SEPTEMBER 2023

SEPTEMBER 2023

TAK TEGA, KOK JADI BANGKRUT?

Seorang alumni kelas training saya; Servo Prosperity Class, dia seorang dokter hewan. Dia punya klinik hewan. Dia kerap alami kesulitan uang untuk operasionalkan klinik karena kerap kasih kelonggaran pembayaran orang-orang yang mengobatkan hewannya.   Alasannya demi rasa prikehawanan yang butuhkan pertolongan segera, ia melonggarkan untuk bayar lain kali saja.   Masalahnya ketika pemilik hewan ditagih pelunasan bayaran, banyak yang kabur. Ya rasional, bayar dokter untuk pengobatan anak sendiri saja banyak yang bermasalah, apalagi bayar pengobatan kesehatan hewan.   Akhirnya pelan-pelan klinik hewannya tidak dapat beroperasi karena memenangkan rasa perikehewanan di hatinya.   Bisnis itu punya etika. Etika bisnis ya harus ada cuan. Artinya cuan itu adalah prioritas. Tanpa energi cuan, apa artinya bisnis? Apa artinya dagang?   Banyak orang merasa berdosa ketika harus memprioritaskan peroleh cuan untuk dirinya di dalam bisnis.   Biasanya penyakit begitu menempel di hati orang yang yang tidak enakan hati dan mudah kasihan. Bagi mereka mentarget peroleh cuan itu adalah dirasa sebagai kejahatan dan terlalu tega.   Rumah sakit itu lembaga bisnis dan rumah sakit kalau dinalar dari sisi kemanusiaan sebenarnya sangat jahat.   Bayangkan, ada orang sekarat, ada orang kena musibah, bukannya dibantu materi, malah dimintai bayaran, kan jahat sekali? Namun tidak ada rumah sakit disebut lembaga jahat karena rumah sakit bervisi misi bisnis.   Nah Anda yang masih punya perasaan berdosa, perasaan berbuat jahat, perasaan tidak tega saat harus ambil prioritas cuan dalam dagang, silakan dinalar fakta dan realitanya rumah sakit.   Rumah sakit tetap berakhlakul karimah, tetap berperikemanusiaan, tetap bermoral tinggi, sekalipun meminta bayaran kepada orang yang sedang kena musibah, bahkan sedang sekarat. Sebab bisnis itu ada etikanya sendiri, etika bisnis ya mentarget peroleh cuan.   Kalau bisnis diberi etika sosial, diberi etika kemanusiaan, diberi etika perikewanan, ya sama saja di depan suami masih menutup rapat aurat, padahal etika kesuamiistrian ya harus buka lebar-lebar auratnya.   Banyak yang alami penurunan omset bisnis bahkan hingga gulung tikar karena persoalan ini, persoalan hati yang berlebihan prioritaskan orang lain hingga tidak bisa lagi prioritaskan dirinya sendiri tapi diterapkan dalam mengelola bisnis.   Kasus serupa seperti warung-warung kecil di desa dimana budaya rasa sosial bertetangga masih sangat kental. Karena tidak tega dan tidak enak hati gampang hutang-hutangkan ke pelanggan. Ya jadinya warungnya tutup.   Kalau Anda punya rasa empath besar ke orang lain bukan dengan merusak etika bisnis, ada penempatannya sendiri.   Saat jualan ya ambil saja keuntungan semaksimal mungkin, gampang kalau uangnya sudah jadi milik Anda dengan cara halal dan terhormat, tinggal kasihkan ke orang lain untuk membela rasa empath Anda, dengan begitu rasa empathnya bukan lagi merusak etika jual beli.   Namun di dalam jual beli ada juga orang yang super tegaan, cirinya sesudah Anda bertransaksi dengannya Anda merasa seperti diperas. Iya merasa diperas.   Nah orang yang begitu biasanya orang yang berhati jahat, bukan orang yang pintar jualan. Ketika temukan orang begitu, mending catat orangnya, setelah itu jangan pernah lagi berurusan uang dengannya.   Iya sama-sama ambil untung besar, orang yang hatinya jahat kepada orang lain itu Anda yang bertransaksi dengannya akan merasa diperas, beda dengan orang yang pintar jualan, sekalipun dia ambil untung gede, tapi tetap tertangkap mengasyikan di hati orang lain.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

SEPTEMBER 2023

MISKIN ITU KERAP MENGIJINKAN DIRI JADI KORBAN UANG

Ada dua siswa yang dapat hadiah ulang tahun dari gurunya di kelas. Keduanya diajak ke sebuah ruangan tertutup untuk terima hadiah. Masing-masing diberi kunci ruangan. Keduanya memasuki ruangan sendiri-sendiri di waktu yang terpisah.   Siswa pertama langsung mengumpat keras karena bukan hadiah istimewa yang ia temukan, melainkan kotoran hewan. Setelah jeda waktu, siswa kedua pun masuk ke ruang yang sama, ia pun menemukan hal yang sama, yakni kotoran hewan.   Namun ia tidak mengumpat justru ia mengepalkan tangan kegembiraan sambil teriak, “Yes”. Di prasangkanya menilai bahwa di ruang tersebut telah tersedia kuda gagah untuk hadiah ulang tahunnya.   Kejadian ini akan memproyeksikan keduanya pada keadaan perasaan berbeda, siswa pertama merasa sebagai korban prank, siswa kedua merasa diistimewakan.   Merasa sebagai korban prank, Anda bisa gamparkan efeknya bagi si siswa. Dia bisa membanting, mengumpat dan mengeluarkan emosi-emosi racun dari hatinya.   Yang namanya korban kejahatan, mana ada yang ceria bahagia? Semua korban kejahatan pasti nestapa nelangsa.   Saya kerap mengilustrasikan, Anda masuk ke warung bareng teman-teman, lalu Anda terjebak mentraktir, Anda yang harus bayari, disitu diri Anda merasa jadi korban.   Lain lagi ketika Anda masuk warung bareng teman-teman, Anda pun terjebak traktir, namun rasa Anda dipicu rasa bahwa, “Saya orang kaya, harus saya yang mentraktir.” Disitu diri Anda merasa sebagai orang gagah yang kaya.   Wujud hasil dari kedua kasus ini akan sangat berbeda, Anda yang merasa sebagai korban mentraktir, ya hasilnya keterpurukan karena menempatkan diri sebagai korban, dan Anda yang merasa sebagai orang gagah yang kaya, hasilnya ya kekayaan, kemuliaan dan kegembiraan.   Nah coba cek! Anda saat dimintai uang oleh istri, oleh anak, saat bayar tagihan listrik, saat bayar cicilan hutang, saat bayar belanjaan, dan semua transaksi pembayaran, itu rasanya apa? Rasa sebagai korban apa rasa sebagai orang kaya?   Mengapa Anda miskin? Ya salah satunya karena setiap melakukan transaksi keuangan, rasa yang Anda unggah adalah rasa sebagai korban.   Istri minta jatah nafkah, hati kesal dan menggerutu, itu korban uang. Anak minta jajan rasanya sumpek, itu korban uang.   Bayar cicilan hutang rasanya berat hati, itu korban uang. Bayaran tagihan listrik dan pajak, rasanya malas dan sungkan dengan terbenani, itu korban uang.   Bayar belanjaan, rasanya khawatir banget duit cepat habis, itu korban uang. Dan lainnya.   Menjadi korban ataupun pahlawan gagah, itu hanya programan perasaan Anda, nah yang jadi miskin itu Anda kerap merasa sebagai korban uang dalam segala transaksi pembayaran.   Tahu tidak, dalam kekristenan, Yesus Kristus itu jadi korban kejahatan penyaliban, namun ia tidak merasa sebagai korban, ia merasa sebagai “juru selamat”, hasilnya agama Kristen yang dibawanya saat ini menjadi agama terbesar di dunia.   Nah kalau Anda kerap merasa sebagai korban uang ya jelas itu yang jadikan Anda terus-terusan belangsakan melarat karena selalu menempatkan diri sebagai korban uang.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

SEPTEMBER 2023

SUDAH SELESAI YA PULANG

“Gus, usia 35 tahun ini semua target sudah tercapai. Rumah, bisnis, kendaraan, travelling luar negeri, sudah semua.”   “Sudah selesai ya tinggal pulang,” sahut saya.   “Maksudnya, Gus?”   “Anda saya suruh bersih-bersih di rumah saya, lantas cekat dan gesit mengerjakannya, kan cepat selesainya. Sudah selesai ya pulang, masa di rumah saya terus. Hidup itu tugas selesaikan urusan hidup, kalau cekatan mengerjakannya ya cepat selesai. Kalau sudah selesai, Anda tinggal disuruh pulang, kembali ke penciptanya.”   “Hahhh…,” dia kaget. “Lalu gemana, Gus, biar ga cepat dipanggil pulang?”   “Ya bikin ulah lagi yang banyak, yang melibatkan target lainnya. Bangun itu masjid, atau biayai seribu anak yatim, atau menghajikan 1000 guru ngaji atau apa yang jadikan tugas Anda di dunia ini ga selesai-selesai.”   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

SEPTEMBER 2023

MENGHAPUS PENDAMAN BENCI KEPADA ORTU SENDIRI

Banyak anak belum bisa ridha kepada orang tuanya sendiri, punya luka batin sehingga hati memendam rasa benci. Latar belakangnya ketidakridhaannya pasti kekecewaaan hati kepada orang tua sendiri.   Maklum orang tua kita tidak sesukses BJ Habibie yang gemilang lahir batinnya, orang tua kita manusia biasa yang tentu banyak kekurangan, bahkan—dalam tanda kutip—kadang ada jenis orang tua yang durhaka dan jahat kepada anaknya sendiri.   Dari hal lumrah seperti sering dipukuli di waktu kecil, sering dijewer dan dihukum, tidak dibiayai pendidikannya, dan lainnya. Ataupun hal berat seperti disia-siakan hidupnya, dibuang, diterlantarkan, diperas, dan lainnya.   Atau kadang ada sifat orang tua kita yang tidak kita cocoki seperti orang tua sangat pelit, sangat bermental miskin, arogan dan lainnya yang bikin hati kita kerap risih lalu memendamkan rasa benci kepadanya.   Belum masalah lainnya yang bentuknya warisan energi buruk. Seperti orang tua Anda seorang yang sangat rakus, pendengki dan bakhil, sehingga orang tua di masa hidupnya kerap merugikan dan menyengsarakan orang lain, sementara warisan itu bukan Cuma materi saja seperti harta dan hutang, namun energi juga diwariskan.   Ketika orang tua Anda punya tumpukan energi buruk, ya otomatis Anda juga yang terima waris resikonya. Jadinya orang tua Anda yang jahat, Anda yang kemudian hidup dengan resiko keterpurukan, orang tua yang punya hutang energi, Anda yang harus membayarnya. Ya begitu resiko hukum waris gen, waris darah.   Punya luka batin, jadinya hati tidak ridha kepada orang tua. Anda membenci orang lain, orang yang Anda benci tentu akan merasakannya, lalu dia pun akan membenci Anda pula. Kalau Anda membenci dan tidak ridha kepada orang tua, hati orang tua pun sama, dia tidak ridha pula kepada Anda.   Kalau hati Anda tidak ridha kepada orang tua, disitu resiko beratnya, sebab ridha orang tua itu punya keterikatan dengan ridha Tuhan.   رِضَا اللَّهِ فِـيْ رِضَا الْوَالِدَيْـنِ، و سخط اللَّهِ فِـيْ سخط الْوَالِدَيْنِ   “Keridhaan Allah itu berada pada keridhaan kedua orang tua, dan kemarahan Allah itu berada pada kemarahan kedua orang tua.” (HR Tirmidzi)   Kalau memendam rasa benci kepada orang tua sendiri itu efeknya kita menjadi susah temukan kemuliaan hidup, kita susah terangkat derajatnya.   Mau ilmu segudang, cerdas bisnis segudang, ijazah sekolahnya tinggi, kalau masih punya kebencian hati kepada orang tua sendiri biasanya derajat hidup tetap tidak terangkat.   Sebab hati yang tidak ridha kepada orang tuanya sendiri itu sama artinya tidak ridha kepada Tuhannya, karena yang menentukan Anda terlahir dari orang tua mana ya Cuma Tuhan, Anda tidak bisa tentukan dari orang tua mana Anda lahir, orang tua pun tidak kuasa menentukan untuk melahirkan anak siapa.   Yang menentukan Anda lahir dari orang tua mana, dan orang tua Anda melahirkan anak mana, itu semata-mata garis tangan Tuhan yang bekerja.   Karena itu tidak menerima dengan ridha akan orang tua Anda, atau tidak ridha Anda melahirkan anak siapa, itu sama saja sedang tidak menerima Tuhan Anda sendiri.   Hal inilah yang sebabkan jika kita masih memendam benci kepada orang tua sendiri kita susah terangkat derajatnya karena skor spiritual yang masih rendah.   Lalu cara menghapus pendaman benci maupun warisan energi buruk dari orang tua, bagaimana?   Ini pengalaman saya sendiri bagaimana menghapus luka-luka batin tersebut.   Pertama, sadari sepenuhnya kemuliaan orang tua kita.   Sadar sepenuhnya kalau orang tua kita ada keterikatan dengan Tuhan, dimana memuliakan orang tua berarti memuliakan Tuhan, kalau ridha orang rua kita peroleh, otomatis ridha Tuhan juga kita peroleh.   Kalau Tuhan sudah ridha, bagaimana Tuhan tidak mengangkat derajat kita untuk mulia dunia akhirat.   Jadi pertama perlu sadar sesadar-sadarnya, sadar keramatnya orang tua bagi anak.   Kedua, jangan pernah melihat kekurangan orang tua.   Butakan mata untuk melihat itu. Kita harus sadar bahwa tugas kita hanya memuliakan orang tua, lalu bodo amat dengan rasa ingin mengritik orang tua. Artinya disini Anda berjuang untuk memaafkan orang tua.   Ketiga, sesudah menata hati seperti dalam poin 1 dan 2, lalu ambil langkah untuk mengkayakan orang tua. Mengkayakan orang tua maksudnya? Begini, segala kekurangan itu artinya energi kemiskinan. Termasuk kekurangan orang tua itupun energi kemiskinan. Kalau mobil Anda ada baretan itu adalah kekurangan. Cara perbaikinya ya Anda harus mengkayakan si mobil dengan membawanya ke bengkel body repair. Di bengkel Anda mengeluarkan biaya. Setelah sanggup keluarkan bayaran, baretan mobilnya berubah menjadi kekayaan kembali. Jadi segala kekurangan itu energi kemisikinan, dan segala kemiskinan akan selesai dengan bayaran sehingga ditemukan kekayaannya kembali. Maka itu kalau mau menghapus kekurangan orang tua beserta seluruh energi kemiskinannya, itu Anda harus mengkayakan orang tua. Caranya mengkayakan, bagaimana? Ya keluarkan bayaran, yakni sebagai berikut; – Kalau orang tua masih hidup, dan mereka masih butuh kebaikan finansial, ya Anda berikan semacam gaji bulanan yang sekira bisa sejahterakan hidup mereka dengan niat penuh untuk mengkayakan dan memuliakan orang tua. – Jika mereka sudah wafat, ya Anda sedekah rutin dan konsisten, seperti sedekah bulanan, dengan niat mengkayakan dan memuliakan orang tua di alam kubur. – Kalau orang tua sudah tidak butuhkan bantuan finansial lagi, ya tentu bayar dengan pelayanan dan kebaktian sesuai kebutuhan mereka, juga dengan niat mengkayakan dan memuliakan orang tua. – Jika Anda sangat melarat, tidak punya uang? Nilai bayaran itu bukan berdasarkan nominalnya. Angka 1 juta bagi orang berpenghasilan 100 juta perbulan itu angka kecil, tapi angka 100 ribu bagi yang berpenghasilan 1,5 juta itu angka sudah sangat tinggi.   Maka semelarat-melaratnya Anda untuk sedekah 10 ribu tiap minggu, misalkan, itu kan pasti bisa. Hanya orang yang tidak punya kemauan saja yang tidak bisa melakukan. Semampunya konsisten memberi kepada orang tua jika mereka masih hidup, atau sedekah semampunya untuk orang tua jika mereka sudah wafat, itu yang dimaksud mengkayakan orang tua, karena segala kekurangan itu selesai dengan dibayar. Lakukan yang konsisten dan istiqamah, nanti keajaiban hidup akan hadir, Anda akan kaya mulia dari jalan yang tidak disangka-sangka. Muhammad Nurul BananGus Banan

SEPTEMBER 2023

SANG PERANGSANG REZEKI, OOH KADANG NASIBMU

Saya dan Anda kerap kan saksikan emak-emak dengan wajah dan tubuh lusuh, terlihat sekali dia penuh lelah di kehidupannya. Ya lelah mengurus rumah tangganya.   Mengurus anak-anak, mengatur keuangan rumah tangga ya serba pas-pasan, tumpukan pekerjaan rumah, yang semuanya melelahkan dan bikin penat.   Boro-boro berwajah glowing, atau di telinga dan lehernya ada anting dan kalung emas, cincin ataupun gelang emas, tak ada hiasan di tubuhnya sebagaimana takdir wanita sebagai perhiasan dunia. Segala yang ia kenakan sehari-hari seadanya.   Kelelahannya bukan saja di tubuhnya, di pikiran dan mentalnya pun begitu lelah tertekan kondisi keuangan rumah tangga yang serba pas dan harus dicukup-cukupkan.   Satu sisi kemana-mana dia menggendong anak saking repotnya, sisi lain pikirannya harus kerja keras bagaimana punya penghasilan tambahan rezeki.   Ketika dia masih cewek terlihat montok, baru menikah setahun dan punya satu anak, semua kecantikannya berganti lusuh dimakan kelelahan dan ketidakcukupan uang.   Anda bisa amati sendiri kok, setelah menikah kok kondisi istri seperti yang saya ceritakan di atas, itu rezeki suami juga makin terpuruk belangsakan.   Namun sebaliknya, kalau istrinya setelah menikah terlihat makin glowing, makin terlihat sebagai wanita mulia yang kecukupan lahir batinnya, rezeki suami juga makin glowing dari hari ke hari.   Jadi kalau mau meramal masa depan rezeki seorang suami akan makin glowing atau makin lusuh di masa depan, cek kondisi istrinya sekarang ini, dia glowing karena bahagia bersama suaminya, atau dia makin lusuh karena kelelahan dan depresi karena bangun rumah tangga dengan suaminya.   Kenapa kondisi istri bisa jadi alat baca kondisi rezeki suami di masa depan? Karena istri itu perangsang energi rezeki suami.   Begini, alam semesta itu saling kerja untuk alirkan energi. Tangan kerja dulangkan makanan, mulut menerimanya. Matahari kerja curahkan sinarnya, bumi menerimanya. Langit kerja curahkan hujan, bumi menerimanya. Sungai kerja alirkan air, lautan menerimanya.   Lelaki mengalirkan energi kepada wanita melalui energi seks dan nafkah.   Lelaki yang bekerja mengalirkan energi seks karena tampak dari sistem air maninya yang mengalir dan memuncrat seperti sinar matahari dan air hujan.   Energi nafkah juga demikian. Lelaki mengalirkan energi nafkahnya kepada wanita.   Memang bumi bekerja menerima energi air hujan, namun tidak serta merta menerima saja, di bumi air hujan yang diturunkan langit diolah sedemikian rupa sehingga kembali lagi bermuara ke laut.   Di laut, air hujan kiriman langit tersebut diserap lagi oleh laut untuk suplay energi ke langit agar langit terus bisa menyediakan air hujan. Dan terus berputar begitu.   Sinar matahari dan energi-energi lainnya juga begitu. Satu sisi ada yang curahkan energi, sisi lain ada yang terima sekaligus sebagai penyuplay energinya.   Wanita pun begitu, ia menerima curahan air mani dan nafkah dari pria, namun wanita lah penyuplay energi seks dan rezeki.   Dimana pun wanita lah yang dipajang sebagai media eksotisme. Wanita didandani, diberi perhiasan, dan dimodelling tata busana sedemikian rupa, karena wanita adalah penyuplay energi seks.   Bahkan simbol seks juga pada wanita, adegan film panas yang difigurkan selalu tubuh wanita. Wanita penyuplay energi seks karenanya perannya adalah “merangsang”.   Demikian pula dalam rezeki, peran wanita adalah merangsang energi rezeki karena wanita lah penerima nafkah sekaligus penyuplay energi rezekinya.   Nah ketika istri setelah menikah dan bangun rumah tangga kok dia kelihatan lebih banyak lelahnya saking penatnya selesaikan urusan rumah tangga, itu artinya sistem perangsang rezeki suami telah rusak.   Makanya bisa diamati, para istri yang setelah menikah kok terlihat lusuh karena kelelahan, rezeki suaminya juga makin belangsakan.   Jadi ya saya sendiri sebagai suami, kalau tidak ingin belangsakan rezekinya, mau tidak mau harus berani mengencangkan daya upaya agar istri bukan makin lelah dan sumpek sampai hilang kecantikannya setelah menikah dengan kita.   Malu lah sama mertua. Waktu dia bersama orang tuanya terlihat cantik karena bahagia, masa setelah mendampingi kita malah dia makin kumuh.   Sudah badan tak ada hiasannya, dadanya kendur, rambutnya awut-awutan, stres pekerjaan, karena terlalu rempong menadah kesumpekan berumah tangga.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

SEPTEMBER 2023

KISAH-KISAH KEBOBOLAN DUIT

Duit itu takdirnya mengalir, ketika Anda berobsesi memampat aliran rezeki dengan mengumpulkan, menggengam kencang, diawet-awet, diirit-irit, diefesienkan, dan lain-lain, justru duit akan membobol paksa untuk keluar lalu mengalir. Amati saja! Saat uang diawet-awet, diniati digenggam kuat, malah uang minta bobol paksa. Pasca menikah orang ini terlihat sangat konsisten pada uang. Segala kebutuhan hidupnya diprinsipi sehemat mungkin, seefesien mungkin.   Sebelum menikah dia berani beli rokok bungkusan, pasca menikah dia diet kuat pada uang mengingat kebutuhannya bertambah yakni menafkahi istri, rokok pun beli eceran, sehari cukup habiskan 5 batang. Satu saat saya bertamu ke rumahnya, disuguhi kopi hitam. Diseruput terasa encer, kopinya terlalu sedikit, manis juga enggak, terasa pipis onta. Ya diet keuangannya hingga kopi jadi sasaran dietnya. Rumahnya kalau Magrib selalu gelap, lampu-lampu di ruang-ruang rumahnya hanya menyala sekali dua kali. Kalau aktifitas penghuninya di ruang tengah, ruang tamu dan ruang lainnya pasti dimatikan lampunya, kalau aktifitas di kamar tidur, ruang lainnya juga mati.   Dan terus seperti itu, hanya lampu teras yang menyala terus, itu saja cuma lampu LED 10 Watt, lampu teras tetap nyala karena terkait dengan keamanan juga. Orangnya taat beragama, gemar jamaah shalat dan gemar ikuti pengajian, tapi itu dengan duit dietnya ketat sekali. Eeh beberapa minggu lalu ada geger-geger dia kena tipu SMS bodong, 10 juta raib ditipu.  Dia dibobol paksa duitnya oleh alam semesta. Kisah lain lagi, ada seorang yang beli kulkas bekasan. Karena bekasan, sebentar-sebentar minta servis. Dia enggan sekali keluar biaya untuk bayar tukang servis, prinsipnya kalau bisa dikerjakan sendiri buat apa keluar biaya untuk orang lain. Bolak-balik begitu, selalu diusahakan untuk diperbaiki sendiri. Karena dia bukan ahlinya servis barang elektronik, kerusakan justru makin parah. Sampai akhirnya terpaksa panggil tukang servis. Eits, dia kena tipu habis-habisan oleh si tukang servis ini. Dia harus bayar onderdil kulkas dengan harga 10 kali lipat dari harga normal. Duit diawet-awet malah dibobol dengan paksa untuk keluar. Kisah lainnya, seorang guru honorer masih bujangan, dia enggan sekali keluar uang, sampai pada keponakan-keponakannya saja yang masih kecil-kecil tidak ada pantasnya. Ya guru honorer gaji paling 500 ribu per bulan, tapi sekedar ngasih 5 ribu kepada keponakan kecilnya kan mampu. Pada orang tua juga tidak ada ide kreasinya untuk berbagi. Pokoknya dia anteng dengan duit. Ada duit ya buat dirinya sendiri, padahal merokok tidak, makan masih ditanggung orang tua. Pada satu waktu ada petugas PLN bodong datang ke rumahnya. Hanya dia yang waktu itu ada di rumah. Dia pun kena tipu, bayar tarif listrik bodong. Duit tidak mengalir akan terus membobol paksa untuk mengalir. Cerita-cerita di atas hanya pengingat untuk Anda, penjelasan spiritualnya sudah sering saya kupas. Karena itu memegang uang justru prioritaskan untuk mengalir. Waktunya dialirkan, segera alirkan, walaupun sebenarnya belum ada yang masuk lagi. Muhammad Nurul BananGus Banan

SEPTEMBER 2023

TANDA ANDA SEARCHING KEMISKINAN

Konten yang Anda search di media sosial yang akan kerap muncul di beranda medsos Anda, dan algoritma tersebut berlaku di semua platform medsos, yang Anda cari-cari itu yang Anda akan kerap hadir dalam kehidupan Anda.   Saat ini di Youtube saya suka searching konten mokbang makanan Sunda, khususnya lalapan mentahan dengan sambal terasi atau tomat mentah ataupun mokbang lutisan buah entah sambal gula maupun sambal kacang, yang selalu muncul di beranda Youtube saya ya konten-konten mokbang makanan Sunda. Yang Anda cari itu yang dihadirkan.   Di RT yang sama, ada tetangga yang selalu sibuk dengan urusan judi, seolah masalah judi tidak pernah pensiun hadir dalam hidupnya. Sementara ada tetangga yang hidupnya selalu bertemu dengan pengajian religi.   Tinggal di RT yang sama, satu selalu bertemu dengan judi, yang satu selalu bertemu dengan ngaji. Itu dikarenakan setiap diri Anda akan dihadiri dengan apa yang Anda cari.   Disini kenapa ada orang yang selalu dihadiri kemiskinan dalam hidupnya, tetapi ada sebagian orang yang selalu dihadiri kekayaan. Titik permasalahannya sama, diri mereka sendiri yang searching keadaan tersebut.   Pagi yang di-search kemiskinan, sore juga search kemiskinan, begitu pula malam harinya. Yang dicari itu, ya yang kerap hadir itu juga.   Tanda Anda lakukan searching kemiskinan banyak sekali, kalau mau dijelaskan butuh karya 1 buku sekitar 500 halaman, namun disini sedikit saja saya terangkan.   1.       Tidak tersinggung dikasihani orang.   Kasihan itu empati yang identik dengan ketidakberdayaan, keduhafaan dan lemah. Nah Anda kok merasa senang dan nyaman kalau dikasihani dengan bantuan dari orang lain, itu Anda melakukan searching kemiskinan.   Kecuali rasa ingin dikasihani oleh Tuhan, itu baru waras, karena memang sehebat apapun diri Anda, tetap Anda lemah di depan Tuhan.   2.     Rasa tak punya.   Disuruh sedekah biar kualitas hidupnya meningkat, merasa, “Saya tak punya uang, sedekah banyak dari mana?” Disuruh buka usaha, merasa, “Tidak ada modal, mau usaha apa?” Ditagih hutang, merasa, “Tak ada uang.”   Itu rasa tak punya uang. Kalau naluri Anda masih saja merespons segala masalah hidup dengan rasa tak punya uang begitu, itu tanda Anda masih selalu searching kemiskinan.   3.     Merasa rasa layak diberi dan dibantu.   Rasa layak diberi itu jadikan memasang tangannya di bawah. Dari dulu pun yang kaya selalu yang berbagi, yang menerima itu selalu yang dhuafa.   Lihat saja di saat lebaran, mereka yang biasakan diri bagi-bagi harta, ya mereka makin eksis kaya, mereka yang hanya dibantu dan dibantu ya tetap eksis miskinnya.   Fenimena itu hanya diselisihi rasa layak memberi atau layak diberi. Rasa layak diberi itu sama saja sedang searching kemiskinan.   4.    Rasa tak berharga diri.   Apatis, rendah diri, minder, kecil hati, dan self esteem rendah lainnya itu jadikan uang yang datang kecil.   Karena uang itu barang matre, sifatnya pun matre, konsekuensinya apapun yang berharga akan didatangi mahal.   Sehingga kalau Anda punya self esteem rendah, ya Anda didatangi uang kecil karena tidak berharga.   5.    Mental miskin.   Cari gratis, cari murah, cari efesien, cari hemat, rasa hedon dan konsumtif yakni royal belanja tapi karena dipicu keinginan nafsu belanjanya yang besar bukan dipicu rasa kaya di hati, itu semua mental-mental miskin. Anda mengamalkannya ya sedang searching miskin.   6.    Tidak hargai ilmu, yang dihargai duit.   Yang ubah nasib hidup itu ilmu, bukan uang. Kalau bayar ilmu, enggan dan bahkan tersinggung. Beli buku enggan, beli training berbayar enggan, biaya sekolah dan ngaji anak mengemplang, itu semua artinya Anda cari miskin karena yang dihargai selalu nilai uang bukan nilai ilmu.   7.     Berhati jahat kepada sesama.   Hati jahat itu hati yang berinisiatif bikin rugi orang lain. Kejahatan akan menuai kerusakan.   Sementara ketika Anda melemparkan batu ke kaca rumah orang, yang punya rumah akan keluar marah-marah mencari Anda. Kalau tercekal, Anda dihukum, lalu Anda harus ganti kerugian kaca yang pecah. Kalaupun tidak tercekal, Anda terancam karma.   Anda jahat ke kaca rumah orang saja, Anda yang rugi. Kerugian itu kemiskinan. Sehingga berhati jahat kepada sesama itu sama saja searching kemiskinan.   Dan masih banyak lagi searching kemiskinan laiannya, Cuma ini bukan buku, jadi tak perlu diperpanjang lagi.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

SEPTEMBER 2023

CARI REZEKI KARENA KETAKUTAN

Mencari rezeki karena ketakutan. Takut tidak kaya. Takut tidak cukup. Takut kehabisan. Takut tidak makan. Takut tidak dapat bagian. Dan takut-takut lain. Mencari rezeki getarannya takut, apa bedanya dengan hadapi pembegal? Setiap getaran ketakutan, respons baliknya adalah menghindari. Anda takut dengan teror, Anda akan menghindarinya, kan?   Cari rezeki karena getaran takut jadikan Anda mirip orang setengah waras, tindakannya mencari uang, dampaknya malah menghindari rezeki terus. Lalat cari rezeki kotoran, ternyata kotoran sudah tersedia melimpah. Domba mencari rezeki rumput, dan ternyata rumput sudah tersedia melimpah. Harimau mencari rezeki daging, ternyata hewan buruan tersedia melimpah.   Dan Anda mencari rezeki uang, juga sebenarnya uang itu sudah tersedia melimpah seperti halnya kotoran, rumput, dan hewan buruan. Cuma karena getaran ketakutan hati Anda atas jaminan rezeki lah, uang jadi sangat langka ditemukan, disabotase teror rasa takut, tindakannya mencari uang, dampaknya malah terhindar dari uang. Sadari dengan niat yang baik dalam mencari rezeki; seperti sadar mencari karunia Tuhan, sadar berbagi manfaat dengan makhluk lain, sadar menyejahterakan keluarga, dan lainnya. Muhammad Nurul BananGus Banan

SEPTEMBER 2023

TINDAKAN MEMBODOHKAN UANG KEPADA ANAK

Saya kerap menyaksikan anak ingusan di usia SD dididik ketat kelola uang. Jatah pesangon sekolah 5 ribu, dia masih dituntut agar sisa untuk ditabung.   Setiap hari harus bisa sisa, tidak boleh tidak. Si anak diatur sebegitu ketat agar jangan boros, tetap hemat, jajan harus sekreatif mungkin agar tetap dapat menabung.   Sudah begitu setiap hari mental anak diskak, “Uang susah dicari, jangan boros! Ayah ibu ga punya duit, jangan minta jajan terus.” Dan lainnya.   Warga Korea Utara itu satu ras dan satu gen dengan warga Korea Selatan, artinya kualitas SDM warganya sebenarnya setara.   Korea Selatan muncul sebagai negara maju dengan kualitas warga yang punya daya saing tinggi, Korea Utara muncul sebagai negara yang tidak bertumbuh dan tidak siap bersaing, padahal kualitas SDM warganya setara dengan Korea Selatan, itu karena warga Korea Utara terlalu diatur ketat.   Ya aturan itu untuk menertibkan, namun bila terlalu ketat, aturan justru akan berdampak membodohkan. Jadi kalau Anda ingin punya anak bodoh, atur mereka dengan ketat, jangan beri kesempatan mereka membantah dan melanggar, tuntut sekuat-kuatnya agar mereka menurut dan taat.   Anak didik, umat beragama, warga masyarakat pun sama, kalau Anda ingin mereka bodoh, beri aturan ketat dan jangan beri kesempatan membantah.   Nah model didik anak sejak dini diatur ketat uang juga demikian, justru akan jadikan anak bodoh kepada uang.   Uang saku dibatasi 5 ribu, tidak boleh lebih, tidak boleh kurang, itu sama saja sedang tanamkan belief kepada anak bahwa uang itu sangat sedikit dan sangat terbatas aksesnya.   Sudah begitu dituntut harus sisa agar tetap bisa menabung, itu sama saja tanamkan belief kepada anak kalau uang itu jika mau terkumpul berarti harus prihatin hebat, bahwa uang sangat berharga dan susah didapatkan.   Karena tertanam uang itu sedikit, uang terbatas, uang berharga, uang susah didapatkan, akhirnya di masa dewasa si anak tumbuh sebagai anak yang penuh ketakutan kepada uang. Rasa takut pakai uang, rasa takut happy dengan uang, rasa kikir dan rakus.   Dia pun tumbuh menjadi sangat bodoh kepada uang, persis seperti warga Korea Utara, dimana potensi cerdas mereka dibunuh karena ketakutan-ketakutan kepada aturan-aturan.   Kalau anak Anda mau cerdas uang, merdekakan perasaan mereka kepada uang. Tumbuhkan rasa hingga menjadi belief bahwa uang itu mudah didapat, uang itu banyak dan melimpah, uang itu enteng diraih, uang itu menyenangkan.   Tanamkan belief tersebut kepada anak, jalannya beri akses rasa melimpah ke uang. Diatur ya diatur, tapi tak perlu ketat-ketat, karena hanya akan membodohkannya. Atur sekedarnya, sekedar menertibkan.   Kalau tak ada yang perlu ditertibkan, ya beri saja mereka rasa melimpah uang, seperti jangan kasih tahu kalau uang itu susah dicari, jangan kasih tahu ada harga mahal, jangan kasih tahu uang tinggal sedikit.   Caranya bagaimana? Misalkan kalau Anda dimintai jajan anak, pas tidak punya uang, itu jangan beralasan tidak punya uang, pakai alassn lain selain uang, misal, “Jangan kebanyakan jajan, kasihan perutnya tidak sehat,” dan lainnya.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

SEPTEMBER 2023

POLA PEMILIK REZEKI HOKI DAN POLA AMBLAS MELARAT

Dokter Richard Lee heboh dengan angka penjualannya di Titktok, dalam hitungan jam, duit milyaran diraup. Hokinya luar biasa. Dalam proses pembentukan energi hoki tersebut, dr. Rechard yang dengan tulus menolong anak tak mampu malah digigit dengan bisa beracun dan dicakar oleh si anak. Namanya dijelek-jelekan di depan publik oleh si anak di medsos. Hasilnya dr. Rechard makin kaya, hoki rezekinya membeludak, si anak malah sekarang boro-boro makin tambah beruntung, punya akun Tiktok saja hilang. Jadi bertumbuh hokinya itu polanya jelas, kebaikan dan kebaikan, lalu digigit dengan racun berbisa dan dicakar. Ya begitu polanya, sudah berbuat baik malah kena gigitan berbisa dan cakaran, itu pola orang hoki kaya. Pola amblas melarat itu juga jelas, keburukan dan keburukan, hingga ditolong dengan tulus oleh orang lain pun lalu dia malah mengigitkan bisa beracun dan mencakar. Dan si anak remaja yang yang mengigit dan mencakar itu dia hanya punya aset akun tiktok saja apes, akunnya lenyap. Apes banget, kan? Seorang teman baik saya bercerita, “Dulu pernah nagih hutang ke tetangga yang sudah ditolong terus terusan oleh Mamah. Dikasih tumpangan gratis di rumah sampai bisa punya tempat tinggal sendiri, dipinjemin uang buat modal usaha. Pas ditagih, dia mengamuk, bukan kita yang melaberak malah dia yang melaberak, tidak mau bayar. Tiap saya lewat pura-pura bersin, meludah, di belakang. Kalau Mamah saya lewat, dia ngacungin kepalan tangan gaya jotos. Walau tidak kena, itu sangat menyayat hati.” Mamah cuma bilang, “Sudah biarkan saja, jangan dibuat ribut, kalau Ayah dengar, takut makin ramai.” Nggak lama sesudah itu dia sakit-sakitan, usahanya bermasalah, ditipu buyer, hutangnya dimana-mana dan nggak bisa bayar, mobil habis, rumah habis.   Sekarang numpang di rumah orangtuanya, buat makan saja mengkis-mengkis. Kami diam-diam tersenyum sambil membatin, “kapokmu kapan!?” Jadi hoki kaya dan amblas melarat memang polanya selalu begitu. Yang hoki kaya sudah selalu berusaha baik, eeh dicakar dan digigit melulu. Yang amblas melarat sudah dibaiki dengan pertolongan dan kebaikan, eeh malah menggigit dan mencakar. Lah kok begitu? Karena kesadaran itupun membentuk circle seperti halnya pergaulan. Orang yang berhati baik, selalu berpikir dan berbuat apik, selanjutnya akan menarik bisikan-bisikan perbuatan baik lainnya. Terus makin baik hingga membentuk circle kesadaran baik dalam dirinya. Sementara kebaikan itu pasti hasilkan keberuntungan  karena apapun bisanya eksis kalau peroleh kebaikan. Tumbuhan tak akan tumbuh subur kalau tak peroleh kebaikan sinar matahari, hara, dan air. Rezeki pun begitu, dipupuk dengan kebaikan ya makin subur. Nah orang yang berhati jahat itupun kesadarannnya membentuk circle. Orang yang berhati jahat akan menarik bisikan-bisikan kejahatan lainnya. Lalu membentuk circle kejahatan dalam kesadarannya. Bukankah Anda pernah temukan orang yang sudah melarat lagi sombong?   Dengan tetangga memusuhi, dengan orang lain merendahkan, dengan kerabat memeras, dengan yang tua durhaka, dengan yang lebih kecil, arogan, cari rezeki pun nerjang yang haram, dengan yang menolong menggigit, kalau salah malah playing victim, punya karya kecil wow narsisnya, kalau hutang melupakan. Nah orang-orang begitu biasanya melaratnya hingga amblas-amblas, keluarganya sakit-sakitan, dan moralitas keluarganya bejat. Nah kalau Anda menemukan orang begitu, mau dia seburuk apapun sebaiknya menolongnya hanya dengan uang saja, dan jangan pernah melibatkan diri dalam urusan hidupnya sedikitpun karena ujung-ujungnya menggigit dan mencakar penolongnya. Menolongnya cukup pakai uang saja, karena menolong dengan uang itu ayam juga bisa terima pertolongan uang yakni dedak. Tapi kalau menolongnya dengan melibatkan diri dalam urusan hidupnya, bisa berabe, bisa-bisa Anda dicakar.   Kok ada orang sejahat dan seburuk itu?   Ya ada, karena kesadaran itu membentuk circle dalam diri, yang terilhami kebaikan makin terjebak dalam kebaikan-kebaikan lain, yang terilhami keburukan, makin terjebak dalam keburukan-keburukan lain.   Na’ûdzubillâh sampai sudah ditolong dengan kebaikan malahan berpikir menjahati.   Lah kok yang buruk tidak ada kapoknya? Ya tidak, karena itu circle kesadarannya. Mau berputar kemanapun, dia terjebak di sana lagi karena itu circlenya.    إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ   “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (Q.S. Yusuf: 53).   Kadang orang begitu baru sedikit longgar dari tumbukan apes, nafsu buruknya muncul lagi, dia pun jahat lagi, lantas amblas lagi, terus begitu, sampai hidupnya habis hanya didedikasikan untuk melarat dan apes, saking terus-terusan kualat.   Itu terjadi karena circle kesadaran jahatnya yang terbentuk dalam kesadaran diri.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

Scroll to Top