Siapa yang diserahi mengurus dunia? Itu adalah manusia.
Siapa manusia? Dia makhluk tersempurna penciptaanya baik fisik maupun kesadarannya sehingga disebut ahsani taqwîm (Q.S. At-Tîn : 4), juga makhluk paling unggul sehingga disebut al-a’laun (Q.S. Muhammad : 35).
Namun sisi lain manusia bisa terguling ke level terendah bisa lebih rendah dari binatang dan debu hingga disebut asfala sâfilîn (Q.S. At-Tîn : 5), makhluk zalim dan jahil (Q.S. Al-Ahzab : 72), makhluk lemah (Q.S. An-Nisa : 28), kikir dan suka mengeluh (Q.S. Al-Ma’ârij : 19 – 21). Dengan begitu boleh lah manusia disebut bagian dari makhluk jahat.
Coba saja Anda lacak kebaikan manusia yang tidak memanfaatkan keburukan. Guru itu baik dan mulia, namun mereka bermanfaat lantaran kebodohan manusia. Dokter itu baik dan mulia, namun mereka bermanfaat lantaran sakitnya manusia. Bengkel itu baik dan mulia, namun mereka bermanfaat lantaran rusaknya kendaraan Anda. Dan seterusnya.
Kemanfaatan manusia lantaran ada makhluk lain yang terima eburukan. Anda menjadi dermawan yang banyak berbagi itu pertanda banyak makhluk lain yang mendapat keburukan kemiskinan. Anda menjadi pengasuh anak yatim yang amanah itu pertanda banyak anak manusia yang dapatkan keburukan
kehilangan orang tuanya.
Kalau manusia peroleh kebaikan lantaran baiknya manusia justru yang dihasilkan adalah penyakit masyarakat. Pencuri berbuat jahat lantaran Anda punya kebaikan berupa harta.
Pengemis yang minta-minta merajalela lantaran Anda punya kebaikan memberi. Koruptor mencuci uang negara lantaran negara memberi kebaikan mengangkat mereka sebagai pegawai.
Kebaikan yang didapat manusia ujung-ujungnya adalah hasil memanfaatkan keburukan yang diterima orang lain. Dan keburukan yang diterima manusia adalah hasil memanfaatkan kebaikan orang lain. Ruwet, kan?
Manusia itu peroleh manfaat karena keburukan, peroleh keburukan karena kebaikan. Ibn Athaillah dalam kitab Al-Hikám menyebutkan, manusia itu bagusnya saja jelek, apalagi jeleknya. Ibn Athaillah berkata;
إِلَهِيْ مَنْ كَانَتْ مَحَاسِنُهُ مَسَاوِيَ فَكَيْفَ لَا تَكُوْنُ مَسَاوِيْهِ مَسَاوِيَ
“Tuhanku, manusia yang bagusnya saja jelek, bagaimana jeleknya tidak menjadi kejelekan?”Sila
kan Anda ulik-ulik kebaikan manusia yang tidak berdimensi keburukan. Tidak ada.
Karena itu selagi mental Anda masih mau urus dengan pandangan manusia, Anda hanya akan temukan patah hati.
Lah iya, Tuhan saja selalu ada manusia yang mengkritik dan mengolok. Dengan baik hati Tuhan turunkan hujan, manusia yang sedang berkepentingan jemur padi, tidak terima dan mengolok-olok.
Tuhan dengan baik hati turunkan panas, manusia yang di tengah sawah mengolok-olok kepanasan. Tuhan dengan baik hati turunkan rezeki, manusia yang merasa kekurangan mengolok-oloknya.
Itu Tuhan. Tuhan saja tidak pernah pas di mata banyak manusia. Apalagi Anda?
Sebab ini terlalu urus dengan pandangan manusia, Anda selamanya menjadi pesakitan patah hati.
Hikmah sufi berkata;
كُلُّنَا اَشْخَاصٌ عَادِيٌّ فِي نَظْرِ مَنْ لاَ يَعْرِفُنَا
“Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang
yang tidak mengenal kita.”
وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا
“Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.”
وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا
“Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.”
وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا
“Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian.”
وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا
“Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri atas kita.”
لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ
“Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah melelahlan dirimu agar tampak baik di mata orang lain.”
Nah, kan? Lelah sendiri berurusan dengan manusia. Jadi
sudahlah, ayo latihan bodo amat.
Hikmah sufi di atas melanjutkan;
يَكْفِيْكَ رِضَا اللّٰهُ عَنْكَ ، رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَك
“Cukuplah dengan ridha Allah bagimu, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang tak kan pernah tergapai.”
وَرِضَا اللّٰهُ غَايَةٌ لاَ تُتْرَك ، فَاتْرُكْ مَا لاَ يُدْرَكْ ، وَاَدْرِكْ مَا لاَ يُتْرَكْ
“Sedangkan Ridha Allah, capaian yang pasti sampai, maka tinggalkan segala apa yang tak pernah bisa tercapai, dan gapailah apa yang tak pernah tertinggal.”
Begini, saat bertanding, pemain badminton itu bodo amat dengan penonton, mereka tidak mau peduli lagi dengan hiruk-pikuk supporter sendiri juga supporter lawan, mereka hanya fokus dengan permainan badmintonnya, namun saat itulah justru pemain badminton menjadi sangat menarik di hati para penonton.
Hanya fokus dengan permainannya sendiri sehingga bodoh amat dengan penonton, itu kunci bagaimana pemain badminton menarik di hati manusia. Fokus itu artinya “nyawiji” atau manunggal. Dan Maha Tunggal itu adalah sifat khas Tuhan; Esa tidak ada yang menyekutukan.
Andai pemain badminton urus dengan dengan hiruk-pikuk penonton smhingga tidak fokus lagi dengan permainannya, ya malah penonton bubar.
Sehingga ketika Anda hanya fokus kepada permainan Anda, dan menjadi bodo amat dengan manusia itulah yang disebut mencukupi diri hanya untuk menggapai ridha Tuhan.
Tinja saja diciptakan ada fans dan hatters-nya, artinya ada pecinta dan pembencinya. Tinja sangat dicintai lalat dan sangat dibenci oleh Anda. Begitu pula diri Anda, diberi jatah peroleh orang-orang yang mencintai Anda sekaligus diberi jatah orang-orang yang benci.
Keberuntungan dan penghargaan juga begitu. Ada wilayah dimana Anda dihargai sehingga Anda diperkenankan berkembang, namun ada wilayah dimana Anda direndahkan sehingga Anda dipersilakan buntung-buntung.
Ada yang buka toko dia bangkrut, dia buka dagangan online laris manis. Ada yang di desa ilmunya ditolak masyarakat, di perkotaan diterima baik. Ada yang posting satu konten medsos saja tidak ada yang like, namun dimudahkan diangkat PNS.
Ada yang ditolak mentah-mentah lamaran pekerjaannya, dimudahkan peroleh jodoh orang shalih. Ada yang sekolahnya bodoh dan bebal, dia gilang-gemilang di karir olah raga. Ada yang berkiprah di ilmu, dia tidak laku, berkiprah di politik, dia laris manis.
Setiap diri Anda punya wilayah dimana Anda dihargai sehingga Anda bisa berkembang disana, namun setiap Anda juga punya wilayah dimana Anda disia-sia sehingga Anda disampahkan disana.
Nah untuk berkecukupan di dalam menggapai ridha Tuhan, fokus dan nyawiji lah di wilayah dimana Anda dihargai, itulah wilayah dimana Anda diberi peluang untuk berkembang, itulah titik dimana Anda untuk hanya fokus dalam permainan Anda sendiri tanpa pedulikan orang lain.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply