Kalau Anda menuntut, diri Anda auto dituntut sehingga setiap tuntutan kepada orang lain itu adalah tuntutan kepada diri sendiri.
Anda menuntut karyawan untuk selesaikan kerjaan bisnis, di situ Anda dituntut untuk bayar si karyawan. Demikian pula karyawan menuntut uang Anda, dia pun dituntut untuk serahkan jerih payah kerjanya untuk keuntungan Anda.
Hasilnya adalah ketika Anda menuntut kepada orang lain, hakikatnya Anda sedang menuntut diri Anda sendiri, setiap tuntutan kepada orang lain itu sebenarnya tuntutan kepada diri sendiri.
Ketika seorang bos menuntut karyawanya untuk disiplin kerja, untuk wujudkan semua prioritasnya, di situ si bos sedang menuntut dirinya sendiri untuk konsisten membayar sebuah konsekuensi. Bila lengah dangan tuntutan konsekuensi yang harus dibayarkan kepada karyawan yang terlahir adalah kemiskinan.
Demikian pula karyawan yang menuntut bayaran kepada bos, karena ketika menuntut orang lain hakikatnya sedang menuntut dirinya sendiri untuk ambil suatu konsekuensi. Bila si karyawan lengah, di situlah awal mula lahirnya kemiskinan.
Ingat! Anda menuntut orang lain, diri Anda sendiri yang sedang dituntut.
Suami menuntut ini dan itu kepada istri. Lah istri mau belanja beras saja suami tidak dapat penuhi, kok menuntut istrinya qurratu ‘ain (penentram hati suami), apa ketemu logika? Karena itu menuntut istri agar shalihah butuh konsekuensi bayaran tinggi. Modal apa-apa enggak, anak istri kelaparan, kok mencak-mencak agar anak istrinya taat, itu kan error.
Demikian pula istri, kerjaannya kalau dikasih nafkah duitnya disimpan sendiri, nanti ada kebutuhan keluarga tidak ada tenggang rasanya dengan suami, apa-apa suami yang harus berkorban dan terambil, istri begitu kok menunut suaminya shalih, ya error kuadrat lagi.
Jadi segala hal yang Anda tuntut dari orang lain, di situ Anda sedang menuntut kepada diri sendiri untuk keluarkan energi konsekuensi yang sama besar. Ketika Anda tidak sanggup membayar konsekuensinya, di situlah awal mula kemiskinan.
Karena itu kaya adalah kualitas Anda terputus dari kepentingan kepada orang lain, seperti nasehat Imam Ali bin Abi Thalib;
اَلْغِنَى اَلْأَكْبَرُ اَلْيَأْسُ عَمَّا فِي أَيْدِي اَلنَّاسِ
“Kekayaan besar adalah keterputusan dari sesuatu yang ada di tangan manusia.”
Anda menuntut sesuatu, mau tidak mau Anda harus tunduk dan terikat. Anda menuntut gaji, mau tidak mau Anda harus terikat dan tunduk kepada aturan main profesi kerja.
Ingat! Segala hal yang Anda tuntut dari orang lain, di situ Anda sedang menuntut kepada diri sendiri untuk keluarkan energi konsekuensi yang sama besar. Ketika Anda tidak sanggup membayar konsekuensinya, di situlah awal mula kemiskinan. Jadi kalau mau menuntut agar istri shalihah supaya tidak menarik kemiskinan suami maka penuhi dulu apa yang jadi kewajiban suami kepada istri yakni kecukupan lahir batinnya.
Nah kaya itu adalah kemampuan tahu batas diri dalam menuntut. Munculanya sikap menuntut tentu karena ada kepentingan, kebutuhan dan keinginan. Namun segala tuntutan akan menuntut tagihan bayaran yang sebanding nilainya, bila Anda tidak tahu batas kemampuan membayarnya, maka tuntutan Anda atas kepentingan, kebutuhan dan keinginan akan menjadi kemiskinan.
Tidak semua yang Anda ingini harus Anda kejar dan raih, banyak yang harus Anda tanggalkan. Cukup raih dan perjuangkan apa yang diprioritaskan.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply