Hal yang menurut saya paling menyakitkan itu nasehat ini, “Berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.”

Loh kenapa saya sebut menyakitkan? Ya realitis saja, karena sangat berat diamalkan. Saya sendiri cuma pernah sekali dua kali berkemampuan amalkan, lebih seringnya ngawur, hehehe.

 

Namun nasehat tersebut itulah fakta sebenarnya bagaimana Anda bisa lebih kaya dan lebih kuasa atas orang yang telah menyakiti Anda.

 

Sering saya sampaikan, kenapa Anda sebagai pembeli berkuasa penuh atas penjual? Anda bisa ngatur-ngatur, nyuruh-nyuruh, dilayani ini dan itu keperluannya, itu karena Anda sanggup membayar lebih kepada penjual.

 

Menginap di hotel, Anda bayar tuntas tarifnya, apa yang tidak dilayani oleh pihak hotel? Butuh apa saja tinggal hubungi reseptionis. Karena membayar, Anda begitu merdeka, menjadi raja mulia.

 

Orang yang menyakiti Anda itu orang yang meminta harga diri Anda. Peminta itu energi miskin karena ia minta-minta. Anda punya harga diri, lah kok diminta?

 

Meminta itu energi yang melemahkan diri. Pengemis gara-gara minta-minta, ia jadi seperti sampah harga dirinya, sudah memelas-melas minta dikasihani, kalaupun ditolak ia tak sanggup menawar apa-apa, dengan mengalah lemah dirinya menerimakan.

 

Orang yang menyakiti Anda sebenarnya frekuensi power energinya seperti pengemis, energinya lemah sekali, ia tidak punya kuasa dan kekuatan apa-apa karena dia sedang meminta harga diri Anda.

 

Andai Anda tidak mau berikan harga diri Anda kepadanya juga tidak apa-apa. Artinya Anda melawan sekuat tenaga, sebab tidak ada salahnya kan Anda menolak memberi kepada pengemis?

 

Hanya saja menolaknya jangan berlebihan, harus terukur sesuai keperluan menolak mudharatnya, sama saja menolak pengemis tidak boleh berlebihan sampai bentak-bentak kasar. No problem Anda melawan orang yang menyakiti Anda karena hakikatnya dia pengemis yang minta-minta harga diri Anda.

 

Cuma kalau Anda melawan, pertarungan energinya cuma impas saja; 0:0. Sekarang bagaimana agar energi Anda lebih kaya dan lebih kuasa dari orang yang menyakiti Anda, artinya 0 berbanding 1,2,3 dan seterusnya?

 

Pihak hotel seketika berkenan merendahkan hati dan melayani Anda karena Anda membayar lebih kepadanya dengan beri keuntungan cuan kepada pihak hotel. Dengan cuan yang Anda berikan, mereka bisa hidup, mereka berjaya, mereka jadi tercukupi.

 

Anda berkuasa dan ditempatkan mulia oleh pihak hotel karena Anda berkemampuan bayar lebih. Berkemampuan bayar lebih itu artinya Anda berkemampuan berbuat baik lebih besar.

 

Saat Anda disakiti, yang menyakiti sedang berenergi miskin seperti pengemis karena dia meminta harga diri Anda, lah kok Anda malah berbuat baik kepadanya, Anda membayarnya lebih, kan power energinya jadi selisih berlipat ganda. Saat Anda berbuat baik kepadanya, Anda berenergi kaya, sementara yang menyakiti Anda berenergi miskin. Orang kaya dan orang miskin itu lebih kuasa mana? Lebih terhormat mana? Lebih mulia mana? Kalau bertarung menang mana?

 

Ada orang pelit, Anda dermawani sekalian, dia keok. Ada orang menghina, Anda muliakan sekalian, dia keok. Ada orang mengolok-olok, Anda diam saja dengan sabar dan kuat hati, dia keok. Karena itu memaafkan adalah kekayaan terbesar. Sekali lagi memaafkan adalah energi kaya terbesar.

 

Kalau Anda sudah berbuat baik kepadanya, lah kok dia terus terusan nginjak lagi dan nginjak lagi, terus bagaimana? Anda sudah bayar lebih ke pihak hotel, lah kok pihak hotel bukannya melayani Anda tapi malah menghina Anda, yang terjadi ya kualat kuadrat.

 

Ya begitu, energi kaya versus energi miskin, maka energi miskin yang keok, energi membayar versus energi meminta, maka energi meminta yang keok, energi memaafkan versus energi mendendam, yang keok energi mendendam, kalau mereka masih macam-macam ya kualat sendiri.

 

Lah iya, Ferdy Sambo yang duitnya tajir seketika ambruk jadi orang miskin tak berdaya hanya karena ia berenergi miskin terlalu kuat, nyawa orang dia minta. Hasilnya dia yang punya jabatan tinggi kalah oleh keluarga Brigadir Josua yang ibunya hanya seorang guru honorer. Orang meminta energinya sangat lemah.

 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَكْرَمِ أَخْلاَقِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ؟ تَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتُعْطِى مَنْ حَرَمَكَ وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ

 

Nabi SAW bersabda; “Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzalimimu, memberi kepada orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.” (H.R. Baihaqi)

 

Namun ya begini, orang Jawa bilang, “Ngono yo ngono ning yo ora ngono” artinya begitu ya begitu tetapi tidak begitu. Trik agar lebih kaya dan lebih kuasa di atas memang begitu, namun di situasi tertentu ada situasi yang Anda terkadang perlu ngamuk juga.

 

Situasi tersebut seperti ketika Anda menghadapi orang yang otaknya cuma isi separo, otaknya itu tidak penuh oksigennya.

 

Diberi kebaikan, malah dia ngelunjak-ngelunjak seenaknya. Makin dibiarkan, eeh makin semaunya berbuat seenak sendiri. Ya model orang begitu benar energinya sudah miskin, sudah sangat lemah, tetapi otaknya cuma isi separo jadinya sudah miskin tapi berlagak seperti orang kaya berkuasa yang selalu memberi. Dan seterusnya.

 

Kadang hadapi yang begitu ya Anda sekali waktu harus menaklukannya dengan perlawanan. Ibarat mematahkan besi itu harus dengan gorok bergigi kecil, namun kalau harus mematahkan baja besar ya harus dilelehkan dengan api sekalian.

 

Contoh Anda di jalan sepi sedang di mobil lalu dihadang begal, lantas begalnya Anda tabrak sekalian. Di situ Anda melawan keras, sebab terpaut dengan keselamatan harta dan jiwa Anda. Misal lagi bangsa Anda sedang dijajah, lantas Anda memberontak agar bangsa Anda merdeka, ya itu namanya misi perjuangan pahlawan.

 

Jadi begitu ya begitu, tapi tidak begitu juga, sekali waktu ada situasi dimana Anda sudah mengalah, diam, neriman, sudah utamakan berbuat baik, tapi otak si penzalim memang cuma isi separo sehingga masih menginjak-injak, lalu Anda menyingkir dan menjauh masih diinjak-injak terus, ya di situ Anda harus berani melelehkannya dengan api seperti sedang memotong baja besar.

 

Muhammad Nurul Banan

 

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *