Syarat kepemilikan itu karena Anda bisa membayar. Anda memiliki mobil karena Anda telah sanggup membayar harganya. Sesuatu yang belum Anda bayar harganya tidak bisa dimiliki.
Kekayaan itu status kepemilikan, berarti syarat kaya adalah memiliki, sementara untuk memiliki harus sudah membayar. Yang kaya tanah tentu ia yang banyak bayar tanah, dan seterusnya.
Citra orang kaya tentu citra kekuatan daya beli, dan membeli itu artinya membayar, sehingga ujung-ujungnya yang paling banyak membayar adalah orang kaya. Sebentar-sebentar bayar mobil, sebentar-sebentar bayar tanah, sebentar-sebentar belanjaan. Yang kaya itu yang banyak membayar.
Karenanya kalau Anda ingin dibeludaki kekayaan rezeki, Anda gemarlah membayar.
Anda amati, seorang bos masuk warung dengan karyawan-karyawannya, si bos yang pasti terjebak bayar, tapi dia yang paling kaya, kan? Seorang bos di hari raya Idul Fitri, dia yang paling habis-habisan, tapi dia juga yang paling kaya. Ya begitulah resiko berani bayar adalah kaya.
Seorang pria berperan pemberi nafkah keluarga, resikonya di keluarganya ia yang paling kaya. Kalau si pria pengecut, lalu istri yang harus kerja cari dan memberi nafkah, maka yang paling kaya juga si istri.
Itulah resiko membayar, resikonya selalu kaya. Sebab itu sedekah selalu akan menarik kekayaan karena sedekah itu hakikatnya membayar.
Salah satu energi alam yang kerap digunakan untuk membayar adalah uang, namun itu cuma salah satu energi alat bayar. Energi lainnya bisa dengan otot, dengan jasa, dengan pikiran, dengan jerih payah, dan lain sebagainya.
Anda yang bekerja siang malam, Anda yang mengabdi siang malam, Anda yang bersabar hati, Anda yang berusaha tanpa putus asa, Anda yang jungkir balik berjuang itu semua Anda yang sedang berproses membayar. Yang membayar dan selalu lunas itu yang beresiko kaya.
Di depan para santri di pesantren saya, kemarin pagi baru saya sampaikan, dan kebetulan santri yang mengaji kepada saya adalah para santri senior yang sudah memasuki masa khidmah kepada guru. Mereka semua diangkat menjadi pengurus pesantren yang sibuk mengurusi adik-adik santrinya. Mereka tentu sangat capek.
Secapek itu, mereka tidak ada yang dibayar. Bukan kyainya tidak mampu bayar atau tidak mau bikin manajemen bayaran, tapi karena mereka para santri yang ingin mulia dan kaya hidupnya.
Karena itu para santri perlu ditraining untuk konsisten membayar harga. Mereka khidmah siang dan malam ke pondok pesantren dengan jerih payah dan pengabdian sebagai bentuk membayar energi telah diajari ilmu oleh guru. Dengan membayar seperti itulah mereka dimudahkan untuk kaya dan mulia, sebab hukum terkonsisten kekayaan adalah membayar.
Sudah berapa tahun saya menulis di media sosial dan membuat konten spiritual pemberdayaan diri? Sejak 2016 hingga kini. Tulisan dan konten tersebut saya bagikan cuma-cuma. Kenapa saya sekonsisten itu berbagi ilmu? Padahal yang bayar tidak ada, bahkan kerap dibully dan diasu-asukan orang? Jawabannya karena saya sedang membayar.
Ya berbagi ilmu itu energi yang saya keluarkan untuk proses membayar di kehidupan ini. Dan dengan membayar melalui sharing ilmu ke publik, efek kayanya nyata sekali. Bikin kelas training ya walaupun mahal, tapi laris manis. Dagangan saya jadi laris, orang belanja di toko saya tanpa putus silih ganti.
Jadi bayar! Bayar! Bayar! Lunasi! Itu resiko terkonsisten untuk kaya, baik bayar dengan harta maupun jerih payah.
Pingin rezeki lancar kok gemarnya yang gratisan, gemarnya dibayari orang, kerja sukanya telat mintanya gaji naik, tangan sukanya ngedeng di bawah, tanggungan hutang sukanya dilupakan, sukanya ditraktir, sukanya nebeng gratisan, sukanya minta-minta, lah mau kaya dari mana?
Tidak ada rumusnya kaya itu karena banyak dibayar, justru rumus kaya itu banyak membayar.
Tuhan Maha Kaya, kapan Anda membayar Tuhan? Justru Tuhanlah yang selalu membayar Anda, Dia selalu tempatkan Zat-Nya sebagai Zat Pembagi rezeki, Dia selalu membayar.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply