AGUSTUS 2023

AGUSTUS 2023

AGAR SUSAH JUALAN MURAH, SUSAH JUALAN CUAN KECIL

Banyak orang yang merasa, “Saya jual murah malah ga laku. Sepi. Saya jual mahal, eeh dijubeli pembeli.” Anda merasa begitu, atau sebaliknya? Alkisah, dia seorang trainer spiritual. Kelas publiknya dia banderol harga 750 ribu per peserta, di waktu itu tarif segitu jauh lebih murah dari umumnya tarif training sejenis.   Ia tidak ada niat menjatuhkan harga pasar, hanya berpikir menolong agar masyarakat kecil mampu membelinya, dan juga merasa tarif terlalu mahal, dia merasa belum layak. Berjalan beberapa tahun, pembelinya landai saja. Justru pada waktu itu lapak sebelah yang menjual harga lebih mahal dengan kualitas ilmu dan layanan yang sama malah lebih laris. Dia alami kebimbangan. Di sisi lain ada satu hal yang harus ia beli dengan harga sangat mahal, yakni memuliakan orang tua.   Sejak lulus sarjana, ia sudah konsisten kuat ingin berbakti sepenuhnya kepada orang tua dengan terus memberi gaji bulanan, dia tidak mau melihat orang tuanya di usia senjanya kesulitan uang.   Untuk loloskan komitmen ini, ia benar-benar telah melakukan banyak resiko kesulitan.   Kadang untuk hidupnya sendiri saja masih kekurangan, dia tetap mempriorotaskan orang tuanya, dia menilai kalau orang tuanya adalah azimat hidupnya yang harus dimuliakan seutuhnya. Harga kelas trainingnya sudah jauh lebih murah, kualitas layanan sudah baik sekali, berbakti kepada orang tua sudah dilakukan sekonsisten mungkin bahkan dari kelima saudara kandungnya, hanya dirinya yang terlihat konsistensinya memakmurkan orang tua.   Namun bertahun-tahun ia buka kelas training spiritual, tetap sepi lapakanya. Sampai akhirnya dia merasa agak putus asa, lalu main ugal-ugalan saja kasih tarif harga. Ia jual 1,5 juta, tarif harga di atas harga umum.   Lah sejak saat itu kelas trainingnya malah berkembang, laku keras. Dia pun kaget, “Lah dijual murah tidak laku, dijual mahal malah laku keras?“ Sejak saat itu kehidupan finansialnya pun mulai berubah. Dan sejak taraf hidupnya naik, dia pun ingin meningkatkan lagi kebaikannya. Dia ingat seorang gurunya di pondok pesantren dulu selalu menghargainya tinggi, selalu mendukungnya penuh kasih.   Dalam keadaan seburuk apapun, kyainya tersebut selalu menghargai dan mengasihinya.   Disitulah dia berkomitmen untuk ngalap berkah dan memuliakam kyai yang sangat ikhlas mendukung dirinya. Kemudian dia pun menggaji gurunya setiap bulan sama seperti orang tuanya. Suatu ketika ia ingin berbagi kelas training gratis di bulan suci Ramadhan. Mumpung bulan suci. Anehnya peserta yang datang tetap sama dengan kelas training yang berbayar. Dia jadi terkaget-kaget. Disitu dia sadar, dijual gratis dan dijual mahal ternyata tidak ada beda. Satu ketika pula dia jualan kelas lain yang  lebih murah, durasinya tidak full day, hanya 3 jam. Lah jumlah pesertanya malah lebih sedikit. Yang mahal dibeludaki orang, yang murah malah tidak begitu laku. Dia kesulitan jualan harga murah. Fenomena apa itu? Anda yang sudah kaya pasti merasakan hal-hal seperti itu, jualan murah terasa susah. Dan justru kalau jualan yang nilai cuannnya besar artinya lebih mahal malahan laris. Wkkkk. Iya kan? Begini. Kalau Anda sudah beli harga emas, Anda berkemampuan menjual emas dengan harga selevel. Artinya harga yang sudah bisa Anda beli, itu juga kualitas penjualan yang bisa Anda capai. Mungkin Anda bisa saja belum pernah beli harga emas, lalu Anda bisa menjualnya, tapi level energi Anda cuma energi salles, reseller, ataupun karyawan. Antara owner dan reseller, antara pemilik usaha dan karyawan, itu jualan barang yang sama, namun level rezekinya beda. Itu karena keduanya dibedakan oleh kemampuan mereka membeli apa yang dia jual. Owner dan pemilik usaha, menjual barang yang sudah dibelinya melalui modal usaha, sementara reseller dan karyawan menjual barang yang belum pernah dia beli. Hukum alamnya, apa yang sudah bisa Anda beli dengan harga, disitu Anda berkemampuan menjual dengan harga selevel. Anda sudah beli emas, ya berkemampuan menjual emas dengan harga selevel.   Nah teman trainer saya di atas telah membeli dengan harga mahal yakni konsisten memuliakan orang tua dan guru. Itu adalah nilai beli sangat mahal.   Sudah beli emas, kalau mau jualan emas yang dengan harga yang serupa, tidak bisa jual emas dengan main banting harga. Emas ya dibeli dengan harga emas. Yang dialami teman saya itu ibarat Anda telah beli ruko di mall, lah malahan Anda jualan harga murah seperti di pasar tradisional, ya tidak matching, ada ketidaksesuaian energi.   Jadi kalau Anda mau kesusahan jualan murah, kesusahan jualan dengan cuan kecil, rahasinya itu tadi, adakah nilai beli berharga yang sudah Anda beli dengan konsistensi mahal? Sesuatu mahal yang Anda beli itu bisa berbagai hal, bisa amal shaleh seperti berbakti kepada ortu, santuni anak yatim, sedekah Shubuh, sedekah Jumat, nafkah ke anak istri yang konsisten teristimewa, atau apapun.   Bisa juga dalam bentuk transaksi pembayaran, seperti konsisten lunasi hutang yang sangat besar hingga lunas, konsistensi menyejahterakan karyawan, dan lainnya. Dan model terakhir adalah pembelian harga mahal yang source energy terjual mahal. Kalau Anda tidak mampu membeli harganya mahal-mahal di model pembayaran ini, selanjutnya Anda beli mahal dengan uang juga tidak bisa.   Dan padahal kalau sudah tidak mampu beli mahal, jualan mahal dengan cuan besar juga susah. Apa itu? Itu adalah pembelian dengan konsistensi jerih payah. Ngerti? Belinya saja yang murah-murah, amal shaleh berat yang konsisten tidak ada. Beli barang mahal, tidak juga. Jerih payah dan perjuangan lemah. Lalu bagaimana Anda terbeli mahal? Apalagi ilmu carinya yang gratis, apa-apa minta dibantu orang, apa-apa tinggal pinjam, apa-apa numpang, ya tidak matching kalau jualan Anda akan laku mahal dengan untung besar. Wkkk. Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

JANGAN MANJAKAN MISKINMU

Orang yang sangat sakit hati dengan uang ya orang miskin, karena yang paling banyak disakiti oleh uang ya mereka. Butuh ini, tidak ada uang, munculkan sakit. Butuh itu, tidak ada uang, munculkan pusing. Kesulitan terbesarnya selalu karena uang. Sering sakit hati, lalu benci, dan sisakan traumatik karena tak punya memori menyenangkan atas uang. Benci dan trauma selalu sisakan luka-luka. Padahal syarat bertumbuhnya nikmat adalah kegembiraan. Makanya kadung terjebak miskin ya makin miskin karena kebencian dan traumatiknya menumpuk-numpuk. Energi mereka untuk bersensasi gembira uang, kecil sekali. Seperti apa kondisi Anda hidup di tengah bullying, sumpek dan penuh derita kan? Dan Anda bisa bayangkan, ini alam material uang, lah kok disakiti terus menerus oleh uang? Luka mereka menganga berdarah-darah. Punya luka menganga pasti akan menghindari resiko-resiko rasa makin perih. Kena air, kena garam, bergerak ekstrem, dan lainnya. Miskin itu luka menganga kepada uang, makanya mereka pun sangat menghindari hal-hal yang jadikan luka terasa makin perih. Lalu mereka menghindari belanjakan uang, dan mengajarkan irit. Mereka menghindari harga mahal lalu mengajarkan cari yang murah meriah. Mereka menghindari huppy uang, lalu mengajarkan prihatin. Mereka menghindari kedermawanan, lalu mengajarkan pelit. Padahal salah satu penyembuhan luka dan trauma itu justru luka jangan dimanjakan. Luka menganga, oleh air bawang dicampur garam justru lukanya layu. Cidera otot dipijat sekalian justru sembuh. Patah tulang dilatih jalan pelan-pelan justru itu metode pemulihan. Miskin itu luka pada uang. Maka ini semakin Anda irit, pelit, hitung-hitung, cari yang murah-murah, cari yang prihatin-prihatin, justru luka uang Anda makin dimanjakan. Latih pelan-pelan untuk sembuh dari luka dan trauma. Latih jajan di sturback, jangan kopi sasetan 500-an terus. Latih jajan di restoran mahal, jangan di warung pinggiran terus. Latih beli sandal, baju, celana yang bermerk, jangan di 35-an terus. Latih sedekah sedikit berani, jangan konsisten 2 ribu terus kalau infak Jumat. Latih makan yang enak-enak jangan yang prihatin terus. Rokoknya latih yang segar, jangan murah-murah terus. Sering-sering jalan-jalan di tempat-tempat mewah seperti mall dan tempat wisata. Kalau naik transportasi latih yang eksekutif. Intinya berlatih untuk happy uang, biar luka dan traumanya tidak manja. Sudah miskin kerjaannya irit, konsumsi barang murah meriah, kerjaannya pelit, ya makin miskin sekalian karena luka dan traumanya dimanjakan. Beda dengan orang kaya. Memorinya selalu mencatat, duit gampang, duit banyak, duit nikmat. Dalam hitungan menit mereka biasa peroleh puluhan, ratusan bahkan ada yang milyaran, memori mereka dengan duit itu penuh nikmat dan gembira. Merasakan uang itu nikmat, makanya mereka akan terus seperti cacing yakni mencari kenikmatan materi. Beli yang murahan, malas. Makan tidak enak, malas. Tidur tidak di kamar presidensial, malas. Cari enak terus maunya. Mereka trauma kepada resiko rasa prihatin. Padahal prihatin itu unsur mati, dan semua makhluk harus mati. Mati itu ditangisi, karena mati itu duka prihatin. Sebab ini luka dan traumanya orang kaya itu justru kepada rasa mati, karena enggan berdamai dengan duka prihatin. Kalau mati diantipati, lah emang siapa sih yang bisa abadi di alam materi ini? Artinya menghindari prihatin itu hal mustahil. Karenaya orang kaya yang punya luka dan trauma kepada rasa kematian yakni rasa prihatin, dia maunya senang-senang saja, sampai yang haram pun akan diterjang. Dugem, main perempuan, narkoba, judi, itu traumanya orang berduit. Luka dan trauma pada rasa prihatin dimanjakan, juga makin menganga lukanya. Maka paksa sekalian untuk puasa, kenalkan luka dan traumanya untuk kenal prihatin dengan puasa. Kalau Anda orang berduit maunya kok dugem dan main perempuan, sering-sering puasa ya, karena Anda ada trauma kematian. Kalau dilatih dengan irit dan beli murah-murah, jangan, karena itu merusak habit rezeki Anda. Dilatih dengan pelit juga jangan, karena itu merusak spiritual Anda. Dilatih dengan sakit juga jangan, karena itu merusak fisik Anda. Lakukan saja puasa sekalian untuk taqarrub kepada Tuhan. Jadi miskin dan kaya itu beda luka dan trauma. Untuk menyembuhkan dengan cara berbalikan, kalau trauma miskin harus latihan senang, kalau trauma kaya harus latihan prihatin. Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

INI MUNGKIN TAPI SULIT VS INI SULIT TAPI MUNGKIN

Umapama, bisnis Anda dihambat pebisnis besar karena dia merendahkan Anda sehingga dia tidak menghargai Anda yang ujung-ujungnya muncul rasa saling dengki serta permusuhan. Lalat akan selalu temukan kotoran tinja, karenanya nalurinya hanya cari kotoran. Karena yang ia cari hanya kotoran, ya ditemukan lalat pun hanya kotoran. Beda dengan lebah. Lebah nalurinya hanya cari kuntum bunga untuk hasilkan madu, nalurinya pun hanya tersetting temukan kuntum bunga. Dan hasilnya dalam hidup lebah hanya temukan bunga. Dalam kasus seperti di atas dimana bisnis Anda dijegal pebisnis besar, setting pikiran Anda itu bernaluri kemana. Di kasus tersebut Anda bisa runtuh tapi juga bisa bertumbuh. Kalau mindsett Anda bertumbuh, Anda akan menilai, “Dia yang dengki saya itu orang besar. Mobil mewah mana mungkin tersinggung dengan mobil LCGC. Kalau dia tersinggung dan lalu mendengki dengan saya, berarti saya berpotensi jadi mobil mewah dong, jadi pebisnis besar seperti dia. Yess.” Menyetting pikiran begitu itu artinya Anda bernaluri lebah yang cari bunga. Hasilnya kedengkian si pebisnis besar justru mengantar Anda menuju peraihan yang lebih besar. Namun kalau pikiran Anda tersetting, “Lah saya orang kecil. Baru usaha bisnis begini saja sudah dihambat orang.” Disitu Anda bernaluri lalat, hasilnya ya temukan kotoran, Anda akan ambruk, minimal Anda akan stuck. Saya ketika dihadapkan dengan ujian ruwet kerap merasa, “Wah saya mau makin kaya ini,” itu adalah bagian dari growth mindset atau pola pikir yang bertumbuh. Dengan berpikir demikian, mental Anda akan terdorong maju. Pola berpikir, “Ini mungkin, tapi sulit,” dengan pola pikir, “Ini sulit tapi mungkin,” efek mentalnya sudah sangat beda. Selanjutnya hasilnya juga menjadi sangat beda. Ini mungkin tapi sulit versus ini sulit tapi mungkin, disitu lalat dan lebah akan memilih sesuai mindsetnya masing-masing. Anda akan stuck bahkan runtuh ketika berpikir lalat. Sebab itu Al-Qur’an mengajarkan agar Anda punya kecerdasan mengambil hikmah. Dan kecerdasan ambil hikmah itu disebut sebagai khairan katsîrâ (kebaikan yang besar). Dalam persoalan meraih kekayaan juga begitu, mereka yang sukses kaya dan shalih pola pikiranya kalau harta itu ladang kebaikan untuk tingkatkan amal.   Mereka yang stuck bahkan makin runtuh karena pola pikirnya kaya itu jadikan sombong, kaya itu hisabnya lama, kaya itu tidak shaleh, dan lainnya. Mereka berpola pikir lalat ketika melihat harta. Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

TIGA SIKSA MELEKATI UANG

Ibn Qayyim Al-Jawziyah menyampaikan, مُـحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْـقَضِـى                                                                                                     “Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang sangat, dan (3) Kerugian yang tidak pernah berhenti.” Pertama; rasa sedih. Anda kerap alami fenomena uang digunakan sepertinya biasa-biasa saja tapi terasa raib begitu saja, tidak jelas digunakan untuk apa?   Diingat-ingat buat apa saja tidak ditemukan datanya. Hati pun sedih merana. Itu sebenarnya rezeki yang disabotase rasa kekurangan di hati Anda. Kenapa muncul rasa kurang? Tadi baru saja saya sampaikan di reel Facebook dan short video Youtube, kalau Anda bertemu pacar sehari bisa merasa sangat kurang waktunya padahal itu adalah waktu yang melimpah. Andai waktu satu hari untuk bertemu musuh, rasanya seperti 3 abad lamanya. Kenapa satu hari bertemu pacar terasa kurang? Karena Anda cinta melekat kepada pacar. Maka ini tanda Anda cinta uang dengan melekat, Anda akan selalu merasa kekurangan.   Hati kerjaannya sedih dan duka karena uang sepertinya selalu habis dan tidak tahu dipakai untuk apa. Sehingga pas yang disampaikan Ibn Qayyim Al-Jawziyah bahwa muhibbud dunyâ (pecinta lekat kepada harta) akan alami rasa sedih (kegelisahan) yang terus-menerus, Karena itu tanda Anda mulai lepas dari kecintaan dan kemelekatan pada uang adalah munculnya rasa kaya dan rasa berlimpah di hati. Hati kok rasanya kaya, uang rasanya berlimpah, uang rasanya tak pernah kurang, rezeki rasanya mudah sekali, itu tanda hati Anda sudah berkurang cinta lekatnya kepada uang. Kedua; rasa capek yang sangat tapi hasil tidak ada. Mencintai itu memperkenankan diri Anda menjadi hambanya, atensi Anda menjadi sangat kuat. Sifatnya kekayaan itu semu dan fatamorgana belaka. Makin kaya itu Anda makin fakir karena kebutuhannya membesar.   Saat hanya bisa beli motor, kebutuhan pajak Anda tidak sampai 1 juta pertahun, lah sesudah punya mobil bukan kebutuhan pajak makin menyedikit, tapi makin membengkak, karena pajak mobil selalu lebih tinggi dari motor. Sementara miskin itu adalah rasa fakir. Rasa fakir itu rasa butuh. Kalau makin kaya justru kebutuhan kebutuhan makin besar, berarti Anda makin duitnya gede itu makin kaya apa makin miskin? Karena dipicu rasa butuh yang besar, Anda kerja keras untuk cukupi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Sementara yang dicari kecukupannya tidak ada cukupnya, karena makin kaya justru kebutuhan akan makin membesar. Jadinya Anda persis seperti kucing yang muter-muter stres ingin gigit ekornya sendiri. Disitulah Anda kecapekan dan keletihan dahsyat. Makin dikejar untuk cukup makin tidak cukup, makin dikejar kaya makin kekurangan, makin dikumpulkan, makin tidak punya apa-apa. Dia hanya dapat keletihan dahsyat. Anda sedang merasa kerja capek sekali tapi duitnya tak ada? Atau capek sekali tapi utang menggunung-gunung sehingga penghasilan seberapapun ludes untuk bayar utang? Itu tanda Anda sedang disiksa uang. Gus Baha menyampaikan, “Yang dikatakan kecukupan adalah berusaha sebanyak mungkin agar banyak hal tidak kamu butuhkan. Bukan memenuhi semua kebutuhan nafsu kamu. Karena nafsu kamu tidak ada batasnya.” Disitu jelas tugas Anda bukan untuk mencukupi segala kebutuhan tapi berusaha agar banyak hal yang tidak kamu butuhkan, sesuai perkataan Imam Syafi’i: وَلَيْسَ اْلغِنَى إِلاَّ عَنِ الشَّيْءِ لاَ بِهِ “Kekayaan tidak akan pernah ada kecuali tanpa sesuatu darinya.” (Imam Syafi’i). Sehingga tanda Anda mulai terlepas dari cinta harta, di hati Anda muncul, “Cukup ini saja. Cukup,” Anda tahu batas dan bisa mengukur diri. Rasa cukup bukan berarti semua kebutuhan diputus sehingga semuanya sama sekali tidak diperjuangkan, namun rasa cukup itu Anda jadi tahu batas, sadar cukup disini saja, cukup ini saja. Ketiga; kerugian yang tak pernah berhenti. Jatuh cinta itu membuka hati, apapun yang terbuka akan mudah tergores dan terluka.   Begini, Anda buka baju lalu Anda berjalan ke kebun, itu potensi kulit Anda tersayat duri dan digigit nyamuk dan seranggga lebih besar ketimbang Anda masuk kebun dengan berpakaian rapat. Segala hal yang terbuka lebih mudah tergores dan terluka. Anda sedang mencintai cewek, kalau tidak sedang jatuh cinta, si cewek chat WA dengan cowok lain tak masalah, kalau sudah dicintai menjadi sangat melukai. Mencintai lekat kepada uang itu Anda sedang membuka hati, resikonya mudah digores dan dilukai uang. Alami kerugian materi terus menerus itu tanda Anda sedang digigit buaya uang, luka Anda pun menganga dan berdarah-darah. Ini siksa uang terberat dan terparah karena dua hal sebelumnya hanya menghantam sisi hati, yakni rasa sedih dan rasa keletihan, namun yang ketiga ini sudah menghantam resiko materi, biasanya resiko hutang menumpuk tak ada yang digunakan membayar. Kalau sudah hutang, penyelesainnya tidak cukup dengan Tahajud dan istighfar, dengan sedekah dan shilaturrahim, tapi hutang ya jalan keluar satu-satunya harus dibayar lunas. Caranya biar bisa bayar lunas bagaimana? Ya bayar hingga lunas. Terserah dengan cara apa, karena saya juga tidak tahu, sebab itu resiko Anda. Serasa mati? Ya iya. Karena itu siksa terdahsyat cinta lekat kepada uang. Namun di saat dilukai uang dengan kerugian begitu, hanya satu Zat yang bisa selesaikan, yakni Dia.   Banyak istighfar, banyak shalat Taubat, banyak berbuat baik, dan terus taqarrub kepada-Nya, sambil terus berusaha dan berupaya bayar hutang, kuatkan niatnya dan jangan pernah coba-coba melarikan diri dari tanggung jawab.   Perhatikan hadits Qudsi ini;   يَا ابْنَ آدَمَ ! تَـفَـرَّغْ لِـعِـبَـادَتِـيْ أَمْـلَأْ صَدْرَكَ غِـنًـى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِنْ لَـمْ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَـمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ “Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu.“ (H.R. Ahmad) Muhammad Nurul BananGus Banan

AGUSTUS 2023

ENERGI MISKIN ENERGI BIKIN PEGEL

Energi miskin itu energi bikin pegel orang lain, dan energi kaya itu energi yang bikin suportif orang lain.   Anda datang ke rumah orang dengan bawa oleh-oleh mahal, yang punya rumah pasti energinya tersupport, ia jadi gembira selanjutnya hormat dan menghargai Anda. Itu disebabkan kedatangan Anda bawa energi kaya dengan memberi.   Sebaliknya kalau Anda bertamu ke rumah orang, tetapi Anda mau hutang duit, kira-kira yang punya rumah loyo, tidak?  Dia loyo dan pegel-pegel karena kedatangan Anda itu bawa energi miskin dengan meminta hutangan duit.   Tidak ada orang merasa gembira lalu tersupport energinya ketika bertemu pengemis, rata-rata merasa terbebani, karena pengemis energinya meminta. Meminta tanda tidak punya. Tidak punya tanda miskin.   Anda kadang membersamai orang namun Anda merasa seperti loyo, tidak semangat, tidak gembira, mau ngomong saja lidah kaku dan malas, itu tanda orang yang bersama Anda berenergi miskin, unsur-unsur di dalam kesadarannya masih dominan meminta-minta.   Dan kalau Anda bertemu seseorang lantas diri Anda merasa tambah semangat, berenergi, ceria, gembira, itu tanda Anda bertemu dengan orang yang berenergi kaya.  Ya seperti tamu yang bawa oleh-oleh besar, orang yang berenergi kaya itu berkemampuan membuat orang lain gembira.   Maka mari cek hidup kita. Masihkah diri kita menjadi masalah bagi orang lain? Masihkah menjadi beban bagi orang lain? Kalau masih begitu, dijamin rezeki Anda macet-macet seret.   Dan kalau sampai diri Anda adalah fitnah bagi orang lain, artinya kerjaan Anda memusuhi orang, mengfitnah, berbuat mudharat bagi orang lain, itu rezeki Anda yang datang bukan duit, tapi azab, kualat dan melarat.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

TRANSMUTASI ENERGI MOVE ON

Transmutasi adalah perubahan atau konversi satu objek menjadi objek lain. Transmutasi unsur kimia terjadi melalui reaksi nuklir dan disebut dengan transmutasi nuklir.   Bukan Cuma nuklir, energi angin, air, sinar matahari, dan semua energi bisa Anda konversi ke energi lainnya. Artinya konversi energi satu obyek menjadi obyek lain itu bisa dilakukan.   Masa lalu yang dilepaskan dan diusahakan untuk move on itu energi hati yang sangat besar. Sayang kan kalau tidak Anda transmutasikan menjadi obyek energi lainnya?   Banyak di antara Anda tak bisa 100% move on begitu saja dari masa lalu. Dan benar-benar Anda seperti dipaksa takdir Tuhan untuk let go melepaskan.   Diperjuangkan tidak bertemu jodoh, malah ketemunya maksiat seperti selingkuh dan perebut pasangan orang, namun mau dilepaskan masih saja terbayang-bayang. Disitu tidak ada pilihan lain selain usaha move on.   Usaha move on itu energi hati yang sangat besar, sayang kan kalau energinya tidak Anda transmutasikan menjadi power masa depan?   Sambil komitmen sadar rela lepas, dan setiap kali bayang-bayang tentang dia muncul di hati, Anda berdoalah untuk menukarkannya dengan power masa depan, misal, “Tuhan, aku relakan terima takdir ini, semoga aku makin kaya mulia dunia akhirat.”   Ingat! Setiap kali Anda ingat dia, segera sadarkan diri untuk transmutasi power energi masa depan.   Namun Anda yang kokoh merelakan lepas, kuatkan pilihan terima takdir tidak hidup bersama, jangan kemudian bolak balik kepoin akun medsosnya, apalagi usaha-usaha berkomunikasi.   Dalam kisah di satu hadits tentang 3 orang yang terjebak dalam goa karena pintu goa tertutup batu besar, itu salah satu ketiga orang tersebut melakukan transmutasi energi move on. Dia pernah sangat mencintai seorang gadis.   Saat hendak berbuat mesum ia batalkan, lalu memilih usaha move on dari si gadis yang dicintainya.   Saat ia panik terjebak di dalam goa, lalu ia gunakan energi move onnya untuk transmutasi energi dibukakannya batu besar yang menutup pintu goa. Dan batu besar bergeser sendiri.   Yusuf AS sebenarnya sangat mencintai Zulaikha, beliau pun berat untuk bisa move on. Namun karena komitmen takwanya, ia pilih meninggalkan Zulaikha sekalipun harus dipenjara karena propaganda fitnah perselingkuhan.   Di penjara, Yusuf selalu berdoa dianugerahi menjadi pejabat tinggi keuangan negara Mesir Kuno. Dan doanya menjadi wujud nyata.   Itulah transmutasi energi move on. Usaha move on itu super berat, kenapa tidak ditransmutasi?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

CARA TEMUKAN ORANG YANG TULUS KEPADA ANDA

Algoritma Youtube jauh lebih konsisten menayangkan postingan konten Anda karena Youtube punya kepentingan ambil keuntungan dari jam tayang konten Anda.   Beda sekali dengan algoritma Facebook, kalau Anda tidak gabung Facebook profesional, dari 5 ribu teman di akun Anda hanya berapa ratus orang yang bisa melihatnya.   Itu karena pihak meta dapat apa dari postingan Anda kalau Anda tidak bisa menguntungkan mereka?   Mereka melayani Anda dengan konsisten itu sebatas dan terbatas pada pertimbangan apa yang bisa mereka peroleh dari diri Anda.   Ada give ada take begitulah sistem interaksi alam semesta. Dan Youtube jauh lebih konsisten memperjuangkan kepentingan konten Anda karena ada take yang bisa diambil dari diri Anda.   Ada kepentingan yang terpenuhi dari diri Anda, baru orang lain akan konsisten tulus dan mempriorotaskan kepentingan Anda. Begitu simpulnya.   Sudah terbukti, para ASN dengan konsisten tulus ikhlas dalam jangka waktu lama selesaikan pekerjaan negara karena kepentingan mereka peroleh rezeki terpenuhi.   Para istri dalam jangka waktu lama konsisten layani suami karena kepentingan mereka diberi nafkah terpenuhi. Para penjual dalam jangka lama tulus ikhlas capek layani pembeli karena ada kepentingan cuan yang terpenuhi. Dan seterusnya.   Hingga orang tua pun tulus ikhlas layani anaknya karena ada kepentingan yang ingin didapatkan yakni punya anak shaleh dan sukses, kalau anaknya bikin masalah ruwet ya andai saja bisa membuangnua, orang tua ingin membuangnya.   Anak dengan tulus ikhlas berbakti kepada orang tuanya karena ia berkepentingan peroleh doa dan berkah dari orang tuanya.   Mereka yang terjun di pergerakan organisasi sosial pun begitu. Misal giat di GP Ansor atau Pemuda Muhammadiyah ya karena mereka berkepentingan eksistensi sosial, ya ingin tersohor, berpengaruh, atau pun apa.   Atau kalau yang berkepentingan mulia ya ingin peroleh berkah ulama melalui pergerakan organisasi.   Jadi orang bisa tulus ikhlas melayani dan bekerja sama dengan Anda karena ada kepentingan yang bisa dia penuhi dari diri Anda.   Sebab ini kalau Anda mau cari orang yang tulus ikhlas itu jangan pernah cari orang yang dengan sukarela membantu Anda, pastikan dia punya kepentingan kepada Anda dan pastikan pula Anda sanggup memenuhinya.   Tulus diartikan polos tanpa kepentingan atau diartikan sukarela, tidak juga. Anda iInginkan orang lain membantu Anda kok cari yang sukarela, ya dua hari saja dia melayani Anda, dia sudah pegal-pegal.   Sehingga kalau Anda temukan orang yang dengan tulus konsisten, pastikan dia bisa ambil keuntungan dari diri Anda, pastikan ada kepentingannya yang terpenuhi oleh Anda.   Kalau Anda masih saja belum sadar ini, Anda masih akan sakit hati berinteraksi dengan orang lain karena Anda thoma’ berharap orang lain bantu Anda dengan sukarela. Tak ada take, give pun tiada.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

MEREKA YANG MEWAH SEDANG BELI KESEDERHANAAN, MEREKA YANG SEDERHANA SEDANG BELI KEMEWAHAN

Saya bingung kalau harus mendefinisikan orang kaya, karena tidak ada yang kaya.   Lah iya saat penghasilan kecil, isi BBM motor full tangki gunakan Pertamax butuh uang 50 ribuan. Sesudah berpenghasilan besar ganti pakai mobil. Mobil 1500 CC-an, Pertamax full tangki sekitar 450 ribuan. Ganti mobil CC besar, isi Pertamax full tangki butuh 1,2 jutaan.   Makin kaya maka kebutuhan seseorang makin besar. Padahal kaya itu adalah terputusnya rasa butuh.   Sementara makin Anda kaya, kebutuhan Anda makin besar. Dari gambaran sederhana kebutuhan BBM kendaraan saja sudah begitu.  Belum lagi kebutuhan rumah, kebutuhan gengsi, kebutuhan healing, kebutuhan travelling, kebutuhan pengaruh dan lainnya, semua kebutuhan makin membesar.   Yang artinya makin Anda berduit banyak justru Anda makin fakir. Blunder kan? Ujar-ujar makin kaya akan makin kecukupan malahan kebutuhan makin membesar yang berarti makin fakir.   Tapi ya memang begitu mekanisme hidup, blunder dan muter. Setelah muter-muter lalu balik lagi ke titik semula.   Di dalam Zat Tuhan juga begitu. Tuhan Maha Kaya, tapi apa iya di sisi Tuhan ada saldo harta? Tidak ada.   Karena seluruh rezeki di sisi Tuhan dialirkan untuk para makhluk-Nya. Semua rezeki di sisi-Nya mengalir, di sisi-Nya adakah saldo rezeki yang ditahan?   Itu artinya di sisi-Nya tidak ada apa-apa. Blunder kan? Disebut Maha Kaya tapi ya tidak ada apa-apa. Kosong ternyata isi, yang isi ternyata kosong.   Sama saja, orang berjibaku berhemat, lah ternyata hemat itu emangnya ada? Saya lihat di konten-konten medsos yang amalkan frugal living, mereka justru membayar sangat mahal. Cuma beli sabun cuci piring, muter-muter cari yang murah, syukur dapat yang discount.   Orang itung-itung harga cari yang efesiein, itu boros sekali memakai otaknya. Belum lagi tenaga yang digunakan untuk muter-muter cari barang efesien harga.  Jadinya frugal itu murah apa mahal? Ya Cuma murah di satu sisi, di sisi lain ya bayar mahal.   Coba kalau Anda bayar tanpa lihat harga, cukup kira-kira saja punya uang segini, beli ini dan itu cukup duitnya, setelah itu tidak dilihat notanya langsung masuk tong sampah, kan jadi hemat di pikiran dan perasaan, otaknya tidak diperas-peras amat.   Sama saja Anda beli handphone ram kecil, iya murah diharga, saat dipakai baru handphonenya minta bayaran mahal dari perasaan Anda, buat menyimpan apk sempit, buat loading lelet, hasil foto juga mirip foto KTP.  Mahal di perasaan kan? Merepotkan. Sebaliknya ram besar barangkali mahal di harga, tapi jadi frugal di perasaan.   Kalau begitu hemat itu ada, enggak? Adanya blunder.   Dan ada lagi, orang kaya itu katanya dekat dengan kemewahan. Ya mereka yang mewah sebenarnya juga orang sederhana, dan mereka yang sederhana juga sebenarnya orang mewah.   Misal, Anda menerimakan mobil sederhana, ya sebutlah mobil pakai Avanza keluaran pertama tahun 2003. Iya harga beli memang sederhana, tapi harga perawatan dan servis jadi mewah kan?   Effort kenyamanan yang dikeluarkan saat memakai, sedikit ada lobang jalan saja duduknya terguncang, jadi mewah kan kalau diukur dari harga rasa nyamannya?   Dan belum lagi dari sisi perasaan jadi sangat mewah. Lah iya pakai mobil sederhana siap-siap disangka orang tak punya duit?   Harga perasaannya yang diberikan jadi mewah kan? Gengsi yang dikeluarkan juga mewah.   Anda punya rumah reot itu sederhana di harga, di sisi effort pakai fasilitas rumahnya jadi mewah, mau tidur saja tidak nyaman. Belum lagi gengsi dan keluhan, itu sangat mewah memakan perasaan.   Sekrang orang yang mewah. Mereka di sisi lain ternyata sederhana. Misal pakai Toyota Alphard, jadi simple dan sederhana kan dalam effort keluhan dan effort gengsi?   Sederhana pula dalam kenyamanan, otot-otot tubuh jadi sederhana kerjanya dalam menahan guncangan di jalanan.   Ada salah satu teman saya, dia tinggal di daerah Banyumas saja, beli mobil scond hingga ke  Nganjuk Jawa Timur, infonya di Nganjuk harganya lebih murah.  Dia Cuma cari sederhana di harga, tapi cari mewah di kerepotannya. Iya kan?   Jadi hasilnya mereka yang serba mewah pun sedang beli kesederhanaan, dan mereka yang sederhana juga sebenarnya sedang beli kemewahan. Blunder.   Yang kaya adalah fakir, yang miskin bisa jadi yang kaya, yang hemat adalah yang boros, yang boros adalah yang hemat, yang mewah adalah yang sederhana, yang sederhana adalah yang mewah. Mumeti pokoke.   Namun itulah wujud Allah yang sesungguhnya. Dari Zat-Nya pun sudah begitu. Katanya hanya Allah wujud yang Esa, tauhid murni, namun nyatanya wujud-Nya itu ada karena kesepakatan “tiada tuhan” (lâ ilâha) yakni ateisme dan “selain Allah” (illâ-llâh) yakni teisme. Yang berarti Dia ada karena mengakui ketiadaan Tuhan. Blunder.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

LEVEL UP KAYA

Banyak orang ingin kaya dan berduit dengan mengelola sebegitu ketat uangnya. Dianggar-anggar, diatur, sedemikian rupa, hingga jajan kopi ke warung saja perasaannya dihantui rasa bersalah “jangan-jangan boros”, teledor sedikit keluarkan uang dihantui rasa bersalah dan sesal.   Sehatkah mental begini? Merelakan hidupnya diatur uang, merelakan mentalnya diteror uang. Sudah begitu tak kunjung-kunjung kaya lagi.   Lah mau kaya bagaimana? Gaji Cuma 3 juta, diatur sedemikian rupa, lantas untuk memulai kaya menabung dari uang yang dipaksakan sisa 300 ribu. Menabung 300 ribu tiap bulan, kapan mau kayanya?   Tidak tahu bagaimana orang kaya meraih kekayaan. Orang kaya raih kekayaan ya karena rezekinya banyak, bukan karena kreatif atur-atur keuangan, efesien kanan-kiri, paksa-paksa menabung, dan lainnya.   Orang kaya sekali peroleh rezeki angkanya puluhan juta, ratusan juta, bahkan ada milyaran hingga trilyunan. Mereka sekali dapat duit angkanya tinggi, lalu Anda yang menabung 300 ribu tiap bulan, kapan bisa mengejar di level kaya mereka?   Bisa jadi Anda menabung seumur-umur, sampai detik-detik sekarat, hasilnya masih kalah nominal dengan pendapatan satu jamnya orang kaya.   Apalagi ingin kaya pakai metode frugal living itu sama saja cari melarat rame-rame. Lah iya, andai semua orang irit, itung-itung dan pelit, mau jajan membatasi diri, mau belanja tahan diri, kreatif cari yang murah-murah, ya pedagang barang bayak yang tidak laku. Mereka bangkrut.   Kalau semua orang terapkan frugal living, perekonomian dunia bisa ambruk. Baru ada lockdown Corona dimana akses sosial termasuk akses perdagangan dibatasi, efeknya akses belanja juga dibatasi, orang lebih banyak berada di rumah dan uangnya tidak terpakai belanja, itu saja sistem perekonomian dunia langsung anjlok, apalagi kalau banyak orang terapkan frugal living, itu cara sadis bangkrutkan ekonomi dunia.   Lalu bagaimana sih sebenarnya menjadi kaya itu? Level dimana Anda mampu menarik angka rezeki besar.   Begini. Menjadi kaya itu levelnya yang harus dinaikan dulu. Naik dulu ke level kaya.   Levelnya orang kaya itu membayarnya besar, levelnya orang miskin itu membayarnya kecil. Iya orang kaya bayarnya tanah, mobil, rumah mewah, travelling luar negeri, hotelnya bayar presidential suite, bayar pajaknya besar, bayar gaji karyawannya besar, dan seterusnya.   Kalaupun mereka menabung, mereka debetnya besar, sehingga hakikatnya mereka ketika investasi ke bank juga besar. Dan seterusnya.   Lah orang miskin itu level bayarnya kecil. Bayar kuota internet cukup 20 ribu sebulan. Minum kopi cukup sasetan harga seribu perak. Bayar BBM cukup yang bersubsidi. Bayar pajak paling pajak motor. Dan seterusnya.   Yang jelas level kaya itu level dimana bayarnya besar. Level miskin itu level dimana bayarnya itu kecil.   Nah untuk menarik rezeki kaya itu Anda harus menaikan levelnya dari level miskin ke level kaya.   Berarti kalau level kaya itu level gede membayarnya, cara Anda naik ke level kaya juga dengan cara memperbesar bayarannya.   Pingin kaya kok malahan atur-atur kelola uang ketat, efesien pengeluaran, atau malah pakai metode frugal living, itu justru langkah menurunkan level.   Tahu-tahu orang miskin itu karena level bayarnya rendah, lah kok diikuti dengan metode frugal living, ya Anda sedang cari miskin atau cari apa? Kalau cari kaya sepertinya tidak masuk akal. Yang masuk akal kalau mau kaya ya bayarnya digedein dong bukan malah dikurangi. Ngerti?   Nah masalahnya kita kan tidak punya uang buat bayar seperti level bayarannya orang kaya? Iya, kan?   Nah disitu masalahnya kita, otak kita terlalu matre apa-apa yang tampak adalah uang.   Ada salah satu rekan saya, hidupnya sekarang kaya raya. Waktu masih lajang dia bercita-cita tinggi sehingga sekolah hingga kuliahnya dijalani penuh konsisten. Bukan Cuma itu saja, sewaktu dia kuliah dia kreatif untuk mandiri punya penghasilan sendiri.  Tidak sampai disitu, prinsip-prinsip keimanan juga dia pegang kokoh, dia selalu punya wudhu dan tidak mau berboncengan dengan cewek yang bukan muhrim.   Bukan dia sok suci, dalam pergaulan dengan cowok dia baik-baik saja, Cuma kalau pacaran dia sangat menjaga diri, bahkan boncengan pun tidak mau.   Nah kenapa dia kaya? Dia bayarannya besar. Sekolah tekun dia membayar besar. Mandiri untuk punya usaha sendiri dia bayar besar. Menahan syahwat demi takwa kepada Allah juga bayaran tinggi.   Ya begitu itu level orang kaya, sejak belum punya uang dia sudah berkemampuan bayar mahal atas masa depannya.   Lah orang miskin itu level bayar non material sudah kecil. Disuruh sekolah malah sibuk bercinta. Cita-cita tidak punya malah sibuknya urus asmara. Jadinya setelah menikah, pasangan nikahnya Cuma dikasih sisa pacar-pacarnya.   Gaya gaul diprioritaskan, urusan takwa belakangan. Dia tidak ada karakternya. Kalau disuruh bayar masa depannya dengan jerih payah selalu kecil angkanya, tidak ada karakter perjuangannya menyiapkan masa depan.   Nah kenapa orang kaya bisa menarik rezeki besar? Itu jawabannnya, mereka punya karakter kokoh dalam membayar. Sebelum mereka berkemampuan bayar mahal dengan uang, mereka telah lebih dulu membayar mahal dengan jerih payah. Dan bayar dengan jerih payah itulah bayaran yang sebenarnya.   Jadi sekali lagi kalau mau kaya itu bukan dengan atur-atur ketat kelola uang, kalau mau kaya itu naikan dulu levelnya ke level kaya.   Kalau kemarin bangun Shubuh malas-malasan, cobalah ubah diri. Kalau kemarin cita-cita dan kemauannya masih lemah, cobalah kokohkan cita-citanya. Kalau kemarin masih sibuk mengeluh, cobalah fokus ke tujuan. Dan seterusnya.   Naikan levelnya ke level kaya, jangan malah sibuk irit dan itung-itung duit.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

FRUGAL LIVING; SUNGGUH-SUNGGUH PELIT DAN IRIT BISAKAH KAYA?

“Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum.” (Raja Sulaiman bin Daud). Sebenarnya cara konyol untuk kaya itu dengan jalan irit dan pelit. Saya pernah gagal lakukan live setreaming di Youtube, di antara kendalanya ternyata kurang mumpuninya kuota wi‐fi di rumah saya.   Sehingga siangnya saya langsung ke kantor Indihome Purbalingga untuk naikkan kuota wi‐fi dari 20 Mbps menjadi 50 Mbps. Konon 20 Mbps sudah cepat untuk download, tapi untuk upload masih lambat, sementara untuk live streaming yang dibutuhkan kecepatan upload. Ingin layanan wi‐fi lebih handal, harus naikan kuota, artinya harus bayar lebih banyak. Dan hukum tersebut pun berlaku untuk semua ranah hidup, kalau Anda ingin layanan hidup lebih berkualitas, Anda pun harus bayar lebih mahal. Sebab itu berlaku hukum, الْأَخْرُ عَلَى قَدْر النصَب “Ganjaran sesuai dengan kadar kepayahan.” (H.R. Bukhari & Muslim) Di sini jelas sekali kalau “biaya” yang dikeluarkan itu merupakan takaran layanan kuota yang layak Anda peroleh. Tidak lebih begitu lah hukum alamnya. Karena itu yang namanya irit dan pelit itu selamanya akan memampuskan kualitas rezeki yang akan Anda terima, karena irit dan pelit itu artinya berhemat untuk keluarkan biaya. Biaya yang dikeluarkan sedikit, kualitas barang yang diterima juga anjlok, rezeki yang diterima juga tidak berkualitas. Apalagi cari murah‐meriah, hahaha itu sama saja cari modar rezeki dengan konsisten. Dan payah lagi ide dapat gratis alias tanpa biaya. Itu ide cerdas untuk makin miskin. Nah kualitas belanja Anda, nafkah Anda, sedekah Anda, itu semakin tinggi kualitasnya akan menarik rezeki makin handal. Beli sandal jangan di angka 150 ribu terus, bertahap dinaikkan. Isi dapur, isi kamar, isi BBM, dan belanja‐belanja lain bertahap dinaikkan, konsisten dan jangan plin‐plan. Karena ini Biosolar versus Pertaminadex, Pertalite versus Pertamax Turbo, jelas lebih menderaskan rezeki Pertaminadex dan Pertamax Turbo. Wi‐fi 10 Mbps versus 50 Mbps jelas lebih deraskan rezeki yang 50 Mbps. Kualitas nafkah kepada anak dan istri juga ditingkatkan, jangan malah makin disempitkan. Sedekah juga begitu, makin hari makin membengkak. Jebakannya biasanya termakan dogma “sederhana“. Beli sandal sederhana saja, iya sederhana, tapi resikonya kualitas pembiayaan Anda yang turun. Kualitas biaya turun, otomatis kualitas peroleh rezeki juga turun. Jadi konten ini hanya untuk Anda yang berminat naikan kuota rezeki, kalau tidak minat, ya barangkali punya impian hidup sederhana, ya silakan. Itu pilihan. Tapi kalau pilih sederhana lalu Anda mengeluh kurang duit ya itu namanya bukan lagi hidup sederhana, tapi pilih hidup miskin. Mengeluh itu level miskin. Nah bukan cuma dengan pengeluaran biaya Anda bisa naikan kuota rezeki, dengan jerih payah juga bisa. Makin besar kapasitas keringat Anda, makin besar pula kualitas rezeki yang akan Anda peroleh. Hai orang‐orang beriman, bertaubatlah dari irit, pelit, cari murah dan cari gratis! Sekarang sedang viral di IG dan Tiktok tentang frugal living; yakni ingin kaya dengan irit sedemikian rupa, bisakah? Alam semesta ini mengenali alamat; yakni titik di mana Anda sampai di titik 0 km dari tujuan Anda. Di Bumi ini, Anda mau kemana? Tidak ada yang buntu. Karena sistem “alamat” ini, GPS mampu membacanya dengan sistem satelit. Kemana pun Anda menuju alamat, di situ ada jalan menuju kesana. Namun satu hal yang harus Anda ingat, alam semesta ini energinya netral, getaran apapun oleh alam semesta akan direspons dengan respons energi yang sama. Anda yang bersuara merdu dengan Anda yang bersuara buruk sama-sama teriak bernyanyi di atas gunung, bukankah gaung yang digemakan alam semesta sama? Sama-sama keluarkan gaung.   Karena itu ketika Anda punya tujuan mencapai alamat, alam semesta tidak peduli jalan apa yang Anda ambil, asal ada tujuan, ada niat, lalu Anda berusaha mencapai alamat tersebut, alam semesta akan merespons dengan tunjukan jalannya tanpa peduli jalan apa yang Anda ambil.   Geng Yakuza Jepang ingin capai alamat “berpengaruh” dengan  jalan kekerasan dan penindasan, tercapai. Dan capaian pengaruhnya menyamai capaian Jenderal Besar Soedirman yang  pengaruhi orang dengan aksi heroisme militernya memerdekakan Indonesia.   Maria Ozawa ingin capai alamat popularitas dengan pornografi, tercapai. Dan capaian popularitasnya menyamai Susi Susanti yang populer menjadi atlet Badminton profesional.   Hanya saja apapun alamat yang Anda tuju, tercapai atau tidak, hasil maksimal atau tidak, itu tergantung kesungguhan Anda. Jangan dikira menjadi sosok pornstar yang populer tidak butuh kesungguhan konsisten, itu kesungguhannya menyamai kesungguhan dakwah para nabi yang membawa risalah suci.  Lah iya, Maria Ozawa mau ke Bali saja didemo ratusan ribu orang, shootting film nasional di Indonesia juga begitu. Kalau dia bukan orang yang sungguh-sungguh dalam karir pornografinya, sudah sejak awal dia terjungkal.   Anda mau kaya dengan irit dan pelit, tercapai kok, asal sungguh-sungguh. Anda amati saja masyarakat di sekitar Anda, banyak kan orang kaya yang pelit dan irit? Tapi itu syaratnya sungguh-sungguh. Jadi kalau Anda sudah irit dan pelit tapi tidak kaya-kaya, itu artinya pelit dan irit Anda kurang kesungguhan.   Cuma itu, kalau saya malas bangun kekayaan kok dengan pelit dan irit. Pelit dibenci orang, irit menyiksa diri sendiri dengan harta. Juga dibenci Tuhan. Kalau saya emoh.   Lah wong kaya dengan dermawan pada diri sendiri dan orang lain juga ada kok, lebih happy dan lebih elegan, ngapain kaya dengan irit dan pelit?   Raja Sulaiman bin Daud jelas berpesan, “Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.”   Masih mau kaya dengan irit? Amit-amit! Kerja capek-capek dan ujung-ujungnya juga mati, pingin bakso saja ditahan-tahan demi pingin kaya. Rakus amat sih?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

Scroll to Top