang.
Anda belanjakan uang tapi untuk layani rasa hedonis Anda, belanjakan uang tapi untuk turuti gaya hidup Anda, belanjakan uang tapi untuk menyenangkan diri sendiri saja, belanjakan uang tapi untuk turuti hura-hura, tanpa ada transfer kesadaran untuk menguntungkan dan membahagiakan orang lain, yang seperti itu yang disebut sikap egois kepada uang.
Kondisi kesadaran seperti itu ya sudah uang yang hadir dalam hidup Anda mau sebesar apapun akan raib semua, malah kurang.
Perbaikannya, bagaimana? Biasanya mereka yang alami keadaan sengkolo kantong bolong sibuk mengevaluasi uang, diingat-ingat buat apa saja, kesalahan pengeluaran uangnya dimana, berpikir harus lebih hemat lagi, dan seterusnya.
Lah wong uang salah apa-apa tidak, uang punya kesadaran juga tidak, malah dievaluasi. Kalau uang punya salah dan khilaf, baik dan benar, ya nanti Tuhan akan menghisab uang di hari kiamat, lalu ada mata uang yang masuk neraka dan masuk surga, ada mata uang mukmin dan kafir.
Yang harus dievaluasi itu diri Anda, bego!
Perbaikannya dengan ganti kesadaran perasaan Anda.
Masalahnya kan kesadaran egois kepada uang, segala bentuk pembelanjaan harta hanya untuk kesenangan dan hura-huranya sendiri, nah tinggal ganti niatnya, yakni dengan Anda belanjakan harta untuk alirkan rezeki kepada orang lain. Lah iya, Anda beli sandal harga 30 juta, diniatkan sesadar-sadarnya untuk alirkan rezeki kepada si penjual beserta seluruh jaringan bisnisnya, kan jadi enak di iman, enak juga di uang?
Sederhana ya, hanya ganti kesadaran rasa? Eits nanti dulu. Anda benci kepada seseorang, apa bisa begitu dinasehati agar jangan membencinya lalu seketika Anda bisa menggantinya? Tidak bisa. Rasa sayang jadi benci, rasa benci jadi sayang, butuh proses berliku dan waktu panjang.
Demikian pula mengganti kesadaran hedonis menjadi kesadaran melimpahi orang lain, butuh proses dan waktu yang sama.
Untuk mempercepat perbaikan kesadaran, sebaiknya banyak-banyak istighfar kepada-Nya, mohonlah ampunan. Konsisten baca istighfar seharinya 3000 kali dalam waktu 3 tahun dengan istiqamah juga biasanya sudah clear. Sebentar, ya? ![]()
![]()
![]()
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply