Author name: gus banan

MEI 2023

JANGAN KAGET! DI BALIK POWER WANITA KUAT

Alkisah ada sepasang suami istri. Mereka menikah sesudah selesai S1, keduanya sama-sama PNS. Si istri konsentrasinya pada karir kepegawaian lebih fokus, minatnya lebih kuat dari suami, ia pun sangat mementingkan selesaikan S2-nya agar pangkat kepegawaiannya naik. Selesai S2, dengan dukungan prestasi kerjanya, si istri naik pangkat.   Tak sampai 5 tahun, si istri dapat beasiswa S3 di Jepang untuk menunjang karirnya. Anak baru 2, satu sudah SD, satunya baru 2 tahun. Mau tinggalkan suami dengan 2 anak kecilnya untuk kuliah S3 di Jepang, tidak mungkin. Tidak ambil S3-nya juga sangat sayang karena itu bagian dari impian terbesarnya.   Suami dan anak-anak mau dibawa ke Jepang, resikonya suami harus resign kerja, hanya anak-anak yang dibawa juga tidak mungkin suaminya ditinggal sendirian di Indonesia.   Akhirnya diputuskan suami resign PNS, dan sekeluarga ke Jepang, dengan pertimbangan suami bisa cari kerja di Jepang.   Di Jepang, suami mau melamar kerja usianya sudah kadaluarsa, mendekati 40 tahun. Ia ingin wirausaha tapi bingung mau mulai dari mana. Beberapa kali mencoba bisnis masih gagal-gagal terus.   Namun mau bagaimana lagi, daripada menganggur hanya urusi anak-anak, walaupun bisnis kecil-kecilan tetap ia jalani dengan telaten. Dan keadaan tersebut terus berjalan hingga S3 istri selesai.   Sepulang ke Indonesia, istri yang sudah kantongi S3, naik jabatan lagi. Karirnya moncer. Namun bersamaan dengan itu, karir suami tidak jauh beda seperti di Jepang, berputar bisnis kecil-kecilan tidak seberapa.   Cerita di atas hanya ilustrasi, tapi Anda amati, hal seperti di atas rata-rata terjadi kan? Saat istri powernya naik dan terus menguat, si suami justru powernya melemah? Ya walaupun si suami bukan laki-laki pengecut yang senang numpang hidup, namun entah kenapa, powernya untuk karir jadi melemah, sistem alam sepertinya tidak mendukung ia berkarir sehingga benar-benar sangat berat untuk peroleh karir gemilang.   Lalu sebenarnya ada peristiwa energi apa di balim itu semua, kenapa di saat istri powernya menguat, suami powernya justru melemah?   Alam semesta itu diciptakan berpasang-pasangan (zaujain).   وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ – ٤٩   “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (Q.S. Az-Zariyat : 49).   Zaujain atau pasang-pasangan yang kemudian dalam filsafat China disebut Yin Yang, dalam Hindu disebut Lingga Yoni.   Berpasang-pasangan itu bukan berjodoh-jodohan, maka ini banyak orang tidak temukan jodoh, karena soal penciptaan berpasangan itu bukan soal berjodohan.   Dari sistem zaujain lantas bersistem satu pasangan dikuatkan, satu pasangan dilemahkan. Siang berpasangan dengan malam, siang terangnya dikuatkan, malam terangnya dilemahkan. Matahari berpasangan dengan bulan, matahari cahayanya dikuatkan, bulan dilemahkan. Mata kanan berpasangan dengan mata kiri, mata kanan dikuatkan bidikannya, mata kiri dilemahkan. Tangan kanan berpasangan dengan tangan kiri, tangan kanan dikuatkan ototnya, tangan kiri dilemahkan. Dan seterusnya.   Dan laki-laki berpasangan dengan wanita, laki-laki dikuatkan otot dan mentalnya, wanita dilemahkan, karenanya laki-laki kodratnya berperan pemimpin bagi wanita, pemimpin jelas dicipta lebih tangguh segalanya baik fisik maupun emosi, baik otot maupun mental.   الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ   “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah mengunggulkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).” (Q.S. An-Nisâ’ : 34).   Karena sistem zaujain ini, mau tidak mau, ketika tangan kanan dikuatkan, maka tangan kiri melemah, ketika siang dikuatkan cerahnya, maka malam dilemahkan. Ketika laki-laki moncer power karirnya, maka perempuan akan melemah.   Mungkin banyak perempuan punya karir di luar urusan keluarga, tetapi perannya sebatas tangan kiri yang dampingi peran kerja tangan kanan. Ketika suami penghasilannya moncer, si istri penghasilannya biasa-biasa saja, katakankah di bawah penghasilan suami.   Sistem tubuh Anda ketika tangan kiri menguat, maka tangan kanan tidak bisa sekuat layaknya tangan kanan, ketika tangan kiri menguat, tangan kanan pasti melemah. Selanjutnya disebut kidal. Nah di sini terjawab, mengapa banyak kasus pasangan suami istri yang ketika karir istri meroket kuat, saat itu pula karir suami justru meredup turun, seperti cerita suami istri di atas? Sebab sudah jadi konsekuensi alam, ketika satu pasangan dikuatkan, maka dengan alamiah yang satu dilemahkan.   Tidak mungkin kan siang dan malam sama-sama cerahnya? Tidak mungkin pula matahari dan bulan seimbang panasnya. Tidak mungkin pula tangan dan kiri sama-sama tangguhnya.   Maka ini sudah resiko paten, ketika suami kuat, si istri melemah alias kinan, dan ketika istri menguat, ya otomatis suami melemah alias kidal.   Kidal itu normal-normal saja, bukan disabilitas, karena tidak ada kidal mengganggu produktifitas kerja. Karena normal maka tidak ada satu profesipun yang disyaratkan kinan, sebab kidal itu memang bukan cacat, namun sekedar dominasi produktifitas kerja.   Saya menulis ini jujur karena banyak menerima konsultasi peserta kelas training disebabkan persoalan kidal ini. Mereka mengeluh, “Suamiku menganggur. Suamiku tidak punya penghasilan. Suamiku dinafkahi olehku. Bagaimana ya solusinya?”   Ya saya jawab, “Mau dicari solusi, bagaimana? Masa siang harus sama terangnya dengan malam, masa tangan kiri dan kanan harus sama dominasi otot kerjanya? Ya malah error kan?”   Keadaan seperti itu sudah normal, hanya saja kidal. Karena normal ya tidak ada yang perlu dicarikan solusinya. Hanya perlu pemahaman dan penerimaan takdir saja.   Kemampuan menerima kondisi itu yang perlu dikuatkan. Si istri karena sudah dikuatkan ya harus lebih intens pemakluman dan penerimaannya pada suami, selanjutnya menerimakan diri sebagai tangan kanan, dimana posisi tangan kanan itu lebih dominan kerja dan dominan menerima tanggung jawab lebih.   Demikian pula suami harus bisa berdamai dan menerima keadaan, dimana ia berada di posisi tangan kiri.   Bila istri powernya menguat, lantas suami juga sama kuat, ya malah tidak normal karena mutlak siang melulu tidak ada malamnya. Yang normal satu dikuatkan, yang satu ya harus bersedia dilemahkan.   Idealnya sih memang tangan kanan yang lebih kuat, tapi kalaupun tangan kiri lebih kuat dari kanan ya tinggal penerimaannya ditingkatkan sebagai kidal, tak perlu risi, tak perlu malu.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

SYAHWAT DUIT TANDANYA MABOK

Saya kerap peringatkan keras kepada para peserta kelas Servo Prosperity untuk tidak ugal-ugalan belanjakan harta.   Saya sadar, di kelas online Servo Prosperity ataupun kelas offline Spiritual Prosperity, saya banyak menyadarkan para peserta untuk melepaskan harta, materi Shiva Mechanism dan Illution Money, itu semua materi-materi training penyadaran bahwa harta makin dibelanjakan makin beranak-pinak.   Tapi ya itu, ada saja yang mabok, lalu ugal-ugalan traktir teman, ugal-ugalan shoping, ugal-ugalan turuti kebutuhan rumah tangga, dan lainnya.   Dikira menarik kekayaan itu seperti pasang togel, spekulasi nomor, lalu pasang dan keluar, tanpa butuh proses kesadaran diri. Kalau kesadaran dirinya belum pas dengan kesadaran prosperity, ya malah bubaran semua.   Dulu saya saksikan Ustadz Yusuf Mansur berpropaganda sedekah penarik rezeki di televisi, saya praktek, lah malah hilang duit saya. Itu bukan ajarannya Yusuf Mansur yang salah, karena ajarannya memang tertera jelas dalam Al-Qur’an, tetapi kesadaran saya sendiri yang belum sampai ke sana. Hasilnya saya sedekah besar-besaran malah seperti buang duit.   Karena itu kalau ketahuan sama saya ada peserta yang mabok belanjakan harta langsung saya tegur keras, “Cukup praktekan dulu apa yang disarankan dalam training, minimal konsisten hingga 6 bulan ke depan. Jangan ngugal nambah-nambah praktek sendiri. Kalau kesadarannya belum pas, Anda cuma akan buang-buang duit. Sebab mengeluarkan uang itu hakikatnya keluarkan energi, kalau kesadaran kayanya lemah, maka mengeluarkan uang dengan ekstrem akan menyakiti diri sendiri.” Nalarnya begini, Nabi S.A.W ajarkan baca Istighfar, baca Surat Al-Waqi’ah, shalat Dhuhâ sebagai amaliah penarik rezeki. Namun begitu Anda amalkan sekali dua kali, apa iya rezeki Anda kemudian membludak dan melimpah ruah? Ya enggak.   Itu karena kesadaran Anda belum sinkron dengan kesadaran prosperity, disebabkan baru sekali dua kali lakukan aksi. Ketika baru sekali dua kali yang naik ke hadirat-Nya masih syahwat duit, masih penuh nafsu keserakahan, nafsu kemalasan, nafsu cari instan, dan seterusnya.   Untuk menetralkan nafsu-nafsu tersebut perlu proses training panjang yang butuh waktu dan pengorbanan.   Setelah melampoi training kehidupan yang panjang yang tentu melelahkan dan penuh zig-zag, kemudian kesadaran Anda baru termurnikan dari syahwat duit.   Makanya yang amalkan baca Istighfar, baca Surat Al-Waqi’ah, shalat Dhuhâ sebagai amaliah penarik rezeki tidak ada yang beri testimoni amalkan dalam waktu singkat kemudian terbukti menarik rezeki. Rata-rata testimoninya mengamalkan dengan konsisten dalam waktu lama.   Demikian pula kalau Anda amalkan LoA (Law of Atraction), amalkan sedekah Shubuh, amalkan belanja happy, amalkan sakhawah nafsi (kedermawanan diri), mekanismenya sama, sekali dua kali ya baru syahwat menarik duit saja yang naik kepada-Nya, masih panjang waktu konsistensinya untuk ijabah.   Jadi ya jangan mabok. Diajari sedekah penarik rezeki, mabok sedekah. Diajari belanja penarik rezeki, mabok belanja. Diajari keluarkan harta, mabok pengeluaran. Diajari menabung, mabok kumpulkan harta.   Mabok menarik uang itu tanda Anda bersyahwat pada uang. Di dimensi mabok tersebut, Anda sedekah ugal-ugalan itu hukum energinya sama dengan korupsi dan pasang togel, sebab sama-sama dipicu getaran ingin hasil tanpa proses kesadaran bertahap. Kalau korupsi jadikan pelakunya miskin, sedekah ugal-ugalan begitu juga menarik kemiskinan yang sama karena hukum energi yang digetarkan sama.   Proses dan proses, sabar dan sabar, praktek dan praktek, karena kekayaan dan keberlimpahan itu proses kesadaran Anda sendiri. Dari miskin menjadi kaya itu yang diubah hanya kesadaran Anda. Untuk berubah kesadarannya, Anda perlu berproses lama, kalau kekayaannya sendiri cuma butuh waktu menitan datangnya.   اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ   “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Q.S. Al-Baqarah : 214)   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word   Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

DOA YANG MEMERINTAH DAN DOA YANG MEMOHON

Doa (Arab; du’â) pada dasarnya memerintah, hanya saja bila perintahnya dari bawahan kepada orang di atasnya maka disebut doa. Anak memerintah kepada orang tuanya itu disebut doa.   Ketika perintah itu datang dari atasan kepada orang di bawahnya, atau datang dari orang yang setara maka disebut amr (perintah).   Jadi doa itu pada hakikatnya memerintah, atau menyuruh dan atau meminta, hanya doa itu memerintahnya hamba kepada tuannya.   Anda kepada guru menyuruh, “Pak, hapus tulisan di papan tulisnya, ya?” Itu murid kurang ajar, tidak?   Praktek doa sangat rawan dengan kekurangajaran seperti perintah murid kepada gurunya di atas. Demikian pula doa hamba kepada Tuhannya juga rawan demikian. Misal saja, tahu-tahu Tuhan sebagai Zat yang menjamin rezeki, artinya di situ ada semacam sertifikat hitam di atas putih kalau Tuhan menjamin rezeki Anda, eeh Anda malah menyuruh-nyuruh Tuhan untuk melimpahi rezeki-Nya dengan luas kepada Anda. Kurang ajar, tidak? Serakah kepada jatah dari Tuhannya, ditambah seolah tidak percaya dengan jaminan-Nya.   Namun setiap makhluk memiliki insting bersandar kepada sesuatu yang lebih super dari dirinya. Sejak bayi Anda kan nangis ketika bangun tidur mencari ibu atau ayah Anda, itu karena sejak Anda bayi Anda sudah diprogram insting bersandar kepada orang yang Anda anggap lebih super sebagai pelindung dan pemelihara diri Anda.   Karena itu Anda auto sebut-sebut zat yang Anda anggap lebih super dari diri Anda ketika Anda hadapi ketakutan-ketakutan. Anda auto baca doa-doa religi ketika Anda ketakutan dihadang hantu. Tidak pernah ingat bacaan Istighfar, tiba-tiba Anda auto membacanya ketika dihadang kuntilanak, itu karena Tuhan yang Anda kenali dari agama Anda itu yang Anda anggap maha super untuk lindungi Anda dari celaka.   Dari titik ini Anda tidak bisa lepas dari mekanisme doa, bahwa Anda tidak bisa menafikan diri dari “menyuruh” pada-Nya, setiap saat Anda butuh pada-Nya.   Satu sisi doa itu kurang ajar, satu sisi doa itu kebutuhan hamba yang tidak bisa dinafikan karena itu sunnatullah yang tidak bisa digantikan lagi. Paradox.   Pada dasarnya ketika murid masuk kelas lalu diajari ilmu oleh gurunya, itu murid sedang menyuruh kepada gurunya untuk diajari. Tapi etis kan?   Murid yang kurang ajar kepada guru itu tentu murid nakal yang tidak beradab. Murid model begini berpotensi menyuruh gurunya tanpa adab. Bisa-bisa disuruh hapuskan papan tulis malah gurunya yang dibentak balik suruh hapus sendiri.   Jadi persoalan hamba berdoa kepada Tuhan bisa menjadi doa (permohonan) atau amr (perintah) itu tergantung kepada adab si hamba.   Adab terhubung dengan rasa hati. Pemilik hati yang rendah tentu tidak akan tunjukan adab buruk karena disetir situasi hatinya yang baik.   Doa itu bisa menjadi hal buruk yakni berenergi “nyuruh-nyuruh Tuhan” ketika diunggah oleh rasa hati yang penuh ego. Sebaliknya doa bisa menjadi hal baik yakni berenergi “memohon” ketika diunggah oleh rasa hati yang penuh rasa kehambaan.   Sebab itu hampir semua ajaran spiritual mengajarkan pelepasan ego, pengosongan diri, pengendalian nafsu, pemurniaan jiwa, dan lain-lain, karena dengan cara-cara itulah rasa hati manusia jadi terbangun rasa kehambaan. Rasa hati baik, adadnya baik, efeknya setiap doanya berenergi permohonan.   Jadi yang perlu disadari adalah Anda berdoa dengan rasa kehambaan, atau berdoa dengan rasa keegoisan. Doa dengan rasa kehambaan hasilnya permohonan. Doa dengan rasa keegoisan hasilnya menyuruh-nyuruh dan memerintah Tuhan.   Anda yang dalam perasaan bersalah kepada orang lain tentu akan bersikap rendah hati, sebab rasa bersalah itu yang kemudian meluluhkan ego-ego diri. Beda dengan Anda yang merasa benar, merasa kuat, atau merasa besar.   Karena itu untuk bangun rasa kehambaan pada-Nya, dimana rasa kehambaan tersebut yang akan antarkan doa Anda menjadi permohonan, Anda pun perlu membangun rasa rendah hati kepada-Nya.   Istighfar ini sebuah terapi bagaimana Anda melatih hati Anda untuk rendah hati pada-Nya, hati Anda menjadi lentur karena merasa banyak kesalahan dan ketidaktaatan.   Jadi perbanyaklah baca Istighfar agar doa-doa Anda, keinginan-keinginan Anda, kehendak-kehendak Anda, tidak berenergi menyuruh-nyuruh Tuhan, tapi sebaliknya berenergi menghamba dan memohon.   Nabi Sulaiman sosok yang memiliki ambisi besar, punya kerajaan pun beliau berkeinginan menjadi kerajaan besar yang tidak pernah ada lagi kebesarannya sesudah beliau. Ambisius kan?   Namun Sulaiman seorang shaleh yang hatinya penuh rasa kehambaan, akhirnya ambisi besarnya menjadi amal shaleh baginya, bukan menjadi keangkuhan.   Anda amati doa ambisius Sulaiman berikut ini;   قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ   Artinya: “Sulaiman berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Q.S. Shâd : 35)   Sulaiman awali doanya dengan permohonan ampunan (Istighfar), sebuah rasa hati yang terbangun penuh kerendahan hati, penuh rasa kehambaan.   Sehingga Anda kalau ingin doanya berenergi “memohon”, maka perbanyaklah Istighfar dalam hidup Anda.   Saya sendiri baca Istighfar minimal 1000 kali setiap hari, ya karena sadar saya masih banyak keinginan, tapi saya tidak mau dimurkai-Nya lantaran menyuruh-nyuruh-Nya, karena itu saya perlu mengubah getaran energi doa dan keinginan saya menjadi energi permohonan.   وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ   Artinya; “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat”. (Q.S. Hûd : 3)   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word   Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

REZEKI ITU MEKANISME LANGIT

Semua makhluk melakukan pergerakan untuk peroleh rezeki. Berhenti bergerak artinya proses menghentikan rezeki. Petapa sekalipun yang bisa dalam kurun tahunan duduk diam bermeditasi hakikatnya ia sedang bergerak. Iya duduk meditasi itu artinya pergerakan.   Kuda delman gerak dengan kerja keras berlari, Harimau dan Singa kerja keras dengan berburu, pepohonan kerja keras dengan menancapkan akar-akar ke tanah, dari aktifitas-aktifitas tersebut mereka peroleh rezeki.   Karena itu dalam Al-Qur’an, Allah menyebut para makhluk-Nya dijamin rezeki dengan istilah “dâbbah”.   وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ   “Dan tidak satupun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfûzh). (Q.S. Hûd : 6)   Dâbbah secara bahasa memiliki makna makhluk yang berjalan di atas bumi artinya melakukan pergerakan. Karena itu yang dijamin rezekinya adalah Anda yang lakukan aktifitas gerak. Ketika kemarin ada PPKM dan PSBB, ruang gerak Anda dibatasi, bukankah rezeki Anda banyak yang jadi melorot?   Iya, rezeki itu dijaminkan untuk dâbbah yakni makluk yang bergerak di bumi, bukan makhluk secara universal yang dijamin rezekinya.   Lah banyak para spiritualis kerjaannya hanya zikir atau pun meditasi, tapi mereka dapatkan rezeki? Zikir dan meditasi kan gerak, hanya saja geraknya untuk olah batin.   Karena itu mau bilang bebas finansial dan bebas waktu sekencang apapun ya tetap Anda harus terlibat dalam kesibukan hidup karena mekanisme rezeki dan dâbbah ini. Tidak mungkin para bos besar yang bilang bebas finansial itu mereka yang menganggur kemudian duit mengalir sendiri. Mereka pasti tetap terlibat dalam kesibukan sesuai skalanya masing-masing.   Semua makhluk bekerja keras, cuma sayangnya mereka kerja keras dalam pergerakan, cuma karena diselisihi oleh kesadaran dalam diri tiap makhluk, lalu rezeki mereka jadi selisih drastis. Iya, kuda delman kerja keras berlari, rezekinya hanya cukup untuk makan dan minum, sementara Lalu Muhammad Zhohri, atlet lari nasional dari NTB bisa kaya raya dengan kerja lari. Itu karena mekanisme langitnya yang berbeda.   Mekanisme langit, bagaimana? Begini, simak ayat berikut ini;   وَفِى السَّمَاۤءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ   “Dan di langit itu rezeki Anda dan apa yang dijanjikan kepada Anda.” (Q.S. Adz-Dzâriyyât : 22)   Di langit, rezeki dan apa yang dijanjikan untuk Anda disediakan. Kuda delman dapatkan rezeki makan dan minum saja dan Anda disediakan trilyunan kekayaan itu tersedia di langit. Demikian pula apa yang dijanjikan untuk Anda seperti ijabah doa Anda, ijabah cita-cita dan impian Anda, itu tersedia di langit.   Kuda delman telah bekerja keras, tetapi karena kesadarannya tidak dapat terkoneksi ke langit, yakni punya cita-cita dan impian untuk punya harta banyak, akhirnya rezeki yang turun padanya cuma sekedar makan, minum, kawin.   Beda dengan Anda. Anda kerja rata-rata sehari 8 jam, tapi hati Anda mampu terkoneksi ke langit, hasilnya jatah rezeki Anda bisa mebludak mengkayakan.   Anda mesti bertanya-tanya, kenapa sama-sama berprofesi Youtuber lalu ada yang berpenghasilan milyaran dan ada yang cuma ratusan ribu? Sama-sama pedagang toko kelontong lalu ada yang berpenghasilan besar dan ada yang kecil? Sama-sama berprofesi penulis lalu ada punya nama besar dan ada tidak? Itu dikarenakan beda mekanisme langitnya.   Yang bisa terkoneksi ke langit itu hati Anda, sehingga ketika rezeki Anda selisih dengan yang lain padahal usahanya sama, itu disebabkan “mekanisme hati” yang berbeda.   Ya impiannya kalah besar, kemauannya kalah keras, tekadnya kalah bulat, akhirnya doanya kalah konsisten dan ikhtiyarnya kalah semangat, serta hasilnya jadi selisih jauh.   Jadi begitu, rezeki dan segala yang dijanjikan untuk Anda itu ada di langit, bukan di bumi. Cita-cita, impian, minat, tekad, kemauan, komitment dan doa itu yang pengaruhi jatah langit yang akan turun kepada Anda.   Hidup kok impiannya cuma, “Habis lulus SMK aku mau kerja di Jakarta,” “Selesai S1 mau melamar kerja yang mapan,” Selesai dari pondok pesantren mau kelola TPQ saja sambil jadi imam tahlilan Jumat,” ya titik impian itulah yang terunggah ke langit, dan itu yang akan turun dalam hidup Anda.   Jadi kerja semua kerja, bergerak semua bergerak, ikhtiyar senua ikhtiyar, capek semua capek. Lah kok hasilnya beda? Karena mereka berbeda dalam ikuti mekanisme langitnya, sementara rezeki dan semua yang dijanjikan tersedia di langit bukan di bumi.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class  

MEI 2023

JALAN LURUS ITU HARUS KELAK-KELOK, MENANJAK-MENURUN

“Saya ini, Gus, jika baru ikuti kelas training Gus Banan, atau ikuti konten-konten online Gus Banan, saya selalu termotivasi. Tapi saya kerap sedih, hari ini saya konsisten, besok mogok. Biar istiqamah bagaimana sih, Gus?” Tanya seorang alumni kelas training saya.   Shirâthal mustaqîm (jalan lurus) itu bukan berarti tidak berkelok-kelok, tanpa hambatan, tanpa naik turun. Coba Anda dari tempat Anda berada, Anda jalan lurus ke Timur dengan tujuan Surabaya, tanpa belok, tanpa berhenti, tanpa menanjak, tanpa turunan, apa akan sampai?   Untuk sampai di Surabaya, Anda harus belak-belok, maju-mundur, menanjak-menurun, kadang harus berhenti, dan sebagainya, di situ Anda baru bisa sampai di alamat. Demikian halnya shirâthal mustaqîm, Anda perlu taat dan maksiat, senang dan sedih, gembira dan susah, takwa dan durhaka, marah dan mengasihi, dan itulah jalannya untuk lurus.   Namun itu jalan saja, tujuannya bukan belak-belok terus. Tujuannya sampai di alamat.   Kalau shirâthal mustaqîm diartikan hanya jalan tol yang lurus, nanti Anda merasa paling lurus, bisa-bisa merasa jadi “ustadz garis lurus”, menghakimi segala hal yang dinilai bengkok, karena tidak sadar kalau shirâthal mustaqîm itu garis bengkak-bengkok, naik-turun dan lengkang-lengkung dan kadang juga harus garis lurus.   Jadi manusiawi, Anda naik-turun emosi dan spiritualnya karena begitu adanya mekanisme shirâthal mustaqîm. Komitmen kepada tujuan husnul khatîmah itulah yang akan membawa Anda di titik shirâthal mustaqîm, sekalipun jalannya kelak-kelok, menanjak-menurun, macet dan lancar, ngebut dan pelan, mogok, dan seterusnya.   Istiqamah itu artinya tegak berdiri. Iya jalan tempuhnya harus lewati shirâthal mustaqîm yang kelak-kelok itu, namun sekalipun kelak-kelok, menanjak-menurun, mogok dan lancar, berhenti dan jalan, asalkan tetap konsisten dengan tujuan ke masa depannya ya itu yang disebut istiqamah.   Waktu bujangan saya memang punya cita-cita ingin jadi public speaker dan writer. Saya perjuangkan 3 tahunan belum gol juga. Sampai akhirnya saya menikah. Usai nikah saya malahan dagang. Cita-cita saya ini pun terbengkalai begitu saja.   Terbengkalai karena dagang, namun minat saya masih ada, sebab minat terbesar saya memang bukan bisnis, lebih dominan ke arah minat ilmiah dan publik. Di situ saya berhenti, tidak lanjutkan menempuh cita-cita baik menuju public speaking maupun writer.   Namun ternyata karena memang minatnya dari dulu kepada public speaking dan writer, sekalipun ikhtiyarnya sudah berhenti, ternyata sesudah saya lupa, eeh malah ijabahnya datang sendiri. Dan sederhana sekali ijabahnya, cuma main fb-an kok malah diijabah cita-cita yang dulu pernah saya perjuangkan dengan penuh ketekunan.   Anda sekarang paham, kan? Kurang lebih begitulah yang disebut istiqamah.   اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ ﴿۶﴾ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ە ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ﴿۷﴾   “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.S. Al-Fatihah : 6 – 7)   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class  

MEI 2023

MENTAL KAYA PUN ADA AFAT BAHAYANYA

Mental dagang itu sebenarnya mental fakir, karena dagang memang upaya menarik keuntungan untuk diri sendiri, penuh tarikan ego. Ketika promosi saja sudah jelas meminta-minta dibeli, upaya keras bagaimana laku, belum lagi nanti ketika tawar-menawar berbagai trik dipakai agar bisa peroleh keuntungan maksimal. Dagang berlawanan dengan mental kaya yang ajarkan semugih kepada orang lain. Dagang justru ajarkan rasa fakir, rasa butuh kepada orang lain.   Spirit dagang adalah spirit menghargai diri sendiri, bahwa diri Anda ingin diuntungkan oleh orang lain.   Saat Anda tawar menawar barang dalam jual beli, bukankah harga 10 ribu masih menjadi daya tawar yang sangat alot? Padahal dalam urusan sosial uang 10 ribu dikasihkan kepada keponakan kecil juga masih memalukan.   Uang sangat berharga dalam jual beli karena adanya tarik menarik ego saling menguntungkan diri antara penjual dan pembeli. Kepentingan penjual adalah untung, kepentingan pembeli adalah dapat semurah mungkin.   Nah mental dagang itu berlawanan dengan mental kaya. Mau tidak mau kalau Anda dagang Anda harus ada rasa fakir yakni rasa butuh dibeli oleh orang lain. Saya sendiri lah, ketika ingin kelas training saya dibeli ya saya beriklan, promosi, pakai testimoni, kadang juga pakai trik earlybird. Jelas ketika dagang saya pakai mental fakir.   Nah beberapa kali saya temukan para pengusaha yang bangkrut karena salah pasang mental kaya.   Misal, bayar karyawan tinggi sekali, melampoi UMR setempat dan kelumrahan gaji. Sikap seperti itu betul lahir dari rasa kaya sehingga menumbuhkan rasa dermawan. Tetapi hubungan karyawan dengan bos adalah hubungan managemen dagang, nah sikap begitu bila terus diterapkan dalam waktu lama maka mental kayanya dapat mematikan mental dagangnya.   Ketika mental dagang sudah mati, atau minimal melemah, dagang Anda jadi babgkrut, kurang laku.   Kenapa membangkrutkan? Karena kalau Anda nengajar murid di kelas namun mental Anda bukan mental pengajar namun mental pacar, kacau-balau tidak? Demikkan pula dagang dimentali mental kaya, dimana mental kaya itu mental spiritual dan sosial, dipasang di dagang, ya kacau-balau juga. Apalagi jika dalam kurun waktu lama, lama kelamaan mempengaruhi pikiran bawah sadar, lalu jadi belief. Sesudah jadi belief, pikiran bawah sadar Anda tidak kenal lagi “dagang”. Bubar.   Kalau saya kepada karyawan tidak ada yang saya gaji istimewa, semua normal saja gajinya, hanya saja saya juga harus berbagi dengan mereka secara sosial, jangan sampai jadi bos bakhil.   Karena itu saat bayar gaji mereka, dalam slip gaji saya tulis jelas, “Gaji : Sekian. Transport : Sekian. Sedekah : Sekian.” Artinya gaji biasa saja, hanya saja saya kasih sedekah di luar gaji setiap mereka gajian. Tujuannya agar mental kaya saya tidak mematikan mental dagang saya, dan sebaliknya mental dagang saya juga tidak mematikan mental kaya saya.   Saya sebenarnya punya bakat seni suara, dari kecil ya tidak jelek-jelek amat suaranya, maklum keluarga saya penyanyi semua, gen seni suara saya sangat kuat.   Tapi bakat ini tidak pernah saya hargai, saya tidak pernah berkeinginan mengembangkan, bahkan saya cenderung tak acuh. Apalagi pegang mic lalu nyanyi, azan saja saya berjuang keras untuk tidak melakukannya. Orang yang seumur hidup belum pernah kumandangkan azan ya diri saya.   Alasannya apa saya tidak mau kembangkan bakat seni suara saya? Anda tidak perlu tahu dan tidak perlu mengkritik. Hehehe. Hasilnya apa? Suara saya benar-benar jelek, tidak punya cengkok.   Apapun yang tidak dihargai mudah rusak. Banyak alat elektronik saya dari microphone wireless, laptop, kamera yang mangkrak rusak akibat kerap tidak saya pakai. Jarang dipakai, perhatian saya pun berkurang, artinya tidak begitu saya hargai. Hasilnya barang-barang tersebut cepat binasa.   Mental dagang yang tidak dihargai juga lama-lama binasa, persis seperti bakat seni suara saya.   Saya ada teman pengusaha restaurant. Setiap saya kesana saya disuguhi makanan gratis, yang teristimewa lagi. Nanti pulang saya dikasih oleh-oleh. Dibayar tidak pernah mau.   Dua tahun kemudian dia gulung tikar, bangkrut. Itu pun tidak lebih karena mental dagangnya rusak karena terbunuh oleh mental kayanya.   Ada lagi yang kalau dagang senang gratiskan dagangannya. Ini juga sama, bisa terbunuh mental dagangnya.   Juga ada yang minatnya kasih harga murah saja hingga dia tidak sadar kalau dirinya harus dihargai. Dagang itu melayani, sangat capek. Kalau layanannya full tapi untungnya kecil ya itu berarti tidak mau menghargai diri sendiri. Lama-lama ya mental dagangnya terbunuh juga.   Bergaul dengan murid di kelas dimentali mental jadi pacar, hancur kan? Dagang dimentali mental kaya juga begitu.   Lah kok kita pakai mental fakir juga dalam hidup ini seperti dalam dagang? Ya iya. Anda masak cuma pakai asin emang enak? Ya harus dipadukan dengan musuhnya yakni rasa manis. Hidup yang bertumbuh juga demikian, bukan hanya pakai mental kaya namun mental fakir pun kadang perlu.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class  

MEI 2023

MEMBERI YANG MELANGKAKAN UANG DAN CARA ME-RELEASE-NYA

Kucing naik mobil mewah, baginya tidak membanggakan tidak apa. Mobil mewah baginya tidak lebih naik gerobak. Bagi Anda? Mobil mewah suatu kebanggaan besar. Karena itu Anda berlomba-lomba gonta-ganti mobil karena Anda ada update rasa kepada mobil.   Jadi sebenarnya Anda sesibuk sekarang berlomba membangun hidup karena Anda punya rasa terhadap benda-benda duniawi, artinya benda-benda duniawi tersebut bagi rasa Anda punya arti penting.   Unggulnya, karena ada update rasa terhadap benda-benda duniawi tersebut, lantas dalam kehidupan ini hadir kemegahan, keberlimpahan, kekayaan, keglamoran, kesederhanaan, bahkan hadir juga keberhikmahan yakni meaning-nya.   Jadi yang menghadirkan realita dan sekaligus meaning di baliknya itu adalah rasa Anda sendiri. Tanpa update rasa, dalam kehidupan Anda tidak akan hadir apa-apa.   Nah rasa di dalam hati Anda itu juga yang bisa menghilangkan segala-galanya. Anjing bisa kehilangan hewan buruannya walaupun ia yang bekerja keras berburu lantaran ia hanya membangun rasa setia kepada tuannya, dan dia tidak pernah membangun rasa memiliki hewan hasil buruan.   Memberi itu tindakan melepaskan, energi yang Anda peroleh bisa energi kehilangan namun juga bisa energi mendapatkan, itu terhubung bagaimana Anda memberikan atensi rasa kepada pemberian Anda.   Ada beberapa atensi rasa yang bisa menghilangkan harta Anda saat memberi sehingga efeknya duit jadi langka, di antaranya;   1. Memberi dengan rasa khawatir berkurang.   Rasa ini sadis menyabotase energi keberlimpahan uang Anda, karena atensi rasa Anda memberi sugesti “memberi berarti berkurang”.   Sebab itu sebaik-baik sedekah—menurut Nabi S.A.W—adalah sedekah yang muncul dari sikap zhahril ghinâ (punggung kaya) artinya Anda memberi dalam rasa, “Saya dan keluarga sudah kecukupan, saya dan keluarga sudah penuh kekayaan karena itu saya memberi”.   الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ   “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah—pemberian—dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah itu dari punggung kaya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa kaya maka Allâh akan memberikan kekayaan kepadanya.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih)   2. Memberi karena rasa terpaksa.   Seks sebenarnya enak sekali, tapi kalau dipaksa? Tidak ada enaknya bila sesuatu dipaksa oleh kemauan orang lain, termasuk dipaksa memberi.   Allah ridha kalau Anda ridha, sementara ketika dipaksa oleh orang lain apakah Anda ridha?   Karena itu saya kerap berikan statement, “Sukalah berbagi tapi jangan suka dimintai. Karena berbagi dengan suka rela itu bahagiakan diri sendiri juga bahagiakan orang lain. Beda kalau dimintai, itu hanya bahagiakan orang lain tapi kerap sakiti hati sendiri.”   Orang berbagi karena dimintai kerap karena tidak enak hati, kan? Tidak enak hati itu artinya terpaksa, dan itu beresiko si pensedekah mengungkit-ungkit dengan rasa enek, marah dan dendam.   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى   “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (Q.S. Al-Baqarah: 264).   Memberi dengan rasa terpaksa karena dimintai atau pun dipaksa, jika di belakang waktu krmudian tidak bisa mencapai rasa ridha, itu sama saja cari trauma mental. Trauma itu penyakit. Penyakit—bagi si pengindap—tidak ada yang bawa energi rezeki uang.   Menghindari berbagi dengan rasa terpaksa ya Anda harus punya sikap berani dan tegas untuk berkata dan bertindak, “Tidak.”   Sebab itu pemberian yang dilakukan oleh orang yang pelit itu sedekahnya akan menarik kelangkaan uang di dalam hidupnya sebab disabotase oleh rasa terpaksanya.   3. Memberi dengan rasa kasihan.   Ini kerap saya ajarkan. Derajat manusia itu setinggi-tingginya derajat makhluk. Uang di bawah derajat manusia. Bukan derajat uang membelaskasihani manusia. Karena itu kalau Anda sedekah dengan rasa kasihan itu Anda menghina dan merendahkan martabat manusia.   Rasa kasihan dalam memberi itu disebut sedekah. Rasa hormat dalam memberi itu disebut hadiah. Karena itu Nabi S.A.W menolak diberi sedekahan, beliau hanya berkenan menerima hadiah.   عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ سَأَلَ عَنْهُ فَإِنْ قِيلَ هَدِيَّةٌ أَكَلَ مِنْهَا وَإِنْ قِيلَ صَدَقَةٌ لَمْ يَأْكُلْ مِنْهَا   “Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi S.A.W apabila beliau diberi makanan, beliau pasti menanyakannya. Bila dikatakan itu hadiah, beliau memakannya, dan bila dikatakan itu sedekah, beliau tidak memakannya.” (H.R. Muslim)   4. Memberi dengan rasa mengharap imbalan.   Berbagi dengan mengharap imbalan balik itu artinya sedang meminta-minta.   Banyak kan calon anggota dewan atau calon pejabat politik mendadak dermawan ketika jelang pemilihan umum karena minta imbalan dipilih.   Banyak juga pacar yang mendadak dermawan kepada pacarnya karena sedang mengharap imbalan peroleh romantisme.   Ya memberi dengan rasa ingin dapatkan imbalan balik ya tidak beda lintah darat.   Pemberian model keempat ini memang tidak melangkakan uang, karena imbalan yang diharapkan bisa saja berbalik, tetapi energi lintah daratnya ini yang getarkan kerakusan. Di mana-mana lintah darat dibenci orang, ujung-ujungnya rezekinya tidak berkah.   Terus bagaimana me-release-nya?   Kondisi rasa hati itu berubah-ubah. Kalau Anda berbagi dalam kondisi hati seperti di atas, lalu Anda menundanya, itu sama halnya Anda tidak mau menraining diri. Tinggal alihkan kesadaran Anda menjadi kesadaran training diri.   Umpama, Anda mau berbagi, tetapi di hati muncul rasa khawatir kekurangan, Anda tinggal niatkan, “Ya Allah saya sedekah, tapi saya khawatir kekurangan, ampuni saya ya Allah, semoga saya diberi keikhlasan.”   Dengan mengubah kesadaran training spiritual begitu, pemberian Anda menjadi sedekah yang utama, sesuai tuntunan hasits Nabi S.A.W;   يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ « أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ »   “Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.” (H.R. Muttafaqun ‘alaih)   Sedang muncul rasa kekurangan, sedang muncul rasa ingin tambah kaya artinya muncul rasa rakus, justru tabrak sekalian dengan memberi. Sedang muncul rasa terpaksa, tabrak dengan merelakan. Sedang muncul rasa kasihan, tabrak

MEI 2023

HIDUP ITU PETUALANGAN PASRAH YANG TETAP DENGAN AMBISI

Waktu anak-anak saya ketika mau berangkat sekolah kerap punguti buah Kedondong jatuh (Jawa: nutur Dondong) milik kakak sepupu.   Ketika obsesi saya besar ada Kedondong jatuh di pagi itu, malah tidak ada. Ketika hati saya landai, justru kerap temukan Kedondong jatuh.   Saya kerap punya ekspektasi tinggi terhadap tulisan ataupun konten medsos yang saya unggah. Ekspektasinya ini konten pasti ramai. Realitanya malah enggak. Sepi.   Sebaliknya kadang saya tidak punya ekspektasi apapun pada konten saya, malah sambutannya ramai.   Obsesi, ambisi, ekpektasi, hasrat, itu semua ketika terunggah kepada-Nya disertai nafsu-nafsu.   Anda amati ketika ada cowok nakal dengan penuh nafsu menggoda cewek yang dia temui. Bukankah si cewek justru ketakutan, risih dan marah. Penolakan si cewek terjadi disebabkan saat si cowok nakal menggodanya yang ada hanya hasrat nafsu.   Jadi mengapa ketika Anda punya obsesi, ambisi, ekpektasi, atau hasrat tertentu lantas realitanya tidak seindah ekspektasinya? Itu karena pada saat itu nafsu lah yang terunggah kepada-Nya.   Sebab saat saya berambisi pungut Kedondong jatuh atau saya berekspektasi pada konten medsos tertentu justru hasilnya haihata; jauh panggang dari api.   Berbeda ketika obsesi dan ekspektasi saya landai-landai saja, di situ getaran nafsunya kecil, sehingga mudah terwujud realitanya. Namun sekarang begini. Ekspektasi, ambisi, obsesi, atau hasrat itu sendiri adalah doa. Iya, udang tidak pernah punya ambisi makan daging, artinya udang tidak pernah punya doa untuk dapatkan daging segar, selama hidupnya udang pun tidak pernah temui daging segar. Ijabah doanya dapatkan daging segar tidak pernah terjadi. Beda dengan macan yang ambisinya kepada daging segar.   Tuhan itu konsisten ijabahi doa Anda. Janji-Nya;   وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ   “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.” (Q.S. Al-Mu’mîn : 60)   Cuma kalau tidak ada doanya, Tuhan mau ijabahi apa?   Bagian dari doa itu adalah keinginan-keinginan, harapan-harapan, dan kemauan-kemauan, yang di dalamnya termasuk ambisi, obsesi, ekspektasi dan hasrat.   Lah iya, beda orang sukses dan orang biasa itu cuma beda “dalemannya”, beda mindsett-nya saja. Sama-sama buka toko dengan modal kecil, orang sukses berpikir untuk besar, ia punya ambisi pada kemajuan.  Sementara orang biasa buka toko yang sama, namun ia hanya berpikir dan berniat buka toko untuk tambah-tambah penghasilan. Beda “daleman” beda pula tindakan dan resikonya, hasilnya juga jadi jauh beda.   Jadi sekali lagi, ambisi, obsesi, ekspektasi, hasrat, itu doa. Tanpa doa, Tuhan yang Maha Ijabah mau ijabahi apa?   Paradox ya? Punya ambisi ditolak doanya karena penuh nafsu, tanpa ambisi tidak diijabah karena tidak punya doa. Mumeti. Terus jalan keluarnya?   Kalau Anda sedang terima keadaan ekspektasi tak seindah realita, itu Anda kecewa, tidak? Tentu kecewa, ada muncul rasa sedih, dan kadang hati dibesar-besarkan, dilegawa-legawakan, dan disabar-sabarkan.   Artinya ketika ambisi, obsesi, hasrat atau ekspektasi ditolak oleh-Nya, di situ Anda mengalami proses pelepasan ego dan nafsu. Ketika ego dan nafsu menurun kemelekatannya, di situ jiwa Anda berproses mengunggah doa-doa yang termurnikan.   Setiap hasrat, ambisi, obsesi, dan ekspektasi yang tertolak, di situ Tuhan melatih Anda untuk belajar rela hati, lapang dada, ridha, tawakal, dan pasrah.   Karena itu Nabi Musa pernah bertanya kepada Allah,   حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنِي أبِي، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ عِمْرَانَ الْقَصِيرِ قَالَ: قَالَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ: أَيْ رَبِّ، أَيْنَ أَبْغِيكَ؟ قَالَ: ابْغِنِي عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوبُهُمْ؛ إِنِّي أَدْنُو مِنْهُمْ كُلَّ يَوْمٍ بَاعًا، وَلَوْلَا ذَلِكَ لَانْهَدَمُوا   “Abdullah bercerita, ayahku bercerita kepadaku, Sayyar bercerita, Ja’far bercerita, dari ‘Imran Al-Qashiri, ia berkata, Musa bin ‘Imran A.S. berkata, “Wahai Tuhan, di mana aku mencari-Mu?” Allah menjawab, “Carilah Aku di sisi orang-orang yang hancur hatinya. Sesungguhnya Aku dekat dengan mereka setiap hari (sejarak) satu bâ’ (sekitar dua lengan). Jikalau tidak demkian, mereka pasti roboh (binasa).” (H.R. Imam Ahmad bin Hanbal).   Ya orang yang ekspektasinya sedang tidak tercapai, hasratnya kandas, ambisinya amblas, dia sedang hancur hatinya, di saat itu dia sedang berproses dengan pelepasan ego dan nafsu, sehingga ketika Musa A.S. menanyakan, “Di mana Engkau berada, ya Rab?” Jawab Tuhan, “Di hati orang yang sedang hancur hatinya.”   Nah sesudah Anda jatuh-bangun, maju-mundur, senang-sedih, menang-kalah, tawa-tangis, dan alami banyak haru-biru, banyak makan garam, di situ Anda setahap-tahap tertata nuraninya, nafsunya buruknya perlahan jinak. Sesudah di keadaan pasrah, baru ambisi, obsesi, hasrat, ekspektasi Anda itu diijabah.   Jangan langsung pasrah, karena kalau langsung pasrah, Anda jadi lemah kemauannya, lemah kemauannya jadi lemah doanya. Lemah doanya ya tidak ada ijabah.   Jadi jangan gampang pasrahan ya? Hahaha.   Yang elegan itu ambisi besar, kemauan besar, hasrat penuh, karena itu sebagai “modal doa”, selanjutnya tempuh dengan kesungguhan, dan hadapi pahit-getirnya dengan kuat hati. Nanti setelah Anda dinilai beserah pasrah, Tuhan ijabahi doa Anda, di situ gol baru terjadi.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

BIAR UANG MENGABDI, OJO SAMBAT DUIT

Ojo sambat itu bahasa Jawa artinya jangan mengaduh; jangan mengeluh.   Kerap saya sampaikan, Anda adalah makhluk yang sudah dimuliakan penciptaannya. Sistem alam semesta pun sudah tempatkan Anda di kursi maharaja. Amati saja semua makhluk tercipta melayani Anda.   Oksigen, rerumputan, tumbuhan, hewan-hewan, planet-planet semua tercipta hanya untuk fasilitasi hidup Anda. Kedelai tercipta untuk Anda makan, tidak kemudian Anda tercipta sebagai makanan kedelai. Anda maharajanya, makhluk lainnya pelayanan.   Rezeki untuk Anda pun rezeki pilihan yang paling berkualitas. Dari sisi makanan saja, rezeki Anda dipilihkan yang paling higienis dan paling enak. Macan cuma dijatah rezeki daging segar, Anda rezekinya daging olahan dengan aneka resep kuliner. Kangkung rezekinya cuma unsur hara tanah yang tidak lebih sisa kotoran di alam semesta, Anda rezekinya makanan sehat yang tidak cuma dimasak matang dan dibumbui namun telah dicuci bersih agar steril dari kotoran.   Makhluk lain tidak ada yang diberi rezeki pakaian, perhiasan, dan kendaraan hanya Anda yang berbusana, pakai perhiasan dan ada kendaraan.   Makhluk lain tidak ada yang diberi fasilitas kesehatan, hanya Anda yang disediakan rumah sakit dan klinik kesehatan dengan seabrek fasilitas medis.   Jatah hunian Anda juga seperti apa istimewanya? Rumah-rumah milyaran hingga trilyunan tersedia untuk Anda. Coba makhluk lain paling banter dijatah kandang.   Rambut dan kulit Anda saja dijatah rezeki teristimewa, aneka sabun dan aneka shampo hal lumrah untuk merawat kulit dan rambut Anda. Coba makhluk lain apa dapatkan fasilitas itu? Jangankan perawatan kulit dan rambut, rezeki mandi saja makhluk lain jarang yang dijatah.   Benda-benda termewah dijatahkan untuk Anda. Emas, permata, berlian, perak, mutiara, benda-benda mahal tersebut untuk Anda, makhluk lain tidak ada yang sanggup memiliki.   Rezeki Anda sudah disistemkan teristimewa, terbaik, terpilih dan paling berkualitas.   وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ۞   “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (Q.S. Al-Isrâ : 70)   Sudah jadi maharaja alam semesta di mana makhluk lain hanya sebagai pelayan, ditambah dianugerahi rezeki terbaik (ath-thayyibât). Kurang apa coba diunggulkannya? Rezeki Anda rezeki terbaik.   Rezeki itu sebenarnya bertabiat mengabdi kepada Anda, andai disuruh datang, rezeki dengan tergopoh-gopoh datang. Kenapa demikian? Karena setting penciptaannya begitu, Anda raja, rezeki pelayannya.   Hanya lemahnya Anda itu, disetting jadi raja, namun Anda lemah dalam mental kemaharajaannya. Ibarat pemimpin, leadership skill Anda kerap lemah di depan bawahan Anda, sehingga rezeki yang mau layani Anda jadi bingung dan merasa tidak nyaman bersama Anda.   Kalau Anda seorang manager perusahaan, misalkan, lalu Anda cengeng dalam mengambil kebijaksanaan perusahaan, tidak percaya diri memimpin karyawan, kira-kira pemimpin begitu punya kharismatik, tidak? Manager kok cengeng, karyawan mana yang betah di sampingnya?   “Sambat-sambat duit” artinya mengaduh tentang uang, itu petunjuk Anda cengeng di depan uang. Ada manager cengeng di depan karyawannya, karyawan mana yang mau mengabdi kepadanya? Demikian pula Anda bila “sambat-sambat duit”, itu uang mana yang mau mengabdi kepada Anda? Uang akan melihat Anda sebagai raja yang tidak layak dimahkotai raja.   “Sambat ora due duit” yakni mengaduh tidak punya uang, “sambat duit langka” yakni mengaduh uang langka, “sambat duite sitik” yakni mengaduh uangnya sedikit, “sambat duit angel digolet” yakni mengaduh uang susah dicari, dan keluhan-keluhan keuangan lainnya, itu jadikan uang yang sebenarnya ditabiatkan mengabdi kepada Anda, lantas tidak betah, karena uang merasa punya raja tapi bermental cengeng.   Padahal “sambat-sambat kekurangan dan kesulitan duit” begitu Anda dalam sehari bisa berapa kali? Keluhan-keluhan itu mempengaruhi mental Anda setiap saat, lalu direkam oleh pikiran bawah sadar Anda, selanjutnya menjadi belief di pikiran bawah sadar.   Setelah mempengaruhi mental, perasaan, lalu jadi belief pikiran bawah sadar, selanjutnya menetap permanen sebagai karakter Anda. Ya raja berkarakter kerupuk. Lalu bagaimana uang akan betah mengabdi?   Sifat pesimis, merasa susah, merasa miskin, saat tidak punya uang, itu semua bagian dari pengeroposan mental kemaharajaan Anda. Bila terbiasa selanjutnya uang tidak akan percaya lagi mengabdi kepada Anda.   “Ojo sambat duit” sesulit apapu kondisi keuangan Anda, ambillah sikap tegar, tawakal dan optimis, itu latihannya membangun leadership skill di depan uang sebagai maharaja uang.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word   Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

BERI RUANG UNTUK MENYINGKIR SEJENAK

Karakter urusan dunia itu multiverse, yakni majemuk dan beragam.   Sementara alam semesta ini dicipta dengan karakter universe yakni tunggal. Diri Anda ada berapa? Ada satu. Bulan ada berapa? Satu. Matahari berapa? Satu. Bumi berapa? Satu. Samudera Hindia ada berapa? Satu.   Diri Anda dengan identitasnya masing-masing itu tunggal, tidak sama antara satu dengan yang lain, sehingga Anda diwarisi identitas khas yakni sidik jari, di mana sidik jari Anda tidak dapat diduplikasi.   Ya alam semesta ini ciptaan-Nya, sehingga ayat-ayat keberadaan Zat-Nya nyata ada di alam semesta ini. Kalau Dia Sang Maha Tunggal yang Wahdahu Lâ Syarîka lahu; maka ayat-ayat-Nya juga nyata ada.   Sehingga karakter multiverse urusan dunia ini berlawanan ekstrem dengan karakter alam semesta yang uni-verse, termasuk karakter diri Anda sendiri yang tunggal.   Hati Anda kerap bising kan, karena pikiran Anda kerap ditarik untuk memikirkan banyak hal? Setiap hari, Anda pasti dihadapkan dengan masalah yang silih berganti. Selesai satu, muncul masalah baru. Malah terkadang, masalah yang satu belum selesai, Anda berhadapan lagi dengan masalah yang lain.   Ibaratnya, hidup itu kayak runtutan masalah yang tidak habis-habis. Bahkan, jalan keluar dari sebuah masalah saja, kerap mendatangkan masalah lain yang bisa jadi lebih berat.   Sebab itu tubuh Anda perlu menyingkir sejenak dari hiruk-pikuk urusan dunia yang multiverse, sejenak kembali kepada diri Anda sendiri yang tunggal, kembali kepada alam semesta yang uni-verse, kembali kepada Pencipta Anda yang Maha Ahad.   Anda sehabis zikir tentu dapatkan ketenangan hati, karena zikir itu usaha agar pikiran untuk hanya terkoneksi pada satu Zat, yakni Asmâ Allah. Anda sehabis meditasi juga hati menjadi tenang karena meditasi itu usaha untuk hanya terkoneksi dengan satu gerak alam, misal hanya terkoneksi dengan gerak keluar-masuknya nafas.   Ketenangan hati sesudah zikir ataupun meditasi karena Anda menarik pikiran Anda kepada hakikat tunggal alam semesta, yakni fokus ke satu titik yaitu fokus “ingat Allah” ataupun fokus “sadar nafas”.   Nabi Muhammad S.A.W yang fardhu dalam sehari 5 kali menyingkirkan diri dari hiruk-pikuk dunia, dengan hanya hening mengingat Tuhannya, yakni dengan shalat.   Setiap shalat Nabi S.A.W mengistirahatkan pikirannya, karena itu beliau mengaku kalau shalat beliau adalah istirahat beliau. Beliau jika sedang menyuruh sahabat Bilal untuk iqamat shalat, beliau memerintahkannya dengan, “Bilal, Istirahatkanlah kami?   “‏ يَا بِلاَلُ أَقِمِ الصَّلاَةَ أَرِحْنَا بِهَا ‏”‏   “Wahai Bilal, segera iqamat lah, istirahatkan kami dengan shalat,”. (H.R. Abu Dawud)   Setiap shalat Nabi S.A.W merilekskan diri. Tentu kualitas shalatnya Nabi S.A.W adalah shalat khusyuk.   Bahkan shalat itu bagi Nabi S.A.W adalah “qurratu ‘ain” (penenang hati).   حُبِّبَ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِى فِى الصَّلاَةِ   “Diberikan rasa cinta kepadaku dari dunia; wanita dan wewangian dan dijadikan penenang hatiku di dalam shalat”. (H.R. Ahmad)   Anda kan kerap kalau sedang shalat, badan sedang baca Al-Fatihah tapi beda dengan yang pikiran Anda yang sedang pikirkan duit? Di situ Anda tidak bisa hadir dalam shalat karena tindakan dan pikiran tidak menyatu. Shalat begitu tidak punya kualitas “istirahat”.   Menurut Imam Al-Ghazali, untuk masuk ke level khusyuk harus berlatih dulu di level “khudhûrul qalbi (kehadiran hati). Khudhûrul qalbi cukup dengan sadari saja. Misalkan Anda sedang Takbîratul Ihrâm ya sadari sepenuhnya Anda sedang baca Takbîratul Ihrâm dengan tangan terangkat lalu bersedekap. Dan terus begitu, cukup berusaha sadari setiap gerak dan bacaan shalat.   Demikian pula cara hadirkan hati (khudhûrul qalbi) ketika Anda zikir ataupun meditasi.   Tehnik khudhûrul qalbi ini kalau dalam ilmu pemberdayaan diri disebut tehnik mindfullness.   Yang jelas dalam 24 jam tubuh Anda perlu d irelekskan dengan cara “kembali kepada hakikat diri Anda yang tunggal, kepada alam semesta yang uni-verse dan kepada Tuhan yang Maha Ahad”. Dalam sehari semalam perlu ada waktu Anda perlu menyingkir dulu dari hiruk-piruk isi dunia yang multiverse.   Kalau tidak memberi kesempatan kepada pikiran untuk menyingkir, artinya pikiran Anda tidak pernah diistirahatkan. Akibatnya tubuh Anda—baik kesehatan fisik, kesehatan mental dan kesehatan rezeki—mudah remuk dan rapuh.   Caranya bebas, mau dengan shalat, mau dengan zikir, mau dengan meditasi, yang jelas walaupun hanya satu jam ada waktu untuk rehatkan diri, hadir penuh ke alam uni-verse. Paling lazim pada sepertiga malam terakhir.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word   Servo Prosperity Online Class

Scroll to Top