Author name: gus banan

MEI 2023

MAHKOTA REZEKI

Kalau kedua tangan Anda putus, Anda masih mungkin dapat hidup, atau kedua kaki Anda patah juga masih mungkin sekali dapat hidup, atau kedua tangan dan kedua kaki putus semuanya, Anda juga masih dapat hidup. Namun jika yang diputus dari badan Anda adalah kepala Anda, dapatkah Anda hidup? Kepala putus, Anda mati.   Uang hadir di bumi ini semata-mata hanya ikuti kehadiran Anda. Di Matahari, di Bulan, di Pluto, tidak ada Anda, di sana pun tidak ada uang. Uang hadir, karena Anda hadir.   Karena ini, kualitas dan kuantitas kehadiran uang mengikuti prestige Anda secara personal, mengikuti level kehormatan diri Anda. Gubernur dengan bupati, uang yang mengikutinya tentu besar gubernur, karena level “terhormatnya” tinggi gubernur, “kepala” si gubernur jauh lebih tegak dan gagah ketimbang kepala si bupati.   Kepala atau kehormatan tegak, uang tegak. Kepala tengleng, uang juga tengleng. Kepala putus, uang juga putus. Uang terkait erat dengan kehormatan Anda.   Orang miskin kenapa uangnya terus menerus ringsek karena biasanya orang miskin itu selfworth-nya rendah sebab terhambat perasaan dirinya tidak begitu berharga.   Ya orang miskin terjebak selfworth rendah, ia merasa dirinya tidak begitu berharga karena prestasi duniawinya rendah, kebanggan hidupnya juga rendah. Ia cenderung berperasaan sebagai balung kere (tulangnya kere) yang seolah telah didesain nasib sebagai orang lemah. Kebanggaan dirinya lemah sebab memang tidak ada yang bisa dibanggakan dalam hidupnya, akhirnya yang terlihat olehnya hanya kelemahan-kelemahan dirinya.   Sebab itu orang miskin cenderung berinisiatif “ngalahan, neriman dan sabaran”, itu disebabkan ia kesulitan menyaksikan dirinya berharga.   Beda dengan orang kaya, lihat mobil dan rumahnya ia bertepuk dada, lihat jabatan dan aktifitasnya ia merasa bangga, lihat aktifitas kesehariannya dan martabatnya, ia acungkan jempol untuk hidupnya sendiri, ia merasa hidupnya penuh prestasi dan penghargaan, selfworth-nya tinggi.   Dari titik selfworth orang miskin yang rendah ini, jadikan kepala mereka susah untuk tegak gagah berdiri, dan disitulah uang yang mereka tarik pun jadi sulit tegak gagah.   Uang hadir ikuti kehadiran Anda, dan kepala Anda adalah pusat hidup Anda.   Perasaan bahwa diri Anda berharga itu pusat rezeki Anda. Agar perasaan berharga itu muncul tentu dimulai dari prestasi hidup Anda.   Nah berarti, untuk memulai kebaikan rezeki, Anda harus memulainya dengan membangun prestasi dengan minat dan tujuan Anda masing-masing. Di sini komitment, integritas, dedikasi, skill, motivasi, spirit, dan konsistensi Anda diuji, apakah Anda sanggup wujudkan prestasi atau tidak?   Dari prestasi baik ini baru Anda bisa mulai saksikan kalau diri Anda berharga, kalau kepala Anda tegak gagah berdiri. Di situlah uang mulai mengekori.   Anda percaya tidak percaya, namun ini realita. Para periset dari University College London School of Management dan Columbia Business School memberikan pernyataan yang mencengangkan. Tak disangka-sangka, hasil penelitian ini membuktikan bahwa kebaikan seseorang berpengaruh besar terhadap tingkat kemiskinan dan kecenderungannya untuk bangkrut.   Menurut penelitinya, seseorang akan makin mudah terperosok ke dalam masalah keuangan dalam hidupnya jika orang itu berhati baik dan mulia.   Hasil studi ini telah dipublikasikan oleh American Psychological Association. Di dalam studi tersebut, dibahas bahwa seseorang yang baik hati dengan tingkat toleransi yang tinggi malah berkemungkinan untuk lebih mudah mengalami kebangkrutan secara finansial.   Nah kan?   Kenapa itu terjadi? Karena orang yang terlalu baik cenderung lupa menghargai dirinya sendiri. Empatinya kepada orang lain terlalu besar, pikiran untuk menguntungkan dan menyamankan orang lain juga besar, rasa sosialnya tinggi, hatinya luas untuk menampung masalah keruwetan orang lain, sehingga apresiasi perasaannya untuk menguntungkan diri sendiri kecil. Di situlah kemudian penghargaannya kepada diri sendiri juga kecil.   Sementara perasaan “diriku berharga, diriku baik, diriku ingin beruntung, diriku mulia dan terhormat, dan seterusnya” itu adalah self-worth yang harus tumbuh di dalam diri sebagai pusat tegak gagahnya kepala.   Terlalu mengalah, terlalu neriman, terlalu sabaran, terlalu kalem, terlalu legawaan, terlalu pemaaf, terlalu lapang dada, itu semua rentan hancurkan finansial Anda sebab di situ Anda melupakan kalau kepala Anda itu sangat berharga.   Nabi Muhammad S.A.W selfworth-nya tinggi. Terima sedekah dan zakat beliau tidak berkenan karena merasa beliau berharga. Terus-terusan dianiaya kafir Quraisy ya beliau keluar doa kutukannya. Surat dakwah beliau kepada Kaisar Persia ditolak dan disobek-sobek ya beliau balik doakan agar kekuasaan kekaisaran Persia disobek-sobek.   Ketika beliau membagikan harta rampasan perang, lalu ada kaum yang memprotes kalau cara Nabi S.A.W membagikannya tidak adil, beliau dikritik agar bertakwa kepada Allah dalam membagikan harta rampasan perang, ya beliau tersinggung dan berkata tegas, “Aku ini orang paling amanah dan paling bertakwa di antara langit dan bumi.”   Cek saja dalam kitab-kitab hadits tentang kisah-kisah bagaimana Nabi S.A.W punya selfworth yang sangat baik.   Jadi self-worth Nabi S.A.W itu tinggi. Lah Anda yang umatnya yang tidak ma’shum tidak apa malah takut tersinggung karena takut tisak dianggap orang baik hati.   Ya segalanya butuh keseimbangan. Luas hati itu harus, tapi ingat hargai juga diri Anda. Menghargai diri itu harus, tapi juga harus ingat kemuliaan hati itu berada di dalam keluasaan hati. Ya sekedar ingatkan saja untuk seimbang.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

DIBERI KEMUDAHAN TAAT, BELUM TENTU BAIK

Anda tahu semua tentang Barshisha, yang dikisahkan Nabi S.A.W., seorang santo yang beribadah puluhan tahun di dalam kuil. Muridnya mencapai 60.000 biarawan. Hampir semua muridnya mencapai kesadaran kuantum, mampu berkecepatan di atas kecepatan cahaya, mampu menembus sekat ruang, konon mayoritas para murid mampu masuk ke lubang jarum. Namun Barshisha mati sujud kepada setan.   Ketika Anda menulis angka 500.000.000.000 (lima ratus milyar) mudah saja, bila ingin 500 trilyun tinggal menambahkan tiga nol di belakang. Mudah, ringan, enteng, karena sekedar menulis angka tidak bernilai, tidak butuh susah-susah.   Namun bagi Anda seorang akuntan, menambahkan angka 50 dalam satu jumlah laporan keuangan, butuh data penjumlahan detail yang njelimet. Anda harus berpikir berlipat kali hanya untuk bisa menambahkan angka 50. Karena 50 dalam akuntan itu bernilai, butuh susah-payah untuk mencantumkannya di penjumlahan.   Konon Barshīsha dengan mudah dijebak iblis, kebaktiannya kepada Tuhan tidak berpengaruh apa-apa pada komitmennya. Dijebak untuk minum arak, ia enjoy, untuk bermain perempuan, ia enjoy, untuk membunuh, ia enjoy, hingga sudah di tiang salib, masih enjoy ketika dirayu untuk sujud pada iblis.   Ingat, menulis angka 500.000.000.000 itu mudah bagi Anda karena tidak bernilai, menulis angka 50 bagi seorang akuntan itu hal yang berat karena bernilai. Kalau Barshīsha dengan mudah beralih komitmen hanya karena suatu rayuan iblis, itu artinya “kebaktiannya kepada Tuhan memang tidak bernilai bagi Barshīsha”.   Kenapa kebaktiannya tidak bernilai bagi Barshīsha? Karena baginya, “berbuat bakti itu mudah”. Anda mudah menulis 500 milyar di kertas, karena angka itu tidak bernilai. Barshīsha mudah berbakti, mudah taat kepada Tuhan, ketika harus menghapus kebaktian itu dan diganti dengan durhaka, ya ringan saja, karena tidak bernilai apa-apa di hatinya.   Sesuatu tidak bernilai disebabkan “mudah mendapatkannya”. Angka 50 bernilai bagi akuntan, karena itu bukan hal mudah bagi akuntan. Untuk mencapai “nilai” atau atsar kuat diperlukan kepayahan dan kesusahan, butuh suatu mujāhadah (perjuangan sungguh-sungguh). Maka Al-Qur’an selalu mewasiatkan bahwa bersama kemudahan ada kepayahan. Artinya kemudahan dan kepayahan hakikatnya dualitas yang saling menyeimbangkan.   فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا   “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirâh : 5-6)   Ini artinya, berbuat taat bagi Barshisha itu mudah-mudah saja. Ia dimudahkan oleh Tuhan untuk taat kepada-Nya, tanpa halang rintang berarti. Ia dengan mudah hidup puluhan tahun di kuil, puluhan tahun sujud, puluhan tahun puasa, puluhan tahun mengajar, tanpa ada godaan berarti.   Bagi Anda, hidup di dalam masjid puluhan tahun, tanpa hiburan, tanpa refreshing, tanpa seks, tanpa berlaku hedon, itu semua sangat susah bagi Anda. Tapi, hal itu tidak berlaku bagi Barshisha, ia enjoy terbang di angkasa taat, ia dikaruniai mudah taat. Dessss…. taatnya menjadi tidak bernilai, tidak mengukirkan atsar.   Peristiwa Barshisha ini jelas karena tidak adanya keseimbangan pada pola kebaktian Barshisha kepada Tuhan. Bila kebaktiannya bukan semacam gratisan, tentu berakhir seimbang; khusnul khâtimah. Gratisan biasanya diberikan kepada orang yang tidak mampu, maka itu sebenarnya Barshisha bukan orang yang mampu berbakti puluhan tahun.   Maka ini, Anda perlu bersyukur atas kesusahan Anda berbuat taat, susah berbuat baik. Sana-sini ada kekurangan. Sudah naik jatuh lagi. Kadang malah lenyap dibawa arus maksiat, lalu dengan tertatih Anda memulai lagi dari nol untuk taat dan baik. Namun, susah payah dalam taat itulah yang akan menitikkan “nilai” atau atsar dalam jiwa Anda. Sehingga Anda tidak gampangan ganti komitmen ketika iblis-iblis datang merayu.   عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا فِي عُمْرَتِهَا إِنَّ لَكِ مِنَ الأَجْرِ عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ وَنَــفــَقَـتِـــكِ   “Dari Aisyah R.A. bahwa Rasulu-llāh S.A.W. bersabda padanya, “Umrahnya untuk dirinya. Sungguh untukmu ada bagian pahala atas kadar usaha dan korbanmu.” (H.R. Al-Hakim).   مَا كَانَ أَكْثَرُ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرُ فَضْلاً   “Amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan.” (Kaidah Fikih, As-Suyuthi dalam Asybah wan Nazhāir).   العَمَلُ كُلَّمَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلُ مِمَّا لَيْسَ كَذَلِكَ   “Amalan yang semakin banyak dan sulit, lebih afdhal daripada amalan yang tidak seperti itu.” (Kaidah Fikih, Imam Az-Zarkasi dalam Al-Mantsur).   Saya bahagia ketika banyak mendapat keluhan susahnya berbuat taat, karena itu jalan Anda untuk tidak seperti Barshīsha.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

RAHMAT DUIT

Dalam ajaran agama Islam banyak sekali diajarkan mengenai fadhîlatul a’mâl (keutamaan-keutamaan amal) yang kadang tidak masuk akal. Saya ambil contoh di sini seperti fadhîlah Puasa ‘Arafah.   “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (H.R. Muslim)   Anda taubat selama setahun belum tentu berhasil karena proyek dosa terus berlangsung setiap hari. Atas ditaubati, bawah berbuat dosa. Dan hasil pun ditentukan sesuai upaya kerja.   Janji -janji pahala fadhîlah seperti di atas, seolah berlawanan ekstrem dengan kaidah, “Al-ajru bi qadril masyaqqah” bahwa “pahala sesuai dengan kadar kepayahan”.   Kaidah “al-ajru bi qadril masyaqqah”di atas itu petunjuk bahwa hidup ini tidak ada gratisan.   Memang hidup ini cuma-cuma, tidak ada pajak untuk oksigen yang Anda hirup, tapi bukan gratisan, karena untuk dapatkan oksigen sehat, Anda harus berupaya lahir batin melestarikan lingkungan sehat. Standar kebaikan hidup Anda sebanding dengan kepayahan Anda dalam upaya.   Apa mungkin puasa Arafah sehari melebur dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang? Karena jelas hasilnya beda, antara kerja sehari dengan kerja setahun. Mekanisme puasa Arafah sama saja, kerja sehari dengan hasil yang menyamai kerja setahun lalu dan setahun akan datang. Ini melawan mekanisme, “Al-ajru bi qadril masyaqqah”.   Jika dimaknai serampangan Nabi Daud AS merasa iri karena beliau puasa sehari berbuka sehari itu dilakukan seumur hidup beliau, di-TKO dengan mudah hanya dengan puasa Arafah sehari. Adil?   Puasa Arafah dengan fadhīlah-nya itu rahmat Tuhan. Soal “rahmat Tuhan” sering disebut non matematis, bukan nalar logis. Ooh tidak. Tuhan selalu bermain di wilayah pasti (Al-Muqtadir), tidak ada mekanisme “kebetulan” di dalam Tuhan, kebetulan itu hanya “kepastian yang tidak disadari”.   Tuhan itu “tidak mempengaruhi dan tidak dipengaruhi”, Dia di posisi nol. Sehingga segala sesuatu yang dibagikan kepada Tuhan (nol) akan menghasilkan tiga kepastian:   1). 0/0 = 0 (sesuai dengan konsep nol dibagi berapapun bilangannya maka jawabannya adalah nol).   2). 0/0 = ∞ [tak hingga] (sesuai dengan konsep bilangan berapapun dibagi dengan nol hasilnya tak hingga/tak terdefinisi, misal 9/0= ∞ (tak hingga)).   3). 0/0 = 1 (sesuai dengan konsep bilangan berapapun jika dibagi dengan dirinya sendiri maka hasilnya adalah satu, misal 2/2=1).   Puasa Arafah ini menetapi mekanisme kepastian hasil 0:0= ∞ (nol dibagi nol sama dengan tak hingga). Ini eksak. Jadi rahmat itu eksak, bukan gratisan bukan kebetulan, bukan hal yang tidak matematis.   Puasa Arafah dibagikan kepada Tuhan (0) sama dengan ampunan dosa dapat hasil tak hingga jika memang Anda hanya membagikan kepada 0, alias lillāhi ta’ālā.   Sekalipun puasa Arafah bersama, hasilnya bisa beda-beda, bahkan ada juga yang cuma hasil haus dan lapar saja, karena mekanisme “rahmat Tuhan” standar dengan kemampuan Anda berbagi kepada nol (lillāhi ta’ālā).   Karena ini, fadhīlah puasa Arafah itu matematis, sesuai kaidah al-ajru bj qadril masyaqqah, karena upaya diri Anda “berbagi kepada nol (lillāhi ta’ālā)” itu inti segala kepayahan. Sekedar menghasilkan 1 milyar dalam sehari, banyak yang bisa, tapi menghasilkan lillāhi ta’ālā dalam seumur hidup belum tentu bisa.   Jadi, mekanisme rahmat itu inti kepayahan. Dapat pahala diampuni dosa tahun lalu dan dosa tahun yang akan datang dengan puasa Arafah sehari itu memenuhi kaidah al-ajru bi qadril masyaqqah; pahala seimbang dengan kadar kepayahan.   Duit itupun satu mekanisme rahmat. Jadi sangat mungkin Anda kerja sehari cukup untuk hidup setahun. Bill Gates dalam satu detik, duit yang masuk ke rekeningnya mencapai nominal milyaran. Duit Anda pun bisa seperti pahala puasa Arafah, asalkan duit Anda masuk dalam mekanisme rahmat Tuhan.   Hanya yang perlu Anda tahu, Tuhan bekerja sesuai prasangka Anda pada-Nya, kalau prasangka Anda masih saja “ngitang-ngitung” duit, curahan rahmat duit yang masuk kepada Anda juga pakai rumus hitungan. Satu bulan kerja berarti cuma dapat gaji 3 juta, itu rezeki dengan rumus hitungan.   Maka ini perasaan Anda yang harus digubah dalam menyangka curahan duit-Nya. Berarti harus bagaimana? Ya latihan tidak main hitungan dengan duit. Boros ya diterima dengan enjoy, tidak dibuat stres dan merasa bersalah. Harus keluar biaya besar ya enjoy saja tidak dijadikan beban berat. Tidak dibuat prinsip ketat dalam pengeluaran. Tidak “ngakal-ngakal” agar bisa menabung dan mengumpulkan duit. Pokoknya enjoy dengan duit.   Kenapa perlu mengganti setting mental yang demikian? Karena curahan duit itu rahmat-Nya. Puasa di hari Arafah dalam sehari saja bisa menghapus dosa di masa lalu dan masa akan datang, kenapa kerja sekali tidak cukup untuk makan setahun? Yang membatasi curahan rahmat duit-Nya kepada Anda hanyalah prasangka Anda pada-Nya yaitu “hitungan” rasionalitas Anda terhadap keluar masuknya duit.   Jangan suka hitung-hitungan duit, itu jadikan Tuhan turunkan duit-Nya juga terhitung, karena Dia turunkan rahmat-Nya sesuai prasangka hamba pada-Nya.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

ATENSI ISTIGHFAR UNTUK MENGUNDUH REZEKI

Energi uang antipati mendekat kepada 2 hal; pertama getaran-getaran keprihatinan duniawi, kedua; getaran-getaran rasa tak berharga.   Pertama energi uang anti mendekat pada getaran keprihatinan duniawi, sebab program penciptaan uang itu sebagai pelayan body. Body antipati kepada keprihatinan, Anda puasa, puasa itu laku prihatin, bukankah perut Anda menolak prihatin puasa?   Uang itu tercipta layani body Anda, energinya pun ikuti energi body, yakni anti getaran rasa rasa prihatin.   Energi uang justru kegemarannya mendekat kepada getaran kesenangan, tidak peduli bahagia atau tidak, shaleh atau tidak. Maria Ozawa duitnya banyak, karena hidupnya yang bebas seks itu getaran kesenangan.   Kedua, energi uang anti kepada self worth yang rendah, kepada perasaan-perasaan tidak berharga.   Tangan atau kaki Anda dipotong, Anda masih bisa hidup, namun kalau leher Anda dipotong, Anda mati.   Uang itu pelayan Anda, getaran uang ikuti getaran hidup Anda. Di Mars tidak ada Anda, di sana pun tidak ada uang.   Kepala Anda itu simbol self worth diri Anda, kalau kepala Anda putus, Anda mati. Anda mati, rezeki uang juga ikut mati. Karena itu uang mendekatnya kepada rasa-rasa prestasi diri. Di mana pun yang punya tahta, dia punya harta, dan yang punya harta ujung-ujungnya punya tahta.   Punya tahta itu pemicu rasa berharga muncul, punya prestasi hidup juga pemicu rasa berharga muncul.   Fakir miskin makin tercekik rezekinya di antara penyebabnya karena para fakir miskin merasa dirinya tidak berharga sebab tidak punya prestasi apa-apa, harta tak ada, kehormatan juga di statra bawah.   Nah istighfar itu dipromosikan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai tool pengunduh berlimpahnya rezeki.   فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا .يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا .وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا   “Maka Aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepadamu hujan lebat, dan memperbanyak hartamu dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun, serta mengadakan untukmu sungai-sungai.” (Q.S. Nuh : 10-12).   “مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”   “Barangsiapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (H.R. Ahmad).   Istighfar itu energi spiritual taubat. Taubat punya getaran penyesalan atas dosa-dosa.   Orang yang penuh penyesalan, ia rawan terjebak dalam rasa keprihatinan dan rawan terjebak dalam rasa tidak berharga.   Dia prihatin hatinya terpicu rasa menyesali kesalahan-kesalahan, dan karena menyesal mendalam ujung-ujungnya ia merasa tidak berharga, self worth-nya jadi rendah.   Ketika atensi rasa yang terunggah kepada-Nya adalah rasa menyesal mendalam, hatinya penuh prihatin dan self worth-nya jadi rendah, di sinilah kemudian bertabrakan dengan energi uang. Hasilnya banyak istighfar bukannya memudahkan rezeki, malahan menyeretkan rezeki.   Banyak para pengusaha yang mencoba taubat dari riba dengan menghindari bunga bank, dan malah yang terjadi sesudah ia hindari bunga bank justru bisnisnya jadi anjlok dan oleng. Itu dikarenakan atensi istighfar dan taubatnya adalah rasa menyesal mendalam.   Lalu bagaimana agar istighfar menjadi pengunduh rezeki sesuai Al-Qur’an dan Al-Hadits?   Begini. Misi istighfar itu mohon ampunan dari dosa-dosa, bukan menyesali dosa-dosa.   Memang dalam taubat itu dianjurkan agar Anda menyesali dosa-dosa sebagai efek teraplikasinya rasa taubat dalam diri Anda. Namun dalam istighfar jangan kemudian yang dibesar-besarkan adalah rasa menyesal sehingga kemudian yang dominan adalah rasa menyesal tersebut.   Sekarang kalau Anda menyesali tapi Anda tidak diampuni dosanya, apa istighfar Anda berguna? Karena itu point besar istighfar dan taubat adalah “diampuni” bukan “disesali”.   Rasa ingin mendapat ampunan Tuhan itu jadikan rasa kehambaan muncul di dalam diri, sehingga dalam benak hati muncul rasa-rasa tidak kuasa untuk terhindar dari kesalahan dan dosa, karena itu tidak ada harapan lain selain rasa berserah kepada-Nya sambil berharap kuat agar Dia tetap mengampuni.   Dalam rasa kehambaan tersebut kemudian mendorong hati si hamba untuk percaya diri, sehingga self worth dan kegembiraan hatinya pun muncul.   Anda amati pesan doa Sayyidul Istighfar yang diajarkan Rasulullah S.A.W;   للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ   “Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji –Mu. Dan Aku berjanji kepada-Mu dengan semampuku. Aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat. Aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau.” (H.R. Bukhari).   Di doa tersebut jelas tersirat rasa-rasa kehambaan yang membangun kepercayaan diri, membangun self worth dan kegembiraan hati, bahkan di doa Sayyidul Istighfar tersebut ada pengakuan atas nikmat-nikmat Tuhan (abû-u laka bi ni’matika ‘alayya).   Jadi dalam taubat dan istighfar pun Anda tetap didorong untuk mengingat nikmat-nikmat-Nya, dorongan untuk bangun rasa bergembira yang tinggi.   Simpulnya atensi istighfar yang mendorong terunduhnya rezeki melimpah itu atensi istighfar yang tetap membangkitkan self worth dan rasa gembira, bukan atensi istighfar yang hanya membangkitkan rasa penyesalan.   Dan ingat! Energi uang adalah energi yang mendekat kepada getaraan rasa gembira dan getaran rasa berharga, istighfar Anda tetaplah berada di frekuensi getaran tersebut.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

TIPS BERMUSUHAN; MENEKAN ITU MENGUATKAN

Tiap benda alam semesta memiliki gaya tekanan, makin berat bendanya makin berat pula tekanannya. Namun alam semesta ini ada gaya gravitasi yang kemudian memberikan tekanan balik yang kekuatannya sebanding dengan tekanan yang diberikan.   Kalau Anda tenggelamkan bola ke dalam bejana air, lalu lepaskan, maka bola akan memantul balik sesuai berat tekanannya. Makin berat tekanannya, kekuatan menyembul balik dari dalam air juga makin kuat.   Atau Anda lemparlah bola ke dinding. Makin hebat Anda melempar, daya balik memantulnya juga makin kuat. Itu artinya menekan musuh adalah usaha untuk menguatkan.   Anda ingat penendangan sesajen di Gunung Semeru kemaren? Artinya di situ ada oknum melakukan tekanan permusuhan terhadap sesajen lumayan kuat, hasilnya energi budaya sesajen malahan memantul balik dengan begitu kuat.   Banyak komunitas-komunitas budaya dan adat di nusantara yang justru dengan sengaja menggelar ritual sesajen bersama dengan terbuka. Belum lagi cacian dan makian kepada oknum pelaku, dan laporan kasus ke kepolisian, semuanya reaksi balik akibat dari tekanan permusuhan yang diberikan pelaku. Itu artinya menekan musuh adalah usaha untuk menguatkan.   “Tempat buang anak jin” untuk wilayah IKN Nusantara itu sebenarnya tekanan politik untuk penguasa, sementara penguasa yang ditekan secara politis diam saja, hanya konsisten kerjakan program-program kerjanya, hasilnya tekanan balik besar-besaran justru menghantam balik dengan hebat.   Ancaman mandau-mandau terbang, s4ntet, demonstrasi, pernyataan-pernyataan lembaga-lembaga adat Kalimantan, laporan ke kepolisian, dan lain-lainnya, terus saja menghantam balik. Benar-benar, menekan musuh itu artinya menguatkannya.   Mau bagaimana lagi, gaya gravitasi alam semesta benar-benar ada. Benda di alam semesta saling tarik menarik dengan gaya yang berbanding lurus dengan hasil dari massa dan berbanding terbalik dengan kuadrat dari jarak antara mereka. Itu semua sebabkan makin kuat diri Anda, makin kuat pula musuhnya, makin kuat reaksi tekanannya, makin kuat pula daya baliknya.   Beberapa waktu lalu saya dibuat kelimpungan oleh orang yang memusuhi saya. Awalnya memang dia yang tanpa alasan jelas mendengki dengan hoki rezeki dan hoki karir saya. Padahal sebenarnya dia jauh lebih lemah dari saya.   Terbawa rasa sebal, dan saya pikir kecil-kecil saja saya menekan dia, saya bersikap seenaknya, dengan sadar dalam kurun waktu 3 bulanan saya congkak seenaknya, nyinyir seenaknya, menekan seenaknya, pokoknya semau gue.   Hasilnya dia yang sebenarnya kekuatannya jauh lebih lemah dari saya, eeh kemudian temukan dukungan dari beberapa orang yang tentu berikan tekanan lebih kuat pada saya. Saya pun melongo.   Di situlah saya sadar, menekan musuh kuat-kuat itu sama saja menyiapkan musuh agar lebih kuat.   Tentu Anda kerap punya rasa benci pada seseorang. Saat membenci, jangan lakukan beraksi menekan terlalu kuat, itu sama saja menyiapkan orang yang Anda benci untuk lebih kuat.   Begitu pula ketika Anda punya rasa sakit hati pada seseorang, jangan beraksi berlebihan dalam memberikan perlawanan, karena justru ia akan makin kuat.   Begitu pula ketika Anda dimusuhi atau ingin memusuhi orang lain. Makin Anda beraksi kuat, musuh juga makin kuat, sebab adanya hukum gravitasi universal alam semesta.   Diam dan sabar. Itu tips aman ketika Anda membenci, dibenci, memusuhi, dimusuhi, sakit hati, dan lainnya.   وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ   “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allâh mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Ali ‘Imran : 120)   Cukup diam dan sabar. Itu saja tips hadapi musuh. Namun diam dan sabar tidak bisa begitu saja datangkan kemenangan. Bisa jadi malah musuh makin seenaknya berbuat zalim kepada Anda, makin menginjak. Kejadian begini biasanya si pelaku sabar dan diam itu dipicu atensi rasa lemah. Dan merasa lemah akhirnya hanya bisa diam dan sabar.   Persoalannya energi hati yang merasa lemah, ya selamanya tidak akan memanggil kekuatan untuk unggul dan menang, karena ada kehendak juga tidak untuk menjadi unggul dan pemenang. Polos. Orang polos malah biasanya “dibodohi” orang.   Agar mendatangkan kemenangan, sabar dan diamnya Anda diberi atensi “tidak mau kalah tapi dengan jalan sabar dan diam”. Paham?   Itu saja. Tidak mau kalah dengan jalan sabar dan diam, di situ yang disebut jurus Tai Chi.   وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ   “Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Anfâl : 46)   Kabar gembiranya, ketika ada orang kuat dan besar kemudian secara konsisten memusuhi dan membenci kepada Anda, itu pertanda Anda akan sekuat dan sebesar dia. Namun catatannya, jurus Tai Chi Anda terpasang benar atau belum.   Cek ke dalam, diam dan sabar Anda karena rasa lemah, atau karena rasa tidak mau kalah dengan jalan diam dan sabar? Kalau karena rasa lemah, Anda hanya akan mengantar diri Anda masuk dalam mekanisme homo homini lupus; yang kuat memakan yang lemah. Kalau mau sekuat dan sebesar orang besar yang memusuhi Anda atensikan rasa tidak mau kalah dengan jalan sabar dan diam.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word   Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

DOA MALAIKAT UNTUK ORANG YANG BELANJA DAN YANG IRIT

Anda suka nge-mall kan? Atau suka shoping? Atau belanja online? Sebenarnya setiap kali Anda lakukan pembayaran transaksi belanja, di saat itu ada doa rahmat dari para malaikat untuk Anda. Tentu pembayaran transaksi belanja untuk kebaikan, bukan pembayaran transaksi belanja untuk keburukan.   Apa si doa para malaikat untuk Anda yang belanja? Simak dulu hadits-hadits berikut ini;   Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah R.A., beliau berkata, “Rasulullah S.A.W bersabda;   مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.   ‘Tidak ada satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada di dalamnya melainkan ada dua malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang belanjakan harta.’ Dan yang lainnya berdoa, ‘Ya Allah, rusaklah harta orang yang menahan hartanya ’” (H.R. Bukhari & Muslim)   Imam Ahmad, Ibn Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Darda’ R.A., ia berkata, “Rasulullah S.A.W bersabda;   مَا طَلَعَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ، يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ هَلُمُّوْا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنَّ مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى. وَلاَ آبَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَأَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.   ‘Tidaklah matahari terbit melainkan diutus di dua sisinya dua malaikat yang berseru, semua penduduk bumi mendengarnya kecuali jin dan manusia, mereka berdua berdoa, ‘Wahai manusia! Menghadaplah kalian kepada Tuhan kalian, karena yang sedikit dan cukup itu tentu lebih baik daripada yang banyak tetapi digunakan untuk foya-foya. Dan tidaklah matahari terbenam melainkan diutus di antara dua sisinya dua nalaikat yang berseru, semua penduduk bumi mendengarnya kecuali jin dan manusia, mereka berdua berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang belanjakan harta dan rusaklah harta orang yang menahannya.’” (H.R. Ahmad, Ibn Hibban & Al-Hakim)   Imam Ahmad dan Ibn Hibban meriwayatkan dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah S.A.W., beliau bersabda:   إِنَّ مَلَكًا بِبَابٍ مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ يَقُوْلُ: مَنْ يُقْرِضِ الْيَوْمَ يُجْزَى غَدًا وَمَلَكًا بِبَابٍ آخَرَ يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ لِمُنْفِقٍ خَلَفًا وَعَجِّلْ لِمُمْسِكٍ تَلَفًا.   “Sesungguhnya satu malaikat yang ada di sebuah pintu dari pintu-pintu langit berkata, ‘Barangsiapa meminjamkan di hari ini, maka akan dibalas di esok hari,’ dan satu malaikat lainnya yang ada di pintu lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang belanjakan harta dan segera rusaklah harta orang yang menahannya.’” (H.R. Ahmad & Ibn Hibban)   Anda sadar, tidak? Sepulang nge-mall, sepulang shoping, sepulang belanja sayur dan kelontongan di warung, sehabis transfer rekening, sesudah jajan, sesudah masuk restoran, sesudah buka lapak online lalu Anda transaksi, sesudah bayar gaji karyawan, sesudah bayar tagihan listrik dan internet, sesudah bayar tagihan kredit, dan semua jenis transaksi pembayaran, di situ Anda diiringi oleh doa restu dari para malaikat agar harta Anda yang baru saja dilepas segera diganti. Didoakan oleh para malaikat agar segera diganti.   Redaksi yang digunakan dalam hadits di atas adalah “anfiq” artinya “belanjakanlah” atau “infakanlah”.   Sayangnya kata “infak” pemaknaannya kerap diklaim sebagai bentuk amal sedekah, sehingga kata “infak” hanya dipahami sebagai lelaku amal jariyah yang dalilnya, baik Al-Qur’an maupun haditsnya, hanya dipasang di lembaga-lembaga amal kemanusiaan, padahal sebenarnya dalil-dalil dengan redaksi kata “infak” layak pula dipasang di mall-mall dan warung-warung.   Asal kata infak (Arab: infâq) dari bahasa Arab, yaitu (أنفق – ينفق – إنفاقا) yang bermakna mengeluarkan atau membelanjakan harta.   Intinya, berinfak itu adalah membayar dengan harta, mengeluarkan harta dan membelanjakan harta. Tujuannya bisa untuk kebaikan, donasi, atau sesuatu yang bersifat untuk diri sendiri, atau bahkan keinginan dan kebutuhan yang bersifat konsumtif, semua masuk dalam istilah infaq.   Istilah Infak bisa diterapkan pada banyak hal, membelanjakan harta baik untuk kepentingan sendiri ataupun orang lain, memberi nafkah keluarga, mengeluarkan zakat dan sedekah.   Dan biasanya kalau “infak” digunakan untuk kepentingan dan tujuan sosial dan ruhani ditambahai kata “fî sabîlill-âh” sesudah kata “infâq”.   Nah sebaliknya yang irit-iritan, hitung-hitungan, pelit-pelitan, ditahan-tahan hartanya agar awet digenggaman, itu yang oleh para malaikat didoakan agar dirusak dan dihancurkan sekalian hartanya. Modyaaarrrr!!!   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word   Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

UNTUK KAYA TIDAK HARUS BEKERJA PADA UANG

Dulu saya sesudah menikah tidak punya konsentrasi pada karir uang. Masalahnya bukan malas atau tidak punya cita-cita, namun karena peluang yang tidak mendukung. Harus full ngaji dan mengurus para santri, sementara karir pondok pesantren ya bukan karir duit, tidak ada tunjangan sepadan apalagi gaji. Karena itu karir mencari uang hanya karir sambian.   Setiap hari saya berangkat ngajar ngaji dari jam 07.00 pagi sampai jam 10.30 pagi, menghandel 4 mata pelajaran untuk tingkat wusthâ (menengah) dan ‘ulya (tinggi).   Sore hari pukul 14.00 berangkat ngajar ngaji lagi di madrasah diniyah pondok pesantren hingga pukul 15.20.   Maghrib berangkat ngaji lagi hingga Isya. Lalu terakhir pukul 21.00 ngaji lagi hingga pukul 22.30.   Duit tidak punya, artinya masalah terbesar saya sesudah menikah adalah masalah finansial, tapi malah aktifitas karir yang terbuka sama sekali tidak terhubung dengan uang. Waktu, tenaga dan pikiran habis untuk mengurusi ngaji.   Ada usaha kecil-kecilan yakni buka toko kelontong, namun belum ada isi dagangannya karena kurang modal. Setiap melihat kondisi toko ya cuma bisa “sabar narima senajan pas-pasan.”   Untung sejak kecil saya termasuk anak yang punya cita-cita besar, punya impian hidup, sehingga hadapi kondisi demikian hati saya tetap konsisten menuju impian-impian saya.   Setiap berangkat ngaji, saya teriak keras dalam hati, “Saya kaya rezeki, saya mulia dunia akhirat.” Dan ngaji saya benar-benar saya niatkan untuk mengubah nasib hidup. Hati kecil saya kerap bicara begitu, saya tidak terima dengan kondisi lemah dan miskin.   Dan 3 tahun kemudian saya mulai punya uang. Usaha-usaha saya mulai bertumbuh walaupun saya tetap sekenanya mengurus bisnis dan dagangan, fokus saya masih tetap banyak terserap ke ngaji.   Tahun keempatnya saya bisa beli mobil, ya walaupun mobil 100 jutaan. Dan di tahun keempat itu saya mulai jadi trainer pemberdayaan diri.   Begitulah permainan uang. Menuju uang ternyata tidak harus fokus bekerja pada uang. Apapun yang bisa Anda kerjakan di depan mata, itu semua bisa dikonversikan menjadi energi uang. Saya ngaji, namun konversi energi ngaji saya pada uang dan kemuliaan hidup, lalu 3 tahun kemudian benar-benar terwujud nyata.   Dari pengalaman ini kemudian saya menemukan pelatihan pemberdayaan spiritual yakni Konversi Energi Spiritual, di mana semua energi alam semesta, termasuk energi batin Anda bisa dikonversi ke bentuk energi lain.   Energi air Anda konversi menjadi listrik, kan volume airnya tetap utuh. Demikian pula energi ngaji yang sebenarnya dituntut untuk lill-âhi ta’âlâ itu ketika dikonversi menjadi kekayaan lill-âhi ta’âlâ-nya ya tetap utuh, sama sekali tidak mengurangi ikhlas atau tidaknya. Sama persis seperti energi air yang dikonversi jadi listrik atau tidak, volume airnya sama sekali tidak berkurang.   Di sini pentingnya niat, impian dan cita-cita. Karena niat, impian dan cita-cita inilah yang nantinya akan dikonversi energinya oleh alam semesta untuk wujud menjadi energi lainnya.   Banyak kan orang yang full kerja untuk uang, tapi ya duitnya stagnan saja, rezekinya berhenti di tempat, itu dikarenakan tidak ada niat, impian dan cita-cita yang besar dan kokoh. Ibarat energi air tidak dikonversi jadi energi apapun, hanya diutuhkan sebagai air yang mengalir.   Kuda delman itu pekerja keras, selalu lari-lari kencang, tapi tidak ada kuda delman yang kaya mulia, itu karena si kuda tidak pernah punya impian untuk kaya, energi kerja si kuda tidak dikonversikan menjadi bentuk energi lain.   Lah Anda sejak lulus SMK sudah melamar pekerjaan, sekian tahun menjadi karyawan kontrak, sekian tahun merantau demi kerja, atau Anda sudah sekian tahun bisnis, lah kok duitnya di situ-situ saja, jangan-jangan Anda seperti kuda delman? Kerja tapi tidak punya cita-cita besar.   Sahabat Anas bin Malik R.A beliau menjadi pelayan Nabi S.A.W sejak kecil. Kalau digambarkan sekarang ya sebagai tukang cuci baju, cuci piring, tukang sapu, tukang pel, dan lainnya. Tentu beliau menjadi pelayan tidak digaji, karena beliau memang ingin ngalap berkah kepada Nabi S.A.W. Kemudian Anas bin Malik di masa depan menjadi orang kaya raya yang memiliki banyak kebun luas dan subur.   Sahabat Abu Hurairah R.A juga demikian. Sehari-hari beliau hanya mengikuti kemana Nabi S.A.W pergi agar beliau tidak ketinggalan peristiwa hadits baru dari Nabi S.A.W. Beliau bisnis tidak, kerja cari uang juga tidak. Di masa depan beliau menjadi ulama ahli hadits paling terkemuka dan kemudian menjadi gubernur di Madinah. Jadi ulama dan gubernur, ya tentu banyak duit.   Itulah orang-orang yang punya kualitas konversi energi tinggi, walaupun keduanya kerja bukan untuk uang, namun keduanya punya niat, cita-cita dan impian sehingga kerja keduanya tidak seperti kerjanya kuda delman.   Keduanya karena memang punya kualitas konversi tinggi, kemudian ijabahnya dilantari doa keberkahan dari Nabi S.A.W. Anda sekarang sedang cucikan baju suami dan ceboki anak? Apa sedang mencangkul? Apa sedang mengajar? Apa sedang baca Al-Qur’an? Atau sedang dagang di pasar? Semua bisa dikonversikan menjadi kekayaan. Menjadi kaya tidak harus bekerja pada uang, dan bekerja pada uang pun belum tentu menjadi kekayaan, di balik itu semua ada histori batin yang disebut konversi energi.   Catatan untuk mampu mengonversi harus konsisten, disiplin dan dilandasi cita-cita besar, paling 2 – 3 tahun juga gol. Jangan jadi kuda delman, ya?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

MENARIK KEDERMAWANAN ALLAH

Allah selalu berinteraksi dengan perasaan hati Anda, sama persis seperti interaksi perasaan hati Anda dengan orang di sekitar Anda.   Coba Anda perhatikan beberapa hadits interaksi Allah dengan perasaan hati hamba-hamba-Nya.   1. Anda menjaga diri dari meminta-minta (‘iffah), Allah akan menjaga Anda. Anda merasa kaya, Allah akan mengkayakan Anda. Anda berusaha sabar, Allah akan menyabarkan Anda.   عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ” إِنَّ نَاسًا مِنْ الْأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ : ( مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ ) .   “Dari Abu Sa’id Al-Khudhri R.A, ‘‘Sesungguhnya ada sekelompok orang dari kalangan Anshar meminta sesuatu kepada Nabi S.A.W. Lalu beliau memberikannya. Kemudian mereka meminta lagi lalu Nabi S.A.W pun memberikannya. Hingga habis apa yang ada pada beliau. Lalu Nabi S.A.W bersabda, “Tidak ada lagi kebaikan (sisa harta) di sisiku dan aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu pun dari kalian. Barang siapa menjaga dirinya dari meminta-minta maka Allah akan menjaganya. Barangsiapa merasa kaya, maka Allah akan mengkayakannya. Barangsiapa yang berusaha sabar maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan seseorang tidak dianugerahi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas selain kesabaran.” (H.R. Bukhari & Muslim)   2. Prasangka Allah sesuai prasangka hamba. Anda mengingat-Nya, Dia pun mengingat Anda. Anda mendekati-Nya, Dia pun lebih agresif dekati Anda.   يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً   “Allah Ta’alâ berfirman, “Sesungguhnya Aku berdasarkan pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam hati-Ku. Jika ia mengingat-Ku di kerumunan, Aku pun akan mengingatnya di kerumunan yang lebih baik dari (kerumunan) mereka. Jika ia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Apabila ia mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan jalan cepat.” (H.R. Bukhari).   3. Anda mencari ridha-Nya, Dia pun ridha kepada Anda. Anda enek hati kepada-Nya, Dia pun enek hati kepada Anda.   ” مَنِ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ ، بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ ، سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ “.   “Barangsiapa mencari ridha Allah meskipun manusia benci kepadanya, niscaya Allah akan ridha kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia ridha kepadanya pula. Dan barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan membuat Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia murka kepadanya pula.” (H.R. Ibn Hibban)   Di dalam riwayat lain, Nabi S.A.W bersabda;   مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرِضَا اللهِ كَفَاهُ اللهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ   “Barangsiapa mencari ridha manusia dengan membuat Allah murka, maka ia diserahkan oleh Allah kepada manusia. Dan barangsiapa membuat manusia murka dengan ridha Allah, maka Allah akan mencukupinya dari kejahatan manusia.” (H.R. Ibnu Hibban)   4. Anda menyimpan harta, Allah akan menahan rezeki Anda. Anda hitung-hitungan uang, Allah pun berhitung uang kepada Anda.   وعن أَسماءَ بنتِ أَبي بكرٍ الصّديق رضي اللَّه عنهما قالت: قَالَ لي رسولُ اللَّه ﷺ: لا تُوكِي فيُوكَى عليكِ. وفي روايةٍ: أَنْفِقِي، أَو انْفَحِي، أَو انْضِحِي، وَلا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيكِ، وَلا تُوعِي فيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ.   Dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah S.A.W bersabda padaku, “Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa membelanjakannya) nanti Allah akan menahan rezeki untukmu.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Belanjakanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya, nanti Allah akan berhitung rezeki kepadamu. Jangan kamu tutup rapat guci menyimpan makanan nanti Allah akan menutup rezekimu.” (H.R. Bukhari)   Banyak lagi uraian-uraian hadits yang indikasikan sistem interaksi Tuhan dengan perasaan hati manusia.   Ketika Anda dibenci seseorang, lalu dia tidak bilang apapun kebenciannya kepada Anda, bukankah Anda tetap bisa mengerti kalau dia benci dan tidak suka kepada Anda. Demikian pula ketika Anda dicintai seseorang. Artinya perasaan hati yang Anda getarkan kepada orang lain itu adalah respons yang akan diberikan orang lain kepada Anda.   Makanya jangan kerap-kerap dan banyak-banyak membenci orang lain karena itu berarti Anda akan banyak dibenci orang. Mumet sendiri nanti.   Saya ada teman yang orangnya serba hemat dan perhitungan sekali kepada uang, baik yang untuk dirinya apalagi kepada orang lain. Untuk dirinya sendiri irit, untuk orang lain pelit. Nah sama dia, saya kalau memberi juga malas sekali banyak-banyak, apalagi kasih sesuatu yang istimewa, rasanya super enggan. Itu karena energi dia sendiri yang serba hemat, jadinya respons hati orang lain kepadanya juga persis sama.   Jadi disini menjadi jelas, sistem interaksi Allah dengan hati manusia itu persis sama seperti interaksi perasaan hati Anda kepada sesama.   Karena itu kalau Anda ingin mengunduh kedermawanan Allah caranya Anda harus dermawan kepada-Nya. Kalau Allah menyaksikan Anda “nyah-nyoh” kepada-Nya, Dia juga akan merespons perihal yang sama. Sedikit-sedikit Anda terlihat butuh duit, di situ respons Allah, “Ini. Ini, buat kamu. Ambil! Ambil!   Tentu Allah sedikitpun tidak butuh kedermawaman Anda kepada-Nya. Tidak butuh. Allah tidak butuh sesaji Anda, tidak butuh persembahan korban Anda. Dia tersucikan dari hajat kepada makhluk.   Lalu bagaimana Anda dermawan kepada Allah? Ya tentu dengan dermawan kepada makhluk Allah namun dengan niat sesadar-sadarnya untuk dipersembahkan kepada Allah, untuk menggapai ridha-Nya.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

SALAH SATU INDIKASI SUSAH DUIT ITU SERING MERASA TIDAK SREK DENGAN PASANGAN SENDIRI

Kalau Anda memasang kancing baju hanya menggunakan tangan kanan saja, bukankah kesulitan? Beda ketika dibantu tangan kiri.   Menikah itu artinya melengkapi tools operasional sistem alam semesta. Alam semesta bersistem zaujain (pasang-pasangan) sebagaimana langit dan bumi, kanan dan kiri, lelaki dan perempuan. Sekalipun di bumi ada lahan subur, namun tidak dicurahi air hujan, tentu lahan tersebut tidak maksimal produktifnya.   Rezeki pun tidak bisa efektif dihasilkan ketika hanya dihasilkan dari satu tangan saja, atau hanya lahan subur saja tapi tidak ada curahan air hujan.   Dulu adik lelaki saya yang terpaut 6 tahun usianya dengan saya menikah dulu. Saya baru lulus dari pondok pesantren, adik lelaki saya minta nikah tidak bisa dicegah.   Selang setahun kemudian, penghasilan bulanan adik saya sudah mapan, ya walaupun adik saya penghasilannya belum bisa disebut kaya, tapi setidaknya saya yang waktu itu masih membujang tertinggal jauh.   Anda amati saja, rata-rata sesudah menikah kehidupan finansial seseorang jadi cepat tertata. Entah jalan dari mana jadi punya rumah, jadi bisa beli tanah, jadi bisa bengkakan rezeki, dan penataan kehidupan lainnya.   Dan rata-rata manusia temukan kekayaan sesudah menikah. Ketika masih singgle, kerja siang malam paling banter bisa kredit motor. Itu dikarenakan seorang singgle belum menghadirkan tools kelengkapan alat operasional alam semesta.   Jadi jelas menghadirkan pasangan nikah dalam hidup itu jalan mengkayaan rezeki.   وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ   “Dan nikahkanlah orang-orang yang singgle diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. An-Nur: 32)   Nikah oleh Allah dijanjikan “yughnihimullâh min fadhlih” yakni dikayakan dengan karunia-Nya.   Karena itu ada 3 hal yang Allah pasti bergerak memberikan pertolongan;   ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ : الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ   “Tiga hal yang menjadi hak Allah untuk bergerak menolong mereka; 1). Orang yang berjihad di jalan Allah, 2). Budak yang memiliki perjanjian untuk memenuhi perjanjiannya, 3). Orang yang menikah untuk menjaga kesuciannya.” (H.R. At-Tirmidzi) Sehingga andai seorang yang menikah hadapi kemiskinan dan butuh pertolongan untuk dikayakan, Allah akan langsung bergerak.   Ibn ‘Abbas berkata yang diriwayatkan Ibn Jarir At-Thabarî;   رغبهم الله في التزويج ، وأمر به الأحرار والعبيد ، ووعدهم عليه الغنى   “Allah mencintai mereka yang menikah, dan Dia memerintahkan untuk nikah kepada orang merdeka dan budak-budak, dan Dia menjanjikan kekayaan pada mereka.”   Ibn Mas’ud juga melalui riwayat dari Ibn Jarir Ath-Thabarî berkata,   التمسوا الغنى في النكاح   “Kalian carilah kekayaan di dalam nikah.”   Abu Bakr Ash-Shidîq berkata melalui riwayat Ibn Abî Hâtim;   أطيعوا الله فيما أمركم به من النكاح ، ينجز لكم ما وعدكم من الغنى   “Taatlah kepada Allah di dalam apa yang diperintahkan-Nya yakni nikah. Allah akan melestarikan kalian dengan apa yang Dia janjikan kepada kalian yakni kekayaan.”   Umar bin Khathab berkata melalui riwayat Imam As-Sakhâwî;   عجبت لرجل لا يطلب الغنى بالباءة ، والله تعالى يقول في كتابه : (إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ(   “Aku heran dengan lelaki yang tidak mencari kekayaan dengan nikah, padahal Allah telah berfirman dalam kitab-Nya, ‘Bila kalian miskin maka Allah akan mengkayakannya dengan karunia-Nya.”   Karena itu kalau ada orang sesudah menikah kok tidak pertumbuhan finansial berarti itu sebenarnya ada ketidakharmonisan dengan pasangannya, tidak kompak antara kerja tangan kanan dan kiri.   Sebab itu menyakiti hati pasangan, baik suami menyakiti istri, istri menyakiti suami, itu fatal hancurkan sistem rezeki.   Mau kerap bertengkar? Masih kerap mengolok-olok pasangan sendiri? Kerap merasa tidak srek dengan pasangan sendiri? Ya itu indikasi duit Anda masih susah.   Lalu kenapa ada juga jomblo yang kaya raya? Ya ada. Tapi kan rata-rata orang menemukan kemapanan finansial sesudah menikah.   Biasanya jomblo bisa kaya karena mereka punya sistem produktifitas unggul dari dalam dirinya yang memang beda dari yang lain, sama saja kawasan Uni Emirat Arab itu daerah tandus karena lahan buminya jarang dicurahi hujan dari langit, tapi tanah di UEA itu produktif hasilkan minyak bumi. Jomblo kaya juga kurang lebih begitu. Kalau tidak ada minyak bumi, UEA tidak jauh beda dengan Yaman.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

INGIN LEBIH KAYA DAN KUASA ATAS ORANG YANG MENYAKITIMU?

Hal yang menurut saya paling menyakitkan itu nasehat ini, “Berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.” Loh kenapa saya sebut menyakitkan? Ya realitis saja, karena sangat berat diamalkan. Saya sendiri cuma pernah sekali dua kali berkemampuan amalkan, lebih seringnya ngawur, hehehe.   Namun nasehat tersebut itulah fakta sebenarnya bagaimana Anda bisa lebih kaya dan lebih kuasa atas orang yang telah menyakiti Anda.   Sering saya sampaikan, kenapa Anda sebagai pembeli berkuasa penuh atas penjual? Anda bisa ngatur-ngatur, nyuruh-nyuruh, dilayani ini dan itu keperluannya, itu karena Anda sanggup membayar lebih kepada penjual.   Menginap di hotel, Anda bayar tuntas tarifnya, apa yang tidak dilayani oleh pihak hotel? Butuh apa saja tinggal hubungi reseptionis. Karena membayar, Anda begitu merdeka, menjadi raja mulia.   Orang yang menyakiti Anda itu orang yang meminta harga diri Anda. Peminta itu energi miskin karena ia minta-minta. Anda punya harga diri, lah kok diminta?   Meminta itu energi yang melemahkan diri. Pengemis gara-gara minta-minta, ia jadi seperti sampah harga dirinya, sudah memelas-melas minta dikasihani, kalaupun ditolak ia tak sanggup menawar apa-apa, dengan mengalah lemah dirinya menerimakan.   Orang yang menyakiti Anda sebenarnya frekuensi power energinya seperti pengemis, energinya lemah sekali, ia tidak punya kuasa dan kekuatan apa-apa karena dia sedang meminta harga diri Anda.   Andai Anda tidak mau berikan harga diri Anda kepadanya juga tidak apa-apa. Artinya Anda melawan sekuat tenaga, sebab tidak ada salahnya kan Anda menolak memberi kepada pengemis?   Hanya saja menolaknya jangan berlebihan, harus terukur sesuai keperluan menolak mudharatnya, sama saja menolak pengemis tidak boleh berlebihan sampai bentak-bentak kasar. No problem Anda melawan orang yang menyakiti Anda karena hakikatnya dia pengemis yang minta-minta harga diri Anda.   Cuma kalau Anda melawan, pertarungan energinya cuma impas saja; 0:0. Sekarang bagaimana agar energi Anda lebih kaya dan lebih kuasa dari orang yang menyakiti Anda, artinya 0 berbanding 1,2,3 dan seterusnya?   Pihak hotel seketika berkenan merendahkan hati dan melayani Anda karena Anda membayar lebih kepadanya dengan beri keuntungan cuan kepada pihak hotel. Dengan cuan yang Anda berikan, mereka bisa hidup, mereka berjaya, mereka jadi tercukupi.   Anda berkuasa dan ditempatkan mulia oleh pihak hotel karena Anda berkemampuan bayar lebih. Berkemampuan bayar lebih itu artinya Anda berkemampuan berbuat baik lebih besar.   Saat Anda disakiti, yang menyakiti sedang berenergi miskin seperti pengemis karena dia meminta harga diri Anda, lah kok Anda malah berbuat baik kepadanya, Anda membayarnya lebih, kan power energinya jadi selisih berlipat ganda. Saat Anda berbuat baik kepadanya, Anda berenergi kaya, sementara yang menyakiti Anda berenergi miskin. Orang kaya dan orang miskin itu lebih kuasa mana? Lebih terhormat mana? Lebih mulia mana? Kalau bertarung menang mana?   Ada orang pelit, Anda dermawani sekalian, dia keok. Ada orang menghina, Anda muliakan sekalian, dia keok. Ada orang mengolok-olok, Anda diam saja dengan sabar dan kuat hati, dia keok. Karena itu memaafkan adalah kekayaan terbesar. Sekali lagi memaafkan adalah energi kaya terbesar.   Kalau Anda sudah berbuat baik kepadanya, lah kok dia terus terusan nginjak lagi dan nginjak lagi, terus bagaimana? Anda sudah bayar lebih ke pihak hotel, lah kok pihak hotel bukannya melayani Anda tapi malah menghina Anda, yang terjadi ya kualat kuadrat.   Ya begitu, energi kaya versus energi miskin, maka energi miskin yang keok, energi membayar versus energi meminta, maka energi meminta yang keok, energi memaafkan versus energi mendendam, yang keok energi mendendam, kalau mereka masih macam-macam ya kualat sendiri.   Lah iya, Ferdy Sambo yang duitnya tajir seketika ambruk jadi orang miskin tak berdaya hanya karena ia berenergi miskin terlalu kuat, nyawa orang dia minta. Hasilnya dia yang punya jabatan tinggi kalah oleh keluarga Brigadir Josua yang ibunya hanya seorang guru honorer. Orang meminta energinya sangat lemah.   قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَكْرَمِ أَخْلاَقِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ؟ تَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتُعْطِى مَنْ حَرَمَكَ وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ   Nabi SAW bersabda; “Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzalimimu, memberi kepada orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.” (H.R. Baihaqi)   Namun ya begini, orang Jawa bilang, “Ngono yo ngono ning yo ora ngono” artinya begitu ya begitu tetapi tidak begitu. Trik agar lebih kaya dan lebih kuasa di atas memang begitu, namun di situasi tertentu ada situasi yang Anda terkadang perlu ngamuk juga.   Situasi tersebut seperti ketika Anda menghadapi orang yang otaknya cuma isi separo, otaknya itu tidak penuh oksigennya.   Diberi kebaikan, malah dia ngelunjak-ngelunjak seenaknya. Makin dibiarkan, eeh makin semaunya berbuat seenak sendiri. Ya model orang begitu benar energinya sudah miskin, sudah sangat lemah, tetapi otaknya cuma isi separo jadinya sudah miskin tapi berlagak seperti orang kaya berkuasa yang selalu memberi. Dan seterusnya.   Kadang hadapi yang begitu ya Anda sekali waktu harus menaklukannya dengan perlawanan. Ibarat mematahkan besi itu harus dengan gorok bergigi kecil, namun kalau harus mematahkan baja besar ya harus dilelehkan dengan api sekalian.   Contoh Anda di jalan sepi sedang di mobil lalu dihadang begal, lantas begalnya Anda tabrak sekalian. Di situ Anda melawan keras, sebab terpaut dengan keselamatan harta dan jiwa Anda. Misal lagi bangsa Anda sedang dijajah, lantas Anda memberontak agar bangsa Anda merdeka, ya itu namanya misi perjuangan pahlawan.   Jadi begitu ya begitu, tapi tidak begitu juga, sekali waktu ada situasi dimana Anda sudah mengalah, diam, neriman, sudah utamakan berbuat baik, tapi otak si penzalim memang cuma isi separo sehingga masih menginjak-injak, lalu Anda menyingkir dan menjauh masih diinjak-injak terus, ya di situ Anda harus berani melelehkannya dengan api seperti sedang memotong baja besar.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

Scroll to Top