Dulu saya sesudah menikah tidak punya konsentrasi pada karir uang. Masalahnya bukan malas atau tidak punya cita-cita, namun karena peluang yang tidak mendukung. Harus full ngaji dan mengurus para santri, sementara karir pondok pesantren ya bukan karir duit, tidak ada tunjangan sepadan apalagi gaji. Karena itu karir mencari uang hanya karir sambian.

 

Setiap hari saya berangkat ngajar ngaji dari jam 07.00 pagi sampai jam 10.30 pagi, menghandel 4 mata pelajaran untuk tingkat wusthâ (menengah) dan ‘ulya (tinggi).

 

Sore hari pukul 14.00 berangkat ngajar ngaji lagi di madrasah diniyah pondok pesantren hingga pukul 15.20.

 

Maghrib berangkat ngaji lagi hingga Isya. Lalu terakhir pukul 21.00 ngaji lagi hingga pukul 22.30.

 

Duit tidak punya, artinya masalah terbesar saya sesudah menikah adalah masalah finansial, tapi malah aktifitas karir yang terbuka sama sekali tidak terhubung dengan uang. Waktu, tenaga dan pikiran habis untuk mengurusi ngaji.

 

Ada usaha kecil-kecilan yakni buka toko kelontong, namun belum ada isi dagangannya karena kurang modal. Setiap melihat kondisi toko ya cuma bisa “sabar narima senajan pas-pasan.”

 

Untung sejak kecil saya termasuk anak yang punya cita-cita besar, punya impian hidup, sehingga hadapi kondisi demikian hati saya tetap konsisten menuju impian-impian saya.

 

Setiap berangkat ngaji, saya teriak keras dalam hati, “Saya kaya rezeki, saya mulia dunia akhirat.” Dan ngaji saya benar-benar saya niatkan untuk mengubah nasib hidup. Hati kecil saya kerap bicara begitu, saya tidak terima dengan kondisi lemah dan miskin.

 

Dan 3 tahun kemudian saya mulai punya uang. Usaha-usaha saya mulai bertumbuh walaupun saya tetap sekenanya mengurus bisnis dan dagangan, fokus saya masih tetap banyak terserap ke ngaji.

 

Tahun keempatnya saya bisa beli mobil, ya walaupun mobil 100 jutaan. Dan di tahun keempat itu saya mulai jadi trainer pemberdayaan diri.

 

Begitulah permainan uang. Menuju uang ternyata tidak harus fokus bekerja pada uang. Apapun yang bisa Anda kerjakan di depan mata, itu semua bisa dikonversikan menjadi energi uang. Saya ngaji, namun konversi energi ngaji saya pada uang dan kemuliaan hidup, lalu 3 tahun kemudian benar-benar terwujud nyata.

 

Dari pengalaman ini kemudian saya menemukan pelatihan pemberdayaan spiritual yakni Konversi Energi Spiritual, di mana semua energi alam semesta, termasuk energi batin Anda bisa dikonversi ke bentuk energi lain.

 

Energi air Anda konversi menjadi listrik, kan volume airnya tetap utuh. Demikian pula energi ngaji yang sebenarnya dituntut untuk lill-âhi ta’âlâ itu ketika dikonversi menjadi kekayaan lill-âhi ta’âlâ-nya ya tetap utuh, sama sekali tidak mengurangi ikhlas atau tidaknya. Sama persis seperti energi air yang dikonversi jadi listrik atau tidak, volume airnya sama sekali tidak berkurang.

 

Di sini pentingnya niat, impian dan cita-cita. Karena niat, impian dan cita-cita inilah yang nantinya akan dikonversi energinya oleh alam semesta untuk wujud menjadi energi lainnya.

 

Banyak kan orang yang full kerja untuk uang, tapi ya duitnya stagnan saja, rezekinya berhenti di tempat, itu dikarenakan tidak ada niat, impian dan cita-cita yang besar dan kokoh. Ibarat energi air tidak dikonversi jadi energi apapun, hanya diutuhkan sebagai air yang mengalir.

 

Kuda delman itu pekerja keras, selalu lari-lari kencang, tapi tidak ada kuda delman yang kaya mulia, itu karena si kuda tidak pernah punya impian untuk kaya, energi kerja si kuda tidak dikonversikan menjadi bentuk energi lain.

 

Lah Anda sejak lulus SMK sudah melamar pekerjaan, sekian tahun menjadi karyawan kontrak, sekian tahun merantau demi kerja, atau Anda sudah sekian tahun bisnis, lah kok duitnya di situ-situ saja, jangan-jangan Anda seperti kuda delman? Kerja tapi tidak punya cita-cita besar.

 

Sahabat Anas bin Malik R.A beliau menjadi pelayan Nabi S.A.W sejak kecil. Kalau digambarkan sekarang ya sebagai tukang cuci baju, cuci piring, tukang sapu, tukang pel, dan lainnya. Tentu beliau menjadi pelayan tidak digaji, karena beliau memang ingin ngalap berkah kepada Nabi S.A.W. Kemudian Anas bin Malik di masa depan menjadi orang kaya raya yang memiliki banyak kebun luas dan subur.

 

Sahabat Abu Hurairah R.A juga demikian. Sehari-hari beliau hanya mengikuti kemana Nabi S.A.W pergi agar beliau tidak ketinggalan peristiwa hadits baru dari Nabi S.A.W. Beliau bisnis tidak, kerja cari uang juga tidak. Di masa depan beliau menjadi ulama ahli hadits paling terkemuka dan kemudian menjadi gubernur di Madinah. Jadi ulama dan gubernur, ya tentu banyak duit.

 

Itulah orang-orang yang punya kualitas konversi energi tinggi, walaupun keduanya kerja bukan untuk uang, namun keduanya punya niat, cita-cita dan impian sehingga kerja keduanya tidak seperti kerjanya kuda delman.

 

Keduanya karena memang punya kualitas konversi tinggi, kemudian ijabahnya dilantari doa keberkahan dari Nabi S.A.W.


Anda sekarang sedang cucikan baju suami dan ceboki anak? Apa sedang mencangkul? Apa sedang mengajar? Apa sedang baca Al-Qur’an? Atau sedang dagang di pasar? Semua bisa dikonversikan menjadi kekayaan. Menjadi kaya tidak harus bekerja pada uang, dan bekerja pada uang pun belum tentu menjadi kekayaan, di balik itu semua ada histori batin yang disebut konversi energi.

 

Catatan untuk mampu mengonversi harus konsisten, disiplin dan dilandasi cita-cita besar, paling 2 – 3 tahun juga gol. Jangan jadi kuda delman, ya?

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Spiritual Prosperity Word

Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *