Kemarin saya pijat kepada salah satu wali santri di pesantren saya. Saya sudah kenal lama dengannya. Memang dia sangat baik hati. Hatinya sangat mulia. Pemurah, pemaaf, rendah hati, dan selalu kedepankan kenyamanan dan kepentinhan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
Ketika saya dipijat, saya coba koreksi dirinya, karena saya curiga dia tipe orang yang tidak bisa kenali dirinya kalau dia pun berharga, ingin beruntung dan ingin dapat pertolongan juga seperti kemurahan hatinya mengedepankan orang lain.
Saya ingin mengoreksinya karena tahu dia terlihat kekurangan finansial. Dilihat dari motornya kalau datang ke rumah saya, ya bukan motor baik-baik, tapi sisi lain kalau bawa oleh-oleh bertamu terbilang istimewa.
Saya koreksi, dan eits betul, apa yang saya curigai benar adanya.
Dia dagang di pasar kecamatan. Kalau ada tetangga rukonya berhalangan tidak bisa buka ruko, ia bergegas bukakan untuk jualkan dagangan temannya, dan tanpa mau diberi imbalan sedikitpun.
Kalau ada pembeli menawar sangat rendah, ia sudah beranikan diri batalkan transaksi karena tipis sekali untungnya. Tapi begitu si pembeli beranjak pergi, ia panggil lagi, tidak tega, lalu transaksi dilanjutkan.
Apalagi kalau ada pembeli terlihat pas-pasan uangnya, dengan kemurahan hatinya, ia berikan harga termurah, hatinya berkata, “Untung sedikit nggak papa, asal berkah.”
Dengar itu, saya lalu nasehati dia pentingnya menghargai diri, yang nanti akan saya jekaskan di sini.
Dan dia kan mijat pasien selalu dengan istrinya, datang ke rumah saya juga dengan istrinya. Dia pijat saya, dan istrinya pijat istri saya. Durasi mijatnya 2 jam.
Karena 2 jam mijat, saya kasih amplop lebih. Suaminya menerima karena sudah saya nasehati pentingnya hargai diri, istrinya karena memijat istri saya belum dinasehati. Ketika saya amplop untuk pengganti jasa pijatnya, suami menerima, istri menolak keras.
Si istri malah bilang, “Kalau dibayar, Gus, besok saya ga mau lagi diundang pijat kesini. Betul, Gus, kami memijat Gus Banan dan keluarga tulus hanya ingin cari berkah.”
Dijawab begitu, saya bereaksi lebih ugal-ugalan lagi, “Kalau mau ambil berkah dari saya syaratnya harus mau terima ini,” jawab saya tegas sambil paksakan berikan amplopnya, “Kalau ga mau terima, ga ada berkah.”
Sebenarnya saya jawab begitu sambil ngakak sendiri di hati, “Berkahnya Gus Banan, dia tidak tahu Gus Banan ngefansnya sama Maria Ozawa.” ![]()
![]()
![]()
Lain kali ada satpam SMK Darul Abror. Dia juga penyakitnya begitu. Sangat mulia hatinya, murah hati, dan total pengabdiannya.
Dia diangkat sebagai satpam sekolah, tapi kepeduliaan kerjanya meluas kemana-mana. Ada WC kotor, tandang bersihkan, ada ruang berantakan, tandang beres-beres. Padahal tenaga caraka ya sudah ada sendiri.
Dan saya tahu, satpam ini sangat kekurangan finansial. Rokoknya saja kadang jalan, kadang terhenti.
Suatu ketika dia ke rumah saya mengadukan caraka sekolah yang dinilainya kurang tanggung jawab kerja. Bukan cuma sekali dia datang mengadu, tapi bolak-balik.
Nah pada pengaduan terakhir, saya jitak dia dengan pentingnya menghargai diri. Lah dia sampai stres bolak-balik mengadu kok ya hanya untuk mengadukan persoalan milik orang lain. Lah iya, soal caraka tidak efektif kerja, itu kan tanggung jawab kepala sekolah untuk menertibkan, bukan tanggung jawab satpam.
Kenapa orang yang berhati mulia seperti di atas malahan kesulitan finansial? Begini.
Kalau Anda seharian penuh hanya bantu dorong gerobak orang, padahal tidak ada bayaran tidak apa, kira-kira dalam sehari itu masihkan ada sisa energi untuk membantu diri Anda sendiri? Seharian hanya bantu dorong gerobak orang, lalu malamnya Anda disuruh kerja lagi cari rezeki untuk makan Anda, apa Anda masih kuat? Tentu sudah habis energinya.
Karena itu semua energi alam semesta memiliki sistem pengisian energi untuk dirinya sendiri. Ada yang dengan cara makan minum, ada yang dengan isi ulang, ada yang dengan ganti suplai energi, dan lain-lain.
Makhluk hidup melakukan pengisian energi dengan makan dan minum. Smarphone dengan recharge. Jam dinding dengan ganti baterai baru. Tumbuhan dengan ambil humus tanah, penyiraman dan fotosintetis.
Kendaraan bermesin dengan isi ulang bahan bakar. Dan seterusnya. Yang jelas, semua energi punya sistem recharge energy. Ini sunnatullah.
Lampu senter Anda dipakai terus menerus untuk menerangi tanpa recharge energy, bukankah lama-lama mati karena kehabisan energi? Setelah habis energinya, apa lampu senter bisa bermanfaat?
Nah sekarang diketahui kenapa wali santri pesantren saya dan satpam SMK Darul Abror di atas hidup kekurangan dan serba pas-pasan, padahal mereka sangat mulia hatinya?
Jawabannya karena mereka lampu senter yang terus menerangi orang lain tapi tidak sadar pentingnya recharge energy untuk dirinya sendiri, tidak sadar pentingnya makan. Hasilnya ya energi rezekinya redup karena lapar tidak pernah kenyang.
Terus-terusan mereka bikin orang lain dapatkan kemudahan, sampai mereka kerap mempersulit diri sendiri. Terus-terusan mereka peduli kepada orang lain sampai mereka tidak peduli kalau diri mereka terbebani. Terus-terusan mereka menguntungkan orang lain sampai tidak peduli telah merugikan dirinya sendiri.
Terus-terusan mereka mengutamakan orang lain sampai mereka tidak tahu kalau dirinya jauh lebih berharga. Lah energi cuma dipakai saja untuk terangi orang lain, ya lama-lama mati lemas karena energinya sendiri tidak pernah diisi.
Saat Anda mengalah, saat Anda neriman, saat Anda memaafkan, saat Anda melepaskan ego, saat Anda dermawan kepada orang lain, saat Anda membantu orang lain, saat Anda berdamai dengan tekanan hidup, saat Anda mengabdi, saat Anda berbakti, ingat ya, itu semua sistem pemakaian energi diri Anda yang dipakai untuk kelestarian orang lain. Bila Anda tidak sadar bahwa diri Anda juga berharga, Anda mati sendiri kehabisan energi.
Orang yang sedemikian mulia hatinya betul mereka orang shaleh, ahli surga, ahli peroleh ampunan Tuhan, ahli kebaikan, ahli berkah, cuma itu mereka kerap kesulitan duit.
Barangkali mereka energi surganya besar, namun itu kehidupan dunianya sepertinya jauh dari hasanah.
Karena itu berpikir cari untung untuk diri sendiri itu kadang perlu, berpikir egois itu kadang perlu, berpikir cari menang sendiri itu kadang perlu. Tersinggung, marah, berontak, narsis, bahkan mengamuk itu kadang perlu.
Minat menonjol, minat terdepan, minat kaya, minat berprestasi, minat sukses, minat superior, itu kadang perlu. Intinya hargai diri Anda sendiri.
Sebab dari sikap-sikap ego sentris seperti itulah sistem recharge energy hidup berlangsung. Tanpa recharge energi, bagaimana Anda mau bermanfaat untuk orang lain? Bahan bakar mesinnya habis, bagaimana mobil akan bermanfaat?
Loh Nabi SAW kan kalau memberi itu dermawannya seperti angin bertiup? Kalau memaafkan segera move on? Nah besok saya lanjutkan di part 2 ya, cara instalasi recharge energy di dalam diri.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply