Sistem jual beli alam semesta itu konsumen dapat manfaat, produsen dapat bayaran. Nah kalau konsumen dapat bayaran apa ada sistemnya di alam semesta? Misal Anda ditugasi tidur di hotel tiap malam, lalu tiap bulan Anda dapat gaji seperti karyawan, apa mungkin?
Di alam semesta ini yang dibayar selalu produsen, bisa dibayar karena memroduksi jasa, bisa juga karena memroduksi barang.
Anda memroduksi konten Youtube, biaya untuk penuhi kebutuhan alat shooting atau biaya menyewanya, ide produksi konten, belum lagi nanti mematuhi algoritma Youtube, semua harus Anda urusi. Setelah Anda memroduksi konten Youtube, dan manfaat jasa konten diterima konsumen yakni viewers Youtube, baru kemudian Anda layak dapat bayaran.
Di atas pelogisannya dengan jual beli, sekarang temanya saya tarik ke tema sosial.
Hakikat menarik rezeki juga demikian, power menarik rezeki itu adanya bila Anda sebagai produsen yakni pihak yang memberi jasa atau barang, bukan pihak konsumen yang terima manfaat. Karena selamanya penerima manfaat itu tidak layak dibayar.
Anda sedekah, di situ Anda memberikan jasa amal kemanusiaan, Anda layak dibayar. Anda belanja, di situ Anda memberikan jasa mengalirkan rezeki kepada orang lain, Anda layak dibayar. Anda berikan nafkah, di situ Anda berikan jasa tanggung jawab nafkah, Anda layak dibayar.
Sekarang, kalau posisi Anda sebagai penerima bantuan uang, bagaimana? Lah ketika posisi Anda sebagai penerima bantuan uang, di situ posisi Anda sebagai penerima manfaat, bukan nemroduksi manfaat, Anda konsumen bukan produsen, layakah Anda dibayar dengan keluasan rezeki? Sebab tidak mungkin Anda menerima manfaat menonton konten Youtube lalu Anda yang digaji oleh Youtube, yang digaji tentu yang memroduksi jasa konten.
Tapi lumayan sih sebagai konsumen penerima manfaat itu, dia punya jasa kerap gunakan kata, “Terima kasih.”
Lebih sadis lagi, penerima manfaat malahan yang terkena hukum harus membayar, bukan dibayar. Anda mendapat manfaat makan di restoran, ya Anda harus bayar kan?
Sebab ini, kalau Anda terlalu nyaman sebagai penerima bantuan, justru rezeki Anda sukar bertumbuh, karena Anda memasang diri sebagai penerima manfaat, sebagai konsumen penerima manfaat. Dari sistem rezeki di alam semesta saja sudah jelas, penerima manfaat tidak layak dapat bayaran.
Malahan jika kenyamanannya hanya terima bantuan, nyamannya sebagai tangan di bawah, sehingga Anda tidak pernah lagi pikirkan imbal balik, justru nanti Anda yang ditagih oleh alam semesta untuk membayar, sebab kewajiban konsumen penerima manfaat adalah membayar.
Sistem tagihan bayarannya biasanya melalui sistem paksaan dari alam semesta, entah musibah yang datang min haitsu lâ yahtasib, entah sakit, entah jadi diseretkan rezekinya, entah jadi punya utang menumpuk, dan lain-lain, pokoknya oleh alam semesta dipaksa untuk membayar.
Anda amati saja, yang terima bantuan sosial gratis itu selalu orang miskin, tapi apa ada yang kemudian jadi milyader lantaran bantuan sosial? Tidak ada. Tidak ada bantuan sosial lalu mengentaskan kemiskinan.
Kecuali yang dapat bantuan karena prestasi, misal pebulu tangkis, lantaran punya prestasi jadi juara Thomas dan Uber Cup, lantas terima hadiah milyaran dari negara. Itu sih bukan bantuan sosial, tapi hadiah, dan hadiah pasti karena ada jasa yang diberikan.
Sekarang Anda tanya, “Lah kok ada pengemis kaya?” Barangkali ada, tapi itu di balik hidupnya pasti ada paksaan tagihan membayar dari alam semesta, entah apapun bentuknya.
Anda bisa amati kok, sistem rezeki alam semesta itu pihak penerima manfaat alias konsumen selalu yang tidak punya power rezeki. Yang power rezekinya besar selalu pihak pemroduksi jasa.
Para dermawan selalu menjadi orang kaya yang power rezekinya besar karena mereka pemroduksi jasa, pihak penerima manfaat bantuan justru yang konsisten tetap hidup kekurangan.
Kebanyakan para suami yang produktif memberi nafkah, power rezeki suami justru yang paling besar. Istri dan anak-anaknya sebagai pihak penerima manfaat nafkah, justru kerap tidak punya penghasilan besar.
Andai kemudian istri yang banting tulang memberi nafkah, hasilnya ya yang berikan jasa nafkah itu yang kaya, hasilnya si istri lebih kaya dari suami.
Jadi “amit-amit” punya mental tangan di bawah, punya mental penerima bantuan, punya mental pengemis, karena tidak ada sistemnya di alam semesta ini kalau penerima manfaat itu punya power rezeki besar.
Berarti tidak boleh terima bantuan dong? Tidak begitu, maksudnya jangan bermental nyaman atau bahkan bangga sebagai penerima bantuan, sebagai tangan di bawah.
Boleh terima bantuan, tapi jangan nyaman, itu saja kalau Anda ingin power rezekinya naik. Kalau yang diingini tetap konsisten miskin, ya silakan yang nyaman dan bangga hati saja sebagai penerima bantuan.
Karena itu mau Anda lacak ke ayat suci manapun, tidak akan pernah ditemukan perintah, “Hai manusia, kalau kalian ingin kaya, minta-mintalah, mengemislah, taruhlah tanganmu di bawah,” dan lain-lain. Yang ada perintahnya justru berinfak, berbelanja, bersedekah, dermawan, berikan nafkah, bertangan di atas, dan tindakan-tindakan lain yang terhubung dengan aktifitas pemroduksi jasa.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply