MEI 2023

MEI 2023

“NERIMAN” PADA HARTA

Misal, handphone retak cassing dan layarnya, dipicu rasa tidak punya uang, diterima-terimakan cassing-nya diikat karet dan diterimakan gunakan handphone dengan layar retak. Dan di hatinya ada “rasa menerima” dengan kondisi handphone yang seperti itu.   Pakai kaos pemberian caleg DPRD, padahal kaos gratis karena kampanye Pilkada itu ya kaos murahan banget, lalu dengan “rasa menerima” kaos gratisan kampanye itu dipakai untuk aktifitas sehari-hari layaknya kaos harian. Di hatinya ada rasa sebagai orang tidak punya sehingga menerima saja kaos gratis murahan.   Kaca mata patah gagang frame-nya, merasa orang tidak punya, masih merasa berat beli yang baru, lalu disambung-sambung sendiri dengan dibungkus selang plastik dan dilem pakai lem G, terus dipakai dengan rasa menerima tulus.   Itu contoh model-model orang yang hatinya “neriman” dengan harta, biasanya mereka berdalih menerima hidup apa adanya.   Sadar tidak, Al-Qur’an jelas menempatkan Anda sebagai makhluk paling mulia, iya Anda manusia adalah martabat penciptaan tertinggi dan termuliakan.   وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا   “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. Al-Isrâ’ : 70)   Lah makhluk tinggi tertinggikan, mulia termuliakan, lah kok “neriman” dengan handphone rusak, “neriman” pada kaos gratis murahan, “neriman” dengan frame kaca mata patah? Layak, enggak?   Ini loh yang harus jadi catatan Anda, kalau mobil Toyota Land Cruiser 300 yang merupakan level mobil mewah artinya mobil yang levelnya lebih sempurna penciptaannya ketimbang mobil Toyota lainnya, lalu dipaksakan pakai onderdil murahan akal-akalan dari onderdil Toyota Avanza, apa kira-kira Land Cruiser-nya tidak ringsek sekalian?   Sekarang Anda makhluk termulia, diterima-terimakan dengan rasa menerima besar dengan handphone retak cassing dan layarnya yang artinya menerimakan diri dengan barang “sampah”, kira-kira makin ringsek, tidak?   Hal ini yang jadikan rezeki Anda ringsek, keluarga Anda ringsek, karir Anda ringsek, dan tubuh fisik Anda juga jadinya sakit-sakitan, dan penyebabnya ternyata sepele, hanya karena Anda punya rasa “neriman” dalam perihal harta.   Anda amati saja, orang yang gemar “neriman” dengan harta, mereka makin dicekik kemiskinan, penyakit dan masalah ruwet.   Salah sendiri, penciptaan kemuliaan diri sendiri tidak disadari, tidak disyukuri, malah tertipu oleh harga cassing handphone, harga kaos oblong, harga frame kaca mata. Siapa yang goblok?   Cepat-cepat taubat ya Anda yang gemar akal-akalan barang bekas, akal-akalan barang kawe, akal-akalan barang rusak, sedikit pasang gengsi lah dengan harta, sayangi kemuliaan diri Anda sebagai makhluk termulia.   Umpama sangat darurat Anda pakai barang rusak yang diakali, tapi ya di hati jangan ada rasa menerima, di hati tetap pasang gengsi dan berjanji akan ganti yang lebih baik lagi, karena yang jadi titik masalah adalah “rasa nerimannya”.   Beda masalah kalau Anda pakai barang rusak yang diakal-akal tapi ada tujuan memuliakan jiwa manusia, ini tidak masalah.   Contoh, Anda bertahan pakai handphone rusak demi bisa sekolah. Sekolah itu demi ilmu, ilmu itu kemuliaan jiwa.   Contoh lagi, Anda menerimakan pakai motor tua karena uangnya dipakai menabung naik haji. Naik haji itu ibadah, ibadah itu memuliakan jiwa.   Yang jadi titik masalah adalah rasa “neriman” pada harta karena dipicu rasa tidak berdaya sebagai orang yang pas-pasan rezekinya, ini yang sudah pasti Anda ringsek sekalian hidupnya. Kalau pemicunya “neriman” dengan harta, mendingan jadi Maria Ozawa, walaupun norak dan vulgar, ia masih selera beli barang mahal, tidak kalah mental dengan harta.   Nabi Muhammad S.A.W minatnya hidup sederhana, walaupun beliau sudah kaya semenjak sebelum menikah dengan Khadijah R.A., tapi beliau tidak pernah mau “neriman” pada harta. Iya, kurma sedekah saja beliau tidak berkenan memakan, sebab beliau merasa mulia, masa didudukkan seperti level pengemis yang layak terima receh 500-an.   Beliau kerap menunjukkan kehidupan yang sederhana, semisal perut diganjal batu karena 3 hari belum makan, tapi itu beliau jalani hidup sesederhana itu ada tujuan “memuliakan jiwa”, bukan dengan dasar “neriman” pada harta.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

MEREK DIRI; AGAR TANPA SIBUK MENAWAR-NAWARKAN, PEMBELI DATANG SENDIRI

Kalau Anda seorang germo mustahil akan ada cewek yang datang ingin mengaji dan belajar agama kepada Anda, yang datang pada Anda tentu cewek yang hendak menjual diri.   Itu karena alam semesta ini mengenal sistem brand atau merek, brand apa yang Anda kenalkan ke alam semesta maka itulah yang akan datangi dan terhubung dengan Anda.   Toko dan rumah saya itu berjejeran, keduanya sama-sama bangunan gedung, namun yang datang itu orang yang beda. Yang datang ke bangunan gedung “toko” itu para pembeli yang mau kasih uang ke saya, sementara yang datang ke bangunan “rumah” saya ya para tamu biasa.   Toko dan rumah saya bangunannya sama, sama-sama dari semen, batu, bata, genteng, cat, pasir dan seterusnya, tapi orang-orang yang datang itu berbeda keperluan. Itu dikarenakan 2 bangunan tersebut oleh saya diberi “brand” yang berbeda, ruhnya keduanya pun jadi beda.   Banyak orang jualan kesulitan peroleh custamer, tidak laku, namun sebagian yang lain banyak juga yang pembelinya datang sendiri, ini disebabkan perbendaan kemampuan mem-branding diri.   Yang ongkang-ongkang saja tapi tetap didatangi pembeli itu karena alam semesta sudah mengenali brand dirinya, ia dikenali sebagai pedagang. Sebaliknya yang sudah nawar-nawarkan capek tapi tidak ada yang beli itu karena brand-nya sebagai pedagang belum dikenali alam semesta.   Anda pernah alami kan, Anda sedang dagang malah yang datang kepada Anda bukan orang yang mau beli, tapi orang yang mau minta bantuan sosial? Jualan buku, misalkan, yang datang malah bukan orang yang mau bayar buku, tapi minta buku. Itu disebabkan Anda belum mampu meyakinkan alam semesta kalau Anda adalah pedagang.   Si peminta bantuan sosial tersebut meminta gratis dari dagangan Anda ya karena diri Anda sendiri yang memanggilnya, artinya Anda belum bisa meyakinkan diri Anda sendiri sebagai pedagang. Identifikasi brand diri Anda belum jelas, apakah pedagang ataukah penyantun sosial?   Ibaratnya belum jelas brand Anda, seorang germo atau ustadzah? Disebut germo tapi yang datang pada Anda adalah cewek yang mau mengaji, disebut ustadzah tapi yang datang adalah cewek yang mau melacurkan diri, ya jelas di situ identititas brand Anda yang dipertanyakan.   Jadi kalau mau yang datang adalah pembeli barang dagangan, perjelas dulu brand diri Anda.   Lalu bagaimana cara membentuk brand pedagang? Ya Anda butuh waktu kontinyu yang konsisten untuk membentuknya.   Ada kisah seorang cewek lulus SMA, ia bisnis MLM. Sudah niat berdagang tentu ia sibuk membangun jaringan dan promosi. Saking masih kecil jaringannya, di group WhatsApp keluarga, ia kerap share produk dagangannya. Tentu ujung-ujungnya keluarganya enek, agak sebel. Disebelin, ia tetap masa bodoh dan cuek karena sadar kepentingannya adalah buka jaringan jualan.   Status WhatsApp ia aktif share produk-produknya, di semua akun medsosnya dia juga konsisten bicara dagangannya. Terus konsisten.   Pada akhirnya 60% anggota keluarganya di grup WhatsApp terjaring di MLM-nya. Awalnya disebelin, karena belum teridentifikasi jelas dia pedagang atau family, lambat laun identitas pedagangnya makin jelas.   Saat sudah diidentikasi sebagai pedagang, brand-nya sebagai family di group WhatsApp tersebut kalah oleh brand pedagangnya. Jelas sudah identitas brand-nya, ia adalah rumah yang dibuat “toko”, dikenali sebagai “toko”. Dikenali sebagai toko yang datang adalah para pembeli walaupun itu saudara sendiri.   Jadi jelas cara bangun brand diri, harus konsisten sebagai pedagang yang sedang cari untung. Jangan ragu, jangan sungkan, jangan enggan, kenalkan ke alam semesta dengan konsisten kalau Anda pedagang.   Ya tentu saat bangun brand diri sebagai pedagang jadi disebeli orang, ditolak tawarannya, dicibir, dan seterusnya. Sudah begitu ada saja orang yang datang bukan mau beli tapi mau minta sedekahan, sudah capek tawar-tawarkan dagangan, tidak ada yang beli. Tapi ya itu proses identifikasinya begitu, selagi brand diri Anda belum dikenali jelas, kendala seperti itu tetap hadir.   Anda amati iklan-iklan kelas pemberdayaan diri saya sekarang, selalu tertera jelas harga tarifnya. Itu saya sengaja sedang bangun brand kalau saya adalah penjual kelas pemberdayaan diri yang bermisi bisnis bukan pengkhutbah Jumat yang bermisi dakwah.   Harus jelas identitasnya, sedang jualan apa dakwah, tegas dan terus terang kepada diri diri sendiri. Tidak plin-plan, pingin dibayar kelas pemberdayaan dirinya, sikapnya jangan umpat-umpet tarif seperti kyai yang diundang pengajian.   Orang yang ragu-ragu sebagai pedagang itu jelas kok, nyebutin harga dengan terus terang tidak berani tegas, tawarkan barang jualan semi-semi gratisan dan semi-semi murah walaupun dia sendiri belum puas dengan keuntungannya, kalau pas ditawar dengan batingan harga murah ia tidak berani menolak tegas, hatinya goyang, kalau tawarkan harga mahal walaupun memang itu harga standartnya dia muter-muter dulu karena tidak enak hati, dan seterusnya.   Sekarang ini ya, walaupun saya sedang malas buka kelas pemberdayaan diri, ya tetap orang menanyakan kelas saya datang sendiri. Nanya dan mau membayar. Itu karena brand saya dalam ilmu pemberdayaan diri sudah dikenali sebagai pedagang, yang datang ya orang yang mau beli dan bayar.   Nah sebagian orang ada yang walaupun dia tidak pernah tawar-tawarkan dagangannya lagi tetap saja para pembelinya datang sendiri, itu karena identitas brand dirinya sudah kuat sekali. Dan tentu perjuangannya di masa lalu untuk kenalkan diri ke alam semesta sebagai “pedagang” penuh jerih payah.   Jadi sedari awal niatlah yang kuat sebagai pedagang yang cari untung, jangan mau direcoki bisikan misi dakwah, misi sedekah, misi khidmah, misi pendidikan, dan seterusnya, jangan mau direcoki nilai-nilai spiritual dan sosial, dagang ya dagang, terus tegas dan konsisten, “Saya Dagang!” nanti lama kelamaan identitas brand Anda kokoh, dan pada saat itu Anda pergi ke rumah tetangga untuk Yasinan dan Tahlilan tetap saja di situ ada orang yang minta beli dagangan Anda.   Demikian pula karir-karir yang lain, sama. Anda mau jadi apa, kenalkan diri Anda dengan konsisten ke alam semesta tentang siapa diri Anda.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

JARINGAN REZEKI DARI POWER OTORITAS DIRI

Anda terlahir ditempeli hak otoritas diri sebagai fitrah diri. Hak otoritas diri maksudnya hak mengontrol individu lain di luar diri Anda, semisal Anda sebagai orang tua punya otoritas untuk membawahi anak, Anda sebagai kepala pemerintahan punya otoritas membawahi rakyatnya, Anda sebagai guru punya otoritas membawahi muridnya, dan seterusnya.   Power rezeki terkait dengan power hak otoritas diri. Kalau Anda seorang presiden, misalkan, lalu Anda tidak mampu mengontrol dan mengendalikan rakyat dengan kekuatan politik kekuasaan Anda, di mana-mana rakyat memberontak, otomatis hak otoritas Anda pada rakyat hilang, kekuasaan Anda lengser.   Ketika Anda lengser sebagai presiden itu artinya hak otoritas Anda pada rakyat ikutan tercabut. Ketika hak otoritas pada rakyat tercabut yang terjadi rezeki Anda juga ikutan tercabut.   Keluarga Cendana seperti apa gurita rezekinya ketika Soeharto berkuasa, setelah beliau lengser, satu-satu jaringan rezekinya rontok, power rezekinya melemah bersamaan dengan melemahnya power otoritas Soeharto mengontrol rakyat. Hilang power hak otoritasnya, rezekinya juga melemah.   Setiap Anda punya hak otoritas entah dalam profesi apapun, hak dimana Anda harus punya kekuatan untuk membawahi lalu mengontrol mereka. Karena itu setiap diri Anda adalah râ’in (pemimpin) yang artinya punya hak otoritas untuk mengontrol orang-orang yang ada di bawah otoritas diri Anda.   أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ   “Ketahuilah! Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat, dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dan isteri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka. Dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah penanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (H.R. Bukhâri)   Anda yang direktur punya hak otoritas untuk mengontrol dan membawahi karyawannya, Anda yang guru kepada murid-muridnya, Anda yang orang tua kepada anak-anaknya, Anda yang kepala pemerintahan kepada warganya, Anda yang suami kepada istrinya, dan seterusnya.   Nah di sini yang harus Anda mengerti, ketika penguasa negara sudah melemah power otoritasnya untuk mengontrol rakyatnya, rezekinya juga ikut melemah.   Kerap kan ada guru yang kehilangan otoritasnya di depan murid-muridnya? Di kelas sedang diterangkan pelajaran, murid-muridnya tidak menggubris, si guru tidak punya wibawa yang cukup untuk mengontrol murid-muridnya.   Sebenarnya situasi begitu situasi yang sangat sulit bagi seorang guru untuk mengangkat power rezekinya, karena power otiritasnya melemah.   Dan ini yang kerap terjadi, suami kehilangan otoritas diri di depan istrinya, suami nurut istri.   Situasi demikian sangat sulit bagi suami untuk mengangkat power rezekinya, sebab itu istri yang bisa menarik energi rezeki besar itu adalah istri yang shalehah yang menenteramkan hati suami, artinya ia adalah istri yang tidak merontokan hak otoritas suami.   Dan banyak juga, orang tua yang kehilangan hak otoritasnya di depan anaknya.   Orang tua kalah atau mengalah dengan anak, tidak sanggup kendalikan anak, tidak punya wibawa di depan anak, dan seterusnya, itu semua sebenarnya makin menerpurukan rezeki si orang tua, sangat menyusahkan rezeki Anda.   Anda amati saja, orang-orang yang sudah kadung melemah hidupnya, sebutlah tidak sukses, autoriti mereka di depan anak-anak sangat melemah, bisa-bisa si orang tua sedang sakit, tapi anak-anaknya disuruh cucikan baju saja tidak peduli.   Di sini saya cuma mengajak Anda untuk sadar dengan hak otoritas diri Anda sehingga Anda lebih sadar dengan harga diri dan wibawa Anda di depan orang-orang yang hak Anda memang membawahinya dengan autoriti Anda.   Jujur saya tidak punya solusi untuk Anda yang sedang hadapi masalah-masalah tersebut, masalah suami yang tidak digubris istrinya, masalah orang tua yang kalah dengan anaknya sendiri, masalah guru yang tidak berwibawa di depan muridnya, masalah kepala pemerintahan yang tidak punya kekuatan politik di depan warganya, jujur saya tidak punya solusi, jadi jangan tanyakan solusinya. Saya hanya mengingatkan saja, jangan lemah, jagalah prestise dan autoriti Anda di depan mereka.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

KAYA ITU KEMAMPUAN APRESIASI HATI PADA RASA KURANG ILMU DAN HARTA

Ilmu dan harta itu akan punya efek yang sama setelah Anda cintai, yakni sama-sama muncul “rasa kurang”.   Ketika “rasa kurang” muncul itu tandanya Anda telah mencintainya.   Imam Syafi’i selalu sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Berbagai rintangan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu.   Diriwayatkan, karena kemiskinan dan ketidakmampuannya membeli buku, ia terpaksa mengumpulkan kertas bekas atau tulang belulang untuk mencatat pelajaran. Minatnya terhadap ilmu pengetahuan terutama fikih mulai tampak setelah ia menghapal kitab Al-Muwaththa’ karangan Imam Malik.   Ia pun berguru dan belajar dengan pendiri mazhab Maliki ini, hingga dirinya menjadi salah seorang murid kesayangan sang Imam.   Setelah belajar dengan Imam Maliki, dahaga ilmunya yang teramat sangat, ia kemudian pergi ke Irak (Baghdad) untuk belajar kepada Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan.   Namun demikian, Syafi’i tetap belum merasa puas akan ilmu yang telah diperolehnya. Dalam suatu riwayat disebutkan, ia masih merasa sebagai orang yang paling bodoh. “Bila aku mendapatkan satu ilmu baru, maka hal itu menunjukkan betapa bodohnya diriku.”   Imam Syafi’i bergulat begitu jauh di dalam ilmu, ia pun benar-benar menyintai ilmu, rasa yang ia peroleh hanya “rasa kurang” yang tidak ada puasnya.   Abdullah Ibn Mubarak R.A. juga temukan hal yang sama,   لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ فَإِذَا ظَنَّ أَنَّــهُ قَدْ عَلــِمَ فَقَدْ جَهِـــلَ   Seseorang disebut pintar selama ia terus belajar. Begitu ia merasa pintar, saat itu ia bodoh.” (Abdullah ibn Mubarak, ulama sufi, wafat 797 M; dikutip dari Ihya ‘Ulûmiddîn karya Imam Al-Ghazali)   Jadi tanda Anda adalah pecinta ilmu tulen, Anda justru akan merasa “bodoh”, efek dari rasa kurang tersebut.   Kalau Anda mencari ilmu lalu Anda temukan “rasa pintar” di situ Anda bukan pecinta ilmu tulen, ya Anda masih abal-abal dalam ilmu.   Harta pun begitu. Tanda Anda menyintai harta di situ akan muncul “rasa kurang”.   Rasa kurang pada harta, tidak yang miskin, tidak yang kaya, semua alami rasa ini. Persis seperti ilmu, makin cinta makin terasa kurang, makin terasa miskin, sehingga tanda Anda melekat cinta pada harta, tandanya Anda jadi punya rasa kekurangan.   Sebab ini hubbud dunyâ (cinta dunia) bukan urusan Anda miskin atau kaya, itu semata-mata urusan hati Anda, tandanya ada rasa kurang atau tidak.   Tanda cinta Anda kepada keduanya itu sama, yakni rasa kurang, tetapi untuk raih sukses, Anda harus mengapreasi dengan sikap hati yang berbeda.   Harta itu tidak diciptakan istimewa untuk Anda, ayam pun diberi harta. Ya Anda lempar saja sekepal nasi pada ayam, pasti mereka berebut dengan antusias. Artinya penciptaan harta tidak lah istimewa untuk tinggikan derajat manusia.   Di sini derajat manusia jauh lebih tinggi dari harta, makanya kalau Anda sampai jual diri untuk dapatkan harta, diri Anda akan auto hancur.   Karena derajat Anda lebih tinggi dari harta, Anda tidak diperkenankan merendahkan diri kepada harta. Demi harta lalu Anda minta-minta, itu salah satu sikap merendahkan diri kepada harta.   Sering saya sampaikan, Anda di depan murid bilang, “Nurut! Saya ini gurumu!” Itu ucapan meninggikan dan membesarkan diri guru di depan murid.   Namun karakter guru yang besarkan diri semacam itu etis-etis saja karena memang kedudukan guru lebih tinggi dari murid.   Sama saja Tuhan sangat sombong kepada Anda sebagai malhluk, Dia mengaku Maha Kuat, Maha Bijak, Maha Cinta, Maha Dahsyat siksa-Nya, dan seterusnya, namun kesombongan Tuhan itu etis-etis saja karena memang kedudukan Tuhan lebih tinggi dari makhluk.   Anda dengan uang kedudukannya lebih tinggi Anda, lagi pula uang tidak lah istimewa tercipta untuk Anda, karena itu sikap hati Anda pada uang harus “membesarkan diri”, menyombongkan diri. Berhati kaya, bermental kaya, berpikir kaya, bertindak kaya, itu semua sikap hati yang besar diri kepada uang.   Ketika rasa cinta hadirkan rasa kurang namun rasa kurang pada harta, di situ hati Anda harus mengapreasinya dengan membesarkan diri pada uang, seperti bangkitkan rasa kaya, rasa cukup, rasa berlimpah.   “Saya kaya. Saya cukup. Saya berlimpah,” itu kata hati yang paling disegani oleh uang di saat Anda merasa kekurangan.   Rasa kurang kepada uang kok dituruti irit, dituruti rakus, dituruti meminta-minta, dituruti mengeluh, ya sudah Anda ludes sekalian. Karena di situ Anda nengecilkan diri di depan uang, bukan membesarkan diri.   Beda dengan ilmu. Ilmu diciptakan istimewa hanya untuk meninggikan derajat manusia. Coba Anda ajari ayam 1×1=1, bisa tidak ayam menerimanya? Tentu tidak. Itu artinya ilmu istimewa untuk tinggikan derajat manusia.   Karena istimewa untuk Anda dan berfungsi tinggikan derajat Anda, kepada ilmu Anda harus bersikap mengecilkan diri, artinya mengakses rasa kurang, rasa miskin, dan rasa butuh kepada ilmu.   Dengan ilmu kok mengakses rasa besar diri, semisal, “Aku sudah pintar! Buat apa belajar!” sikap mental begitu ya Anda ludes.   Karena itu ketika Anda menyintai ilmu lalu Anda merasa kurang, di situ rasa tersebut harus Anda ikuti, rasa miskinnya kepada ilmu harus makin dipupuk, berbalikan 180° dari rasa kurang kepada harta.   Nah orang kaya itu orang yang kemampuan menyikapi rasa kurang pada ilmu dengan rasa haus dan rasa miskin, namun menyikapi rasa kurang kepada harta dengan berlimpah alias rasa kaya.   Kalau sebaliknya? Rasa kurang pada harta disikapi dengan rasa miskin dan kepada ilmu disikapi dengan rasa berlimpah, ya sudah keludesan hidup Anda akan hadir tidak akan lama lagi.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

REZEKI DAN KUALTIAS SELF-WORTH

Nabi membagikan emas mentah yang dikirim Ali R.A. dari Yaman. Emas itu dibagikan kepada empat orang, yaitu Uyaynah ibn Badr, Aqra’ ibn Hâbis, Zaid Al-Khail, dan Alqamah ibn ‘Ulatsah atau Amir ibn Thufail. Lalu salah seorang sahabat memprotes, “Kami lebih pantas menerimanya ketimbang mereka.”   Ucapan ini sampai kepada Nabi dan beliau berkata, “Apa kalian tidak mempercayaiku padahal aku ini kepercayaan langit, yang mendatangiku dengan kabar (wahyu) tiap pagi dan petang?”   Kemudian berdiri seorang laki-laki yang cekung matanya, menonjol pipi dan dahinya, lebat jenggotnya, plontos kepalanya dan cingkrang celananya, dan berkata, “Hai Rasulullah, takutlah kepada Allah.” Nabi menjawab, “Celaka. Bukankah aku ini penduduk bumi yang paling berhak untuk takut kepada Allah?”   Lelaki itu berpaling. Dan Khalid ibn Walid berkata, ”Wahai Rasulullah, izinkan aku menikam lehernya.” Nabi menjawab, “Jangan, barangkali dia shalat.” Khalid menukas, “Banyak sekali orang shalat yang mengucap sesuatu yang berbeda dengan hatinya.” Nabi berkata, “Sungguh aku tidak diperintah untuk menyelidiki hati manusia dan membedah isi perutnya.”   Nabi kemudian menatap lelaki itu yang menyingkir dan berkata, “Sungguh akan keluar dari jenis lelaki ini suatu kaum yang lancar membaca Kitabullâh tetapi tidak sampai kerongkongannya. Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya.” Abu Said Al-Khudri mendengar samar-samar Rasulullah berkata, “Jika aku jumpai mereka, akan aku perangi mereka seperti kaum Tsamud.”   Riwayat ini Muttafaqun ‘Alaih, tercantum dalam Shahih Bukhârî Kitâbul Maghâzî dan Shahîh Muslim Kitâbuz Zakât.   Anda amati kemampuan Nabi S.A.W dalam self-worth, beliau dengan tegas menjawab ketika disangkal seseorang yang protes dengan pembagian emas dari Yaman, “Apa kalian tidak mempercayaiku padahal aku ini kepercayaan langit, yang mendatangiku dengan kabar (wahyu) tiap pagi dan petang?”   Disangkal lagi, disuruh bertakwa, Nabi S.A.W menunjukan ketersinggungannya dan menggertak, “Celaka. Bukankah aku ini penduduk bumi yang paling berhak untuk takut kepada Allah?”   Saya mengamati, beberapa kali saya alami konflik baik dengan orang lemah dan orang kaya, ternyata ada perbedaan menonjol di antara keduanya.   Orang lemah dengan mudah “mengalah” dan “menerima”, tapi orang kaya mampu tunjukan ketidakterimaan dan ketersinggungan, perlawanannya alot.   Self-worth tidak asing lagi dalam ilmu psikologi. Self-worth merupakan pengetahuan mendalam bahwa diri kita berharga dan dapat dicintai, diperlukan untuk kehidupan ini, serta bermakna.   Menurunnya self-worth ini kerap dialami setelah kehilangan, seperti setelah putus cinta, berpisah dengan pasangan, kehilangan seseorang, maupun kehilangan pekerjaan.   Rasa rendah diri yang menetap dan berlebihan dapat diakibatkan oleh prestasi yang buruk, depresi, dan tindak kejahatan.   Kemiskinan tentu diakibatkan prestasi kehidupan material yang buruk sehingga tidak mampu tunjukan kegagahannya di alam kehidupan, ini yang jadikan kadang mereka jadi tidak begitu bisa hargai dirinya sendiri, mudah mengalah, mudah neriman, mudah diam tidak melawan. Bahkan kondisi dizalimi pun mereka diam.   Dalam “spiritual murni” memang benar, orang-orang lemah, yang mereka mudah mengalah, mudah neriman, itu bisa jadi kegemilangan dimensi batin, seperti kepribadian Uwais Al-Qarni, sufi yang namanya agung di langit, tetapi di bumi ketika ia lewat saja kerap diteriaki orang gila oleh anak-anak kecil.   Secara spiritual, keunggulan orang lemah tidak disangsikan lagi, seperti hadits berikut ini;   إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةُ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلَاتِهِمْ، وَإِخْلَاصِهِمْ (رواه الترمذي)   “Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini sebab orang-orang yang lemah dari mereka, yaitu dengan doa, shalat dan keikhlasan mereka.” (H.R. At-Tirmidzi)   Namun di sini saya sedang bicara sp1ritual prosp3rity, bukan bicara spiritual murni.   Ini alam material, hukum-hukum rimba; homo homini lupus ada dan nyata di kehidupan alam ini, makanya kaya makin kaya, miskin makin miskin.   Anda amati tumbuhan ketika ditanam serentak bersamaan di satu lokasi, pohon yang kadung tumbuh subur akan makin subur, yang kadung kerdil makin kerdil. Jadi di alam material ini memang ada kekuatan otot, kekuatan materi, kekuatan fisik. Jadi kalau hanya gunakan kekuatan spiritual, di alam semesta ini Anda hanya akan dimangsa kebuasan kehidupan materi.   Anda lihat karakter para penguasa, self-worth mereka sangat kokoh. Bung Karno, Mahathir Muhammad, Gus Dur, mereka orang-orang yang sangat alot untuk mengalah, self-worth mereka tinggi. Para pebisnis besar juga demikian, mereka alot untuk mengalah dan neriman.   Orang lemah sehingga makin kesulitan finansial karena mereka kerap kehilangan kontrol self-worth dalam diri mereka, mudah berpikir mengalah dan neriman, akhirnya sistem rimba alam material terus memangsa mereka, kehidupan finansial mereka pun makin carut-marut.   Betul mereka sangat ikhlas dan saleh, tapi itu duitnya susah berjaya.   Kekayaan, pengaruh dan kekuasaan itu terhubung erat dengan kualitas self-worth, maka ini jebakan penghancur orang kaya dan berkuasa adalah “congkak, angkuh dan kesombongan”.   Kualitas self-worth itu bukan kesombongan dan keangkuhan diri. Kualitas self-worth muncul karena hasil menempa diri sendiri dengan kerja keras mengubah nasib hidup sehingga akhirnya ia memenangkan pertarungan kehidupan.   Karena menang, ia melihat dirinya berharga. Nah setelah melihat harga dirinya, ia jadi alot untuk neriman dan mengalah.   Jebakan kebablasannya di sini, self-worth kuat, kontrol rendah hatinya melemah, lalu terjebak sombong, angkuh dan congkak. Nah sekarang bisa Anda cek ke dalam diri Anda, kualitas self-worth lemah, rezeki lemah, walaupun bisa saja Anda saleh spiritualnya.   Lalu bagaimanakah sih meningkatkan kulitas self-worth? Apa dengan bersikap jangan mau kalah, tidak mengenal mengalah, lawan siapa saja yang menyinggung Anda? Itu mah angkuh dan sombong diri. Apalagi kalau Anda masih jadi orang lemah, berkarakter begitu ya digilas sekalian.   Meningkatkan kualitas self-worth ya Anda bekerja keras menempa diri agar Anda bisa tunjukan prestasi-prestasi hidup. Saat Anda sudah punya jejak prestasi, di situ Anda akan sadar betapa berharganya diri Anda; pendapat Anda, kebaikan Anda, keputusan Anda, kebijaksanaan Anda, dan semua yang terhubung dengan Anda menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi diri Anda dan orang lain pun mutlak harus menghargainya pula.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

PUASLAH PADA HARGA MAHALNYA BUKAN KUALITASNYA

Tentu Anda heran kan kenapa orang kaya yang suka koleksi barang-barang antik dan branded, mereka makin kaya saja?   Barang antik dan branded itu bukan kebutuhan primer hidup, punya manfaat primer juga tidak, kategori amal saleh juga bukan, kategori misi kemanusiaan, bukan, apalagi kategori amal akhirat, jelas-jelas bukan.   Koleksi barang antik dan branded itu cuma kesenangan belaka, kesenangannya orang berduit, tapi anehnya mereka makin kaya raya saja, padahal uangnya diroyal-royalkan untuk sesuatu yang tidak begitu bermanfaat efektif.   Apa si rahasianya?   Ilmu ini saya peroleh sesudah saya suka mengoleksi bonsai. Bonsai, tentu Anda tidak perlu dijelaskan harganya.   Semua bonsai milik saya itu beli, tidak ada yang pemberian atau dongkelan sendiri.   Sejak kecil saya penyuka tanaman hias, sehingga di mana pun saya menetap pasti ulah saya menanam tanaman hias. Lama kelamaan saya mengenali dan menyukai bonsai. Karena penyuka, otomatis hati saya menikmati keindahannya.   Sekedar peroleh rasa indah bonsai dan tanaman hias, sebenarnya tidak harus beli mahal-mahal. Minta ke teman, bisa, dongkel lalu budidaya sendiri, bisa. Lalu kenapa harus beli mahal?   Di sini permainan rasanya, dan di sini letak selisih kenapa mereka yang obral-obral duit untuk koleksi barang-barang antik dan branded makin kaya saja. Rahasianya itu pada permainan rasa.   Ketika saya menyaksikan bonsai-bonsai milik saya itu yang saya nikmati dengan puas itu “harganya” bukan puas dengan “indahnya”. Saya puas bonsai ini harganya segini, bonsai ini segini. Betul-betul yang saya nikmati harga mahalnya.   Puas dengan harga mahalnya itu yang jadikan rezeki makin mengalir deras, dan akhirnya mereka yang obral-obral duit untuk barang antik dan mahal makin kaya saja.   Di kampung banyak pengoleksi bonsai, tapi rezekinya stagnan saja, itu karena yang dinikmati dengan kesaksian hatinya cuma indahnya, mereka puas dengan nilai seninya. Lah indah emang ada duitnya?   Ini kenapa para seniman rata-rata kesulitan finansial? Itu karena kepuasan hati mereka pada kepuasan nilai seni, pada keindahannya.   Sebaliknya kenapa pedagang punya duit? Karena mereka puasnya dengan duit berupa modal besar untuk putar dagangan lagi dan puas keuntungan besar.   Demikian pula trik hati ketika Anda beli barang branded yang lain, kemana kepuasan batin Anda, puaslah dengan harganya bukan dengan kualitas barangnya. Ini ilmunya Syahrini kenapa ia makin kaya raya saja dengan koleksi barang brandednya.   Begitu pula sedekah. Sedekah kok cuma turuti rasa dernawan dan rasa kasihan, ya Anda cuma dapat pahala, selanjutnya Anda cuma jadi orang penolong, sementara rezeki sendiri seret.   Baim Wong, Rusydi Hamka, Yusuf Mansur, kenapa mereka dermawan tapi makin kaya raya, itu sebab kepuasan hati mereka bukan pada nilai dermanya, tapi pada nilai kayanya, mereka puas punya uang lalu mereka berderma.   “Saya orang punya duit, karena ini saya berbagi,” itu kepuasan mereka, bukan, “Saya orang dermawan karena ini saya berbagi.”   Kemana kepuasan hati Anda ketika Anda belanjakan uang? Di situ respons alam semesta akan bertindak. Karena itu,   عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ   “Dari Umar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.” (H.R. Bukhari)   Nah kalau Anda puasnya hati dengan irit yang artinya puas dengan uang sedikit, apa yang akan terjadi? Mikir!   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

KAUM MUSYRIKÎN PROSPERITY; MAU KAYA YA HADIR KAYA

Anda ngeseks tapi pikiran sedang mengingat rasa marah pada anak, apa hubungan seks Anda terasa nikmat? Bisa jadi Anda sama sekali tidak terangsang.   Anda sedang menyimak pelajaran di sekolah tapi pikiran melamun keingatan pacar, apa Anda bisa memahami materi pelajarannya?   Alam semesta ini berkonsep “wahdahû lâ syarîkalahu”; konsep tunggal dan anti diduakan, nyatanya ngeseks sambil mikirin enek sama anak, ngeseksnya gagal, menyimak pelajaran sambil ngelamunin pacar, pahami pelajarannya gagal totol.   Artinya kalau ingin sukses harus ikuti aturan baku alam semesta yakni konsep “wahdah” atau tunggal.   Ngeseks sambil mikir enek pada anak, nyimak pelajaran sambil ngelamunin pacar, itu konsep-konsep “mendua” yakni konsep “musyrik”. Karena itu kalau Anda masih masuk kaum musyrikin kehidupan, hidup Anda akan gagal total.   Kaum musyrikin kehidupan itu kaum-kaum yang tidak bisa fokus. Disuruh sekolah sibuk mikir pacar, jadi ASN sibuk mikir malas akhirnya bolos-bolos kerja, jadi pedagang malu buka lapak, dan seterusnya, itu artinya tidak bisa fokus.   Fokus adalah satu titik pusat energi alias titik “wahdah”. Begitu Anda tidak “wahdah” alias musyrik yakni menduakan sesuatu, Anda auto out dari keberhasilan.   Jadi sebenarnya, tidak usah diajari oleh para rasul-Nya tentang Allah Maha Tunggal dan tidak boleh disekutukan, sebenarnya adanya Allah Maha Tunggal itu sudah menjadi data fakta kehidupan.   اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ   “Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Q.S. Thâha : 14)   Anda kerja harus punya “rasa hadir” sedang kerja. Misalkan sedang kerja menulis, pikiran malah mikirkan Maria Ozawa dengan adegan hotnya, ya berantakan semuanya. Itu artinya di situ Anda tidak hadir menulis; antara pikiran, gerakan tubuh, perasaan batin tidak sinkron, tangan mrngetik naskah tulisan, otak dan perasaan sedang ingat “ihik-ihiknya” Maria Ozawa.   Shalat disarankan khusyuk, kerja disarankan fokus, meditasi disarankan hadir, itu semua konsep wahdahu lâ syarîkalah-nya alam semesta.   Mau kaya ya hadir kaya.   Nah kaum musyrikîn prosperity itu golongan orang-orang yang mau kaya tapi tidak mau hadir kaya, di antaranya;   Pingin kaya duit, tapi jiwa miskinnya dipelihara; mental miskinnya tercium menyengat. Tidak kebagian bansos saja sakit hati, tidak malu minta-minta, dengan ilmu membantah, bayar hutang nunda-nunda, dan seterusnya.   Mau kaya tapi cita-cita rendah, tidak konsisten dan istiqamah, rendah diri, mudah putus asa, minderan, gengsian, lemah pendirian dan seterusnya.   Mau kaya tapi takut alirkan uang; pelit, hemat, sama duit hitang-hitung giliran duit bisnis malah royal.   Mau kaya tapi enggan menguntungkan orang lain maunya menguntungkan diri sendiri, atau sebaliknya enggan menguntungkan diri sendiri dan maunya hanya menguntungkan orang lain. Iya, maunya menguntungkan diri sendiri itu lintah darat, maunya hanya menguntungkan orang lain itu artinya Anda enggan berbuat baik untuk diri sendiri.   Dan seterusnya.   Mau kaya ya harus hadir kaya; perasaan kaya, mental kaya dan aktion kaya. Seluruhnya hadir bersama, di satu tubuh satu ruh.   Itu semua kaum musyrikîn prosperity; orang-orang yang menyekutukan sistem kekayaan alam semesta. Alam semesta konsisten menolak konsep musryîk, ia hanya mengenal Ahad alias Esa.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

SYUKUR ITU KUALITAS MENYOMBONGI UANG

Salah satu efek tulisan saya, “Puaslah pada Harga Mahalnya bukan Kualitasnya,” itu saya dipameri mobil Mercy GLA 200 yang baru dibeli. Mobilnya baru datang di alamat, langsung dipamer-pamerin ke saya.   Si pemilik mobil mengabari juga rencana syukurannya. Rencana acaranya bareng-bareng baca Al-Barzanjî dan pengajian, karena disamping syukuran Mercy GLA 200 sekaligus Ihtifâl bil Maulidin Nabî (perayaan kelahiran Nabi S.A.W).   Saat mahallul qiyâm (bacaan Asyaqal Badru ‘Alainâ) dalam bacaan Al-Barzanjî, beliau mau bagi-bagi uang kepada para pengunjung, nilainya capai puluhan juta.   Beliau bilang via chatt WA, “Saat Asyaqal Badru mau bagi-bagi duit, syukuran Mercy, saya mau sombongi duit.”   Saya tertegun baca chatt itu, “Sombongi duit.”   Lalu saya berpikir sejanak, terus saya balas, “Iya juga ya, berani syukur artinya menyombongi uang”.   Kepada uang bersikap sombong, bersikap besar diri, itu memang ajaran saya.   Saya kerap ajarkan kepada Anda kalau uang itu makhluk yang derajatnya jauh di bawah derajat Anda. Anda makhluk al-akram (termulia), tidak ada lagi derajat makhluk yang mengungguli derajat Anda.   Anda sebagai orang tua berhak saja untuk menyombongi anak-anak Anda. Misal ada anak menyuruh-nyuruh Anda cucikan piring, Anda berhak bersikap besar diri, “Kualat kamu! Saya ini orang tuamu, disuruh cucikan piring! Kualat!”   Etis dan proporsional ketika Anda bersikap sombong kepada anak karena memang kedudukan orang tua jauh lebih tinggi ketimbang anak.   Yang tidak etis dan proposional itu sombong kepada sesama manusia.   Uang begitu, kedudukan Anda harusnya mampu menyombongkan diri pada uang.   Saya adalah pribadi yang rezekinya berubah setelah menerapkan mental sombong dan besar diri kepada uang.   Dari kecil mental saya itu miskin sekali. Tidak pernah punya rasa besar diri kepada uang, sebaliknya selalu berkecil hati pada uang.   Keberanian belanja tidak ada, selalu cari efesien dan takut dengan harga tinggi. Ya karena merasa uang saya sangat terbatas sehingga tidak pernah berani neko-neko belanja, segalanya seefesien mungkin. Dulu saya pelit dan irit banget tidak, cuma tidak punya standar tinggi untuk belanjakan uang.   Senang terima uluran tangan, selalu merasa layak diberi dan layak dibelaskasihani dengan uang.   Kalau kebagian harus mentraktir orang lain, rasa yang muncul itu ngitung dan tersinggung. Kalau beli sesuatu ya pakai standar belanjanya orang miskin, umpama beli tabung gas ya pilih yang warna hijau bersubsidi.   Pokoknya saya di masa lalu itu kategori orang kalem tapi pada standar uang, tidak punya standar gagah dan berani pada uang.   Sekitar usia 34 tahunan, baru saya tersadar, saya mulai mengubah diri dengan “gemagus” pada uang. Masuk warung, dengan berani saya yang bayar. Saya besarkan diri saya kepada uang.   Saya ubah prasangka saya kepada uang. Yang tadinya saya menganggap uang itu terbatas, saya coba yakinkan diri kalau uang itu melimpah. Efeknya saya jadi punya nyali pada uang. Berani ngebos, puas kalau mentraktir orang, puas kalau belanja banyak, puas kalau sedekah banyak, puas bayarin orang, dan seterusnya. Saya jadi punya target tinggi dalam belanja dan memberi.   Banyak upaya saya lakukan untuk merasa kaya, dari tidak pernah lagi isi bensin motor pakai Pertalite, tidak mau lagi pakai listrik 1200 watt, tidak mau lagi rokok standar buruh. Menu makan ditingkatkan, warung makan yang dimasuki ditingkatkan, fasion baju ditingkatkan, semua gaya hidup saya tingkatkan bertahap.   Namun semua tindakan saya itu dipicu “rasa kaya” yang kuat, bukan dipicu rasa glamour, hura-hura, sok kaya, itu bukan. Benar-benar dipicu rasa kaya yang kuat.   Rasa puas kalau diberi dan dibelaskasihani jadi hilang, berganti rasa tersinggung. Perasaan saya jadi selalu muncul rasa gagah di depan uang. Hati saya jadi dipenuhi rasa kaya. Betul-betul sejak saat itu saya selalu merasa besar di depan uang. Sombong saya kepada uang benar-benar terbangun.   Dan sejak itu pula, tetangga dan famili-famili saya mulai menyebut saya orang kaya yang rezekinya sangat dimudahkan. Dan alhamdulillah dari waktu ke waktu rezeki saya terus meningkat bertahap.   Maka ini kalau ada orang kalem-kalem saja emosinya pada uang, tidak punya aksi “gemagus” pada uang, itu artinya peluangnya untuk berezeki baik masih perlu menunggu lama. Apapun butuh mental berani, mau naik podium butuh mental speaking, mau kaya pun butuh mental kaya yang kokoh.   Mental kaya yang kokoh itu artinya mental sombong kepada uang.   Seperti teman saya di atas, dikuntit Mercy GLA 200, dengan gagah berani keluarkan puluhan juta untuk berbagi. Gagah berani berbagi puluhan juta itu artinya sikap membusungkan dada kepada uang. Dan itu namanya sombong diri pada uang, dan itulah orang yang bersyukur dikaruniai Mercy GLA 200.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan  

MEI 2023

TIPS HARGAI UANG

Syekh Einsten berkata;   السعادة لن تأتي أبداً لأولئك الذين لا يقدّرون ما لديهم. – ألبرت أينشتاين   “Keberuntungan selamanya tidak akan pernah mendatangi mereka yang tidak menghargai apa yang telah mereka miliki (Albert Einsten)   Berikut tips hargai uang;   1. Rasakan kehadiran uang   Dari sisi perasaan, Anda yang hargai uang tentu merasakan kehadiran uang di sisi Anda.   Kalau di sisi Anda ada istri tapi Anda tidak pedulikan kehadirannya, kira-kira si istri tersinggung, enggak? Uang pun begitu.   Merasakan kehadiran uang berarti Anda memiliki rasa punya di dalam hati. Melimpah lagi memiliki rasa kaya.   Karena itu rasa miskin, rasa tidak punya, rasa kekurangan, itu pembunuh sadis keuangan Anda.   2. Menggauli uang   Dari sisi tindakan, Anda yang hargai uang akan mampu memperlakukan uang sesuai fitrah uang.   Anda bergaul dengan istri yang Anda cintai, lalu saking cintanya Anda jadi over protektif. Istri dikekang di rumah, sedikit-sedikit dicurigai karena sangat ketakutan dirinya lepas dari tangan Anda, diperlakukan over protektif tentu si istri kabur sekalian.   Begitu cintanya kepada uang, kemudian uang disayang-sayang, dilekati kuat dari diirit-irit sampai dikumpul-kumpulkan kuat-kuat, seolah tidak rela uang lepas dari tangan, dibelanjakan untuk keperluan hidup terasa sayang, itu over protektif. Hasilnya uang bubar sekalian.   3. Bersenggama dengan uang   Fitrah istri itu disenggamai. Saat pergauli istri, Anda telanjangi dirinya, lalu Anda obo-obo seluruh tubuhnya, apa istri tersinggung karena merasa harga dirinya dirusak? Justru si istri merasa harga dirinya dirusak kalau dia dibiarkan perawan tidak pernah disentuh.   Fitrah uang itu dibelanjakan. Kalau Anda masih enggan belanjakan uang, itu artinya Anda enggan senggamai uang. Makin Anda gemar belanjakan uang, di situ uang makin merasa bangga karena merasa dihargai, bukan merasa dirusak harga dirinya, persis seperti istri yang Anda pergauli.   4. Pintar-pintarlah kawinkan uang   Tanpa disenggamai, bagaimana istri bisa beranak-pinak lahirkan keturunan?   Senggama itu alat kelamin Anda dikawinkan dengan alat kelamin lawan jenis Anda sehingga proses kehamilan terjadi.   Kawinkan uang itu kemampuan Anda mengawinkan uang dengan lawan jenisnya agar beranak-pinak. Uang diperjualkan dengam barang, dengan jasa, dengan tenaga, dan seterusnya.   Profesionalisme Anda di profesi Anda masing-masing itu adalah jalan kawinkan uang dengan jenis yang lain, di situ makin profesional Anda mengawinkannya, uang makin beranak-pinak.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

NGALAP BERKAH

Selamat Hari Santri Nasional   Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Korea Utara, Vietnam, Kamboja, Kuba, mungkin segelintir negara komunis yang kerap meniadakan kesakralan agama, di mana agama mungkin saat ini adalah produk budaya manusia yang kerap menggunakan simbol-simbol “atas nama Tuhan”.   Apa negara-negara itu bisa lepas dari nilai-nilai ilahiyah? Kalau lepas, mengapa mencuri, korupsi, merampok, membunuh, di sana tetap menjadi perbuatan dosa yang harus dihukum?   Itu artinya dalam diri manusia ada sifat kosmik yang permanen tertanam dalam diri manusia. Kepermanenan sifat kosmik ini disebut “sifat ilahiyah”.   Lah iya, mau ateis, mau agnostik, mau komunis, mau religius, mau teis, mau paganis, semuanya sama. Ketika mereka mau mencuri, misalkan, jantung mereka tetap berdenyut lebih kencang, tangan dan kaki mereka tetap gemetaran, dan bagi mereka hasilnya sama kok, mencuri itu kategori perbuatan dosa. Itu karena mereka dititipi sifat-sifat ilahiyah yang sudah menjadi fitrah penciptaan.   Anda sebagai manusia secara universal dititipi sifat ilahiyah, tidak ada satu budaya pun bisa mengingkari sifat permanen ini, faktanya semua budaya entah kenal agama entah tidak, mereka semua kenal dosa. Karena Anda memiliki sifat universal ilahiyah, maka ini diri Anda bisa keluarkan energi-energi spiritual yang tidak logis.   Anda kenal petilasan kan? Tempat tertentu yang konon digunakan orang-orang suci tertentu sebagai tempat diri mereka melakukan proses spiritual? Di nusantada ada petilasan Prabu Siliwangi, Prabu Jayabhaya, Ronggo Warsito, Ir. Soekarno, Pangeran Diponegoro, Sunan Kalijaga, dan lain-lain.   Dalam literatur agama ada Ka’bah petilasan Nabi Ibrahim dan Ismail, ada Tembok Ratapan sisa bangunan Bait Suci petilasan Nabi Solomon, ada Gereja Makam Kudus petilasan Yesus Kristus, ada pentirtaan suci petilasan para resi Hindu dan para bhiksu Budha, dan seterusnya.   Itulah realitas kosmik penciptaan alam ini, di balik alam ini ada sifat ilahiyah yang universal dititipkan kepada diri Anda, sehingga ketika Anda menekuni program spiritual tertentu, diri Anda bisa keluarkan energi spiritual yang ajaib.   Energi spiritual tersebut selanjutnya bisa pengaruhi berbagai benda, lalu disebut benda keramat.   Benda-benda alam semesta yang tidak berakal saja dapat dipengaruhi oleh energi spiritual manusia, selanjutnya bisa keluarkan tuah dan berkah, apalagi diri Anda yang berakal? Diri Anda pun bisa dipengaruhi energi spiritual dari orang-orang saleh dan suci.   Di pondok pesantren, sandal kyai selalu jadi rebutan santri untuk ditatakan. Sisa air minum kyai selalu jadi rebutan santri untuk diminum. Baju bekas, sarung bekas, dan semua benda-benda milik kyai kerap disimpan oleh santri. Kata para santri “ngalap berkah”.   Ya hal itu wajar, karena seorang guru tentu orang yang sudah menjalani proses-proses spiritual diri, tubuh mereka adalah tubuh yang vibrasikan tuah dan keramat. Benda apapun yang terhubung dengan tubuh kyai tercurah energi spiritualnya.   Fenomena ini juga benar-benar terjadi pada diri Nabi Muhammad S.A.W. Rambut Rasulullah S.A W, keringat, ludah, dan sisa air wudhu beliau, atau apa yang beliau pakai berupa pakaian, cincin, dan semisalnya kerap jadi di-alap berkahnya oleh para sahabat. Perhatikan kisah-kisah berikut ini;   Dalam hadits Al-Bukhari dikisahkan;   دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ فَقَالَ عِِنْدَنَا فَعَرَقَ وَجَاءَتْ أُمِّي بِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تُسَلِّتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ فَقَالَ: يَا أُمَّ سُلَيْمٍ، مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ؟ قَالَتْ: هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلَهُ فِي طِيْبِنَا وَهُوَ مِنَ أَطْيَبِ الطِّيبِ   “Anas berkata, ‘Suatu saat, Nabi S.A.W masuk ke tempat kami, lalu beliau tidur siang. Beliau berkeringat ketika itu. Kemudian ibuku mengambil botol dan mengumpulkan keringat itu di dalamnya. Nabi S.A.W terbangun dan bertanya, ‘Wahai Ummu Sulaim, apa yang sedang engkau lakukan ini?’ Dijawab, ‘Ini adalah keringatmu yang akan kami campur dalam parfum kami, dan itu adalah parfum terbaik’.”   Dalam sebagian riwayat, Rasulullah bertanya, “Apa yang sedang engkau perbuat?” Ummu Sulaim menjawab,   نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا. فَقَالَ: أَصَبْتِ   “Kami mengharap mendapatkan barakah keringat ini untuk anak-anak kami.” Rasul pun berkata, “Engkau benar.” (H.R. Bukhari) Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Anas bin Malik R.A.,   فَوَاللهِ مَا تَنَخَّمَ رَسُولُ اللهِ نُخَامَةً إِلَّا وَقَعَت فِي كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ وَإِذَا أَمَرَهُمْ ابْتَدَرُوا أَمْرَهُ، وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُو يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ   “… Demi Allah, tidaklah Rasulullah S.A.W meludah, melainkan ludah itu pasti jatuh pada telapak tangan salah seorang sahabat (yang berhasil mendapatkannya) lalu ia usapkan ludah tersebut pada wajah dan kulitnya. Jika Rasulullah memerintahkan sesuatu, para sahabat berkumpul untuk menjalankan perintahnya. Apabila beliau berwudhu para sahabat hampir-hampir berperang (yakni berdesakan dan berebut) mendapatkan sisa air wudhu beliau.” (H.R. Ahmad)   Muhammad ibn Munkadir mengatakan bahwa dia mendengar Jabir R.A. berkata,   جَاءَ رَسُولُ اللهِ يَعُودُنِي وَأَنَا مَرِيضٌ لاَ أَعْقِلُ فَتَوَضَّأَ وَصَبَّ عَلَيَّ مِنْ وَضُوئِهِ فَعَقِلْتُ، فَقُلْتُ: ياَ رَسُولَ اللهِ، لِمَنِ الْمِيرَاثُ، إِنَّمَا يَرِثُنِي كَلَالَةٌ؟ فَنَزَلَتْ آيَةُ الْفَرَائِضِ   “Rasulullah S.A.W menjengukku saat aku sakit dan hilang kesadaranku. Beliau berwudhu lalu beliau kucurkan padaku dari sisa air wudhu beliau. Aku pun tersadar. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah harta warisan itu (seandainya aku mati) dan aku tidak memiliki orang tua dan anak-anak?” Lalu turunlah ayat tentang waris.” (H.R. Bukhari)   Nabi S.A.W menggunakan air liur beliau untuk mengobati penyakit. Beliau mencampur air liur beliau dengan sedikit tanah dan diiringi doa,   بِسْم اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا يُشْفَى سَقِيمُنَا بِإِذْنِ ربنا   “Dengan nama Allah S.A.W tanah dari bumi kita, dengan air liur sebagian kita, (dengan sebab itu) akan disembuhkan penyakit kita dengan izin Tuhan kita.” (H.R. Bukhari & Muslim)   Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari ‘Utsman bin Abdillah bin Mauhab berkata,   أَرْسَلَنِي أَهْلِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِ بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ وَقَبَضَ إِسْرَائِيلُ ثَلَاثَ أَصَابِع وَكَانَ مِنْ قُصَّةٍ فِيهِ شَعْرٌ مِنْ شَعْرِ النَّبِيِ إِذَا أَصَابَ الْإِنْسَانَ عَيْنٌ أَوْ شَيْءٌ بَعَث إِلَيْهَا مِخْضَبَهُ فَاطَّلَعْتُ فِي الْجُلْجُلِ فَرَأَيْت شَعَرَاتٍ حُمْرًا   “Keluargaku mengutusku membawa sewadah air untuk Ummu Salamah, istri Nabi S.A.W.—Israil (perawi hadits) menggenggam tiga jarinya (mengisyaratkan) ukuran wadah yang berisi beberapa helai rambut dari rambut-rambut Nabi S.A.W.—Utsman melanjutkan, “Jika seseorang sakit karena ‘ain atau penyakit lainnya, dia akan mengirimkan suatu wadah berisi air ke Ummu Salamah. Aku melihat ke wadah dan aku melihat beberapa helai rambut kemerahan.” (H.R. Bukhari)   Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul Bari (10/353) mengatakan, “Mereka biasa menyebut botol perak tempat menyimpan rambut Nabi S.A.W itu sebagai Juljul. Botol itu disimpan di rumah Ummu Salamah R.A.   Selamat Hari Santri Nasional.

Scroll to Top