Tiap benda alam semesta memiliki gaya tekanan, makin berat bendanya makin berat pula tekanannya. Namun alam semesta ini ada gaya gravitasi yang kemudian memberikan tekanan balik yang kekuatannya sebanding dengan tekanan yang diberikan.

 

Kalau Anda tenggelamkan bola ke dalam bejana air, lalu lepaskan, maka bola akan memantul balik sesuai berat tekanannya. Makin berat tekanannya, kekuatan menyembul balik dari dalam air juga makin kuat.

 

Atau Anda lemparlah bola ke dinding. Makin hebat Anda melempar, daya balik memantulnya juga makin kuat. Itu artinya menekan musuh adalah usaha untuk menguatkan.

 

Anda ingat penendangan sesajen di Gunung Semeru kemaren? Artinya di situ ada oknum melakukan tekanan permusuhan terhadap sesajen lumayan kuat, hasilnya energi budaya sesajen malahan memantul balik dengan begitu kuat.

 

Banyak komunitas-komunitas budaya dan adat di nusantara yang justru dengan sengaja menggelar ritual sesajen bersama dengan terbuka. Belum lagi cacian dan makian kepada oknum pelaku, dan laporan kasus ke kepolisian, semuanya reaksi balik akibat dari tekanan permusuhan yang diberikan pelaku. Itu artinya menekan musuh adalah usaha untuk menguatkan.

 

“Tempat buang anak jin” untuk wilayah IKN Nusantara itu sebenarnya tekanan politik untuk penguasa, sementara penguasa yang ditekan secara politis diam saja, hanya konsisten kerjakan program-program kerjanya, hasilnya tekanan balik besar-besaran justru menghantam balik dengan hebat.

 

Ancaman mandau-mandau terbang, s4ntet, demonstrasi, pernyataan-pernyataan lembaga-lembaga adat Kalimantan, laporan ke kepolisian, dan lain-lainnya, terus saja menghantam balik. Benar-benar, menekan musuh itu artinya menguatkannya.

 

Mau bagaimana lagi, gaya gravitasi alam semesta benar-benar ada. Benda di alam semesta saling tarik menarik dengan gaya yang berbanding lurus dengan hasil dari massa dan berbanding terbalik dengan kuadrat dari jarak antara mereka. Itu semua sebabkan makin kuat diri Anda, makin kuat pula musuhnya, makin kuat reaksi tekanannya, makin kuat pula daya baliknya.

 

Beberapa waktu lalu saya dibuat kelimpungan oleh orang yang memusuhi saya. Awalnya memang dia yang tanpa alasan jelas mendengki dengan hoki rezeki dan hoki karir saya. Padahal sebenarnya dia jauh lebih lemah dari saya.

 

Terbawa rasa sebal, dan saya pikir kecil-kecil saja saya menekan dia, saya bersikap seenaknya, dengan sadar dalam kurun waktu 3 bulanan saya congkak seenaknya, nyinyir seenaknya, menekan seenaknya, pokoknya semau gue.

 

Hasilnya dia yang sebenarnya kekuatannya jauh lebih lemah dari saya, eeh kemudian temukan dukungan dari beberapa orang yang tentu berikan tekanan lebih kuat pada saya. Saya pun melongo.

 

Di situlah saya sadar, menekan musuh kuat-kuat itu sama saja menyiapkan musuh agar lebih kuat.

 

Tentu Anda kerap punya rasa benci pada seseorang. Saat membenci, jangan lakukan beraksi menekan terlalu kuat, itu sama saja menyiapkan orang yang Anda benci untuk lebih kuat.

 

Begitu pula ketika Anda punya rasa sakit hati pada seseorang, jangan beraksi berlebihan dalam memberikan perlawanan, karena justru ia akan makin kuat.

 

Begitu pula ketika Anda dimusuhi atau ingin memusuhi orang lain. Makin Anda beraksi kuat, musuh juga makin kuat, sebab adanya hukum gravitasi universal alam semesta.

 

Diam dan sabar. Itu tips aman ketika Anda membenci, dibenci, memusuhi, dimusuhi, sakit hati, dan lainnya.

 

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

 

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allâh mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Ali ‘Imran : 120)

 

Cukup diam dan sabar. Itu saja tips hadapi musuh.

Namun diam dan sabar tidak bisa begitu saja datangkan kemenangan. Bisa jadi malah musuh makin seenaknya berbuat zalim kepada Anda, makin menginjak. Kejadian begini biasanya si pelaku sabar dan diam itu dipicu atensi rasa lemah. Dan merasa lemah akhirnya hanya bisa diam dan sabar.

 

Persoalannya energi hati yang merasa lemah, ya selamanya tidak akan memanggil kekuatan untuk unggul dan menang, karena ada kehendak juga tidak untuk menjadi unggul dan pemenang. Polos. Orang polos malah biasanya “dibodohi” orang.

 

Agar mendatangkan kemenangan, sabar dan diamnya Anda diberi atensi “tidak mau kalah tapi dengan jalan sabar dan diam”. Paham?

 

Itu saja. Tidak mau kalah dengan jalan sabar dan diam, di situ yang disebut jurus Tai Chi.

 

وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

 

“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Anfâl : 46)

 

Kabar gembiranya, ketika ada orang kuat dan besar kemudian secara konsisten memusuhi dan membenci kepada Anda, itu pertanda Anda akan sekuat dan sebesar dia. Namun catatannya, jurus Tai Chi Anda terpasang benar atau belum.

 

Cek ke dalam, diam dan sabar Anda karena rasa lemah, atau karena rasa tidak mau kalah dengan jalan diam dan sabar? Kalau karena rasa lemah, Anda hanya akan mengantar diri Anda masuk dalam mekanisme homo homini lupus; yang kuat memakan yang lemah. Kalau mau sekuat dan sebesar orang besar yang memusuhi Anda atensikan rasa tidak mau kalah dengan jalan sabar dan diam.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Spiritual Prosperity Word

 

Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *