وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ
“Bagi Allah, wajib atas manusia, mengerjakan haji ke Baitullah, yaitu (bagi) orang yang (berusaha) mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran : 97)
Haji dalam aturan fikih Islam diwajibkan bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah, mengingat haji merupakan aktifitas travelling yang tentu butuh kesiapan finansial dan kesehatan fisik serta fasilitas transportasi yang aman dan memadai, karena itu haji adalah wajib tapi dengan kriteria mampu atau istithâ’ah استطاعة)).
Dalam ayat perintah haji di atas, kata yang digunakan Allah untuk kriteria naik haji adalah istathâ’ (استطاع) yang memiliki bentuk mashdar (nomina) yakni istithâ’ah (استطاعة).
Dalam tata bahasa Arab, istithâ’ah merupakan nomina yang ditautkan pada wazan (rumus baku) istaf’ala (وزن استفعل) yang memiliki faidah li thalabil amri (memohon sesuatu).
Artinya setiap kosa kata bahasa Arab jika diikutkan wazan istaf’ala akan memiliki perubahan makna tertentu, yang perubahan maknanya signifikan, di antaranya memiliki faidah memohon atau meminta sesuatu.
Contoh seperti ghafara (غفر) arti dasarnya mengampuni, dikutkan wazan istaf’ala menjadi istaghfara (استغفر) jadi bermakna memohon ampunan.
Demikian pula dengan kosa kata istithâ’ah yang digunakan Allah dalam perintah haji. Lafal istithâ’ah diambil dari kosa kata dasar thâ’a (طاع) yang berarti mampu, sanggup, taat.
Diikutkan wazan istaf’ala menjadi istathâ’a (استطاع) yang berarti memohon kemampuan atau kesanggupan.
Dalam fikih, kriteria istithâ’ah ini yang selanjutnya lahirkan ijtihad tentang syarat wajib haji yang di antaranya mampu secara finansial baik untuk biaya pemberangkatan haji maupun untuk biaya nafkah keluarga yang ditinggal di rumah, juga mampu kesehatannya, dan aman perjalanannya. Hal ini ketentuan menurut fikihnya bahwa wajib haji itu bagi yang mampu.
Namun secara spiritual tidak begitu, sebab begitu banyak orang kaya yang berpenghasilan besar tetapi belum juga bisa naik haji. Halangannya tentu macam-macam, misal minat naik haji yang belum ada.
Sekarang ini banyak crazy rich millenial, dimana di usia belum sampai 25 tahun mereka sudah jadi milyader, artinya untuk biayai haji, mereka berkemampuan super enteng. Namun mereka belum berangkat juga karena merasa belum pantas menyandang gelar pak haji, belum siap untuk khusyuk ibadah sebagai haji, dan lain-lain.
Di situ mereka mampu tapi belum terpanggil naik haji, ibaratnya mampu kondangan tapi belum dapat undangan walimahnya.
Karena itu istithâ’ah dalam haji—secara spiritual— bukan persoalan kaya dan miskin, tapi persoalan panggilan Allah, sebab itu Allah gunakan kosa kata istithâ’ah dalam memerintahkan haji.
Istithâ’ah memiliki makna memohon kemampuan atau kesanggupan yang berarti haji itu dimampukan bagi orang yang mau berusaha mampu.
Ada kisah tukang becak naik haji setelah menabung 30 tahun. Kalau biaya haji sekitar 50 juta rupiah, ditabung selama 30 tahun (10.950 hari), berarti tiap hari si tukang becak menabung sekitar 4.500 sampai 5.000 rupiah.
Sehari menabung 5 rupiah, bukankah anak TK saja sudah bisa?
Semurah itu biaya haji, lalu kenapa banyak muslim yang merasa tidak mampu untuk naik haji? Itu disebabkan faktor istithâ’ah atau upaya untuk mampu haji yang minatnya sangat kecil atau mungkin tidak ada minat sama sekali.
Sama seperti menjadi pintar (alim). Banyak orang menyangka kalau menjadi ahli ilmu itu butuh modal IQ cerdas, padahal tidak. Menjadi ahli ilmu hanya butuh minat kuat kepada ilmu.
Ibnu Hajar Al-Asqalani, ulama besar pakar hadits. Thomas Alfa Edison, ilmuwan penemu ribuan temuan tehnologi. Mereka semua IQ-nya bebal, namun karena minat kepada ilmu yang kuat, lalu mereka jadi pintar.
Atau sama seperti meraih kesuksesan dagang. Banyak orang mengira sukses dagang itu butuh modal besar. Tidak. Dagang maju tidak butuh modal, modal dagang itu mengikuti kesungguhan seseorang dalam berdagang. Kesungguhan dipicu oleh besar kecilnya minat.
Sebab memang sudah dijaminkan oleh Nabi SAW bahwa segala hal yang diimpikan, diminati, ditekuni, diberi kesungguhan, itu akan dimudahkan jalan wujudnya.
اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
Berbuatlah kalian! Sebab semuanya telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya. (H.R. Bukhari & Muslim).
Jadi apapun yang Anda ciptakan yakni diawali dengan impian, lalu diusahakan dengan ketekunan dan konsistensi, itu sudah pasti akan dimudahkan jalan wujudnya.
Dan haji itu persoalan minat dalam impian Anda, bukan persoalan kaya atau miskin, berduit atau kere, karena isyaratnya sudah jelas dari Allah bahwa haji itu bagi orang yang istithâ’ah (berusaha untuk mampu) laksanakan haji.
Dan realitanya anak TK saja sebenarnya sudah mampu naik haji dengan menabung 5 ribu perhari, namun asal mereka minat dan mau berusaha sungguh-sungguh (istithâ’ah).
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply