Kalau kedua tangan Anda putus, Anda masih mungkin dapat hidup, atau kedua kaki Anda patah juga masih mungkin sekali dapat hidup, atau kedua tangan dan kedua kaki putus semuanya, Anda juga masih dapat hidup. Namun jika yang diputus dari badan Anda adalah kepala Anda, dapatkah Anda hidup? Kepala putus, Anda mati.

 

Uang hadir di bumi ini semata-mata hanya ikuti kehadiran Anda. Di Matahari, di Bulan, di Pluto, tidak ada Anda, di sana pun tidak ada uang. Uang hadir, karena Anda hadir.

 

Karena ini, kualitas dan kuantitas kehadiran uang mengikuti prestige Anda secara personal, mengikuti level kehormatan diri Anda. Gubernur dengan bupati, uang yang mengikutinya tentu besar gubernur, karena level “terhormatnya” tinggi gubernur, “kepala” si gubernur jauh lebih tegak dan gagah ketimbang kepala si bupati.

 

Kepala atau kehormatan tegak, uang tegak. Kepala tengleng, uang juga tengleng. Kepala putus, uang juga putus. Uang terkait erat dengan kehormatan Anda.

 

Orang miskin kenapa uangnya terus menerus ringsek karena biasanya orang miskin itu selfworth-nya rendah sebab terhambat perasaan dirinya tidak begitu berharga.

 

Ya orang miskin terjebak selfworth rendah, ia merasa dirinya tidak begitu berharga karena prestasi duniawinya rendah, kebanggan hidupnya juga rendah. Ia cenderung berperasaan sebagai balung kere (tulangnya kere) yang seolah telah didesain nasib sebagai orang lemah. Kebanggaan dirinya lemah sebab memang tidak ada yang bisa dibanggakan dalam hidupnya, akhirnya yang terlihat olehnya hanya kelemahan-kelemahan dirinya.

 

Sebab itu orang miskin cenderung berinisiatif “ngalahan, neriman dan sabaran”, itu disebabkan ia kesulitan menyaksikan dirinya berharga.

 

Beda dengan orang kaya, lihat mobil dan rumahnya ia bertepuk dada, lihat jabatan dan aktifitasnya ia merasa bangga, lihat aktifitas kesehariannya dan martabatnya, ia acungkan jempol untuk hidupnya sendiri, ia merasa hidupnya penuh prestasi dan penghargaan, selfworth-nya tinggi.

 

Dari titik selfworth orang miskin yang rendah ini, jadikan kepala mereka susah untuk tegak gagah berdiri, dan disitulah uang yang mereka tarik pun jadi sulit tegak gagah.

 

Uang hadir ikuti kehadiran Anda, dan kepala Anda adalah pusat hidup Anda.

 

Perasaan bahwa diri Anda berharga itu pusat rezeki Anda. Agar perasaan berharga itu muncul tentu dimulai dari prestasi hidup Anda.

 

Nah berarti, untuk memulai kebaikan rezeki, Anda harus memulainya dengan membangun prestasi dengan minat dan tujuan Anda masing-masing. Di sini komitment, integritas, dedikasi, skill, motivasi, spirit, dan konsistensi Anda diuji, apakah Anda sanggup wujudkan prestasi atau tidak?

 

Dari prestasi baik ini baru Anda bisa mulai saksikan kalau diri Anda berharga, kalau kepala Anda tegak gagah berdiri. Di situlah uang mulai mengekori.

 

Anda percaya tidak percaya, namun ini realita. Para periset dari University College London School of Management dan Columbia Business School memberikan pernyataan yang mencengangkan. Tak disangka-sangka, hasil penelitian ini membuktikan bahwa kebaikan seseorang berpengaruh besar terhadap tingkat kemiskinan dan kecenderungannya untuk bangkrut.

 

Menurut penelitinya, seseorang akan makin mudah terperosok ke dalam masalah keuangan dalam hidupnya jika orang itu berhati baik dan mulia.

 

Hasil studi ini telah dipublikasikan oleh American Psychological Association. Di dalam studi tersebut, dibahas bahwa seseorang yang baik hati dengan tingkat toleransi yang tinggi malah berkemungkinan untuk lebih mudah mengalami kebangkrutan secara finansial.

 

Nah kan?

 

Kenapa itu terjadi? Karena orang yang terlalu baik cenderung lupa menghargai dirinya sendiri. Empatinya kepada orang lain terlalu besar, pikiran untuk menguntungkan dan menyamankan orang lain juga besar, rasa sosialnya tinggi, hatinya luas untuk menampung masalah keruwetan orang lain, sehingga apresiasi perasaannya untuk menguntungkan diri sendiri kecil. Di situlah kemudian penghargaannya kepada diri sendiri juga kecil.

 

Sementara perasaan “diriku berharga, diriku baik, diriku ingin beruntung, diriku mulia dan terhormat, dan seterusnya” itu adalah self-worth yang harus tumbuh di dalam diri sebagai pusat tegak gagahnya kepala.

 

Terlalu mengalah, terlalu neriman, terlalu sabaran, terlalu kalem, terlalu legawaan, terlalu pemaaf, terlalu lapang dada, itu semua rentan hancurkan finansial Anda sebab di situ Anda melupakan kalau kepala Anda itu sangat berharga.

 

Nabi Muhammad S.A.W selfworth-nya tinggi. Terima sedekah dan zakat beliau tidak berkenan karena merasa beliau berharga. Terus-terusan dianiaya kafir Quraisy ya beliau keluar doa kutukannya. Surat dakwah beliau kepada Kaisar Persia ditolak dan disobek-sobek ya beliau balik doakan agar kekuasaan kekaisaran Persia disobek-sobek.

 

Ketika beliau membagikan harta rampasan perang, lalu ada kaum yang memprotes kalau cara Nabi S.A.W membagikannya tidak adil, beliau dikritik agar bertakwa kepada Allah dalam membagikan harta rampasan perang, ya beliau tersinggung dan berkata tegas, “Aku ini orang paling amanah dan paling bertakwa di antara langit dan bumi.”

 

Cek saja dalam kitab-kitab hadits tentang kisah-kisah bagaimana Nabi S.A.W punya selfworth yang sangat baik.

 

Jadi self-worth Nabi S.A.W itu tinggi. Lah Anda yang umatnya yang tidak ma’shum tidak apa malah takut tersinggung karena takut tisak dianggap orang baik hati.

 

Ya segalanya butuh keseimbangan. Luas hati itu harus, tapi ingat hargai juga diri Anda. Menghargai diri itu harus, tapi juga harus ingat kemuliaan hati itu berada di dalam keluasaan hati. Ya sekedar ingatkan saja untuk seimbang.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Spiritual Prosperity Word

Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *