Karena masalah lemot, saya naikan wi-fi saya dari 20 Mbps menjadi 50 Mbps. Setelah pakai 50 Mbps ternyata tetap masih lemot.

 

Nah saat tetap lemot, saya bilang pada istri, “Wah IndiHome di sini belum layak dihargai mahal, belum layak dibeli sampai 50 Mbps. Bunda, turunkan speednya ke 20 Mbps lagi,” perintah saya pada istri.

 

Tapi istri tidak segera merespons turunkan speed wi-fi.

 

Hingga 1 bulan kemudian, e-banking saya sedang error, tidak bisa bayar wi-fi pakai e-banking, istri pun bayar wi-fi di Alfamart. Dia kaget dengan tarifnya, naik drastis. Sampai rumah, istri dengan antusias setujui usulan saya turunkan speed wi-fi.

 

Di situ saya nyeletuk, “Gak jadi turunkan speed wi-fi. Kemarin saat alasan saya karena kualitas layanan IndiHome belum sepadan dengan harga yang kita bayar, Bunda anteng-anteng saja responsnya, sekarang giliran rasakan tarifnya naik, Bunda dengan antusias turunkan speed. Gak jadi turun!” tegas saya.

 

Kenapa ketika istri merasakan berat dengan kenaikan tarif wi-fi justru saya batalkan untuk turun speed? Karena kalau alasannya “rasakan berat” dengan tarif, itu artinya alasan mundurnya karena kita kalah mental pada uang.

 

Beda kalau alasannya tidak puas dengan layanan wi-finya, itu bukan soal kalah mental, namun soal lain yang lebih bermartabat.

 

Harimau buas, ular beracun ganas, ketinggian awan, kedalaman lautan, semua yang ada di alam semesta ini punya fitrah tunduk pada manusia.

 

Harimau buas dan ular ganas jadi jinak pada kepiawaian pawang. Ketinggian awan dan kedalaman lautan, semua tunduk pada tehnologi buatan akal manusia.

 

Alam semesta punya bawaan fitrah tunduk kepada manusia, apalagi rezeki?

 

Kenapa kita hanya memerintah kepada rezeki agar lancar dan jangan ruwet, kok rezekinya tidak nurut? Rezeki tetap “mbalelo” bikin masalah?

 

Sebenarnya hal itu karena kita kerap pasang mental di bawah uang. Contohnya seperti kejadian istri saya turunkan speed wi-fi di atas.

 

Nah kalau Anda berhadapan dengan uang, lalu mental Anda kerap “turun mental” pada uang, ya selamanya Anda jadi obyek bualan uang.

 

Kalau Anda kerap efesienkan uang dengan alasan-alasan “beban finansial berat” ini yang jadikan uang enggan untuk Anda kendalikan. 

Anda yang mentalnya kerap gerogi hadapi situasi finansial, lalu pilih mundur dari beban berat tersebut itu Anda yang terbaca oleh uang sebagai mental kerupuk uang.

 

Di situ Anda akan terus dikerjai uang, uang jadi enggan nurut dan tunduk kepada Anda. Di mata uang Anda tidak punya martabat.

 

Karena itu jangan pernah mundur dari tanggungan finansial dengan alasan “beban finansial”, boleh mundur atau turunkan beban tapi harus dengan alasan selain alasan “beban berat finansial”.

 

Sebaliknya Anda yang mudah melempem digertak situasi berat finansial, ya di situ Anda dianggap sampah oleh uang, efeknya hati Anda menyuruh agar rezeki lancar malah seret sekalian, jualan barang ingin laris-manis malah tidak laku sekalian, giliran Anda membeli sudah dapat harga mahal, kualitass barangnya jelek lagi.

 

Jadi bagaimana agar di saat survive keuangan lantas kita harus efesienkan uang namun tidak jadikan kita ruwet rezekinya?

 

Caranya ya pastikan diri kalau kita mengefesienkan uangnya bukan dengan alasan “beban berat finansial yang dirasakan”, tetapi ada alasan selain itu, misal seperti kasus saya turunkan speed wifi bukan karena alasan beratnya bayar tarif indihome, namun karena tidak puas dengan layanan indihome.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *