Author name: gus banan

2024

NIKMAT SURGA NUNGGU DI AKHIRAT? OOH NO

Baca di kitab tafsir Al-Qur’an As-Sa’di surat Al-Infithar ayat 13 – 14;   إِنَّ الْأَبْرارَ لَفِي نَعِيمٍ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ   “Sesungguhnya para al-abrar (orang-orang yang banyak berbuat baik) benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya al-fujjâr (orang-orang yang kurang ajar) benar-benar berada dalam neraka jahîm).”   Imam As-Sa’di menguraikan;   المراد بالأبرار، القائمون بحقوق الله وحقوق عباده، الملازمون للبر، في أعمال القلوب وأعمال الجوارح، فهؤلاء جزاؤهم النعيم في القلب والروح والبدن، في دار الدنيا وفي دار البرزخ وفي دار القرار.   وإن الفجار الذين قصروا في حقوق الله وحقوق عباده، الذين فجرت قلوبهم ففجرت أعمالهم لفي جحيم أي: عذاب أليم، في دار الدنيا و دار البرزخ وفي دار القرار.   Artinya: “Al-abrar adalah orang-orang yang menegakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya, yang konsisten dalam kebaikan baik dalam aktifitas batin maupun aktifitas lahir, mereka itu peroleh karma kenimmatan-kenikmatam di hati, ruh dan badan baik di alam dunia, alam kubut maupun di akhirat.”   “Al-fujjâr adalah orang-orang yang memangkas hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya, mereka bdrbuat kurang ajar di dalam aktifitas batinnya, lalu aktifitas lahirnya pun kurang ajar. Mereka itu berada di dalam azab kepedihan baik di dunia, di alam kubur maupun di akhirat.” (Tafsir As-Sa’di; Abdurrahman bin Nâshir As-Sa’di, juz 8, hal. 1945).   Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah juga menyampaikan tafsir yang sama, “Kamu jangan mengira bahwa al-abrar (orang-orang yang berbuat baik) menetap di dalam surga yang penuh kenikmatan, dan al-fujjâr (orang-orang kurang ajar) menetap di neraka jahîm itu hanya terjadi di hari kiamat. Tidak.”   “Itu terjadi di tiga dimensi alam; alam dunia, alam kubur dan alam akhirat.” (Kanzul ‘Ulâ fil Jazâil ‘Ajil fid Dun-yâ; Abu Muhammad Naufal Al-Banari, hal. 2).   Jelas ya, hidup enak penuh nikmat sebagai efek dari perbuatan baik (amal saleh) itu tidak hanya terwujud di akhirat, atau menunggu pindah ke kubur, di alam dunia ini sudah bisa terlihat nyata.   Jadi gampangnya, level kesejahteraan Anda di dunia itu bisa jadi gambaran kesejahteraan Anda di alam kubur dan di akhirat.   Struktur benda apapun bisa terbangun kokoh kalau mendapat kebaikan yang persisi dan konsisten.   Bangunan rumah Anda dibangun dengan irit-iritan semen, ya rapuh, karena tidak maksimal mendapatkan kebaikan.   Pepohonan ditanam tapi tidak mendapatkan sinar matahari maksimal, kurang air, kurang hara, ya kurus kering lalu penyakitan.   Kekayaan di dunia itu bagian dari bangunan kebaikan. Kekayaan tidak bisa dibangun dengan kekurangajaran.   Untuk mencapai kekayaan, seseorang harus punya cita-cita besar, impian tinggi, tekad kuat, lalu harus dieksekusi dengan ulet, kreatif, amanah, anti putus asa, capek dan letih, keluar effort besar, butuh modal, butuh disiplin waktu dan pembayaran, tidak khianat, dermawan,   dan secara spiritual pun mereka banyak yang lakukan zikir dan amalan khusus dalam bentuk ibadah demi mencapai impiannya, yang semua itu adalah bentuk amal shaleh alias perbuatan baik yang hanya bisa dilakukan oleh para al-abrar.   Efek dari amal shaleh yang seperti itu jadikan mereka hidup sukses bergelimang kehormatan dan harta benda.   Nah kesuksesan, berupa kekayaan ataupun kemuliaan yang Anda usahakan melalui cara-cara kebaikan seperti di atas, itu kesuksesan Anda di dunia akan sepaket dengan kesuksesan Anda di alam kubur dan alam akhirat.   Tidak mingkin Anda bisa kaya sejahtera lantaran perbuatan kurang ajar yang Anda lakukan dengan konsisten di masa lalu. Kekurangajaran itu cara ngawur, bangunan gedung saja pasti rapuh kalau dibangun dengan kengawuran, apalagi hidup Anda?   Di alam dunia ini apapun dihargai dengan materi (uang dan harta), Anda ibadah saja oleh Tuhan dihargai dengan harta, misal shalat Dhuhâ.   Karena itu amal shaleh yang Anda kerjakan dengan konsisten juga di dunia ini dihargai oleh Tuhan dengan kelimpahan harta. Jadi kekayaan Anda di dunia itu bisa jadi tanda level kaya Anda di akhirat.   Surga penuh nikmat tak perlu nanti menunggu di akhirat, di alam ini sudah tampak dari kehadiran harta yang melayani Anda.   Nah, kekayaan yang dihasilkan dengan amal baik sebagai al-abrar itu kekokohan bangunannya tidak hanya dari sisi materi (uang dan harta), namun juga dari sisi ruhani, sisi spiritual.   Bersamaan dengan datangnya harta kekayaan, ketenangan batin Anda juga tumbuh.   Wujud ketenangan batin itu bukan berarti Anda hidup sama sekali tanpa stres, tanpa tekanan, itu bukan.   Ketenangan batin itu umpama Anda diberi ujian hidup, Anda bisa sabar. Umpama Anda difitnah, Anda diberi ketangguhan. Umpama Anda diberi kekayaan dan kemudahan harta, Anda tidak lalai.   Umpama punya impian, Anda bisa konsisten menjalani dengan ulet dan amanah. Umpama Anda dilemahkan, Anda mampu menjaga harga diri Anda. Dan seterusnya.   Namun ini alam dunia. Alam dunia itu alam ilusi atau alam ghurûr, sehingga banyak juga orang kaya harta, namun sebenarnya dia orang miskin di akhirat.   Dan tentu, model begini adalah orang yang bangun kekayaan dan kesuksesan dengan kekurangajaran.   Kekurangajaran itu bisa dengan kejahatan, kezaliman, ataupun maksiat.   Namun orang model begitu kekayaannya pasti ujung-ujungnya terlihat miskinnya kok. Karena hakikatnya itu bukan kekayaan, namun kemiskinan.   Ambil contoh para koruptor. Dia terlihat kaya, ujung-ujungnya terlihat miskinnya karena masuk penjara. Kelihatan miskinnya, kan? Karena aslinya miskin, bukan kaya.   Kalaupun mungkin tidak masuk penjara, dia akan alami tekanan batin yang melelahkan, seperti stres, depresi, gelisah dan lainnya. Yang karena gelisahnya, dia akhirnya cari hiburan dengan alkohol, judi, main perempuan, selingkuh, dan lainnya. Dan ujung akhirnya jatuh miskin juga.   Contoh lain, dia kaya, tapi stresnya tinggi, gelisah, merasakan kehampaan, tekanan batin tinggi, dan lainnya. Dia tidak mendapatkan ketenangan batin namun karena perbuatan kurang ajarnya sendiri.   Misal, bentrok terus-terusan dengan istri dan keluarga, karena dia selingkuh. Bentrok dengan rekan bisnis karena menipu. Pokoknya ruwet dan njelimet tapi karena prilaku kurang ajarnya sendiri.   Merekalah orang-orang fujjâr (kurang ajar), neraka Jahimnya sudah kelihatan di dunia ini, sekalipun dibalut harta benda, namun neraka itu tetap terlihat menyala-nyala.   Kaya tapi ada cacat moral disana-sini itu pertanda kekayaan ilusi, kekayaan sebagai neraka Jahim di dunia, kekayaan yang tidak menjadi simbol kekayaan akhirat. Contoh populernya ya Qorun dan Fir’aun.   Nah di atas baru saya jelaskan para al-abrar (orang-orang baik) dan para al-fujjâr (orang-orang kurang ajar) dalam bentuk kelimpahan harta.   Yang al-abrar dan al-fujjâr dalam bentuk kemiskinan

2024

KEBAIKANMU YANG JADIKAN ANAKMU WARAS, SHALEH, BERUNTUNG, HOKI DAN BERKUALITAS

Ini juga nasehat untuk diri saya sendiri. Semoga dengan saya tulis dan saya share menjadi taufiq bagi saya untuk konsisten mengamalkannya.   Saat Musa A.S. berguru kepada Khidhir A.S., salah satu prilaku Khidhir yang bikin Musa terperangah heran adalah saat keduanya tiba di sebuah desa yang dihuni penduduk yang mayoritas kikir.   Keduanya mencari orang-orang yang berkenan menjamu. Namun, tidak mendapatinya seorang pun. Meski demikian, Khidir tetap memperbaiki sebuah dinding rumah di kampung tersebut yang nyaris roboh.   Lagi-lagi merupakan perkara aneh. Mereka diketahui sebagai kaum yang kikir, namun Khidir mau memperbaiki dinding rumah mereka tanpa mendapat imbalan apa pun. Dipeliti malah Khidhir membantu dengan sukarela.   “Adapun dinding (rumah) itu adalah milik dua anak yatim di kota tersebut dan di bawahnya tersimpan harta milik mereka berdua, sedangkan ayah mereka orang saleh. Maka, Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Aku tidak melakukannya berdasarkan kemauanku (sendiri). Itulah makna sesuatu yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya,” pungkas Khidir. (Q.S. Al Kahfi : 82)   Si orang tua shaleh ini meninggalkan harta terpendam di bawah rumah untuk biaya hidup kedua anak yatimnya, kalau rumahnya roboh, dikhawatirlan harta terpendam tersebut ditemukan oleh warga desa yang rakus-rakus dan kikir sehingga kedua anak yatim berpotensi terlantar dalam kemiskinan.   Allah menjaga kebaikan masa depan kedua anak yatim tersebut lantaran kesalehan orang tuanya.   Orang tua si anak yatim itu orang shaleh. Disebut orang shaleh tentu semasa hidupnya memang lebih banyak perbuatan baiknya ketimbang buruknya.   Jadi jelas, amal saleh alias perbuatan baik kita itu bisa menjaga anak keturunan kita dari nasib sial dan naas.   Saya ada seorang teman, sebenarnya dia tidak begitu cerdas, dulu waktu di pesantren kecerdasan akademiknya jauh di bawah saya. Namun saat ini teman saya tersebut menjadi ulama besar, punya pesantren dengan ribuan santri.   Ternyata ayah beliau yang sangat ikhlas, sabar, istiqamah, dan teguh hati.   Sang ayah juga seorang ulama, namun santrinya masih sedikit. Santri sedikit tidak pernah jadikan beliau patah semangat, beliau dengan istiqamah, telaten, sabar, gigih, dan teguh hati mengajar dan membina santri-santrinya.   Efek dari amal saleh sang ayah, putranya terus berkembang pesat derajat keulamaannya, seolah si putra itu hidup dengan terus dikuntit keberuntungan-keberuntungan. Energi keberuntungan si putra sangat power full.   Anda lihat fenomena Gus Iqdam. Sebagai ulama muda, beliau ilmiah tidak, tapi energi hokinya sangat tinggi. Cerdas tidak, tapi kalimat-kalimat hikmah yang keluar dari mulut beliau begitu mengena di hati umat. Hidup beliau selalu diburu hoki dan keberuntungan.   Fenomena Gus Iqdam itu pasti support energi dari kesalehan dan kebaikan orang tuanya.   Guru saya kerjaan hariannya istiqamah mengajar para santri, sisa waktunya sangat disiplin mengerjakan berbagai wirid dan zikir rutin harian beliau, putra-putra beliau, semua menjadi ulama besar, alim, dan hidup penuh keberlimpahan.   KH Maimun Zubair, putra-putranya yang begitu banyak menjadi ulama besar semua, putri-putrinya menjadi istri ulama besar semua, itu indikasi KH Maimun Zubair orang shaleh yang sepanjang hidupnya banyak mengerjakan perbuatan baik.   Manusia itu makhluk generarif, dimana energi-energinya, baik energi positif maupun negatif yang dikumpulkan selama hidup akan diturunkan powernya kepada anak-anaknya.   Sementara segala hal itu bisa hidup dengan sehat, bertumbuh, berkembang dan produktif, apabila terima kebaikan-kebaikan.   Apapun yang tidak terima kebaikan akan binasa. Tanaman hias di halaman rumah Anda kalau tidak terima kebaikan air, hara dan sinar matahari ya sekarat lalu binasa. Demikian pula diri Anda.   Dan energi kebaikan atau energi amal saleh yang Anda kerjakan itu akan terkumpul, itu yang akan terwariskan ke anak sebagai support energy.   Kalau energi yang terkumpul energi kebaikan ya anak Anda menjadi waras, shaleh, penuh keberuntungan, penuh hoki dan berkualitas.   Sebaliknya kalau energi keburukan yang terkumpul itu akan binasakan anak-anak Anda untuk hidup waras, shaleh dan beruntung. Anak-anaknya menjadi anak-anak nista, lemah, jahat, miskin dan kurang ajar.   Sehingga bisa buat “titenan” (pengamatan), kalau anak-anak keturunan seseorang tumbuh menjadi anak-anak hebat, berkualitas, penuh hoki dan keberuntungan, itu bisa menjadi salah satu tanda bahwa dia itu orang shaleh.   Sebaliknya kalau anak keturunannya bejat, lemah, berandal, miskin, dan menderita, itu bisa salah satu tanda kalau orang tuanya memang bejat.   Namun ini hanya salah satu tanda, ya? Karena di kehidupan ini ada saja pengecualiannya. Seperti Nabi Nuh yang sangat saleh, diuji anak kufur seperti Kan’an. Itu pengecualian. Karena memang ujiannya Nabi Nuh melalui anak.   Ada kisah tetangga jauh saya. Selama hidup dirinya sangat rakus. Dia dengan tega menyerakahi harta warisan orang tuanya. Hak-hak warisan saudara-saudaranya diambil semua.   Na’ûdzubi-llâh, semua anak-anaknya jadi orang gila, sakit-sakitan dan hidup terlantar.   Ada lagi, seorang yang kerjaannya menyakiti tetangga, sombong dan angkuh. Ketika diberi amanah uang entah bisnis, entah tugas, sering mengorupsi. Omongannya nyelekit dan selalu merendahkan orang. Boleh dikata kerap toxic dengan orang lain.   Dia punya anak ganteng, talentanya si anak banyak, di sekolah juga ranking dan cerdas. Eeh tiba-tiba si anak bikin geger warga sekampung karena menghamili pacarnya. Setelah itu si anak terlilit hutang pinjol berkepanjangan. Na’ûdzubi-llâh   Ada lagi, orang alim ilmu agama, kerjaannya mengolok-olok dan merendahkan ustadz lain, dikiranya dirinya yang paling alim dan saleh.   Eeh, na’ûdzubi-llâh, anaknya jadi pemulung melarat.   Sudah jelas, ya? Amal saleh atau kebaikan Anda itulah yang akan bikin waras, saleh, keberuntungan, hoki, dan kualitas anak-anak Anda.   Nah untuk mengukur sejauh mana kebaikan dan kesalehan Anda, cek saja keseharian diri Anda.   Harian Anda, banyak scrool konten medsos turuti malas, apa banyak mengerjakan hal produktif? Banyak membicarakan orang lain, apa banyak mrmbicarakan visi hidup? Banyak menyakiti hati orang, apa banyak membahagiakan orang? Banyak istighfarnya apa banyak ngeluhnya? Banyak maksiatnya apa banyak taatnya?   Bejat lagi kerjaan hariannya dengki, menghina dan merendahkan orang, menipu, zina, atau bahkan menyekungkuhi pasangan orang lain, ya sudah kalau Anda tak lunas membayar dosanya, anak-anak Anda yang terima energi bejatnya.   MUHAMMAD NURUL BANAN Gus Banan Spiritual Prosperity

2024

UANG DAN DOSA KECIL

Ada seorang santri rutinkan baca shalawat, “Shallallâh ‘alâ muhammad,” setiap harinya 1000 kali, ijazah dari gurunya agar rezekinya lancar.   Dan benar, setelah konsisten merutinkan, lima tahun kemudian dia kaya.   Padahal shalawat tersebut kalau dibaca 1000 kali paling cuma butuh waktu 10 – 15 menit, namun rutin setiap hari energi kayanya pun terkumpul, menumpuk, lalu meledak.   Pertanyaannya, kalau 10 – 15 menit untuk baca shalawat bisa kumpulkan energi kaya seperti itu, andai setiap hari 10 – 15 menit digunakan untuk menonton bokep, maka 5 tahun kemudian apa yang terjadi?   Energi bokepnya terkumpul, tertumpuk, dan tentu lalu meledak.   Malcolm Gladwell dalam buku non-fiksi karangannya “Outliers“, menyebut bahwa jika Anda ingin menjadi ahli, Anda perlu melakukan kegiatan yang ditekuni itu selama 10 ribu jam. Teorinya dinamai “teori 10 ribu jam”. Bunyinya kira-kira begini :   “Seseorang akan menjadi ahli dalam suatu bidang tertentu yang diinginkan setelah dia melakukan dan mempelajarinya dalam waktu 10.000 jam.”   Sepuluh ribu jam itu, kalau dikonversi pada kegiatan 5 jam/per hari, maka dia membutuhkan 2 ribu hari. Kalau dijadikan tahun (seminggu 5 hari, 1 tahun sama dengan 260 hari), hasilnya adalah 7,7 tahun.   Setiap hari sempatkan 10 – 15 menit menonton bokep, setiap hari sempatkan 10 – 15 menit untuk menyakiti istri, setiap hari sempatkan 10 – 15 menit untuk ghibah orang lain, setiap hari sempatkan 10 – 15 menit untuk stalking akun mantan, ya Anda bisa hitung sendiri untuk mencapai 10 ribu jam.   Energi alam semesta itu konsisten membayar lunas dengan mekanisme titik balik. Di Indonesia, energi matahari di siang hari bersinar 12 jam, malam harinya di balas setimpal 12 jam matahari tenggelam, dan selalu stabil demikian di berbagai musim.   Di negara-negara kutub, di musim dingin, matahari di siang hari sangat singkat, namun dibalas setimpal dengan malam yang sangat panjang.   Nanti di musim panas, titik balik matahari membalasnya setimpal, malam hari menjadi sangat singkat, dan siang hari menjadi sangat panjang. Lunas.   Karena itu, keburukan dan kebaikan akan lunas dibayar.   مَن يَّعۡمَلۡ سُوٓءا يُجۡزَ بِهِۦ وَلَا يَجِدۡ لَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّا وَلَا نَصِيرا   “Barangsiapa yang mengerjakan keburukan, niscaya akan diberi balasan dengan keburukan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (Q.S. An-Nisa’ : 123).   Yang jadi masalah itu koleksi terkumpulnya energi keburukan jika rutin dilakukan ya lama-lama jadi bukit.   Baca shalawat 10 – 15 menit tiap hari saja bisa jadi bukit kaya, kalau keburukan 10 – 15 menit, bagaimana? Tentu algoritmanya sama.   Sebab itu tubuh Anda perlu terapi setiap hari agar keburukan atau dosa-dosa kecil bisa dicicil untuk dinetralkan. Ibarat sampah-sampah kecil, dicicil dengan disapu dan dibuang, biar tidak menumpuk.   Terapinya bagaimana? Kalau saya sendiri memilih tiap hari mandi taubat (ghuslut taubah).   Saya tidak luangkan mandi khusus untuk taubat, kecuali sedang merasa ada dosa yang harus segera ditaubati, baru saya mengkhususkan mandi taubat.   Kalau untuk terapi taubat harian, saya hanya memanfaatkan mandi harian saya, diniati mandi taubat. Kecuali saat mandi junub. Tata cara mandi taubat mudah disearch di Google.   Kemudian setiap hari juga sempatkan Shalat Sunat Taubat dan istighfar minimal 100 kali.   Persoalannya kalau tidak dicicil dengan terapi taubat, keburukan dan dosa kecil itu lama-lama membukit, dan di titik tertentu berefek buruk dengan resiko berat.   Ketika sudah membukit, itu tanda mengabaikan dan meremehkan, disitulah akan merasakan ma’îsyatan dhankâ (penghidupan sempit);   وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا   Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (Q.S. Thâhâ : 124)   Dan dalam situasi ma’îsyatan dhanka (penghidupan sempit) tersebut, tentu kehidupan finansialnya juga menyempit, duit ruwet.   إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيْبُهُ   “Sungguh seseorang akan dihalangi rezekinya dengan dosa yang dilakukannya.” (H.R. Ahmad)   Dosa bisa menghalangi rezeki? Ya bisa. Itu mantan kiper nasional di Timnas Indonesia, sekarang buta dan harus jualan emping di Tiktok, lantaran dosa sebagai pemabuk, tukang selingkuh, dan arogan kepada keluarga.   Itu memang dosa-dosa besar, namun dosa kecil pun yang terkoleksi harian ya akan membukit, dan tentu beresiko sama.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Class

2024

BEGINI CIRI-CIRI UANG YANG DATANG KETIKA ANDA SEBENTAR LAGI MAU KAYA

Segala partikel punya muatan energi. Di medan yang sama, pada satu ruang waktu yang sama, pada peristiwa yang sama, itu muatan energinya berbeda-beda.   Misal Anda seorang pemain bulu tangkis profesional lalu menjuarai kejuaran Thomas Cup, kemudian dipanggil presiden ke istana negara. Di istana negara Anda bertemu presiden.   Peristiwa ini akan sangat menghebohkan karena muatan energinya adalah prestasi dan kehormatan.   Padahal peristiwa bertemu presiden itu tiap hari dialami oleh cleaning service istana negara.   Namun karena beda muatan energi, cleaning service istana negara bertemu presiden ya bukan kehormatan bukan apa.   Sama saja Anda berangkat umrah, lalu Anda bisa menyentuh atau mencium Hajar Aswad, itu moment luar biasa, namun bagi cleaning servise Masjidil Haram ya apalah artinya menyentuh Hajar Aswad.   Peristiwanya sama, bendanya sama, ruang waktunya sama, namun muatan energinya berbeda.   Semua orang didatangi uang, namun muatan energi uangnya akan sangat berbeda ketika datang kepada orang yang sebentar lagi akan kaya dan orang yang akan tetap miskin.   Uang fitrahnya sebagai pelayan Anda. Dan Anda fitrahnya adalah majikan. Pelayan kepada majikan kecenderungannya hormat.   Begitu pun uang yang datang kepada Anda yang sebentar lagi mau kaya, itu tandanya muatan energi uangnya menghormati Anda.   Maksudnya begini, Anda siswa berprestasi di kelas. Karena prestasi-prestasi Anda almamater sekolah memberikan penghormatan kepada Anda berupa hadiah siswa berprestasi.   Namanya hadiah tentu pemberian dengan rasa hormat sehingga bentuk barangnya bernilai dan berharga.   Sehingga ciri Anda sebentar lagi mau kaya itu, uang yang datang kepada Anda itu nilai uang yang berharga karena di detik-detik itu Anda mulai dihormati alam semesta sebab ada prestasi-prestasi kebaikan tertentu yang sudah Anda raih dengan konsisten.   Misal Anda ulama atau guru atau ilmuwan, lah kok mulai datang amplop-amplop tebal karena hormatnya orang-orang kepada Anda karena telah diberi ilmu, itu tanda Anda sudah mulai mau kaya.   Misal Anda pengusaha, pedagang atau pebisnis, link-link duit gede itu mulai datang kepada Anda, tidak link recehan lagi.   Intinya Anda merasakan uang yang datang kepada Anda itu muatan energinya adalah hormat.   Beda dengan Anda yang masih menetap miskin, itu uang yang datang adalah muatan energi belas kasihan.   Fitrah uang itu pelayan yang hormat kepada majikan, bukan kemudian pelayan malah datangnya karena kasihan kepada majikan. Kebalik dan tidak sinkron.   Anda kasihan ke pengemis, tidak hormat, uang yang Anda berikan ke pengemis kan paling banter 2 rupiah. Mana mungkin kasih 20 ribu. Itu uang dengan muatan energi kasihan.   Uang-uang dengan judul bantuan sosial, donasi untuk kaum dhuafa entah atas nama agama, pemerintah maupun sosial, itu biasanya uang dengan muatan energi kasihan.   Uang begitu diterima ya tidak apa-apa, terima dengan rasa syukur, karena keadaan finansial orang berbeda-beda, hanya saja Anda yang sadar bahwa Anda lebih terhormat dari uang akan punya rasa tersinggung dan prihatin.   Kalau uang dengan muatan energi kasihan itu sekedar susah untuk mengangkat derajat manusia ke derajat lebih tinggi.   Nah di bawah uang dengan muatan energi kasihan itu masih ada level muatan energi yang lebih rendah, sebab muatan energi uang ini sudah merendahkan dan merusak kehormatan manusia.   Dan boleh muatan energi uang ini disebut muatan energi asfalâs sâfilîn (rendah yang paling bawah). Itu adalah uang dengan muatan energi haram.   Uang haram itu—na’ûdzubillâh—merusak baik kepada jasmani, rohani, dan juga kehormatan orang tersebut.   Uang dengan muatan energi haram kok diterima, ya itu tanda Anda akan alami kerusakan dalam hidup Anda.   Sekarang balik lagi ke masalah uang dengan muatan energi hormat yang itu adalah tanda Anda akan kaya dan sejahtera.   Lalu bagaimana peroleh uang dengan muatan energi hormat? Syarat orang untuk terhormat itu harus punya prestasi baik karena perbuatan baik yang dilakukan dengan konsisten dan istiqamah.   Umpama pedagang sudah konsisten ulet, bercita-cita tinggi, amanah, berkemauan keras, tidak bikin cacat, dan seterusnya.   Umpama pejabat ya sudah konsisten kerja dan mengabdi, sabar, amanah, dan seterusnya. Umpama ulama ya sudah berbagi ilmu, melayani umat, takwa, sabar, dan seterusnya.   Prestasi kebaikanlah atau prestasi amal shalehlah yang akan menarik muatan energi uang hormat untuk datang.   Janji Allah;   مَنۡ عَمِلَ صَالِحًـا مِّنۡ ذَكَرٍ اَوۡ اُنۡثٰى وَهُوَ مُؤۡمِنٌ فَلَـنُحۡيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً‌ ۚ وَلَـنَجۡزِيَـنَّهُمۡ اَجۡرَهُمۡ بِاَحۡسَنِ مَا كَانُوۡا يَعۡمَلُوۡنَ‏   “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (hayâtan thayyibah) dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q S. An-Nahl : 97)   MUHAMMAD NURUL BANAN Gus Banan Spiritual Prosperity Class

2024

KARAKTER PEMACET UANG (Part 2)

Tiga karakter pemacet uang; 1). Al-Hammi wal Hazan, 2). Al-‘Ajzi, 3). Al-Kasal, sudah saya share, bagi yang belum baca, linknya di kolom komentar.   Saya lanjutkan;   4. Al-Jubn (Pengecut)   Uang itu dicipta melayani Anda. Tabiat pelayan itu hormat dan tunduk kepada majikan. Asal majikannya waras, tabiatnya uang itu hormat dan tunduk.   Al-jubn atau sikap pengecut itu karakter diri yang jadikan uang kehilangan rasa hormat dan segannya kepada Anda. Ibarat pelayan mengtahui bobrok majikannya, dia pun hilang rasa hormatnya.   Lari dari tanggung jawab, culas, manipulatif, playing victim, memperalat orang untuk untungnya sendiri, dan lainnya itu di antara kategori pengecut.   Pengecut itu disuapi makanan malahan lengan penyuapnya digigit, dikasih tumpangan kapal, malahan kapalnya dia bocori.   Pengecut itu dia yang bikin ulah, orang lain yang harus bertanggung jawab. Dia yang punya anak istri, bantuan sosial yang diharap bisa menyejahterakan. Dan seterusnya.   Kalau sudah begitu, uang kehilangan simpati, segan, hormat dan takzimnya kepada majikan. Selanjutnya melarat.   5. Al-Bukhl (Bakhil)   Membelanjakan harta itu sistem aliran rezeki yang dicipta oleh Tuhan, ibarat air adalah sistem pipa dan irigasi.   Anda check out Shoppe, uang Anda mengalir. Anda berikan nafkah, uang Anda mengalir. Anda bayar sedekah, uang Anda mengalir. Uang itu mengalirnya kalau dibelanjakan.   Kalau Anda bakhil, sistem belanja Anda kurang sehat karena banyak sumbatan energi, efeknya jelas aliran rezeki Anda sendiri yang terpampat.   Setara dengan bakhil itu irit. Bedanya bakhil itu irit kepada orang lain, irit itu bakhil kepada diri sendiri.   6. Dhala’id Dain (Terlilit Hutang)   Hutang yang mengemplang itu sama seperti bakhil, yaitu menyumbat aliran uang mengalir.   Si penghutang sudah dengan sukarela mengalirkan uangnya kepada Anda dengan pinjaman yang harus dikembalikan, malah uangnya berhenti mengalir di dalam diri Anda. Ya sudah, di situ uang Anda stroke.   Hutang tidak jadikan Anda miskin, yang jadikan miskin itu bayar hutangnya. Kalau bermasalah bayar hutang, ya melarat, kalau konsisten bayar hutangnya ya makin kaya.   Saya banyak kenal dengan para pengusaha kaya. Mereka yang sukses bisnis modal hutang itu banyak, yang sukses dengan anti hutang juga banyak.   Namun mereka yang sukses bayar hutang selalu mereka yang disiplin bayarnya, entah dengan cash maupun kredit.   7. Ghalabatir Rijâl (Dikuasai Orang)   Saya pernah baca satu quote, “Kalau Anda tidak punya impian sendiri, maka hidup Anda hanya akan untuk mewujudkan impian orang lain.”   Sistem alam semesta itu homo homini lupus est dimana manusia adalah serigala bagi sesama manusianya.   Dalam mewujudkan impian pun begitu, kalau Anda tak punya impian sendiri, maka orang lain yang akan mempekerjakan Anda untuk mewujudkan impiannya.   Selagi sehat, tidak masalah. Artinya sehat, dilakukan dengan sukarela, dan masing-masing pihak bisa peroleh untung, hak dan kewajibannya.   Yang jadi masalah ketika Anda terjebak orang yang hubbud dun-ya (cinta dunianya) kelewat batas, sehingga obsesinya pada impian dunia sangat besar.   Disitu dia akan persis seperti serigala. Dia mengajak Anda bekerja, namun Anda merasakan kalau diri Anda hanya dipekerjakan untuk mewujudkan impiannya, sementara dengan keadaan diri Anda, entah itu impian Anda, cita-cita Anda, kepentingan Anda, eksistensi Anda, hak-hak Anda, dia sama sekali tidak peduli.   Parah lagi, sesudah Anda berjerih payah sendiri, disambi-sambi kerja kepadanya, Anda menyambi berkreatifitas sendiri wujudkan impian Anda sendiri, sesudah mulai terwujud, dia malah mendengki dan toxic. Anda cuma diharapkan jadi kacungnya tanpa dihargai. Kurang ajar pokoknya.   Itu masih mending. Lebih repot lagi Anda sampai dianiaya, dizalimi, diperas, dimanfaatkan, dan lainnya.   Itulah kondisi dimana Anda terjebak di dalam ghalabatir rijâl (dikuasai orang).   Nah keadaan-keadaan dikuasai orang begitu jadikan rezeki Anda lelet karena energi Anda habis untuk dimakan olehnya.   Kalau sudah begitu menghadapunya gunakan resep ngalah, ngalih, ngamuk.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Class

2024

KARAKTER PEMACET UANG

  اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ   “Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan, duka cita, lemah diri, malas, pengecut, pelit, terlilit utang dan dikuasai orang.” (HR. Bukhari).   Di atas adalah ajaran doa isti’adzah (mohon perlindungan) dari Nabi SAW.   Dalam spiritual prosperity pun, kalau Anda terjebak dalam salah satu keadaan yang disebutkan dalam doa di atas, maka keadaan tersebut akan menarik Anda dalam kesulitan finasial.   Uraiannya sebagai berikut;   1. Al-Hammi wal Hazan (Sedih hati dan Dukacita).   Hal ini sebenarnya sering saya jelaskan, hanya sedikit saya ulas.   Uang itu getarannya sukacita karena fitrah utama penciptaan  uang untuk melayani kebutuhan fisik Anda sebagai benda materi. Anda lapar, butuh uang untuk makan. Anda telanjang, butuh uang untuk beli pakaian. Dan seterusnya.   Ruhani membutuhkan uang, tetapi tidak mutlak. Ruhani Anda butuh sedekah, disitu Anda butuh uang. Namun kalau ruhani Anda butuh untuk ikhlaskan pacar yang selingkuh ya tidak butuh uang.   Ruhani kadang butuh uang, kadang tidak. Beda dengan fisik Anda yang mutlak butuh uang karena memang fitrah utama penciptaan uang itu untuk layani kebutuhan fisik Anda.   Tubuh fisik Anda karakternya enggan prihatin. Contoh Anda prihatin puasa, perut Anda enggan, kan?   Tubuh fisik Anda maunya dibawa senang dan sukacita. Masuk restorant mewah, lalu makan enak dan kenyang, perut Anda riang gembira, kan? Tubuh fisik maunya sukacita.   Nah uang fitrah utamanya diciptakan untuk layani tubuh fisik Anda, kalau tubuh fisik Anda maunya sukacita, uang pun maunya dengan getaran rasa sukacita.   Nah maka ini, kalau Anda kebanyakan rasa galau, rasa kecewa, rasa sakit hati, rasa miskin, patah hati, dan getaran rasa hammi wal hazan (sedih hati dan dukacita), itu benar-benar memacetkan rezeki uang Anda, karena di getaran itu Anda tidak sefrekuensi lagi dengan getaran uang yang sukacita.   2. Al-‘Ajzi (Lemah Diri)   Yang jadi orang kaya itu orang kuat apa orang lemah?   Orang kaya itu orang-orang yang sangat sadar akan harga dirinya, self-esteem-nya sangat baik.   Emas itu barang berharga, didatangi uang besar. Rongsokan barang tak berharga, didatangi uang receh.   Nah kalau diri Anda sering merasa pesimis, merasa lemah, merasa minder, merasa balung kere, itu akses rasa diri tidak berharga. Barang tidak berharga, resikonya didatangi uang kecil.   Lemah diri itu kecilnya rasa menghargai diri sendiri sehingga kerap mengistimewakan dan menyamankan orang lain ketimbang mengistimewakan dan menyamankan diri sendiri.   Dengan kata lain, lemah diri itu self-esteem-nya lemah. Self-esteem lemah, rasa berharga lemah. Barang tak berharga, resikonya didatangi uang kecil.   3. Al-Kasal (Malas)   Gus Baha menyampaijan, “Penyakitnya orang miskin itu malas-malasan. Penyakitnya orang kaya itu senang uang. Penyakitnya penguasa itu senang jabatan.”   Malas itu sebenarnya sifat pelit, hanya saja bukan pelit uang, tapi pelit karya dan kreatifitas.   Maka ini Anda mau bermental kaya sedahsyat apapun, mau dermawan sehebat apapun, mau berilmu setinggi apapun, kalau malas-malasan ya artinya Anda pelit. Kalau pelit ya pangkal melarat.   Malas itu selevel dengan pelit. Setara.   Di samping itu alam semesta ini bergerak dalam ruang dan waktu. Ruang selalu berubah, waktu selalu bergerak maju.   Uang pun mengalir dalam pergerakan ruang dan waktu.   Nah pas Anda malas, Anda tidak sinkron dengan gerak ruang dan waktu yang di dalamnya juga ada gerakan uang. Akibatnya selalu ketinggalan kereta.   Lainnya sambung besok lagi, jam ngabuburit.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spuritual Prosperity Class

2024

KALAU MAU BAIK HARUS KUAT

Mantra sihir atau santet itu getaran doa jahat untuk mengirim kecelakaan kepada orang lain, ternyata diijabah oleh Tuhan.   Doa rahmat itu getaran doa kebaikan untuk mengirim keberlimpahan kepada orang lain, dan nyata diijabah juga oleh Tuhan.   Di alam dunia ini Tuhan itu netral, tidak memihak, antara doa jahat dan doa rahmat diberi peluang sama untuk diijabah. Karena itu Tuhan bergelar Ar-Rahman.   Gelar Ar-Rahman pada Tuhan berarti Tuhan Maha Pemurah tanpa memihak, yang maksiat dan yang taat diberi fasilitas sama.   Yang maksiat lalu ingin mesum dengan selingkuhan, mereka diijabah, nyatanya banyak orang sukses menikah dengan selingkuhan.   Yang taat lalu ingin hidup harmoni dengan pasangan nikah dengan membangun kesetiaan, mereka juga diijabah oleh Tuhan, nyatanya banyak orang taat hidup samawa dalam pernikahan.   Itulah sifat Ar-Rahman Tuhan yang berbalik dengan sifat Ar-Rahim Tuhan, dimana hanya berbuat baiklah yang dikasihsayangi, hanya saja sifat Ar-Rahim ini realisasi totalnya nanti di alam akhirat.   Tuhan netral, tidak memihak, maka itu di alam dunia ini, antara jahat dan baik itu tinggal siapa yang kuat, keduanya punya peluang yang sama di depan Tuhan.   Karena itu kalau Anda mau baik, kuatkan diri Anda dengan kokoh, jangan lemah, karena yang jahat sama kuat dan peluangnya.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Class

2024

KALAU INGIN MUDAH MEMAAFKAN TANPA MEMICU STROKE

Kalau Anda pingin mudah memaafkan dan mengikhlaskan orang yang menyakiti Anda, Anda kudu menang dulu dalam realita kehidupan. Tidak kalah akan jauh lebih mudah memaafkan dan mengikhlaskan.   Maksudnya, bagaimana? Begini uraian panjangnya.   Nabi Yusuf masih bocah, tidak tahu apa-apa, tau-tau memdapatlan kesinisan luar biasa yang sangat menyakitkan hati dari saudara-saudara tirinya.   Bahkan dari kesinisan tersebut menjadi awal petaka hidupnya.   Beliau dibuang oleh saudara-saudara tirinya dengan tipu muslihat penganiayaan yang licik, terpisah dari orang tua dan keluarganya, terbuang jauh ke negeri orang, betstatus sebagai orang hilang.   Lika-liku nasib tragisnya tidak berhenti disitu, di negeri buangan beliau harus hadapi serangkaian tekanan hidup yang berat.   Status budak belian, dicintai majikan wanitanya, lalu difitnah keji berbuat mesum, hingga berakhir beliau menjadi narapidana atas kejahatan yang tidak pernah beliau lakukan.   Proses-proses ujian berat tersebut membawa Yusuf menjadi orang mulia, menjadikannya pejabat tinggi negara Mesir Kuno dengan kekayaan melimpah. Di saat itu, justru saudara-saudara Yusuf yang iri hati sedang dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan.   Yusuf telah menang telak.   Di saat para saudara tiri yang iri padanya tidak ada daya lagi selain dipaksa keadaan harus mengakui keunggulan Yusuf, dengan enteng Yusuf berkata,   لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ   “Tak ada celaan bagi kalian di hari ini, semoga Allah mengampuni kalian.” (Q.S. Yusuf: 92)   “Tak ada celaan atas kalian” artinya kejahatan para saudara tirinya dimaafkan dengan enteng hati oleh Yusuf. Orang yang sangat menyakitinya hingga mencelakainya, eeh dengan ringan hati dianggap tidak masalah.   Gambaran mudahnya begini, ada seorang teman saya cerita, “Dulu aku dikhianati pacarku. Aku diputus sepihak, lalu dia memilih cowok lain yang lebih mapan. Tak lama kemudian dia pun menikah dengannya. Aku sakit hati sekali. Namun kini diriku sudah menjadi anggota legislatif, mobilku honda CRV, sementara suaminya hanya guru honorer yang beli motor saja masih kredit. Kini rasanya semua sakit hatiku terobati. Aku puas.”   Nah kan hati itu akan enteng sekali memaafkan dan mengikhlaskan ketika Anda telah menang.   Kalau memaafkan kok dalam kondisi Anda lemah tak berdaya, kondisi dimana Anda untuk sekedar bisa membela harga diri sendiri saja tak bisa, itu mah bukan memaafkan, tapi orang yang cari stroke permanen.   Cuma untuk menang itu bukan untuk Anda yang ototnya kuat, cakarannya kuat, yang galak, yang pintar melabrak, yang pintar cari menang sendiri, itu bukan. Bukan yang arogan, bukan yang angkuh, bukan yang kuasa lakukan segala hal, bukan mereka.   Pemenang justru diraih oleh yang sabar. Hanya orang sabar yang nantinya akan peroleh berita gembira kemenangan.    وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ   “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah : 155)   Sabar dalam segala hal. Sabar dalam konsistensi merubah hidup, sabar dalam konsistensi meraih impian, sabar dalam menanggung sakitnya derita, sabar dalam menjalani ketaatan, dan seterusnya.   Teman saya di atas kenapa dia bisa menjadi anggota legislatif yang kaya itu saat dia patah hati dari cewek yang dicintainya, dia istiqamah tidak batal wudhu yakni kalau batal wudhu langsung wudhu lagi selama bertahun-tahun lamanya.   Belum lagi istiqamah baca istighfar setiap jelang tidur sebanyak ribuan kali. Dan walaupun dia tidak punya modal, dia tetap ulet bisnis kecil-kecilan, hingga akhirnya bisnisnya membesar, diapun jadi orang kaya.   Itulah jalan menang.   Sekali lagi kalau mau mudah memaafkan, berjuang dulu dengan kesabaran sampai menang. Kalau berjuang belum langsung tergeletak di saat lemah, itu mah orang cari stroke.   Sama saja Nabi Muhammad, memaafkan kezaliman kaum kafir Quraisy ya sesudah kaum kafir Quraisy lemah baik secara militer maupun politik.   Puncaknya pada saat Fat-hul Makkah (penaklukan Mekah), beliau bersikap persis seperti sikap Yusuf yang memaafkan saudara-saudara tirinya.   Dulu ketika kafir Quraisy masih ganas dan arogan, Muhammad SAW dengan sabar terus berjuang. Sesudah menang, baru dengan enteng beliau memaafkan.   Proses memaafkan begitu, memaafkan yang tidak memicu stroke.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity

2024

ZALIM MELEMAHKANMU, ISTIGHFAR MENGUATKAN LEMAHMU

Ada seorang siswa SMP hanya tertunduk diam, tanpa pembelaan, sekalipun dirinya dicela dan diinterogasi.   Bahkan ketika orang tuanya dituntut bayar denda sekian banyak, ia pun hanya bisa diam, dan mau tak mau menerimanya sekalipun itu sangat merugikan dan memberatkannya.   Dia tak punya kuasa membela diri karena ia salah telah berbuat zalim, telah melakukan perundungan kepada temannya.   Begitu hakikat energinya orang zalim, dia lemah, dia kehabisan energi, bahkan untuk sedikit bela diri saja yang itu adalah hak asasi setiap manusia, dia sudah tidak bisa.   Orang zalim energinya habis dikarenakan zalim itu hakikatnya mengambil kebaikannya sendiri lalu diberikan kepada orang lain. Kalau kebaikan dirinya sudah habis, maka keburukan orang yang dizalimi yang nanti diberikan kepada orang yang zalim.   مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ   “Siapa yang berbuat zalim terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak melakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (H.R. Bukhari)   Jadi zalim itu sangat mengerempangkan energi diri selanjutnya jadikan dirinya lemah, tak punya kekuatan apa-apa lagi.   Sesuatu yang lemah jelas tidak punya power energy. Batre handphone sisa 16% ya enwerginya ngantukan, tidak punya energi penuh untuk hidup.   Nah Anda kerap kan merasa lemah untuk hadapi seseorang? Merasa tak punya kekuatan cukup untuk hadapi seorang yang toxic kepada Anda?   Itu dikarenakan power energy Anda lemah sehingga hadapi orang yang zalim, Anda tak kuasa.   Kenapa Anda lemah? Ya manusia normal, tentu di sana-sini banyak zalimnya, entah disadari atau tidak.   Nah kezaliman yang Anda lakukan entah sadar atau tidak itu yang jadikan Anda lemah, lowbat 16% saat hadapi orang zalim.   Istighfar itu pengkhayatan rasa taubat. Energinya mengoreksi kezaliman-kezaliman diri.   Sementara kezaliman dirilah pelemah energi Anda, ketika kezaliman diri dinetralkan, maka energi diri Anda lama-lama powerfull. Saat telah powerfull, orang yang zalim kepada Anda dengan mudah di-TKO.   Ya istighfar menambah power energi, sebagaimana wasiat Nabi Hud AS kepada umatnya;   وَيَٰقَوْمِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا۟ مُجْرِمِينَ   “Dan (Hud berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (Q.S. Hud : 52)   Umar bin Khathab ketika diberi laporan bahwa pasukannya kesulitan menaklukan musuh yang dihadapi, beliau selalu wasiat kepada pasulkannya agar memperbanyak istighfar. Hasilnya menang. Karena begitulah kronologi permainan energi istighfar.   Jadi saat Anda merasa lemah hadapi orang yang tidak baik kepada Anda, konsistenkan istighfar sebanyak-banyaknya dalam jangka waktu panjang. Misal setiap hari 1000 kali.   Tapi niatnya jangan agar musuh kalah, niatnya tetap mohon diampuni kezaliman diri di dalam diri Anda.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Class

Spiritual Prosperity

Kumpulan Quote Cinta

1. Anda menginginkan beras di toko sembako, tapi Anda tak punya uang, apa pantas Anda tersinggung lalu menuduh pemilik toko matre? Anda mencintai cewek, orang tuanya tidak setuju karena Anda tak punya uang, pantaskah Anda tersinggung lalu meratap dan menuduh-nuduh si ortu cewek sebagai matre? Segala hal ada standar harganya. 2. Andai token listrik, beras, gas LPG, bensin, dan kebutuhan lainnya bisa dibayar dengan cinta, niscaya sejoli yang menikah hanya modal cinta tanpa modal harta jadi pasangan langgeng samawa. Sayangnya sesudah menikah dengan modal cinta, membayar itu semua tetap dengan uang. 3. Kebanyakan orang yang di usia remaja menghabiskan energinya untuk sibuk mengurusi asmara, memprioritaskan sukses asmara, ternyata mereka di usia dewasanya terpuruk. Yang punya power hidup di kemudian hari justru mereka yang tidak sukses-sukses amat dalam asmara, terluka cinta ataupun bodo amat dengan asmara. 4. Sebelum menikah semua indah karena asmara. Sesudah menikah semua indah karena uang. 5. Sebelum usia dewasa, wajah cantik itu karena bawaan lahir. Sesudah usia dewasa, wajah cantik itu karena uang. Iya seudah melahirkan satu anak badan mulai gembrot, badan mulai rempong menyusui, kalau tak ada buang, bagaimana bertahan cantik? 6. Ada teman saya bilang, “Dulu aku patah hati, sakit sekali. Si cewek memilih cowok lain, hingga dia menikah dengannya. Tapi sekarang sesudah saya menjadi anggota dewan dan mobilku Honda CRV, sementara suaminya masih tetap guru honorer dengan motor kredit, semua lukaku dulu kini terobati.” Ya ternyata uang itu tetap yang menang dari asmara. Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Class

Scroll to Top