MEI 2023

MEI 2023

MEMENDAM BENCI KEPADA ORANG TUA SENDIRI

Satu ketika saya bermasalah dengan orang tua, bukan masalah sepele, yang jelas sudah menyangkut benar dan salah. Namun di tulisan ini tidak saya ceritakan kronologi masalahnya.   Di masalah tersebut jelas sekali saya di posisi benar, dan orang tua saya di posisi salah. Saya pun mengkritik orang tua dengan rasa marah, layaknya saya sedang mengkritik tetangga sebelah yang berbuat salah.   Pagi hari saya mengkritik dengan nada jengkel, sore harinya saya dituruni azab oleh Tuhan, saya kecelakaan motor hingga mengalami cidera berat di tulang pundak kanan, butuh waktu rawat 3 bulan untuk pulih.   Orang tua punya hak otoriter pada anak, salah jelas beliau salah, tapi tidak bisa dikritik oleh anak-anaknya, apalagi dikritik dan dijelek-jelekkan dengan kemarahan dan dendam. Kenapa demikian? Sebab tingginya derajat orang tua di depan anaknya, Tuhan memberi hak istimewa pada mereka.   Anak tidak punya hak mendidik, maka ini saya tidak diperkenankan mengkritik orang tua sendiri. Walaupun anak di posisi benar, lalu sok-sokan mendidik orang tuanya agar kembali ke jalan yang lurus, Tuhan akan tetap menimpakan murka-Nya kepada anak.   Lah iya, jangan dulu melihat budi orang tua pada anak, melihat kedudukan di alam semesta saja, orang tua berada di level sangat tinggi dari anak, di mana level ini paten, eksak dan permanen, tidak bisa digeser lagi. Apakah Anda sanggup melahirkan orang tua Anda? Kalau sanggup, berarti Anda bisa menggeser patennya kedudukan tinggi orang tua.   Tidak ada hak didik dari anak pada orang tua. Mau mendidik orang tua? Kurang ajar amat.   Hak anak pada orang tua ketika mereka menyakiti hati anak yang pertama adalah mengajak sharing, itupun harus disampaikan dengan adab tinggi. Umpama orang tua Anda terlalu memeras diri Anda, jatah bulanan sudah diberikan, tapi orang tua minta dibuatkan rumah yang sangat memberatkan Anda.   Di keadaan demikian, umpama Anda merasa berat melaksanakan permintaan orang tua, Anda tidak boleh menolak dengan kasar, tapi ajaklah orang tua Anda untuk sharing, ajak bicara baik-baik dengan rasa keberatan Anda.   Kalau masih belum mengerti juga, Anda harus mengalah dan diam. Permintaannya untuk buatkan rumah tetap tidak Anda turuti karena Anda memang belum mampu, tapi mereka jangan sampai Anda cela, dan pesangon bulanan yang memang sudah Anda niatkan sebagai rasa bakti tetap Anda jalankan.   Harus ajak orang tua untuk sharing ketika Anda mengalami hal-hal yang tidak Anda setujui atas orang tua Anda. Umpama lagi, Anda melihat orang tua Anda bermental kere, ajak mereka sharing dengan adab tinggi, kalau tetap tidak berubah, Anda tidak dibolehkan mengkritik tajam, namun harus dapat menerimanya dengan sabar.   Tips terakhir, paling hak Anda mendoakan orang tua agar diampuni kesalahannya, itu saja.   Cara-cara itu adalah cara-cara Nabi Ibrahim A.S. ketika berselisih paham dalam ideoligi bertuhan. Pertama Ibrahim mengajak sharing dengan adab tinggi dan santun. Ketika orang tuanya menolak dengan kasar, Ibrahim tidak membalas dengan kekasaran, Ibrahim memaksakan dirinya untuk menerima orang tuanya apa adanya.   Yang pada akhirnya Ibrahim hanya bisa mendoakan orang tuanya agar tetap diampunkan kesalahannya;   رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ “Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan orang-orang mukmin pada hari ditegakkannya hisab.” (Q.S. Ibrahim : 41)   Pada ayat lain, doa Ibrahim untuk orang tuanya;   وَاغْفِرْ لأبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ “… dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat.” (Q.S. Asy-Syu’ara : 86)   Walaupun akhirnya doa Ibrahim ditolak Tuhan, tetapi yang terpenting adalah mendoakan yang terbaik untuk orang tuanya, diijabah ataupun ditolak, itu urusan Tuhan, bukan urusan Anda.   Saya mengamati dalam kasus sehari-hari, di lingkungan ataupun di keluarga saya, orang-orang yang tidak dapat menerima orang tuanya setulus hati mereka cenderung terpuruk hidupnya, jika tidak terpuruk, kehidupan mereka stagnan di tempat. Walaupun mereka sudah bekerja keras, kreatif, dan penuh dedikasi, tetap kehidupan mereka tidak mendapat perubahan.   Pada kasus anak yang hidupnya stagnan dan tidak temukan perubahan hidup, si anak memiliki dendam pada orang tuanya. Di belakang, dia suka menjelekkan orang tuanya sendiri, walaupun tidak sampai berani menjelekan di depannya.   Memang kalau diamati, si anak benar, dia sangat tidak menerima orang tuanya bermental kere, sering buat malu dan merepotkan dirinya. Tapi itu, di alam semesta ini orang tua punya hak otoriter pada anaknya, sehingga si anak tidak bisa berkembang hidupnya.   Di kasus lain, ada yang hidupnya makin hari makin ruwet, makin hari makin terpuruk, ternyata level dendamnya pada orang tua sangat tinggi. Ketika dia berselisih masalah dengan orang tua, dia akan mengkritik orang tuanya seperti mengkritik musuh bebuyutannya. Bolak-balik azab Tuhan turun, hartanya habis untuk membiayai berbagai azab yang turun, mulai dari istrinya yang bolak-balik masuk rumah sakit selama bertahun-tahun, sampai dia sendiri yang akhirnya menerima berbagai musibah.   Itulah keputusan Tuhan, hukum paten alam semesta, sebaik apapun anak, bukan derajatnya mengkritik orang tuanya, hak anak hanya mengajak sharing orang tua, dan mendoakannya.   Apapun keadaannya, Anda harus mampu menerima orang tua Anda, menerima dengan tulus setulus-tulusnya, tanpa sedikitpun menyisakan dendam, dan walaupun orang tua Anda adalah orang terburuk di muka bumi. Kenapa demikian?   Karena Anda tidak dapat memilih dari orang tua mana Anda dilahirkan. Kalau bisa memilih, Anda tentu akan memilih lahir dari pasangan orang tua Muhammad S.A.W dan Khadijah Al-Kubra, atau dari pasangan Daud A.S dan Baseba yang kaya raya, berkuasa, dan saleh.   Tapi Anda tidak dapat memilih dari orang tua mana Anda lahir, mau tidak mau, terima tidak terima, Anda lahir dari orang tua yang sudah dituliskan oleh alam semesta. Kelahiran Anda itu otoritas kuasa yang sangat otoriter. Karena Anda dipaksa alam semesta untuk menerima dari orang tua mana Anda dilahirkan, maka ini Anda pun dipaksa untuk menerima seluruh keadaan orang tua Anda seutuhnya, tanpa tawar.   Seburuk apapun orang tua Anda—tanpa tawar—Anda harus menerimanya seutuhnya, sama seperti Anda menerima ketika harus lahir dari orang tua A atau B.   Setelah menerima orang tua Anda seutuhnya, Anda harus berbakti, memuliakan dan menyejahterakan hidupnya. Menerima orang tua seutuhnya itu takdir yang eksak dari alam semesta. Menerima orang tua sama artinya menerima seutuhnya Tuhan yang Anda sembah.   Demikian ini karena hanya Tuhan saja yang terlibat dalam menentukan

MEI 2023

ENERGI MERTUA VS ORTU KANDUNG

Nabi Muhammad SAW itu menantu Abu Bakar. Posisi Nabi SAW adalah anak dan Abu Bakar adalah orang tua. Kalau keduanya bertemu, kira-kira siapa yang cium tangan dengan penuh hormat? Nabi SAW sebagai anak yang cium tangan Abu Bakar, atau Abu Bakar sebagai orang tua yang cium tangan anak menantunya?   Sekarang andai Abdullah bin Abdul Muthalib; ayah kandung Nabi SAW masih hidup hingga masa kenabian Muhammad, ketika Nabi SAW sekalipun telah menjadi manusia agung ketika bertemu Abdullah, siapa yang cium tangan? Nabi SAW yang cium tangan ayah kandungnya, atau Abdullah yang cium tangan Nabi SAW sama seperti Abu Bakar sebagai ayah mertua?   Mertua dan orang tua kandung keduanya didudukan sebagai orang tua bagi anak, bedanya orang tua kandung itu orang tua sebab nasab (pertalian darah) sementara mertua itu orang tua sebab pernikahan (mushaharah).   Mertua diikatkan kepada menantu sebagai orang tua dan menantu diikatkan sebagai anak kepada mertua dikarenakan untuk menjaga ketertiban nasab. Iya masa sudah kawini anak putrinya kemudian si menantu kawini juga ibu dari istrinya? Kalau lahir anak kan jadi membingungkan mana anak mana cucu, mana istri mana orang tua. Rancu.   Karenanya hubungan menantu dan mertua diikatkan melalui sistem mahram seperti orang tua kandung sendiri atau seperti anak kandung sendiri dimana mertua tidak boleh dinikahi oleh menantu, dan sebaliknya, persis sama seperti ketidakbolehan menikahi anak kandung atau ortu kandung sendiri. Selanjutnya model hubungan mahram ini disebut mahram mushaharah.   وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُواْ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ “(dan haram menikahi) ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, istri-istri anakmu dari sulbimu.” (Q.S. An-Nisa’ : 23)   Jadi kenapa menantu Anda menjadi anak Anda dan mertua Anda menjadi orang tua Anda? Itu untuk menjaga sistem darah agar tertib.   Sama-sama orang tua, antara orang tua kandung dan mertua itu beda sekali energinya bahkan karma-karmanya. Seperti saya jelaskan di atas, sekalipun Abu Bakar adalah orang tua bagi Nabi SAW namun di depan Nabi SAW energi Abu Bakar berbeda dengan Abdullah sebagai ayah kandung.   Setinggi-tingginya derajat Nabi SAW tetap beliau harus merunduk kepada ayah kandung beliau, ibarat saling cium tangan saat bersalaman, Nabi SAW tetap harus mencium tangan Abdullah, power energin orang tua kandung tetap tidak bisa dilampoi oleh anak. Beda dengan Abu Bakar sebagai orang tua karena mertua, power energinya bisa dilampoi.   Makanya di Jawa yang penggunaan bahasa Jawa menggunakan strata sosial, ketika seorang mertua punya menantu orang besar itu banyak mertua di Jawa yang pakai bahasa Krama Inggil kepada menantunya, seolah seperti tidak sedang bicara dengan anak sendiri namun sedang bicara dengan guru agung.   Orang tua kandung itu orang yang mengasihi anak melampoi kasihnya kepada diri sendiri. Saya sendiri merasakan ketika anak kandung saya direndahkan oleh orang lain maka saya yang paling tersinggung, tidak rela.   Begitu pula ketika anak saya punya prestasi maka yang paling bangga adalah saya. Anak kandung itu karena ada aliran darah sendiri maka kemudian ia bukan siapa-siapa tapi ia adalah diri Anda sendiri.   Maka ini benar yang kemarin disampaikan Mas Arif Rahutomo satu-satunya orang di muka bumi yang berharap diri Anda agar lebih hebat darinya adalah orang tua kandung Anda.   Berbeda dengan mertua. Banyak mertua keberatan menantunya lebih hebat darinya, banyak mertua keberatan untuk membanggakan menantunya sendiri, itu karena hakikatnya secara energi mertua itu sama seperti tetangga, dia adalah orang lain dalam diri Anda, hanya saja karena ikatan mahram untuk jaga ketertiban perkawinan dan nasab, maka mertua diikatkan sebagai orang tua dan Anda adalah anak. Namun ikatan ortu-anak tersebut hanya mengikat secara darah tidak mengikat secara energi.   Sudah menjadi ungkapan umum, “Umah mertua kui nerakane dunya,” artinya rumah mertua itu nerakanya dunia. Atau ungkapan umum lainnya, “Mertua kui maru,” artinya mertua itu seperti istri madu, maksudnya hubungan mertua dengan menantu itu seperti hubungan antara para istri dalam satu pernikahan poligami.   Tentu tidak semua mengalami ketidakharmonisan hubungan dengan mertua, namun yang alami rumah mertua adalah “nerakane dunya” juga banyak. Itu kerap terjadi karena hakikatnya ketika seorang menantu masuk ke rumah mertua sekalipun itu disebut rumah orang tua sendiri tetapi energi yang tersebar dan tertangkap itu berbeda sekali dengan rumah orang tua sendiri.   Di rumah mertua bangun tidur agak kesiangan saja sudah makan hati, beda sekali dengan rumah orang tua sendiri, bangun jam 12 siang lalu minta uang ya enak-enak saja, sebab secara energi menantu itu tetap tetangga mertua, dan mertua tetangga si menantu. Kalau tetangga masuk rumah orang lalu menetap sekian lama, ya banyak makan hatinya.   Karena energi orang tua kandung dan orang tua mertua itu beda, karma-karmanya juga berbeda.   Karma anak kepada orang tua kandungnya itu karma mutlak, dimana ridha orang tua adalah ridha Tuhan, sebab hanya otoritas Tuhan yang terlibat dalam menentukan Anda terlahir dari orang tua mana.   Mungkin Anda akan ridha kepada Tuhan ketika Tuhan tentukan Anda terlahir dari orang tua yang baik dan memuliakan Anda, namun Anda belum tentu ridha pada-Nya ketika Anda ditetapkan terlahir dari orang tua yang buruk dan menyia-nyiakan anaknya.   Demikian pula hanya Tuhan yang tentukan Anda mau punya anak siapa. Barangkali Anda ridha kalau Anda ditentukan lahirkan anak shalih, namun ketika Dia tentukan Anda lahirkan anak bejat, apa Anda bisa ridha? Hanya Tuhan yang terlibat tentukan Anda lahir dari orang tua mana dan Anda akan melahirkan siapa.   Berbeda dengan mertua. Anda mau punya mertua siapa dan punya anak menantu siapa, disitu tidak hanya Tuhan yang menentukan, namun diri Anda juga ikut terlibat. Mau jadi menantunya Raja Charles bisa, mau jadi mertuanya Maria Ozawa juga bisa. Anda bisa memilihnya.   Energi karma mertua itu beda sekali dengan karma orang tua kandung. Karma dengan orang tua kandung itu mutlak, sebab seburuk-buruknya orang tua kepada Anda, dia tetap punya jasa besar telah lahirkan Anda dan mengfasilitasi Anda hidup gratis di kandungannya.   Sebab itu menghadapi orang tua kandung yang durhaka kepada anak, si anak

MEI 2023

JIKA ANDA KUALAT DARI SESEORANG

Anda amati bagaimana pelanggan rumah makan tidak menjadi raja. Butuh air minum, tinggal suruh, butuh makan, tinggal suruh, butuh asbak, tinggal suruh, piring dan meja kotor, bodoh amat, mereka jadi ratu yang dilayani sebaik-baiknya. Kenapa itu terjadi? Karena pembeli sanggup membayar lebih.   Pemilik rumah makan atau penjual sebenarnya telah membayar kepada pembeli. Dia sediakan nasi dan lauknya, tempat makan, alat makan, layanan, itu semua harga yang dibayarkan penjual kepada pembeli.  Namun pembeli ada kesanggupan membayar lebih karena setiap pembeli tentu membayar dengan memberi keuntungan kepada penjual.   Sama-sama membayar, namun pembeli sanggup bayar lebih berupa keuntungan untuk penjual itu yang jadikan pembeli punya aura kemuliaan. Karena beraura mulia, dia dilayani, dihormati, diperhatikan kebutuhannya, dicari-cari, dan bentuk pemuliaan lainnya.   Anda ingin beraura mulia? Ya ini kuncinya, secara sosial Anda gemarlah membayar lebih kepada kehidupan.   Umpama Anda jadi pegawai negeri sipil, Anda dibayar oleh negara, tapi kalau ingin beraura mulia, Anda harus bayar lebih kepada negara, bayar dengan pengabdian dan pelayanan.   Umpama Anda seorang istri sudah dibayar nafkah oleh suami, ya bayar lebih dengan kebaikan dan ketaatan kepada suami.   Umpama Anda seorang suami, sudah dibayar ketaatan oleh istri, ya bayar lebih dengan nafkah dan kasih sayang. Umpama Anda pedagang, sudah banyak dibayar cuan oleh pembeli, ya bayar lebih dengan sedekah di luar dagang. Membayar lebih secara sosial itu kunci beraura mulia.   Lebih mulia lagi, misalkan Anda masuk warung mie ayam, harga 11 ribu per mangkok lantas Anda bayar 15 ribu tanpa pengembaliaan, disitu Anda tidak sekedar dilayani tapi Anda akan super dimuliakan dan dihormati.   Waktu saya ke Eropa, saya belum kenal semua peserta. Nah ada seorang peserta yang punya energi dihormati dan dimuliakan kuat sekali. Dari hati ke hati energinya menarik kami untuk menghormati dan segan, padahal saya sendiri sama sekali belum kenal.   Ketika saya simak pembicaraan beliau, selalu bertema ilmu fisika dan elektro, ya intelektualitasnya tinggi. Nah lisannya untuk bicara itu tidak jelas sehingga kami banyak tidak paham apa maksudnya, iya saya dan teman-teman tidak paham karena antara satu ucapan dengan ucapan lainnya saling bertubrukan tidak jelas. Namun aneh, ketika beluau bicara kami dengan hormat menyimak dan mendengarkannya dengan khidmat.   Seharusnya respons dan reaksi untuk pembicara yang bertumpuk ucapannya ya, “Ngapain didengerin. Ga jelas,” tapi kami serombongan Eurotrip justru khidmat sekali mendengarkan, kami seperti ditarik magnet kuat untuk mendengarkan ceramah Zainudin MZ yang fasih.   Nah orang seperti beliau ini pasti orang yang energi membayarnya telah besar. Dari bayaran jerih payah dan pengabdian dalam karir tentu beliau telah membayar besar dan lebih. Dan konsistensinya bayar lebih terbukti juga di Eropa. Biaya roaming internet di Eropa itu mahal. Saya saja pakai roaming Telkomsel Halo 650 ribu untuk paketan 30 hari, dan ternyata boro-boro kuat 30 hari, 3 hari sudah ludes kuotanya.  Tiap 3 hari sekali 650 ribu ludes. Nah beliau malah mengumumkan agar teman-teman yang tidak punya kuota, bebas tethering ke handphone beliau. Padahal kalau di-tethering, kuota yang harusnya habis 3 hari, bisa sejam dua jam ludes. Dan saya tidak tahu sepulang dari Eropa berapa belas juta beliau bayar roamingnya.   Beliau gemar bayar lebih kehidupan, itu yang kenapa setiap orang yang bertemu beliau seperti menangkap energi kemuliaan beliau sebab mekanisme di atas dimana pembeli beraura mulia ya karena pembeli sanggup bayar lebih.   Anda searching di Youtube sosok Habib Syaikhon bin Musthofa Al-Bahar atau Wan Sehan, beliau sosok waliyullah yang terkenal majdzub, dimana prilaku beliau sehari-hari seperti orang gila. Lah prilaku seperti orang gila kok bisa-bisanya orang yang hadir di sekeliling beliau sangat hormat dan memuliakan beliau. Beliau dihormati dan disegani selayaknya para raja. Itu energi apa?   Itulah energi orang yang daya bayarnya sudah sangat besar di alam semesta ini, entah apapun bentuk bayarannya, yang jelas bayaran lebih.   Sekarang kalau Anda beli mie ayam harga 11 ribu per mangkok, Anda hanya bayar 8 ribu lalu Anda kabur, apa yang terjadi? Ya Anda dibangs4t-bangs4tkan, terhina dan sama sekali tidak dihargai. Boro-boro dimuliakan dan dilayani, tidak dilempar batu sudah mending.   Nah Anda bisa amati, ada orang kok ketika ia bertamu ke rumah Anda saja sepertinya malas banget menemui, apalagi untuk memuliakan, temui saja malas, bikin badan sakit. Nah itu orang yang sebenarnya ketekoran energi membayar.  Ya mungkin latar belakangnya orang culas, atau mungkin penjilat, atau mungkin maling, atau mungkin orang tamak, dan hal lain dimana ia sering bayar kurang dalam kehidupan ini. Ia tidak ada aura energi mulianya.   Hmm Anda jangan santai-santai gemar tawar barang jualan dengan harga banting, gemar cari gratisan, gemar cari bantuan sosial, gemar lari dari kewajiban pajak, gemar pakai kendaraan telat pajak, gemar dikondangi dan diuluri tangan, gemar ditraktir, apalagi gemar minta-minta sumbangan, karena itu semua adalah pola-pola mengurangi daya bayar Anda, efek resikonya Anda jadi hilang energi mulianya, selanjutnya Anda jadi kaum dhuafa yang compang-camping finansialnya, ruwet hidupnya, seret rezekinya, dan lemah harga dirinya.   Remuk lagi kalau Anda sudah diberi 1 mangkok mie ayam, boro-boro membayar walaupun kurang, malahan Anda merampok warungnya, jadi apa diri Anda?   Kemarin pagi saya buka beranda facebook page saya, eeh postingan dari Metro News TV lewat memberitakan tuntunan vonis mati dari jaksa untuk Irjen Polisi Teddy Minahasa.  Lah kok saya komentari, “Semoga terkabul. Amin.” Dan rata-rata netizen komentar serupa, dan tidak sedikit yang mengolok-olok Teddy Minahasa. Kok saya sejahat itu? Ada orang dituntut vonis mati kok malah doakan kemampusan untuknya?   Ya itu fenomena orang yang membayarnya selalu kurang dengan kehidupan. Lah iya dia dibayar rakyat untuk amankan rakyat dari tindakan kejahatan termasuk kejahatan narkoba, lah bukannya dia membayar dengan pengabdian penuh amanah, malahan rakyat diedari narkoba olehnya.   Dikasih mie ayam semangkok bukannya bayar sesuai harga malahan yang punya warung dirampok. Hasilnya Teddy Minahasa dikutuk rakyat layaknya anj1ng gila. Walaupun hartanya trilyunan, pangkatnya jenderal, pendidikannya tinggi, namun energinya terlaknat.   Nah kalau Anda di warung mie ayam, sudah bayar sesuai harga, atau malah bayar lebih, dimana seharusnya Anda sangat dimuliakan, lantas Anda direndahkan layaknya orang yang bayar kurang, lantas apa yang terjadi? Yang terjadi orang yang merendahkan Anda pasti kualat.   Kerap kan Anda temui orang

MEI 2023

KHAWATIR DUIT; MENGHINA TUHAN

Dulu waktu masih sering pas-pasan duit, sudah sangat sering istri saya komentar begini, “Iya ya, Yah. Duit tidak usah dikhawatiri malah datang tepat pada saat butuh.” Dan itu berkali-kali diungkapkan istri saya.   Dia komentar demikian tentu setelah menghadapi kondisi kehabisan uang belanja, dan tidak tahu lagi mau dapat duit dari mana. Dalam kondisi uang habis, istri saya menyoba tetap happy, “ndableg” tidak dipikir, membuang jauh-jauh rasa khawatir. Hasilnya, duit datang tepat pada saat dibutuhkan.   Beberapa komentar di note status facebook dan fanpage saya juga banyak yang mengomentarkan hal serupa, yang intinya mengungkapkan pengalaman mereka jika duit tidak dikhawatiri justru duit datang sendiri pada saat butuh, menjadi tidak ada habisnya.   Kenapa demikian? Sebab karakter duit memang karakter happy, duit antipati pada unggahan rasa prihatin.   Sopir saya seperti wajib memutar musik pada saat menyetir mobil, katanya tanpa musik jadi mengantuk dan tidak konsentrasi. Dan yang dia sukai musik-musik dangdut koplo reggae, paling sering Via Vallen dan Nella Kharisma.   Saya yang tidak pernah mengenal musik, bahkan lirik lagu di alam semesta ini yang saya hapal hanya lagu-lagu nasional seperti Indonesia Raya, Halo Halo Bandung, Garuda Pancasila, dan lain-lain jadi mau mengamati lirik-lirik lagu yang sering diputar sopir. Misal lirik lagunya Nella Kharisma;   “Teman Rasa Pacar”;   “Pernah aku mencoba dekat dengan lelaki tapi kau bersikap lucu tanpa kata-kata kowe takon aku opo ono cinta tentang diriku dengan dirinya begitu juga sebaliknya dengan diriku aku mrasa cemburu yen ndelok awakmu cedak-cedak karo wong wedok selain aku kok iso aku nganti cemburu sayang opo iki seng jenenge aku lagi kasmaran.”   Menghayati lirik lagunya, saya langsung menyeletuk pada sopir, “Itu kamu amati! Itu lagu liriknya mirip burung emprit ngoceh, value tidak ada, wisdom tidak ada, ilmiah juga tidak, bahasa yang dipakai campuran bahasa Jawa dan bahasa Indonesia seenaknya sendiri, tapi si Nella Kharisma duitnya banyak, tidak?”   “Ya banyak, Gus, duitnya. Nella Kharisma jelas kaya, ” jawab sopir.   “Nah itulah duit, tidak ada seriusnya, tidak ada karakter penting yang perlu dibangun untuk duit. Nella Kharisma yang kerjaannya nyanyi lagu-lagu dangdut koplo dengan pesan syair lagu tidak ada maknanya malahan duitnya banyak. Jadi urusan duit itu yang penting hatimu happy, tidak khawatir, tidak banyak punya rasa susah pada duit,” tutup kata saya.   Duit itu jaminan karena semua makhluk melata (dabbah) di alam semesta ini dijamin rezekinya. Kesalahan Anda adalah mengkhawatirkan barang jaminan, menakuti sesuatu yang sudah terjamin.   Ibaratnya, oleh satpam parkir, mobil Anda sudah dijamin keamanannya, tetapi Anda masih saja ketar-ketir mobilnya hilang sehingga Anda masih repot-repot pasang gembok eksternal ditambah pasang statemen pada satpam parkir, “Awas mobil saya jangan sampai kecurian! Jaga yang benar! Jangan lengah!”   Dipesani begitu bisa jadi satpam parkirnya malah tersinggung. Khawatir rezeki habis, panik kekurangan duit, bingung besok rezeki dari mana lagi datangnya, ini adalah prilaku menghina Tuhan, tidak percaya dengan jaminan-Nya.   Maka ini, istri saya manggut-manggut dengan kebijaksanaan alam semesta, merasakan “pas duit habis pas duit datang”, yang penting menjaga rasa happy pada duit, menjaga hati dari rasa susah dan khawatir pada duit.   Nella Kharisma dan Via Vallen kebanjiran duit karena akses rasa hatinya sudah pas untuk duit. Jingkrakan, goyang dan nyanyi saja di panggung sejam, ratusan juta masuk di kantongnya. Itu karena keduanya sangat happy saat nyanyi.   KO-nya Anda di sini, kerja keras dari pagi sampai malam tetapi hati sedang khawatir tidak mencapai target penjualan. Begitu gigih membangun bisnis tetapi karena khawatir peluang pasarnya direbut orang. Begitu konsisten ikut asuransi tapi karena khawatir rezekinya di hari tua. Begitu aktif ikut program KB tetapi karena khawatir anaknya tambah nanti tidak bisa kasih makan.   Begitu irit dan ketat pada pengeluaran duit, tetapi karena tidak kaya. Begitu istiqamah shalat Dhuha tetapi hati sedang susah pada hutang. Begitu sigap bangun malam shalat Tahajud tapi hati sedang khawatir tidak kecukupan.   Serius amat dengan duit? Pantas duit kita di-TKO oleh Via Vallen dan Nella Kharisma yang prinsipnya hanya, “Yang penting goyang”.   وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan.” (Q.S. Al-Baqarah : 212)   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

BERBUAT NYATA SAJA, LILLÂHI TA’ÂLÂ-NYA SERAHKAN KEPADA TUHAN

Sejak tahun 2016 saya aktif menjadi writer di medsos khususnya Facebook. Sial beruntung sudah lumayan banyak saya alami. Pernah punya akun dengan 21 ribu follower, lenyap begitu saja karena ulah hacker, dan paling rugi kehilangan sebagian data karya artikel saya.  Akun Facebook lenyap selanjutnya harus bangun follower dari nol lagi. Pernah pula hanya karena satu artikel saya keliling sebagian wilayah Indonesia, diundang isi seminar dimana-mana karena artikel tersebut. Ya macam-macam hal yang sudah dilalui.   Tidak terasa hingga detik ini saya malang melintang di medsos sudah 8 tahunan, dan ternyata baru kemarin sore saya temukan niat yang waras, boro-boro ikhlas lillâhi ta’âla dalam berkarya, niat lurus saja tidak.   Iya, selama 8 tahunan, kesadaran saya dalam berkarya itu kesadaran miskin, sampai-sampai saya sering tersinggung dengan postingan yang sepi interaksi, hati saya kerap sedih kalau interaksi postingan sedang sepi interaksi. Itu artinya saya berkarya di medsos tahunan tapi kesadaran saya sedang cari popularitas.   Cari popularitas berarti saya masih berkesadaran “meminta-minta” kepada netizen, “Ayo ramaikan postingan saya biar saya senang,” itu kesadaran miskin karena meminta-minta dan mengharap-harap. Kesadaran begitu ikhlas dari mana, coba?   Saya sadar itu kesadaran bodoh, saya ingin berusaha lepas tapi tetap tidak bisa, tetap kerap tersinggung ketika postingan sepi interaksi.   Saya tahu saya berkesadaran bodoh dan miskin, namun kalau saya berhenti berkarya karena sadar tidak ikhlas juga langkah bodoh, sebab kalau saya terus berkarya karena menunggu ikhlas, lantas bagaimana ilmu saya bisa memanfaati orang lain? Kalau pun saya ganti profesi, ya berkarya di medsos saja berkesadaran bodoh dan miskin, umpama saya ganti profesi lain pun tetap sama, kesadarannya tetap bodoh dan miskin.   Mau tidak mau saya jalani saja walaupun dengan keadaan hati yang begitu.   Sampai akhirnya di awal Januari 2023 kemarin saya baru temukan kesadaran baru di dalam berkarya, ya kesadaran ikhlas tentu masih jauh, tapi setidaknya temukan kesadaran kaya.   Saya temukan kesadaran kaya itupun setelah saya berbuat salah. Di bulan-bulan akhir tahun 2022 itu saya bosan sekali berkarya, bosan juga buka kelas training karena layani peserta konsultasi sangat capek. Jadinya dalam beberapa bulan saya malas-malasan tidak berkarya, tidak aktif buat konten digital, juga tidak buka kelas.   Hasilnya penghasilan saya anjlok. Cuma menurun saja, morat-marit finansialnya tidak.   Nah di situ saya temukan kesadaran kaya dalam berkarya. Begini, Anda punya kekayaan mobil karena Anda sanggup membayar harga mobil. Anda pingin kaya pun ada harga yang harus dibayar, tidak bayar dengan uang ya bayar dengan jerih payah.   Berkarya itu capek, lah bikin artikel panjang begini saja bisa memakan waktu 2 – 3 jam, capek, lalu karya saya disedekahkan begitu saja ke publik melalui medsos, itu merupakan energi bayar ke alam semesta. Siapapun yang membayar, dia yang kaya, Anda bayar harga mobil ya jadi punya kekayaan mobil, kan?   Di titik itulah saya sadar sepenuhnya, “Ooh kaya itu banyak membayar. Dan konten keilmuan saya ke publik itu adalah bayaran dari saya untuk sebuah kekayaan.”   Sejak menyadari hal itu saya netral dari rasa tersinggung dari konten yang sepi, saya tidak lagi berenergi meminta kepada publik, tapi saya berenergi membayar, sehingga di hati saya muncul statemen, “Bodoh amat. Mau konten ramai atau tidak, terserah, yang penting saya sudah bertindak kaya yaitu membayar.”   Bayangkan! Hanya untuk bergeser dari kesadaran miskin dalam karya menjadi kesadaran kaya butuh 8 tahun berjerih payah. Lantas kalau mau capai rasa ikhlas lillâhi ta’âlâ dalam berkarya, kapan? Ya mungkin masih sangat jauh, kan?   Dulu waktu di pesantren saya mengalami hal sama. Saya iri juga mendengki kepada seorang teman yang menonjol sekali dalam skill intelektualitas dan leader. Di mana-mana saya tersingkir olehnya.   Tetapi rasa dengki dan iri tersebut saya pergunakan untuk memotivasi diri saya sendiri, bagaimana agar saya survive tidak tersingkir. Dari situ jadinya saya mau belajar dan mengaji ekstra disiplin, menggemilangkan diri dengan terus berupaya tampil baik, ilmiah dan profresional dalam berbagai debat ilmu.   Sementara teman yang saya iri padanya tidak saya sentuh sedikitpun harga dirinya, apalagi saya jatuhkan. Karena disiplin belajar dan ngaji, jadinya saya diakui juga kemenonjolan prestasinya.   Dan boleh dikatakan, saya bisa berilmu karena kedengkian dan iri hati saya kepada teman saya yang berpengaruh dan berprestasi tersebut. Saya dapat ilmu bukan dari li-llâhi ta’âlâ, saya dapatkan ilmu dari karakter buruk saya yang suka menonjol.   Karena suka menonjol, iri dan dengki saya bisa keluar dari kebodohan. Lalu apa ini benar?   Lillâhi ta’âlâ atau rasa ikhlas itu rahasia Tuhan.   قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الإِخْلاصِ، مَا هُوَ؟ قَالَ: سَأَلْتُ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلامُ، عَنِ الإِخْلاصِ، مَا هُوَ؟ قَالَ: سَأَلْتُ رَبَّ الْعِزَّةِ عَنِ الإِخْلاصِ، مَا هُوَ؟ قَالَ: <<سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِي، اسْتَوْدَعْتُهُ قَلْبَ مَنْ أَحْبَبْتُ مِنْ عِبَادِي>> “Saya (Khudzaifah) bertanya kepada Nabi SAW, ikhlas itu apa? Nabi menjawab, aku tanyakan kepada Jibril, ikhlas itu apa? Jibril menjawab, aku tanyakan kepada Tuhan Yang Maha Agung, ikhlas itu apa? Jawab Tuhan, “Ikhlas itu rahasia dari rahasia-rahasia-Ku yang Aku menitipkannya di hati orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.” (H.Q.R. Al-Qazwini)   Barang dirahasiakan karena itu rahasia Tuhan kok Anda cari-cari? Ya tidak ketemu. Sama saja tahu-tahu dokumen rahasia negara kok Anda cari-cari ya tidak ketemu.   Dan kalau Anda sibuk mencari-carinya ya Anda tidak ada waktu untuk berbuat nyata. Mau sedekah menunggu rasa ikhlas, ya malah bisa-bisa tidak jadi-jadi sedekah karena takut tidak ikhlas.   Maka itu berbuat nyata saja, bertindak dan beramal baik saja, ikhlas lillâhi ta’âlâ atau tidak, serahkan pada Tuhan. Berbuat nyata saja dulu!   Lah iya, untuk dapatkan kesadaran kaya dalam berkarya di konten medsos saja butuh 8 tahun, kalau saya menunggu ikhlas, kapan saya memulai berkarya?   Untuk keluar dari kebodohan ngaji saja butuh 10 tahun berjuang ngaji di pondok pesantren dengan rasa sakit hati karena tidak menonjol juga karena iri dan dengki pada teman yang moncer kemenonjolannya. Kalau saya ngaji nunggu rasa ikhlas ya sampai tua saya tidak sempat mengaji.   Sebab itu berbuat nyata saja, mau ikhlas atau tidak, itu rahasia Tuhan.   Imam Ghazali mengakui, awal menimba ilmu itu niatnya karena takut tidak bisa makan, sebab ia anak yatim, sementara harta warisan ayahnya telah dititipkan ke

MEI 2023

BERITA GEMBIRA! SEJAHTERA FINANSIAL PALING DULU MASUK SURGA

اِنَّ اَهْلَ المَعْرُوْفِ فِي الدُّنْيَا هُمْ اَهْلُ المَعْرُوْفِ فِي الآخِرَةِ وَاِنَّ اَوَّلَ اَهْلِ الجَنَّةِ دُخُوْلًا الجَنَّةَ هُمْ اَهْلُ المَعْرُوْفِ   Sesungguhnya ahli kebaikan di dunia akan menjadi ahli kebaikan pula kelak di akhirat. Dan sesungguhnya orang-orang yang paling awal masuk surga adalah ahli kebaikan. (HR Thabrani)   Kalau Anda bikin meja lalu cara halusin kayunya, cara menggoroknya, cara memakunya, cara mengukur sudut-sudutnya dilakukan ngawur dan serampangan, apa mejanya terbentuk rapi? Jelas berantakan. Itu efek tidak berbuat baik atau ma’ruf ketika bikin meja.   Hidup selalu dijegal masalah ruwet, keluarga berantakan, musibah bertubi silih ganti, finansial amburadul, tentu karena pola hidup yang dibentuk tidak ma’ruf.   Kenapa hidup Anda sejahtera? Karena pola yang Anda kerjakan dalam hidup sudah dengan pola ma’ruf, pola baik, pola amal shalih.   Kenapa finansialnya sejahtera? Ya sama, karena lakon hidup dan pola-polanya sudah dijalani dengan pola ma’ruf, pola baik, pola amal shalih. Mana mungkin bikin meja dengan kehati-hatian, skill terbaik, talent terbaik kemudian hasil mejanya berantakan?   Sejahtera finansial apalagi hingga kaya itu jelas hasil dari perbuatan ma’ruf, hasil dari amal shalih. Masa iya meja cantik itu karena hasil kerja serampangan? Ya pasti hasil kerja kebaikan. Sebaliknya ruwet dan seret finansial tentu hasil dari perbuatan buruk dan amal munkar.   Sementara ahli ma’ruf yang hasilnya di dunia itu sejahtera finansialnya, mereka itu disebut oleh Nabi SAW sebagai orang pertama yang masuk surga.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

DOYAN UANG TAPI MENOLAKNYA

Di handphone sekarang biasanya sudah dipasang fitur pengfilter panggilan spam dan penipun. Ketika panggilan masuk dari nomor telepon spam langsung muncul pengingat “Identified As Spam”. Saat itu jelas Anda langsung pencet tombol reject ataupun membiarkannya. Anda menyadari telepon spam adalah telepon jahat karenanya Anda me-reject.   Ketika saya bergaul dengan orang-orang yang hidupnya selalu kesulitan uang, ternyata mereka memang ada penilaian bahwa uang itu jahat. Ya seperti panggilan telepon spam, dinilai jahat ya tentu ditolak keras agar tidak hadir dalam hidupnya.   Padahal uang ya energi netral-netral saja, jahat tidak, baik juga tidak. Kalau uang itu jahat atau baik, nanti ada uang dihisab di hari kiamat, yang uang kafir masuk neraka, uang mukmin masuk surga.   Bukan uang yang berenergi jahat ataupun berenergi baik, tapi diri Anda mau pengaruhi uang dengan energi apa? Dipengaruhi energi baik ya uang akan baik,   نِعمَ المالُ الصَّالحُ للرَّجلِ الصَّالحِ “Harta terbaik itu bagi orang yang baik.” (HR Bukhari) Dipengaruhi energi jahat ya uang jadi jahat,   مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ “Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas, menuju seekor kambing, (maka kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang yang ditimbulkan akibat ambisi terhadap harta dan kehormatan.” (HR Nasa-i, Ahmad, Tirmidzi, & Ibn Hibban)   Jadi bukan uang yang jahat, tapi umpama ada kejahatan karena uang ya diri Anda yang jahat.   Orang yang kesulitan uang itu sering saya temukan punya penilaian bahwa uang itu energi jahat. Dia meniilai jahat ya auto dari perasaan, pikiran, tindakan dan segala energi yang keluar dari dirinya adalah energi me-reject uang datang karena tahu uang yang datang itu akan membahayakan dirinya. Persis ketika dia menolak panggilan telepon spam.   Macam-macam alasan penolakan mereka, yang jelas kesimpulannya uang dinilai jahat. Di antaranya;   1) Menilai Nabi SAW hanya mencintai orang miskin. Nabi SAW mencintai orang miskin namun Anda tahu tidak, 10 sahabat Nabi SAW yang dijamin masuk surga itu orang kaya semua. Para sahabat yang awal-awal menerima Islam juga orang-orang kaya; Khadijatul Kubra, Abu Bakr, Umar bin Khattab, Usman bin Affan itu di antaranya, yang dari orang miskin paling Bilal bin Rabah karena seorang budak.   Sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ya orang-orang kaya, yang menyahut panggilan keimanan kepada Nabi SAW paling awal lantas sepenuh hati mendukung perjuangan Nabi juga kebanyakan orang kaya, ya jelas Nabi itu dekatnya dengan orang kaya.   2) Menilai uang jadikan hisabnya lama. Setahu saya, banyak orang yang mie instan oleh-oleh kondangan dikumpul-kumpulkan agar nanti kalau ada kondangan tidak perlu repot beli sumbangan, banyak yang buang baju bekas saja sayang sehingga baju-baju lusuh penuhi almari, banyak yang amplop kondangan bekas disimpan-simpan, banyak yang belanja untuk dirinya sendiri saja pelit karena takut duit tidak terkumpul banyak, lah prilaku seperti itu kan prilaku at-takatstsur (berlomba kumpulkan harta), dan itu justru banyak dilakukan orang miskin.   Sampah harta dilekati lalu dikumpul-kumpulkan, bagaimana hisabnya tidak lama? Hisab duit gede-gede mending, hisab lama karena melekati mie instan dan baut bekas, kan haduh. Dan mungkin malah yang punya duit banyak dihisab sedikit, wong lebaran saja kelihatan berbaginya sampai rekeningnya sering kosong. 3) Menilai orang kaya jahat. Orang kaya sombong, rakus, hubbud dun-ya itu yang lazim. Menilai orang kaya sombong, lah menilai orang kaya sombong itu juga kesombongan, kan? Sebab mereka merasa lebih suci. Cuma bedanya yang kaya sombong dengan hartanya yang miskin sombong dengan ketidakpunyaannya. Orang kaya rakus, lah yang dibela-belain sakit hati ketika tidak terima BLT siapa? Sakit hati kan karena rakus harta, takut tidak fapat bagian gratisan. Orang kaya hubbud dun-ya, lah baut bekas saja disimpan-simpan, itu dengan sampah saja cinta melekati.   Bahkan saya pernah ditemukan orang yang sangat terpuruk finansialnya komentar begini saat ada orang kaya meninggal dunia, “Si A kaya raya begitu, mati juga ditenggelamkan ke air,” karena kebetulan liang kuburnya pas ada mata airnya. Artinya dia merendahkan sekali seolah-olah kaya itu sama sekali tidak berharga.   4) Menilai ahli surga itu orang miskin. Kemarin saya menulis iseng-isengan, “Kabar Gembira! Sejahtera Finansial Paling Dulu Masuk Surga”. Lah kok banyak orang tersinggung, tidak rela surga untuk orang kaya. Ada juga yang ngotot adu argumen agama di kolom komentar. Cek saja di artikel saya sebelum ini, tapi yang di page bukan di akun pribadi.   Saya menulis yang kesimpulannya begini, orang yang sudah berbuat baik tentu hasilnya baik. Karena telah berbuat baik hasilnya di kehidupan dunia ya peroleh harta sejahtera, ia kaya.   Nah yang telah berbuat baik sehingga di dunia hasilnya punya finansial sejahtera itu nanti di akhirat paling awal masuk surga. Lalu saya mengutip satu hadits,   اِنَّ اَهْلَ المَعْرُوْفِ فِي الدُّنْيَا هُمْ اَهْلُ المَعْرُوْفِ فِي الآخِرَةِ وَاِنَّ اَوَّلَ اَهْلِ الجَنَّةِ دُخُوْلًا الجَنَّةَ هُمْ اَهْلُ المَعْرُوْفِ “Sesungguhnya ahli kebaikan di dunia akan menjadi ahli kebaikan pula kelak di akhirat. Dan sesungguhnya orang-orang yang paling awal masuk surga adalah ahli kebaikan.” (HR Thabrani)   Lah kok ada yang tersinggung? Itu dikarenakan mereka nyaman sebagai orang tak berharta dan meyakini harta itu jahat yang akan jadikan mereka tidak dapat bagian surga.   Masih banyak data-data lain bagaimana mereka menilai uang itu jahat, cuma saya tidak ingat semua.   Sebenarnya semua benar, miskin shalih banyak, kaya shalih juga banyak. Miskin yang penjahat banyak, kaya yang penjahat juga banyak. Miskin yang ahli surga ada, kaya yang ahli surga juga ada. Begitu pula yang ahli neraka.   Hanya saja di sini kajiannya Spiritual Prosperity ya tentu kajian yang mengupayakan bagaimana banyak orang menjadi kaya dunia akhirat. Dan faktor awal Anda melarat duit ya menilai uang itu jahat seperti saya jelaskan di atas.   Karena itu nilailah bahwa uang itu kebaikan dunia akhirat, kesehatan dunia akhirat, keselamatan dunia akhirat, surga dunia akhirat.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

MELOROTI ORANG TAPI BERENERGI MENGGEMBIRAKAN

بيْنَما أيُّوبُ يَغْتَسِلُ عُرْيانًا خَرَّ عليه رِجْلُ جَرادٍ مِن ذَهَبٍ، فَجَعَلَ يَحْثِي في ثَوْبِهِ، فَنادَى رَبُّهُ: يا أيُّوبُ ألَمْ أكُنْ أغْنَيْتُكَ عَمَّا تَرَى؟ قالَ: بَلَى، يا رَبِّ، ولَكِنْ لا غِنَى بي عن بَرَكَتِكَ “Suatu ketika Ayyub A.S. mandi dengan telanjang, tiba-tiba belalang emas jatuh menimpa tubuhnya. Ayyub pun memasukkannya ke dalam bajunya. Maka Tuhan ‘Azza wa Jalla menyerunya, “Wahai Ayub! Bukankah aku telah mencukupkanmu dari apa yang engkau lihat?” Ia menjawab, “Tentu, demi kemuliaan-Mu, akan tetapi aku tidak pernah merasa cukup dari berkah-Mu.” (H.R. Bukhari)   Umpama Anda orang kaya lalu ada BLT dari pemerintah lalu Anda ikut-ikutan ngotot ambil jatah BLT apa pantas? Nah yang terjadi pada Nabi Ayyub AS itu begitu.   Dalam hadits di atas dikisahkan suatu ketika Ayyub sedang mandi telanjang tiba-tiba ada belalang emas jatuh mengenai tubuhnya. Ia yang sudah kaya tampak gereget antusias mengantonginya ke baju beliau. Karena terlihat rakus karena Ayyub sudah kaya raya, lantas Allah menegurnya. “Kamu sudah Aku kasih kekayaan melimpah, cuma Aku jatuhi belalang emas saja masih rakus begitu,” kurang lebih begitu maksud teguran-Nya.   Namun value point yang ada di hati Ayyub itu bukan orang rakus yang haus harta, tetapi ada kesadaran yang berbeda. Ayyub melihat belalang emas tersebut sebagai karunia berkah yang diturunkan Allah, lah ada karunia berkah kok tidak antusias diambil, ya rugi besar, kan? Karena itu Ayyub menjawab, “Tentu, demi kemuliaan-Mu, akan tetapi aku tidak pernah merasa cukup dari berkah-Mu.”   Hati Ayyub menyaksikan belalang emas sebagai berkah makanya ia tidak layak merasa cukup dari berkah Allah.   Nah tindakan Ayyub tindakan rakus, namun karena kesadaran hati yang berbeda hasilnya bukan kerakusan tapi kesalehan.   Apa sih yang kyai di pesantren tidak menyuruh santri? 60% pekerjaan kyai dilayani santri. Dan mereka tidak ada yang dibayar sebagaimana asisten. Paling mereka dijamin makan oleh kyai, kalaupun ada uang pesangon ya sekedar untuk jajan sehari-hari, namun gaji asisten tidak ada.   Tindakan kyai tindakan orang tega dan kurang ajar, menyuruh-nyuruh anak orang kerja untuknya tanpa imbalan profesional. Ditegai dan dikurangajari begitu seharusnya si santri dan orang tuanya berang, namun yang terjadi sebaliknya, justru si santri bangga, orang tuanya apa lagi. Dengan bangga orang tuanya berkata, “Anakku jadi driver kyai. Anakku sekarang jadi penderek kyai,” dan seterusnya.   Kok bisa begitu, si anak dan ortu bukannya berang malahan bangga?   Kyai tidak merasa kalau ia sedang suruh-suruh anak orang untuk kerja kepadanya tanpa dibayar, karena kyai juga merasa bukan mental kere, kyai menilai itu adalah training kepada santri agar mereka kaya.   Iya, Anda membayar harga mobil, Anda pun jadi punya kekayaan berupa mobil. Kyai sudah mengajar dan mendidik para santri, gaji juga tidak didapatkan kyai.   Kyai mengajar dan mendidik itu artinya kyai sedang membayar sebuah harga dengan ilmu dan jerih payah. Kalau hanya kyai yang membayar, ya ujung-ujungnya kyainya yang nanti kaya sendirian. Santri yang terima bayaran pendidikan dan ilmu tidak punya kekayaan apa-apa karena ia membayar apa-apa juga tidak. Lah iya, tidak bayar apa-apa bagaimana ia punya sesuatu?   Dengan mereka disuruh bekerja kepada kyai, tanpa dibayar, mereka dilatih untuk membayar suatu harga kepada kehidupan. Kalau nilai bayar mereka besar, itu akan jadi kekayaan. Jadi santri khidmah kepada kyai itu santri sedang diberdayakan oleh kyai agar mereka punya daya bayar besar.   Kalau Anda didatangi tamu hendak beri emas kepada Anda, kan Anda jadi berenergi? Tidak loyo. Lah kyai suruh-suruh anak orang kerja kepadanya itu sama, yang ada di benaknya adalah melatih anak orang untuk kaya. Kalau hanya kyainya yang membayar dengan mendidik dan mengajar ya si kyai yang egois kasih peluang kaya hanya untuk dirinya sendiri, santrinya tidak diberi peluang kaya apa-apa.   Karena si santri dan orang tuanya diberi energi kekayaan oleh kyai, jadinya walaupun prakteknya si santri dijadikan pekerja gratisan, tapi hasilnya bukan hati mereka merasa berang malahan merasa dilimpahi, mereka pun bangga.   Sama, saya dengan para santri juga begitu. Kalau saya tidak suruh mereka khidmah, bagaimana saya akan memberi peluang kepada mereka agar kaya?   Itu juga value point yang ada di hati saya dengan para peserta kelas training saya. Mereka saya suruh bayar untuk ikut kelas saya, itu saya bukan sedang bisnis. Saya hanya melatih mereka untuk kaya.   Iya, saya sudah bayar dengan konten-konten ilmu di media sosial, itu cara saya membayar sebuah kekayaan. Lalu Anda tidak bayar apa-apa kepada saya, ya nanti saya yang kaya sendirian. Maka agar Anda kaya ya saya kasih kesempatan membayar dengan ikut kelas training saya dengan membayar harga registrasinya.   Dan karena kesadaran saya yang begitu keadaan yang terjadi menjadi terbalik 180% derajat. Banyak orang yang boro-boro berat hati bayar ikut kelas training saya, ataupun merasa dipeloroti duitnya, di luar urusan harga registrasi kelas, mereka dengan bangga kerap menghadiahi saya.   Lah kan kacau, prakteknya mereka saya peloroti, bukannya merasa diperas malahan merasa bangga gembira? Ya karena mereka merasakan energi saya yang ingin berikan kekayaan bukan energi merampok kekayaan orang.   Tanpa saya jelaskan di balik peristiwa Ayyub AS dan para kyai, sekarang Anda paham kan intisarinya? Jadilah orang yang berkesadaran memberi energi kepada orang, bukan ambil milik orang itulah kuncinya.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

LENGAH DAN LUPA ADALAH MEKANISME TENGAH ANTARA DOA DAN IJABAH, KERJA DAN HASIL

Saya sebagai content creator media sosial itu sering sekali amati fenomena begini, ketika saya sedang intens membangun karya di medsos, justru hasil interaksi postingan landai, interaksi sepi. Dan kelandaian tersebut bisa berlangsung berminggu-minggu, bahkan bulanan, hasil terus stagnan, malah kerap juga menurun, padahal di saat itu saya sedang intens-intensnya. Ketika sedang intens begitu, saya kerap hingga mempelajari algoritmanya. Dan anehnya nanti ketika saya sudah tidak peduli lagi, saya lupa dengan intensitas kontennya, eeh malahan ada konten yang viral, interaksinya menguat. Kan aneh sedang intens mengurusi malahan hasil menurun, sedang lupa dan tidak intens malahan hasil membaik? Intens itu artinya segala daya atensi sedang terfokus, dalam keadaan itu Anda sedang bernafsu kuat. Anda yang cewek saat diperhatikan intensif oleh cowok nakal hingga digoda-goda, Anda merasa risih, tidak? Anda merasa risih karena atensi si cowok nakal sedang bernafsu kuat. Karena itu, segala sesuatu yang sedang Anda kerjakan dengan intensitas penuh justru hasilnya lengang, landai, atau malah menurun, sebab di saat intensif begitu energi yang keluar dari diri Anda adalah getaran nafsu. Nafsu yang bergetar ya tentu tertolak sama seperti Anda yang cewek menerima atensi godaan cowok nakal.   Nah ketika Anda lengah, tidak peduli ataupun lupa, itu intensitas getaran nafsunya berkurang, sehingga energi yang keluar bisa diterima, hasilnya pun gol.   Jadi kenapa ketika Anda sedang intensif berdoa justru merasa tidak ijabah-ijabah, atau Anda sedang intensif mengerjakan proyek justru luput dari gol, itu disebabkan saat intensif justru nafsu Anda lah yang dominan keluar.   Berarti kita tidak usah punya impian kuat, punya kemauan keras, punya prinsip kerja intensif, kita santai-santai saja kalau sedang punya proyek kerja ataupun sedang berdoa? Tidak begitu.   Sapi pembajak sawah itu kerja keras membajak bahkan kerja kerasnya melampoi si pemilik sawah namun tidak ada sapi pembajak sawah lantas kaya, itu karena si sapi tidak punya atensi yang intensif pada kekayaan saat ia kerja.   Atensi itu nafsu, namun atensi muncul dari latar belakang niat Anda. Kalau niat Anda kuat pasti tekad Ansa kuat dan aksi Anda sungguh-sungguh. Dari sinilah muncul sistem “man jadda wajada” (yang sungguh-sungguh dia berhasil).   Jadi sekalipun atensi intensif itu nafsu tetapi itulah penarik hasil yang akan diperoleh. Tanpa atensi kuat yang diberikan, Anda tidak punya hasil apa-apa persis seperti sapi pembajak sawah.   Jadi benar, lupa itu mekanisme tengah antara doa dan ijabah, mekanisme tengah antara kerja dan hasil, artinya Anda diijabah doanya itu bukan saat Anda sedang intensif-intensifnya berdoa, atau Anda peroleh hasil besar di saat Anda intensif-intensifnya kerja, namun ijabah dan hasil justru kerap nongol setelah Anda mencapai lupa dan tidak intensif lagi. Namun bukan berarti lalu cara unduh ijabah dan unduh keberhasilan itu dibangun dengan sengaja dibuat-buat lupa tanpa atensi kuat, tidak begitu.   Lupa dengan atensi kuat yang diberikan itu datangnya otomatis. Iya, Anda hidup lalu bisa fokus terus, konsentrasi terus, itu tidak mungkin. Pasti ada jeda lengahnya. Sehingga umpama Anda kerja dengan intensif itu otomatis suatu saat Anda lengah dan lupa dengan fokus atensinya. Di saat itulah ijabah datang.   Sebaliknya kalau dari awal-awal doa ataupun kerja Anda sudah pasang badan untuk dibuat-buat lupa itu namanya doa Anda tidak sungguh-sungguh. Kalau tidak sungguh-sungguh, bagaimana punya gol?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

BEGINI BILA DOA AKAN DIIJABAH

Pada suatu kali, Nabi Musa melewati salah seorang pengikutnya yang sedang bersujud. Setelah beberapa saat, Nabi Musa kembali melewati tempat yang sama dan melihat pengikutnya itu tetap dalam keadaan bersujud. Nabi Musa menegur orang itu dan berkata padanya, “Seandainya keperluanmu ada di tanganku, tentu aku sudah mengabulkannya.” Ucapan Nabi Musa itu langsung mendapat jawaban dari Allah, “Biarpun lehernya terputus karena terlalu banyak bersujud, Aku tetap tidak akan memberi keperluannya, kecuali dia bersihkan terlebih dulu hatinya. Dia harus memenuhi hatinya dengan mencintai apa yang Aku cintai dan membenci yang Aku benci.” Nah sangat jelas bahwa misi Tuhan atas doa Anda adalah terbentuknya karakter diri Anda. Artinya proses pengabulan doa adalah proses pembentukan karakter diri. Lalu karakter terbentuk itu lantaran apa? Segala pembentukan benda itu melalui tempaan. Besi baja mau dibentuk golok harus ditempa keras, dari dilunakan dengan pembakaran api hingga dipukuli keras dengan palu berkali-kali. Makin berulang proses tempaannya, hasilnya makin matang. Segala bentuk pembentukan karakter benda selalu melalui tempaan, yakni gesekan-gesekan antar benda. Ada bentuk anak akibat gesekan alat kemaluan pejantan dan betina. Ada beras akibat gesekan biji padi dengan mesin penggiling. Ada tulisan status FB akibat gesekan ujung jari dan keyboard handphone, dan seterusnya. Mau tidak mau begitulah proses alam dalam membentuk karakter baru. Anda berdoa, di situ jika Tuhan hendak kabulkan doa Anda, justru Anda akan diproses dulu agar terbentuk karakternya. Sebab itu ketika ada seorang pengikut Musa AS bersujud sekian lama karena suatu doa, lalu dibelaskasihani oleh Musa dengan menyatakan, “Seandainya keperluanmu ada di tanganku, tentu aku sudah mengabulkannya,” justru ditanggapi oleh Allah, “Sampai putus lehernya untuk sujud pun tidak akan diijabah sehingga ia bersihkan hatinya, hingga mencintai dan membenci apa yang dibenci Allah.” Artinya Allah mengincar terbentuknya karakter mulia dari hamba tersebut. Tuhan tidak ada kebutuhan apapun dengan Anda sehingga Anda berdoa pada-Nya, Tuhan tidak meminta kebutuhan apapun dengan Anda. Berbeda dengan ketika Anda meminta (berdoa) kepada sesama makhluk, misal kepada Gendruwa.  Anda minta kebutuhan kekayaan harta kepada Gendruwa, di situ si Gendruwa juga minta kebutuhannya kepada Anda, misal dia minta tumbal. Anda butuh harta gaib si Gendruwa, si Gendruwa pun butuh tumbal dari Anda. Tuhan tidak ada kebutuhan apapun dengan Anda, Dia tidak meminta apa-apa dari Anda. Dia hanya menginginkan Anda terbentuk sebagai ptibadi baru yang berkualitas. Kalau karakter Anda tidak dibentuk sebagai pribadi baru lebih dulu, lalu doanya langsung diijabah, maka Anda tumbuh idiot. Idiot itu fisiknya besar tapi jiwanya kebocah-bocahan. Anda berdoa kaya harta lantas begitu saja diberi kekayaan harta tanpa pembentukan karakter Anda lebih dulu, yang terjadi ya jiwa Anda tetap miskin.  Banyak harta, jiwanya miskin, ya itu namanya idiot. Rumahnya besar, sawahnya luas, tapi irit dan pelitnya super, itu contoh tumbuh idiot. Kalau tumbuh idiot, ia pun seperti syair Imam Al-Bushiri, كَمْ حَسَّنَتْ لَذَّةً لِلْمَرْءِ قَاتِلَةً *** مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنَّ السَّمَّ فِى الدَّسَمِ “Betapa banyak kenikmatan justru berujung pada kematian, karena orang tidak menyadari bahaya racun yang terkandung di dalamnya.” Nah hukum patennya segala bentuk pembentukan karakter itu selalu lewat tempaan, adukan, polesan, gesekan, benturan, dan lainnya. Maka ini ketika Anda berdoa kepada-Nya, lalu Anda hendak diijabah doanya justru yang turun lebih dulu adalah proses tempaan untuk membentuk karakter baru. Dan proses tempaan selalu lewat tempaan, adukan, polesan, gesekan, benturan, dan lainnya. Karena ketika doa Anda hendak diijabah yang turun justru berbagai ujian, benturan, musibah, masalah sumpek, dan lainnya sebagai proses membentuk karakter baru. Dalam berbagai proses tempaan tersebut yang wujudnya adalah kesempitan hidup, di situ muncul hikmah sebab dalam proses tersebut hawa nafsu terkerangkeng tidak banyak gerak. البَسْطُ تاءْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهاَ بِوُجُودِ الفَرَحِ والقبضُ لاَ حَظَّ للنَّفْسِ فِيْهِ “Di dalam keadaan lapang (basthu), hawa nafsu dapat mengambil bagiannya karena gembira, sedang dalam keadaan sempit (qabdhu) tidak ada bagian sama sekali untuk hawa nafsu.” (Ibn Athaillah) Setelah karakternya terbentuk baik, umpama bentuk pedang cantik yang tajam, baru proses tempaan itu dihentikan. Jujur! Saya dapatkan ide-ide ilmu brilian itu justru saat saya mendapatkan kesempitan hidup dan masalah ruwet. Iya, saat sempit dan sumpek, itu hati jadi lentur karena proses tempa, jadinya bisa mengingat diri sendiri, mengingat kekurangan diri, mengingat kelemahan diri. Karena ingat diri selanjutnya karakter baik dalam diri lalu terbentuk lantas muncul dalam diri Anda akhlak-akhlak terpuji, dan akan hilang dari diri Anda sifat-sifat buruk. Nah setelah itu semua baru kemudian doa Anda diijabah. Nyes! Muhammad Nurul Banan Gus Banan

Scroll to Top