Author name: gus banan

MEI 2023

INSTALASI RECHARGE ENERGY; AGAR KEMURAHAN HATI MENGUATKAN DIRI

Yang belum baca part 1 dan part 2-nya, silakan baca dulu, di artikel sebelum ini.   Lelaki ketika menikah, ditilik dari kacamata “tindakan” sebenarnya sebuah kesepakatan pemerasan. Lah iya, sesudah menikah, seks dinikmati bersama, lelaki yang harus bayar maharnya. Belum lagi kalau ikuti adat tertentu, seperti adat Jawa, lelaki harus “mbesan” yakni harta tertentu yang diserahkan kepada keluarga pengantin wanita sebagai bawaan besan, padahal ya kepentingannya sama antara 2 besan yaitu bikin resepsi nikahkan anak-anak mereka.   Sesudah bangun keluarga, lelaki makin jauh dijerat dalam kesepakatan pemerasan, karena dia dituntut kasih nafkah istri yang merupakan anak orang. Kalau kasih nafkah anak sendiri mending, karena anak itu darah daging sendiri, lah istri itu kan anak orang lain? Bayangkan coba, banting tulang hingga stres-stres cuma untuk kasih makan anak orang? Wkkkk pemerasan, kan?   Dimana pun resiko sebuah kesepakatan pemerasan adalah korban. Menjadi korban, efek getaran yang ditangkap adalah keterpurukan.   Namun pada kenyataannya, lelaki sesudah masuk dalam kesepakatan nikah, mayoritas lelaki malah temukan harga dirinya sebagai lelaki, bukan temukan dirinya sebagai korban pemerasan. Ketika bujangan rezeki lelaki sempit, sesudah menikah malah kaya. Ketika bujangan tidak punya rumah sendiri, sesudah menikah malahan bisa bangun rumah. Banyak harga diri pria yang terbangun justru setelah kasih makan anak orang dalam ikatan nikah.   Praktek tindakannya pemerasan, tapi hasilnya bukan korban, justru hasilnya adalah keberlimpahan. Kok bisa?   Itulah pengaruh penempatan rasa di dalam hati. Sesudah menikah laki-laki menempatkan diri sebagai pejantan yang siap bertanggung jawab beri nafkah, hasilnya alam semesta merespons apa yang dirasa di hati lelaki. Rasa pejantan itulah yang lelaki dapatkan sehingga energi yang dia tarik berwujud keperkasaan dan keberlimpahan.   Bahkan tidak sedikit yang merasa kurang jika hanya kasih nafkah untuk 1 anak orang lain, sehingga nambah lagi jadi 2, 3 atau 4. Kalau akses rasanya jadi korban pemerasaan, mana mungkin ingin nambah?   Andai ketika menikah dan dalam jalani rumah tangga, lelaki mengakses rasa jadi korban pemerasaan, apa yang terjadi? Dari contoh kasus hidup lelaki, artinya akses rasa hati di balik tindakan dan aktifitas itu pengaruh akurat pada hasil nyata yang diterima.   Murah hati Anda kepada orang lain seperti dermawan, pemaaf, legawa hati, neriman, mengalah, itu semua bisa diolah sebagai energi yang menguatkan diri Anda, sebagai self worth energy yang terus bekerja me-recharge energy untuk Anda, namun asal pas dalam mengakses rasa di hatinya.   Akses rasa kemurahan hati, dalam pengamatan saya, ada 3 hasil yang bisa didapatkan; 1). Hasil kerugian. 2). Hasil kebaikan. 3). Hasil kekayaan. Dan ketiganya cuma beda akses rasanya saja.   • Pertama, kemurahan hati dengan hasil kerugian. Hasil ini efek akses rasa hati sbb;   1. Rasa jadi korban. Umpama Anda dibegal dengan todongan senjata, di situ Anda murahkan hati Anda dengan terpaksa sebagai korban. Hasilnya Anda sakit hati, kehilangan, dan keterpurukan. Begitu pula ketika Anda sedekah, kasih nafkah, membayar dan lainnya, kalau dipicu rasa terpaksa juga hasilnya sakit hati, selalu merasa jadi korban yang konsekuensi korban adalah kehilangan dan keterpurukan.   2. Akses rasa ingin imbal balik. Ini akses rasa rentenir seperti jasa pinjol, kasih hutangan tapi ingin imbal balik keuntungan. Atau seperti praktek money politic, bagi-bagi duit tapi dengan akses rasa imbal balik ingin dipilih. Kalau Anda sedekah ingin imbal balik ya sama saja rentenir atau pemraktek money politic. Dan dua-duanya haram.   Dua akses rasa di atas sih bukan kemurahan hati, tapi malah sebaliknya; kategori rakus.   3. Akses rasa kekurangan. Umpama pagi-pagi Anda dimintai uang saku dan uang bensin oleh anak Anda yang mau sekolah, lalu muncul rasa, “Haduh uang tinggal sedikit,” itu uang yang Anda keluarkan kepada Anak berenergi kekurangan. Di getaran kesadaran demikian, Anda bermurah hati namun efeknya mengurangi harta, atau minimal berefek rezeki terbatas.   • Kedua, kemurahan hati dengan hasil kebaikan. Hasil ini efek akses rasa hati “berbuat baik” kepada yang lain.   Murah hati karena rasa ingin menolong dan kasihan, ini kesadaran berbuat baik secara sosial, benar-benar kemuliaan hati yang murni. Punya getaran rasa hati ini secara spiritual dan moralitas sangat utama. Kesalehan spiritual, kebeningan hati, dan surganya tidak perlu ditanyakan. Hanya saja titik lemahnya akses energi untuk menguatkan diri, untuk bangun self worth energy.   Murah hati dengan akses rasa berbuat baik ini jika tidak waspada berpotensi menerangi orang lain tapi diri sendiri terbakar, mengenyangkan orang lain tapi diri sendiri lapar. Mereka berpotensi besar kehabisan energi untuk dirinya sendiri sehingga seperti lampu senter yang kehabisan baterai. Kalau energi baterai sendiri habis, bagaimana bisa menerangi yang lain? Redup.   Berkah, ridha, ampunan Tuhan, jelas mereka peroleh, hanya itu—jika tidak waspada—berpotensi melemahkan diri.   • Ketiga, kemurahan hati dengan hasil kekayaan. Hasil ini efek bermurah hati dengan akses rasa kaya.   Misalkan, Anda bermurah hati dengan sedekah, sementara sedekah Anda dipicu rasa kaya, di mana rasa kaya diri adalah rasa menghargai diri, di situlah kemurahan hati Anda yang sebenarnya secara tindakan sedang keluarkan energi untuk menerangi orang lain, lalu efek hasilnya menjadi energi yang menguatkan diri sendiri.   Model akses rasa kaya dalam bermurah hati inilah akses rasa yang dimiliki orang-orang kaya dan para pemimpin kuat. Abdurrahman bin Auf, Umar bin Khatab, Abu Bakr, Utsman bin Affan, Yusuf Hamka, Jusuf Kalla, mereka punya power tangguh diakses rasa ini, sehingga ketika harta mereka dihambur-hamburkan untuk menerangi orang lain, justru mereka malahan makin kuat, tangguh dan kaya.   Akses rasa kaya dalam bermurah hati sangat susah muncul dari orang yang isi otaknya masih merasa kekurangan duit dan merasa pas-pasan.   Jadi kalau Anda masih merasa duit cekak, duit terbatas, duit sedikit, duit susah dicari, ya tidak akan muncul getaran rasa kaya ini dalam bermurah hati, hehehe apalagi yang isi otaknya pinginnya ngeluh kurang duit, sambat ora due duit, mereka masih akan susah sekali getarkan rasa kaya dalam bermurah hati. Sudah jelas ya?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

HEMAT DENGAN TERHORMAT; HEMAT YANG MENGUATKAN

Saya sampaikan dulu keburukan-keburukan hemat dari berbagai frame;   • Frame mentalitas   Dari frame mentalitas, hemat uang sama saja latihan meringkihkan mental atas uang, sebab hemat itu latihan meringankan beban biaya. Anda atlet angkat besi, agar ototnya kuat, apa mungkin latihannya dengan mengangkat beban yang lebih ringan? Tidak ketemu akal. Tentu latihannya dengan angkat beban lebih berat.   Sekarang, hemat itu latihan mental memberatkan diri apa meringankan diri dengan beban biaya? Tentu latihan meringankan diri. Pakai listrik 900 watt lalu karena merasa miskin lalu pakai listrik bersubsidi yang 450 watt, mental dilatih dengan keringanan-keringanan beban, akankah terlatih kokoh? Yang dihasilkan tentu mental ringkih yang masuk anginan kepada uang.   • Frame matematis   Dari frame matematika, hemat itu langkah konyol ingin kaya. Hemat itu rumus ingin tambah tapi dengan cara mengurangi. Anda ingin 1+1=2, tapi praktek yang Anda lakukan justru hemat dengan mengurangi, ujar-ujar bisa 1-1=2. Konyol kan?   Hemat itu langkah konyol sekali untuk menambah kekayaan. Misal Anda ingin naik penghasilan jadi 5 juta perbulan, kemudian Anda berhemat yang justru angka kebutuhannya mendekati penghasilan 2 juta perbulan, bukankah konyol? Karena berhemat itu ingin kaya tapi pakai langkah mengurangi.   • Frame finansial.   Dari frame finansial, hemat itu artinya langkah mengurangi kebutuhan. Sementara rezeki itu diturunkan Tuhan untuk cukupi kebutuhan, kalau kebutuhannya dihilangkan, akankah rezeki diturunkan?   Cacing kebutuhan rezekinya hanya makan dan berkolonisasi, tidak ada kebutuhan rezeki uang buat jajan, lantas apa ada cacing yang jadi milyader? Kebutuhan atas materi ditiadakan, rezekinya juga dihapuskan.   Karena itu misal Anda punya kebutuhan rokok, kemudian turunlah rezeki untuk beli rokok, lantas kebutuhan rokoknya dihilangkan dengan berhenti merokok, lalu masihkan rezeki untuk beli rokok ada? Tentu rezeki untuk beli rokok dihapus oleh-Nya, sama seperti cacing yang tidak butuh rezeki uang.   Hemat tentu praktek mempersempit kebutuhan. Kebutuhan rokok 30 ribu perhari, dengan hemat kebutuhan rokoknya dipersempit, misal jadi 15 ribu perhari, lah kalau diperkecil kebutuhan finansialnya, ya auto kecukupan rezekinya juga diperkecil. Iya kan?   • Frame religious   Dari frame religius, hemat itu disebut taqtîr. Hemat posisinya sama saja dengan pemborosan. Kalau boros itu tercela, hemat juga tercela, kalau boros itu memiskinkan, hemat juga memiskinkan.   وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا   ”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) irit, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S. Al-Furqan: 67)   • Frame sosial.   Dari frame sosial, hemat itu pelit dan bakhil namun pelit kepada diri sendiri. Lah pelit, kikir, bakhil, apa ada yang terpuji? Jauh dari standar akhlaqul karimah.   • Frame spiritual   Dari getaran spiritual, hemat cenderung muncul dari rasa khawatir kekurangan.   Rasa khawatir kekurangan jelas getaran rasa miskin. Hati memiliki rasa miskin itu tidak jauh beda dengan orang yang mengingkari nikmat, sebab tidak mampu berterima kasih kepada-Nya. Padahal Tuhan kurang apa kasih nikmat kepada Anda?   Di samping itu, rasa khawatir kekurangan itu sama saja meragukan janji Tuhan kalau rezeki itu jaminan-Nya. Tuhan diragukan konsistensi janji-Nya, ya jelas sikap kufur.   Nah semua mode hemat di atas, kenapa buruk? Itu karena mode hemat di atas semuanya berkode menerpurukan kualitas jiwa Anda.   Lah iya, cek saja satu-satu per frame; dari frame mental dilatih ringkih atas uang, ini program penerpurukan jiwa yakni mental.   Dari sisi matematis, logika dilatih berpikir konyol dengan inginkan hasil tambah tapi dengan mengurangi, ini program penerpurukan jiwa yakni penafian nalar logis. Dari sisi finansial, kecukupan hidup yang adalah bagian dari kebahagiaan hati malah kebutuhannya dikurangi, ini program penerpurukan jiwa yakni menolak bahagia.   Dari sisi religi, tahu-tahu irit itu sama dengan boros, dan boros itu temannya setan, eeh setan ditemani, kan tidak qur’ani? Dari sisi sosial, irit sama dengan bakhil pada diri sendiri, diri sendiri dibakhili kan kejahatan pada jiwa manusia? Dari sisi spiritual, itu sudah jelas sekali, rasa khawatir kekurangan atas uang itu sejelek-jeleknya kondisi jiwa kepada Tuhannya.   Jadi semua mode hemat di atas faktor pemicunya adalah program penerpurukan jiwa.   Sekarang begini.   Puasa itu sebenarnya mode hemat, makan minum dikurangi. Kenapa puasa jadi sebuah kebaikan? Itu dikarenakan puasa punya akses niat untuk menguatkan jiwa.   Puasa Ramadhan misalkan, akses niatnya untuk tingkatkan kualitas iman sehingga dapatkan maghfirah Tuhan, akhirnya puasa yang sebenarnya mode hemat jadi kebaikan.   Atau seperti Mahapatih Gajah Mada yang berikrar Amukti Palapa, itu sebenarnya mode hemat, karena menurut tafisiran M. Yamin, Sumpah Palapa artinya Gajah Mada tidak akan menikmati kesenangan apapun sebelum sumpahnya untuk satukan nusantara terwujud. Namun karena mode hemat Sumpah Palapa punya misi kuatkan jiwa yakni demi visi kejayaan negara, jadinya mode hemat jadi kegemilangan.   Jadi hemat asalkan punya visi kuatkan jiwa itu tidak masalah, malah utama.   Persoalannya, di alam penciptaan Tuhan ini yang tercipta tersempurna itu jiwa Anda. Lihat saja ambulan yang bebas di jalanan, lampu lalu lintas boleh ditabrak, kendaraan umum harus minggir dahulukan ambulan, itu karena ambulan sedang bawa misi selamatkan jiwa manusia.   Ada bencana alam, jiwa manusia diutamakan selamat. Jiwa diciptakan paling sempurna lalu Anda rusak kualitasnya dengan hemat, itu kan sama saja merendahkan martabat jiwa kepada uang.   Sehingga ketika Anda berhemat, Anda harus cek ke kedalaman niat, visi dan misi Anda, merupakan visi kokohkan kualitas jiwa atau lemahkan kualitas jiwa? Artinya hemat Anda itu merupakan penghormatan untuk jiwa Anda apa perendahan untuk martabat jiwa Anda? Itu harus dicek.   Berikut contoh-contoh mode hemat dengan akses visi kokohkan jiwa;   • Hemat agar bisa sekolah atau bisa biayai pendidikan.   Sekolah merupakan akses ilmu. Ilmu jelas prioritas pertama untuk punya jiwa berkualitas.   Atau seperti para santri di pondok pesantren yang makan sehari cuma 2 kali. Mereka lakukan itu demi akses peroleh ilmu, itu jelas hemat dengan program kokohkan kualitas jiwa.   • Hemat agar punya modal dagang.   Dagang itu merupakan pengembangan potensi diri. Kalau potensi diri tidak kreatif dikembangkan, hidup akan cenderung terpuruk. Hemat demi bisa mengumpulkan atau menambah modal itu berarti jiwa kreatif dalam dagang.   • Hemat agar bisa sejahterakan keluarga, misal hemat agar punya rumah mapan, punya kendaraan, itu semua kewajiban untuk

MEI 2023

KALAU DIDENGKI, SATU HAL INI YANG ANDA TIDAK BOLEH MENGALAH

Dengki itu kondisi hati yang cari bahagia dengan bersyarat yakni menggantungkan kebahagiaan pada celakanya orang lain. Kalau orang lain celaka, hati dengki akan bahagia, sebaliknya kalau orang lain beruntung, hati dengki akan sedih merana.   Karena menggantungkan kebahagiaan hati pada celakanya orang lain, hakikat dengki adalah getaran hati yang terus kirimkan getaran san+et terus menerus. Iya, Anda menyan+et, di situ kondisi hati Anda kan sedang cari bahagia, hanya saja bahagianya bersyarat dengan terjadinya kecelakaan buruk pada korban san+et Anda.   Jadi hati dengki itu getaran hati yang sedang kirimkan getaran san+et terus menerus kepada orang lain.   Kalau Anda disan+et orang, Anda sebagai korban san+et bukankah jadinya mendengki kepada pelaku? Mungkin awalnya hati Anda biasa saja kepada pelaku, tapi begitu tahu siapa pelakunya, hati Anda akhirnya mendengki juga kepada pelaku.  Sebab ini pendengki dan korbannya akan terjebak dalam kondisi saling mendengki yang sama dahsyat. Pelaku jadi pendengki, korban juga jadi pendengki. Multi efek.   Bahagia yang digantungkan pada celakanya orang lain, sementara hidup itu menganut sistem tebar tuai, sehingga dengki berpotensi besar celakai diri sendiri sebab tuaian atau efek dari aktifitas getaran hati yang berharap akan celakanya orang lain.   Sama seperti Anda yang curi kendaraan tetangga, di situ Anda menebar celaka untuk orang lain, tuaiannya Anda digebuki orang, dipenjara, dikucilkan masyarakat, dan juga harus ganti kerugian materi orang yang Anda curi kendaraannya. Dengki pun begitu, hati Anda menebar kecelakaan pada orang lain, tuaian kecelakaan itu akan menghantam diri Anda sendiri.   Guru saya berwasiat, seorang pendengki sangat berpotensi punya keturunan yang bobrok kualitasnya, dikarenakan hukum tebar tuai berharap celaka pada orang lain. Orang tuanya alimnya luar biasa, anaknya goblok tidak punya karakter ilmu, orang tuanya kaya raya, anaknya miskin sengsara, orang tuanya akalnya sehat, anaknya gila. Dan seterusnya.   Potensi efek buruknya bisa diwariskan kepada anak karena memang hidup ini mengenut sistem warisan. Bukan hanya harta yang diwariskan, kemiskinan diwariskan, masalah diwariskan, hutang diwariskan, visi misi diwariskan, bahkan pahala dan karma juga diwariskan, dan seterusnya.   Rusia itu wilayah negaranya mewarisi Uni Soviet, negara penerus Uni Soviet, segalanya juga mewarisi Uni Soviet. Musuh Rusia adalah musuh warisan Uni Soviet, politik internasional Rusia adalah warisan kebijakan Uni Soviet, sekutu Rusia adalah sekutu Uni Soviet, dan seterusnya.   Jadi logis kalau efek dengki itu akibat dan resikonya bisa diterima oleh anak keturunan karena hukum waris ini, sebagai warisan karma buruk.   Dengki itu jelas buruk, namun adakah di antara Anda yang seumur hidup belum pernah mendengki ataupun didengki? Saya percaya tidak ada.   Mungkin ada yang merasa belum pernah mendengki atau didengki tetapi saya yakin itu hanya “merasa” saja dikarenakan kualitas self control yang buruk. Kalau mau cek diri, saya percaya semua orang pernah alami mendengki ataupun didengki.   Minimalnya kalau sedang tidak menyukai orang lain, disitu secara auto Anda akan terlibat dalam kedengkian. Begitu tidak suka, otomatis muncul pula harapan orang yang tidak Anda sukai alami celaka. Nah siapa yang belum pernah alami keadaan ini? Tidak ada.   Hal ini ditegaskan oleh ulama Ibn Rajab bahwa hasad lekat dengan tabiat manusia, yakni tidak ingin diungguli oleh siapapun dalam hal-hal kebaikan.   Oleh karena itu, sangat disarankan untuk tidak mengikuti rasa dengki saat ia muncul. Jangan ekspresikan hasad tersebut melalui anggota tubuh ataupun ekspresi wajah.   مَا خَلَا جَسَدٌ مِنْ حَسَدٍ، لَكِنَّ اللَّئِيمَ يُبْدِيهِ وَالْكَرِيمَ يُخْفِيهِ   “Tak ada jasad yang selamat dari dengki. Akan tetapi orang yang buruk menampakkannya dan orang yang baik menyembunyikannya.” (Majmu’ Fatawa : 10/125)   Jadi tidak ada yang bisa luput dari rasa dengki, hanya saja bagi Anda yang menyadarinya akan berusaha keras mengistighfarinya dan berusaha tidak menampakannya.   Sebegitu buruknya dengki, kenapa Tuhan tidak pernah meluputkan dengki dari hati seorang pun? Sedemikian mengerikannya, kenapa tidak ada hati seorangpun yang tidak pernah dihampiri rasa dengki?   Karena dengki itu manfaatnya besar juga untuk proses hidup Anda. Dengki itu manajemen stres. Sementara segala perubahan hidup itu karena adanya sistem stres di alam semesta.   Bodi tubuh Anda bisa tumbuh karena adanya stres yang dialami oleh sistem metabolisme tubuh dalam mencerna, menyerap, dan mengasimilasi makanan untuk diubah menjadi energi.  Dalam proses metabolisme ada stres akut pada sistem pencernaan Anda, dimana usus-usus Anda begitu sadis mendengki kepada makanan, dihancurleburkan lalu diolah sedemikian rupa sehingga metabolisme tubuh benar-benar menggerus-gerus penuh dengki dengan utuhnya makanan yang masuk lewat mulut Anda.   Padi digubah jadi beras juga melalui mamajemen stres serupa, dimana padi masuk mesin penggilingan yang disitu kedengkian mesin penggiling padi pada kulit padi begitu sadis.   Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lahir karena manajemen stres yang berlangsung cukup lama. Dimulai dari penaklukan satu persatu wilayah di nusantara oleh Belanda, sehingga menjadi satu wilayah Hindia Belanda.   Dalam proses penaklukan tersebut yang namanya stres berlangsung akut. Dilanjutkan stres perang kemerdekaan RI yang begitu banyak memakan korban. Baru kemudian dari manajemen stres ini lahirlah NKRI.   Nah dengki itu manajemen stres, sementara stres itu manfaat besar untuk alam semesta. Sebab ini sekalipun dengki begitu diiblis-ibliskan oleh Anda sebagai keburukan, tapi ya Tuhan tetap memeliharanya dan merawatnya, hingga hampir tidak ada seorangpun yang bisa lepas dari rasa mendengki dan didengki, sebab dengki itu hakikatnya adalah proses perubahan itu sendiri. Kembali ke masalah dengki merupakan bahagia bersyarat yang digantungkan pada celakanya orang lain.   Bahagianya pendengki jika nikmat yang hadir dalam hidup Anda hilang. Nah di masalah ini, jika Anda menerima begitu saja nikmat yang Anda peroleh hilang, maka hati si pendengki makin angkuh dan bertepuk dada, dan tentu dengkinya tidak akan temui kesembuhan.   Sebab ini satu hal yang Anda harus berupaya keras bertahan, tidak boleh mengalah begitu saja, apalagi mengalah karena merasa lemah, yakni di perihal nikmat yang didengki. Umpama Anda didengki karena popularitas Anda terus naik daun, di permasalahan popularitas ini Anda jangan sekalipun berpikir mengalah dan kalah.   Kelahi, labrakran, serangan, cacian, barangkali Anda boleh mengalah, bahkan kadang wajib mengalah, tapi nikmat yang diperoleh yang didengki olehnya harus diperjuangkan untuk bertahan, syukur bisa bertambah nikmatnya. Dengan begitu Anda dapat pahala karena membantu si pendengki untuk sembuh dari penyakit hatinya.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

MODE GETARAN TINGGI DAN GETARAN RENDAH UANG

Saya di tahun ini selama 5 bulan menjadikan diri saya sendiri sebagai kelinci percobaan terhadap getaran penarik uang. Jujur saya menggunakan Tabel Vibrasi Hawkins dari Mas Arif Rahutomo.   Saya sengaja pasang diri saya di medan getaran vibrasi rendah yakni bangga dan marah. Lalu saya mengamati apakah ada penurunan penghasilan finansial apa tidak?   Sengaja saya pasang diri di mode bangga dan marah saja, tidak sampai ke mode rasa tidak berharga seperti pemalu dan pesimis, karena pasang mode bangga dan marah itu bagi saya mudah-mudah saja sebab memang saya punya watak bawaan itu, wkkkk. Tapi kalau pemalu, tidak percaya diri, pesimis, minder, mikirin saja malas apalagi memasangnya untuk diri saya.   Dalam kurun waktu 5 bulanan, ada orang nyakiti saya ya saya jengkel, membenci, mendendam bahkan mencaci maki. Kalau bicara di depan orang, bahkan di depan publik ya saya dengan percaya diri membanggakan diri.   Hasilnya bagaimana? Ternyata finansial saya baik-baik saja, artinya rasa bangga dan marah itu tetap punya daya kuat menarik uang.   Saya renungi walaupun rasa bangga dan rasa marah itu mode getaran vibrasi rendah, namun bangga dan marah itu rasa yang masih menghargai diri sendiri.   Jadi pantas kan kalau Qarun yang sangat bangga diri tetap kaya, Fir’aun yang congkak dan otoriter tetap kaya, Namrudz (Nimrod) yang sangat sombong tetap kaya raya, itu karena memang rasa bangga dan marah itu rasa yang kuat dalam soal penghargaan kepada diri sendiri.   Uang itu derajatnya jauh di bawah martabat manusia, sehingga ketika si manusia memiliki mode menghargai diri sendiri entah apapun bentuk casing-nya, entah casing kebaikan seperti rasa berani dan rasa percaya diri, ataupun casing keburukan seperti rasa bangga diri, rasa dominan, rasa berkuasa, rasa marah, di situ uang masih antusias mendekat.   Nah sekarang Anda amati kondisi mentalitas kaum dhuafa, mengapa mereka finansialnya sangat buruk? Karena rata-rata mereka berada di mode getaran vibrasi rendah tapi yang tidak punya akses menghargai diri. Seperti mode getaran rasa minder, rasa tidak berharga, rasa lemah diri, rasa pesimis, rasa putus asa, rasa mengeluh, rasa miskin, itu semua mode getaran vibrasi rendah tapi tidak menghargai diri.   Orang-orang dhuafa itu mudah mengalah tapi karena merasa lemah, mereka mudah menurunkan frekuensi marah tapi karena rasa kalahan, mudah ridha dan merelakan tapi karena rasa tidak berdaya, mudah menurut tapi karena rasa tidak punya kuasa, mode-mode perasaan rendah ini yang hancur-hancurkan finansial mereka karena itu semua akses rasa tidak menghargai diri. Uang enggan mendekat kepada getaran rasa yang tidak hargai diri.   Bukan cuma uang yang enggan mendekat kepada mereka, penyakit, aniaya, hinaan, perendahan juga mudah datangi mereka saking rendahnya getaran vibrasi mereka dalam menghargai diri mereka sendiri.   Lalu titik lemah orang yang berada di mode bangga diri dan marah itu dimana? Anda pernah kan lihat postingan saya sedang dirawat di rumah sakit karena DBD? Itu karena saya kalah tarung getaran energi vibrasi dengan orang yang sebenarnya tidak begitu bagus getaran vibrasinya.   Selama ini saya amati dia orang yang begitu kuat rasa bangga dirinya sehingga suka merendahkan orang, suka memanfaatkan orang demi keuntungannya sendiri, suka menuntut, suka egois mengikat orang lain demi kepentingannya sendiri, namun saya kok kalah bertarung energi vibrasi dengannya?   Ternyata karena saya menghadapinya dengan rasa marah, dendam dan benci. Jadi rasa bangga itu masih menang energi dengan rasa marah. Bangga versus marah, ternyata bangga diri yang menang.   Sehingga jebakan kelemahan orang dengan mode getaran vibrasi bangga dan marah itu dia sekalipun uangnya masih kuat namun dia mudah kualat, rentan kena musibah karena kualat, khususnya ketika dia berhadapan dengan mode getaran vibrasi tinggi.   Orang bangga diri kok berhadapan dengan orang diam dalam kepasrahan, ya sudah si pembangga diri tersebut hancur lebur kena kualat, celaka.   Apalagi berhadapan dengan mereka yang punya mode vibrasi tinggi, lah saya pasang mode vibrasi marah dan benci lalu hadapi mode vibrasi bangga diri saja kalah.   Kembali ke mode getaran vibrasi penarik uang. Kuncinya uang itu adalah mode perasaan menghargai diri, entah Anda berada di mode getaran rendah maupun tinggi.   Anda di mode getaran rendah, namun Anda frekuensi getarannya masih menghargai diri seperti rasa bangga, rasa marah, rasa keras kepala, itu masih kuat menarik uang. Maria Ozawa keras kepalanya seperti apa, keluarganya menyerang tidak mendukungnya ketika dia memutuskan di karir pornografi, tapi Maria Ozawa duitnya makin gaek saja, itu karena keras kepala adalah getaran kuat menghargai diri.   Demikian pula Anda di mode getaran vibrasi tinggi namun Anda masih bergetar di getaran menghargai diri juga masih kuat menarik uang.   Misal Anda sedang sedih dan berduka yang merupakan mode getaran rendah, tapi Anda masih punya rasa optimis besar dan tetap semangat memperjuangkan impian Anda, di situ uang masih enjoy mendekat, karena optimis dan semangat diri itu getaran menghargai diri.   Nah yang hancur-hancurkan tarikan uang itu getaran yang tidak menghargai diri entah dimanapun mode vibrasi Anda berada. Di mode vibrasi rendah, Anda bisa kesulitan uang, demikian pula di mode vibrasi tinggi Anda bisa kesulitan uang, itu tergantung Anda punya getaran menghargai diri atau tidak.   Umpama Anda di mode getaran rendah seperti rasa sedih, tapi diiringi rasa pesimis, rasa tidak berharga dan menyesal, di situ Anda total off dari rasa menghargai diri, di situ Anda hancur uangnya.   Sama juga Anda di mode getaran tinggi seperti rasa berserah pasrah, tapi diiringi rasa polos sehingga Anda mudah dimanfaatkan orang rakus, di situ getaran penarik uang Anda lemah, karena polos sehingga mudah dimanfaatkan orang itu getaran tidak menghargai diri.   Karena itu orang-orang suci seperti para waliyullah banyak kan yang miskin papa? Karena sebenarnya mereka saking nolnya dari ego demi mendapatkan pencerahan spiritual hingga mereka lupa untuk menghargai diri mereka sendiri.   Namun orang-orang suci seperti itu bukan orang dhuafa, mereka tetap kuat, maka itu model seperti mereka kerap “ngualati” kalau direndahkan, bahkan kerap keluar karamah dan keramatnya sebab tingginya mode getaran vibrasi mereka, hanya saja untuk urusan uang mereka terpinggirkan. Itu saja.   Catatan: takut masih ada yang awam banget ilmu vibrasi, saya sertakan Tabel Vibrasi Hawkins. Energi 175 ke bawah itu mode getaran rendah, energi 200 ke atas itu mode getaran

MEI 2023

JAJAN DAN PLESIRAN FÎ SABÎLILLAH

Di video Tiktok saya pernah sampaikan kalau urusan spiritual itu memiliki nilai privilege, sehingga nilai-nilai spiritual semacam nilai ibadah, nilai ikhlas, nilai tawakal, dan lain-lain itu bukan hanya milik orang yang sedang menahan hawa nafsu, orang yang di keadaan mengikuti hawa nafsu pun juga punya kesempatan sama.   Jadi peroleh nilai spiritual itu jalannya tidak hanya menghadang hawa nafsu, tetapi menungganginya juga bisa agar hawa nafsu mengantar Anda menuju Tuhan.   Di tanggal tua, Anda pulang kerja, istri pasang muka judes kepada Anda karena duit belanja habis sementara cicilan kredit waktunya dibayarkan, lalu di hati Anda diniati untuk latihan sabar dan tawakal, di situ di keadaan tidak punya uang jadi ladang pahala untuk Anda karena berlatih peroleh ridha Allah dengan sabar dan tawakal.   Sebaliknya di tanggal muda seusai gajian, Anda sedang luas duitnya, sesudah bayar semua tanggungan kewajiban, Anda ajak istri ke mall, niat Anda peroleh ridha Allah dengan menggembirakan istri, hasilnya ya pahala dan ridha Allah juga.   Jelas kan, kondisi melarat ataupun punya uang, keduanya punya potensi sama dalam capaian nilai spiritual asal kesadaran Anda mendukungnya. Tinggal kemana kesadaran Anda.   Maka itu hawa nafsu itu mau dihadang ataupun ditunggangi berpotensi capai nilai spiritual dengan kualitas kesucian yang sama. Menghadang nafsu untuk capai nilai spiritual ya seperti puasa, menunggangi nafsu untuk capai nilai spiritual ya seperti ajak istri ngresto dan traveling untuk cari ridha Allah dengan gembirakan istri.   Imam Asy-Syadzili cenderung berorientasi menunggangi hawa nafsu agar peroleh ridha Allah, Imam Ghazali sebaliknya cenderung menghadang hawa nafsu, sehingga ajaran-ajaran Imam Ghazali cenderung mengajak untuk prihatin seperti riyadhah (tirakat), mujahadah (berjuang keras lawan hawa nafsu), ‘uzlah (mengasingkan diri), istihqâr (meremehkan harta), dan lainnya.   Imam Asy-Syadzili sebaliknya, cenderung menunggangi nafsu, seperti termaktub dalam Kitab Syarhul Minahis Saniyyah karangan Sayyid Abdul Wahhab Ady-Sya’rani, halaman 5, berikut ini;   وقد كان أبو الحسن الشاذلى رحمه الله يقول لأصحابه : كلوا من أطيب الطعام واشربوا من ألذ الشراب وناموا على أوطاء الفراش وألبسوا ألين الثياب.   “Al-Imam Abul Hasan Ali as-Syadzili, pendiri Tarekat as-Syadziliyah berkata kepada murid-muridnya, “Makanlah makanan yang paling enak, minumlah minuman yang paling nikmat, tidurlah di atas kasur yang paling lembut, dan pakailah pakaian yang paling bagus.”   فإن أحدكم إذا فعل ذلك وقال الحمد لله يستجيب كل عضو فيه للشكر بخلاف ما إذا أكل خبز الشعير بالملح ولبس العباءة ونام على الأرض وشرب الماء المالح السخن وقال الحمد لله فإنه يقول ذلك وعنده اشمئزاز وبعض سخط على مقدور الله تعالى.   “Jika di antara kalian melakukan itu semua, lalu mengucapkan, ‘Alhamdulillah,’ maka semua anggota badannya telah memenuhi syukurnya dengan benar. Beda halnya, jika di antara kalian makan roti terigu yang kasar dicampur dengan garam, memakai jubah kasar, tidur beralaskan tanah, minum air asin yang panas, lalu mengucapkan Alhamdulillah, maka ucapan syukur tersebut bercampur dengan rasa muak, dan sedikit benci dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah ﷻ.”   ولو أنه نظر بعين البصيرة لوجد الاشمئزاز والسخط الذى عنده يرجح في الإثم على من تمتع بالدنيا بيقين.   “Andai dia bisa melihat dengan mata hatinya, dia akan menemukan rasa muak dan tidak rela dengan takdir Allah ﷻ itu adalah lebih besar dosanya dibanding orang yang bersenang-senang dengan dunia dengan yakin.”   فإن المتمتع بالدنيا فعل ما أباحه الحق سبحانه وتعالى، ومن كان عنده اشمئزاز وسخط فقد فعل ماحرمه الحق عز وجل.   “Sebab orang yang bersenang-senang dengan dunia dia melakukan yang perkara yang diperbolehkan oleh Allah ﷻ, sedangkan orang yang tidak rela dan benci dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah ﷻ dia melakukan perkara yang diharamkan oleh Allah ﷻ.”   Imam Ghazali melihat nafsu sebagai musuh menuju Tuhan, Imam Syadzili cenderung melihat nafsu sebagai teman menuju Tuhan, sebagai fasilitas yang bisa ditunggangi menuju-Nya.   Sayyid Zaini Dahlan dalam kitab Taqrîbul Ushûl halaman 12-13 menjelaskan, Imam Syadzili merupakan pejalan Tuhan yang cenderung meringankan perkara bagi para pejalan Tuhan sehingga mereka tidak membutuhkan banyak perjuangan (mujahadah) untuk menuju Tuhan, tidak perlu neko-neko.   Bagi Imam Syadzili menuju Tuhan itu cukup dengan menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, memperbanyak syukur dan menyaksikan anugerah dan pemberian-Nya.   Menurut Sayid Zaini Dahlan, Imam Ghazali itu sebaliknya. Imam Ghazali menunjukkan konsistensi yang kuat untuk menuju Tuhan dengan ketekunan berjuang (mujahadah) memerangi syahwat.   Sekali lagi, nafsu itu bisa jadi teman menuju-Nya yang Anda bisa menungganginya, juga bisa jadi musuh penghalang menuju-Nya sehingga Anda harus memeranginya. Dua-duanya tidak ada yang salah, tidak ada yang lebih suci, sama. Itu semua tergantung cara pandang kesadaran Anda sendiri.   Anda pagi-pagi sudah menikmati kopi di hotel bintang 5 yang secangkirnya 60 ribu, namun Anda sadar sepenuhnya sedang menikmati anugerah keberlimpahan hidup dari Allah, itu pahalanya menyamai Anda yang pagi-pagi sedang sabar puasa.   Jadinya memang Anda yang keluar masuk restoran dengan Anda yang puasa itu kedudukannya sama untuk capai nilai spiritual.   Nabi S.A.W bersabda,   الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ بِمَنْزِلَةِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ   “Orang makan yang syukur menduduki derajat orang puasa yang sabar.” (H.R. Bukhari)   Atau Anda sedang plesiran di pantai, lalu Anda saksikan debur ombak menghantam karang, di situ Anda berdecak kagum baca, “Subhanallah,” karena kagum dengan indahnya ciptaan Allah, yang berarti Anda zikir kepada Allah di saat orang lain hanya menikmati kegembiraan plesiran, di situ kedudukan Anda menyamai kedudukan orang yang sedang pertaruhkan nyawa jihad di jalan Allah.   Nabi S.A.W bersabda,   ذَاكِرُ اللَّهَ فِي الْغَافِلِينَ مِثْلُ الَّذِي يُقَاتِلُ عَنِ الْفَارِّينَ   “Orang yang zikir kepada Allah di tengah-tengah orang yang lupa ingat kepada-Nya itu menyamai orang yang maju di medan perang di tengah para prajurit yang melarikan diri.” (H.R. Baihaqi)   Wah kalau begitu enak ya, menuju Tuhan cukup dengan senang-senang saja? Tidak begitu. Segalanya punya tempatnya masing-masing. Misal di saat Anda bangun bisnis atau sedang sekolah ya mau tidak mau Anda harus melawan nafsu, khususnya nafsu malas dan nafsu boros karena uang Anda dipakai modal atau untuk biaya sekolah. Namun di saat Anda sudah punya uang, saat Anda menikmatinya, di situlah Anda tunggangi nafsu Anda agar capai ridha-Nya.   Alhasil hidup itu semata-mata nikmat kok. Melawan nafsu itu ibadah, menunggangi nafsu juga ibadah. Berjuang itu ibadah, menikmati juga ibadah.   Muhammad Nurul Banan   Gus

MEI 2023

UANG ITU MATRE; SPIRITUAL BERKONSEP SAMA SEPERTI UANG #Part 2

Sebelum baca ini harus baca dulu part 1-nya, “Uang itu Matre; tidak Berharga, tidak Berduit.”   Banyak artis yang karirnya tetap eksis sekalipun ia pernah memiliki rasa malu besar karena video asusilanya. Waktu kasusnya terpublis, terekam kamera saja, si artis sampai tutupi wajahnya saking merasa betapa dirinya tidak berharga.   Andai ia terus-terusan di kondisi psikis demikian; malu, menyesal, menyalahkan diri, merasa berengsek, sudah pasti ia ambruk finansialnya, karena uang paling enggan datangi orang yang berperasaan tidak berharga.   Para artis yang terjerat kasus asusila pasti punya kemampuan mempertahankan diri dari desakan rasa-rasa malu tersebut, dan faktanya hingga detik ini karir para artis tersebut tetap eksis.   Itu juga yang terjadi pada Maria Ozawa. Ia tidak merasa kalau menjadi porn star itu memalukan, profesi yang merusak harga dirinya, justru—barangkali—ia merasa kalau profesi itu adalah passion dan potensi terbaiknya, sebab ini ia makin gaek saja karirnya.   Dinner bareng Miyabi di Jakarta yang kemarin dibatalkan, itu tarif untuk bisa semeja bareng Miyabi 50 juta. Kan wow.   Sebuah hadits Nabi S.A.W mengisyaratkan,   الزِّنَى يُوْرِثُ الْفَقْرَ   “Zina mewariskan kefakiran.” (H.R. Baihaqi & Al-Qudha’i)   Lah kok tidak berlaku kepada orang-orang di atas? Itu dikarenakan sistem ketahanan mentalitas mereka kepada rasa bersalah zina itu kuat, mereka kecil rasa berdosanya, sehingga semalu apapun mereka, tidak sampai merasa tidak berharga.   Sama saja seperti dunia premanisme. Para geng preman itu ketika menganiaya orang lain bukannya merasa berdosa atau menzalimi, justru mereka merasa punya kuasa dan punya rasa hebat. Hasilnya ya banyak mafia yang kaya raya kan?   Jadi intinya uang itu tidak mengenali getaran baik atau buruk, dosa apa pahala, yang dikenali uang hanya getaran perasaan berharga. Itulah matrenya uang, “elu berharga, gue beli.” Otak matre kan tidak bisa lihat baik atau buruk, apalagi lihat value, yang ia lihat cuma wujud luar saja. Uang persis seperti itu.   Ada kisah dari teman saya, ia seorang ibu muda. Suatu ketika ia besuk bayi tetangganya. Si tetangga punya mental inferiority complex; merasa rendah diri dan merasa bermutu rendah karena keadaan hidup yang pas-pasan.   Lucu, besuk bayi tetangga kalau di kampung itu kasih amplop 50 ribu sudah umum, tapi anehnya rombongan teman saya tersebut, pulangnya dikasih amplop balikan berisi 100 ribuan. Serombongan teman saya kaget semua, sebab melihat kondisi ekonomi tetangganya ini yang masih morat-marit banget.   Semua orang paham, pengembalian amplop tersebut bukan digetarkan dari rasa kaya, rasa menghargai orang ataupun rasa dermawan, tapi digetarkan dari rasa inferioritas berlebih, di mana si tetangga yang punya bayi ini punya perasaan sangat takut merepotkan tetangga karena kemiskinannya. Akhirnya serombongan teman saya sepakat uang balikan yang 100 ribu itu dikembalikan lagi.   Coba, dikasih 50 ribu dikembalikan 100 ribu, itu kan perbuatan baik? Namun karena dilatari inferioritas yakni rasa tidak berharga, rasa rendah diri, hasilnya kehidupan finansial si tetangga yang punya bayi tidak pernah dibeli mahal oleh uang, kehidupan hariannya sangat-sangat kekurangan.   Hahaha matre banget ya uang itu? Orang baik dicueki saja karena ia merasa tidak berharga.   Tentu di sini saya mutlak sedang bicara hakikat uang yang sebenarnya, saya tidak sedang mengaitkan dengan spiritual, kebaikan apalagi kesalehan.   Nah tentu yang Anda impikan adalah uang yang ditarik dari kesalehan spiritual kan? Sehingga uang tidak sekedar bernilai materialistik namun juga spiritualistik.   Spiritualistik pun konsepnya sebenarnya sama dengan materialistik yakni rasa berharga. Lah iya, Anda sedekah diumpet-umpetin dari publik, dihindar-hindarkan dari rasa pamer, itu kan demi menghargai nilai diri Anda di depan Tuhan? Artinya agar diri Anda berharga di depan-Nya sampai Anda melakukan hal demikian.   Sampai ada spiritualis yang memegang kuat konsep fanâ, moksa, kesadaran murni, konsep kosong, konsep eneng (diam) atau yang kemarin baru ngetrend konsep sufi malamatiyah dimana harga diri dirusak sedemikian rupa di depan manusia, misal sengaja keluar masuk diskotik agar publik menyangka dia ahli maksiat, walau hakikatnya dia ahli zikir, konsep malamatiyah ini kan ujung-ujungnya juga orang yang sedang berusaha keras agar dia berharga di depan Tuhannya?   Jadi sedemikian rumitnya menjalani lelaku spiritual, ujung-ujungnya sama kan yakni dapatkan rasa berharga, sama-sama sedang jalankan kepentingan diri agar lebih berharga?   Jadi spiritualistik dan materialistik itu sama saja, sama-sama kepentingan ingin berharga.   Selagi mencari rasa berharga, itu uang masih akan membeli. Karena itu mendalami spiritual dengan jalan menghancurkan ego seperti fana, moksa, hening, suwung, diam, tawadhu’, rendah hati, malamatiyah, ‘uzlah, tirakat, riyadhah, mujahadah, memurnikan kesadaran, dan lain-lain itu juga ujung-ujungnya didatangi uang.   Hanya saja catatannya selagi masih mencari nilai harga untuk diri, yakni berharga di depan Tuhannya. Dan ini adalah penghargaan terhadap diri yang paling mulia.   Lalu kenapa Uwais Al-Qarni, Rabi’ah Adawiyah, Al-Hallaj, hidup begitu miskinnya padahal aktifitas hidup mereka adalah mencari rasa berharga di depan Tuhan? Itu bukan uang tidak mau menghargai mereka untuk datang, tapi memang mereka saja yang sudah tidak butuh uang lagi. Sudah malas.   Al-Hallaj sendiri misalkan, ketika hendak dieksekusi mati, ditanyai oleh sahabatnya; As-Syibli, “Guru, zuhud itu apa?” Tanpa menjawab Al-Hallaj meludahi batu, dan seketika batu menjadi emas. Lantas Al-Hallaj berkata, “Itu zuhud,” sembari pandangan matanya menunjuk ke arah batu yang jadi emas.   Artinya Al-Hallaj bukan tidak dihargai uang, batu saja diludahi terus jadi emas, tapi ia yang memang merasa tidak butuh uang. Sama seperti Nabi Muhammad S.A.W yang gunung Uhud bersedia jadi emas untuknya, tapi beliau tidak butuh lagi.   Jadi kalau ada orang mengaku sedang berjalan di jalan Allah kok bilang, “Duit susah dicari,” itu pejalan Allah abal-abal sebab harga tertinggi di kehidupan ini adalah berharga di depan Tuhan, sementara uang yang matre itu sederhana konsepnya, “elu berharga, gue beli.” Kalau sudah berharga di depan Tuhan, masalah uang itu cuma masalah sampah.   Sehingga Anda yang sedang memurnikan diri kepada Tuhan, lanjutkan terus, karena konsep menuju Tuhan justru itu adalah konsep penghargaan tertinggi kepada diri sendiri. Tidak usah khawatir miskin, sebab mau serumit apapun Anda dalam melepaskan ego demi mencari pencerahan-Nya, di situ Anda sebenarnya sedang berjuang untuk berharga. Kapan berharga, pasti dibeli oleh uang.   Dan kalaupun Anda memilih kesalehan spiritual namun Anda masih kesulitan uang, itu karena memang Anda masih kurang shaleh, sehingga prestasi spiritual Anda belum

MEI 2023

UANG ITU MATRE; TIDAK BERHARGA, TIDAK BERDUIT

Uang itu makhluk materialistik, karena itu yang menarik uang untuk hadir dalam jumlah besar ataupun kecil adalah nilai harga. Apapun yang sudah tidak berharga secara material, uang enggan-engganan datang. Barang rongsokan selalu dihargai murah, sekalipun itu rongsokan barang mewah, karena rongsokan tidak lagi berharga. Uang itu matre.   Sebuah harga bisa dinilai dari berbagai aspek, bisa dari kualitas, dari manfaat, dari keantikan, dari nilai artistik, dari kebaikan dan lainnya. Yang jelas kalau sesuatu itu dinilai berharga, uang baru berkenan datang, makin nilai harganya tinggi, uang makin agresif mendatangi.   Karena tabiat materialis inilah, uang ketika hendak mendatangi seseorang juga melihat nilai harga pada diri orang tersebut. Seorang presiden karena punya harga lebih tinggi dari gubernur maka presiden dilayani oleh uang dengan lebih baik. Gubernur karena lebih berharga dari bupati, maka gubernur dilayani oleh uang dengan lebih baik. Matre banget, ya?   Kalaupun ada gubernur lebih kaya dari presiden, itu karena faktor khusus, mungkin nilai harga si gubernur di dunia wirausaha, bukan di dunia pemerintahan, punya harga lebih tinggi dari si presiden, misal si gubernur seorang pengusaha kaya dengan 10 ribu karyawan, sementara presidennya hanya punya nilai harga di pemerintahan.   Dan nyebelinnya standar harga yang ditetapkan uang adalah standar harga materialistik. Karena standar harga materialistik ini, uang enteng-enteng saja hargai wanita cantik. Asal cantik saja, tidak usah menilai shalehah atau tidak, berilmu atau tidak, peluang kaya menjadi besar.   Banyak kan lelaki kaya sudah tua, nikahi gadis muda karena kecantikannya? Ya banyak, karena cantik itu nilai harga secara materialistik.   Karena itu uang sangat enggan mendatangi orang yang punya perasaan kalau dirinya tidak berharga.   Anda lihat kondisi mental orang miskin, mereka perasaan berharganya kecil karena secara materistik tidak ada yang dibanggakan. Keadaan hidup dimana tidak ada lagi sesuatu yang dibanggakan sebagai pemicu munculnya rasa berharga, di situlah pemicu utama uang seret.   Dari sisi ilmu, sekolahnya cuma tingkat dasar. Dari sisi usaha, profesinya cuma pedagang kecil. Dari sisi iman spiritual tidak pernah shalat dan puasa. Dari sisi keluarga cuma keturunan balung kere. Dari sisi emosional sangat temperamental.  Dari sisi keturunan, anak-anaknya jadi preman gelandangan. Dari sisi masalah kehidupan selalu punya tekanan masalah ruwet. Dan seterusnya. Sisi-sisi hidupnya banyak yang tidak berharga.   Anda amati, orang-orang yang hidupnya tidak ada kebanggaan diri yang memicu rasa diri berharga, mereka sangat dikucilkan oleh uang. Itu karena uang itu tabiatnya matre, tidak berharga ya tidak dibeli mahal-mahal.   Mereka kondisi keuangannya baru akan berubah baru setelah mereka menemukan rasa berharga, misal ada salah satu anak yang sukses sehingga mampu angkat martabat keluarga, di situ urusan keuangan mereka baru agak melonggar.   Ada sebuah gangguan psikologi yang disebut feeling worthless adalah kondisi ketika seseorang merasa tidak berharga. Perasaan seperti ini cenderung membuat orang merasa putus asa, tidak berguna, dan yakin bahwa dirinya tidak bernilai apa-apa.   Feeling worthless terjadi mungkin karena selalu mengalami hal buruk yang berkelanjutan, seperti dipecat dari tempat kerja, susah mendapatkan pekerjaan, gagal dalam percintaan, atau mengalami kesulitan finansial. Bisa juga karena kritik negatif yang datang terus-menerus.   Bayangkan bila setiap gerakan Anda selalu dikritik oleh orang lain, lambat laun akan muncul perasaan bahwa Anda memang selalu salah dan tidak berguna.   Tekanan masalah yang terus-menerus datang, trauma masa kecil yang begitu terpuruk, pengucilan dan bullying yang kerap dialami, itu semua bisa memicu rasa tidak berharga.   Pengindap gangguan psikologis feeling worthless akan susah sekali didatangi nilai uang berharga karena dirinya saja sudah merasa tidak berharga.   Minderan, pemalu, apatis, tidak percaya diri, putus asaan, itu semua juga bagian dari rasa tidak berharga, walaupun tidak sampai di level feeling worthless namun sudah bagian dari rasa tidak berharga yang akan memicu uang menilai Anda murahan.   Karena itu, mau tidak mau Anda harus punya prestasi berharga di hidup ini, harus berjuang sehingga ada prestasi berharga yang layak dibanggakan, karena dari situlah matrenya uang baru mau menghargai.   Prestasi berharga tersebut bisa dalam hal apa saja. Bisa dari spiritual, misal Anda tercatat sebagai ahli Tahajud dan jamaah. Bisa dari intelektual, misal sekolah Anda tinggi atau Anda ilmuwan pintar. Bisa dari sosial, misal Anda tokoh agama yang tersohor atau public speaker yang profesional. Bisa dari profesi, misal Anda pejabat sukses atau pedagang sukses. Bisa dari sisi keluarga, misal punya anak shaleh yang sukses.   Intinya ukir prestasi berharga agar muncul rasa berharga di dalam diri, dari rasa berharga inilah uang yang matre akan bertransaksi dengan Anda.   Anda lihat songongnya para artis di depan publik seperti apa, beli cawet mahal dipamerin, rumah mewah dipamerin, mobil mewah dipamerin, bahkan sedekah dipamerin juga. Namun perasaan yang memicu mereka adalah rasa bangga. Rasa bangga muncul karena rasa berharga yang kuat. Hasilnya duit mereka berjibun, kan? Mengalahkan duit Anda yang aktif shalat jamaah di masjid? Itulah karakter matrenya uang.   Orang kaya juga kerap songongnya tidak tertolong, omongannya tinggi, sombong, belagu, tapi ya datangnya duit makin menjadi, itu karena rasa berharga di dalam diri mereka sangat kuat. Bukan cuma orang kaya kok, para ulama juga banyak yang songongnya begitu, ya karena ulama juga manusia biasa.   Intinya prinsip uang itu “elo berharga, gue beli”, uang sangat matre, karena itu Anda harus berjuang agar punya prestasi berharga sehingga uang menilai diri Anda mahal.   Lah kalau begitu, uang itu telah membeli harga diri kita? Begitu rendahnya kah diri kita hingga selevel harga barang? Tidak begitu. Saya sedang jelaskan mekanisme yang berlaku di alam material ini, permasalahannya Anda kan tidak bisa melarikan diri dari hukum materialistik alam duit ini, mau tidak mau Anda tidak bisa luput dan lari, dan adanya hukum yang berlaku ya itu tadi “uang itu matre, elu berharga, gue beli.”   Nah punya rasa berharga hingga kadang jadikan bangga, itu kan menabrak prinsip-prinsip spiritual, menabrak tawadhu’, menabrak andap asor, menabrak rendah hati, lalu seluk beluk spiritualnya bagaimana? Ya kita lanjut di part 2, ya?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

“DIRIKU JELEK,” ITU PENYEBAB MISKINMU

Tuhan sangat anti menyakiti Zat-Nya sendiri, enggan melihat Zat-Nya sendiri sebagai sesuatu yang rendah, enggan bersikap inferior, sebaliknya Dia sangat superior atas Zat-Nya sendiri,   عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فِيمَا رَوَى عَنِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي ، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا ، فَلَا تَظَالَمُوا   Dari Abu Dzar Al-Ghifary R.A, dari Nabi S.A.W dalam hadits yang beliau meriwayatkan dari Allah Tabâraka wa Ta’âlâ bahwa Dia berfirman, ”Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku-pun jadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (H.R. Muslim)   Jadi Allah telah mengharamkan kezaliman atas Zat-Nya, penghargaan Allah atas Zat-Nya sendiri sangat kokoh. Karena mekanisme ini, Allah mengharamkan pula kezaliman terjadi di antara para makhluk-Nya.   Sebab itu Allah kemudian membekali mekanisme defensif dalam diri Anda untuk mempertahankan diri. Pikiran Anda akan mengaktifkan mode pertahanan diri ini secara otomatis, yang berarti di luar kesadaran dan kendali Anda.   Ketika menghadapi situasi, pikiran, atau orang yang membuat diri merasa tak nyaman, secara alami seseorang akan mengeluarkan mekanisme pertahanan atau defense mechanism, entah dengan menolak, menyangkal, menghindari, hingga melampiaskan kekesalan. Itu semua installan mekanisme defensif dari Tuhan agar Anda punya pertahanan diri dari kezaliman.   Sedemikian sayang Allah merawat diri Anda agar tidak terzalimi, eeh malahan Anda yang kerap mencela, membully, merendahkan, menyakiti, bahkan menghujat diri Anda sendiri.   Coba cek saja, dalam sehari berapa kali Anda berkata kepada diri sendiri, “Aku kurang duit,” “Aku orang miskin,” “”Ya Tuhan, hidupku kok susah terus,” “Ya Allah, aku kok menderita sekali,” dan seterusnya.   Iya kan, diri sendiri dihujat dan dibully sendiri? Dan pikiran, perasaan serta self talk yang menjelek-jelekan diri Anda sendiri dalam sehari saja berapa kali Anda lakukan? Dalam sehari saja, berapa kali?   Wajah Anda sendiri tiap hari dicakar-cakar, ditampar-tampar, dipukuli sendiri, kan oon?   Diri Anda itu tempat Anda meneduh, tiap hari Anda rusak sendiri, hari ini pagarnya dibobol, esoknya genteng dan kacanya dipecahin, lah gila kan diri Anda itu? Demikian pula ketika Anda mencela diri Anda dengan umpatan buruk begitu, kira-kira Anda waras, tidak?   Satu maqalah ulama berkata,   نَفْسُك مَطِيَّتُك فَارْفُقْ بِهَا   “Dirimu adalah kendaraanmu, berwelas-asihlah dengannya.”   Diri Anda supaya dikasihi, diwelasi, disayangi, dilindungi, dihargai. Makan saja Anda tidak boleh kurang kenyang karena energi jadi loyo, tidak boleh juga terlalu kenyang karena bisa undang kerusakan lambung dan banyak penyakit. Itu artinya diri Anda benar-benar agar dikasihi.   Anda menyembah Allah dengan apa? Dengan diri Anda. Anda berbuat baik dengan apa? Dengan diri Anda. Karena itu bila diri Anda dijelek-jelekan sendiri, betapa semua kewajiban dan tugas hidup Anda akan alami kerusakan?   Apa Anda senang dihina kere oleh orang lain? Jelas sakit hati. Lah kok bisa-bisanya tiap hari Anda kata-katain diri Anda kere. Hahaha jadi sadar ya betapa kita hobi menghina diri kita sendiri?   Karena itu ketika Anda ditimpa kemiskinan, kesulitan, penderitaan, dan lainnya, Allah tidak pernah mau mengakui kalau itu adalah kezaliman-Nya kepada Anda, Allah nyatakan itu adalah ke-oon-an Anda sendiri.   ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْكُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِۙ   “Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Al-Anfâl : 51)   Ada bully dari luar diri Anda sendiri saja, Allah sudah pasangkan defense mechanism-nya, lah kok malah Anda yang jelek-jelekin diri Anda sendiri dengan merasa kekurangan, miskin, duit kurang, dan lainnya.   Cobalah ubah prasangka, perasaan, pikiran dan self talk Anda setiap hari, keraplah berkata kepada diri sendiri, “Aku kaya. Aku cukup. Aku penuh nikmat. Aku penuh anugerah.”   Dalam ilmu dan urusan soul ada ajaran tawadhu’, dimana Anda supaya rendah hati; merasa masih bodoh, merasa belum bisa, merasa masih banyak kekurangan, namun apakah tawadhu’ itu sedang jelekan diri sendiri? Bukan menjelekan, itu tehnik merendahkan hati agar lebih berharga diri.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

HOKI CUAN ITU CIRI DAGANGAN YANG DIBERKAHI

Sahabat Nabi S.A.W yang profesional sekali dalam dagang adalah ‘Urwah Al-Bâriqi. Dikisahkan satu ketika ia diamanahi oleh Nabi S.A.W uang 1 dinar untuk membelikan satu ekor kambing.   Dan Nabi terperanjat kaget karena uang 1 dinar nilai tukarnya hanya untuk beli 1 kambing, namun ‘Urwah Al-Bâriqi malahan dapat 2 ekor kambing. Satu kambing diserahkan kepada Nabi, yang 1 ekor dijual lagi dengan harga 1 dinar lalu uangnya diserahkan kepada Nabi S.A.W.   Gara-gara menyaksikan hoki dagangnya ‘Urwah yang besar, Nabi S.A.W mendoakan keberkahan untuk bisnis ‘Urwah.   Bahkan, sosok ‘Urwah Al-Barqi ini disebut-sebut sebagai sosok pedagang profesional, pintar sekali berdagang, konon andai dia beli debu niscaya jadi cuan.   عَنْ عُرْوَةَ: “أَنَّ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي بِهِ شَاةً، فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ، فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ، وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ، فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ، وَكَانَ لَوِ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ”.   “Dari ‘Urwah bahwa Nabi S.A.W memberinya 1 dinar untuk membelikan 1 ekor kambing. Lalu ‘Urwah membelikannya 2 ekor kambing. Salah satunya ia jual dengan harga 1 dinar. Ia pun menghadap Nabi dengan menyerahkan uang 1 dinar dan kambing 1 ekor. Nabi pun mendoakan ‘Urwah dengan keberkahan dalam dagangnya. Dan ‘Urwah ini andai saja ia beli debu pasti ia peroleh untung di dalamnya.” (H.R. Bukhari Muslim)   عَنْ عُرْوَةَ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ الْبَارِقِيِّ قَالَ عَرَضَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَبٌ فَأَعْطَانِي دِينَارًا وَقَالَ أَيْ عُرْوَةُ ائْتِ الْجَلَبَ فَاشْتَرِ لَنَا شَاةً فَأَتَيْتُ الْجَلَبَ فَسَاوَمْتُ صَاحِبَهُ فَاشْتَرَيْتُ مِنْهُ شَاتَيْنِ بِدِينَارٍ فَجِئْتُ أَسُوقُهُمَا أَوْ قَالَ أَقُودُهُمَا فَلَقِيَنِي رَجُلٌ فَسَاوَمَنِي فَأَبِيعُهُ شَاةً بِدِينَارٍ فَجِئْتُ بِالدِّينَارِ وَجِئْتُ بِالشَّاةِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا دِينَارُكُمْ وَهَذِهِ شَاتُكُمْ قَالَ وَصَنَعْتَ كَيْفَ قَالَ فَحَدَّثْتُهُ الْحَدِيثَ فَقَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ فَلَقَدْ رَأَيْتُنِي أَقِفُ بِكُنَاسَةِ الْكُوفَةِ فَأَرْبَحُ أَرْبَعِينَ أَلْفًا قَبْلَ أَنْ أَصِلَ إِلَى أَهْلِي وَكَانَ يَشْتَرِي الْجَوَارِيَ وَيَبِيعُ   “Dari ‘Urwah bin Abul Ja’d Al-Bâriqi, ia berkata; Suatu ketika Nabi S.A.W melihat barang-barang impor, maka beliau pun memberiku satu dinar seraya bersabda, “Wahai ‘Urwah, datangilah barang impor itu, dan belilah untuk kami satu ekor kambing.” Saya pun mendatangi barang-barang impor itu, dan melakukan tawar menawar dengan pemiliknya hingga saya dapat membeli dua ekor kambing darinya dengan harga satu dinar. Akhirnya saya segera menuntunnya, lalu seorang laki-laki menjumpaiku dan menawar kambing itu, maka saya pun menjual satu ekor kambing dengan harga satu dinar. Saya pun segera menuntunnya, lalu seorang laki-laki menjumpaiku dan menawar kambing itu, maka saya pun menjual satu ekor kambing dengan harga satu dinar. Saya pun kembali dengan membawa kembali satu dinar dan satu ekor kambing. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, ini uang dinar Anda, dan ini kambing Anda.” Beliau S.A.W bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” Maka saya pun menceritakan alur kejadiannya. Beliau S.A.W berdo’a, “Ya Allah, berilah keberkahan dalam transaksi tangannya.” Maka kalian telah melihatku saat berada di tempat sampah di Kufah, saya telah meraih keuntungan empat puluh ribu sebelum aku sampai ke keluargaku. Saat itu, “Urwah membeli budak-budak wanita dan menjualnya. (H.R. Ahmad bin Hanbal)   Jadi tanda dagangan Anda berkah adalah “modal kecil, cuannya gede. Capek enggak, duitnya gede.”   Namun keberuntungan tersebut tidak diada-ada apalagi diakal-akal agar modal kecil cuan gede, terjadi alamiah dan boleh disebut “ndilalah” alias kebetulan, serta sifatnya seolah menjadi bawaan hoki diri.   Catat! Catat! Catat! Seolah menjadi hoki diri, itu pedagang yang dagangannya berkah.   Jadi sangat bohong ada orang dagang yang bilang, “Untung sedikit nggak papa asal berkah,” itu bukan berkah tapi itu pelarian saja dari ketidakberuntungannya. Berkah dagang justru cuan besar modal kecil, capek enggak duitnya gede, kulak semurah-murahnya untung sebesar-besarnya.   Atau orang dagang kok capeknya bukan main tapi tidak ada duitnya, atau modalnya besar cuannya kecil, butuh karyawan banyak duit untuk gaji seret, itu semua ciri dagang yang tidak berkah.   Ada 2 hal yang saya amati jadikan pedagang susah berada di level dagang yang berkah. 1). Terlalu kuat mentalitas dagangnya. 2). Terlalu lemah mentalitas dagangnya.   Pertama, kuatnya mentalitas dagang. Yang namanya mental dagang itu mentalitas yang tidak kenali rasa kemanusiaan.   Anda lihat manajemen rumah sakit, tahu-tahu orang kena musibah atau malah sedang sekarat, dengan tega hati malah dipalak bayaran.   Kalau atas nama kemanusiaan, seharusnya orang sekarat ya dibantu, malahan dipalak duitnya. Namun karena brandingnya dagang, rumah sakit tidak jahat tidak apa, malah berkah.   Jadi persoalan dagang adalah persoalan skill menguntungkan diri sendiri, kalau lemah skill cari keuntungan untuk dirinya, itu dagangnya sama saja sedang gotong royong atau bakti sosial.   Makanya orang yang mental dagangnya terlalu kuat, ia jadi serigala pemakan sesama yang tidak bisa ingat lagi kalau orang lain butuh diuntungkan. Ia jadi super tega dan super itung-itungan.   Karena tidak pernah bisa melonggari orang lain, selalu bikin orang lain tercekik, orang dengan mentalitas dagang yang terlampau kuat, akhirnya tercekik sendiri. Berkah dagangnya dicabut.   Kedua, mentalitas dagang yang terlalu lemah. Sudah saya jelaskan di atas, dagang sebenarnya sistem yang tidak kenali rasa kemanusiaan, lepas dari rasa sosial, pedagang butuh mental seperti manajemen rumah sakit yang melihat orang kena musibah sebagai peluang duit, bukan peluang jasa sosial.   Nah orang yang terlampau lemah mental dagangnya biasanya karena rasa sosialnya terlalu gede, rasa kasihan, rasa tidak enakan hati dan rasa tidak tegaannya terlalu besar, akhirnya ia jalankan dagang tapi dengan mentalitas sosial, ibarat jalankan manajemen Kementerian BUMN dengan manajemen Kementerian Sosial. Ya bangkrut kan Kementerian BUMN-nya? Minyak dan gas seharusnya dijual untuk diambil keuntungannya untuk negara malahan disubsidikan gratis.   Pedagang dengan mentalitas dagang lemah tidak bisa melihat keuntungan untuk dirinya, ia sibuk gotong royong dan bakti sosial mengatasnamakan dagang.   Ketika terjun dagang dengan mental begini, maaf mending cari profesi lain saja, karena kalau dagang terus, cuma mau cari kebangkrutan saja, sebab mental begini tidak ada menariknya di dunia dagang.   Anda petinju tapi mentalnya santun, apa menarik? Petinju ya beringas. Mental santun itu mental sosial, sementara mental beringas adalah mental petarung. Dagang dengan mental sosial terlampau kuat ya seperti petinju dengan mental santun, babar blas tidak menarik bagi dunia dagang, pembeli pun enggan datang, investor enggan melirik.   Pedagang begini hidupnya memang diberkahi, secara prifasi ia penuh berkah karena hatinya penuh kasih,

MEI 2023

UANG DI LINGKUNGAN GETARAN FORCE

Oke. Saya kembali bicara vibrasi dengan tabel Hawkins. Permisi ya Mas Arif Rahutomo.   Mode getaran vibrasi force yang punya kemampuan kuat mendatangkan uang itu; 1). Bangga. 2). Marah. 3). Keinginan.   Ya persoalannya seperti kemarin saya jelaskan, uang itu karakternya matre, apapun yang berharga akan dibeli oleh uang. Makin berharga, uang yang datang makin besar. Emas berharga, dihargai tinggi, rongsokan tidak berharga, dihargai murah oleh uang.   Rasa bangga, marah dan keinginan itu punya getaran harga diri besar. Bangga merasa “aku orang hebat”. Marah merasa “aku berharga karena itu aku layak tersinggung”. Keinginan merasa “aku sangat penting karena itu keinginanku juga sangat penting”. Karena itu sekalipun getaran vibrasi force, rasa bangga, marah dan keinginan masih kuat menarik duit.   Tiga getaran vibrasi force tersebut yang kerap nempel lekat di hati orang-orang kaya, para tokoh dan para pemimpin.   Kasusnya Fir’aun, Tsa’labah dan Qarun yang begitu kaya raya juga mereka menggunakan 3 mode getaran rendah; sombong, bangga, marah, dan ambisi besar.   Ya kalau nempelnya di hati kaum dhuafa yang lemah si resikonya tidak begitu besar, paling banter keluarganya saja yang terpapar resiko, cuma memang 3 getaran force tersebut adalah sifat melekat pada para pesohor, sehingga efek konflik sosialnya juga bisa sangat besar.   Orang yang kesadarannya dalam 3 mode getaran rendah akan keluarkan dampak force. Dampak force ini energi pemaksaan alias pemerkosaan kepentingan kepada siapa saja yang berada di lingkungan pengaruhnya.   Diperkosa itu enak, nggak sih? Korban perkosaan jelas merasa menderita, stres, tertekan, tidak nyaman, merasa jadi korban dan dampak negatif lainnya.   Cirinya orang bermode 3 getaran force itu setiap Anda yang terlibat di dalam network pengaruhnya, akan merasa terpaksa dan berat hati menjalankan sebuah misi dengan iringan rasa tidak nyaman seperti benci, tertekan, loyo, tidak gairah, malas, berat hati, dendam dan lainnya. Satu sisi seolah diikat kewajiban kerja, sisi lain ada rasa berat hati sangat kuat, juga diiringi ada rasa benci. Itu terjadi karena Anda hanya dijadikan korban getaran forcenya.   Network pengaruh artinya bisa di segala lingkungan seperti hubungan kerja, hubungan pernikahan, hubungan keluarga, hubungan keumatan seperti antara tokoh agama dengan umatnya, hubungan pemerintahan seperti warga dan kepala desanya, dan lainnya.   Ada karyawan rasanya berat banget jalankan tugas-tugas bos diselingi rasa benci, ada istri rasanya berat banget layani suami dengan iringan rasa tertekan, ada warga rasanya terpaksa sekali jalankan program-program kerja kepala desa dengan iringan rasa benci, ada umat rasanya sangat berat sukseskan misi dakwah ustadz dengan iringan rasa marah, itu karena lingkaran pengaruh lingkungannya terpapar getaran force dari figur terkait.   Kasus paparan force di network lingkungan biasanya karena si figur pemimpin punya rasa bangga diri terlampau besar yang dampak getarannya menghina dan merendahkan, atau punya ambisi besar sehingga dampaknya menuntut sehingga hanya mimpi dan kepentingannya saja yang terpenting, atau punya emosi tak terkontrol yang dampaknya menakutkan bawahan.   Orang bangga dan sombong itu hakikatnya orang yang memaksa orang lain mengaguminya.   Orang dengan keinginan besar itu hakikatnya orang yang memaksa orang lain agar orang lain wujudkan mimpi dan keinginannya.   Orang temperamental hakikatnya orang yang menganggap orang lain tidak berharga sehingga ia memaksa orang lain sebagai budak emosi marahnya.   Kalau Anda berada di lingkungan pengaruh 3 getaran force ya sebaiknya memang “keluar” saja dari lingkungan tersebut. Tegas pergi. Tapi kalau masih bisa keluar.   Yang sulit itu kalau ikatannya seperti hubungan pernikahan, karena cerai tidak semudah itu.   Atau malah hubungan ortu anak yang akan selalu terikat darah. Cuma kalau ortu sebaiknya menjauh saja, persoalannya makin dekat makin sering sakit hati. Makin sering sakit hati, shilaturrahim makin terputus. Boro-boro bisa berpikir berbakti, tidak mendendam sudah lumayan.   Menjauh lebih mending, tidak kerap merasa sakit hati karena jarang terhubung sehingga peluang untuk muncul rasa kasih lebih besar. Jadi memang shilaturrahim tidak selamanya terjaga dengan kedekatan, menjauhi pun kadang itu langkah jaga shilaturrahim.   Namun keluar dari lingkungan 3 getaran force juga tidak mudah. Persoalannya hidup sudah tertata di situ, ibarat tanaman sudah tumbuh di situ, harus diboyong ke lokasi lain. Resikonya berat. Karena itu hanya orang yang punya kesadaran penuh dengan harga dirinya saja yang sanggup melakukan.   Kalau tidak sadar penuh dengan harga dirinya, paling hanya berani neriman dan mengalah demi sebagian rezeki yang sudah mapan di lingkungan tersebut.   Nabi Muhammad S.A.W yang hijrah ke Madinah untuk keluar dari pengaruh getaran force kafir Quraisy, atau seperti Nabi Musa A.S yang keluar dari pengaruh getaran force Fir’aun, bukankah mereka menjadi sangat heroik?   Bukan hanya harta benda yang ditinggalkan, nyawa juga jadi taruhan. Maka ini hanya orang yang sadar penuh dengan harga dirinya saja yang berani melakukan untuk keluar dari lingkaran getaran force.   Jadi di lingkaran 3 getaran force di atas, uang banyak, tapi yang tertindas adalah manusianya karena mereka menjadi korban perkosaan dari sebuah kesadaran force yang memanfaatkan, menindas, merendahkan, dan seterusnya. Karena masih menindas sesama tentu uangnya boleh saja banyak tapi berkahnya tidak ada.   Lantas adakah rasa bangga, marah dan keinginan yang bergetar dari getaran vibrasi power? Ya ada. Itu adalah getaran rasa bangga, marah, dan keinginan yang sudah dilandasi kebijaksanaan.   Artinya mereka sebenarnya orang-orang yang sudah tercerahkan hatinya, hanya saja pada kasus-kasus tertentu mereka butuh aplikasi kesadaran bangga, marah atau keinginan untuk mengupdatenya.   Seperti Nabi Sulaiman, beliau jelas orang suci yang berada di getaran power, namun untuk taklukan Ratu Balqis yang serba megah agar Balqis menyembah Allah, lantas Sulaiman tonjolkan bangga dirinya dengan berkata, “Janganlah kalian mengungguliku, datanglah kalian kepadaku sebagai orang yang berserah pasrah.”   Jadi mereka yang berada di getaran power tetap gunakan 3 mode getaran force tersebut namun dengan kebijaksanaan dan kesadaran tinggi. Karena sudah dengan kebijaksanaan, lantas 3 mode getaran rendah tersebut tidak lagi menyiksa orang-orang di sekitarnya, namun digunakan sebatas untuk menarik keseimbangan.   Nah kalau getaran force yang lain seperti takut, kesedihan mendalam, apatis, rasa bersalah, malu, itu getaran tidak ada uangnya, karena itu getaran-getaran vibrasi dari orang yang merasa dirinya tidak berharga, merasa tidak berguna. Efeknya cuma melarat saja.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

Scroll to Top