Author name: gus banan

MEI 2023

2 HAL PERUSAK REZEKI MENURUT NABI S.A.W

  عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنْفِقِي وَلَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَلَا تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ   “Dari Asma’ bahwa Rasulullah S.A.W bersabda, “Belanjakanlah (hartamu) dan jangan kamu hitung-hitung karena nanti Allah akan berhitung kepadamu dan jangan kamu tutup rapat guci tempat menyimpan makanan karena nanti Allah akan menutup rezekimu”. (H.R. Bukhari)   Hadits di atas jelas sekali menerangkan, perusak rezeki itu ada 2;   1. Menghitung-hitung ketat keluar-masuknya uang.   Rezeki itu diunduh dengan perasaan, bukan pakai ilmu, bukan pakai tenaga, bukan pakai pikiran, bukan pakai talent, bukan pakai kerja, bukan pakai marketing, tapi pakai perasaan. Karena itu yang didorongkan untuk melimpahkan rezeki adalah rasa syukur, rasa tawakal, rasa takwa.   Karakter perasaan itu karakter qalbu (hati). Hati berkarakter muqallib atau gonta-ganti rasa. Apa Anda bisa merencana berapa persen cinta Anda pada suami di nanti sore? Bisa-bisa Anda merencana cinta, malah nemunya marah lalu bertengkar.   Artinya Anda tidak punya kemampuan mengontrol perasaan, sore direncana cinta mati pada suami ternyata dapatkan kemarahan, siapa bisa menjadwalkan situasi perasaan?   Perasaan juga tidak ada takaran volumenya, Anda tidak bisa mengukur pakai kilometer, kubik, celcius, persen, dan seterusnya. Artinya karakter perasaan itu tidak dapat diukur dan dianggarkan. Perasaan sangat berbalik karakter dengan uang. Kalau uang karakternya bisa dihitung, dikurs, dikalkulasi, dijumlah, bahkan bisa direncanakan dan dianggarkan.   Uang bisa dihitung-hitung dan direncanakan karena benda material, namun timba yang digunakan mengunduh uang adalah perasaan yang karakternya berbalik. Makanya kalau Anda suka menghitung-hitung keluar-masuknya uang, perasaan Anda jadi matre, perasaan jadinya dibatasi oleh uang, dipengaruhi oleh karakter uang.   Kalau uang bisa dihitung, sementara alat pengunduhnya adalah perasaan yang sudah dipengaruhi oleh uang yang terbatas, akhirnya perasaan itu terunggah kepada Allah sebagai “zhann”; sebagai persangkaan kepada-Nya, padahal Tuhan sesuai persangkaan hamba kepada-Nya. Kalau Anda berhitung uang kepada-Nya, rezeki yang diturunkan-Nya juga sesuai hitungan Anda.   Sehingga jelas, di sini Nabi S.A.W berpesan,   وَلَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ   “Janganlah kamu hitung-hitung, nanti Allah akan berhitung kepadamu.”   Saya sudah lama tidak pernah lagi perhatikan nota pembayaran, lama tidak tahu harga-harga. Nota pembayaran cuma saya terima, lalu tanpa saya lihat apalagi saya perhatikan, terus saya buang.   Memperhatikan harga-harga itu sangat membatasi persangkaan Anda pada rezeki berlimpah kepada-Nya.   Ada orang yang gemar audit keuangan rutin tiap bulan, diingat-ingat uang yang keluar kemana saja, uang yang masuk darimana saja, hapal sekali itu warung mahal, itu warung murah, hapal harga-harga barang. Akhir bulan kumpul-kumpulkan nota, lalu dicek ada cashflow apa tidak. Kesalahan belanja dimana, kesalahan pengeluaran dimana, semua diaudit.   Hehehe Allah yang turunkan rezeki oleh Anda diperlakukan seperti barang dagangan yang harus diaudit marketingnya.   Kalau Anda hitung-hitung dengan Allah, Dia akan berhitung sesuai prasangka Anda kepada-Nya.   Hitung-hitung atau ilmu tentang kalkulasi, arus kas, cashflow, dan lain-lain itu ilmu bisnis. Kalau dalam dagang harus dihitung dan diaudit. Tapi kalau untuk uang pribadi, emang Anda sedang dagang kepada Tuhan?   2. Menutup rapat guci makanan, artinya menyimpan harta.   Bukan karakter harta disimpan, karakternya justru dialirkan.   Allah Maha Al-Ghaniyy, Dia Maha Kaya karena Dia selalu alirkan rezeki-Nya untuk semua makhluk-Nya. Rezeki di sisi-Nya hingga tak tersisa karena dialirkan semua. Namun keadaan itu justru jadikan Dia Maha Kaya.   Karena itu wirausaha adalah model cari rezeki yang paling banyak hasilkan uang. Sebab dalam wirausaha penuh resiko pembayaran, resiko alirkan uang. Harus kulakan, harus bayar karyawan, harus bayar pajak, harus biayai promosi, harus modal ini dan itu, uang terus saja mengalir.   Masjid uangnya sedikit, karena sistem keuangan masjid terbatas, karena memang masjid tjdak bertujuan bisnis. Paling biayai listrik dan air. Tidak ada sistem gaji untuk imam, khatib, muadzin, dan lain-lain. Uang tidak banyak mengalir, akhirnya uang masjid terbatas.   Karena itu cara miskin ya gemarlah menghambat aliran rezeki, disimpan-simpan, diirit-iritkan, dipelit-pelitkan, dan seterusnya. Itu maksud dari,   وَلَا تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ   “Jangan kamu tutup rapat guci tempat menyimpan makanan karena nanti Allah akan menutup rezekimu”.   Dalam hadits lain,   لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ   “Janganlah engkau menyimpan harta, nanti Allah akan menahan rezeki untukmu.” (H.R. Bukhari)   Ingat ya? Uang iti jangan dihitung-hitung kecuali urusan bisnis. Dan jangan disimpan. Saran Nabi S.A.W dalam hadits di atas, harta itu harus “Anfiqî!” artinya “belanjakanlah”. Belanja untuk cukupi kebutuhan diri sendiri dulu, baru sedekah untuk orang lain. Itu cara rezeki dimudahkan.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Word Servo Prosperity Online Class

MEI 2023

HARTA ITU DOMINASI ANASIR TANAH, BAGAIMANA MENGAKSESNYA?

Uang, emas, perak, berlian, permata, besi, minyak bumi, dan semua benda-benda hartawi itu bentukan energi tanah. Iya, apa emas terbentuk dari unsur bahan dasar api? Tentu itu unsur anasir tanah.   Karena itu harta benda juga maunya mendekat kepada Anda yang punya energi anasir tanah dominan.   Di antara karakter unsur energi anasir tanah itu sebagai berikut;   1. Tanah itu tempat berpijak.   Kalau tidak ditopang oleh tanah, Anda semua amblas ke bawah. Karena itu, harta benda mendekatnya kepada Anda yang punya keberanian menjadi topangan hidup orang lain.   Biasanya suami itu topangan hidup keluarganya, karena dalam 1 keluarga biasanya rezeki yang paling deras ya rezekinya suami. Suami ketika dia masih bujangan, rezekinya stagnan, justru setelah menikah dan menjadi topangan hidup banyak orang, ia malahan jadi meningkat hartanya, itu karena setelah menikah ia mendekat kepada energi anasir tanah.   Bos itu hartanya banyak karena menjadi topangan hidup banyak karyawan. Pejabat politik semacam kades, bupati, gubernur, presiden juga hartanya banyak walaupun gajinya kecil, itu karena mereka sesuai levelnya masing-masing menjadi topangan kesejahteraan rakyatnya. Direktur, manager, kepala suka dan seterusnya juga begitu, sesuai peran mereka masing-masing, mereka menjadi topangan hidup banyak orang.   Karena itu pengecut yang tidak mau menanggung banyak resiko menjadi topangan hidup banyak orang, dia ya stagnan saja rezekinya.   2. Tanah itu diinjak-injak tapi tidak merasa menjadi korban.   Anda yang punya hoki rezeki tinggi itu Anda yang punya kualitas baik menanggung beban ujian hidup, karena ujian hidup itu hakikatnya injakan.   Kalau menyimak perjalanan hidup Yusuf Hamka dan Jack Ma, mereka semua punya riwayat tangis pilu masa lalu yang bikin haru-biru, namun mereka tangguh menghadapinya.   Penjahat itu memahami orang-orang yang layak jadi korbannya, mereka paham mentalitas yang layak jadi korban, seperti penakut, ragu-ragu, dan lemah hati.  Mental-mental beginilah yang mereka makan lahap.   Nah Anda yang punya energi anasir tanah kuat, itu Anda yang tekanan injakan hidupnya lumayan hebat, namun Anda tidak pernah merasa menjadi korban hidup.   Kalau hidup isinya mengeluh, merasa penuh derita, merasa termiskin di dunia, pesimis, sedih, putus asaan, ya energi anasir tanahnya lemah, dan harta yang bendawi ini pun enggan mendatangi.   Sabar, tangguh, tawakal, berani, itulah karakter tanah yang selalu diinjak-injak tapi tidak merasa menjadi korban.   3. Menerima dan terus memberi.   Anasir bumi atau tanah berkarakter menerima apapun yang dikenakan padanya (tanah/bumi).   Semua kehidupan ada pada tanah, manusia membuang kotoran (maaf buang air besar kecil, sampah, laku manusia semua ada di atas bumi/tanah tidak pernah ada protes diperlakukan apapun, bahkan ketika matipun “manusia membusuk” tanah/bumi menerima dengan iklas tanpa protes apapun.   Maka energi anasir bumi/tanah adalah kegunaan manusia hidup adalah memberi terbaik dan yang paling baik. Akhirnya dengan sikap mental memberi ini tanah memiliki pesan moral pada manusia “hidup hendaklah memberi apapun, sekalipun diperlakukan dengan tidak baik atau tidak adil”; karena barangsiapa memberi kehidupan ia akan menerima kehidupan demikian sebaliknya.   4. Bersedia menjadi ibu.   Tanah itu unsur ibu yang menjadi bibit anak-pinak. Tanah bersedia dicurahi air, dicurahi angin, curahi sinar matahari, dan seterusnya sehingga ia menjadi produktif menghasilkan. Persis ibu.   Anda yang berkarakter anasir tanah baik itu adalah Anda yang produktif. Karena itu harta enggan seenggan-enggannya mendekat kepada Anda yang pemalas dan penunda, Anda yang bermazhab “nanti-nanti” itu sangat dienggani harta.   Di atas baru 4 karakter, selanjutnya Anda bisa kembangkan sendiri.   Ketiga anasir alam lainnya yakni api, angin dan air itu dalam soal menghadirkan harza itu hanya energi pelengkap saja supaya makin seimbang, yakni;   • Anasir api.   Kurang energi anasir api Anda bisa mati semacam tanaman yang kurang sinar matahari. Terlalu mengalah, terlalu pendiam, terlalu kalem, terlalu nerimanan, terlalu banyak berkorban, itu tanda-tanda Anda kurang anasir api. Kurang panas Anda mati. Dan yang diwaspadai api itu membakar. Kalau Anda kebesaran api, harta Anda bisa habis terbakar. Anasir api ini adalah sombong dan besar diri.   • Anasir air.   Kebanyakan air tumbuhan tanamannya busuk. Mengalah terus, legawa terus, ya akar hidup Anda membusuk. Sekali-kali harus berani sombong dan berani.   Namun kurang air ya gersang. Sombong dan besar diri tidak terkontrol ya Anda gersang terbakar, kekurangan anasir air.   • Anasir angin   Angin itu tidak bisa menetap. Saat Anda tidak bisa tetapkan sikap, sedang bimbang, itu Anda sedang dominan di energi anasir angin.   Jadi kebanyakan bimbang, plin-plan, suka khianat, tidak tepati janji, itu menjauhkan harta dari tubuh Anda karena kegedean anasir angin.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

MINDSETT KEKAYAAN BAGI PEMBOROS

Kalau Anda masuk toko handphone bayarkan uang 1 juta, Anda cuma dapatkan handphone ram 3/32 GB. Hanphone begini baru unduh 2 aplikasi handphone sudah penuh ditambah super lelet.   Namun kalau Anda bawa uang 22 jutaan, Anda dapatkan handphone ram 12/512 GB. Leluasa simpan video, leluasa unduh aplikasi, kamera jernih berkualitas, anti lelet, dan tentu merasa eklusif.   Jadi hukum pasar alam semesta itu berbunyi, “Kualitas hidup yang Anda peroleh itu sesuai kualitas yang Anda bayarkan.” Membayar itu Anda keluarkan sesuatu dari diri Anda kepada orang lain. Setelah Anda keluarkan sesuatu dari diri Anda kepada orang lain, baru kemudian Anda menerima sesuatu yang sesuai dengan apa yang Anda keluarkan. Kalau mau bayar tinggi, tentu apa yang Anda terima juga makin berkualitas.   Kalau Anda mau terima rezeki dari toko, Anda harus keluarkan sesuatu lebih dulu kepada orang lain. Anda harus beli, atau membangun, atau sewa ruko lebih dulu. Lalu Anda harus punya uang untuk kulakan dan lengkapi fasilitas jual beli di toko. Semua itu disebut modal.   Modal itu sebenarnya Anda mengeluarkan sesuatu dari diri Anda kepada orang lain. Semakin modalnya besar, keuntungan yang bisa Anda ambil dari toko makin besar. Keuntungan yang bisa diambil dari penjual bensin eceran yang modal ratusan ribu dengan SPBU yang modal milyaran, tentu beda jauh. Itu karena beda modal.   Jadi modal itu adalah apa yang Anda bayarkan ke alam semesta ini.   Karena itu kesuksesan selalu menanyakan jerih payah Anda, makin tinggi jerih payahnya biasanya sukses perolehannya juga makin gemilang. Ketika Anda sedang berjerih payah itu hakikatnya Anda sedang membayar lebih dulu ke alam semesta, sedang keluarkan modal, hanya saja modal dalam bentuk non material.   Nah kalau Anda belanja, lalu membayar, itu sebenarnya Anda sedang mengeluarkan sesuatu untuk membayar orang lain alias keluar modal. Kalau modal toko makin besar, keuntungan yang ditarik juga makin besar, maka belanja di dalam hidup Anda juga hakikatnya begitu, makin gede nilai belanja, maka kekayaan yang dapat Anda tarik juga makin besar.   Lihat saja orang kaya, belanja rumah harganya milyaran, belanja mobil harganya milyaran, belanja tanah harganya milyaran, belanja tas saja harganya ratusan juta. Bukankah mereka makin kaya raya?   Lah orang miskin, beli rumah di bawah 10 juta, beli kendaraan di bawah 5 juta, beli baju di bawah 100 ribu. Bukankah mereka tetap seret saja rezekinya?   Itu karena antara orang kaya dan orang miskin selisih kapasitas dalam pengeluaran yang dapat mereka bayarkan kepada orang lain, alias selisih kemampuan kapasitas belanja.   Jadi pada dasarnya semua pengeluaran itu penarik rezeki, makin besar pengeluarannya, makin besar pula kekayaan yang bisa ditarik.   Jadi orang terbodoh itu orang irit dan pelit yang ingin kaya. Bodoh. Pengeluaran diperkecil artinya modal diperkecil, lalu mau jualan apa? Kalau tidak ada yang dijual, bagaimana bisa peroleh laba? Bodoh.   Nah disini, pemboros sebenarnya punya keunggulan luar biasa untuk kaya, karena pemboros itu artinya kerap membayar, kerap keluarkan sesuatu dari dirinya untuk orang lain, potensi berani modalnya itu bagus. Peluang mereka untuk peroleh rezeki berlimpah juga sebenarnya sangat baik, karena punya modal besar, peluang untuk tarik laba kekayaan juga sangat besar.   Selamat untuk Anda para pemboros!   Namun kenapa banyak juga para pemboros yang jadikan mereka terpuruk rezekinya?   Itu karena mereka disabotase oleh beberapa hal. Di antaranya;   1. Rasa bersalah boros.   Ya realitanya boros memang teman setan, tapi boros yang tidak memberdayakan, sehingga harta yang dikeluarkan cenderung mubadzir (sia-sia).   وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ   “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (Q.S. Al-Isrâ’ : 26-27).   Anda muslim yang terdoktrin babi najis, lalu Anda memakannya bisa muntah-muntah karena jijik, sebab muncul rasa bersalah. Padahal bagi orang Hindu Bali, makan guling babi itu nikmat sekali karena mereka tidak punya rasa bersalah.   Nah boros temannya setan itu bisa jadikan Anda punya rasa bersalah keluarkan uang. Kalau punya rasa bersalah, kejadiannya Anda boros jadi muntah-muntah penyakitan.   Di sini Anda perlu meluruskan mindsett. Boros itu keburukan, tapi dermawan—baik dermawan kepada diri sendiri maupun kepada orang lain—itu adalah kebaikan. Padahal boros dan dermawan itu tindakannya sama, aksi yang diperbuat sama, tapi kenapa value-nya berbeda?   Itu karena pelaku boros dan dermawan beda kesadaran di balik aksi perbuatannya. Persis shalat Dhuha dan shalat Hajat di jam 8 pagi, value kedua shalat tersebut beda cuma karena digeser kesadarannya saja yakni niatnya, adapun aksi perbuatannya, shalat keduanya sama, doanya sama, rekaatnya sama, rukun-rukunnya sama.   Berarti agar aksi boros menjadi dermawan, Anda perlu menggeser kesadaran dirinya saja.   Lalu bagaimana menggeser kesadaran? Belajar, menuntut ilmu kesadaran.   Anda hanya karena baca tulisan saya ini bukankah kesadaran Anda tentang mengeluarkan uang jadi berubah? Ya di situ, kalau boros Anda mau menjelma jadi dermawan, Anda harus gemar belajar ilmu kesadaran diri.   Nah kalau tindakan Anda keluarkan uang sudah diiringi ilmu kesadaran keberlimpahan, tentu rasa bersalah ketika Anda suka boros itu hilang, berganti jadi rasa dermawan, Anda pun jadi tidak muntah-muntah, artinya boros Anda jadinya tidak memelaratkan.   2. Salah sugesti pada uang yang dikeluarkan.   Boros itu tindakan mengeluarkan uang, namun diri Anda meyakini kalau mengeluarkan uang adalah mengurangi harta. Nah di situ sugesti keyakinan Anda akan benar-benar menarik wujud nyata. Harta Anda pun akan berkurang setiap kali Anda keluarkan uang.   Lalu sugestinya bagaimana agar jadi kekayaan? Ya iringi pengeluaran harta Anda dengan sugesti rasa kaya, di antaranya Anda memahami kalau keluarkan harta itu berarti modal membayar yang sedang dikeluarkan. Kalau modal bisnisnya besar, untungnya juga besar. Hal ini jadikanlah mindsett untuk menyugesti keyakinan Anda.   3. Salah niat.   Orang egois itu menyerap apapun dari luar dirinya untuk kepentingannya sendiri.   Dalam keluarkan uang pun sikap egois kerap terjadi. Egois dalam keluarkan uang itu keluarkan uang tapi untuk turuti nafsu kesenangan dan kepuasan sendiri. Ia belanja karena hura-hura, belanja demi turuti hedon, itu semua belanjanya orang yang turuti nafsu diri. Belanjanya salah niat.   Lalu bagaimana agar Anda keluarkan uang namun tidak menjadi sikap egois? Ya tinggal ganti niatnya, sadari bahwa Anda keluarkan uang untuk alirkan rezeki kepada orang lain.  

MEI 2023

KEBURUKAN PEKERJA KERAS DAN KEUNGGULAN PEMALAS

Sudah menjadi asumsi umum kalau kerja keras itu pangkal semua keberuntungan dan kesuksesan. Sebaliknya malas itu pangkal semua keburukan dan kegagalan.   Namun Anda tahu, tidak? Dari malas lalu muncul milyader-milyader dunia karena mereka melihat peluang bisnis dari kemalasan Anda. Malas pergi ke warung, muncul bisnis Gofood. Malas cuci baju, muncul bisnis laundry. Malas setir sendiri, muncul bisnis transportasi. Malas jalan kaki, muncul bisnis sepeda motor dan mobil. Malas lama-lama di perjalanan jarak jauh, muncul bisnis pesawat. Ya hakikatnya kemalasan Anda memunculkan banyak berkah untuk kehidupan ini.   Tentu karena malas jadikan harga menjadi mahal. Iya kalau Anda tidak malas jalan kaki ke warung, Anda cukup keluarkan 15 ribu sekali makan, lantaran pesan Gofood, ya tambah mahal. Cuci baju cuma butuh modal sabun, air dan listrik, lantaran malas mencuci, Anda harus bayar jasa laundry. Malas jadikan harganya relatif mahal.   Termasuk munculnya para bos itu juga karena mereka malas mengerjakan kerjaan mereka sendiri. Andai mereka tangkas, gesit dan apa-apa siap dikerjakan sendiri, niscaya tidak ada status bos di kehidupan ini.   Ya memang bagian dari karakter mandiri itu pekerja keras, yakni orang-orang yang tidak mengharap-harap dibantu orang lain, tidak berpikir merepotkan orang lain, tidak bermental menyuruh-nyuruh orang lain, tidak berkenan menjadi beban bagi orang lain. Dari kesadaran ini lalu lahir tanggung jawab untuk bekerja mandiri, mengerjakan apa-apa sendiri.   Mandiri yakni mengerjakan apa-apa sendiri sehingga enggan mendelegasikan kepada orang lain, mereka pun cenderung fulltime kerja, dan cenderung cekatan. Namun keburukan karakter seperti itu banyak juga lho, di antaranya;   1. Susah mengakses rasa bos.   Bos itu apa-apa mendelegasikan kepada orang lain karena dia merasa mampu membayar orang. Rasa mampu membayar ini yang memunculkan rasa kaya di hati, rasa bahwa “saya orang kaya, bisa bayar orang”.   Rasa sebagai bos ini yang terus menerus terunggah kepada-Nya. Karena mengunggah rasa bos, Tuhan tinggal merespons prasangka hamba kepada-Nya. Karena prasangka si hamba sebagai bos, ya jadilah dia bos. Sementara resiko bos itu membayar. Karena banyak yang harus dibayar lalu rezekinya jadi lebih banyak dari yang lain.   Nah di sini jebakan buruknya pekerja keras yang hobi kerjakan apa-apa sendiri. Dia minatnya kecil untuk jadi bos. Kalau minat saja kecil untuk jadi bos, lalu kapan strata sosial dan finansialnya naik ke level bos?   2. Susah mengakses rasa mampu bayar.   Sudah lazim tidak mampu bayar orang lain ya dikerjakan sendiri. Nah mengerjakan apa-apa sendiri tapi karena dipicu rasa tidak mampu bayar orang itu artinya sedang menyuburkan rasa miskin, yakni rasa tidak mampu bayar orang. Kalau rasa miskin yang banyak diunggah, ya sudah hasilnya juga kemiskinan.   3. Susah punya branding tuan.   Personal branding muncul karena Anda punya authority. Misal perintah guru ditaati oleh murid itu karena si guru punya authority di belief si murid kalau ia adalah gurunya yang banyak berjasa mengajarkan ilmu pengetahuan.   Authority personal ini terbangun kuat di dalam belief si murid, akhirnya si murid disuruh apapun nurut. Padahal kalau dinalar logis ya tidak ketemu akal, lahir sama-sama sebagai manusia, kok ya yang satu menyuruh-nyuruh dan yang satunya siap sedia disuruh-suruh. Itu akibat efek branding.   Nah pekerja keras yang suka kerjakan apa-apa sendiri dari sisi branding sebagai tuan itu lemah sekali. Lah wong nggak pernah terlihat menyuruh-nyuruh orang, siapa yang akan memberi prasangka kalau dia itu tuan yang layak menyuruh.   Kalau prasangka dirinya itu tuan saja tidak ada, bagaimana dia bisa bangun brand kalau dirinya tuan?   4. Kerap tidak hargai kesehatan sendiri.   Kerja keras dengan mengerjakan apa-apa sendiri tentu capeknya lebih walaupun hemat dan efesiennya juga lebih. Sehingga model orang begini cenderung tidak perhatikan kesehatan sendiri. Iya selagi tenaganya masih fitt dia segar dan tangkas, nanti usia 55 tahun saja sudah mulai ambruk-ambrukan.   5. Cepat mati.   Lah kok cepat mati? Ya pekerja keras itu orang yang cepat berjalannya.   Kalau Anda punya tujuan ke Jakarta lalu mobil Anda dipacu cepat, di situ Anda lekas sampai Jakarta. Kalau sudah sampai di Jakarta tidak ada alternatif lain selain pulang. Atau Anda ditugasi sapu rumah tetangga, kalau Anda cepat-cepat dalam mengerjakannya, Anda cepat selesai. Kalau sudah selesai, pilihannya tinggal apa? Pilihannya cuma pulang.   Karir, tujuan, cita-cita, tugas-tugas dalam hidup kalau Anda terlalu cekatan dalam kerja keras juga begitu, Anda cepat dipanggil pulang alias mati.   Jadi malas pun banyak manfaatnya. Karena malas, Anda jadi punya ide-ide bagaimana membayar orang lain, bagaimana menjadi bos, bagaimana menjadi tuan, bagaimana menjadi atasan, bagaimana menjadi pemimpin, dan seterusnya.   Selamat jadi pemalas yang cerdas dan brilian.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

KHAWATIR DI BALIK TINDAKAN UANG

Malaikat tidak punya rasa khawatir, justru hidupnya stagnan, tidak bertumbuh kecuali seperti apa yang telah dikodratkan alam semesta. Maka ini rasa khawatir bukan berarti keburukan, rasa khawatir sebenarnya perangkat lunak motivasi yang ter-install dalam diri Anda.   Rasa khawatir dalam spiritual Islam disebut khauf sebagai lawan “raja’” atau “harapan”. Karena harapanlah, Anda lalu memiliki kekhawatiran, itulah yang kemudian menyuguhkan rasa “harap-harap cemas” dalam diri Anda.   Kucing sering kali tertabrak kendaraan di jalanan karena si kucing hanya sedikit kekhawatirannya ketika menyeberang atau ketika tiduran di jalanan. Jadi khawatir sebenarnya bukan keburukan, merupakan energi penyeimbang dari rasa berharap.   Khawatir adalah sikap berpikir berlebihan atau terlalu cemas tentang suatu masalah atau situasi. Kekhawatiran biasanya disertai dengan rasa tidak nyaman dan kecemasan.   Sikap ini menyebabkan seseorang menjadi terganggu, memusatkan pikiran pada kejadian negatif yang mungkin terjadi, serta dilanda ketakutan yang tidak masuk akal dan tidak berdasar. Pada kondisi parah, rasa khawatir dapat menyebabkan kecemasan parah serta panik, dan mungkin akan menjadi masalah kronis.   Dalam urusan spiritual uang, khawatir itu musuh bebuyutannya uang.   Anak Anda–sampai kelas 9–sekolahnya sudah dijamin negara melalui BOS (Biaya Operasional Sekolah), lalu Anda khawatir sekali tidak bisa sekolahkan anak hingga lulus SMP, apa mental Anda waras?   Uang itu jaminan rezeki dari Allah, makanya antipati dikhawatiri, entah dengan alasan apapun.   Nah disini sebenarnya yang kerap menyabotase tindakan Anda dalam memperbaiki finansial. Gara-gara rasa khawatir, tindakan Anda sebenarnya “mengamankan uang” tapi hasilnya malah berantakan tidak karuan.   Anda bertindak menabung, itu tindakan mengamankan uang, tapi getaran kesadarannya karena Anda khawatir di hari depan kekurangan dana, atau khawatir kalau tifak menabung nanti tidak bisa kaya, nah itu sabotasenya. Andai Anda menabung dengan getaran kesadaran memelihara amanah rezeki Allah kan jadi beda resikonya?   Anda bertindak ikut BPJS Kesehatan, itu tindakan amankan uang, namun getaran kesadarannya khawatir kalau sewaktu-waktu sakit tidak bisa biayai, di situ sabotasenya. Andai kesadaran ikut BPJS Kesehatan karena hargai jiwa raga Anda agar lebih sehat, hasilnya tentu lain.   Yang banyak terjadi itu irit yang ujar-ujar akan aman dari pemborosan tap hasilnya malah kebobolan uang sekalian, itu jelas karena rata-rata orang irit karena khawatirnya pada kekurangan uang terlalu besar.   Nah banyak orang bangun sistem amankan uang, namun tidak ada pertumbuhan berarti, itu karena kesadarannya disetir kekhawatiran-kekhawatiran.   Jika khawatirnya pada kualitas jiwa sebenarnya tidak masalah. Misal Anda irit tapi karena khawatir tidak bisa biayai anak kuliah. Kuliah itu urusan ilmu, ilmu itu terhubung dengan kualitas jiwa.   Atau seperti santri-santri saya yang puasa harian. Mereka puasa bukan khawatir uangnya boros namun puasa karena khawatir kalau menuntut ilmu tidak disertai laku prihatin nanti ilmunya kurang manfaat.   Jiwa itu berlawanan dengan rezeki. Kualitas jiwa tidak ada jaminannya. Anda tidak ada jaminan jadi orang berilmu, tidak ada jaminan jadi orang shaleh, tidak ada jaminan orang bertakwa, karena itu segala hal terkait urusan jiwa itu harus dikhawatiri. Nah kalau rezeki yang jaminan lantas dikhawatiri, itu namanya bego kuadrat.   Jadi ceck and riceck ke dalam, sudahkah tindakan Anda dalam finansial itu terminimalisir dari kesadaran khawatir urusan rezeki? Makin terminimalisir, rezeki Anda makin mengalir harmoni.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

PENGHASILAN BESAR, UANG LANGKA

– Sengkolo Kantong Bolong   Salah satu persoalan spiritual uang itu terseret dalam kondisi penghasilannya besar tapi uangnya langka, orang Jawa bilang “sengkolo kantong bolong” yakni kesialan kantongnya berlubang.   Energi sengkolo kantong bolong adalah lawannya energi berkah. Energi berkah itu rezekinya pas-pasan tapi luber untuk dikonsumsi banyak orang. Seperti seekor kambing dan satu gantang gandum milik sahabat Jabir bin Abdullah yang disembelih untuk kasih makan 1000 sahabat Nabi S.A.W yang sedang gotong royong gali parit (khandaq).   Satu kambing dengan satu gantang gandum untuk menyuguh Nabi S.A.W dan 1000 sahabatnya, ternyata kenyang semuanya, dan bahkan sisa. Itulah energi berkah. Penghasilannya besar, tapi uangnya langka, boro-boro cukup malah tombok, lalu kemana hasil besar tersebut? Tentu diserap oleh kesadaran perasaan Anda.   Kesadaran berperasaan itu energi yang gubah semua wujud realita. Vladimir Putin punya perasaan marah kepada pemerintah Ukraina, bukankah satu negara Ukraina jadi luluh-lantak? Ukraina yang selama ini stabil dan terkenal denfan stok gadis cantiknya seketika luluh-lantak hanya karena dipicu rasa marahnya Putin.   Energi perasaan itu juga yang menyerap realita nikmat jadi penderitaan, realita derita jadi nikmat.   Seks itu gurih dan enak, tapi kalau perasaan yang muncul adalah rasa terpaksa, hubungan seks jadi menyakitkan. Tanya saja para korban pemerkosaan. Seks sebenarnya enak, bagi korban pemerkosaan jadi penderitaan.   Dirampok sebenarnya kedudukannya sama dengan sedekah karena hakikatnya menyerahkan harta sendiri kepada orang lain dengan cuma-cuma, tapi karena dirampok dilatarbelakangi rasa dipaksa, sedekah dilatarbelakangi rasa sukarela, akhirnya hukum akibat yang terjadi menjadi fatal bedanya. Dirampok melahirkan sosok korban, sedekah melahirkan sosok dermawan.   Para tentara ketika di kamp latihan, realita sebenarnya orang-orang yang sedang disiksa, tapi karena dilatarbelakangi kesadaran rasa tanggung jawab karir sebagai prajurit, akhirnya realita penderitaan menjadi kebahagiaan.   Jadi jelas kesadaran rasa itu berenergi dahsyat dalam implikasi realita.   Penghasilan besar, duitnya langka, itu juga jelas duitnya diserap oleh kesadaran perasaan Anda.   Lalu kesadaran perasaan seperti apa yang menyerap uang?   Begini. Kalau Anda egois, itu semua orang di sekitar Anda menjauh, mereka jadi langka dalam kehidupan Anda, hidup Anda jadi sunyi dalam keramaian. Penghasilan besar tapi duitnya langka itu karena Anda egois kepada uang.   Egois itu cari menang sendiri, cari untung sendiri, cari nikmat sendiri, cari enak sendiri, tidak peduli keadaan orang lain. Nah kesalahan kesadaran dalam membelanjakan uang itu yang jadikan Anda egois kepada uang.   Anda belanjakan uang tapi untuk layani rasa hedonis Anda, belanjakan uang tapi untuk turuti gaya hidup Anda, belanjakan uang tapi untuk menyenangkan diri sendiri saja, belanjakan uang tapi untuk turuti hura-hura, tanpa ada transfer kesadaran untuk menguntungkan dan membahagiakan orang lain, yang seperti itu yang disebut sikap egois kepada uang.   Kondisi kesadaran seperti itu ya sudah uang yang hadir dalam hidup Anda mau sebesar apapun akan raib semua, malah kurang.   Perbaikannya, bagaimana? Biasanya mereka yang alami keadaan sengkolo kantong bolong sibuk mengevaluasi uang, diingat-ingat buat apa saja, kesalahan pengeluaran uangnya dimana, berpikir harus lebih hemat lagi, dan seterusnya.   Lah wong uang salah apa-apa tidak, uang punya kesadaran juga tidak, malah dievaluasi. Kalau uang punya salah dan khilaf, baik dan benar, ya nanti Tuhan akan menghisab uang di hari kiamat, lalu ada mata uang yang masuk neraka dan masuk surga, ada mata uang mukmin dan kafir.   Yang harus dievaluasi itu diri Anda, bego!   Perbaikannya dengan ganti kesadaran perasaan Anda.   Masalahnya kan kesadaran egois kepada uang, segala bentuk pembelanjaan harta hanya untuk kesenangan dan hura-huranya sendiri, nah tinggal ganti niatnya, yakni dengan Anda belanjakan harta untuk alirkan rezeki kepada orang lain. Lah iya, Anda beli sandal harga 30 juta, diniatkan sesadar-sadarnya untuk alirkan rezeki kepada si penjual beserta seluruh jaringan bisnisnya, kan jadi enak di iman, enak juga di uang?   Sederhana ya, hanya ganti kesadaran rasa? Eits nanti dulu. Anda benci kepada seseorang, apa bisa begitu dinasehati agar jangan membencinya lalu seketika Anda bisa menggantinya? Tidak bisa. Rasa sayang jadi benci, rasa benci jadi sayang, butuh proses berliku dan waktu panjang.   Demikian pula mengganti kesadaran hedonis menjadi kesadaran melimpahi orang lain, butuh proses dan waktu yang sama. Untuk mempercepat perbaikan kesadaran, sebaiknya banyak-banyak istighfar kepada-Nya, mohonlah ampunan. Konsisten baca istighfar seharinya 3000 kali dalam waktu 3 tahun dengan istiqamah juga biasanya sudah clear. Sebentar, ya?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

BEDA QANA’AH DAN MISKIN

Anda pakai sarung sudah kusut, banyak bolong-bolong kena percikan bara rokok, dan di hati Anda diiringi rasa neriman sebagai orang yang tidak mampu beli sarung baru, itu bukan disebut qana’ah, tapi itu kemiskinan.   Persoalannya kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa, lah betapa lemah jiwa Anda jika hanya oleh harga 1 sarung saja kalah. Memalukan kan?   Apa Anda rela jika Anda saya bayar 10 juta namun kepala Anda saya injak-injak? Itu pertanda jiwa Anda yang disimbolkan dengan kehormatan kepala adalah sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan materi uang.   Jiwa Anda yang semulia itu lalu hanya hadapi satu sarung kusut lalu hati Anda merasa lemah yang berefek Anda neriman dengan kondisi sarung rusak, itu namanya jiwa Anda di-TKO oleh harta. Hati manusia kok kalah TKO dengan harta, apa itu qana’ah? Justru hal seperti ini yang disebut miskin.   Lalu qana’ah itu seperti apa? Ibn Baththal mendefinisikan,   الرضا بقضاء الله تعالى والتسليم لأمره علم أن ما عند الله خير للأبرار،   ”Ridha dengan ketetapan Allah Ta’ala dan berserah diri pada keputusan-Nya yaitu segala yang dari Allah itulah yang terbaik.” Itulah qana’ah.   Jadi qana’ah itu akses rasa neriman namun bukan neriman kepada harta yang pas-pasan, tetapi neriman kepada ketetapan-Nya.   Jadi qana’ah dan kemiskinan itu cuma selisih kesadarannya doang? Kalau qana’ah neriman dengan ketetapan Tuhan (pandumė Gusti), kalau kemiskinan itu neriman dengan harta? Iya. Betul. Cuma selisih sadar.   Namun sebelum kesadarannya selisih—antara sadar neriman kepada Allah dan sadar neriman dengan harta yang pas-pasan—ada beberapa proses mental yang melatari.   Kalau rasa neriman kepada harta yang pas-pasan itu dipicu oleh rasa lemah hati. Merasa dirinya miskin, merasa dirinya tidak punya uang, merasa dirinya wong cilik, lantas belum lakukan usaha apapun sudah menyimpulkan dirinya tidak mampu akhirnya neriman terima barang rongsok.   Misal pakai sarung kusut. Karena merasa miskin, merasa tidak mampu, lalu ketika tahu sarungnya kusut, ia belum usaha cari uang untuk beli sarung, lantas langsung saja neriman. Lantas sarung kusut dipakai saja. Itulah kemiskinan.   Beda kalau rasa neriman kepada ketetapan Allah. Kondisi neriman ini adalah kondisi neriman dimaja tidak lagi dilatarbelakangi rasa lemah hati, artinya si pelaku sudah berusaha keras untuk mengubah keadaan, tapi keadaan tetap juga tidak berubah, hingga akhirnya dia sadar bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik-Nya. Itulah qana’ah.   Misal mau lebaran Idul Fitri belum punya sarung baru. Selama bulan Ramadhan sudah usaha kerja peras keringat agar bisa beli sarung baru, eeh ternyata jelang lebaran malahan duitnya ilang dimaling, dan akhirnya hari H lebaran tetap pakai sarung kusut, dan di situ Anda sadar sesadarnya bahwa Allah berkuasa atas segala kehendak, maja itulah yang disebut qana’ah.   Jadi beda banget kan akses rasa dan mentalitas qana’ah dan miskin?   Dan ketika akses rasa dan prosedur prosesnya adalah qana’ah akan hadirkan kekayaan dan kecukupan, sementara akses rasa dan prosedur proses miskin akan hadirkan kemiskinan dan kekurangan.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

TIDAK ADA BANTUAN UANG YANG MENARIK KEKAYAAN

Sistem jual beli alam semesta itu konsumen dapat manfaat, produsen dapat bayaran. Nah kalau konsumen dapat bayaran apa ada sistemnya di alam semesta? Misal Anda ditugasi tidur di hotel tiap malam, lalu tiap bulan Anda dapat gaji seperti karyawan, apa mungkin?   Di alam semesta ini yang dibayar selalu produsen, bisa dibayar karena memroduksi jasa, bisa juga karena memroduksi barang.   Anda memroduksi konten Youtube, biaya untuk penuhi kebutuhan alat shooting atau biaya menyewanya, ide produksi konten, belum lagi nanti mematuhi algoritma Youtube, semua harus Anda urusi. Setelah Anda memroduksi konten Youtube, dan manfaat jasa konten diterima konsumen yakni viewers Youtube, baru kemudian Anda layak dapat bayaran.   Di atas pelogisannya dengan jual beli, sekarang temanya saya tarik ke tema sosial.   Hakikat menarik rezeki juga demikian, power menarik rezeki itu adanya bila Anda sebagai produsen yakni pihak yang memberi jasa atau barang, bukan pihak konsumen yang terima manfaat. Karena selamanya penerima manfaat itu tidak layak dibayar.   Anda sedekah, di situ Anda memberikan jasa amal kemanusiaan, Anda layak dibayar. Anda belanja, di situ Anda memberikan jasa mengalirkan rezeki kepada orang lain, Anda layak dibayar. Anda berikan nafkah, di situ Anda berikan jasa tanggung jawab nafkah, Anda layak dibayar.   Sekarang, kalau posisi Anda sebagai penerima bantuan uang, bagaimana? Lah ketika posisi Anda sebagai penerima bantuan uang, di situ posisi Anda sebagai penerima manfaat, bukan nemroduksi manfaat, Anda konsumen bukan produsen, layakah Anda dibayar dengan keluasan rezeki? Sebab tidak mungkin Anda menerima manfaat menonton konten Youtube lalu Anda yang digaji oleh Youtube, yang digaji tentu yang memroduksi jasa konten.   Tapi lumayan sih sebagai konsumen penerima manfaat itu, dia punya jasa kerap gunakan kata, “Terima kasih.”   Lebih sadis lagi, penerima manfaat malahan yang terkena hukum harus membayar, bukan dibayar. Anda mendapat manfaat makan di restoran, ya Anda harus bayar kan?   Sebab ini, kalau Anda terlalu nyaman sebagai penerima bantuan, justru rezeki Anda sukar bertumbuh, karena Anda memasang diri sebagai penerima manfaat, sebagai konsumen penerima manfaat. Dari sistem rezeki di alam semesta saja sudah jelas, penerima manfaat tidak layak dapat bayaran.   Malahan jika kenyamanannya hanya terima bantuan, nyamannya sebagai tangan di bawah, sehingga Anda tidak pernah lagi pikirkan imbal balik, justru nanti Anda yang ditagih oleh alam semesta untuk membayar, sebab kewajiban konsumen penerima manfaat adalah membayar.   Sistem tagihan bayarannya biasanya melalui sistem paksaan dari alam semesta, entah musibah yang datang min haitsu lâ yahtasib, entah sakit, entah jadi diseretkan rezekinya, entah jadi punya utang menumpuk, dan lain-lain, pokoknya oleh alam semesta dipaksa untuk membayar.   Anda amati saja, yang terima bantuan sosial gratis itu selalu orang miskin, tapi apa ada yang kemudian jadi milyader lantaran bantuan sosial? Tidak ada. Tidak ada bantuan sosial lalu mengentaskan kemiskinan.   Kecuali yang dapat bantuan karena prestasi, misal pebulu tangkis, lantaran punya prestasi jadi juara Thomas dan Uber Cup, lantas terima hadiah milyaran dari negara. Itu sih bukan bantuan sosial, tapi hadiah, dan hadiah pasti karena ada jasa yang diberikan.   Sekarang Anda tanya, “Lah kok ada pengemis kaya?” Barangkali ada, tapi itu di balik hidupnya pasti ada paksaan tagihan membayar dari alam semesta, entah apapun bentuknya.   Anda bisa amati kok, sistem rezeki alam semesta itu pihak penerima manfaat alias konsumen selalu yang tidak punya power rezeki. Yang power rezekinya besar selalu pihak pemroduksi jasa.   Para dermawan selalu menjadi orang kaya yang power rezekinya besar karena mereka pemroduksi jasa, pihak penerima manfaat bantuan justru yang konsisten tetap hidup kekurangan.   Kebanyakan para suami yang produktif memberi nafkah, power rezeki suami justru yang paling besar. Istri dan anak-anaknya sebagai pihak penerima manfaat nafkah, justru kerap tidak punya penghasilan besar.   Andai kemudian istri yang banting tulang memberi nafkah, hasilnya ya yang berikan jasa nafkah itu yang kaya, hasilnya si istri lebih kaya dari suami.   Jadi “amit-amit” punya mental tangan di bawah, punya mental penerima bantuan, punya mental pengemis, karena tidak ada sistemnya di alam semesta ini kalau penerima manfaat itu punya power rezeki besar.   Berarti tidak boleh terima bantuan dong? Tidak begitu, maksudnya jangan bermental nyaman atau bahkan bangga sebagai penerima bantuan, sebagai tangan di bawah.   Boleh terima bantuan, tapi jangan nyaman, itu saja kalau Anda ingin power rezekinya naik. Kalau yang diingini tetap konsisten miskin, ya silakan yang nyaman dan bangga hati saja sebagai penerima bantuan.   Karena itu mau Anda lacak ke ayat suci manapun, tidak akan pernah ditemukan perintah, “Hai manusia, kalau kalian ingin kaya, minta-mintalah, mengemislah, taruhlah tanganmu di bawah,” dan lain-lain. Yang ada perintahnya justru berinfak, berbelanja, bersedekah, dermawan, berikan nafkah, bertangan di atas, dan tindakan-tindakan lain yang terhubung dengan aktifitas pemroduksi jasa.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

SADAR PENUH “DIRIKU BERHARGA”; SISTEM RECHARGE ENERGY REZEKI

Kemarin saya pijat kepada salah satu wali santri di pesantren saya. Saya sudah kenal lama dengannya. Memang dia sangat baik hati. Hatinya sangat mulia. Pemurah, pemaaf, rendah hati, dan selalu kedepankan kenyamanan dan kepentinhan orang lain ketimbang dirinya sendiri.   Ketika saya dipijat, saya coba koreksi dirinya, karena saya curiga dia tipe orang yang tidak bisa kenali dirinya kalau dia pun berharga, ingin beruntung dan ingin dapat pertolongan juga seperti kemurahan hatinya mengedepankan orang lain.   Saya ingin mengoreksinya karena tahu dia terlihat kekurangan finansial. Dilihat dari motornya kalau datang ke rumah saya, ya bukan motor baik-baik, tapi sisi lain kalau bawa oleh-oleh bertamu terbilang istimewa.   Saya koreksi, dan eits betul, apa yang saya curigai benar adanya. Dia dagang di pasar kecamatan. Kalau ada tetangga rukonya berhalangan tidak bisa buka ruko, ia bergegas bukakan untuk jualkan dagangan temannya, dan tanpa mau diberi imbalan sedikitpun.   Kalau ada pembeli menawar sangat rendah, ia sudah beranikan diri batalkan transaksi karena tipis sekali untungnya. Tapi begitu si pembeli beranjak pergi, ia panggil lagi, tidak tega, lalu transaksi dilanjutkan.   Apalagi kalau ada pembeli terlihat pas-pasan uangnya, dengan kemurahan hatinya, ia berikan harga termurah, hatinya berkata, “Untung sedikit nggak papa, asal berkah.”   Dengar itu, saya lalu nasehati dia pentingnya menghargai diri, yang nanti akan saya jekaskan di sini.   Dan dia kan mijat pasien selalu dengan istrinya, datang ke rumah saya juga dengan istrinya. Dia pijat saya, dan istrinya pijat istri saya. Durasi mijatnya 2 jam.   Karena 2 jam mijat, saya kasih amplop lebih. Suaminya menerima karena sudah saya nasehati pentingnya hargai diri, istrinya karena memijat istri saya belum dinasehati. Ketika saya amplop untuk pengganti jasa pijatnya, suami menerima, istri menolak keras.   Si istri malah bilang, “Kalau dibayar, Gus, besok saya ga mau lagi diundang pijat kesini. Betul, Gus, kami memijat Gus Banan dan keluarga tulus hanya ingin cari berkah.”   Dijawab begitu, saya bereaksi lebih ugal-ugalan lagi, “Kalau mau ambil berkah dari saya syaratnya harus mau terima ini,” jawab saya tegas sambil paksakan berikan amplopnya, “Kalau ga mau terima, ga ada berkah.”   Sebenarnya saya jawab begitu sambil ngakak sendiri di hati, “Berkahnya Gus Banan, dia tidak tahu Gus Banan ngefansnya sama Maria Ozawa.”   Lain kali ada satpam SMK Darul Abror. Dia juga penyakitnya begitu. Sangat mulia hatinya, murah hati, dan total pengabdiannya.   Dia diangkat sebagai satpam sekolah, tapi kepeduliaan kerjanya meluas kemana-mana. Ada WC kotor, tandang bersihkan, ada ruang berantakan, tandang beres-beres. Padahal tenaga caraka ya sudah ada sendiri.   Dan saya tahu, satpam ini sangat kekurangan finansial. Rokoknya saja kadang jalan, kadang terhenti.   Suatu ketika dia ke rumah saya mengadukan caraka sekolah yang dinilainya kurang tanggung jawab kerja. Bukan cuma sekali dia datang mengadu, tapi bolak-balik.   Nah pada pengaduan terakhir, saya jitak dia dengan pentingnya menghargai diri. Lah dia sampai stres bolak-balik mengadu kok ya hanya untuk mengadukan persoalan milik orang lain. Lah iya, soal caraka tidak efektif kerja, itu kan tanggung jawab kepala sekolah untuk menertibkan, bukan tanggung jawab satpam. Kenapa orang yang berhati mulia seperti di atas malahan kesulitan finansial? Begini.   Kalau Anda seharian penuh hanya bantu dorong gerobak orang, padahal tidak ada bayaran tidak apa, kira-kira dalam sehari itu masihkan ada sisa energi untuk membantu diri Anda sendiri? Seharian hanya bantu dorong gerobak orang, lalu malamnya Anda disuruh kerja lagi cari rezeki untuk makan Anda, apa Anda masih kuat? Tentu sudah habis energinya.   Karena itu semua energi alam semesta memiliki sistem pengisian energi untuk dirinya sendiri. Ada yang dengan cara makan minum, ada yang dengan isi ulang, ada yang dengan ganti suplai energi, dan lain-lain.   Makhluk hidup melakukan pengisian energi dengan makan dan minum. Smarphone dengan recharge. Jam dinding dengan ganti baterai baru. Tumbuhan dengan ambil humus tanah, penyiraman dan fotosintetis.  Kendaraan bermesin dengan isi ulang bahan bakar. Dan seterusnya. Yang jelas, semua energi punya sistem recharge energy. Ini sunnatullah.   Lampu senter Anda dipakai terus menerus untuk menerangi tanpa recharge energy, bukankah lama-lama mati karena kehabisan energi? Setelah habis energinya, apa lampu senter bisa bermanfaat?   Nah sekarang diketahui kenapa wali santri pesantren saya dan satpam SMK Darul Abror di atas hidup kekurangan dan serba pas-pasan, padahal mereka sangat mulia hatinya?   Jawabannya karena mereka lampu senter yang terus menerangi orang lain tapi tidak sadar pentingnya recharge energy untuk dirinya sendiri, tidak sadar pentingnya makan. Hasilnya ya energi rezekinya redup karena lapar tidak pernah kenyang.   Terus-terusan mereka bikin orang lain dapatkan kemudahan, sampai mereka kerap mempersulit diri sendiri. Terus-terusan mereka peduli kepada orang lain sampai mereka tidak peduli kalau diri mereka terbebani. Terus-terusan mereka menguntungkan orang lain sampai tidak peduli telah merugikan dirinya sendiri.   Terus-terusan mereka mengutamakan orang lain sampai mereka tidak tahu kalau dirinya jauh lebih berharga. Lah energi cuma dipakai saja untuk terangi orang lain, ya lama-lama mati lemas karena energinya sendiri tidak pernah diisi.   Saat Anda mengalah, saat Anda neriman, saat Anda memaafkan, saat Anda melepaskan ego, saat Anda dermawan kepada orang lain, saat Anda membantu orang lain, saat Anda berdamai dengan tekanan hidup, saat Anda mengabdi, saat Anda berbakti, ingat ya, itu semua sistem pemakaian energi diri Anda yang dipakai untuk kelestarian orang lain. Bila Anda tidak sadar bahwa diri Anda juga berharga, Anda mati sendiri kehabisan energi.   Orang yang sedemikian mulia hatinya betul mereka orang shaleh, ahli surga, ahli peroleh ampunan Tuhan, ahli kebaikan, ahli berkah, cuma itu mereka kerap kesulitan duit.   Barangkali mereka energi surganya besar, namun itu kehidupan dunianya sepertinya jauh dari hasanah.   Karena itu berpikir cari untung untuk diri sendiri itu kadang perlu, berpikir egois itu kadang perlu, berpikir cari menang sendiri itu kadang perlu. Tersinggung, marah, berontak, narsis, bahkan mengamuk itu kadang perlu.   Minat menonjol, minat terdepan, minat kaya, minat berprestasi, minat sukses, minat superior, itu kadang perlu. Intinya hargai diri Anda sendiri.   Sebab dari sikap-sikap ego sentris seperti itulah sistem recharge energy hidup berlangsung. Tanpa recharge energi, bagaimana Anda mau bermanfaat untuk orang lain? Bahan bakar mesinnya habis, bagaimana mobil akan bermanfaat?   Loh Nabi SAW kan kalau

MEI 2023

INSTALASI RECHARGE ENERGY SYSTEM; HARGAI DIRI AGAR BISA MENERANGI ORANG LAIN

Sebelum baca tulisan ini, bagi yang belum baca part 1-nya, harus baca dulu di postingan sebelum ini, berjudul “Sadar Penuh Diriku Berharga; Sistem Recharge Energy Rezeki.”   Recharge energy system itu merupakan sistem sirkulasi energi alam semesta, di mana semua benda-benda alam semesta melakukannya, seperti halnya Anda yang makan minum, cari cuan, terima gaji, dan lainnya, atau smartphone Anda yang di-charge ulang, atau kendaraan Anda yang diisi BBM, dan seterusnya.   Dalam proses recharge energy ini mau tidak mau Anda ambil energi dari luar diri Anda untuk kepentingan diri Anda sendiri, semacam membangun ego sentris.   Kadang Anda itu kerap keblinger ketika belajar ilmu-ilmu spiritual, diajari legawa, pemaaf, hening, diam, dermawan, lepas nafsu, dan lainnya, akhirnya punya mindset kalau mementingkan ego diri itu bersalah dan tidak menyucikan spiritual.   Padahal ego sentris itulah sistem dimana Anda sedang recharge energy untuk diri Anda.   Anda amati prilaku orang-orang sukses, orang-orang besar, mereka selalu memiliki sistem recharge energy diri dengan baik. Amati orang-orang alim atau orang-orang kaya, mereka ada-ada saja narsisnya untuk mengunggulkan dirinya sendiri atas orang lain.   Gus Baha misalkan, kerap mengaku orang alim yang hapal Al-Qur’an dan hapal ribuan hadits, ahli ilmu ini dan itu, kerap juga beliau komentar, “Saya itu hapal puluhan ribu hadits, kalian baru hapal hadits arba’in (hadits 40) kok mau mendebat saya? Ukur level lah!”   Sekilas narsis dan sombong, tapi sebenarnya itulah sistem recharge energy yang terpasang baik di dalam diri Gus Baha. Nabi Musa, ketika ditanyai kaum Bani Israil, “Siapa orang yang paling alim di antara orang-orang Bani Israil?” Musa jawab dengan pede, “Aku.”   Hanya waktu itu kepedean Musa A.S sudah di level berlebih sehingga kemudian dipertemukan dengan Nabi Khidir yang alimnya melampoi Musa.   Nabi Sulaiman tidak pernah mau kalah dalam soal kemegahan kerajaannya, di hadapan para raja yang lain seolah dia yang paling harus unggul dan termegah, karena itu ketika beliau menyurati Ratu Balqis, tersirat jelas kata-kata narsisnya, “Alâ ta’lû ‘alayya wa’tûnî muslimîn (janganlah kalian mengungguliku, kalian datanglah kepadaku sebagai orang yang berserah diri.”   Amati saja orang-orang kaya dan para pemimpin yang punya kuasa, mereka ada-ada saja ulah dimana mereka sangat ketara punya rasa kalau dirinya unggul dari yang lain, mereka jadinya sangat susah untuk mau mengalah, alot untuk mau merendahkan dirinya. Karena ego sentris itulah kekuatan mereka sehingga bisa menonjol. Kalau dari awal mereka orang-orang yang tawadhu dan andap asor, bagaimana mereka bisa unggul dan kemudian jadi pemimpin? Itu mereka lakukan karena mereka butuh energi besar untuk dirinya sendiri sehingga dirinya bisa menerangi orang lain, bisa bermanfaat bagi orang lain.   Lah katanya orang sombong itu walaupun sebiji sawi tidak akan masuk surga?   Sombong itu,   الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ   “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. (H.R. Muslim)   Gus Baha dan Nabi Musa mengaku alim di depan umat, tapi mereka sangat alim beneran kan? Nabi Sulaiman harus selalu unggul megahnya, tapi beliau benar-benar raja termegah kan? Padahal sombong itu menolak kebenaran, lah kalau faktanya benar-benar alim dan benar-benar unggul, kan itu nyata karena fakta kebenarannya memang demikian.   Orang sombong itu yang menolak kebenaran, dikasih motivasi tersinggung, mendebat, nyiyir. Atau kalau bicara tinggi tapi kenyataan hidupnya ambruk. Lord Rangga dari Sunda Empire itu orang sombong beneran, mengaku bisa kendalikan Putin, Biden, Kim Jong-un, Uni Eropa, eeh diciduk Kapolsek yang hanya level polisi kecamatan saja tidak bisa berkutik.   Gus Baha, Nabi Musa, Nabi Sulaiman itu bukan sombong tapi itulah sistem recharge energy yang terpasang baik dalam diri mereka karena mereka butuh energi besar untuk dirinya sendiri agar mereka kuat untuk jadi penerang orang lain.   Rasa bahwa “diriku itu sangat berharga” itulah sumber energi diri dimana Anda berkemampuan untuk ambil energi dari luar diri Anda untuk kepentingan ego Anda sendiri, yang selanjutnya saya sebut self worth energy.   Biasanya seseorang akan gunakan self worth energy-nya sesuai dengan minat mereka sendiri-sendiri, sesuai selera kebesaran diri yang mereka minati. Minat ilmu, ya kegemarannya tonjolkan diri di ilmu. Minat kepada bisnis, ya kegemarannya tonjolkan diri di uang. Minat kepada kekuasaan, ya kegemarannya tonjolkan diri di politik. Minat popularitas, ya kegemarannya tonjolkan diri di kemasyhuran diri.   Nabi Muhammad S.A.W orang yang sangat murah hati dan pemaaf. Saking dermawannya beliau kerap hutang kepada orang lain hanya karena beliau dimintai oleh peminta-minta tapi beliau sudah tidak punya apa-apa lagi. Sekilas Nabi S.A.W tidak punya self worth energy? Nanti dulu.   Nabi Muhammad itu seleranya bukan pada kemegahan harta, sejak menjadi suami Khadijah yang kaya raya, Nabi S.A.W dalam soal harta lebih selera sederhana.   Self worth energy Nabi S.A.W sangat ketara di ranah kepemimpinan, harga diri, ilmu dan kekuasaan.   Dalam kepemimpinan, beliau kerap menyatakan diri sebagai sayyidu waladil âdam (sayyid atau tuannya anak-anak adam), beliau juga berselera menjadi nabi dengan pengikut terbesar sampai umatnya diperintahkan untuk memiliki banyak anak.   Dalam harga diri, beliau menolak diberi zakat dan sedekah, karena beliau merasa diri beliau berharga, zakat dan sedekah hanya layak diberikan kepada orang-orang lemah.   Dalam ilmu beliau mengaku, “Ana madînatul ‘ilmi wa ‘aliyyu bâbuhâ (aku kotanya ilmu, dan Ali itu pintunya).   Dalam kekuasaan, beliau tidak pernah mau mengalah kepada dominasi kafir Quraisy, Abu Jahal dan kawan-kawan beliau hadapi dengan jantan. Kafir Quraisy dan sekitarnya takluk, beliau berhadapan dengan jaringan kekuasaan internasional seperti kekuasaan Persia dan Romawi, dan tidak pernah mau mengalah.   Jadi cara instalasi recharge energy diri, satu sisi ada yang dimurahhatikan, sisi lain ada ego sentris yang dipelihara.   Saya kasih contoh diri saya. Bikin tulisan panjang begini, belum lagi bikin konten Youtube dan Tiktok, itu semua kemurahan hati yang saya keluarkan untuk menerangi orang lain, tapi sisi lain saya jarang sekali mau jawab orang tanya-tanya di kolom komentar.   Aatau ada orang kirim pesan pribadi untuk konsultasi kepada saya. Ada pesan konsultasi masuk, pasti saya jawab, “Tidak melayani konsultasi publik karena keterbatasan tenaga. Konsultasi hanya dilayani di kelas training baik online maupun offline.” Ikut kelas training artinya harus bayar kalau mau konsultasi.   Itu karena saya menghargai diri saya sendiri, saya bukan tempat pembuangan sampah masalah Anda.   Saya selalu kedepankan

Scroll to Top