Siapa yang punya keberanian cantumkan kolom pekerjaan tetap sebagai “pengemis atau pelacur” di kartu identitas diri? Siapa coba yang berani?
Mengemis itu pekerjaan mapan. Pegawai kantor, apalagi di NTT sekarang ini, jam 05.00 pagi sudah harus masuk kantor, lah pengemis jam 10.00 pagi bisa jadi baru bangun tidur, dua jam kemudian baru “jalan”.
Melacurkan diri juga pekerjaan mapan, tak perlu ada skill khusus sudah bisa jualan. Lah Anda jualan keripik tempe, sudah repot kuasai skill produksi masih harus kuasai skill penjualan. Enakan melacur, kan?
Mengemis dan pelacuran sebenarnya profesi mapan, tapi kenapa tidak ada yang berani cantumkan sebagai data diri? Karena memalukan.
Pengemis dan pelacur punya kelas sosial rendah di tengah masyarakat karena mereka tidak punya kapasitas menjaga kehormatan diri di depan uang. Ketika melihat uang, mata mereka hijau, selanjutnya urat malunya sendiri diputus demi peroleh uang.
Jadi kenapa seseorang berstatus sosial rendah? Karena mereka tidak punya rasa malu ketika melihat uang. Ya barangkali mereka punya duit karena bagaimanapun mengemis dan melacurkan diri itu juga usaha, itu profesi, cuma sama sekali tidak berharga, statusnya “asor”.
إِنَّ الْحَيَاءَ وَالإِيمَانَ قُرِنَا جَمِيعًا، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ
“Sungguh rasa malu dan iman adalah dua hal yang berbarengan. Ketika salah satunya dihapus, yang lainnya pun terhapus.” (H.R. Baihaqi & Hakim)
Sehingga kalau ditarik ke ranah spiritual religius, kalau Anda ingin melihat orang yang tidak ada imannya, di antaranya mereka yang profesinya mengemis dan melacurkan diri, sebab rasa malu dan iman itu dua hal yang menjadi satu kesatuan, rasa malu hilang, maka iman hilang, atau iman hilang maka rasa malu pun hilang.
Jadi tidak punya rasa malu di depan uang itu vibrasikan energi “asor” hidup. Coba pengemis, dia tidak punya nilai tawar sosial saking rendahnya nilai dirinya, dia sudah meminta-minta dengan capek dan memelas hanya untuk peroleh 2 ribu perak, lalu ada orang yang menolak memberi tak mau berbelas kasih, apa si pengemis pantas menawar seperti sales? Mau tidak mau si pengemis harus bersikap “neriman dan asor”. Coba pelacur harus terima jadi bualan omongan jorok, semacam tok3t dan lainnya, kehormatan dan kemuliannya tidak ada.
Tidak punya rasa malu di depan uang itu vibrasikan energi “asor”, karena itu nyaman cari gratisan, nyamam terima bantuan sosial, nyaman tangan di bawah, gemar meminta-minta, itu semua bila menjadi kegemaran akan jadikan nilai tawar sosial Anda rendah. Hidupnya berposisi asor, dan selanjutnya disebut dhuafa (orang-orang lemah).
Alkisah ada pemuda dari keluarga tak mampu yang keluarganya punya banyak sekali masalah hidup. Karena terlihat menganggur, ia ditawari kerja oleh pakdenya sendiri sebagai pelayan tokonya.
Si pakde tidak begitu butuh ambil karyawan keponakannya, namun rasa ingin membantu sangat besar, sehingga walaupun pembiayaan lebih besar tetap dieksekusi.
Biaya pakai tenaga keponakan lebih besar ketimbang pakai karyawan biasa karena tempat tinggal si keponakan jauh, kemudian dia punya 3 anak cewek sehingga tidak ada sisa kamar di rumahnya. Ia pun berinisiatif ambilkan kos kamar untuk keponakannya.
Sebab takut jadikan hati keponakannya tidak nyaman karena disewakan kos spesial, si pakde pura-pura sewa kos untuk untuk studio musiknya sebab ia musisi dangdut juga. Disewa untuk studio musik, lalu si keponakan disuruh menunggui studionya. Itu judul yang dipakai.
Di pedesaan sekedar jadi pelayan toko tentu tidak pakai UMR, tidak seperti di perkotaan, karena itu gajinya tidak cukup kalau dipakai juga untuk makan sehari-hari. Karena itu pakai keponakan sendiri, si pakde harus menanggung makan di rumahnya. Padahal pakai karyawan biasa, di desanya tidak perlu uang makan, cukup gaji bulanan, pakai keponakan si pakde harus menjamin makannya. Namun karena rasa ingin menolong saudara, walaupun resiko pembiayaan lebih besar, tetap dijalani.
Belum lagi karena dia keponakan sendiri, si keponakan diberi akses berbeda dengan karyawan biasa. Ia dilatih menyetir mobil pakai mobilnya, dilatih editing video dan desain grafis agar bisa jadi asisten digital video-video dangdutnya. Dan jelas, ketika si keponakan terlihat habis duitnya ya dikasih pesangon untuk menyambung rokoknya, kalau si pakde dari manapun ya si keponakan dikasih oleh-oleh spesial, dari baju, sandal, kaos, dan lainnya.
Nah ketika dilatih shoting dan editing video ini, pakdenya menugaskan untuk bikin channel youtube dan agar diurus oleh keponakannya agar nantinya kalau sudah mahir bisa jadi asisten digitalnya sehingga duitnya tidak hanya mengalir sebagai karyawan toko tapi juga ada sampingan asisten. Perjanjiannya nanti bagi hasil 40% dari hasil monetisasi youtube.
Jelang satu tahun, si keponakan mulai terlihat watak aslinya, malam hari suka begadang sehingga masuk kerja di toko kerap telat-telat. Awalnya ditegur biasa, tapi tidak ada itikad berubah. Sebulan kemudian diakali dengan potong gaji karena telat, tidak juga berubah. Masuk bulan ke-3 pakdenya bersikap tegas. Ia menegur langsung dengan tegas.
Di sini justru si keponakan melawan dengan diam-diam. Ia tidak berani membantah langsung, tapi ia tetap tidak mau disiplin masuk kerja.
Di bulan berikutnya si keponakan memang sudah tidak berniat ikut pakdenya lagi. Ia mengundurkan diri.
Dan yang kacau, orang tua si keponakan melabrak si pakde via telepon, menuduh pakdenya tidak mau bayar tenaga editing video youtubenya dan tidak rela anaknya disikapi tegas karena melawan diam-diam ketika ditegur suka tidur pagi dan telat masuk kerja.
Padahal sudah jelas, channel youtube belum lama monetisasi, duit belum ada, dibayar dengan bagi hasil 40% belum puas. Karena itu ortunya melabrak. Dalam labrakan si pakde diposisikan sebagai rentenir yang dituduh mengzalimi karyawan.
Dan lagi dilabrakannya, si pakde dituntut bagaimana nanti kalau ada konten youtube yang viral, dia tidak kebagian apa-apa, duitnya hanya dimakan si pakde.
Untung si pakdenya ini orang tegas, ia merasa membantu sebaik mungkin, dilabrak begitu, ia langsung ia langsung mengerti, “Ini anak dan bapaknya tidak punya malu, tidak punya harga diri. Tahunya cuma hukum buruh. Iya, makan tiap hari di rumah orang, menempat gratis di rumah orang, difasilitasi hidup seperti anak sendiri, dibelajari komputer, setir mobil, eeh yang punya rumah nyuruh cucikan piring malah, yang punya rumah disuruh bayar sebagaimana bayar ART,” begitu batin pakdenya.
Pakdenya hanya suruh editing video youtube, dan si pakde sudah mempertimbangkan pertukaran energinya. Dia sudah difasilitasi sebagaimana anak ya layak lah kalau dia disuruh bantu-bantu cuci piring di rumahnya, dalam artian bantu editing video youtube, toh sekali editing paling makan waktu 2 jaman. Dan lagi walaupun kecil tapi ada bagi hasilnya.
Dan memang begitu faktanya, karena di rumah pakdenya sudah ada yang cucikan piring, si keponakan disuruh editkan video. Tidak diprosentase hasil youtube pun sudah etis karena begitu kan etika numpang kos dan makan gtatis di rumah orang?
Si pakde lalu paham, kalau si keponakannya itu anak tidak punya malu, tidak punya harga diri di depan uang. Kalau dia punya malu dan punya harga diri, andai dibayar saja seharusnya menolak karena besarnya jasa yang sudah diberikan oleh pakdenya. Pikiran bawah sadarnya hanya berisi “mental buruh” sehingga tidak memahami etika-etika kefamilian.
Begitu dilabrak, si pakde langsung mendata biaya makan, biaya kos, biaya kursus setir mobil, biaya kursus komputer, biaya wifi, biaya pesangon dan oleh-oleh sebagaimana anak, dan lainnya.
Lalu si pakde hitung juga berapa video yang sudah dibuat dan dihitung dengan bayaran buruh normal. Hasilnya bayaran buruh normal tidak ada separuhnya biaya yang dikeluarkan untuk biayai dia sebagai keponakan yang numpang hidup di rumah saudara.
Biar kapok dan tahu malu, lantas rincian data keuangan tersebut dishare ke keponakan dan orang tuanya dengan ditambahi keterangan, “Akan saya bayar lunas hargamu sebagai buruh editing video tapi dengan catatan kembalikan kerugian saya biayai keponakan di sini.”
Dan hasil akhirnya justru si keponakan dan ortunya punya hutang banyak pada pakdenya karena selisih besarnya biayai keponakan hidup di rumahnya dengan nominal bayaran buruh editing video.
Biar tidak timbulkan masalah di masa depan karena si pakde sadar sedang berhadapan dengan orang-orang tidak punya malu di depan uang, si pakde pun pilih menghapus semua video karya keponakannya di channel youtube, toh rekaman ulang juga mudah.
Di cerita panjang ini bisa diambil hikmah, kenapa si keponakan dan keluarganya hidupnya asor, banyak masalah ruwet, musibah bertubi-tubi, rezeki seret sekali, kelas sosialnya pun rendah?
Karena ternyata mereka orang yang tidak punya malu, kerap lupa dengan harga dirinya ketika berhadapan dengan uang. Mungkin di luar peristiwa dengan pakdenya, mereka gemar gratisan, gemar memeras orang, gemar dibantu orang, gemar mengkhianati amanah orang, dan hal-hal lain yang merupakan prilaku tidak punya malu di depan uang.
Bukankah pengemis asor hidupnya karena tidak punya malu? Harga dirinya tidak dipedulikan asal dia dapatkan uang dengan mudah?
Muhammmad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply