Orang mendaki dan menuruni itu energinya sebanding dengan menapaki jalan rata. Naik turun sama dengan rata. Iya Anda susah-susah keluarkan energi kuat untuk naik, nanti pasti akan dibayar dengan ringannya energi menuruni. 

Ketika naik jalan gunung, motor Anda mesinnya mengerang keras begitu berat, tetapi nanti akan dibayar lunas saat menuruni, mesin motor dimatikan pun tidak masalah, tetap jalan lancar saat menuruni.

Beratnya energi naik itu dibayar lunas dengan energi ringannya turun, kan itu sama rata dengan orang yang tidak naik dan tidak turun yang tetap jalan di jalan rata? 

Berjalan di jalan rata tidak pernah membayar dengan energi berat saat naik, dia pun tidak pernah menerima hadiah energi ringannya menuruni. Naik dan turun itu sama rata.

Hanya bedanya pada sensasi dan value, orang yang mendaki lalu turun sensasi dan value perjalanannya jauh lebih mendalam, pemaknaannya akan sebuah nilai jauh lebih tinggi daripada orang yang berjalan di jalan yang rata.

Jiwa yang menerima value hidup itu tidak dapat menikmati kemudahan, maksudnya jiwa itu sangat buta rasa terhadap kemudahan, jiwa kesusahan untuk memaknai kemudahan.

Anda sering dengar, harta yang didapatkan dengan mencuri, harta tersebut tidak ada bekasnya, mudah habis, tidak tahu entah untuk apa. Ini karena mencuri itu cara mudah mendapatkan harta. Karena mudah, jiwa si pencuri tidak bisa mengenali kegunaan harta, dapatnya mudah, bubarnya juga mudah.

Uang hasil judi juga konon begitu. Itu karena dapat duit hanya modal pasang nasib undian, paling mentok bermain spekulasi, lalu menunggu nomor keberuntungan sambil duduk manis dan mengkhayal-khayal. Padahal di sawah-sawah para petani sampai menghitam kulitnya kepanasan karena kerja untuk dapat uang.

Dan banyak juga kan selebritis yang tiba-tiba viral, tiba-tiba pula menghilang? Dulu heboh ada seleb dadakan Citayam Fashion Week yang tiba-tiba moncer, lah seketika pula seleb-seleb tersebut lenyap ditelan waktu. Sekejap moncer, sekejap pula lenyap.

Beda dengan seleb yang bangun karir dengan cita-cita dan konsistensi tinggi, sebut lah Agnes Mo, Putri Ariani, Deddy Corbuzier, mereka dengan jerih payah tinggi meraih impian, dan hasilnya mereka pun awet bertahan di papan nama seleb terkenal.

Hal-hal tersebut terjadi karena ketika segala sesuatu mudah mendapatkan, jiwa tidak dapat memaknai, jiwa bingung untuk menerjemahkan ke dalam “makna atau meaning” alias “tidak ada artinya“, susah menembus dimensi wisdom, sebab kemudahan itu yang bisa menikmati hanya “raga“. Dapat duit, bisa beli bakso, beli ini, beli itu, hanya raganya yang kenyang, sementara jiwanya sendiri sama sekali tidak bisa menikmati.

Kenikmatan yang bisa dirasakan jiwa itu apabila segala sesuatu yang didapatkan, jiwa Anda sanggup memaknai. Seperti kisah tukang becak naik haji yang susah payah menabung sehari 10 ribu selama 59 tahun untuk bisa berangkat haji. Ketika pedih dan prihatin, jiwa itu hidup, jiwa berkembang, jiwa menemukan  makna.

Karena ini orang sukses juga orang yang banyak menceritakan penderitaannya di masa lalu. Namun cerita derita masa lalunya tidak Anda tertangkap sebagai “keluhan” tapi terasa “indah” didengarkan. Begitulah jiwa yang bermakna.

Surga pun hanya bisa dimodali dengan hidupnya jiwa, yakni melalui jerih payah dan konsistensi, tidak dimodali dengan hidupnya raga, yakni kemudahan dan kesenangan.


حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

Surga itu diliputi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka itu diliputi hal-hal yang menyenangkan.” (H.R. Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

Apa artinya hidup ini harus menderita untuk peroleh surga, peroleh keberlimpahan? Ya tidak. Artinya harus ada jerih payah dan kepayahan untuk membeli surga, untuk peroleh keberlimpahan. Dan hampir tidak ada jerih payah dan susah payah yang menyenangkan.

Jadi begitulah arti sebuah kesulitan. Kesulitan itu dihadirkan Tuhan agar jiwa Anda hidup. Dengan kesulitan-kesulitan, jiwa Anda mencecap value atau makna. Kesulitan itu nilai beli yang tinggi. Perolehan yang diperoleh tanpa laluan kesulitan cenderung mudah lenyap. Mudah moncer, mudah sirna. Mudah
peroleh, mudah lenyap.

Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *