Allah selalu berinteraksi dengan perasaan hati Anda, sama persis seperti interaksi perasaan hati Anda dengan orang di sekitar Anda.
Coba Anda perhatikan beberapa hadits interaksi Allah dengan perasaan hati hamba-hamba-Nya.
1. Anda menjaga diri dari meminta-minta (‘iffah), Allah akan menjaga Anda. Anda merasa kaya, Allah akan mengkayakan Anda. Anda berusaha sabar, Allah akan menyabarkan Anda.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ” إِنَّ نَاسًا مِنْ الْأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ : ( مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ ) .
“Dari Abu Sa’id Al-Khudhri R.A, ‘‘Sesungguhnya ada sekelompok orang dari kalangan Anshar meminta sesuatu kepada Nabi S.A.W. Lalu beliau memberikannya. Kemudian mereka meminta lagi lalu Nabi S.A.W pun memberikannya. Hingga habis apa yang ada pada beliau. Lalu Nabi S.A.W bersabda, “Tidak ada lagi kebaikan (sisa harta) di sisiku dan aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu pun dari kalian. Barang siapa menjaga dirinya dari meminta-minta maka Allah akan menjaganya. Barangsiapa merasa kaya, maka Allah akan mengkayakannya. Barangsiapa yang berusaha sabar maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan seseorang tidak dianugerahi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas selain kesabaran.” (H.R. Bukhari & Muslim)
2. Prasangka Allah sesuai prasangka hamba. Anda mengingat-Nya, Dia pun mengingat Anda. Anda mendekati-Nya, Dia pun lebih agresif dekati Anda.
يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
“Allah Ta’alâ berfirman, “Sesungguhnya Aku berdasarkan pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam hati-Ku. Jika ia mengingat-Ku di kerumunan, Aku pun akan mengingatnya di kerumunan yang lebih baik dari (kerumunan) mereka. Jika ia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Apabila ia mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan jalan cepat.” (H.R. Bukhari).
3. Anda mencari ridha-Nya, Dia pun ridha kepada Anda. Anda enek hati kepada-Nya, Dia pun enek hati kepada Anda.
” مَنِ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ ، بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ ، سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ “.
“Barangsiapa mencari ridha Allah meskipun manusia benci kepadanya, niscaya Allah akan ridha kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia ridha kepadanya pula. Dan barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan membuat Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia murka kepadanya pula.” (H.R. Ibn Hibban)
Di dalam riwayat lain, Nabi S.A.W bersabda;
مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرِضَا اللهِ كَفَاهُ اللهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ
“Barangsiapa mencari ridha manusia dengan membuat Allah murka, maka ia diserahkan oleh Allah kepada manusia. Dan barangsiapa membuat manusia murka dengan ridha Allah, maka Allah akan mencukupinya dari kejahatan manusia.” (H.R. Ibnu Hibban)
4. Anda menyimpan harta, Allah akan menahan rezeki Anda. Anda hitung-hitungan uang, Allah pun berhitung uang kepada Anda.
وعن أَسماءَ بنتِ أَبي بكرٍ الصّديق رضي اللَّه عنهما قالت: قَالَ لي رسولُ اللَّه ﷺ: لا تُوكِي فيُوكَى عليكِ.
وفي روايةٍ: أَنْفِقِي، أَو انْفَحِي، أَو انْضِحِي، وَلا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيكِ، وَلا تُوعِي فيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ.
Dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah S.A.W bersabda padaku, “Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa membelanjakannya) nanti Allah akan menahan rezeki untukmu.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Belanjakanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya, nanti Allah akan berhitung rezeki kepadamu. Jangan kamu tutup rapat guci menyimpan makanan nanti Allah akan menutup rezekimu.” (H.R. Bukhari)
Banyak lagi uraian-uraian hadits yang indikasikan sistem interaksi Tuhan dengan perasaan hati manusia.
Ketika Anda dibenci seseorang, lalu dia tidak bilang apapun kebenciannya kepada Anda, bukankah Anda tetap bisa mengerti kalau dia benci dan tidak suka kepada Anda. Demikian pula ketika Anda dicintai seseorang. Artinya perasaan hati yang Anda getarkan kepada orang lain itu adalah respons yang akan diberikan orang lain kepada Anda.
Makanya jangan kerap-kerap dan banyak-banyak membenci orang lain karena itu berarti Anda akan banyak dibenci orang. Mumet sendiri nanti.
Saya ada teman yang orangnya serba hemat dan perhitungan sekali kepada uang, baik yang untuk dirinya apalagi kepada orang lain. Untuk dirinya sendiri irit, untuk orang lain pelit. Nah sama dia, saya kalau memberi juga malas sekali banyak-banyak, apalagi kasih sesuatu yang istimewa, rasanya super enggan. Itu karena energi dia sendiri yang serba hemat, jadinya respons hati orang lain kepadanya juga persis sama.
Jadi disini menjadi jelas, sistem interaksi Allah dengan hati manusia itu persis sama seperti interaksi perasaan hati Anda kepada sesama.
Karena itu kalau Anda ingin mengunduh kedermawanan Allah caranya Anda harus dermawan kepada-Nya. Kalau Allah menyaksikan Anda “nyah-nyoh” kepada-Nya, Dia juga akan merespons perihal yang sama. Sedikit-sedikit Anda terlihat butuh duit, di situ respons Allah, “Ini. Ini, buat kamu. Ambil! Ambil!
Tentu Allah sedikitpun tidak butuh kedermawaman Anda kepada-Nya. Tidak butuh. Allah tidak butuh sesaji Anda, tidak butuh persembahan korban Anda. Dia tersucikan dari hajat kepada makhluk.
Lalu bagaimana Anda dermawan kepada Allah? Ya tentu dengan dermawan kepada makhluk Allah namun dengan niat sesadar-sadarnya untuk dipersembahkan kepada Allah, untuk menggapai ridha-Nya.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan
Spiritual Prosperity Word
Servo Prosperity Online Class

Leave a Reply