Author name: gus banan

MEI 2023

WADAH RASA SHALAT DHUHÂ

Sistem rezeki itu didatangkan kepada Anda bukan untuk dikejar oleh Anda, begitu pesan dari shalat Dhuhâ.   Pesan shalat Dhuhâ jelas tersirat dalam ma’tsurât doanya;   اَللّٰهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ   “Ya Allah, waktu Dhuha adalah waktu Dhuha-Mu, kecantikannya ialah kecantikan-Mu, keindahannya adalah keindahan-Mu, kekuatannya adalah kekuatan-Mu, kekuasaannya adalah kekuasaan-Mu, dan perlindungannya adalah perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rizkiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar, mudahkanlah, jika haram, sucikanlah, jika masih jauh, dekatkanlah, berkat waktu Dluha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh”.   Di situ tersurat, jika rezeki masih di atas langit, mohon diturunkan, bukan supaya Anda naik ke langit dan mengambilnya. Jika rezeki ada di dalam bumi, mohon agar dikeluarkan, bukan supaya Anda menggali bumi dan mengambiknya. Jika rezeki sukar, mohon agar dimudahkanlah, bukan Anda supaya sibuk cari jalan keluar.   Jika rezeki haram, mohon agar disucikan, bukan supaya Anda menyucinya. Jika rezeki masih jauh, bukan supaya Anda mengejarnya, tapi mohonlah didekatkan.   Ini indikator kalau Anda itu makhluk yang dilayani oleh rezeki, bukan supaya Anda jadi budak yang disuruh-suruh mengejar dan kerja keras demi rezeki, tapi Anda adalah maharaja yang kedudukannya didatangi rezeki.   Nah agar pesan shalat Dhuhâ teraplikasi dalam diri Anda, diri Anda perlu menjadi wadah rezeki, menjadi bak yang siap menampung rezeki.   Uang itu mendatangi orang yang gembira, orang yang happyfun, tidak peduli Anda orang bahagia atau tidak.   Maria Ozawa, Yamada Anna, Taira Yuna, Kiyohara Kaya, Ameri Ichinose, mereka—sebutlah—bukan wanita shalihah yang bahagia dan mulia. Sedang di luar rumah, lalu bertemu publik, mereka kerap diledek publik dengan kata-kata porno dan penuh godaan.   Mereka bukan wanita shalihah dan mulia, tapi duit mereka banyak, bukan? Itu karena mereka sudah selaras dengan energi uang yakni happyfun, mereka senang saja hidupnya.   Senang itu beda dengan bahagia. Kalau bahagia, Anda sedang miskin papa, dihina-hina orang, tapi hati Anda temukan keikhlasan sehingga diterima dengan rasa ridha dan penuh harapan ampunan Tuhan, itu Anda orang bahagia, tapi tidak senang.   Nah energi uang itu mendekat kepada rasa senang, tidak peduli Anda bahagia atau tidak. Nyatanya Maria Ozawa dan akhwat-akhwatnya di dunia bisnis pornografi duitnya banyak.   Cacing saja yang instingnya makan dan kawin, ia didatangi rezeki, itu karena makan dan kawin itu energi happyfun.   Nah agar Anda menjadi wadah yang siap didatangi rezeki, Anda harus siapkan rasa senang dan gembira ketika shalat Dhuhâ.   Banyak orang yang shalat Dhuhâ tapi karena dipicu rasa duka pada rezeki. Iya merasa rezekinya kurang, lalu ia shalat Dhuha, merasa rezeki seret, lalu ia shalat Dhuha, merasa hutang banyak, lalu ia shalat Dhuhâ. Ini adalah shalat Dhuha dengan uanggahan rasa duka.   Sementara uang itu energi happyfun, diunggahi rasa duka, ia jadi enggan mendekat.   Karena itu kalau mau menjadi wadah rezeki yang siap didatangi uang, ketika shalat Dhuha harus diunggahi rasa senang, rasa happyfun.   Shalat Dhuhâ dengan dengan akses, “Saya senang telah banyak dianugerahi rezeki,” ini unggahan rasa yang tepat. Merasa gembira telah banyak dianugerahi itu rasa yang seharusnya diunggah saat shalat Dhuhâ.   Katakanlah unggahan rasa yang tepat saat shalat Dhuhâ itu mendirikan shalat Dhuhâ karena bersyukur bukan karena menderita.   Ini wadah rasa yang harus Anda siapkan dalam shalat Dhuhâ agar Anda didekati dan didatangi rezeki.   Sesudah siap dengan akses rasa happyfun, selanjutnya Anda melangkahkan diri dalam hidup dengan amal shalih, dengan rasa takwa kepada-Nta agar rezeki yang datang kepada Anda bukan seperti rezekinya Maria Ozawa yang panas, tetapi seperti rezekinya Nabi Sulaiman yang berkah, sebagaimana pesan terakhir yang tersirat dalam ma’tsurât doa shalat Dhuhâ yakni dilimpahi rezeki seperti rezekinya orang-orang shalih.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

MEMRODUKSI UANG SHALEH

Sebagian besar warga +62 adalah muslim, dan sebagian kecil dari mereka hidup di negeri +62 yang pancasialis seperti ikan Bandeng hidup di lautan asin karena mereka menabrakan ideologi agama dengan ideologi negara, menabrakan NKRI dengan ide daulah Islam. Reaksi ketidakbetahan mereka macam-macam, ada yang terus menerus kampanye khilafah, mengharamkan sekedar hormat bendera Merah Putih, hingga ada yang angkat senjata selanjutnya melakukan teror.   Begitulah ketika ide pikiran telah menabrakan sesuatu dengan sesuatu lainnya, hasilnya respons kehidupan menjadi kontradiktif dan kacau.   Berbeda dengan sebagian besar muslim negeri +62, ide pikiran mereka menerima Islam sekaligus menerima NKRI, hasilnya respons kehidupan mereka sangat sinkron dan harmoni, mereka oke berislam sekaligus oke ber-NKRI.   Beda sekali kan hasilnya antara ide pikiran yang mampu berdamai dengan yang mengversuskan?   Itu karena agama pada dasarnya energi netral, selanjutnya ide pikiran Anda yang pengaruhi agama menjadi positif atau negatif. Bagi seorang ateis, agama adalah penyakit, bagi seorang teis, agama adalah obat.   Ada pikiran yang memproduksi ide kalau uang itu musuh kebaikan, uang adalah sumber fitnah dan masalah, uang adalah sebab beratnya hisab di hari kiamat, uang pemutus silaturrahim di mana karena uang banyak saudara kandung yang saling bunuh dan saling benci, uang tak akan ada cukupnya akan selalu kurang dan kurang, uang pusat segala kerakusan, uang pusat segala kejahatan, dan seterusnya. Ya kalau produksi pikiran Anda demikian, keadaan uang yang demikian pula yang akan terjadi dalam hidup Anda.   Bagaimana tidak nyamannya mereka hidup di negeri +62 yang mana mereka punya ide pikiran membenturkan negara dan agama? Demikian pula orang yang membenturkan uang dengan kebaikan, membenturkan uang dengan spiritualitas, membenturkan uang dengan kesalehan, selamanya mereka tidak akan nyaman dengan uang, selamanya mereka tidak akan mampu menghadirkan uang yang shaleh dalam kehidupan mereka.   Sulaiman A.S memandang uang adalah sarana kesalehan, sarana kebijaksanaan untuk dakwah, politik dan kekuasaan, maka itu pula yang terjadi dalam hidup Sulaiman A.S.   Betapa tidak, ketika Ratu Balqis (Ratu Sheba / Makeda) diketahui menyembah Matahari, ia didakwahi oleh Sulaiman A.S untuk beragama Tauhid. Dengan apa Sulaiman mendakwahi Ratu Balqis? Dengan kemegahan uang.   Ratu Balqis berkunjung ke Yerussalem; pusat pemerintahan kerajaan Sulaiman dengan datang membawa hadiah-hadiah mewah untuk menunjukan kemegahan kekuasaan dan kekayaan Balqis, namun oleh Sulaiman ditolak, Sulaiman tetap merasa kalau dia lebih kaya dan lebih megah dari Balqis, sudah selayaknya Balqis tunduk, sebagaimana isi surat dakwah Sulaiman kepada Balqis;   إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (30) أَلا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (31)   “Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian mengungguliku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. An-Naml: 30-31).   Yang terjadi betul-betul Balqis tunduk dengan dikerjai menggunakan kemegahan uang Sulaiman. Itu.   Karena itu produksilah pikiran-pikiran kebaikan kepada uang. Saya kerap menganggap banyak uang hidup jadi ikhlasan, istri jadi shalehah dan tunduk taat pada suami kalau istri diberi banyak uang, orang tua mau menilai saya anak shaleh kalau beliau saya cukupi kebutuhan uangnya, dengan banyak uang saya lebih mudah mengajak orang dalam kebaikan, Tuhan tidak pernah disembah yang disembah-sembah itu adalah usng maka kalau mau ajak orang menyembah kepada Tuhan harus diperlihatkan uang, dan seterusnya. Ide pikiran tersebut saya produksi dalam diri saya agar uang yang hadir dalam hidup saya benar-benar uang yang shaleh.   Nah yang paling umum itu pikiran manusia memroduksi kalau uang itu barang langka dan berharga, ya itu pula yang terjadi dalam hidup Anda.   Pikiran memroduksi uang itu barang langka, ya betulan dicari-cari dengan kerja keras, uang tetap langka.   Saya mengubah produksi pikiran bahwa uang itu barang langka dengan tersadar kalau seluruh alam semesta itu diciptakan melayani manusia. Oksigen, Matahari, Bulan, tumbuhan, hewan-hewan semua tercipta melayani manusia.   Karena tercipta sebagai pelayan, misalkan Oksigen, maka sistem Oksigen diciptakan melimpah ruah di planet Bumi ini. Tak perlu bayar dan tak perlu kerja keras untuk dapatkan Oksigen.   Uang pun tercipta sebagai pelayan, maka hukumnya sama seperti Oksigen, melimpah dan bertabur dimana-mana.   Pikiran memroduksi uang itu barang berharga, akibatnya Anda selalu diperbudak uang. Telaten irit, telaten kumpul-kumpulkan harta, telaten pelit, dan seterusnya.   Dulu taubat dari pikiran uang itu berharga setelah tersadar “uang itu sampah”. Saya menganggap jiwa saya lah yang berharga, uang sendiri adalah sampah, maka yang harus dihargai pertama adalah kemuliaan dan kebahagiaan jiwa saya.   Kalau saya pegang uang 20 ribu, lalu saya hargai uang, maka ingin bakso saya akan menundanya, tapi kalau saya hargai kemuliaan dan kebahagiaan jiwa saya, ketika mau beli bakso dan hanya pegang uang 20 ribu, maka saya akan mendeteksi dulu di mana hati saya merasa bahagia dan mulia. Kalau saya bahagia untuk beli bakso ya beli, kalau saya bahagia tidak beli, ya tidak.   Hukum sampah itu di mana-mana ada, kalau Anda sadar jiwa Anda lah yang bahagia dan mulia dan uang hanya sampah, yang akibatnya uang jadi di mana-mana ada seperti sampah.   Jadi uang itu energi dan partikel netral, uang tidak punya kemampuan menyengsarakan ataupun membahagiakan Anda, ide pikiran Anda lah yang pengaruhi realita uang. Mau jadi uang shaleh atau uang munkar itu pikiran Anda yang memproduksi lalu menghadirkannya.   نِعمَ المالُ الصَّالحُ للرَّجلِ الصَّالحِ   “Sebaik-baik harta yang baik itu bagi lelaki yang shaleh”. (H.R. Bukhari)   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word   Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

KALAU BELUM BISA BERSANDAR PENUH PADA TUHAN, BERSANDAR LAH DULU PADA UANG

Bersandar penuh pada Tuhan artinya tawakal. Konsistensi tawakal adalah kecukupan;   وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ   “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhan)nya.” (Q.S. At-Thalaq: 3).   Basic prosperity Tuhan itu “mengalirkan rezeki” artinya Tuhan menjadi Maha Kaya (Al-Ghaniy) dengan jalan Dia senantiasa mengalirkan rezeki-Nya kepada para makhluk-Nya, semua makhluk-Nya memakan rezeki milik Tuhan.   Karena selalu dialirkan, di sisi Tuhan tidak pernah ada sisa apa-apa, Tuhan selalu 0 rupiah. Ekstrem, ya?   Selalu 0 rupiah tapi itu Tuhan malahan Maha Kaya raya.   Karena itu Anda yang akan ditakdirkan di level spiritual tawakal yakni level bersandar penuh pada-Nya, Anda juga akan sampai di level sadar bahwa makin sering 0 rupiah makin kaya.   Karena itu ciri orang di level tawakal, ia gemar “nyah-nyoh” dan “cang-cung”, gemar alirkan rezeki entah dengan belanja, berbagi, membayar, dan lain-lain namun ia makin kaya saja. Itu cirinya.   Makanya orang tawakal jadi kerap sepelekan upaya “menggenggam” dan “mengumpulkan”, karena ia tahu dan sadar sepenuhnya kalau jalan kaya itu justru dengan mengalirkan.   Untuk sampai ke level sadar tawakal, Anda akan dilewatkan di keadaan di mana Anda tidak punya kemampuan untuk kumpulkan uang. Di situ Anda dikelengerkan makin terobsesi menabung, makin berantakan finansialnya.   Betul-betul tidak dimampukan kumpul-kumpulkan harta, makin kumpulkan harta makin miskin atau setidaknya stagnan, makin dihemat makin belangsakan, hingga akhirnya Anda coba-coba alirkan harta dengan rasa gembira senang hati, ternyata rezeki makin nongol di sana-sini, makin tumbuh berkecambah. Di situ Anda baru tersadar, 0 rupiah makin kaya. Di level spiritual begitu, itu artinya Anda di level bersandar penuh kepada Tuhan.   Begitulah prosedur ke level spiritual tawakal, level bersandar penuh kepada Tuhan.   Sekarang kalau Anda sudah gemar mengalirkan tapi rezeki makin ruwet dan bermasalah, “nyah-nyoh” dan “cang-cung” namun makin ruwet belangsak, itu pasti ada yang belum pas. Sadar Anda belum sadar tawakal, bisa jadi sadar Anda sadar hedonis, sadar ngawur, sadar ugal-ugalan, dan seterusnya.   Nah titik masalahnya ketika Anda meniru-niru habis-habiskan uang tapi Anda malahan makin amburadul finansialnya. Iya, gayanya 0 rupiah, gayanya gemar belanja, gayanya dermawan, gayanya ngebos, namun hutang di sana-sini, ambruk di sana-sini, sampai-sampai jadi beban dan masalah bagi orang lain. Jelas keadaan yang demikian, Anda bukan di level tawakal, tapi di level gemblung tidak waras.   Sebab ini, kalau belum bisa bersandar penuh kepada Tuhan yakni level tawakal, Anda bersandar dulu kepada uang. Maksudnya? Bersandar dulu kepada uang artinya Anda kembali ke level syariah uang dulu, menabung dulu, atur finansial dulu, merencanakan dulu, dan seterusnya.   Daripada antipati menabung tapi Anda makin melarat, antipati plan finansial tapi Anda merepotkan dan jadi masalah bagi orang lain. Bersandar dulu kepada uang itu jauh lebih baik.   Sama saja, sebelum sampai ke haqiqat, Anda berada di syariah dulu, sebelum ma’rifat, Anda thariqah dulu.   Karena sebenarnya persoalan “alirkan rezeki” itu cuma persoalan kesadaran, bukan persoalan tindakan.   Sekarang Anda menabung di bank, tapi Anda berniat alirkan duit Anda ke bank agar di bank uang Anda ditransaksikan lagi, bukankah di kesadaran demikian menabungnya Anda menjadi pengaliran harta bukan pengumpulan dan penumpukan harta? Di situ Anda bertindak “kumpulkan harta” tapi berhukum spiritual alirkan harta.   Anda bangun rumah mewah, tapi niat berbagi rezeki ke pemborong, ke toko bangunan, ke pekerja, ya di situ Anda bertindak kumpulkan harta namun berhukum spiritual alirkan harta.   Jadi soal level bersandar penuh kepada Tuhan pun hanya persoalan kesadaran dalam tindakan, sehingga level tawakal kepada Allah sebenarnya level kesadaran, yakni sadar Anda dalam mengelola finansial itu sebagai kesadaran mengalirkan ataukah kesadaran nafsu mengumpulkan.   Dengan Anda bersandar dulu kepada uang sebelum bersandar penuh kepada Tuhan di situ pun hanya bentuk ikhtiyar mencapai tawakal kepada Tuhan.   Yang bablas itu Anda sudah beraksi kumpulkan harta, lalu dimampukan oleh Tuhan, lantas Anda stagnan di level itu, lalu Anda berkesimpulan “kalau ingin kaya, kumpulkanlah hartamu”. Itu kesadaran level Qarun.   وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا ۚ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَا آذَيْتُمُونَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ   “Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri.” (Q.S. Ibrahim : 12).   Muhamnad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

KASIH, LEGAWA, SANTUN; AWAS ADA SISI YANG JADIKAN ENERGI PROSPERITY MELEMAH

Kasih, legawa, santun, mengalah, lemah lembut, pemaaf dan karakter kelembutan lainnya adalah “energi air” alam semesta. Seluruh makhluk hidup disuburkan oleh energi ini. Tandus dan gersang, begitulah jika elemen alam kekurangan energi air.   Sebab ini Anda yang dominan dengan energi air Anda pun punya energi besar untuk menyuburkan orang lain. Setiap orang yang berinteraksi dengan Anda, ia pun makin subur. Iya, baru dimarahi orang lain seenaknya sendiri, eeh Anda dengan mudah mengalah diam, kan dia makin subur? Anda baru dizalimi orang, eeh Anda dengan mudah memaafkan, kan si penzalim makin subur?   Hampir semua makhluk hidup di darat disuburkan oleh air, ia piawai menyuburkan orang lain.   Namun ada satu catatan yang harus Anda sadari! Bonsai Ficus Dollar Mikro milik saya, yang fotonya saya upload, itu ada bagian batang yang mati, itu disebabkan intensitas siramannya terlalu sering. Terlalu banyak energi air, akibatnya akarnya busuk, lalu mati.   Anda sendiri sebagai manusia, Anda bukan air, selamanya Anda tidak bisa menjadi air, namun Anda hanya “makhluk darat” yang butuh asupan energi air. Karena itu kalau welas asih Anda, kesantunan Anda, kelegawaan Anda berkurang drastis, Anda pun mati kekeringan. Anda tandus dan kering. Sebab ini welas asih, memaafkan, berdamai, mengalah, dan unsur energi air lainnya sangat Anda butuhkan. Anda bukan air, hanya makhluk darat yang butuh asupan energi air.   Namun sebaliknya, kebanyakan mengasup energi air, bukankah bonsai Ficus Dollar Mikro saya mati? Akarnya busuk, lalu kering perlahan?   Jadi umpama Anda dihina dan direndahkan orang, lalu Anda dengan legawa menerimanya dengan luas hati, di situ Anda sedang mengasup energi air.   Jika Anda selama ini Anda angkuh dan cari menang sendiri, di situ hidup Anda akan makin subur dan bertumbuh.   Namun sebaliknya, kalau Anda kemarin mengalah dan legawa, lalu mengalah lagi, mengalah lagi, mengalah lagi dan mengalah lagi, ya Anda kebanyakan mengasup energi airnya. Di situ akar kesuburan Anda akan perlahan membusuk, dan Anda akan bertumbuh untuk mati.   Di situasi mengalah, mengalah dan mengalah, memaafkan, memaafkan dan memaafkan, legawa, legawa dan legawa, itu energi kesuburan hidup Anda menurun drastis karena kebanyakan energi air. Di situ diri Anda digunakan untuk menarik rezeki sangat sulit, digunakan untuk menarik kekayaan dan keberuntungan sangat sukar.   Anda amati saja, orang miskin yang sangat kesulitan finansial itu mereka yang self-worth dan prestige-nya rendah. Dizalimi mudah mengalah dan mengalah, disepelekan mudah menerima dan menerima, disakiti mudah berdamai dan berdamai. Jadi asupan energi air yang terlalu besar itu jadikan rezeki ringsek dan belangsak.   Hahaha iya mengalah sekali dua kali, ketiga kalinya ya Anda harus berani melabrak dan melawan, hajar saja, itu mekanisme kesuburan hidup, karena kalau intensitas siraman air terlalu kerap, ya akar hidup Anda busuk, kesuburan rezeki Anda padam.   Kalau belum berani melabrak dan melawan bagaimana? Lah Anda kan bisa berdoa, kutuk saja, daripada kurang ajar terus-terusan.   Nabi Muhammad S.A.W kurang apa kasihnya, kurang apa pemaafnya, kurang apa legawa hatinya? Namun beliau sadar intensitas kebutuhan energi air beliau, tidak selamanya beliau hanya mengalah lemah.   Rabu, 15 Muharam 1437H; Abdullah bin Mas’ud R.A. menceritakan, “Suatu ketika Nabi S.A W shalat dekat Ka’bah. Sedangkan Abu Jahal dan beberapa orang kawannya duduk bersama-sama. Salah seorang di antara mereka berkata kepada yang lain, “Siapa yang berani, mengambil uri (isi perut) unta Bani Fulan dan meletakkannya di punggung si Muhammad ketika dia sujud?”   Seorang yang paling jahat di antara mereka (Uqbah bin Abu Muaith) bangkit, lalu pergi mengambil uri unta itu. Kemudian dia menunggu sebentar. Waktu Nabi S.A W sujud, diletakkannya uri unta itu ke punggung Nabi, antara kedua bahu beliau.   Saya melihat kejadian itu, tetapi saya tidak berdaya apa-apa, andaikata saya mendapat kekuatan tentu saya cegah. Mereka tertawa terbahak-bahak saling mengolok satu sama lain untuk mempermainkan Nabi.   Rasulullah S.A.W sujud terus, tidak mengangkat kepalanya hingga datang Fatimah (puteri beliau) membuangkan kotoran itu dari punggung beliau. Nabi mengangkat kepalanya dan mendoa tiga kali,   اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ   ‘Ya, Allah , Hukumlah orang Quraisy! Ya Allah, Hukumlah orang Quraisy! Ya Allah, Hukumlah orang Quraisy!”   Abu Jahl dan kawan-kawannya ketakutan mendengar Nabi mendoakan mereka, kerana mereka tahu bahawa doa di tempat itu diperkenankan Allah.   Kemudian Nabi menyebut nama mereka satu persatu,   اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِعَمْرِو بْنِ هِشَامٍ وَعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَشَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ وَأُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ وَعُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ وَعُمَارَةَ بْنِ   “Ya, Allah! Binasakanlah Abu Jahl, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Walid bin Uqbah, Umaiyah bin Khalf, Uqbah bin Abu Muaith.”   Nabi menyebut nama orang yang ketujuh tetapi saya (Abdullah bin Mas’ud) telah lupa nama orang itu.   Kata Abdullah bin Mas’ud selanjutnya, “Demi Allah, yang diriku dalam genggaman-Nya, aku melihat sendiri orang-orang yang disebutkan Rasulullah S.A.W dalam doanya itu, mati terkubur dalam lobang bekas sumur (waktu perang) Badar.”   Hadits di atas shahih, diriwayatkan Bukhari dan Muslim.   Satu ketika Nabi S.A.W mengirim surat dakwah kepada Kaisar Persia (Iran Kuno); Koresh Agung. Koresh Agung menolak keras suratnya dan merobek-robeknya.   Setelah pengantar surat kembali dan melaporkan hasilnya kepada Nabi S.A.W, beliau berdoa;   فَدَعَا عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ يُمَزَّقُوا كُلَّ مُمَزَّقٍ.   “Nabi S.A.W mendoakan mereka (Koresh Agung dan kekaisarannya) agar mereka dirobek-robek sehancur-hancurnya.” (H.R. Bukhari)   Tak lama kemudian terjadi pergantian kekuasaan di Persia karena kudeta Putra Mahkota Shiruyah kepada ayahnya yang didukung panglima Peroz. Khosrau II (Koresh Agung) pamornya makin turun setelah beberapa wilayah dicaplok Romawi. Raja ini juga mengidap halusinasi sehingga dianggap gila.   Koresh Agung ditangkap dan dipenjara. Putra Mahkota naik tahta. Kemudian raja diasingkan ke sebuah daerah dalam pengawasan pejabat bernama Marasfand. Saat dalam pengasingan itulah dirancang pembunuhan kepada Koresh Agung.   Ya begitu, mengalah itu akhlak mulia, memilih adem berdamai itu akhlak tinggi, itu semua energi air, sangat cocok untuk Anda yang congkak dan angkuh, tapi untuk Anda yang kerap mengalah? Itu jadikan asupan energi air Anda kebanyakan.   Terus-terusan ditindas, dizalimi, direndahkan, ditipu-daya, disuruh-suruh, dimanfaatkan, diperas, dimintai bantuan, itu kalau Anda hanya bereaksi “nerima ing pandum”, justru itu matikan energi prosperity Anda, rezeki macet dan makin susah.   Belum

MEI 2023

MANUNGGAL UANG DENGAN-NYA

Wujud diri Anda itu semu, disebut ada ternyata tiada, disebut tiada ternyata ada.   Coba Anda puja-puji diri Anda sendiri di depan orang lain bahwa Anda hebat, cantik, mempesona, Anda dicibiri narsis, kan? Diri Anda sendiri, yang kasih makan dan merawatnya itu Anda sendiri, ketika sakit juga diri Anda yang merasakan deritanya, lah kok ingin memuji diri saja dituduh-tuduh narsis, Anda tidak diberi hak bebas memuji diri. Kan seolah Anda tidak memiliki diri sendiri, Anda ada tapi tiada.   Anda berkarya di publik, tujuannya agar diri Anda masyhur, lah dikatakan tercela. Diri Anda sendiri, lantas Anda ingin memasyhurkan diri kok tidak boleh? Anda itu ada apa tidak? Namun mau disebut tiada, diri Anda ya ada, karena kalau diri Anda lapar, ya Anda yang harus kasih makan, Anda mengantuk ya Anda yang harus menidurkannya, kalau sakit ya Anda yang merasakannya dan bertanggung jawab menyehatkannya, dan seterusnya.   Menyakitkan, kan? Katanya diri Anda punya Anda sendiri, dipuji tidak boleh, dimasyhurlan tidak boleh, ditonjol-tonjolkan todak boleh. Kan parah Itu artinya dalam diri Anda ada identitas lain yang harus Anda cari dan temukan. Terus diri lain di dalam diri Anda itu identitasnya, siapa?   Maka jangan heran kalau para sufi sedemikian hebat bekerja dalam spiritual karena persoalan ada identitas lain di dalam dirinya.   Abdul Aziz Ad-Dabagh, ia termasuk salah satu wali Allah pernah ditegur oleh malaikat. Malaikat melihat namanya ada di lembaran kitab Lauhul Mahfuzh tercatat sebagai deretan penghuni neraka. “Kenapa kamu tetap tekun ibadah, di Lauhul Mahfuzh kamu tercatat sebagai ahli neraka? Mau ibadah setaat apapun kamu tetap jadi penghuni neraka,” tegur malaikat.   Ad-Dabagh menanggapi, “Hai malaikat, surga dan neraka bukan urusanku. Aku diciptakan oleh Allah hanya untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Dia berfirman, “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku, mau aku masuk surga atau neraka Itu hak Allah. Bukan urusanku.”   Lalu di suatu ketika malaikat kembali ke Lauhul Mahfuzh dan melihat namanya telah dirubah oleh Allah menjadi penghuni surga. Dan malaikat pun memberitakan kepada Ad-Dabagh. Ad-Dabagh menjawab, “Syukurlah. Tapi sekali lagi hai malaikat, surga dan neraka bukan urusanku aku beribadah hanya untuk menggapai ridha-Nya, kalau Dia ridha aku di neraka, ya itulah tujuanku.”   Kalau Anda kerja keras untuk diri saya, lalu Anda saya upah dengan siksaan sadis, Anda mau? Pinginnya diupah duit banyak kan? Abdul Aziz Ad-Dabagh sedemikian hebat meruntuhkan ego state-nya untuk ibadah dan taat kepada-Nya namun tidak lagi berharap upah duit banyak, namun diupah siksaan neraka juga tidak masalah.   Sedemikian hebat Ad-Dabagh ditarik ke dalam diri lain di dalam dirinya, ya karena dia sadar sepenuhnya kalau “identitasnya itu semu, ada identitas lain yang wujud nyata di dalam dirinya.   Jadi ya wajar kalau Syaikh Siti Jenar kemudian berani terang-terangan ungkapkan identitas ini. Siti Jenar lantas lahirkan konsep Manunggaling Kawula Gusti.   Identitas lain di dalam diri Anda itu punya power kuat maha dahsyat untuk mengontrol dan mengendalikan diri Anda. Cobalah Anda mencuri, pasti jantung Anda berdetak lebih keras dan lebih kencang saat Anda beraksi mencuri, itu sebenarnya kontrol dari identitas lain di dalam diri Anda bahwa perbuatan mencuri Anda itu tidak sesuai dengan identitas lain tersebut.   Dalam persoalan rezeki pun begitu. Kalau Anda menyimpan rezeki, Dia pun akan simpan rezeki-Nya untuk Anda. Kalau Anda hitung-hitungan rezeki, Dia pun akan hitung-hitungan rezeki-Nya untuk Anda.   وعن أَسماءَ بنتِ أَبي بكرٍ الصّديق رضي اللَّه عنهما قالت: قَالَ لي رسولُ اللَّه ﷺ: لا تُوكِي فيُوكَى عليكِ. وفي روايةٍ: أَنْفِقِي، أَو انْفَحِي، أَو انْضِحِي، وَلا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيكِ، وَلا تُوعِي فيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ.   “Dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah S.A.W bersabda padaku, “Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa membelanjakannya) nanti Allah akan menahan rezeki untukmu.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Belanjakanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya, nanti Allah akan berhitung rezeki kepadamu. Jangan kamu tutup rapat guci menyimpan makanan nanti Allah akan menutup rezekimu.” (H.R. Bukhari)   Punya uang 100 ribu, lalu Anda pingin sate, saking khawatirnya uang menipis, lalu Anda tahan-tahan agar uang 100 ribunya tidak boncos. Di saat itu Anda bersikap menyimpan harta, dan di saat itu pula justru Tuhan menyimpan rezeki-Nya untuk Anda.   Ketika Anda menghitung pengeluaran dan pemasukan uang Anda, di situ pun Tuhan akan menghitung masuk dan keluarnya uang Anda. Saat itu rezeki Anda jadi pas-pasan.   Kenapa itu terjadi? Karena di dalam diri Anda ada identitas lain yang lebih kuasa dari Anda. Kalau Anda hitung-hitungan uang dengan diri Anda, Dia pun menghitung rezeki-Nya untuk Anda, kalau Anda menyimpan harta Anda, Dia pun menyimpan harta-Nya untuk Anda.   Karena itu pula kalau Anda berperasaan miskin, Dia pun berikan kemiskinan kepada Anda, kalau Anda berperasaan kaya, Dia pun berikan kekayaan-Nya kepada Anda.   وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّه   “Barangsiapa merasa kaya, maka Allah akan mengkayakan-Nya.” (H.R. Muttafaq ‘Alaih)   Jadi disini menjadi jelas, kalau Anda ingin Dia dermawan kepada Anda, maka Anda harus dermawan. Kalau Anda ingin Dia pelit, ya Anda pelitlah. Kalau Anda ingin Dia irit, ya Anda iritlah. Kalau Anda ingin Dia beri kekayaan, ya Anda bersikap dan berperasaanlah kaya. Kalau Anda ingin Dia memiskinkan Anda, ya Anda bersikap dan berperasaan miskinlah. Kalau Anda ingin Dia berhitung kasih rezeki kepada Anda, ya Anda hitung-hutunglah keluar-masuknya uang Anda. Dan seterusnya.   Ya ada sistem kemanunggalan antara uang Anda dan uang-Nya, karena hakikatnya diri Anda itu semu, yang Nyata dan Ada hanya Dia.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

AKADEMI HATI; lNGAT MANUSIA ITU PENYAKIT

Kehidupan dunia itu karakternya serba salah. Miskin direndahkan dan dihina, rasanya pegel. Lalu usaha untuk berubah, eeh disepelekan dan dipandang sebelah mata. Anda dianggap orang remeh yang tidak mungkin sukses. Setelah sukses, banyak yang sakit hati dan tidak rela dengan perolehan Anda. Yang selevel suksesnya menjadi kompetitor, yang level suksesnya di bawah Anda mencoba jatuhkan Anda dengan iri dengkinya, yang level suksesnya di atas Anda masih saja menyepelekan.   Sakit hati dan pegel itu realita kehidupan dunia. Anda mengurusi dunia isinya capek dan rintangan berlapis, bertemu resiko berat, Anda mencoba hanya konsisten kepada Allah seperti dinasehatkan di dalam tasawuf, ya punya konsekuensi sama, yang muncul ujian-ujian meresahkan yang juga resiko berat. Anda menjomblo punya banyak masalah, Anda menikah juga punya masalah berat. Anda kaya dinyinyiri sombong dan bangga, Anda miskin dinyinyiri katanya tak mau usaha.   Jangankan kehidupan reel seperti di atas, bikin konten media sosial saja begitu, isinya sakit hati melulu. Konten sepi, sakit hati tidak laku, konten viral, sakit hati dicaci maki netizen, konten biasa-biasa saja, sakit hati merasa tidak puas.   Anda makan mengundang penyakit, puasa pun mengundang penyakit. Kurang air putih jadikan dehidrasi dan ginjal, minum air putih full, pipisnya seperti kran tak ditutup.   Anda pelit, uangnya mengamuk-amuk memaksa jebol, Anda dermawan eeh setelah konsisten dermawan, ujian-ujian hebat datang untuk menguji Anda ridha atau tidak dalam berbuat derma.   Anda sedang sedikit ada kelonggaran hidup, lantas nafsunya melunjak-lunjak, bangga, dengki, rakus, merendahkan orang, selanjutnya lupa diri. Setelah lupa diri, hidupnya sempit kembali. Dalam keadaan sempit hidup, Anda ingat diri, kontrol diri lebih baik, tapi hati sumpek dan penuh resah tekanan.   Anda berinteraksi sosial aktif jadi punya banyak masalah karena kebanyakan berurusan dengan orang lain, Anda membatasi pergaulan katanya sombong dan eklusif.   Anda hidup hanya bersenang-senang, hura-hura dan happy, jadinya tidak punya kemuliaan, masa depan rusak. Anda terlalu prihatin membangun masa depan, jadi mudah stres dan cepat menua karena terlalu serius. Mau dibikin biasa-biasa saja, tidak terlalu serius dan tidak terlalu senang, hasilnya di masa depan juga biasa-biasa saja.   Sumpek. Mumet. Stres. Sakit hati. Itulah isi dunia. Saya kerap menggunakan kata hikmah milik Ibn Athaillah dalam kitab Al-Hikam,   لَاتَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ اْلأَكْدَارِ مَادُمْتَ فِى هَذِهِ الدَّارِ. فَإِنَّهَا مَاأَبْرَزَتْ إِلَّا مَاهُوَ مُسْتَحِقٌّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا   “Selama engkau berada di dunia ini janganlah terkejut dengan adanya kekeruhan. Sesungguhnya kekeruhan muncul hanyalah karena memang menjadi sifat pantasnya dunia dan karakter aslinya.”   Ya tempat kekeruhan itulah keaslian karakter kehidupan dunia, makanya serba menyakitkan, menjengkelkan dan bikin geram hati.   Kenapa sedemikian menyakitlan? Karena alam dunia ini adalah alam proses. Anda mau berjalan di sisi manapun di dalam kehidupan dunia ini ketemunya resiko masalah dari karakter keruhnya dunia. Sana-sini bertemu masalah, sana-sini bikin kesal.   Dan mau berdarah-darah sehebat apapun yang namanya alam dunia ya hanya proses. Dijalani dari arah manapun finish-nya cuma satu, yaitu mati.   Di alam kematian barulah segala kekeruhan berhenti. Sesudah mati, Anda tak terkoneksi interaksi lagi dengan alam dunia, disitu Anda baru berhenti tidak menjadi masalah bagi dunia dan tidak bermasalah lagi dengan dunia.   Paling Anda tinggal dikenang di hari pertama kematian, pelayat masih ada, suasana juga masih suasana duka. Lalu Anda dikenang lagi di hari ke-3, hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100, dan hari ke-1000 dengan tahlilan seadanya, itu saja hanya di sebagian adat masyarakat. Sesudah itu secara bertahap seiring berjalannya waktu Anda dilupakan dunia.   Hanya segelintir nama manusia yang tetap dikenang oleh dunia yakni mereka yang punya nama besar, selebihnya—dan malah kebanyakan—dilupakan begitu saja oleh dunia. Paling yang masih ingat kuat cuma generasi cucu, sampai generasi buyut (keturunan ke-4), sudah banyak yang lupa nama Anda.   Bukankah begitu menyakitkan? Anda berdarah-darah hadapi kehidupan dunia ini, tidak tahunya cuma mau dikenang selimit itu. Di saat mati itulah finish, Anda mau juara atau pecundang, itulah finish-nya. Di saat mati itulah dunia baru bisa menilai Anda.   Para nabi sebegitu perih dan pilu hadapi menyebalkannya dunia, melebihi perih pilunya Anda, tetapi finish mereka seperti yang Anda kenang saat ini. Sebaliknya Qarun, finishnya juga seperti yang Anda kenang saat ini. Sebab itu tetaplah dalam kebaikan walau sepahit apapun karena finish mati itu bukan pilihan tetapi keharusan.   Karena dunia itu tempatnya kekeruhan, Anda yang hatinya sedang ingat dunia itu tandanya Anda garang, dendam, benci, ambisius, bangga, kecil hati, tega, jahat, rakus, marah, dan seabrek hati buruk lainnya sebab hati Anda disakiti terus menerus oleh dunia.   Dunia itu isinya manusia, ingat dunia itu artinya ingat manusia.   قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَوْنٍ: «ذِكْرُ النَّاسِ دَاءٌ، وَذِكْرُ اللهِ دَوَاءٌ»   “Abdullah bin ‘Aun berkata, “Ingat manusia itu penyakit. Ingat Allah itu obat.”   Ingat manusia itu penyakit, ingat Allah itu obatnya. Lalu Allah itu siapa? Allah itu mati. Anda kan berasal dari Allah, lalu saat Anda mati itu Anda pulang kepada Allah, simbolnya innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn. Sehingga ingat Allah itu salah satunya dengan ingat mati.   Saya menuliskan ini karena kemarin membaca postingan singkat Mas Arif Rahutomo dimana beliau dengan istri kalau sedang saling memendam enek hati, sedang ada sengketa rumah tangga, lantas beliau dan istri, sadar untuk ingat mati. Beliau membangun kesadaran, “Lah kami tidak tahu, mungkin esok bangun tidur saya mati karena tidak ada yang tahu kapan mati akan datang. Kalau saya masih geram-geraman dengan istri, lantas saya mati dan belum sempat minta maaf, lah betapa menyedihkan? Pagi siang malam hanya didampingi istri, mati kok dalam keadaan bermusuhan?” Dengan ingat mati begitu, lantas hati Mas Arif reda, dan kembali sadar untuk berkasih sayang.   Coba andai hanya ingat kelakuan istrinya yakni ingat manusia, ya makin benci, makin marah, makin jengkel dan lainnya.   Karena itu sebenarnya tampak jelas sekali orang yang ingat Allah dan yang tidak, yang ingat mati dan yang tidak. Tandanya lihat ekspresi respons mereka terhadap peristiwa dunia. Kalau ngotot dan habis-habisan, penuh totalitas hadapi sumpeknya dunia, ya begitu itu tanda orang ingatnya pada manusia.   Sedang benci seseorang, habis-habisan menyerang dan mempropaganda. Sedang bersaing habis-habisan berusaha mengalahkan dan menjatuhkan. Sedang punya hutang adem-adem saja tidak komitmen melunasi, padahal kalau esok dia mati, bagaimana

MEI 2023

MISKINNYA ORANG MISKIN VS MISKINNYA ORANG KAYA

Kemiskinan itu karena tidak mampu bayar. Mau beli Pepsodent tak ada uang, jadinya tidak punya alias miskin Pepsodent kan? Seperti sering saya sampaikan, dari awal kehidupan penyebab miskin memang karena lemahnya daya bayar seseorang.   Katanya punya cita-cita ingin rezeki lancar, lah dagang baru 3 bulan sudah berhenti dengan alasan ini itu, dia tidak kuat membayar harga cita-cita ingin rezeki lancar. Katanya ingin punya masa depan cerah, eeh disuruh sekolah malah sibuk dengan cinta dan asmara, ia tidak kuat membayarnya. Katanya punya keinginan jadi orang shaleh, eeh Tahajud 2 minggu sudah terhenti, dia tidak kuat membayar. Katanya ingin naik jabatan, eeh sering bolos kerja, dia tidak lunas membayar. Dan seterusnya.   Semua kemiskian karena lemahnya daya beli, lemahnya daya bayar, persis sama seperti keinginan Anda memiliki kekayaan berupa Pepsodent.   Lebih miskin lagi ketika harus hutang dan tidak mampu melunasi. Ini sudah kemiskinan level tinggi, karena tidak hanya kebutuhan hidupnya yang tak terbeli dan terbayar, namun malah ia ambil milik orang lain untuk mencukupinya. Jika ia tetap tidak sanggup melunasi hutangnya, ya sudah ia tidak sekedar tidak memiliki apa yang belum dia bayar, namun malahan ia harus kehilangan apa yang sudah dimiliki guna bayari energi hutang yang belum terbayar.   Jadi itulah miskinnya orang miskin itu daya bayar dan beli yang memang lemah.   Beda dengan level miskinnya orang kaya. Orang kaya itu daya beli dan bayarnya tinggi. Mau miliki mobil, dia sanggup membayarnya, mau miliki tanah, dia juga sanggup membayarnya.   Demikian pula sejak awal kehidupan daya bayar dan belinya dengan kehidupan juga tinggi. Mereka punya cita-cita apapun pantang menyerah dengan kendala dan kesulitan. Sebuah keinginan dibutuhkan disiplin waktu, mereka membayarnya lunas dengan benar-benar disiplin waktu.   Punya cita-cita menjadi orang terhormat dengan ilmu, mereka konsisten sekolah dan belajar, relakan hidup mereka menjadi kutu buku. Punya-punya cita-cita jadi pengusaha, ya benar-benar dijalani konsisten dari nol dengan kreatif, inovatif, amanah, dan terus mau belajar.   Dan ketika punya cita-cita ingin diterima taubatnya oleh Tuhan juga demikian, mereka konsisten membayarnya dengan lunas, ibarat ditugasi shalat Taubat dan istighfar tiap hari ya betul-betul dijalani dengan keteguhan konsistensi. Dengan waktu sangat menghargai, dengan amanah sangat menghargai. Orang kaya itu tinggi daya bayarnya sehingga daya belinya juga tinggi.   Lalu dimana kemiskinannya orang kaya? Begini, berada di puncak gunung yang tinggi itu susah sekali untuk merasa, mendengar dan mengetahui keadaan di bawah. Padahal apa iya ada kehidupan kongkrit di puncak gunung? Misal di puncak gunung Lawu, apa di sana ada perumahan warga? Ada sinyal handphone? Ada pasar? Tidak ada. Realita kehidupan konkrit ya di lereng gunung Lawu dan di dataran rendahnya.   Makanya orang kaya itu kerap terjebak ekpektasi tinggi akan dirinya, bahwa dirinya sangat berharga, dirinya sangat baik, dirinya tak terkalahkan, dan lainnya. Dari keadaan hati itulah dia kemudian seperti tuli dan buta untuk melihat kehidupan konkrit di bawah.   Karenanya bicaranya tinggi, punya percaya diri tinggi, karena memang hati mereka sedang berada di ketinggian, mereka merasa kuasa mengatur, kuasa mengendalikan, mengontrol dan memimpin, dan merasa berprestasi.   Nah kondisi hati ini yang kalau tidak terkontrol bisa jadikan mereka turun ke area bawah, menjadi kemiskinan, sebab sesuatu yang sudah berada di ketinggian tidak ada pilihan lain selain turun ke bawah. Kalau mereka tidak menyadari, ya alam semesta akan memaksa mereka turun. Gampangnya, situasi hati tinggi yang tidak terkontrol akan menarik mereka dalam kemiskinan nyata.   Mereka sedekah tapi dengan getaran kebanggaan diri. Mereka membantu orang tetapi dengan getaran menyombongkan diri. Mereka peduli tetapi ego tinggi mereka tampak sekali.   Sehingga kemiskinan orang kaya itu kerap karena frekuensi getaran hati yang berada dalam ketinggian, tidak mampu mendengar realita konkrit kehidupan di bawah. Di titik itu mereka sebenarnya kerap sakit hati dan kecewa sendiri sebab cuaca di puncak gunung tertinggi tidaklah kondusif untuk bisa membangun lingkungan hidup yang normal.   Mereka merasa sangat berharga tapi ternyata banyak yang membenci, mereka merasa sangat gemar bantu orang lain tapi sambutan orang atas kebaikannya malah cibiran.   Mereka pun kerap marah, kerap tersinggung, kerap merendahkan orang, dan lainnya. Jika sudah di situasi begitu itu tanda cuaca di hatinya tidak layak lagi dihuni sebagai lingkungan normal untuk hidup.   Mereka tidak mampu mendengar dan merasa, ada apa sebenarnya, kok banyak yang menentang dan menjauhinya? Ia tidak sadar kalau omongan tingginya, sedekah dan dermawannya yang karena rasa bangga, rasa berprestasinya sehingga merasa tidak layak dikontrol dan dikendalikan orang lain, itu penyebab mereka sakit hati dan kecewa sendiri.   Rasanya selalu geram dan ingin marah ketika temui sesuatu yang tidak berkenan di hatinya, rasanya selalu enek dan sakit hati ketika ada sedikit saja yang menyinggung prinsip-prinsipnya, rasanya selalu gelisah hati karena dimana-mana kedudukan dan prestasinya tidak bisa jadikan ia berharga, ia persis orang buta dan tuli yang tidak dapat melihat dan mendengar penyebab kegaduhan sebenarnya. Dan itu adalah kemiskinan barunya.   Saat itu sebenarnya obatnya hanya menurunkan ketinggian hatinya, harus bangun rasa sadar kalau ia hanya setitik air mani hina (nuthfah).   أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِىٍّ يُمْنَىٰ   “Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim).” (Q.S. Al-Qiyamah : 37)   Turunkan hatinya sehingga ia bersedia dengan rela diinjak, bersedia dengan rela direndahkan, bersedia dengan rela tidak berharga, bersedia dengan rela untuk sadar sebagai makhluk hina dari setetes air mani hina.   Anda merasa orang kaya berkedudukan lantas bersedia dengan rela dan ridha direndahkan, disitu Anda baru akan bisa merasakan ketenangan dan ketenteraman hati.   Karena itu sebaik-baik hati orang kaya berkedudukan itu adalah orang kaya yang berkata, “Mengalah itu sebaik-baik jalan keluar.”   Orang kaya susah untuk lemah, sebab itu kalau ia berprinsip mengalah pasti pemicunya bukan karena rasa lemah tapi karena ia sadar pentingnya hati berada di bawah. Hati di bawah tidak ada pilihan lain selain terangkat naik, hati di ketinggian tidak ada pilihan lain selain harus turun ke bawah.   Anda duitnya banyak? Anda kedudukannya tinggi? Anda pengaruhnya besar? Saya percaya Anda orang kaya bahagia kalau kemudian mau mengalah, bersedia dihina dan direndahkan.   Sebaliknya, Anda kaya tapi marah-marah ketika direndahkan dan dihinakan, apalagi ngamuk-ngamuk, itu tanda Anda kaya tapi ada ketidakbahagiaan.   Hai

MEI 2023

SPIRITUAL TAJIR;

Nasehat Spiritual Prosperity Syaikh Abu Hasan Asy-Syadzili Oleh Halim Ambiya   Makan, minum dan tidurlah dengan nikmat, lalu bersyukurlah kepada Allah dengan kesungguhan. Ajaklah jiwa dan ragamu bersyukur atas nikmat Allah yang dahsyat.   Jangan sampai seumur hidup kita menikmati dunia yang biasa-biasa saja, lalu bersyukur dengan biasa-biasa saja atau bahkan tidak menerimanya dengan ridha. Sebaliknya, berusahalah menikmati dan menyukuri apa yang sudah Allah anugerahkan. Yakinlah bahwa semua anugerah-Nya luar biasa.   Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili berkata:   كلوا من أطيب الطعام واشربوا من ألذ الشراب وناموا على أوطأ الفراش والبسوا ألين الثياب فإن أحدكم إذا فعل ذلك وقال الحمد لله يستجيب كل عضو فيه للشكر   “Makanlah hidangan paling enak, teguklah minuman paling nikmat, berbaringlah di atas kasur terbaik, kenakanlah pakaian dengan bahan paling lembut. Jika satu dari kalian melakukannya lalu berucap syukur, ‘Alhamdulillah’, maka setiap anggota tubuhnya ikut menyatakan syukur.”   Menurut Syekh Asy-Syadzili, sikap rasa syukur pada kenikmatan seperti itu justru berbeda dengan seseorang mengonsumsi sekadar roti gandum yang tak sedap, atau seperti berpakaian dengan bahan karung yang kasar, tidur hanya beralas tanah, lalu berucap, “Aalhamdulillah,” tapi dengan perasaan ketidaksudian, menggerutu dan perasaan dongkol terhadap takdir Allah.   Menurut Syekh, dari sisi batin, dia akan mendapati dosa ketidaksudian dan kedongkolan di dalam hatinya itu lebih besar dibanding dosa mereka yang sungguh-sungguh menikmati dunia.   Karena itu, mereka yang menikmati dunia sungguh-sungguh itu melakukan apa yang memang sesungguhnya mubah. Sedangkan orang yang merasa tidak sudi dan dongkol (karena tidak ikhlas dan ridha) melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah S.W.T.   Disarikan dari kitab Minahus Saniyyah karya Syekh Abdul Wahhab Sya’rani.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

KESADARAN MELIPATGANDA REZEKI

وَمَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ وَتَثْبِيْتًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۢ بِرَبْوَةٍ اَصَابَهَا وَابِلٌ فَاٰتَتْ اُكُلَهَا ضِعْفَيْنِۚ فَاِنْ لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ   “Dan perumpamaan orang yang membelanjakan hartanya untuk meraih ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah : 265)   Ada 2 kesadaran yang diajarkan Al-Qur’an agar rezeki yang Anda keluarkan berbuah rezeki yang lebat; – Kesadaran ibtighâ’a nardhâti-llâh (meraih ridha Allah) – Kesadaran tatsbîtan min anfusihim (meneguhkan jiwa).   Satu ketika ayah saya masuk rumah sakit, tentu butuh biaya banyak, saya sendiri sedang ada kebutuhan lumayan besar, dan saya hanya pegang uang yang cukup untuk biayai ayah di rumah sakit. Begitu dengar berita tersebut saya langsung tersadar, “Orang tua saya lebih mulia dari harta saya. Maka harta saya harus digunakan untuk muliakan orang tua, bukan orang tua saya dimuliakan sewajarnya hanya demi keutuhan harta saya.” Lantas saya pilihkan kamar VVIP terbaik. Dan betul, uang saya ludes untuk biaya rumah sakit. Kebutuhan dekat saya sendiri cuma bisa digigitkan jari.   Saya kalau bertemu guru dan kyai saya selalu merogoh isi dompet terbaik. Kesadaran saya hanya, “Guru itu murabbi rûhî (pembimbing ruh saya). Harta saya harus saya sampahkan di depan guru. Bukan malahan harta saya diutuhkan dan guru tidak dimuliakan.”   Pas hari Maulid Nabi S.A.W kemarin, saat pembacaan Al-Barzanjî di masjid, saya hadir utuh dengan segenap kesadaran rasa saya untuk muliakan Nabi S.A.W. Sepulang ke rumah masih merasa rindu untuk muliakan Nabi S.A.W, saya pun ambil lembaran uang merah Soekarno Hatta, lalu saya bagikan pada para santri yang khidmah pada saya. Saya masukan amplop dan amplopnya saya tulisi ihtifâl bi maulidir rasûl (merayakan maulid rasul).   Di atas adalah contoh mengeluarkan harta dengan kesadaran ibtighâ’a mardhâti-llâh (meraih ridha Allah).   Namun sampai ke tahap kesadaran ini kerap susah, apalagi bagi Anda yang masih didominasi nafsu duniawi. Lihat cewek cantik saja masih menghayati, lihat BLT di kantor desa masih ijo matanya, lihat orang kaya masih ingin menumpang atau menjilat, istri sendiri dibentak-bentak cewek dijalanan disayang-sayang, dan seterusnya. Masuk ke wilayah kesadaran spiritual begini, Anda harus melatih diri untuk takut kepada Allah. Ya landasannya kesadaran takwa.   Jika sudah terlatih takwa, nafsu menjadi luruh dan tunduk, di saat itu kesadaran Anda akan melihat hal-hal spiritual di balik peristiwa masuk dan keluarnya uang.   Di titik kesadaran tersebut, Anda makin malas urusi uang, justru seolah Tuhan tidak lagi perkenankan Anda kekurangan uang. Ya rezeki yang Anda keluarkan untuk bayar ini dan itu, untuk nyah-nyoh sana-sini, sudah seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat.   Kok saya bilang begitu? Ya itu yang terjadi pada diri saya, di antara contoh kecilnya kasus-kasus spiritual seperti yang saya sebutkan di atas. Sebenarnya saya makin pemalas, tapi tidak tahu, tetangga kanan-kiri bilang saya makin kaya.   Belum lagi keajaiban-keajaiban rezeki yang kontan dibayarkan oleh Allah sesudah saya bertindak keluarkan duit dengan kesadaran ibtighâ’a mardhâti-llâh (meraih ridha Allah).   Pamer ya saya ini? Kalau tidak pamer ya susah mengajarkannya kepada Anda, kan?   Takwa! Takut kepada Allah! Halal dan haram dijaga sepenuhnya! Jangan maksiat melulu! Jangan suka menyakiti dan merugikan orang lain! Itu syarat sampai di wilayah rezeki ini.   Kesadaran kedua dalam membelanjakan harta agar berbuah rezeki lebat ialah kesadaran tatsbîtan min anfusihim (meneguhkan jiwa).   Saya beri contoh. Saya waktu masih miskin, keluar uang 150 ribu untuk sekali makan di restorant itu sakit hati sekali. Tapi saya sadar, tidak mungkin kalau sakit hati terus dengan 150 ribu untuk ngresto, saya budak duit dan level jajan saya tidak akan naik-naik ke level orang kaya. Ingin kaya kok jajannya masih saja level mie ayam dan roket chicken, lalu kapan saya di level orang kaya?   Sadar itu saya paksa biasakan masuk restorant mewah, namun tentu tetap melihat keseimbangan finansial saya. Di situ tindakan saya hura-hura, mewah-mewahan, tetapi kesadaran saya sedang meneguhkan jiwa yakni memberdayakan diri agar berubah nasib finansialnya.   Hasilnya? Ya benar kata Al-Qur’an, rezeki saya dari hari ke hari berbuah lebat.   Contoh lain, rumah saya masih kecil dan sederhana karena rumah sisa miskin 35 tahun. Setiap saya masuk rumah ada rasa mengeluh. Mau direnovasi masih ada hal lain yang mengganjal, intinya masih harus menunggu sesuatu yang harus sinergi.   Akhirnya saya beli bonsai yang mahal-mahal, yang angkanya menabrak kelumrahan belanja tanaman hias orang kampung. Tujuannya ketika saya masuk lingkungan rumah saya sendiri, saya bisa mengunggah rasa kaya kepada-Nya karena saksikan bonsai mahal, bukan mengunggah rasa miskin karena rumah masih kecil.   Ya keluarga saya komentari, “Hallah. Baru saja kaya sudah wah-wahan, sok-sokan!” Saya cuma membatin, “Wah-wahan matamu! Ndasmu!”   Ya saya membatin kasar begitu karena sepenuhnya saya sadar kalau saya sedang belanjakan harta untuk tatsbîtan min anfusihim yakni untuk memberdayakan diri.   Dan yang komentar saya wah-wahan di atas, sekarang cuma bisa cengar-cengir muka pucat, hati tersayat saksikan rezeki saya dari hari ke hari makin moncer.   Contoh lain lagi, karena biasa bergaul dengan dunia pemberdayaan diri, saya biasa amalkan ilmu-ilmu mental pemberdayaan finansial, seperti mobil pakai Pertamax Turbo, tabung gas malas warna hijau, baju, sandal dan aksesoris badan latihan dinaikan level brandnya, belanja harian, jajan makanan, semuanya saya naik-naikan level angkanya agar servo prosperity-nya naik. Tapi itu, kesadaran saya bukan wah-wahan, bukan hedon, bukan gaya-gayaan, murni karena ingin memberdayakan diri, meneguhkan jiwa saya.   Dan memang, prakteknya saya wah-wahan dan boros, hasilnya rezeki makin lebat turunnya.   Contoh lagi, saya capek disorot orang terpuruk oleh tetangga, karena ada hukum gaung di alam semesta ini. Kalau saya gaungkan keterpurukan, lalu tetangga menyangka saya orang terpuruk, respons gaungnya juga saya akan makin terpuruk, karena hakikatnya gaung tetangga adalah doa. Akhirnya, di garasi mobil saya—yang kebetulan garasi saya,terbuka—selalu saya pasang 2 mobil bertengger.   Kelakuan begitu ya pamer, ya sombong, ya congkak, tapi kesadaran saya betul-betul ingin

MEI 2023

BEGINI AKSES RASA SAAT BERBAGI DENGAN DHUAFA

Kerap saya ajarkan, Anda kalau berbagi dengan kaum dhuafa karena rasa kasihan, di situ Anda menghina dan merendahkannya. Karena derajat uang jauh lebih rendah dari derajat si dhuafa sebagai manusia.   Manusia sebagai ahsani taqwîm (makhluk sempurna) adalah derajat tertinggi, kok dikasihani dengan uang, ya bukan derajat uang mengasihani, sama saja ada mobil Toyota Avanza mengasihani Toyota Alphard ya bukan derajatnya.   Sebab itu kalau uang dipakai untuk mengasihani manusia itu menghina dan merendahkan derajatnya.   Berbagi dengan akses rasa ini jadikan diri Anda susah berubah, baik berubah secara spiritual maupun finansial. Banyak orang dermawan namun hidupnya makin amblas dan kedusahan, di antara sebabnya karena dermawannya dipicu rasa kasihan, akhirnya ia pun kerap membelaskasihani orang lain dengan uang.   Berbagi harta dengan akses rasa kasihan ya dapat pahala besar karena telah membantu orang lain, hanya saja efek perubahan hidup untuk diri Anda yang drop sebab Anda bukannya mengangkat derajat manusia dengan harta, namun sebaliknya.   Lalu akses rasa yang tepat itu akses rasa apa?   Pertama, akses rasa kaya.   Nabi S.A.W menyebutnya berbagi dengan “zhahril ghinâ” (punggung kaya).   الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ   “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu dan sebaik-baik sedekah itu dari punggung kekayaan. Barangsiapa yang memelihara dirinya, Allah akan memeliharanya dan barangsiapa yang merasa kaya, Allah akan mengkayakannya”. (H.R. Bukhari)   Di akses rasa ini, Anda tidak mengangkat derajat si dhuafa penerima sedekah, namun Anda mengangkat derajat Anda sendiri di depan uang.   Model akses rasa begini adalah model akses rasa yang dimiliki oleh para hartawan, makanya mereka makin edan-edanan berbagi, mereka makin kaya raya saja, sebab berbaginya mereka dipicu oleh rasa kaya.   Kedua, akses rasa “ngalap berkah”.   Keunggulan dhuafa itu hatinya lentur dan mudah mengalah. Mereka merasa lemah, tidak terbiasa bekuasa, tidak terbiasa dominatif, tidak terbiasa punya kebanggaan, sehingga hati mereka lentur, mereka terbiasa dipaksa kehidupan untuk mengalah.   Saya tidak menyebutnya berhati lembut, karena hati lembut juga banyak dimiliki oleh orang-orang yang telah mencapai wisdom kebijaksanaan, mereka kerap congkak dan keras kepala, galak dan sok kuasa, tapi semua dilatarbelakangi kebijaksanaan, hati mereka yang sebenarnya sangatlah lembut penuh bijak.   Para dhuafa itu berhati lentur, mudah mengalah, mudah menerima, mudah dikuasai, sehingga mereka akrab dengan keluasan hati. Jujur saja, miskin pun ada keunggulannya yakni luas hati.   أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ   “Maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni surga? Yaitu setiap orang lemah dan diremehkan, yang sekiranya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya. Dan maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang kasar, rakus dan kikir, lagi sombong.” (H.R. Bukhari & Muslim)   Namun Anda tidak perlu lah bercita-cita masuk surga dengan modal miskin. Lah buat apa? Nabi Sulaiman yang kaya raya penuh kemewahan, istri sampai 1000 ribu saja masuk surga, buat apa pakai jalan miskin?   Hanya saja, saya akui orang miskin itu luas hatinya karena keadaan lemahnya. Karena itu potensi mereka mencapai derajat sabar sangat besar. Biasanya sumpah supata mereka kerap mudah diijabah, sekali mengutuk langsung kejadian, sumpah mereka didengarkan Allah. Karena keunggulan ini, mereka ada berkahnya.   Awal pandemi Corona, dalam beberapa bulan saya berbagi dengan kaum dhuafa, tentu saya mulai dari family terdekat. Saya berbagi bukan karena saya belas kasihan, tapi saya sadar ingin “ngalap berkah”, karena mereka unggul dalam keluasan dan kelenturan, unggul melatih diri dalam kesabaran menghadapi lemahnya hidup mereka.   Tidak saya sangka, dunia sedang teriak susah duit karena pandemi Corona, eeh saya malah naik penghasilan.   Simpulnya, saat Anda berbagi dengan sesama jangan akses uang itu lebih unggul dari manusia, akses lah rasa-rasa yang menempatkan derajat manusia lebih tinggi dari uang.   Yang kerap saya unggah dua rasa di atas, yakni pertama rasa kaya atau yang kedua rasa “ngalap berkah”.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

Scroll to Top