Malaikat tidak punya rasa khawatir, justru hidupnya stagnan, tidak bertumbuh kecuali seperti apa yang telah dikodratkan alam semesta. Maka ini rasa khawatir bukan berarti keburukan, rasa khawatir sebenarnya perangkat lunak motivasi yang ter-install dalam diri Anda.
Rasa khawatir dalam spiritual Islam disebut khauf sebagai lawan “raja’” atau “harapan”. Karena harapanlah, Anda lalu memiliki kekhawatiran, itulah yang kemudian menyuguhkan rasa “harap-harap cemas” dalam diri Anda.
Kucing sering kali tertabrak kendaraan di jalanan karena si kucing hanya sedikit kekhawatirannya ketika menyeberang atau ketika tiduran di jalanan. Jadi khawatir sebenarnya bukan keburukan, merupakan energi penyeimbang dari rasa berharap.
Khawatir adalah sikap berpikir berlebihan atau terlalu cemas tentang suatu masalah atau situasi. Kekhawatiran biasanya disertai dengan rasa tidak nyaman dan kecemasan.
Sikap ini menyebabkan seseorang menjadi terganggu, memusatkan pikiran pada kejadian negatif yang mungkin terjadi, serta dilanda ketakutan yang tidak masuk akal dan tidak berdasar. Pada kondisi parah, rasa khawatir dapat menyebabkan kecemasan parah serta panik, dan mungkin akan menjadi masalah kronis.
Dalam urusan spiritual uang, khawatir itu musuh bebuyutannya uang.
Anak Anda–sampai kelas 9–sekolahnya sudah dijamin negara melalui BOS (Biaya Operasional Sekolah), lalu Anda khawatir sekali tidak bisa sekolahkan anak hingga lulus SMP, apa mental Anda waras?
Uang itu jaminan rezeki dari Allah, makanya antipati dikhawatiri, entah dengan alasan apapun.
Nah disini sebenarnya yang kerap menyabotase tindakan Anda dalam memperbaiki finansial. Gara-gara rasa khawatir, tindakan Anda sebenarnya “mengamankan uang” tapi hasilnya malah berantakan tidak karuan.
Anda bertindak menabung, itu tindakan mengamankan uang, tapi getaran kesadarannya karena Anda khawatir di hari depan kekurangan dana, atau khawatir kalau tifak menabung nanti tidak bisa kaya, nah itu sabotasenya. Andai Anda menabung dengan getaran kesadaran memelihara amanah rezeki Allah kan jadi beda resikonya?
Anda bertindak ikut BPJS Kesehatan, itu tindakan amankan uang, namun getaran kesadarannya khawatir kalau sewaktu-waktu sakit tidak bisa biayai, di situ sabotasenya. Andai kesadaran ikut BPJS Kesehatan karena hargai jiwa raga Anda agar lebih sehat, hasilnya tentu lain.
Yang banyak terjadi itu irit yang ujar-ujar akan aman dari pemborosan tap hasilnya malah kebobolan uang sekalian, itu jelas karena rata-rata orang irit karena khawatirnya pada kekurangan uang terlalu besar.
Nah banyak orang bangun sistem amankan uang, namun tidak ada pertumbuhan berarti, itu karena kesadarannya disetir kekhawatiran-kekhawatiran.
Jika khawatirnya pada kualitas jiwa sebenarnya tidak masalah. Misal Anda irit tapi karena khawatir tidak bisa biayai anak kuliah. Kuliah itu urusan ilmu, ilmu itu terhubung dengan kualitas jiwa.
Atau seperti santri-santri saya yang puasa harian. Mereka puasa bukan khawatir uangnya boros namun puasa karena khawatir kalau menuntut ilmu tidak disertai laku prihatin nanti ilmunya kurang manfaat.
Jiwa itu berlawanan dengan rezeki. Kualitas jiwa tidak ada jaminannya. Anda tidak ada jaminan jadi orang berilmu, tidak ada jaminan jadi orang shaleh, tidak ada jaminan orang bertakwa, karena itu segala hal terkait urusan jiwa itu harus dikhawatiri.
Nah kalau rezeki yang jaminan lantas dikhawatiri, itu namanya bego kuadrat.
Jadi ceck and riceck ke dalam, sudahkah tindakan Anda dalam finansial itu terminimalisir dari kesadaran khawatir urusan rezeki? Makin terminimalisir, rezeki Anda makin mengalir harmoni.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply