JUNI 2023

JUNI 2023

RAHASIA EFESIENKAN UANG YANG TIDAK MEMISKINKAN

Karena masalah lemot, saya naikan wi-fi saya dari 20 Mbps menjadi 50 Mbps. Setelah pakai 50 Mbps ternyata tetap masih lemot.   Nah saat tetap lemot, saya bilang pada istri, “Wah IndiHome di sini belum layak dihargai mahal, belum layak dibeli sampai 50 Mbps. Bunda, turunkan speednya ke 20 Mbps lagi,” perintah saya pada istri.   Tapi istri tidak segera merespons turunkan speed wi-fi.   Hingga 1 bulan kemudian, e-banking saya sedang error, tidak bisa bayar wi-fi pakai e-banking, istri pun bayar wi-fi di Alfamart. Dia kaget dengan tarifnya, naik drastis. Sampai rumah, istri dengan antusias setujui usulan saya turunkan speed wi-fi.   Di situ saya nyeletuk, “Gak jadi turunkan speed wi-fi. Kemarin saat alasan saya karena kualitas layanan IndiHome belum sepadan dengan harga yang kita bayar, Bunda anteng-anteng saja responsnya, sekarang giliran rasakan tarifnya naik, Bunda dengan antusias turunkan speed. Gak jadi turun!” tegas saya.   Kenapa ketika istri merasakan berat dengan kenaikan tarif wi-fi justru saya batalkan untuk turun speed? Karena kalau alasannya “rasakan berat” dengan tarif, itu artinya alasan mundurnya karena kita kalah mental pada uang.   Beda kalau alasannya tidak puas dengan layanan wi-finya, itu bukan soal kalah mental, namun soal lain yang lebih bermartabat.   Harimau buas, ular beracun ganas, ketinggian awan, kedalaman lautan, semua yang ada di alam semesta ini punya fitrah tunduk pada manusia.   Harimau buas dan ular ganas jadi jinak pada kepiawaian pawang. Ketinggian awan dan kedalaman lautan, semua tunduk pada tehnologi buatan akal manusia.   Alam semesta punya bawaan fitrah tunduk kepada manusia, apalagi rezeki?   Kenapa kita hanya memerintah kepada rezeki agar lancar dan jangan ruwet, kok rezekinya tidak nurut? Rezeki tetap “mbalelo” bikin masalah?   Sebenarnya hal itu karena kita kerap pasang mental di bawah uang. Contohnya seperti kejadian istri saya turunkan speed wi-fi di atas.   Nah kalau Anda berhadapan dengan uang, lalu mental Anda kerap “turun mental” pada uang, ya selamanya Anda jadi obyek bualan uang.   Kalau Anda kerap efesienkan uang dengan alasan-alasan “beban finansial berat” ini yang jadikan uang enggan untuk Anda kendalikan.  Anda yang mentalnya kerap gerogi hadapi situasi finansial, lalu pilih mundur dari beban berat tersebut itu Anda yang terbaca oleh uang sebagai mental kerupuk uang.   Di situ Anda akan terus dikerjai uang, uang jadi enggan nurut dan tunduk kepada Anda. Di mata uang Anda tidak punya martabat.   Karena itu jangan pernah mundur dari tanggungan finansial dengan alasan “beban finansial”, boleh mundur atau turunkan beban tapi harus dengan alasan selain alasan “beban berat finansial”.   Sebaliknya Anda yang mudah melempem digertak situasi berat finansial, ya di situ Anda dianggap sampah oleh uang, efeknya hati Anda menyuruh agar rezeki lancar malah seret sekalian, jualan barang ingin laris-manis malah tidak laku sekalian, giliran Anda membeli sudah dapat harga mahal, kualitass barangnya jelek lagi.   Jadi bagaimana agar di saat survive keuangan lantas kita harus efesienkan uang namun tidak jadikan kita ruwet rezekinya?   Caranya ya pastikan diri kalau kita mengefesienkan uangnya bukan dengan alasan “beban berat finansial yang dirasakan”, tetapi ada alasan selain itu, misal seperti kasus saya turunkan speed wifi bukan karena alasan beratnya bayar tarif indihome, namun karena tidak puas dengan layanan indihome.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

UANG STRES KARENA NIAT ANDA

Harta itu makhluk pelayanan yang diciptakan untuk layani kepentingan Anda. Semua pelayanan diciptakan hakikatnya untuk memberikan kenyamanan. Di setiap bandara dan stasiun kereta api disediakan layanan ruang khusus merokok, disediakan pula fasilitas untuk difabel, itu artinya agar para perokok dan penyandang disabilitas merasa nyaman. Segala sesuatu lalu mau melayani tentu karena menghormati dan mencintai. Uang mau melayani Anda tentu karena uang hormat dan mencintai Anda. Uang itu pelayan manusia, nalurinya pun hormat kepada manusia. Karena itu ketika Anda mencari uang dengan niat merendahkan manusia, di situ uang akan alami tekanan stres, dan pungkasnya Anda yang hancur lebur sebab telah bikin stres uang.  Ya betapa uang tidak stres, karakternya uang melayani dengan hormat dan cinta kepada tuannya yakni manusia, malahan oleh Anda diajak untuk merendahkan manusia. Anda akan menyingkir dari segala hal yang bikin Anda stres. Uang pun begitu, ia akan menyingkir dari hidup Anda karena tekanan stres. Uang diajak untuk merendahkan martabat manusia itu gambarannya seperti anak yang dididik untuk durhaka kepada orang tuanya sendiri, menjadi kacau semuanya. Peta niat mencari uang agar uangnya harmoni dan bukannya alami stres, itu sebagaimana dipetakan dalam hadits berikut ini; “Barangsiapa mencari (kenikmatan) dunia dengan halal untuk menjaga diri dari meminta-minta; untuk memenuhi kebutuhan keluarganya; dan untuk berderma kepada tetangganya, maka di hari kiamat ia akan bertemu Allah dan wajahnya bersinar terang laksana bulan purnama. Sedangkan barangsiapa mencari (kenikmatan) dunia dengan halal untuk menumpuk-numpuknya dan pamer kepada sesama maka di hari kiamat ia akan bertemu Allah sedang Allah murka kepadanya.” (H.R. Baihaqi) Di hadits tersebut dijelaskan, sesudah Anda melewati mekanisme rezeki halal, Anda diajarkan untuk menata niat, mana niat yang bikin uang harmoni, dan mana niat yang bikin uang stres tertekan. Pertama, niat yang bikin uang harmoni adalah getaran hati yang akan memanggil ridha Allah, bahkan dijanjikan kelak di hari kiamat wajah Anda akan bersinar terang bak rembulan purnama, yakni  1). Niat cari uang untuk menjaga diri agar tidak meminta-minta.  2). Niat cari uang untuk cukupi kebutuhan keluarga.  3). Niat cari uang agar bisa berderma kepada sesama manusia. Anda perhatikan, ketiga niat tadi punya getaran memuliakan manusia. Niat jaga diri agar tidak meminta-minta jelas itu getaran agar harga diri Anda terjaga juga agar Anda tidak menjadi beban bagi orang lain.  Demikian pula niat cukupi kebutuhan keluarga itu demi mengangkat martabat keluarga Anda agar sejahtera. Dan niat agar bisa berderma, ini jelas sekali fokusnya untuk memuliakan sesama manusia. Kedua, niat cari uang yang bikin uang stres. Ini adalah cari uang dengan getaran niat yang jika disimpulkan adalah getaran niat yang merendahkan martabat manusia, yakni  1). Niat untuk menumpuk-numpuk harta artinya niat memperkaya diri agar tampak paling banyak hartanya. Dalam niat ini jelas harta digunakan untuk merendahkan martabat orang lain atas diri Anda. 2). Niat pamer-pameran ya karena pamer berpotensi melukai hati orang lain yang ujung-ujungnya juga merendahkan derajat orang lain. Tali simpulnya uang diciptakan untuk layani manusia dengan hormat dan cinta, maka itu kalau cari uang dengan niat merendahkan martabat manusia di antaranya dengan mengungguli sesama dengan harta, di situlah uang akan mengalami stres bersama Anda karena uang dilencengkan dari karakter aslinya yakni melayani manusia dengan hormat dan cinta. Muhammad Nurul BananGus Banan

JUNI 2023

KAYA ITU TAHU BATAS DIRI DALAM MENUNTUT

Kalau Anda menuntut, diri Anda auto dituntut sehingga setiap tuntutan kepada orang lain itu adalah tuntutan kepada diri sendiri. Anda menuntut karyawan untuk selesaikan kerjaan bisnis, di situ Anda dituntut untuk bayar si karyawan. Demikian pula karyawan menuntut uang Anda, dia pun dituntut untuk serahkan jerih payah kerjanya untuk keuntungan Anda. Hasilnya adalah ketika Anda menuntut kepada orang lain, hakikatnya Anda sedang menuntut diri Anda sendiri, setiap tuntutan kepada orang lain itu sebenarnya tuntutan kepada diri sendiri. Ketika seorang bos menuntut karyawanya untuk disiplin kerja, untuk wujudkan semua prioritasnya, di situ si bos sedang menuntut dirinya sendiri untuk konsisten membayar sebuah konsekuensi. Bila lengah dangan tuntutan konsekuensi yang harus dibayarkan kepada karyawan yang terlahir adalah kemiskinan. Demikian pula karyawan yang menuntut bayaran kepada bos, karena ketika menuntut orang lain hakikatnya sedang menuntut dirinya sendiri untuk ambil suatu konsekuensi. Bila si karyawan lengah, di situlah awal mula lahirnya kemiskinan. Ingat! Anda menuntut orang lain, diri Anda sendiri yang sedang dituntut. Suami menuntut ini dan itu kepada istri. Lah istri mau belanja beras saja suami tidak dapat penuhi, kok menuntut istrinya qurratu ‘ain (penentram hati suami), apa ketemu logika? Karena itu menuntut istri agar shalihah butuh konsekuensi bayaran tinggi. Modal apa-apa enggak, anak istri kelaparan, kok mencak-mencak agar anak istrinya taat, itu kan error. Demikian pula istri, kerjaannya kalau dikasih nafkah duitnya disimpan sendiri, nanti ada kebutuhan keluarga tidak ada tenggang rasanya dengan suami, apa-apa suami yang harus berkorban dan terambil, istri begitu kok menunut suaminya shalih, ya error kuadrat lagi. Jadi segala hal yang Anda tuntut dari orang lain, di situ Anda sedang menuntut kepada diri sendiri untuk keluarkan energi konsekuensi yang sama besar. Ketika Anda tidak sanggup membayar konsekuensinya, di situlah awal mula kemiskinan. Karena itu kaya adalah kualitas Anda terputus dari kepentingan kepada orang lain, seperti nasehat Imam Ali bin Abi Thalib; اَلْغِنَى اَلْأَكْبَرُ اَلْيَأْسُ عَمَّا فِي أَيْدِي اَلنَّاسِ “Kekayaan besar adalah keterputusan dari sesuatu yang ada di tangan manusia.” Anda menuntut sesuatu, mau tidak mau Anda harus tunduk dan terikat. Anda menuntut gaji, mau tidak mau Anda harus terikat dan tunduk kepada aturan main profesi kerja. Ingat! Segala hal yang Anda tuntut dari orang lain, di situ Anda sedang menuntut kepada diri sendiri untuk keluarkan energi konsekuensi yang sama besar. Ketika Anda tidak sanggup membayar konsekuensinya, di situlah awal mula kemiskinan. Jadi kalau mau menuntut agar istri shalihah supaya tidak menarik kemiskinan suami maka penuhi dulu apa yang jadi kewajiban suami kepada istri yakni kecukupan lahir batinnya. Nah kaya itu adalah kemampuan tahu batas diri dalam menuntut. Munculanya sikap menuntut tentu karena ada kepentingan, kebutuhan dan keinginan. Namun segala tuntutan akan menuntut tagihan bayaran yang sebanding nilainya, bila Anda tidak tahu batas kemampuan membayarnya, maka tuntutan Anda atas kepentingan, kebutuhan dan keinginan akan menjadi kemiskinan. Tidak semua yang Anda ingini harus Anda kejar dan raih, banyak yang harus Anda tanggalkan. Cukup raih dan perjuangkan apa yang diprioritaskan. Muhammad Nurul BananGus Banan

JUNI 2023

KESULITAN ITU NILAI BELI TINGGI

Orang mendaki dan menuruni itu energinya sebanding dengan menapaki jalan rata. Naik turun sama dengan rata. Iya Anda susah-susah keluarkan energi kuat untuk naik, nanti pasti akan dibayar dengan ringannya energi menuruni.  Ketika naik jalan gunung, motor Anda mesinnya mengerang keras begitu berat, tetapi nanti akan dibayar lunas saat menuruni, mesin motor dimatikan pun tidak masalah, tetap jalan lancar saat menuruni. Beratnya energi naik itu dibayar lunas dengan energi ringannya turun, kan itu sama rata dengan orang yang tidak naik dan tidak turun yang tetap jalan di jalan rata?  Berjalan di jalan rata tidak pernah membayar dengan energi berat saat naik, dia pun tidak pernah menerima hadiah energi ringannya menuruni. Naik dan turun itu sama rata. Hanya bedanya pada sensasi dan value, orang yang mendaki lalu turun sensasi dan value perjalanannya jauh lebih mendalam, pemaknaannya akan sebuah nilai jauh lebih tinggi daripada orang yang berjalan di jalan yang rata. Jiwa yang menerima value hidup itu tidak dapat menikmati kemudahan, maksudnya jiwa itu sangat buta rasa terhadap kemudahan, jiwa kesusahan untuk memaknai kemudahan. Anda sering dengar, harta yang didapatkan dengan mencuri, harta tersebut tidak ada bekasnya, mudah habis, tidak tahu entah untuk apa. Ini karena mencuri itu cara mudah mendapatkan harta. Karena mudah, jiwa si pencuri tidak bisa mengenali kegunaan harta, dapatnya mudah, bubarnya juga mudah. Uang hasil judi juga konon begitu. Itu karena dapat duit hanya modal pasang nasib undian, paling mentok bermain spekulasi, lalu menunggu nomor keberuntungan sambil duduk manis dan mengkhayal-khayal. Padahal di sawah-sawah para petani sampai menghitam kulitnya kepanasan karena kerja untuk dapat uang. Dan banyak juga kan selebritis yang tiba-tiba viral, tiba-tiba pula menghilang? Dulu heboh ada seleb dadakan Citayam Fashion Week yang tiba-tiba moncer, lah seketika pula seleb-seleb tersebut lenyap ditelan waktu. Sekejap moncer, sekejap pula lenyap. Beda dengan seleb yang bangun karir dengan cita-cita dan konsistensi tinggi, sebut lah Agnes Mo, Putri Ariani, Deddy Corbuzier, mereka dengan jerih payah tinggi meraih impian, dan hasilnya mereka pun awet bertahan di papan nama seleb terkenal. Hal-hal tersebut terjadi karena ketika segala sesuatu mudah mendapatkan, jiwa tidak dapat memaknai, jiwa bingung untuk menerjemahkan ke dalam “makna atau meaning” alias “tidak ada artinya“, susah menembus dimensi wisdom, sebab kemudahan itu yang bisa menikmati hanya “raga“. Dapat duit, bisa beli bakso, beli ini, beli itu, hanya raganya yang kenyang, sementara jiwanya sendiri sama sekali tidak bisa menikmati. Kenikmatan yang bisa dirasakan jiwa itu apabila segala sesuatu yang didapatkan, jiwa Anda sanggup memaknai. Seperti kisah tukang becak naik haji yang susah payah menabung sehari 10 ribu selama 59 tahun untuk bisa berangkat haji. Ketika pedih dan prihatin, jiwa itu hidup, jiwa berkembang, jiwa menemukan  makna. Karena ini orang sukses juga orang yang banyak menceritakan penderitaannya di masa lalu. Namun cerita derita masa lalunya tidak Anda tertangkap sebagai “keluhan” tapi terasa “indah” didengarkan. Begitulah jiwa yang bermakna. Surga pun hanya bisa dimodali dengan hidupnya jiwa, yakni melalui jerih payah dan konsistensi, tidak dimodali dengan hidupnya raga, yakni kemudahan dan kesenangan. حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ “Surga itu diliputi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka itu diliputi hal-hal yang menyenangkan.” (H.R. Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad) Apa artinya hidup ini harus menderita untuk peroleh surga, peroleh keberlimpahan? Ya tidak. Artinya harus ada jerih payah dan kepayahan untuk membeli surga, untuk peroleh keberlimpahan. Dan hampir tidak ada jerih payah dan susah payah yang menyenangkan. Jadi begitulah arti sebuah kesulitan. Kesulitan itu dihadirkan Tuhan agar jiwa Anda hidup. Dengan kesulitan-kesulitan, jiwa Anda mencecap value atau makna. Kesulitan itu nilai beli yang tinggi. Perolehan yang diperoleh tanpa laluan kesulitan cenderung mudah lenyap. Mudah moncer, mudah sirna. Mudah peroleh, mudah lenyap. Muhammad Nurul BananGus Banan

JUNI 2023

POLIGAMI, MENABUNG, IRIT, BOROS ITU ENERGINYA SAMA

Hal halal yang kerap hancurkan karir lelaki itu poligami. Dari pebisnis, ulama, tokoh masyarakat, hancur karena poligami. Namun yang karirnya makin menguat juga banyak, rezekinya makin oke, kehormatan dan kemuliannya juga. Itu banyak. Halalnya secara syariat Islam jelas poligami halal. Di tilik dari sistem kenaturalan alam, alam semesta memang mendukung sistem poligami. Alam semesta itu saling kerja untuk alirkan energi. Tangan kerja dulangkan makanan, mulut menerimanya. Matahari kerja curahkan sinarnya, bumi menerimanya. Langit kerja curahkan hujan, bumi menerimanya. Sungai kerja alirkan air, lautan menerimanya. Tangan kanan ketika kerja mendulang makanan itu bebas mau mendulang ke mulut sendiri ataupun mulut yang lain. Matahari ketika kerja curahkan sinar itu bebas dicurahkan ke bumi bagian mana, bahkan dicurahkan ke planet lain pun sah-sah saja.  Langit kerja turunkan hujan, bebas mau diturunkan di bumi bagian mana. Sungai kerja alirkan air, bebas mau dialirkan ke lautan mana. Bahkan dalam sistem kerja tersebut, sah-sah saja kalau mau mendua alias poligami. Sah-sah saja kan satu tangan kanan Anda mendulang makanan ke mulut sendiri juga ke mulut orang lain secara mendua?  Matahari sah-sah saja dalam sekali waktu curahkan sinarnya ke bumi juga mendua ke venus? Dann seterusnya. Poligami itu sah dalam sistem alam. Lelaki mengalirkan energi kepada wanita salah satunya melalui energi seks dan nafkah. Energi seks, alat kemaluan lelaki mau didulangkan ke mulut vagina mana, entah dengan monogami maupun poligami, ya sah-sah saja. Lelaki yang bekerja mengalirkan energi seks karena tampak dari sistem air maninya yang mengalir dan memuncrat seperti sinar matahari dan air hujan. Mau dialirkan ke Maria Ozawa dengan mendua bersama Sora Aoi, ya sah. Sah. Energi nafkah juga demikian. Lelaki mengalirkan energi nafkah itu sah-sah saja kepada satu wanita, atau dua wanita atau lebih, itu sah. Poligami tidaklah merusak tatanan alam, sesuai dan sinkron-sinkron saja, karenanya Al-Qur’an mengundangkan; فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ “Maka nikahilah perempuan-perempuan yang kalian sukai, dua, tiga atau empat.” (Q.S. An-Nisâ : 3) Memang bumi bekerja menerima energi air hujan, namun tidak serta merta menerima saja, di bumi air hujan yang dititunkan langit diolah sedemikian rupa sehingga kembali lagi bermuara ke laut.  Di laut, air hujan kiriman langit tersebut diserap lagi oleh laut untuk suplay energi ke langit agar langit terus bisa menyediakan air hujan. Dan terus berputar begitu. Sinar matahari dan energi-energi lainnya juga begitu. Satu sisi ada yang curahkan energi, sisi lain ada yang terima sekaligus sebagai penyuplay energinya. Wanita pun begitu, ia menerima curahan air mani dan nafkah dari pria, namun wanita lah penyuplay energi seks dan rezeki. Kalau lelaki berani merusak sistem penyuplay energinya, yakni istrinya, ya sudah sistem seks dan rezekinya hancur. Dimana pun wanita lah yang dipajang sebagai media eksotisme. Wanita didandani, diberi perhiasan, dan dimodelling tata busana sedemikian rupa, karena wanita adalah penyuplay energi seks.  Bahkan simbol seks juga pada wanita, adegan film panas yang difigurkan selalu tubuh wanita. Wanita penyuplay energi seks karenanya perannya adalah “merangsang”. Demikian pula dalam rezeki, peran wanita adalah merangsang energi rezeki karena wanita lah penerima nafkah sekaligus penyuplay enrergi rezekinya.  Ada istilah, “Ganti istri, ganti rezeki. Beda istri, beda rezeki”, itu benar adanya sebab tiap wanita itu punya kualitas dan kapasitas berbeda dalam menyediakan energi rezeki, kemampuan merangsang rezekinya beda-beda. Sekarang poliandri, sah tidak sistemnya di alam semesta? Ya kalau mulut Anda ditugasi menerima makanan lantas mengunyahnya di mulut sendiri sekaligus mengunyahkannya ke mulut yang lain, bisa tidak?  Atau bumi menerima air hujan lantas air hujannnya di suplaykan pula untuk langit yang lain, bisa tidak? Langit cuma satu. Atau bumi terima sinar matahari, lantas energinya diserap pula oleh matahari lain, bisa tidak? Matahari cuma satu. Demikian pula wanita, mau menduakan energi seks dan suplay energi rezeki ke banyak lelaki juga tidak bisa. Sebab itu poliandri merusak tatanan sistem alam. Kelihatannya enak banget, satu wanita menerima banyak curahan nafkah dari banyak pria, sana-sini memberi, bisa cepat kaya.  Namun itu sekalipun penerima energi, wanita juga penyuplay energi rezeki pria. Satu wanita harus menyediakan energi rezeki untuk 4 pria misalkan, ya mati lemas. Energi seks juga begitu. Satu wanita dikeroyok terus-terusan oleh 4 pria, ya sobek-sobek kan lubang V-nya? Sudah jelas poligami itu sah? Dua, boleh. Tiga, boleh. Empat, boleh. Sebenarnya sistem alam bolehkan poligami lebih dari empat, hingga 1 juta wanita, boleh. Bebas saja. Karena air hujan mau diturunkan di 1 ribu tempat juga boleh, asal mampu saja energinya.  Hanya saja syariat Islam membatasi 4 wanita saja agar arah curahan energinya terukur dan tertib. Empat istri yang dibolehkan itu hanya tatanan penertib bagi umat Islam saja.  Nabi Muhammad sendiri dapatkan hak privillege sebagai nabi dalam soal ini, beliau tercatat menikahi 12 orang istri. Syariat-syariat umat terdahulu juga bebas dengan jumlah wanita yang dipoligami, Nabi Daud punya 100 istri, Nabi Sulaiman punya 1000 istri.  Hakikatnya bebas, namun syariat Islam menertibkannya khusus untuk umat Muhammad dengan batasan empat. Sekarang pertanyaannya, secara syariat halal, dalam sistem alam semesta pun sah-sah saja, lah kok banyak pria hancur karir dan hidupnya karena poligami? Sebenarnya pria poligami yang karirnya tetap eksis bahkan makin eksis juga banyak, sebanding dengan pria yang hancur karirnya karena poligami. Itu disebabkan perbedaan muatan energi penggerak poligaminya. Pria yang hancur karirnya, babak belur karena poligami itu karena muatan energi poligami di baliknya adalah energi selingkuh. Artinya energi muatannya adalah energi birahi dan nafsu angkara murka. Sudah punya istri sah, malah buta cinta dengan wanita lain, ngebet. Saking maboknya dengan selakangan paha wanita lain, lantas ia menikahinya. Nah ini poligaminya berenergi selingkuh. Ataupun poligami ada energi kualat. Misal istri pertama adalah wanita yang jasa dan pengorbanannya sudah sangat besar. Sakit parah didampingi dan dirawat hingga sembuh.  Saat bangkrut didampingi dan diperjuangkan hingga bisa bangkit. Lah saat si suami kaya malahan dia mengkhianati istrinya dengan poligami diam-diam. Menyayatnya dari belakang. Ini juga pologami namun cari kualat. Beda kasus dengan Nabi Muhammad. Nabi itu wanita yang jasa dan pengorbanannya kepada Nabi SAW sangat besar, wanita yang menolong dan menemani Nabi sejak nol itu adalah Khadijah R.A. Dengan Khadijah ya Nabi tidak berani mempoligami karena Nabi bukan orang rendah yang cari-cari kualat. Setelah Khadijah wafat baru kemudian Nabi lakukan poligami

JUNI 2023

TIDAK ADA SEDEKAH DAN MUSIBAH DI HARI YANG SAMA

Di akhir Ramadhan kemarin saya pergi ke Purwokerto untuk beli oleh-oleh lebaran untuk saudara dan tetangga. Ada beli beberapa pasang sandal untuk hadiah para guru dan orang tua.  Ada beli batik Banyumasan untuk beberapa teman. Ada sarung, kaos, baju untuk saudara dan teman. Ada puluhan bingkisan spesial lebaran, dan ratusan toples berisi snack lebaran untuk tetangga dan saudara. Sebelum saya berangkat ke Purwokerto, saya sudah lebih dulu transfer uang rutin bulanan ke orang tua ditambah uang spesial lebaran. Di perjalanan, kurang 300 meteran, tiba-tiba indikator radiator mobil menyala, dan AC mobil juga mati. Karena jarak sampai alamat sekitar 300 meteran lagi, saya tetap memaksakan jalan. Begitu mobil berhenti di alamat, air radiator yang waktu itu saya kira oil, tumpah semua. Dan sepanjang 300 meteran ternyata jalanan yang dilalui mobil saya sudah tercecar tumpahan air radiator. Begitu mobil parkir, seketika dari kap mobil keluar asap tebal dan bau gosong. Saat itu saya belum buka kap mobil belum apa, di hati saya bilang, “Ayo padam! Hari ini saya sudah banyak sedekah, dan saya kesini juga untuk sedekah. Ayo padam!” Perintah saya di hati sambil isyarahkan tangan saya ke kap mobil. Dan selisih beberapa detik, asapnya hilang disusul bau gosong juga hilang. Saya membatin, “Lah kok nurut!” Saya terus menelepon bengkel langganan saya, tapi sedang tidak aktif. Lantas saya jalan keluar niatnya cari bengkel terdekat. Jalan sekitar 5 meter, saya bertemu warga setempat. Olehnya saya malah diteleponkan bengkel langganannya. Tak selang lama, pihak bengkel datang. Dicek ternyata kipas radiator mati, tidak fungsi, karenanya air radiator tumpah dan AC mobil tidak nyala. Katanya andai 10 menit lagi mobilnya tetap jalan akan over head dan mungkin sekali kebakaran. Saya jadi ingat tentang keajaiban sedekah di masa Nabi Sulaiman AS. Di Kitab Tanqihul Qaulil Hatsits karya Syekh Nawawi Al-Bantani menceritakan; Di zaman nabi Sulaiman AS, ada seorang laki-laki yang di samping rumahnya terdapat pohon besar. Istri dari laki-laki tersebut menyuruhnya untuk memanjat pohon dan mengambil anak merpati yang bersarang untuk dijadikan makanan untuk anak-anak mereka. Laki-laki itupun melakukannya. Induk merpati lalu menghadap Baginda Nabi Sulaiman AS dan menceritakan kejadian tersebut. Kemudian nabi memanggil laki-laki itu dan memintanya untuk bertobat. Ia pun berjanji kepada Nabi Sulaiman tidak akan lagi mengulangi perbuatannya. Di hari berikutnya, sang istri kembali menyuruh suaminya untuk mengambil anak merpati di pohon besar. Namun laki-laki itu pun mengatakan pada istrinya bahwa ia tidak dapat melakukannya lagi karena telah berjanji kepada Nabi Sulaiman yang melarang perbuatan tersebut. Namun istrinya terus membujuk sang suami dengan mengatakan “Apakah kamu menyangka Nabi Sulaiman akan mempedulikan dirimu atau merpati itu? Sedangkan ia selalu sibuk dengan urusan kerajaannya?” Hingga akhirnya suaminya pun luluh dan kembali memanjat pohon besar untuk mengambil anak merpati. Induk merpati kembali menghadap nabi dan mengadukan kejadian tersebut yang membuat Nabi Sulaiman pun menjadi marah. Lalu, nabi Sulaiman memerintahkan dua setan dari ujung timur dan barat untuk menjaga pohon besar tempat dimana sarang merpati itu berada.  Nabi memerintahkan kepada dua setan tersebut untuk menjatuhkan laki-laki dari pohon besar itu apabila ia kembali mengambil anak merpati. Dua setan utusan Nabi Sulaiman itu bergegas pergi dan menjaga pohon besar yang dimaksud. Saat laki-laki hendak kembali memanjat pohon untuk mengambil anak merpati, tiba-tiba datang seorang pengemis yang mengetuk rumahnya. Laki-laki tersebut meminta istrinya agar memberikan sesuatu pada pengemis tersebut, tapi isinya berkata bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk diberikan. Kemudian laki-laki itu memutuskan turun dari pohon dan mengambil segenggam makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Setelah itu, dirinya kembali memanjat pohon untuk mengambil anak merpati. Dan lagi, induk merpati menghadap nabi Sulaiman untuk mengadukan kejadian tersebut yang membuat nabi bertambah marah. Nabi Sulaiman memanggil kedua setan yang diutusnya tersebut dan mengatakan bahwa mereka telah berkhianat. Namun ternyata, dua setan tersebut memang gagal menjatuhkan laki-laki itu karena Allah telah mengutus dua malaikat untuk melindunginya. Ya nyata sekali, “Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah. Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah. Obatilah penyakitmu dengan sedekah. Sedekah itu sesuatu yang ajaib. Sedekah menolak 70 macam bala dan bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo).”(HR. Baihaqi & Thabrani) وقال صلى الله عليه وسلم: {الصَّدَقَةُ تَرُدُّ البَلاَء وَتُطَوِّلُ العُمْرَ} “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sedekah itu menolak bala dan memanjangkan umur.’” (H.R. Ahmad). Muhammad Nurul BananGus Banan

JUNI 2023

BERTAHAN KAYA DI SAAT TAK PUNYA UANG

Uang sedang menipis, katakanlah sedang tak punya uang, jelas jadikan daya bayar melemah. Apalagi bisa sedekah, untuk cukupi kebutuhan sendiri saja tercegat, apalagi bisa senangkan orang lain, senangkan diri sendiri juga tertunda-tunda.   Padahal kaya itu sama saja dengan kemampuan bayar. Anda tidak punya kekayaan berupa rokok kalau Anda tidak mampu membayar harganya, kan? Orang kaya sebentar-sebentar bayar mobil, tak selang lama bayar tanah, kemudian bayar saham, sebentar-sebentar berkemampuan membayar. Ditambah lagi secara sosial sebentar-sebentar bayar sedekah, ya sudah makin menjadi-jadi kekayaannya.   Sementara di kondisi tidak punya uang itu daya bayar Anda menurun, ancaman terjatuh dalam kemiskinan itu sangat serius. Ya apa-apa tidak bisa bayar, kalau terus berulang apalagi dalam jangka waktu lama, ya Anda sama saja menuju pola miskin, kan? Apa-apa tidak bisa beli dan akhirnya ala-apa tidak punya.   Inti kaya itu kemampuan daya bayar. Maka dalam kondisi tidak punya uang agar Anda tetap kaya Anda harus tetap di frekuensi membayar.   Ingat! Membayar dengan uang itu hanya salah satu sarana bayar, bahkan tidak semua bisa dibayar dengan uang. Tetap di kondisi membayar sekalipun tidak punya uang berarti bayar dengan yang lain.   Kalau saya sedang tidak punya uang maka saya meningkatkan pembayaran di sisi lain, misal durasi zikir saya tambah, kalau biasanya zikir baca shalawat hanya 1000 kali maka saya lipatkan jadi 10 ribu kali.   Dan kadang pula saya lebih disiplin mengajar ngaji santri, atau lebih banyak lagi berbagi ilmu, atau lebih banyak menolong orang lain, atau ditambah durasi Tahajudnya, ditambah puasanya, dan dengan cara apapun yang penting Anda bertahan di kondisi banyak membayar.   Apapun amal shaleh itu semua bentuk pembayaran, maka memperbanyak amal shaleh itulah inti membayar sesungguhnya di saat tak punya uang.   Tidak punya uang kok malah cari-cari hutangan, ya Anda makin ringsek, karena hutang itu kebalikannya membayar. Dan tidak punya uang lalu hutang ini tindakan umum dilakukan banyak orang, justru tindakan hutang saat tidak punya uang itulah cara terkonsisten untuk makin tidak punya uang.   Malah-malah tak punya uang kemudian nyolong, ya modar sekalian, karena mencuri jelas musuh bebuyutannya membayar.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

TUKANG BELANJA DAN TUKANG SEDEKAH YANG MAKIN KAYA

Aksi hanya sebuah tindakan ikhtiar. Hasilnya tergantung visi di baliknya.   Tindakannya sama-sama diet makan, ada yang visinya untuk turunkan lemak badan, ada yang visinya titakat menguatkan jiwa. Keduanya aksinya sama, hasilnya bisa sangat beda. Yang niat turunkan lemak badan, hasilnya ya Cuma tubuh ideal. Yang niat tirakat kuatkan jiwa, hasilnya ya kesadaran’-kesadaran spiritual.   Aksi lari dari kuda delman tidak bisa menarik kekayaan karena dibalik aksi larinya tidak ada visi untuk kaya.   Kuda delman ya kerja keras, namun karena tak ada visi kaya, jadinya tak ada kuda delman kaya raya.   Anda shopping, bayar ini dan itu, tindakan sebenarnya adalah mengeluarkan uang. Keluarkan uang itu tindakan mengurangi harta, namun untuk hasilnya Anda harus lihat ada visi apa di baliknya.   Kalau visi anda kokoh untuk kaya raya dalam keluarkan uang, maka shopping ataupun pengeluaran anda akan makin mengkayakan.   Nah kesalahannya itu ketika mengeluarkan uang tapi di hati punya visi kalau belanja itu mengurangi harta, membayar itu mengambil kekayaan anda. Kalau visinya dalam aksi belanja dan keluarkan uang adalah  visi berkurang harta, maka hasil manifestasinya juga berkurangnya harta.   Yang kokoh hatinya dalam pegang visi kalau belanja dan membayar itu mengkayakan.   Di lingkungan anda banyak orang dermawan yang suka membantu dan menolong. Tapi aneh kedermawaannya itu boroboro kembali 10 kali lipat, namun beli rokok saja bingung duitnya dari mana lagi? Itu karena di balik tindakan dermawannya tidak ada visi kaya.   Ada visi kaya maksudnya bukan mengharap kembali berkali-kali lipat tapi punya visi kaya apa tidak dibalik kedermawanannya itu.   Ini mengapa para pengusaha besar, semakin dermawan, semakin kaya, semakin royal mereka justru makin kaya raya?   Itu karena visi hati mereka kokoh untuk kaya. Mereka bisnis dengan tekun karena ingin kaya dan mereka sedekah pun karena ingin kaya. Visi kayanya jelas dan kokoh.   Lah anda dermawan karena visi menolong, sedekah karena visi kasihan itu yang hasilkan anda dermawan, tapi beli rokok saja bingung.   Ya sedekah karena visi menolong ataupun kasihan itu tetap perbuatan ma’ruf, pahalanya besar, Cuma untuk menarik manifestasi kaya itu kesulitan karena visinya menarik kaya itu lemah dan kecil.   Ada visi apa di balik aksi belanja anda? Di balik aksi dermawan anda? Di balik belanja visinya mengurangi harta, di balik sedekah visinya hanya belas kasihan, itu yang jadikan belanja dan sedekah Anda tidak menarik wujud kekayaan.   Ayo belanja, ayo sedekah tapi dengan visi kaya.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

WAJIB HAJI BAGI YANG MAMPU, NAIK HAJI BAGI YANG BERUSAHA MAMPU

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ     “Bagi Allah, wajib atas manusia, mengerjakan haji ke Baitullah, yaitu (bagi) orang yang (berusaha) mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran : 97)   Haji dalam aturan fikih Islam diwajibkan bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah, mengingat haji merupakan aktifitas travelling yang tentu butuh kesiapan finansial dan kesehatan fisik serta fasilitas transportasi yang aman dan memadai, karena itu haji adalah wajib tapi dengan kriteria mampu atau istithâ’ah استطاعة)).   Dalam ayat perintah haji di atas, kata yang digunakan Allah untuk kriteria naik haji adalah istathâ’ (استطاع) yang memiliki bentuk mashdar (nomina) yakni istithâ’ah (استطاعة).   Dalam tata bahasa Arab, istithâ’ah merupakan nomina yang ditautkan pada wazan (rumus baku) istaf’ala (وزن استفعل)  yang memiliki faidah li thalabil amri (memohon sesuatu).   Artinya setiap kosa kata bahasa Arab jika diikutkan wazan istaf’ala akan memiliki perubahan makna tertentu,  yang perubahan maknanya signifikan, di antaranya memiliki faidah memohon atau meminta sesuatu.   Contoh seperti ghafara (غفر) arti dasarnya mengampuni, dikutkan wazan istaf’ala menjadi istaghfara (استغفر)  jadi bermakna memohon ampunan.   Demikian pula dengan kosa kata istithâ’ah yang digunakan Allah dalam perintah haji. Lafal istithâ’ah diambil dari kosa kata dasar thâ’a (طاع) yang berarti mampu, sanggup, taat.   Diikutkan wazan istaf’ala menjadi istathâ’a (استطاع) yang berarti memohon kemampuan atau kesanggupan.   Dalam fikih, kriteria istithâ’ah ini yang selanjutnya lahirkan ijtihad tentang syarat wajib haji yang di antaranya mampu secara finansial baik untuk biaya pemberangkatan haji maupun untuk biaya nafkah keluarga yang ditinggal di rumah, juga mampu kesehatannya, dan aman perjalanannya. Hal ini ketentuan menurut fikihnya bahwa wajib haji itu bagi yang mampu.   Namun secara spiritual tidak begitu, sebab begitu banyak orang kaya yang berpenghasilan besar tetapi belum juga bisa naik haji. Halangannya tentu macam-macam, misal minat naik haji yang belum ada.   Sekarang ini banyak crazy rich millenial, dimana di usia belum sampai 25 tahun mereka sudah jadi milyader, artinya untuk biayai haji, mereka berkemampuan super enteng. Namun mereka belum berangkat juga karena merasa belum pantas menyandang gelar pak haji, belum siap untuk khusyuk ibadah sebagai haji, dan lain-lain.   Di situ mereka mampu tapi belum terpanggil naik haji, ibaratnya mampu kondangan tapi belum dapat undangan walimahnya.   Karena itu istithâ’ah dalam haji—secara spiritual— bukan persoalan kaya dan miskin, tapi persoalan panggilan Allah, sebab itu Allah gunakan kosa kata istithâ’ah dalam memerintahkan haji.   Istithâ’ah memiliki makna memohon kemampuan atau kesanggupan yang berarti haji itu dimampukan bagi orang yang mau berusaha mampu.   Ada kisah tukang becak naik haji setelah menabung 30 tahun. Kalau biaya haji sekitar 50 juta rupiah, ditabung selama 30 tahun (10.950 hari), berarti tiap hari si tukang becak menabung sekitar 4.500 sampai 5.000 rupiah.   Sehari menabung 5 rupiah, bukankah anak TK saja sudah bisa?   Semurah itu biaya haji, lalu kenapa banyak muslim yang merasa tidak mampu untuk naik haji? Itu disebabkan faktor istithâ’ah atau upaya untuk mampu haji yang minatnya sangat kecil atau mungkin tidak ada minat sama sekali.   Sama seperti menjadi pintar (alim). Banyak orang menyangka kalau menjadi ahli ilmu itu butuh modal IQ cerdas, padahal tidak. Menjadi ahli ilmu hanya butuh minat kuat kepada ilmu.   Ibnu Hajar Al-Asqalani, ulama besar pakar hadits. Thomas Alfa Edison, ilmuwan penemu ribuan temuan tehnologi. Mereka semua IQ-nya bebal, namun karena minat kepada ilmu yang kuat, lalu mereka jadi pintar.   Atau sama seperti meraih kesuksesan dagang. Banyak orang mengira sukses dagang itu butuh modal besar. Tidak. Dagang maju tidak butuh modal, modal dagang itu mengikuti kesungguhan seseorang dalam berdagang. Kesungguhan dipicu oleh besar kecilnya minat.   Sebab memang sudah dijaminkan oleh Nabi SAW bahwa segala hal yang diimpikan, diminati, ditekuni, diberi kesungguhan, itu akan dimudahkan jalan wujudnya.   اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ   Berbuatlah kalian! Sebab semuanya telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan  untuknya. (H.R. Bukhari & Muslim).   Jadi apapun yang Anda ciptakan yakni diawali dengan impian, lalu diusahakan dengan ketekunan dan konsistensi, itu sudah pasti akan dimudahkan jalan wujudnya.   Dan haji itu persoalan minat dalam impian Anda, bukan persoalan kaya atau miskin, berduit atau kere, karena isyaratnya sudah jelas dari Allah bahwa haji itu bagi orang yang istithâ’ah (berusaha untuk mampu) laksanakan haji.   Dan realitanya anak TK saja sebenarnya sudah mampu naik haji dengan menabung 5 ribu perhari, namun asal mereka minat dan mau berusaha sungguh-sungguh (istithâ’ah).   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

SEMBUH DARI LUKA PERMUSUHAN LEBIH CEPAT

Waktu bujangan dulu saya pernah jadi perantau di Jakarta, sekitar 3 bulanan, tidak lama. Ada seorang teman kos saya, sebut namanya Nokia menyerang dengan labrakan pada teman yang lain, sebut namanya Vivo. Kesalahan jelas pada Vivo. Vivo tipikalnya buruk, suka nyuruh-nyuruh teman. Beli sayur suka nitip, nyuci piring habis makan ia suka nitip, kalau mau bikin kopi bareng-bareng, temannya yang disuruh menyiapkan, mulai dari beli kopi di warung, nyiapkan air panas, semua hal ia maunya terima jadi.  Orang Jawa menyebut “watek rematu” artinya berkarakter ratu, apa-apa nyuruh. Vivo juga suka minta-minta, ada teman makan jajan, ia nimbrung, ada teman mengeluarkan rokok, ia nimbrung ambil, spesialnya suka minta dipijiti teman, maunya yang gratis-gratis, mirip ratu di depan teman-teman. Lama-lama banyak hati panas, sana-sini ramai menggunjing prilakunya. Dan Nokia yang terkenal bertipikal temperamental, reaksinya pada Vivo lumayan pedas. Vivo dilabrak oleh Nokia. Ketika Vivo merokok, ia pura-pura menawarkan, ketika dengan antusias Vivo mau mengambil rokok yang ditawarkan Nokia, rokok yang sudah nyala di jari tangan Vivo dibanting keras-keras ke kepala Vivo, sementara rokok yang ditawarkan Nokia ditarik kembali. Dengan muka geram, Nokia memaki-maki dengan kata-kata ketus. Jadilah Vivo seperti monyet pucat pasi. Apalagi Nokia sangat kasar makian dan sikapnya, bikin kapok. Hari-hari selanjutnya, Nokia sepertinya sangat susah kompromi dengan Vivo, sepertinya tiada ampun. Si Nokia merasa didukung teman-teman sehingga seenaknya memperlakukan Vivo yang bersalah. Sehari dua hari hingga seminggu dua minggu, Nokia belum juga mau menyapa Vivo. Namun Vivo hanya bisa mengalah diam, tidak melakukan perlawanan.  Sesakit apapun hatinya, ia tidak berani membalas karena sadar tidak didukung teman-teman, ia merasa salah, merasa terpojok, juga merasa malu. Ia lebih terlihat diam bertawakal. Pelan-pelan Vivo juga mulai mengubah watak ratunya, ia kini berlatih mandiri, tidak berani nyuruh-nyuruh lagi apalagi berani minta-minta dan numpang. Lambat laun, teman-teman lupa dengan prilaku buruk suka nyuruh dan suka mintanya Vivo, satu-satu teman-temannya menerimanya. Dan hal istimewa dari Vivo, ia pandai humor, kerap bikin tawa dan lelucon, sehingga teman-teman banyak yang suka ngerumpi dengan Vivo. Ketika satu-satu teman merasa cocok dengan Vivo, si Nokia masih saja beringas pada Vivo, ia masih merasa menang dengan Vivo, merasa teman-temannya masih banyak yang mendukung beringasnya pada Vivo. Selang sekitar 3 bulan pasca kejadian labrakan Nokia pada Vivo, keadaan telah berubah 180°, teman-teman sudah dekat dengan Vivo.  Vivo sudah diterima di hati teman-teman, bahkan Vivo selalu jadi buruan teman-teman untuk ngobrol lantaran anaknya pintar bikin lelucon. Dan, si Nokia bisanya dulu melabrak Vivo karena memang Nokia tipikalnya kasar dan temperamental, sehingga makin ke sini, Nokia makin tidak disukai teman-teman, ia gemar mengolok-olok orang. Dalam waktu 4 bulan setelah kejadian Nokia ngamuk-ngamuk pada Vivo, Nokia telah malu sendiri, ia tidak punya teman sama sekali, sementara si Vivo jadi idola. Begitulah, si Vivo salah tapi ia mau diam, ternyata kemudian menyingkirkan si Nokia yang benar tapi bergerak aktif. Karena segala hal ada perhitungannya masing-masing, ketika satu kesalahan telah dihukum, maka kesalahan itu di posisi “lunas”, ketika sudah lunas masih saja diserang, maka posisi “salah” itu berbalik kepada yang menyerang. Diam dalam keadaan salah, artinya ada orang menyakiti Anda karena kesalahan Anda lalu reaksi Anda diam saja, itu jauh lebih menguntungkan daripada gerak dalam keadaan benar, di mana Anda dalam posisi benar, tetapi Anda melakukan reaksi menyerang.  Sebab bila reaksi Anda terhitung lebih berat daripada aksi kesalahan yang dilakukan orang yang menzalimi Anda, maka kesalahan justru menjadi milik Anda. Maka ini pula, ketika Anda mengetahui kesalahan dan keburukan orang lain jangan berlebih dalam mempropaganda, lambat laun kesalahannya akan jadi milik Anda.  Sebaliknya, ketika Anda di posisi salah, banyaklah diam. Dengan diam kesalahan akan terurai tanpa meninggalkan masalah. Bukankah segala sakit dan luka akan cepat pulih ketika dibawa diam dan istirahat? Sebab itu energi pemulih tercepat dalam luka permusuhan adalah diam. Luka permusuhan kok banyak dibawa gerak dengan propaganda, ghibah, mengolok, mengfitnah, menjatuhkan, debat, ngelabrak ya luka Anda sendiri yang makin menganga parah.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

Scroll to Top