Waktu bujangan dulu saya pernah jadi perantau di Jakarta, sekitar 3 bulanan, tidak lama. Ada seorang teman kos saya, sebut namanya Nokia menyerang dengan labrakan pada teman yang lain, sebut namanya Vivo.
Kesalahan jelas pada Vivo. Vivo tipikalnya buruk, suka nyuruh-nyuruh teman. Beli sayur suka nitip, nyuci piring habis makan ia suka nitip, kalau mau bikin kopi bareng-bareng, temannya yang disuruh menyiapkan, mulai dari beli kopi di warung, nyiapkan air panas, semua hal ia maunya terima jadi.
Orang Jawa menyebut “watek rematu” artinya berkarakter ratu, apa-apa nyuruh.
Vivo juga suka minta-minta, ada teman makan jajan, ia nimbrung, ada teman mengeluarkan rokok, ia nimbrung ambil, spesialnya suka minta dipijiti teman, maunya yang gratis-gratis, mirip ratu di depan teman-teman.
Lama-lama banyak hati panas, sana-sini ramai menggunjing prilakunya. Dan Nokia yang terkenal bertipikal temperamental, reaksinya pada Vivo lumayan pedas.
Vivo dilabrak oleh Nokia. Ketika Vivo merokok, ia pura-pura menawarkan, ketika dengan antusias Vivo mau mengambil rokok yang ditawarkan Nokia, rokok yang sudah nyala di jari tangan Vivo dibanting keras-keras ke kepala Vivo, sementara rokok yang ditawarkan Nokia ditarik kembali. Dengan muka geram, Nokia memaki-maki dengan kata-kata ketus.
Jadilah Vivo seperti monyet pucat pasi. Apalagi Nokia sangat kasar makian dan sikapnya, bikin kapok.
Hari-hari selanjutnya, Nokia sepertinya sangat susah kompromi dengan Vivo, sepertinya tiada ampun. Si Nokia merasa didukung teman-teman sehingga seenaknya memperlakukan Vivo yang bersalah.
Sehari dua hari hingga seminggu dua minggu, Nokia belum juga mau menyapa Vivo. Namun Vivo hanya bisa mengalah diam, tidak melakukan perlawanan.
Sesakit apapun hatinya, ia tidak berani membalas karena sadar tidak didukung teman-teman, ia merasa salah, merasa terpojok, juga merasa malu. Ia lebih terlihat diam bertawakal.
Pelan-pelan Vivo juga mulai mengubah watak ratunya, ia kini berlatih mandiri, tidak berani nyuruh-nyuruh lagi apalagi berani minta-minta dan numpang.
Lambat laun, teman-teman lupa dengan prilaku buruk suka nyuruh dan suka mintanya Vivo, satu-satu teman-temannya menerimanya. Dan hal istimewa dari Vivo, ia pandai humor, kerap bikin tawa dan lelucon, sehingga teman-teman banyak yang suka ngerumpi dengan Vivo.
Ketika satu-satu teman merasa cocok dengan Vivo, si Nokia masih saja beringas pada Vivo, ia masih merasa menang dengan Vivo, merasa teman-temannya masih banyak yang mendukung beringasnya pada Vivo.
Selang sekitar 3 bulan pasca kejadian labrakan Nokia pada Vivo, keadaan telah berubah 180°, teman-teman sudah dekat dengan Vivo.
Vivo sudah diterima di hati teman-teman, bahkan Vivo selalu jadi buruan teman-teman untuk ngobrol lantaran anaknya pintar bikin lelucon.
Dan, si Nokia bisanya dulu melabrak Vivo karena memang Nokia tipikalnya kasar dan temperamental, sehingga makin ke sini, Nokia makin tidak disukai teman-teman, ia gemar mengolok-olok orang.
Dalam waktu 4 bulan setelah kejadian Nokia ngamuk-ngamuk pada Vivo, Nokia telah malu sendiri, ia tidak punya teman sama sekali, sementara si Vivo jadi idola.
Begitulah, si Vivo salah tapi ia mau diam, ternyata kemudian menyingkirkan si Nokia yang benar tapi bergerak aktif.
Karena segala hal ada perhitungannya masing-masing, ketika satu kesalahan telah dihukum, maka kesalahan itu di posisi “lunas”, ketika sudah lunas masih saja diserang, maka posisi “salah” itu berbalik kepada yang menyerang.
Diam dalam keadaan salah, artinya ada orang menyakiti Anda karena kesalahan Anda lalu reaksi Anda diam saja, itu jauh lebih menguntungkan daripada gerak dalam keadaan benar, di mana Anda dalam posisi benar, tetapi Anda melakukan reaksi menyerang.
Sebab bila reaksi Anda terhitung lebih berat daripada aksi kesalahan yang dilakukan orang yang menzalimi Anda, maka kesalahan justru menjadi milik Anda.
Maka ini pula, ketika Anda mengetahui kesalahan dan keburukan orang lain jangan berlebih dalam mempropaganda, lambat laun kesalahannya akan jadi milik Anda.
Sebaliknya, ketika Anda di posisi salah, banyaklah diam. Dengan diam kesalahan akan terurai tanpa meninggalkan masalah.
Bukankah segala sakit dan luka akan cepat pulih ketika dibawa diam dan istirahat? Sebab itu energi pemulih tercepat dalam luka permusuhan adalah diam.
Luka permusuhan kok banyak dibawa gerak dengan propaganda, ghibah, mengolok, mengfitnah, menjatuhkan, debat, ngelabrak ya luka Anda sendiri yang makin menganga parah.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply