2023

2023, Bacaan

IMSAK; SISTEM PENGHEMAT ENERGI KAYA

Mungkin selama Anda ikuti konten-konten saya baru kali ini Anda akan saya ajak untuk membela “hemat”, satu kata yang selama ini jadi musuh bebuyutan saya. Hemat disini hemat energi ya bukan hemat materi, itu yang kali ini saya bela. Anda kehabisan energi bensin kendaraan, untuk mendapatkannya Anda harus keluarkan materi uang ke SPBU, artinya saat Anda keluarkan uang untuk membayar saat itu Anda dapatkan energi kendaraan, berarti pula saat dapatkan energi saat itu Anda kehilangan materi. Hemat energi kaya berarti sistem penghematan di wilayah energi yang konsepnya bisa berbanding terbalik dengan hemat di wilayah materi. Materi muncul dari energi, kekayaan materi pun muncul dari energi kaya. Nah imsak sebagai penghemat di sini adalah hemat di energinya. Dalam 3 jam Anda lari-lari terus tentu Anda kehabisan energi vitalitas tubuh, di titik itu Anda butuh istirahat untuk menghemat energinya. Imsak yang berarti menahan diri itu merupakan sistem penghematan energi agar Anda tidak sampai ketekoran energi kaya.Untuk dapatkan energi kaya itu Anda harus keluarkan rahmat ke luar diri Anda, ilustrasinya seperti Anda keluarkan uang ke SPBU untuk peroleh energi kendaraan. Keluarkan uang ke SPBU itu salah satu contoh bentuk memberi rahmat ke luar diri Anda. Setiap kali Anda menolong orang lain, berkasih sayang, berbagi, membayar belanjaan dengan kasih keuntungan, dan segala amal shalih, itu hakikatnya Anda sedang memberi rahmat, di situ Anda sedang belanja untuk peroleh energi kaya untuk diri Anda sendiri. Anda sedekah misalkan, Anda sedang memberi rahmat. Memberi uang ke SPBU saja Anda peroleh kekayaan energi bensin, apalagi sedekah? Nah sekarang energi kaya itu bisa berkurang bahkan habis ketika Anda berbuat sebaliknya, tidak berbuat memberi rahmat namun memberi kejahatan, bahaya, keburukan, dosa, mudharat dan lain sebagainya. Gambarannya begini, Anda datang ke SPBU lah kok Anda bukan malah memberi rahmat dengan kasih cuan beli BBM, malahan Anda memberi mudharat, misal dengan merampok, ya Anda langsung ketekoran energi kaya, kan? Babak belur digebugin orang, berurusan dengan polisi, harus ganti rugi, dan lainnya yang semuanya adalah wujud kemiskinan. Kalaupun tidak tertangkap, ya pasti energi miskinnya akan termanifestasi alamiah dengan wujud lain. Jadi setiap kali Anda berbuat jahat, berbuat dosa, melakukan pelanggaran, merugikan orang lain, ghibah, membully, mengfitnah, merendahkan, itu semua bentuk-bentuk pemborosan stok energi kaya. Terlalu sering dilakukan ya Anda makin boros ambil energi kayanya. Termasuk kasus flexing kemewahan para istri pejabat yang sekarang sedang jadi sorotan publik, itu juga pemborosan energi kaya. Flexing sebenarnya kadang dibutuhkan, tidak selamanya menyedot energi kaya, misal flexing untuk bangun branding bisnis. Misal Anda pedagang bubur, lantas Anda ke Eifel di Paris, di sana Anda foto di depan Menara Eifel dengan memampang spanduk bubur Anda. Yang begitu flexing untuk memajukan bisnis. Atau misal Anda pebisnis MLM yang bisanya menarik member MLM dengan pamer penghasilan bisnisnya, ya itu tidak apa. Yang memboroskan energi kaya itu flexing hura-hura harta. Apalagi kalau penghasilannya bisa didata jelas oleh publik. Tahu-tahu cuma PNS, gaji dan tunjangannya paling 12 juta perbulan lah kok pamer tas ratusan juta dan posisi di luar negeri, ya jelas dia sedang menunjukan energi miskinnya. Penghasilan 12 juta bisa hidup semewah itu ya pasti karena korupsi, dan korupsi tentu memberi kerugian kepada rakyat. Merugikan rakyat itu pemborosan energi kaya.  Hotman Paris dan Deddy Carbuzier suka pamer mobil mewah ya tidak tercium energi miskinnya karena data penghasilannya masuk akal, bukan hasil dari merugikan orang lain. Kembali ke masalah imsak. Dalam puasa Anda diajarkan untuk menahan diri atau imsak. Makanya agar puasa Anda menjadi ‘amalan maqbûlan, Anda tidak hanya disuruh menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjaga diri dari ucapan kotor, perbuatan munkar, perbuatan dosa dan lain sebagainya. Ya karena perbuatan-perbuatan tersebut sangat memboroskan energi kaya.Dengan sistem imsak yang konsisten dilakukan Anda telah berhemat energi kaya. Sebaliknya, di bulan Ramadhan Anda malahan disuruh meningkatkan energi kaya yang tentu itu adalah perintah untuk boros materi, seperti disuruh perbanyak sedekah di tanggal akhir Ramadhan. كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ”Nabi SAW adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril AS bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhân untuk menyimak bacaan Al-Qur’annya. Sungguh, Rasûlullâh SAW lebih dermawan daripada angin yang berhembus.” (HR Bukhari & Muslim). Memperbanyak sedekah yang berarti banyak membayar itu cara peroleh energi kaya karena memberi rahmat ke luar diri Anda. Konsep imsak puasa itu konsep hemat energi kaya sehingga terhindar dari kemiskinan, makanya salah satu hasil puasa yang benar-benar dilandasi îmânan wa-htisâban itu Anda selepas Ramadhan akan makin kaya raya, rezeki makin lancar melimpah. Muhammad Nurul BananGus Banan

2023, Bacaan

RASA MALU UNTUK MENJAGA KUALITAS REZEKI

Ketika ayah mertua saya umrah, ayah mertua dapat hadiah jubah dari salah satu sahabat dekat saya. Merknya branded juga. Setelah dicoba kekecilan. Lalu saya menyeletuk guyon, “Wah kalau begitu buat saya saja!” Lalu kami tertawa “ger” bareng-bareng. Sepulang rumah, saya merasa malu sekali telah guyonan begitu. Kok malu? Ya jubah hanya seharga 500 – 700 ribu, kok saya mau-maunya menggadaikan harga diri saya di depan uang 500 – 700 ribu. Walaupun guyonan tetapi guyon minta-minta begitu bisa menurunkan martabat saya. Sadar telah kebabelasan guyon, saya lalu istighfar dan istighfar. Esok harinya saya kembali bertemu ayah mertua, dan jubahnya benar-benar diberikan kepada saya. Saat itu saya langsung istighfar mendalam, lalu saya menolaknya. Dengan tegas saya bilang, “Tidak usah, Abah. Itu jubah mahal. Layaknya buat, Abah. Kemarin saya kebabelasan guyon saja. Kalau kekecilan bisa dibawa ke tukang jahit, minta disambungin dengan kain putih lain kan bisa.” Usulan saya pun diterima ayah mertua. Manusia itu sudah tercipta dengan martabat tertinggi. Apalagi di depan harta, di depan malaikat saja martabat manusia jauh lebih tinggi, sebab itu sudah seharusnya Anda sebagai manusia memiliki rasa malu terhadap harta. Harus tahu batas saat menerima, saat memakai, saat mengonsumsi, saat mencari harta, tujuannya untuk menjaga marwah sebagai makhluk tertinggi. Tidak punya malu kepada harta, bisa jadikan kualitas rezeki Anda menurun, kalaupun tidak menurun, berkah rezekinya yang menurun. Lah iya, pengemis mungkin punya uang, tetapi mereka tidak berharga. Apakah Anda mau saya doakan agar anak Anda jadi pengemis dengan duit banyak? Saya kira Anda tidak mau. Sebab pengemis itu cara mencari duitnya dengan menghapus harga dirinya sendiri di depan uang. Demi uang dia tanpa malu-malu merendahkan diri di depan sesama agar dapatkan uang tanpa modal. Pengemis punya uang, tetapi kualitas berkah rezekinya rendah, uangnya justru uang yang merendahkan harga dirinya, karena dia tidak bisa jaga marwahnya di depan uang. Tangan Anda dipotong, Anda hidup. Kaki Anda dipotong, Anda hidup. Tetapi kepala Anda dipotong, bisakah Anda hidup? Anda mati. Kepala itu simbol marwah. Harta dan rezeki itu diciptakan hanya sebagai pelayan Anda, ibaratnya Anda maharajanya, harta dan rezeki hanya pelayan Anda. Kalau Anda sebagai raja tidak punya marwah kuat di depan para pelayan, satu bulan saja Anda berkuasa bisa habis dikudeta. Saya punya seorang teman trainer spiritual, suatu ketika ia dapat hadiah 50 juta cuma-cuma dari salah satu subcriber Youtubenya. Sudah ditolak, tapi tetap saja diberikan. Akhirnya teman saya memilih memberikan training private untuk si subcriber. Kenapa teman saya berat hati menerimanya? Padahal itu rezeki nomplok? Itu karena dia punya rasa malu. Ia merasa tidak bekerja apapun kepada si subcriber sehingga tidak layak diupah, karena dia bikin konten Youtube pun untuk bangun karir trainingnya, lah tidak disangka kok ada yang kasih 50 juta. Namun karena rasa malunya pada uang tinggi, dia pun mengupayakan membayar dengan memberikan training private. Dua tahun lalu saya masih gembira ria dapat hadiah-hadiah begitu. Kadang saking hormatnya para peserta training kepada saya, mereka kerap kasih hadiah, ya kalau recehan, hadiahnya pernah ada yang puluhan juta, bahkan ada juga yang senilai ratusan juta. Namun sekarang justru saya mengelus dada dapat hadiah-hadiah begitu, lalu banyak-banyak baca istighfar. Saya banyak istighfarnya, bukan karena tidak bersyukur tapi takut harga diri saya terbeli oleh harta, dan usaha sendiri walaupun hasilnya sederhanaan saya masih bisa. Itulah rasa malu kepada uang. Ya kita butuh uang, kita juga mencarinya, namun di keadaan tertentu saat uang datang melampoi proporsi yang kita usahakan, kita perlu mengecek diri, kita malu atau tidak menerimanya. Apalagi malu yah? Ada tetangga ke luar kota saja yang ditanyakan dan diguyonkan tagihan oleh-olehnya. Ada teman share dagangan yang ditanyakan gratisannya. Antri sembako gratis rela desak-desakan, tidak kebagian terus tersinggung. Kalau hajatan edaran undangannya ke seantero jagat agar untung dari amplop kondangan. Kalau kerja seenaknya sendiri, tidak punya disiplin, giliran demo minta kenaikan gaji memaki-maki ganas. Kemarin saya menonton konten Gubernur Jateng; Ganjar Pranowo yang sedang buka open house virtual dengan warga. Sama Ganjar disuruh pilih mau dibangunkan rumah atau diberi laptop. Si warga milih rumah. Sudah deal dibangunkan rumah, si warga dengan gigih minta agar diberi laptop juga. Lalu oleh Pak Ganjar ditegur, “Disyukuri dulu hadiah rumahnya. Laptopnya untuk lainnya.” Ya begitu sikap orang tidak punya malu, cirinya suka melunjak sudah diberi hati minta jantung. Ada juga orang bikin yayasan sosial, lalu minta-minta donasi kesana-kemari, tidak peduli itu merisihkan orang lain atau tidak. Dia yang bikin yayasan sosial, orang lain yang direpotkan mendanai. Kan tidak punya malu. Dan parah lagi, uang sosialnya dibelikan fasilitas sosial, lalu dipakai sendiri. Kan parah tidak punya malunya. Termasuk orang yang tidak punya malu kepada harta ya mereka para pejabat yang keluarganya flexing kemewahan di media sosial. Betapa tidak punya rasa malu, yang menggaji mereka adalah rakyat, lah fasilitas rakyat masih kurang disana-sini, malahan mereka pamer kemewahan di depan rakyat. Kalau rakyat tidak merasa menggaji tentu tidak apa-apa, umpama karirnya wirausahawaan. Lah tahu-tahu digaji rakyat malahan rakyatnya dilunjaki dengan dipameri kemewahan. Kan tidak punya malu. Dan puncak orang yang tidak punya malu kepada uang itu dia jadi rakus, tanpa malu-malu merampas hak orang lain. Dari situlah kemudian dia memakan harta haram. Batasnya Anda harus sadar diri memasang malu kepada uang itu bila Anda dapatkan harta tetapi di luar batas apa yang Anda hasilkan dari kerja. Bukan berarti Anda harus menolaknya, tetapi Anda malu atau bangga. Kalau bangga ya itu namanya tidak punya malu. Kerja apa-apa tidak, bayar apa-apa tidak, kok peroleh uang. Kalau bangga kan jadi mirip pengemis, tidak mau kerja, tidak mau modal, tapi maunya peroleh uang. Lah rasa malu kan vibrasi force? Kok disini dianjurkan? Sama saja marah itu vibrasi rendah, tetapi kalau Anda marah karena istri diselingkuhi orang, bukankah jadi vibrasi power? Sama saja bangga itu vibrasi force, tetapi bagi atlet sepak bola yang selebrasi dengan bangga telah buat gol, bukankah menjadi vibrasi power? Rasa malu pun demikian. اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ. ”Iman itu lebih dari 70 (tujuh puluh) atau 60 (enam puluh) cabang, cabang iman yang tertinggi adalah mengucapkan ‘La ilaha illallah’, dan cabang iman

2023, Bacaan

MENGUBAH ENERGI REZEKI PEMBERIAN AGAR BERDAMPAK PERUBAHAN FINANSIAL

Rezeki dari pemberian itu bukan sistem cari penghasilan, jadi na’udzubi-llâh kalau memprioritaskan peroleh rezeki dari sisi ini. Namun ini adalah kehidupan seutuhnya, yang namanya peroleh rezeki dari sisi pemberian cuma-cuma itu ada. Ya setiap diri Anda alamai hal itu kan? Dulu sudah sering saya jelaskan, orang memberi sesuatu kepada Anda itu ada kalanya karena rasa hormat dan ada kalanya rasa kasihan. Anda kemarin memberi hadiah lebaran kepada orang tua tentu dengan nilai prioritas, bukan pemberian yang tak bernilai, masa iya di hari lebaran kasih ke orang tua cuma 10 ribu, kan tidak mungkin? Tentu sesuatu yang bernilai namun sesuai kemampuan Anda masing-masing. Kenapa Anda berikan yang bernilai? Karena Anda hormat kepada orang tua. Beda memberi kepada pengemis, 500 perak saja Anda nyaman-nyaman saja memberikannya, sebab kepada pengemis Anda tidaklah hormat namun sekedar kasihan. Hal ini juga sering saya jelaskan, getaran energi pemberian karena rasa kasihan itu energi yang tidak berdampak mengubah keadaan hidup, sebab bukan derajat manusia dikasihani dengan uang. Anda sebagai manusia kan derajat penciptaan tertinggi, uang derajatnya jauh di bawah Anda, makanya apa Anda mau diinjak-injak kepalanya lalu diganti dengan uang? Asal Anda waras ya Anda tidak mau. Anda adalah derajat penciptaan tertinggi, ibarat mobil Anda dicipta sebagai mobil mewah, kemudian ada gerobak penyok kasihan pada mobil mewah, kan bukan levelnya? Ada uang digunakan untuk membelaskasihani manusia yang derajatnya jauh lebih tinggi, ya bukan level. Karena ini kalau suatu pemberian kepada Anda kok getaran energinya masih karena kasihan, itu tanda hidup Anda belum akan berubah. Contoh ada melarat banget, kelihatan rempong sana-sini, akhirnya tetangga kanan-kiri kasih bantuan, nah itu energinya bukan karena hormat, tapi karena kasihan. Ya amati saja, yang tiap tahun terima zakat, terima BLT, terima subsidi, itu tetap mereka-mereka saja, tidak kemudian setelah terima bantuan lantas hidup mereka berubah, itu karena zakat, BLT, subsidian, itu level energi pemberiannya karena kasihan. Beda pemberian karena rasa hormat, ini pemberian menghargai tinggi. Kemarin saya kondangan kepada salah satu ulama besar di Banyumas. Ulama besar tentu kaya raya, tidak butuh diamplopi tebal, lah kok saya mengisi amplopnya hingga 1,5 juta? Padahal ke tetangga sebelah yang hajatan paling mengamplop 50 ribu. Kenapa begitu? Karena pertama saya hormat kepada beliau. Kedua karena saya sadar untuk mohon tambahan doa dan berkah beliau. Lah kan, selisih sekali angka energinya pemberian karena rasa hormat dan karena kasihan? Dan level penerimaan Anda atas apa yang diberikan orang lain itu penanda keadaan finansial Anda. Kalau masih di area energi dikasihani, hidup Anda masih susah berubah, kalau di area dihormati itu penanda hidup Anda dalam wujud kehidupan yang lebih baik.Sekarang bagaimana mengubah keadaan energinya? Mengubah energi dikasihani menjadi dihormati? Orang tua Anda dihormati oleh Anda karena ia punya jasa besar kepada Anda, ia pahlawan hidup Anda. Nah disini, kalau Anda mau mengubah keadaan energinya, Anda harus bangun darma bakti atas kehidupan ini, jangan malah adem ayem diberi darma bakti. Saya kisahkan satu contoh. Ada seorang ustadzah TPQ. Karena ia getol mendidik ngaji anak-anak tetangga, lantas banyak orang yang peduli untuk memberi. Namun di sisi lain ia masih miskin, rumah saja reot-reot, sehingga kemiskinannya menarik orang untuk memberi karena kasihan. Si ustadzah tetap saja andap asor, pemberian-pemberian itu tetap diterima dengan penuh syukur. Tetapi ia tidak mau adem ayem hanya terima pemberian dari wali santri TPQ-nya dan dari masyarakat. Ia terus berupaya disiplin sebaik mungkin dalam mengajar, ia juga tidak mau mengeluhkan keadaan finansialnya di depan orang lain. Dia juga pantang minta-minta, pokoknya ia berprinsip jangan sampai merepotkan orang lain.  Dan ia menghadapi orang yang memberi kepadanya, ia tidak mau berpangku tangan, ia berusaha keras membalasnya, walaupun semampunya. Ibarat ada orang datang bawa gula teh, ya dia balas dengan kasih pesangon ke anaknya. Ia juga suka dagang, sambil iseng-iseng ia aktif jualan pakaian di Tiktok dan Instagram. Anda punya kekayaan mobil karena Anda mampu membayarnya. Bila sudah kaya ya tentu dihormati orang, sebab tidak bisa dipungkiri bahwa di sini adalah alam materi sehingga yang kaya lebih dihormati adalah satu hukum kepastian. Hanya saja bagaimana agar Anda punya kekayaan, ya sama seperti Anda ingin punya mobil, yakni Anda harus membayar harganya. Nah si ustadzah TPQ dia membayar dengan mendidik ngaji anak-anak TPQ, itu sudah merupakan tindakan orang kaya. Ditambah lagi ia sangat amanah dengan disiplin mengajar. Satu point kekayaan dia dapatkan. Dan ketika kekayaannya mengajar TPQ mau dibeli oleh masyarakat dengan aneka pemberian, ia membayar dengan oleh-oleh balik, tidak mau berpangku tangan. Di point kedua ini, ia berhasil mempertahankan energi kayanya. Ia membayar dan membayar.Dia tidak pernah meminta-minta dan mengeluhkan kesulitan finansialnya, ia sabar dan tawakal. Dan ini pun jadi point ketiga simpanan energi kayanya. Lambat laun karena ia terus membayar baik bayar dengan jasa ngajar, bayar dengan oleh-oleh balik, bayak dengan capek dan kesabaran, energi kayanya pun menjadi power full. Dan saat itu dengan ajaib jualannya di Tiktok dan IG meledak. Ia pun mulai kaya.Setelah ia kaya, ia tentu dihormati dan dihargai lebih tinggi. Pemberian dari orang-orang di sekitarnya yang dulu karena rasa kasihan auto berubah karena rasa hormat. Jadi kenapa energi pemberian Anda berputar-putar di area energi dikasihani? Ya karena terlalu nyaman diberi darma bakti, Anda tidak mampu berbuat darma bakti kepada kehidupan.Jangan adem ayem dikasihani, berbuatlah baik, berlombalah dalam kebaikan, fastabiqul khairât; itu cara menggeser energi dikasihani uang menjadi energi dihormati uang. وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ – ١٤٨”Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah: 148) Muhammad Nurul BananGus Banan

2023, Bacaan

AL-WAFÂ; ONGKOS KAYA DAN BAHAGIA

Anda mau kemanapun butuh yang namanya ongkos. Kemarin ada warga Indonesia naik haji dengan bersepeda hanya berbekal uang 300 ribu. Dia bisa irit di ongkos duit, tapi ia harus boros di sisi waktu, tenaga, dan mental yang nilainya setara dengan ongkos naik haji normal. Sekarang saya tanya? Adakah satu tujuan yang tidak pakai ongkos? Ambil baju di almari saja butuh ongkos dengan keluarkan tenaga, apalagi tujuan ingin kaya, ingin mulia, ingin bahagia, ingin hasanah dunia akhirat, dan seterusnya. Semua pakai ongkos yang nilainya setara dengan besar kecilnya tujuan Anda. Tujuan perjalanan ke luar negeri tentu nilai ongkosnya berbeda dengan perjalanan di dalam negeri. Karena itu solusinya hanya satu yakni kesanggupan membayar. Yang dulu waktu sekolah duduk di bangku kelas yang sama, saat reuni sekolah kelas sosialnya jadi beda-beda. Ada yang hadir dengan segala kekurangannya, ada yang hadir dengan segala kesuksesannya. Yang sukses didudukkan di depan sebagai yang terhormat, yang hidupnya biasa-biasa saja yang didudukkan biasa-biasa saja. Kondisi begitu bagi yang berpikir picik akan menyimpulkan, “Yang dipandang hanya harta dan kedudukan.” Eits tidak begitu! Ada ongkos kehidupan berbeda yang dikeluarkan antara siswa yang hadir reuni dengan suksesnya dan siswa yang hadir dengan keadaan hidup biasa-biasa saja. Ketika dulu mereka duduk sama tinggi di bangku sekolah, siswa yang sekarang sukses telah menyiapkannya, yang lain sedang sibuk berpikir asmara, sedang menangisi pacar, sibuk gonta-ganti pacar, sibuk ngerompongin motor dan tawuran, siswa yang sukses sedang serius menyiapkan masa depannya, ia sedang sibuk bercita-cita, bermimpi, dan berusaha keras mewujudkannya, dari giat belajar dan lainnya. Sejak di bangku kelas dulu sudah beda ongkos bayar yang dikeluarkannya. Persoalan kesanggupan membayar ongkos itu penyelisih awalnya.Hidup mulia, mati mulia, hidup kaya, mati kaya itupun butuh ongkos bayar serupa. Nanti ketika bangkit di padang Mahsyar di hari kiamat, Anda yang bangkit sebagai orang gagah dan sebagai monyet bertubuh manusia juga karena ongkos bayar yang berbeda. Kalau Anda sanggup membayar, apa sih yang tidak bisa Anda miliki? Hanya penuaan untuk bisa muda kembali yang tidak bisa Anda bayar. Makanya penyakit yang tidak bisa diobati artinya tidak bisa dibayar itu hanya penyakit tua. Anda mau membayar ongkos besar dengan tujuan ingin muda kembali usianya itu tidak bisa, energi bayarannya terbuang sia-sia. كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَاءَتِ اْلأَعْرَابُ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَنَتَدَاوَى؟ فَقَالَ: نَعَمْ يَا عِبَادَ اللهِ، تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ. قَالُوا: مَا هُوَ؟ قَالَ: الْهَرَمُ “Aku pernah berada di samping Rasulullah, lalu datanglah serombongan Arab Badui. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat?’ Beliau menjawab, ‘Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab, Allah tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.’ Mereka bertanya, ‘Penyakit apa itu?’ Beliau menjawab, ‘Penyakit tua.’” (H.R. Ahmad) Kesanggupan bayar ongkos yang dalam akhlak Islam disebut karakter al-wafâ. Al-wafâ adalah karakter tepat janji, karakter menyempurnakan pembayaran, apapun kewajiban dan resiko yang harus diambil, ia konsisten membayar ongkosnya dengan lunas. Ada ikatan kepada Tuhan, ia bayar lunas, contoh Anda punya permohonan kepada Tuhan untuk membangun rumah, lalu Anda sowan ke kyai untuk minta ijazah doa, lantas si kyai kasih ijazah doa amalan baca Shalawat Jibril sehari 10 ribu kali selama 3 tahun, kalau Anda punya karakter al-wafâ Anda akan konsisten melaksanakan pembayarannya hingga tuntas. Lunas. يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ [٢:٤٠] “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40) Ada ikatan dengan sesama manusia, Anda yang punya karakter al-wafâ juga begitu. Contoh punya tanggungan hutang, Anda akan dengan konsisten melunasinya, tidak kemudian ikhlasan melupakan hutang. Ada salah satu sahabat saya, dia sejak lulus SMA tidak bisa kuliah, namun minatnya kepada ilmu sangat tinggi, sampai akhirnya dia bersumpah, “Saya tidak kuliah tidak apa, tapi saya harus baca buku lebih banyak dari mahasiswa yang kuliah.” Dan betul tekad tersebut dia bayarkan dengan konsisten, bahkan ia gemar mendatangi forum-forum diskusi mahasiswa untuk mengukur kualitas ilmunya, ia tidak mau kalah dengan yang kuliah. Ia punya minat kuat sebagai pembicara ilmiah, seperti kajian-kajian budaya, agama dan sains, tetapi ia tidak kuliah, tidak juga mondok, harapan untuk menjadi nara sumber pembicara ilmiah dari mana? Dan keadaannya waktu itu sebagai satpam sebuah kantor swasta. Masa iya satpam akan banyak diundang sebagai pembicara budaya, agama, dan sains? Tidak nyambung. Namun minatnya kuat sekali, dengan inisiatifnya sendiri ia lakukan tirakatan. Di setiap jam 2 malam hingga Shubuh, ia berendam air di kolam pemandian umum di daerahnya. Dia berendam, niatnya tirakat untuk membayar minat dan cita-citanya. Dan ternyata dia sekarang sudah menjadi budayawan Banyumas yang masyhur yang kerap diundang seminar, diundang sebagai pembicara, dan banyak juga disowani pejabat. Itulah karakter al-wafâ; ada maunya ya berani bayar ongkosnya. Lunasi! Anda merasa karir Anda mandek? Rezeki stagnan? Bisnis segitu saja omsetnya? Sebenarnya jalan menaikannya ya pakai jalan “itu-itu saja”. Pertama tentukan keputusan, diri Anda mau bagaimana sebagai pondasi cita-cita. Lalu yang kedua bayar lunas ongkosnya.Sekarang Anda bisanya bayar ongkos pakai apa? Bisa Tahajud? Apa bisa zikir? Apa bisa puasa? Apa bisa sedekah? Apa bisa kerja disiplin? Apa bisa semedi? Lalu lakukan dengan konsisten hal-hal tersebut hingga lunas sebagai ongkos. Itu-itu saja kan? Lah teman saya saja ingin sejajar dengan para dosen, para doktor, para kyai, ia bayar dengan tirakat berendam di air selama tahunan juga terwujud, palagi bayar dengan zikir, shalat, dan lainnya? Anda menderita karena didengki orang toxic, menderita karena difirnah musuh, menderita karena diserang penyakit, menderita karena dikhianati pasangan? Bayar lunas penderitaan itu dengan jalan yang “itu-itu saja”. Putuskan sikap untuk jadi pemenang atas penderitaan lalu bayar lunas dan tuntas dengan itu-itu juga. Ingin kaya bahagia? Sama. Itu-itu juga. Jadilah al-wafâ. Lah katanya pingin rezeki lancar, boro-boro mau bayar lunas, maunya gratisan melulu yang tak usah repot bayar, maunya dibayar melulu, kerjaan tak diselesaikan, ya kapan rezeki lancar terwujud wong ongkosnya saja kurang. Apalagi hutang tak terbayar? Ya jelas itu karakter pengecut; jauh dari karakter al-wafâ; kalau tidak lunas, bagaimana Anda sampai? Muhammad Nurul BananGus Banan

2023, Bacaan

TANDA ENERGI MISKIN DAN ENERGI KAYA

Masih soal bayar membayar seperti di konten video saya sebelum ini. Kaya selalu ditandai punya, dan miskin selalu ditandai tidak punya. Anda punya uang 10 ribu rupiah, anak SD Anda mau berangkat sekolah, karena Anda punya uang 10 ribu lalu 10 ribunya diberikan.  Kalau Anda 10 ribu saja tak pegang, apa yang akan Anda berikan? Sebaliknya miskin itu ketidakpunyaan, saat Anda butuh tetapi Anda tidak punya, apa yang akan Anda lakukan? Ya Anda meminta. Kemampuan memberi itulah tanda keberpunyaan alias kekayaan. Dan meminta itulah tanda kemiskinan. Energi miskin itu energi bikin pegel orang lain, dan energi kaya itu energi yang bikin suportif orang lain. Anda datang ke rumah orang dengan bawa oleh-oleh mahal, yang punya rumah pasti energinya tersupport, ia jadi gembira selanjutnya hormat dan menghargai Anda. Itu disebabkan kedatangan Anda bawa energi kaya dengan memberi. Sebaliknya kalau Anda bertamu ke rumah orang, tetapi Anda mau hutang duit, kira-kira yang punya rumah loyo, tidak? Dia loyo dan pegel-pegel karena kedatangan Anda itu bawa energi miskin dengan meminta hutangan duit. Tidak ada orang merasa gembira lalu tersupport energinya ketika bertemu pengemis, rata-rata merasa terbebani, karena pengemis energinya meminta. Meminta tanda tidak punya. Tidak punya tanda miskin. Anda kadang membersamai orang namun Anda merasa seperti loyo, tidak semangat, tidak gembira, mau ngomong saja lidah kaku dan malas, itu tanda orang yang bersama Anda berenergi miskin, unsur-unsur di dalam kesadarannya masih dominan meminta-minta. Dan kalau Anda bertemu seseorang lantas diri Anda merasa tambah semangat, berenergi, ceria, gembira, itu tanda Anda bertemu dengan orang yang berenergi kaya. Ya seperti tamu yang bawa oleh-oleh besar, orang yang berenergi kaya itu berkemampuan membuat orang lain gembira. Latar belakang kenapa seseorang bisa berenergi miskin yang kalau ia hadir bikin Anda loyo dan lemas karena banyak tugas hidupnya yang tidak ia bayar lunas. Syarat untuk kaya itu kan membayar. Anda punya kekayaan mobil ya syaratnya Anda sudah membayar harganya. Nah orang dengan energi miskin itu banyak tugas hidupnya yang tidak ia bayar lunas sehingga hutang energinya besar.  Punya cita-cita tidak ia bayar lunas, punya penderitaan tidak ia tuntaskan, punya anak istri tidak ia lunasi dengan menyejahterakannya, punya hutang harta ia abai membayarnya, punya profesi dagang masih gagal tidak ia sukseskan, punya profesi pegawai ia enggan-engganan mengabdi, dan seterusnya, yang jelas banyak persoalan hidup yang banyak tidak ia bayar lunas dan tuntas. Orang dengan energi kaya yang bikin Anda kalau bertemu bersemangat, itu orang yang selalu lunas kalau membayar. Apapun kemauan, cita-cita, ataupun derita, jika belum gol ia belum undur dari peperangan. Jadi sangat nyata, hidup ini matre, apa-apa harus dibayar lunas. Tidak dibayar lunas, ya jadi hutang energi. Ya kalau semua bisa dibayar dengan uang, banyak hal yang tidak bisa dibayar uang. Anda berkemauan jadi gubernur, lalu agar terpilih lantas Anda bayar dengan uang, Anda kena semprit money politic kan? Ya uang hanya salah satu sarana membayar energi, namun tidak semua energi bisa dibayar dengan uang. Anda ingin berenergi kaya? Yang kalau hadir di setiap kondisi bawa energi gembira? Ya lunasi apa yang jadi tugas-tugas hidup Anda. Konon setiap tempat yang didatangi Nabi Khidhir AS akan tumbuh rumput hijau, sekalipun itu bebatuan tandus. itu karena Khidhir AS punya energi kaya. Beliau pasti selalu tuntas lunas membayar. Itu simbol bahwa Khidhir AS hadir ditempat manapun selalu membawa rahmat untuk yang lain, hingga batu yang sebenarnya mustahil tumbuhkan rahmat berupa tumbuhan hijau, bisa seketika tumbuh rumput saking gembiranya didatangi Khidhir. Karena itu energi kaya yang powerfull akan menarik orang untuk berjubel hadir. Ia punya akun medsos akan dijubeli followers, ia punya majlis pengajian akan dijubeli jamaah, ia punya warung akan dijubeli pembeli, ia punya diri akan dijubeli fans selanjutnya jadi selebritis, ia punya rumah akan banyak didatangi tamu. Energi kaya selalu begitu, digemari orang untuk mendekat. Kenapa banyak orang mendekat dan mengerubuti? Ya karena mereka merasa kalau dirinya mendekat kesana maka ia akan peroleh sesuatu, ibarat tamu si tuan rumah tahu kalau ia peroleh oleh-oleh istimewa karenanya ia antusias temui tamunya. Dan Anda jangan salah menafsirkan energi kaya hanya sebagai energi kesalehan, karena di sini adalah alam material, energi-energi yang materialistik pun menarik orang untuk datang. Ya Anda cewek dengan paras cantik, tentu sering dikerubuti cowok, karena paras cantik itu bagian dari energi kaya. Maka ini jangan heran, para artis yang kerap centilan mereka dikerubuti banyak fans karena mereka punya energi kaya yaitu popularitas. Energi miskin itu ditandai kehadiran Anda bikin sumpek dan pegel orang di sekitar Anda, orang di sekitar Anda jadi enggan mendekat sebab energi Anda masih seperti vacuum cleaner; menyerot energi orang lain. Loh kenapa berenergi miskin begitu? Ya banyak persoalan yang tidak bisa Anda bayar lunas. Punya cita-cita tidak dituntaskan tercapai, berhenti di tengah jalan. Punya tanggung jawab tidak dilunasi sebaik mungkin. Punya penderitaan tidak bisa bayar dengan sabar dan perjuangan. Dan seterusnya. Karena banyak yang tidak lunas, akhirnya energinya punya banyak hutang yang tak bisa dibayar.   Orang banyak hutang, boro-boro bisa seperti tamu yang kasih energi oleh-oleh banyak ke tuan rumah, tidak menumbuki si tuan rumah dengan masalah beratnya sudah lumayan. Cara lepasnya bagaimana? Ya lunasi bayarannya. Konsisten lagi membayar dengan jerih payah apa yang belum tuntas tanpa kenal putus asa. Di video bawah ini adalah contoh bagaimana seseorang punya energi kaya powerfull, dan pasti orang di video ini power bayarnya selalu lunas, dan bahkan mungkin lebih. Muhammad Nurul Banan Gus Banan

Scroll to Top