MEI 2023

MEI 2023

BELANJA GETARAN

Kalau Anda beli benda, getaran dari sebuah benda material itu hanya getaran gravitasi. Sementara gravitasi sendiri merupakan gaya fundamental alam semesta yang paling lemah.   Satu tembakan tank baja dengan peluru timah paling hanya hancurkan satu gedung itupun dengan durasi waktu lama. Itu karena tank baja hanya satu benda material yang gaya fundamentalnya sebatas keluarkan gaya gravitasi lemah.   Beda dengan gaya nuklir yang berada pada inti atom maha mini, yang kekuatannya 6 ribu triliun triliun triliun (39 nol setelah angka 6) kali lebih kuat dari gaya gravitasi. Sehingga partikel alam semesta itu makin mini, kekuatannya makin dahsyat. Satu bom nuklir, jangankan satu gedung, satu pulau Jawa bisa luluh lantak semua.   Anda belanja, jika kesadaran Anda hanya beli benda materi, daya getarannya akan sangat lemah yang dampaknya hanya akan mengubah isi perut Anda saja. Beli bakso, sementara kesadaran Anda hanya beli makanan pengisi perut, di situ belanja Anda hanya mampu bergetar di energi gravitasi, hasil perubahannya hanya lapar menjadi kenyang.   Sama seperti ayam, ia mengonsumsi dedak hanya dengan kesadaran konsumsi benda materi, hasilnya ya ayam hanya bertumbuh secara fisik, sementara nasib ayam itu-itu saja tidak kemudian jadi kaya raya.   Masuk akal, tidak? Orang yang sudah bisa travelling luar negeri, duitnya makin hari makin gaek ketimbang orang yang travellingnya hanya di dalam negeri, padahal diukur dengan marketing ekonomi, yang travelling luar negeri jauh lebih boros.   Terus pertukaran energi yang dibeli dari travelling itu apa? Kalau beli tanah, wujud bendanya kelihatan wujud tanah, beli mobil, kelihatan wujud mobil, lah beli travelling wujud apa? Mereka hanya beli pengalaman, pemanjaan mata, dan rasa rileks. Namun kekayaan orang yang senang travelling ke luar negeri ya makin meningkat, tidak jauh beda dengan yang beli sawah.   Itu karena mereka yang travelling ke luar negeri sebenarnya belanja getaran kaya alam semesta, karena jelas jalan-jalan luar negeri itu hanya dimampukan bagi yang berduit. Tidak hanya itu saja mereka juga belanja getaran gaya metropolis, modern, berpendidikan, dan lain sebagainya.   Kadang ada orang suka belanja yang mewah-mewah, eeh makin terjatuh finansialnya itu karena kesadarannya hanya membeli getaran bendawi belaka, ia tidak bisa masuk ke pembelian getaran yang lebih detail dan mini lagi. Asal dia senang dan berhasrat, ia beli. Ia tidak berpikir apakah getaran kayanya terbeli atau tidak.   Ia cuma turuti nafsu belanjanya, turuti gaya hidupnya dengan belanja, sementara jiwanya hanya memahami “asal nafsu dan gengsi senang”.   Belanja getaran kaya inilah yang punya kekuatan besar mengubah keadaan finansial Anda. Ciri Anda berhasil membeli getaran kaya itu munculnya rasa punya dan rasa kaya di dalam hati disebabkan belanja Anda.   Nah orang bisa temukan getaran rasa punya dan kaya itu beda-beda. Ada yang dengan punya sawah luas, dia merasa kaya. Punya tabungan banyak, dia merasa kaya. Menjadi dermawan, dia merasa kaya. Beli barang antik, dia merasa kaya. Travelling ke luar negeri, dia merasa kaya.   Bahkan ada juga dengan miliki iphone mewah dan alat-alat elektronik mahal lalu mereka temukan getaran rasa kaya. Macam-macam dan beda-beda di setiap orangnya. Jadi kenali diri Anda dimana Anda temukan rasa kaya setelah membeli sesuatu.   Getaran rasa kaya itulah yang mahal harganya. Kalau Anda hanya beli benda materi namun tidak punya sensasi apapun untuk bangkitkan kesadaran kaya Anda, ya yang begitu itu yang jadinya Anda hanya getarkan efek gaya gravitasi benda dimana hal itu ayam juga dimampukan.   Jadi belanjalah untuk merasa kaya, belanja untuk beli getaran kaya, jangan belanja hanya untuk mengonsumsi kebutuhan Anda atas benda.   Jadi di balik belanja Anda sebenarnya Anda sedang beli getaran-getaran energi alam semesta, makin mini getaran yang bisa Anda beli, di situ belanja Anda makin berdaya dahsyat untuk menggetarkan perubahan dalam hidup, sebab di alam semesta ini segala perubahan materi dimulai dari getaran-getaran energi. Sebenarnya yang Anda beli bukan benda semata, tapi getaran.   Nah yang repot sekali itu jika Anda belanja tapi untuk beli getaran miskin.   Belanja untuk beli getaran miskin itu seperti, “Aku ga punya duit, beli ini saja lah yang murah.”   Kalau Anda belanja kok muncul getaran rasa miskin, rasa berkurang, ya sebaiknya jangan belanja dulu, tunggu situasi hati mendukung untuk menggetarkan rasa kaya. Kecuali dalam keadaan darurat, seperti sakit harus rawat inap di rumah sakit, itu beda.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

WARISAN ENERGI BEJAT

Majapahit adalah imperium besar yang punya cita-cita dan impian satukan nusantara. Puncaknya di masa kekuasaan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.   Anda tahu, satukan nusantara itu cita-citanya siapa? Itu cita-cita Prabu Kertanegara di Kerajaan Singhasari. Kertanegara punya cita-cita besar satukan nusantara, namun ia wafat dan kerajaan Singhasari runtuh di masa kekuasaannya. Menantunya, Raden Wijaya, kemudian mendirikan Majapahit sebagai pewaris kekuasaan Singhasari.   Jadi Majapahit hanya terima warisan cita-cita satukan nusantara, pencetus impiaannya adalah Kertanegara. Cita-cita dan impian diwariskan.   Uni Soviet runtuh. Berdirilah Federasi Rusia. Sekarang musuh-musuh Rusia adalah musuh Uni Soviet. AS dan NATO sebagai musuh Rusia semata-mata musuh warisan Uni Soviet. Musuh pun diwariskan.   Stroke, jantung, diabetes, eksim kulit, penyakit diwariskan.   Anak-anak yang suka begadang malam bangunnya siang, atau anak-anak yang jam 20.00 sudah ngantukan, biasanya memang warisan pola tidur orang tuanya. Pola tidur saja diwariskan.   Nabi Isa A.S begitu lahir punya mukjizat bisa bicara. Bayi merah bisa apa, kok keluar keramat? Itu warisan dari kesucian Maryam, wanita suci yang konsisten mendekat kepada Tuhan. Keramat pun diwariskan.   Menjadi sangat adil bila anak lelaki mendapat bagian warisan 2 kali lipat dari anak perempuan, karena andai warisan tersebut sebuah masalah, sebuah tanggung jawab, sebuah fitnah, maka yang paling berperan menerima masalah tersebut untuk dihadapi dan diselesaikan adalah anak laki-laki.   Jadi bukan cuma harta dan hutang yang diwariskan kepada anak, masalah, musuh, cita-cita, minat, termasuk karma diwariskan. Semua energi yang ada pada Anda saat ini akan diwariskan semua kepada anak.   Saya hanya niteni atau mengamati saja, orang-orang yang tidak mengenal mengalah dalam hidupnya, maunya menang sendiri terus, anak-anaknya cenderung biasa-biasa saja prestasi hidupnya.   Iya. Orang yang sedikit-sedikit melabrak, kalau sedang benci sangat bengis, tidak mau kalah, alot kalau bermusuhan, sedikit tersinggung tidak tanggung-tanggung ngamuknya, anak-anaknya cenderung biasa-biasa saja hidupnya, tidak ada dari anak-anaknya yang punya prestasi menonjol.   Itu disebabkan energi kemenonjolan dan kemenangan sudah dipakai semua oleh orang tuanya. Karena energi menangnya telah dipakai semua oleh ortunya, warisan energi kemenangan untuk anak sudah tidak ada. Ibarat uang sudah habis, anaknya mau pakai sudah tidak tersisa uang.   Tidak mau mengalah dan kadang harus egois itu sangat penting bagi Anda, fungsi utamanya untuk jaga harga diri sehingga orang lain tidak sembrono meremehkan Anda.   Namun jika ketidakmauan mengalah itu di sebuah masalah, segala hal diselesaikan dengan sikap tegas tanpa kompromi, ya berabe. Akibatnya energi menangnya hanya dipakai oleh Anda semua, anak-anak Anda diwarisi apa?   Karena itu Anda perlu cerdas, kapan mengalah, kapan harus egois untuk menang. Masalah-masalah yang masih bisa diselesaikan dengan mengalah, ya lebih baik mengalah. Jika sudah mengalah masih disembrononi, menjauh dulu. Sudah menjauh masih saja direcoki, baru mengamuk. Ngalah, ngalih, ngamuk.   Jadi hematlah menggunakan energi menang, agar anak-anak Anda punya peluang besar jadi pemenang.   Saya sendiri di saat harus mengalah, saya transfer energi menangnya untuk anak-cucu saya. Caranya menransfer ya dengan niat agar kekuatan menangnya kelak untuk anak.   Selalu mengalah juga identik dengan lemah. Orang lemah kerap jadi kerap diperdaya dan dimanfaatkan orang tanpa dihargai. Karena itu mengalah secukupnya, cari menang juga secukupnya.   Nah yang paling mematikan energi kebaikan untuk anak itu energi rakus dan serakah. Rakus itu bukan cuma cari menang sendiri, namun kadang cari menangnya hingga dengan cara-cara culas dan memperdaya demi memenangkan kepentingannya sendiri.   Ada kisah nyata, ada 2 adik lelaki yang punya kakak lelaki sukses dan kaya. Kakaknya meninggal di usia muda dengan tinggalkan seorang istri dengan 3 anak yatim. Anak sulung kakaknya masih kelas 6 SD.   Dua adik lelaki tersebut memperdaya janda kakaknya dan anak-anaknya. Awalnya beralasan minta hak warisan kakak, namun makin jauh sertifikat tanah-tanahnya, sertifikat rumah, BPKB, semua direbut dengan teror dan ancaman.   Janda kakaknya hanya bisa ketakutan, maklum ia hanya seorang perempuan dengan 3 anak yatim.   Sertifikat rumah bisa dipertahankan, namun sertifikat tanah-tanahnya di kampung halaman suami raib semua. Ia bisa pertahankan rumah dan mobil, namun ancaman dan teror dari adik-adiknya terus menghinggapi.   Dan anehnya, setelah lewat 25 tahun kemudian. Anak-anak dari kedua adiknya rata-rata jadi orang gila semua. Yang tidak gila, sangat miskin, tidak berpendidikan, hidup berantakan semrawut. Ya begitu warisan energi rakus.   Anda kerap kan lihat anak-anak raja yang otaknya playboy sejak kecil, kasusnya melecehkan wanita, otaknya cabul dan mesum, isi otaknya seperti tidak penuh. Itu karena karakter raja memang karakter enggan kalah, minat berkuasaanya besar, ketika si raja terjebak dalam obsesi kekuasaan, ia tidak sadar kerap memperdaya musuh politiknya. Hasilnya putra mahkotanya jadi cabul, otak si anak seperti tidak genap.   Nah Anda kaget ya, kadang ada anak tokoh agama, entah ulama, entah pendeta, kok otaknya cabul, ya kurang lebih begitu, pasti ada peran rakus orang tuanya kepada sesamanya.   Energi rakus itu energi bejat. Ketika energi bejat diwariskan kepada anak, ya anaknya jadi orang bejat, tidak peduli apapun peran orang tuanya, sekalipun ulama atau pendeta.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

AWAL MULA MISKIN ITU DERAJAT TERIMA KASIH YANG TAK TERBAYAR

Ada seorang keponakan jadi karyawan pamannya. Sehari-hari ia kuli di toko bangunan pamannya. Karena keponakan, dan rumah aslinya jauh, si keponakan tinggal di rumah paman. Ia dapat gaji normal sebagaimana karyawan lainnya, namun karena keponakan sendiri dan tinggal di rumahnya, tentu si paman kerap beri tambahan rezeki plus, ya setengah dianggap anak sendiri.   Tahu diperlakukan seperti anak sendiri, ditambah makan dan tempat tinggal sudah ditanggung pamannya, walaupun gaji sebagai karyawan tetap berjalan, si keponakan tidak mau bertopang tangan sebagai penerima layanan gratis. Di luar jam kerjanya sebagai karyawan, ia berusaha keras bantu urusan rumah tangga paman.   Dari cuci piring, kadang jadi sopir, kadang bantu masak, kadang bantu ngemongin anak kecil pamannya, menurut dengan perintah pamannya, dan lainnya. Yang jelas si keponakan berusaha sebaik mungkin melayani si paman dan keluarganya.   Capek, letih, tidak enak hati, gembira, cocok, senang, keberuntungan, tersinggung, marah, dilewati semuanya oleh si keponakan dengan sabar dan tawakal. Ya namanya saja hidup tidak di rumah orang tua sendiri, sebaik apapun perlakuan baik si paman dan keluarganya, ia tetap tidak bisa seleluasa di rumahnya sendiri.   Sesudah si keponakan menikah, ia mulai jualkan dagangan bahan bangunan milik pamannya, ia latihan dagang mandiri. Lambat laun toko bangunan yang ia dirikan berkembang.   Sesudah pamannya menua, si keponakan sudah menjadi juragan, persis seperti pamannya.   Kemiskinan itu selalu diawali dari ketidakmampuan membayar, Anda tidak punya tanah karena Anda tidak mampu membayar harganya. Sebaliknya kekayaan selalu diawali kemampuan membayar, Anda punya mobil karena Anda mampu membayarnya.   Sistem pembayaran tidak selamanya dengan uang, bisa dengan jerih payah, doa, tenaga, pikiran, hingga kesabaran hati itu adalah sistem pembayaran. Asisten rumah tangga digaji uang oleh majikan, ia membayarnya dengan tenaga dan pengabdian. Kyai diamplopi uang oleh santrinya, ia membayarnya dengan doa dan jasa mendidik santri.   PNS dibayar oleh negara, ia membayarnya dengan pikiran, tenaga dan pengabdian. Istri dapatkan nafkah dari suami, ia membayarnya dengan layanan ranjang dan mengurusi rumah tangga.   Segala hal menagih bayaran, itulah sistem hidup di alam semesta ini, sehingga mekanisme kepemilikan kekayaan adalah kemampuan membayar. Maka sebego-begonya orang adalah orang yang berpikir ingin kaya dan rezeki deras dengan dapatkan gratisan, subsidian dan bantuan sosial.   Lah iya, kaum dhuafa yang dapatkan bantuan sosial dari pemerintah saja tidak terasa ya mereka harus membayar dengan hati, sebab emang enak dilabeli “masyarakat miskin” dalam status sosial? Label “masyarakat miskin” itu makan hati sekali loh. Judulnya saja bantuan gratis, mekanisme alam semesta di baliknya tetap menagih bayaran dengan caranya sendiri.   Si keponakan dengan konsisten dan istiqamah melayani si paman dan keluarganya, itu artinya si keponakan sedang membayar layanan pertolongan yang diberikan oleh pamannya dengan jerih payah dan pengabdian.   Andai si keponakan kerjaannya “ongkang-ongkang” sementara pamannya terus transfer kebaikan dan pertolongan kepadanya, maka kedudukan si keponakan berada di “derajat terima kasih” telah dibantu.   Anda kalau sudah diberi oleh orang lain maka Anda berada di derajat terima kasih. Ketika berada di derajat terima kasih, Anda tidak akan pernah mampu berkuasa penuh untuk kendalikan orang lain. Contoh, Anda baru saja diberi sumbangan, dan kebetulan Anda sangat membutuhkan sumbangan tersebut.   Lantas Anda tersinggung dengan si pemberi sumbangan, di situ apa Anda berani melabrak dan marah-marah kepada si penyumbang? Anda tidak bisa berbuat banyak karena Anda terbeli. Satu-satunya jalan Anda harus membayarnya dengan hati yakni sabar.   Nah orang yang tidak mampu bayar itu berada di “derajat terima kasih”; level matur nuwun. Sementara kekayaan itu selalu ditandai kemampuan membayar karena dari kemampuan membayar itulah proses untuk lepas dari jeratan derajat terima kasih.   Si keponakan mengabdi dengan jerih payah kepada pamannya itu adalah proses bagaimana ia membayar semua kebaikan pamannya, sehingga derajat si keponakan lama kelamaan keluar dari derajat terima kasih, hasil unduhannya setelah ia merangkak dirikan toko bahan bangunan sendiri, ia pun menjadi kaya, sebab kaya itu selalu diawali dari kemampuan membayar.   Nah tulisan ini adalah resep bagaimana Anda memulai kekayaan. Mengabdilah pada profesi Anda masing-masing sebagai bentuk pembayaran kepada kekayaan.   Dulu pun saya mengawali kebaikan rezeki dengan mengabdi, tidak begitu saja saya ongkang-ongkang lantas rezeki saya membludak.   Di pesantren, saya tahunan mengajar santri mertua, padahal sistem pesantren tidak ada sistem gaji. Tapi saya ngajar ngaji terus dengan konsisten. Hasilnya bisnis-bisnis saya berkembang semua, padahal saya tidak urus-urus amat mengembangkannya.   Hal itu terjadi karena ketika saya mengabdi mengajar ngaji santri mertua, saya sedang membayar, sedang berusaha lepas dari derajat terima kasih.   Di bisnis pemberdayaan diri juga begitu. Sebelum saya menikmati rezeki dari kelas training pemberdayaan diri, saya mengabdi lama kepada publik di medsos dengan aktif menjadi writing content di Facebook.   Saat saya berkarya di konten tulisan itulah proses saya membayar kepada publik. Semua hasil dari unggahan bayaran adalah kekayaan.   Jadi Anda yang mungkin saat ini berada di titik nol untuk membuka kekayaan, mulailah dari titik pembayaran “mengabdi”.   Metode ini saya terapkan kepada santri-santri dan keponakan saya. Mereka yang bilang ingin kaya, selalu saya wajibkan untuk jadi asisten saya minimal 3 tahun. Santri juga demikian, saya wajibkan khidmah melayani saya minimal 3 tahun. Karena dengan khidmah atau mengabdi itulah proses bagaimana membayar kekayaan ke alam semesta.   Kaya adalah keluar dari derajat terima kasih dan untuk keluar dari derajat terima kasih harus bisa dan berani membayar.   شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَ عِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ   “Kemuliaan seorang mukmin adalah bangun malamnya, dan keluhurannya adalah semugihnya (ketidakketergantungannya) dengan manusia.” (H.R. Thabrani)   Sebab itu, kaya sesungguhnya adalah kemampuan “tidak butuh” kepada sesama manusia, sebab rasa butuh bantuan itulah yang menuntut terima kasih. Dan dengan membayar itu artinya Anda sedang berproses untuk membelinya. Segala yang telah Anda beli itulah kekayaan milik Anda.   Imam Ali bin Abi Thalib berkata,   الغِنَى الأَكْبَرُ اليَأسُ عَمَّا فِي أَيْدِي النّاس   “Kekayaan besar adalah terputus dari apa yang ada di tangan manusia.”   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

HARMONI FINANSIAL TETAP BUTUH ENERGI MISKIN

Kalau Anda menuntut, diri Anda auto dituntut sehingga setiap tuntutan kepada orang lain itu adalah tuntutan kepada diri sendiri.   Anda menuntut karyawan untuk selesaikan kerjaan bisnis, di situ Anda dituntut untuk bayar si karyawan. Demikian pula karyawan menuntut uang Anda, dia pun dituntut untuk serahkan jerih payahnya kerja untuk keuntungan Anda.   Hasilnya adalah ketika Anda menuntut kepada orang lain, hakikatnya Anda sedang menuntut diri Anda sendiri, setiap tuntutan kepada orang lain itu sebenarnya tuntutan kepada diri sendiri.   Jadi hati-hati ketika seorang bos menuntut karyawanya untuk disiplin kerja, untuk wujudkan semua prioritasnya, karena di situ si bos sedang menuntut dirinya sendiri untuk konsisten membayar sebuah konsekuensi. Bila lengah dangan tuntutan konsekuensi yang harus dibayar kepada karyawan yang terlahir adalah kemiskinan.   Demikian pula hati-hati karyawan yang menunut kenaikan bayaran kepada si bos, karena ketika menuntut orang lain hakikatnya sedang menuntut dirinya sendiri untuk ambil suatu konsekuensi. Bila si karyawan lengah, di situlah awal mula lahirnya kemiskinan.   Ingat! Anda menuntut orang lain, diri Anda sendiri yang sedang dituntut.   Kadang ada orang tua yang menuntut anaknya berprestasi, menuntut anaknya taat, menuntut anaknya menurut, di situ si ortu harus sadar bahwa di balik tuntutan itu ada konsekuensi besar sedang menuntut dirinya sendiri. Makin besar tuntutan, akan menagih konsekuensi bayaran lebih besar.   Anak kerjaannya cuma dijewer-jewer, dibentak-bentak, tidak pernah diperjuangkan masa depannya, kok orang tuanya menunut agar anaknya berbakti, ya tidak ketemu logika.   Demikian pula anak yang menuntut kepada orang tuanya dengan permintaan ini dan itu juga berlaku mekanisme hukum yang sama.   Dan ini yang kerap terjadi, suami menuntut ini dan itu kepada istri. Lah istri mau belanja beras saja suami tidak dapat penuhi, kok menuntut istrinya qurratu ‘ain (penentram hati suami), apa ketemu logika?   Karena itu menunut istri agar shalihah butuh konsekuensi bayaran tinggi. Modal apa-apa enggak, anak istri kelaparan, kok mencak-mencak agar anak istrinya taat, ya go8lok kuadrat.   Demikian pula istri, kerjaannya kalau dikasih nafkah duitnya disimpan sendiri, nanti ada kebutuhan keluarga tidak ada tenggang rasanya dengan suami, apa-apa suami yang harus berkorban dan terambil, istri begitu kok menunut suaminya shalih, ya go8lok kuadrat lagi.   Jadi segala hal yang Anda tuntut dari orang lain, di situ Anda sedang menuntut kepada diri sendiri untuk keluarkan energi konsekuensi yang sama besar. Ketika Anda tidak sanggup membayar konsekuensinya, di situlah awal mula kemiskinan.   Karena itu kaya adalah kualitas Anda terputus dari kepentingan kepada orang lain, seperti nasehat Imam Ali bin Abi Thalib;   اَلْغِنَى اَلْأَكْبَرُ اَلْيَأْسُ عَمَّا فِي أَيْدِي اَلنَّاسِ   “Kekayaan besar adalah keterputusan dari sesuatu yang ada di tangan manusia.”   Imam Ali juga berkata,   خَيرُ الغِنَى تَركُ السُؤالِ ، وَشَرُّ الفَقرِ لُزُومُ الخُضُوعِ   “Sebaik-baik kekayaan adalah meninggalkan meminta (menuntut), dan sejelek-jelek kefakiran adalah menetapi ketertundukan (diperbudak)”.   Anda menuntut sesuatu, mau tidak mau Anda harus tunduk dan terikat. Anda menuntut gaji, mau tidak mau Anda harus terikat dan tunduk kepada aturan main profesi kerja.   Mekanisme tuntut menuntut ini juga berlaku di dalam diri sendiri. Anda punya keinginan jadi sarjana, di situ Anda sedang menuntut diri Anda sendiri untuk sebuah konsekuensi besar berjerih payah dalam intelektual, menyiapkan sekian banyak biaya dan waktu.  Setiap keinginan diri sendiri itu adalah tuntutan untuk diri sendiri guna membayar nilai konsekuensinya.   Maka kemudian banyak orang prustasi, putus asa, gila, sampai bunuh diri karena kegagalan meraih impian. Hal itu terjadi sebab adanya ketidaksanggupan diri membayar konsekuensi dari sebuah tuntutan impian.   Sebab ini orang paling kaya adalah orang yang berkemampuan menerima apa adanya (qana’ah) sebab semakin seseorang punya banyak keinginan hakikatnya ia sedang menyiksa dirinya sendiri dengan banyak tuntutan.  Makin diri sendiri banyak tuntutan, maka ia pun berpotensi menuntut diri sendiri untuk lakukan konsekuensi lebih ekstrem, dan jika begitu apa bedanya dengan menyiksa diri sendiri?   Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata,   مَن رُزِقَ ثلاثاً نالَ ثلاثاً وهُو الغِنَى الأكبَرُ: القَناعَةُ بما اُعطِيَ، واليَأسُ مِمّا في أيدِي الناسِ، وتَركُ الفُضولِ   “Barangsiapa diberi rezeki 3 hal maka ia akan peroleh 3 hal pula dimana itu adalah kekayaan besar; 1). Kemampuan menerima apa adanya (qana’ah) dengan apa yang telah diterima. 2). Terputus dari sesuatu yang ada di tangan manusia. 3). Meninggalkan sikap berlebih-lebihan.”   Dalam tabel vibrasi David R. Hawkins pun, desire (keinginan) merupakan getaran perasaan rendah yang berenergi force dengan poin energi 125, karena pada dasarnya orang yang penuh ambisi keinginan itu adalah orang stres yang emosinya labil, ia penuh kemelekatan dan selalu diperbudak.   Sementara Anda adalah makhluk sosial yang mustahil tidak punya kepentingan kepada orang lain, sekaligus mustahil pula tidak punya keinginan. Nah jalan memutusnya agar Anda tetap terjaga kekayaannya adalah konsekuensi membayar tersebut.   Anda ada kebutuhan menuntut orang lain kerja untuk kepentingan Anda, di situ Anda di posisi fakir. Ketika Anda sanggup membayar si pekerja, nilai kaya Anda tetap terjaga.   Ketika punya tuntutan kepentingan, lalu tidak sanggup bayar, di situlah Anda sedang berproses untuk menetap sebagai kaum fakir.   Punya hutang, dibikin santai-santai dan ikhlasan bayarnya, model orang begini tidak mungkin akan kaya, karena Anda menuntut orang lain untuk cukupi kebutuhan Anda yakni menghutangi, sementara Anda sendiri boro-boro berpikir bayar tuntutan Anda kepadanya dengan bayar lunas, malahan Anda memasuki mekanisme minus energi kaya karena satu tuntutan Anda belum terbayar, malahan menambah lagi tuntutannya.  Menunut kepada orang lain itu hakikatnya menunut kepada diri sendiri, kalau diri sendiri tidak sanggup membayarnya, ya sudah itu awal mula kemiskinan.   Ghinal akbar (kekayaan besar) adalah terputusnya rasa butuh Anda kepada orang lain. Siapapun yang punya ghinal akbar ini ia susah untuk ditundukan dan diperbudak sebab minimnya keterikatan kebutuhan dengan orang lain.   Lalu andai Anda sama sekali tidak ada butuhnya kepada sesama, kira-kira apa yang terjadi? Yang terjadi adalah kecongkakan dan kesombongan karena merasa tidak butuh.   Karena itu sekaya-kayanya Anda akan tetap dipasang rasa butuh kepada sesama supaya ada mekanisme kontrol rasa rendah hati di dalam diri Anda bahwa orang lain sama berharganya seperti diri Anda.   Pedagang harus hadirkan rasa miskin (rasa butuh) kepada pembeli, dengan rasa miskin ingin dibeli, pedagang berkenan rendahkan hati kepada pembeli.   Guru harus hadirkan rasa

MEI 2023

PENTINGNYA BERPUTUS ASA

Rafi Ahmad sekaya dan seatas itu papan kekayaan harta dan popularitasnya karena ia memang sanggup membayarnya dengan mahal. Konon ia kerja hingga 18 jam perhari. Mahal, bukan?   Chairil Tanjung juga hari ini masih kerja 14 jam perhari, di awal membangun karir hingga 18 jam kerja perhari. Mahal, ya?   Bukan cuma pengusaha, semua karir pun demikian. Ulama yang sedang kembangkan pondok pesantren, tidak sedikit para ulama besar punya jadwal mengajar lebih dari 12 jam setiap harinya. Para ilmuan hebat, para pejabat sukses, para penulis tersohor, mereka semua melakukan mekanisme kerja yang sama, yakni “kerja di atas rata-rata.”   Itu semua karena mereka orang-orang yang punya impian sehingga mereka harus konsisten mewujudkannya. Ada impian artinya ada keinginan. Setiap keinginan itu adalah tuntutan untuk diri Anda sendiri.   Anda ingin lulus S1, Anda pun dituntut jerih payah intelektualnya, dituntut kesediaan waktu dan kesibukannya sekaligus dituntut biayanya untuk wujudkan keinginan lulus S1 tersebut.   Semua tuntutan tersebut wajib Anda bayarkan tunai, sebab segala hal baru bisa menjadi milik Anda sesudah Anda bayar. Anda tidak punya mobil karena Anda tidak mampu membayarnya, itu artinya Anda punya mobil dengan syarat bayar tunai harganya.   Sehingga ketika seorang Chairil Tanjung yang punya keinginan menjadi pengusaha besar, atau seorang Rafi Ahmad yang punya keinginan menjadi selebritis besar, lantas keduanya tertuntut untuk kerja hingga 18 jam perhari. Karena apapun yang Anda inginkan adalah tuntutan balik kepada diri Anda sendiri untuk mewujudkannya sebagai bentuk mahar bayaran pembelian.   Jangankan keinginan yang besar dan tinggi, ingin pesan makanan di Gofood saja Anda harus sediakan kuota internet, sedikan energi baterai smartphone yang cukup, unduh aplikasi Gofood, installing yang dalam proses ini Anda harus serahkan data digital Anda, harus sediakan waktu untuk pilih-pilih menu, sediakan waktu menunggu, dan jelas harus bayar makanan pesanannya sekaligus bayar jasa ojek pengantarnya. Hanya ingin pesan Gofood, sedemikian besar bayaran dari diri Anda yang harus dikeluarkan.   Sekarang bisa digambarkan, andai keinginan Anda ingin menjadi Youtuber besar, menjadi politikus besar, menjadi pejabat tinggi, menjadi ulama besar, menjadi selebritis tersohor, menjadi pengusaha besar, dan yang paling lazim menjadi orang kaya, kira-kira diri Anda sanggup tidak membayarnya? Dan apapun yang Anda tidak sanggup membayarnya, Anda tidak akan pernah memilikinya.   Karena itu, semua keinginan Anda adalah sistem siksaan yang dipasang untuk menyiksa diri Anda sendiri. Apapun yang Anda inginkan bisanya wujud menjadi milik Anda apabila Anda membayarnya, karenanya tidak ada keinginan yang tidak menuntut pengorbanan bayaran dari diri Anda, entah dibayar dengan apapun, baik bayaran dengan materi maupun jerih payah.   Lah iya, gara-gara ingin pesan makanan lewat Gofood, Anda harus siap sedia menjadi budak suruhan keinginan Anda sendiri. Menyiksa sadis sekali, kan?   Bayangkan rempongnya Anda yang baru inginkan makanan via Gofood, belum lagi ingin baju, ingin rumah, ingin motor, ingin gaji besar, ingin handphone, dan seterusnya. Diri Anda makin stres karena disiksa.   Rafi Ahmad dan Chairil Tanjung baru berkeinginan jadi selebritis dan pengusaha sudah harus membayarnya dengan 18 jam kerja setiap hari, andai mereka mengejar pula keinginan jadi politikus sukses, seperti apa wujud besarnya bayaran yang menuntut balik kepada diri mereka? Seperti apa sadisnya mereka memperbudak diri mereka atas diri mereka sendiri?   Orang yang tidak menyadari kalau keinginan diri adalah sistem siksaan untuk diri sendiri, di situlah seumur-umur hidupnya hanya akan dipakai untuk menzalimi dengan berbagai penderitaan sebab begitu banyaknya tuntutan untuk dirinya.   Repotnya ketika dia tidak sanggup menghandle tuntutan bayaran dari keinginannya, di situ akhirnya orang lain yang dipaksa untuk membayarnya.   Dalam pesugihan kepada iblis, konon seseorang yang ingin kaya harus sediakan korban untuk tumbal. Berarti dia yang ingin kaya, orang lain yang harus membayar derita dan jerih payahnya. Kurang ajar, kan?   Sama saja orang hutang yang mengemplang bayar, dia yang ingin tercukupi kebutuhannya, orang lain yang harus tanggung bayarannya. Ini mekanisme yang sama seperti pesugihan iblis.   Setiap keinginan yang ingin terwujud akan menuntut balik kepada diri Anda untuk membayarnya lunas, entah bayaran jerih payah ataupun bayaran materi. Yang tidak sadar dengan beratnya mekanisme bayaran ini, dia akan terus memperbudakan dirinya untuk wujudkan impian-impiannya.   Sadar ini, Anda perlu sekali untuk berputus asa dari apa-apa yang Anda inginkan. Lah iya yang memperbudak Anda itu keinginan atau asa Anda. Kalau asanya diputus, kan Anda merdeka? Ibn Athaillah dalam Kitab Al-Hikam menyampaikan,   أنْتَ حُرٌّ مِمَّا أنْتَ عَنْهُ آيِسٌ، وَعَبْدٌ لِمَا أنْتَ لَهُ طَامِعٌ   “Engkau merdeka dari segala sesuatu yang tidak kamu harapkan. Dan engkau menjadi budak dari sesuatu yang kau inginkan.” (Al-Hikam karya Ibn Athaillah)   Saat Anda memutus asa atau memutus keinginan Anda, di situ Anda merdeka. Kalau merdeka itulah kekayaan sesungguhnya. Imam Syafii berkata,   وَلَيْسَ اْلغَنِيُّ إِلاَّ عَنِ الشَّيْءِ لاَ بِهِ   “Tidak ada kekayaan kecuali tidak perlu apa-apa dari segala sesuatu.”   Cuma apa iya diri Anda sama sekali tidak berkeinginan? Saya sering ibaratkan dengan kuda delman sebagai pekerja keras dalam lari. Karena kuda delman tidak berkeinginan kaya, tidak ada kuda delman kaya raya walaupun ia pekerja keras. Yang diperoleh oleh si kuda delman tetap hanya apa yang ia inginkan.   Kuda delman hanya ingin rumput dan kawin, akhirnya cuma itu saja yang ia peroleh, sekalipun kerja kerasnya si kuda delman melampoi kerja keras Anda.   Punya impian, punya keinginan, punya ambisi, punya asa, punya motivasi, punya cita-cita itu keharusan, namun Anda perlu menentukan keinginan mana yang Anda prioritaskan dengan konsisten, jangan semua diembat. Karena kalau semua keinginan diembat, nanti diri Anda yang tidak akan sanggup membayar sebab semua keinginan butuhkan mahar jerih payah.   Banyak sekali kan orang kaya yang sudah punya duit, mereka sempoyongan ingin punya pondok pesantren, karena punya pondok pesantren dari sisi kemuliaan—bukan sisi uang—itu jauh lampoi kemuliaan orang kaya, sampai sewa-sewa ustadz untuk ngajar ngaji.   Ada yang sesudah kaya, ngebet ingin jadi pejabat politik, ia pun zig-zag mengabdi di partai. Ada yang sesudah jadi ulama pengasuh pesantren, mereka ingin terkemuka sebagai tokoh organisasi sosial agama.   Ya tidak apa-apa sebenarnya, cuma perlu sadar, diri Anda sanggup bayar, tidak?   Banyak orang miskin yang sesudah punya motor, ingin kulkas, lantas utang-utang kreditan, belum lagi lunas, ingin lainnya lagi, utang

MEI 2023

BAKUNYA KONTRUKSI KAYA ALAM SEMESTA

Kasus Kematian Brigadir J Ditilik dari Sistem Prosperity Alam Semesta   Alam semesta itu konsisten dalam menerapkan hukum kaya, dimana kalau ingin memiliki sesuatu maka bayarlah. Mobil tidak bisa jadi milik Anda kalau Anda belum bayar lunas harganya. Nilai bayar bisa dengan harta, bisa dengan pikiran, tenaga, jasa, dan apa saja. Gondol mobil di dealer tanpa bayar lunas, Anda disebut maling.   Bahkan sekalipun sudah Anda bayar lunas, lalu sudah jadi milik Anda, sesuatu di luar diri Anda pun masih terus diberi kewenangan untuk eksis hargai dirinya sendiri. Iya mobil sudah Anda bayar lunas, sudah sah menjadi milik Anda, lalu ada bagian mobil yang Anda rusak, maka si mobil akan menuntut diri Anda untuk memperbaikinya.   Mobil kena baret misalkan, kalau Anda tidak membayar lunas biayanya, si mobil akan paksa Anda untuk tampilkan kekurangannya, yang tampilan kekurangan tersebut adalah tampilan Anda sendiri yang miskin belum mampu bayar kerusakan baretannya. Di situ Anda dipaksa membayarnya dengan hati dan mental.   Bahkan dalam kondisi tertentu, ada kerusakan mobil yang tanpa kompromi memaksa Anda untuk bayar konstan, kalau tidak langsung dibayar, mobil menuntut mogok tidak bisa dipakai. Kebocoran ban misalkan.   Jelas kan, sesuatu apapun yang sudah jadi milik Anda sekalipun, maka sesuatu tersebut masih memiliki hak eksistensi harga dirinya, ketika ada yang rusak, Anda masih dituntut bayar.   Itu barang milik Anda yang sudah Anda bayar lunas. Lah kalau barang bukan milik Anda yang belum Anda bayar? Hak apapun tidak ada untuk Anda, kecuali hak pinjam atau sewa, itupun keduanya punya mekanisme pembayaran masing-masing.   Jadi segala energi yang berinteraksi dalam diri Anda itu tidak ada yang gratis, opsi gratis untuk bisa kaya itu tidak ada datanya di alam semesta. Bayar dan bayar.   Lah sekarang kalau tetangga Anda punya tangan, lalu Anda hendak memakainya, ya Anda pun harus bayar. Mau pakai tangan tetangga untuk cabuti rumput halaman rumah Anda, ya Anda harus bayar kan?   Tangan Anda sendiri ketika Anda merusaknya, misal tersayat silet, Anda harus membayarnya lunas, yang pasti harus bayar dengan rasa sakit, harga minimal harus bayar obat-obatan medis, dan kalau harus ke dokter, Anda juga yang harus membayarnya. Padahal itu tangan Anda sendiri.   Kalau yang Anda rusak adalah tangan orang lain? Ya Anda harus bayar.   Tikus saja yang digariskan menjadi hewan hama konsisten membayarnya dengan lunas yakni merelakan diri sebagai hewan yang halal dibunuh, tikus rela hidup tanpa perlindungan hukum. Tikus saja konsisten hidup kaya, ia berani jadi hama, ia berani membayarnya.   Dalam hukum kriminal Islam ada mekanisme qishâsh, di mana kalau Anda merontokan gigi orang lain, hukumannya gigi Anda harus sedia dirontokan, Anda patahkan tangan orang, hukumannya tangan Anda harus sedia dipatahkan, Anda melenyapkan nyawa orang lain, hukumannya nyawa Anda harus siap dilenyapkan.   Tentu mekanisme qishâsh di atas berlaku bila tidak ada alasan darurat tertentu untuk lenyapkan nyawa orang lain.   Bila pelaku kejahatan tidak bersedia di-qishâsh, ia harus bayar diyat yakni ganti rugi dengan bayaran harta yang besarannya mencapai 100 ekor unta.   Mekanisme qishâh ini mekanisme alamiah, bukan sekedar aturan baku hukum Islam, Anda menuntut anggota tubuh orang lain bekerja, Anda harus bayar, Anda merusak anggota tubuhnya Anda harus bayar lunas. Semuanya berbayar lunas.   Dan ketika Anda menuntut lenyapnya nyawa orang lain, itu berarti Anda sedang menuntut lenyapnya nyawa sendiri, melenyapkan nyawa orang lain sama saja melenyapkan nyawa sendiri. Bila tidak berani pembayaran dengan nyawa sendiri, harus bayar diyat. Dulu TKW Indonesia di Arab Saudi bayar diyat hingga Rp 15,2 M.   Bayar lunas, begitu pemasangan konstruksi alam semesta, tidak berani bayar resikonya Anda harus bayar dengan kemiskinan.   Kopda Muslimin yang kemarin viral mendalangi pelenyapan nyawa istrinya sendiri ia pun tak kuasa membendung mekanisme alam yang ujung-ujungnya ulahnya menuntut nyawa istrinya lenyap, eh malahan mekanisme kerja alam alam berbalik menuntut nyawanya sendiri lenyap.   Sementara ia sendiri mentalnya gratisan, maunya lenyapkan nyawa istri tapi ia tidak mau bayar dengan resiko apapun. Namun alam semesta tetap baku dengan aturan qishahnya, hasilnya Kopda Muslimin harus bunuh diri melenyapkan nyawanya sendiri.   Disayangkan sekali, Kopda Muslimin secara tindakan sudah bayar lunas dengan nyawanya, namun motifnya adalah motif gtatisan minta luput dari resiko hukum, ia putus asa. Hasilnya nyawanya sendiri lenyap, tapi status kemiskinannya tetap tersemat. Rugi besar.   Yang lagi viral sekarang kasus kematian Brigadir J (Nofriansyah Joshua Hutabarat). Sebegitu heboh.   Keluarga Brigadir J secara ekonomi sebenarnya keluarga pas-pasan, dalam situasi normal, keluarganya untuk biaya sekali terbang ke Jakarta saja mungkin butuh mikir panjang. Namun ketika nyawa Brigadir J dilenyapkan, keluarga ini dimampukan menggerakan uang puluhan hingga ratusan milyar untuk memperjuangkan harga diri nyawa Brigadir J.   Alam semesta dengan enteng mengfasilitasi uang yang angkanya jauh di luar kemampuan ekonomi sebenarnya keluarga Brigadir J. Jangankan untuk bayar puluhan lawyer Brigadir J, untuk sewa 1 lawyer saja—bila diukur kemampuan ekonomi sebenarnya—keluarga Brigadir J masih berat.   Belum lagi berapa juta transaksi keuangan bergerak terkait nyawa Brigadir J? Di luar nalar dan di luar kapasitas ikhtiyar manusia. Namun begitulah kontruksi alam semesta bila sedang menuntut bayar lunas kepada pihak yang minta gratisan.   Lah iya, kenapa kasus Brigadir J seheboh itu? Dikarenakan pelaku pembunuhan Brigadir J minta gratisan atas nyawa orang lain. Si pelaku menuntut nyawa Brigadir J lenyap, di mana menuntut nyawa orang lain konsekuensi bayarannya adalah menuntut nyawanya sendiri.   Namun pelaku inginkan gratis, yang ia inginkan ia tetap eksis hidup dengan segala jabatan, harta, dan kekuasaan. Mentalnya miskin, mentalnya gratisan.   مَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيْلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يُفْدَى وَإِمَّا أَنْ يُقْتَل   “Barangsiapa yang keluarganya terbunuh maka ia bisa memilih dua pilihan, bisa memilih diyat dan bisa juga memilih pelakunya dibunuh (qishâsh).” [H.R. Al-Jamâ’ah].   Ayat di atas adalah ayat kekayaan, bahwa kalau mau kaya harus berani bayar, sampai tidak ada lagi harta untuk membayar, ya siapkan nyawa Anda untuk membayar.   Jadi yang Anda saksikan dari kasus kematian Brigadir J sekarang ini adalah kehebohan dari sebuah kasus mental gratisan, mental miskin.   Hasilnya apa sih orang yang mentalnya gratisan, tidak mau bayar lunas? Hasilnya kemiskinan. Banyak jabatan kepolisian sudah dipaksa lepas, belum lagi vonis hukuman

MEI 2023

PENTINGNYA MELAMBAT MELALUI TINGKAT KESULITAN

Ayam broiler merupakan ternak yang paling ekonomis, kelebihan yang dimiliki adalah kecepatan pertambahan/produksi daging dalam waktu yang relatif cepat dan singkat atau sekitar 4 – 5 minggu produksi daging sudah dapat dipasarkan atau dikonsumsi.   Hanya butuh 4 – 5 minggu pertumbuhan, ayam broiler sudah siap menjadi daging layak konsumsi, jauh beda dengan waktu yang dibutuhkan ayam kampung untuk siap dikonsumsi dagingnya.   Karena cepatnya pertumbuhan ayam broiler, alam semesta menyeimbangkannya dengan hasil tekstur daging dan tulang yang lembek dan lunak, beda sekali dengan daging dan tulang ayam kampung yang lebih kenyal dan berisi.   Pohon Sengon atau Albasia mampu tumbuh hingga ketinggian 40 meter selama 15 tahun. Setiap tahunnya, pertambahan tinggi Sengon sebesar 7 meter pada lahan yang subur. Hasilnya pohon Sengon kualitas kayunya lunak dan cepat rapuh.   Beda terbalik dengan pohon Ulin Kalimantan. Pohon ini terkenal keras kayunya dan memiliki kelas keawetan yang paling tinggi, kelas awet 1. Lebih tinggi daripada kayu Jati yang tergolong kelas awet 2. Pohon Ulin termasuk jenis pohon yang pertumbuhannya sangat lambat, dalam setahun diameter bertambah tidak sampai 1 cm.   Waktu 1 tahun hanya bisa tambahkan diameter tidak sampai 1 cm, sangat lambat pertumbuhannya, hasilnya kayu Ulin terkenal akan ketahanannya terhadap perubahan suhu, kelembaban, serta tahan terhadap pengaruh air laut, karena sifat kayunya yang sangat berat dan keras, dan tentu harganya super mahal.   Di asrama putri pesantren saya pernah geger, di tengah malam tiba-tiba keramik mushala putri yang baru selesai dipasang 1 mingguan tiba-tiba lepas sendiri. Ada sekitar 20 keramik lepas dengan ngelotok sendiri dan retak, dan tentu suaranya seperti petasan.   Diselidiki ternyata karena para pekerja saat memasang keramik diburu-buru target cepat selesai, hasilnya kontruksi pemasangan keramik tidak akurat, dalam seminggu sudah jebol.   Itu semua berarti alam semesta butuhkan kelambatan proses untuk melahirkan akurasi hasil yang konsisten, presisi dan akurat. Imam Muhammad bin Abdillah Ibnu Malik, yang terkenal dengan Ibnu Malik adalah seorang ulama yang memiliki keistimewaan di hati santri nusantara, terlebih santri yang menghafal, mendaras dan memahami nazam beliau yang masyhur; Al-Khulâshah atau Alfiyyah Ibn Malik.   Kitab Alfiyyah Ibn Malik hingga menit ini masih eksis sebagai materi ajar ilmu Lughat Arab di seluruh dunia, padahal karya ini ditulis oleh Imam Ibn Malik pada abad ke-13 Masehi. Hasil karyanya berkualitas, awet eksis, ya karena proses akurasi panjang dalam karir leilmuan Imam Malik.   Imam Ibn Malik termasuk ulama sangat alim, tapi muridnya sangat sedikit. Coba bayangkan betapa guncangan mentalnya tidak besar, ibarat Anda sudah tekun belajar hingga hingga S3, tapi cuma jadi guru TK. Namun keadaan itu tetap dijalani oleh Imam Ibn Malik dengan konsisten.   Dikisahkan, suatu hari Imam Ibn Malik menunggu orang-orang untuk belajar kepada beliau. Namun tak kunjung ada yang datang. Beliau pun berdiri dari jendela memanggil orang-orang yang ingin belajar tanpa rasa gengsi (meski beliau telah menjadi pakar ulama Lughat pada zamannya.   “Yang mau belajar ilmu Qiraat. Yang mau belajar ilmu Arabiyah,” tidak ada yang tertarik. Beliau pun pergi lalu mengucap, “Saya bebas dari beban menyembunyikan ilmu (karena beliau telah memanggil orang-orang yang ingin belajar).” Demikian ungkap Imam Jazari, pakar Qiraat kenamaan asal Suriah dalam kitabnya Ghayatun Nihayah, juz 2, hal. 159-160.   Menurut syaikh Ayyub al-Jazairi, meski Ibnu Malik tidak memiliki banyak murid, Allah memberi beliau satu murid yang luar biasa sekali, yaitu Imam An-Nawawi. Imam An-Nawawi memang sempat berguru kepada Imam Ibnu Malik. Dalam Alfiyah, Bab Ibtida’, Imam Ibnu Malik menyebut murid kesayangannya itu.   وَرَجُلٌ مِنَ الْكِرَامِ عِنْدَنَا “Dan orang mulia di antara kami.”   Kitab karyanya fenomenal, monumental dan mendunia, namun proses akurasinya dengan harga kelambatan karir Imam Ibn Malik sebagai ilmuan. Alimnya luar biasa, seharusnya sangat populer dan punya banyak murid, namun prakteknya sudah tawar-tawarkan ilmu saja dengan ikhlas, hanya sedikit yang mau beli.   Rajul (seorang lelaki) yang disebut dalam nazham Alfiyyah Ibn Malik itu tak lain adalah Imam An-Nawawi, seorang ulama yang karyanya melampaui umurnya.   J.K Rowling yang draft naskahnya “Harry Potter” ditolak puluhan penerbit untuk menerbitkan karyanya, sekarang coba lihat orang mana sih yang tidak kenal dengan Harry Potter? Dicetak berpuluh-puluh kali, menjadi international best selling novel untuk kategori fiksi, ditayangkan dalam bentuk film, dibuatkan scrap book dan berbagai merchandisenya.   Irjen Polisi Ferdy Sambo begitu cepat moncer karirnya, hingga ia disebut sebagai polisi yang raih pangkat jenderal di usia termuda, usia 48 tahun sudah jadi jadi Brigadir Jenderal Polisi. Bahkan tidak sedikit para seniornya yang karirnya disalip begitu saja.   Seperti ayam boiler, seperti pohon Sengon, seperti pasang keramik diburu-buru cepat selesai, sebuah proses karir pun demikian, untuk punya akurasi hasil, butuh proses melambat. Kalau prosesnya menyepat, tentu ada akurasi sistem yang terpasang tidak presisi.   Karena itu jangan heran, lah seorang jenderal muda yang tangkas yang sudah duduk di kursi Kepala Divisi Popram Polri, dimana divisi ini boleh disebut tangan kanannya Polri, lah kok tiba-tiba terjungkal tamat, menjadi dalang pembunuhan sadis?   Itu dikarenakan banyak kesadaran-kesadaran diri sebagai pembesar yang belum dimiliki Fredy Sambo. Ibarat tubuh fisiknya membesar dewasa, namun psikisnya masih kanak-kanak. Hasilnya rapuh, lunak, lentur, keropos, dan cepat ambruk. Kuda-kudanya tidak kokoh, persis ayam boiler dan pohon Sengon. Segala hal butuh waktu normal untuk berproses agar punya hasil akurat.   Jadi kalau karir Ferdy Sambo yang begitu cepat meroket, lalu runtuh dalam hitungan hari ya justru itu yang normal dan wajar, tanda alam semesta bekerja seimbang.   Jenderal Soedirman saja yang begitu baik dan patriotik, yang karena darurat perang dan darurat sistem negara yang baru lahir kemudian karir militer Soedirman begitu cepat meroket juga diseimbangkan dengan usia beliau yang sangat pendek. Apalagi Ferdy Sambo yang barangkali punya otak jahat.   Sekarang kalau Anda tanya, “Kenapa karirku lambat naiknya, padahal aku telah bekerja keras?” Atau, “Kenapa penghasilanku segini saja, padahal aku telah berupaya payah?” Salah satu jawabannya ya agar Anda tidak jadi ayam boiler, karena Anda memerlukan proses melambat melalui tingkat kesulitan tertentu.   رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ وَرُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ   “Bisa jadi Allah memberimu suatu anugerah kemudian Dia menghalangimu darinya; dan boleh jadi Allah menghalangimu dari suatu anugerah kemudian Dia memberimu anugerah yang lain.” (Ibn Athaillah As-Sakandary dalam

MEI 2023

MOTIF “KONTEN DEWASA DAN KONTEN KEKERASAN” UANG

Motif pembunuhan Brigadir Joshua yang diotaki Irjen Polisi Ferdy Sambo ditegaskan oleh Polri akan dibuka di persidangan karena sensitif motifnya yang bisa bikin malu keluarga Ferdy Sambo maupun Brigadir J.   Namun dari desas-desus berbagai pihak, seperti keterangan Menkopolhukam, pengacara keluarga Brigadir J, mantan pengacara Barada Eliezer, IPW (Indonesian Police Watch), Kompolnas, Komnas HAM, dan isu senter yang berkembang bahwa motifnya adalah “konten dewasa”, tidak jauh dari konten Maria Ozawa.   Bahkan kalau merujuk pada dugaan dari pengacara Brigadir J, bukan cuma persoalan alat kelamin 18+, ada juga motif bisnis judi online, sabu dan miras yang dijalankan tersangka. Wallahu a’lam. Uang itu ditarik kuat oleh dua getaran;   Pertama, uang itu—kalau saya amati di tabel vibrasi dari Hawkins—mode getarannya tidak hanya berada di mode getaran power, apalagi uang butuh getaran pure consciousness, sama sekali tidak. Uang justru lebih dominan berada di mode getaran force yakni di area getaran rasa berharga diri, karenanya level getaran seperti keinginan, marah dan bangga itu getaran-getaran yang disukai uang.   Kim Jong-un kerjaannya menindas rakyat untuk paksakan politik otoriternya, duitnya banyak kan? Soeharto juga sukses kaya dengan kekuasaan otoriternya. Padahal sikap otoriter hingga menindas rakyat apa ya sikap bijak? Itu getaran desire yang rakus.   Anda lihat para wakil rakyat di gedung DPR, orang-orangnya ngeyel-ngeyel, tidak mau kalah dan cari menang sendiri kalau berargumen, tandanya mereka angkuh-angkuh, kalau bicara fasih-fasih, suaranya lantang-lantang, otaknya picik dan cerdas, lah duit mereka banyak kan? Itu getaran bangga diri, sombong dan angkuh.   Para preman dan mafia suka pakai kekerasan, menindas dan menganiaya, duitnya juga banyak kan? Itu getaran marah.   Uang itu betah bersama orang-orang dengan getaran force namun getaran di area rasa berharga diri. Keinginan getarkankan rasa bahwa “diriku berharga karenanya keinginanku sangat penting”, marah getarkan rasa bahwa “aku berharga jadi aku layak tersinggung dan layak mengalahkan orang lain”, bangga getarkan rasa bahwa “diriku sangat berharga karenanya diriku layak menonjol.”   Namun sebaliknya mode getaran force yang tidak menghargai diri seperti apatis, rasa malu, rasa minder, rasa bersalah, rasa sedih, rasa takut, ya sedikit sekali mampu menarik uang. Kaum dhuafa yang lemah banyak yang terjebak di area getaran force ini, makanya duitnya seret. Sebab getaran ini getaran yang tidak mampu menghargai diri dan hasilnya dikalahkan uang.   Lalu mode getaran power apa tidak ada uangnya? Mode getaran power sudah bukan lagi getaran butuh uang, getarannnya sudah melampoi getaran uang, sudah mengalahkan uang, di atas harga uang.   Getaran power akan banyak uangnya kalau memunculkan rasa-rasa berharga diri, misal berusaha ikhlas agar diri berharga di depan Tuhan, rasa berani agar berharga di depan musuh, rasa netral agar lebih percaya diri, dan seterusnya.   Kedua, uang ditarik oleh getaran happyfun, bukan getaran rasa bahagia, tapi getaran rasa senang.   Ya uang itu benda material yang penciptaan utamanya untuk cukupi kebutuhan fisik, perut lapar lalu butuh jajan ya pakai uang. Kalau kebutuhan spiritual ada yang butuh uang, ada yang tidak. Sedekah itu kebutuhan spiritual yang butuh uang, tapi kalau sedekahnya berupa senyum ya tidak butuh uang.   Karena uang untuk cukupi kebutuhan fisik, sementara karakter fisik itu anti keprihatinan maka getaran uang pun getaran anti prihatin yakni maunya getaran happyfun. Perut Anda menolak kan diajak prihatin lapar dengan puasa? Kalau fisik Anda anti prihatin, uang sebagai pelayan kebutuhan fisik juga karakternya mengikuti tuannya.   Maria Ozawa duitnya banyak karena konten porno itu getaran happyfun. Penggemar diskotik duitnya lancar-lancar saja karena happyfun. Bandar togel duitnya banyak, karena bagi tukang togel keluarkan uang untuk pasang undian judi itu menyenangkan, karenanya Macau di RRT menjadi negara maju pesat yang padahal pariwisata yang dikembangkan adalah perjudian.   Orang dhuafa itu orang yang banyak unggah rasa prihatin uang, kerap merasa duitnya susah, ya mereka terus terbantai finansialnya, kan? Karena hidup mereka kurang suplay rasa senang.   Nah dari 2 getaran inilah, uang itu bisa kocak sekali energinya, dimana orang yang ngawur yang tidak perhatikan halâlan, thayyiban dan mubârakan dalam menarik uang, bisa masuk dalam neraka hidup.   Getaran force uang karena ditarik dengan energi getaran rasa bangga, keinginan dan marah akan berefek matinya hati nurani, menjadi sangat tegaan, sehingga kehormatan martabat sesama manusia bisa sama sekali tidak berharga, harga diri orang lain bisa seperti murahnya sampah. Uang jadi maha berharga mulia, martabat manusia bisa sama sekali tidak berharga.   Dari kasus Ferdy Sambo jelas sekali betapa puluhan martabat manusia disampahkan dan diinjak-injak tidak berharga.   Brigadir Joshua jelas nyawanya dilenyapkan dengan sadis dan kejam, ditambah dirinya difitnah karena dituduh melecehkan istri sang jenderal. Keluarga Brigadir Joshua tentu sangat tersayat, sakit hati dan trauma, anak yang sedang jadi kebanggaan diperlakukan tidak lebih mulia dari seekor tikus got.   Bahkan seluruh keluarga marga Hutabarat khususnya dan marga Batak umumnya juga ikut tersinggung merasa direndahkan martabatnya karena ada salah satu saudaranya dibantai dengan tidak lebih mulia seperti membantai tikus got.   Bharada Eliezer, Bripka Ricky Rizal, dan puluhan perwira Polri yang dilibatkan dalam skenario pembunuhan Brigadir J terancam hancur semua karirnya. Padahal seperti Bharada Eliezer sendiri tentu bisa menjadi polisi adalah impian panjang yang sudah diperjuangkan dengan jerih payah, lalu dirontokan begitu saja untuk ikuti skenario Ferdy Sambo.   Atau seperti Brigjend Polisi Hendra Kurniawan yang seperti apa susah payahnya mengabdikan diri di institusi Polri dalam waktu panjang, sekarang karirnya terancam raib hanya karena skenario Ferdy Sambo.   Nyawa, jerih payah, harga diri, martabat, tidak ada satupun yang dihargai oleh Ferdy Sambo.   Lalu apa yang berharga? Yang berharga di hati Ferdy Sambo ya uang. Demi melindungi dan menghargai uangnya, Ferdy Sambo nistakan puluhan harga diri manusia.   Sebab ini tanda uang tidak halâlan thayyiban mubârakan, di situ orang-orang yang berada di lingkungan pengaruh uangnya akan hidup sangat menderita karena tidak dihargai.   Anda hidup di lingkungan seorang majikan, seorang suami, seorang ayah, seorang pemimpin, kok Anda sering merasa tertekan stres, ya itu tanda Anda tidak dihargai. Kenapa Anda tidak dihargai? Karena di matanya yang berharga adalah uang, kedudukan, dan kepentingannya.   Saya yakin di lingkungan keluarga Ferdy Sambo sebelum kejadian heboh ini viral, istri, anak-anak, ajudan, dan ART Ferdy Sampo sudah sering stres, depresi dan banyak

MEI 2023

CARA KONSISTEN MENDOWNLOAD NASIB KAYA

Nabi SAW semasa hidupnya banyak melakukan penaklukan-penaklukan melalui peperangan. Beliau sangat ikhlas dan visinya kokoh dalam melakoni peperangan sehingga beliau kerap memenangkan peperangan yang seolah-olah dapatkan keajaiban. Contoh kecil perang Badar, 300 pasukan Muslimin secara ajaib mengalahkan 1000 pasukan Quraisy.   Pola ajaib memenangkan peperangan ini pun kerap terulang dalam peperangan Nabi SAW yang lain, hingga hasilnya Islam yang hanya berawal dari penaklukan satu suku tradisional Mekah yakni suku Quraisy, lalu meluas menaklukan berbagai wilayah di belahan bumi.   Antiknya, pola penaklukan wilayah beserta keberuntungan, kemenangan, rintangan dan tantangannya diunduh pula oleh sahabat-sahabat Nabi SAW sepeninggal beliau. Abu Bakr, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan, mendownload pola yang sama.   Seperti perang Al-Qadisiyyah melawan imperium Persia (Iran) di masa kekhalifahan Umar bin Khattab dimana pasukan Umar sekitar 30.000 – 40.000 tentara melawan pasukan Persia dengan jumlah 130.000 pasukan. Pasukan Umar menang telak, pola kemenangan perang Badar didownload oleh Umar bin Khattab.   Pola getaran peperangan dengan modal militer kecil namun kemudian sukses memenangkannya itu merupakan paparan keikhlasan, semangat dan sukses Nabi SAW yang bergetar dan mempengaruhi lingkungan hidup beliau, sehingga mempengaruhi nasib dan jalan hidup generasi sesudahnya. Nasib hidup yang diterima sahabat-sahabat beliau pun tidak jauh beda dengan pola nasib yang beliau terima.   Isa bin Maryam atau dalam kekristenan disebut Yesus Kristus juga demikian. Kalau dibaca melalui sejarah kekristenan, para murid Yesus banyak yang mati disalibkan sama seperti pola mangkatnya Yesus. Seperti Petrus, Andreas, Thomas, Yudas Thaddeus (bukan Yudas Iskariot), Simon orang Zealot, dan Filipus, semuanya mati disalibkan persis seperti Yesus.   Murid-murid Yesus yang lain tidak disalibkan, namun mengalami penyiksaan dahsyat yang setara dengan penyaliban. Sahabat-sahabat Nabi SAW mendownload pola yang sama seperti nasib Nabi SAW, para murid-murid Yesus pun mendowload pola yang sama persis seperti Yesus.   Tubuh manusia beserta seluruh otak, perasaan, tubuh fisik dan batinnya selalu paparkan getaran dan gelombang elektromagnetik atau vibration. Manusia yang lain dan alam menangkap dan akan merespon gelombang tersebut.   Setiap orang punya pola pikir, inisiatif, prinsip, dedikasi, karakter, cita-cita, dan seabrek kepribadian lainnya. Kepribadian ini selanjutnya dalam kehidupan sosial sehari-harinya bergetar di dan ke lingkungan hidupnya dan ditangkap serta direspons oleh manusia dan lingkungannya.   Bagi yang menerima getaran tersebut, selanjutnya getaran tersebut akan memengaruhi dan mengubah pola pikir serta perasaan-perasaannya.   Nah Anda amati saja, banyak orang kaya yang awalnya hanya menjadi pelayan juragan. Jadi pelayan juragan cabe, misalkan, pagi siang dan malam selalu jadi buntut si juragan, menjadi pelayan dekat si juragan cabe. Dalam jarak beberapa tahun kemudian, pelayan si juragan ini ikut buka usaha cabe, lalu jadi orang kaya.   Bukankah banyak kasus begitu? Awalnya kuli juragan, lantas ia sukses seperti juragannya.   Hal seperti itu terjadi karena setiap orang itu pancarkan getaran dan gelombang elektromagnet, lalu ditangkap dan direspons oleh orang sekitarnya. Secara alamiah getaran dan gelombang tersebut bergetar dan memancar, secara alamiah pula manusia dan lingkungannya terpapar.   Ketika ada seorang pelayan yang terus menguntitinya di belakang sebagai pelayan, pengagum, pengikut, maka si pengikut terdekat yang setiap hari kerap bersamanya tentu ia yang paling terpapar getarannya.   Orang sukses pancarkan getaran dan gelombang, entah dari pikiran, perasaan, sikap, tubuh dan lainnya. Demikian pula orang terpuruk juga pancarkan hal yang sama.   Ketika Anda dekat dengan orang sukses, yang setiap saat dekat dengannya, maka setiap hari data-data mental suksesnya, pola pikirannnya, pola sikapnya, cara-cara ia atasi masalah, hingga getaran perasaan terdalamnya juga akan memapar terus kepada Anda, akhirnya Anda pun di masa depan menggantikan kesuksesannya. Nasib Anda pun di masa depan bisa persis seperti nasib si orang sukses.   Begitu pula orang terpuruk. Anda dekat dan selalu dekat dengan orang terpuruk juga getaran dan gelombangnya akan auto terdownload oleh Anda, selanjutnya nasib hidup Anda juga tidak jauh beda.   Sebab itu sahabat Nabi SAW, nasib hidupnya persis dan minimal mirip-mirip dengan nasib hidup Nabi, dan murid-murid Yesus juga tidak jauh beda dengan nasib Yesus karena adanya hukum pancaran gelombang elektromagnet ini.   Bahkan Nabi SAW mengklaim bahwa;   خَيْرُ الْقُرُونِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ   “Sebaik-baik generasi adalah generasiku. Lalu gerenasi yang setelahnya. Lalu generasi yang setelahnya.” (H.R. Tirmidzi)   Artinya generasi di masa Nabi hingga generasi ke-3 sesudah Nabi itulah generasi yang masih konsisten dipengaruhi oleh getaran dan gelombang pancaran dari diri Nabi SAW, baik keikhlasan, semangat dan suksesnya. Melewati 3 generasi sesudah Nabi, level ikhlasnya sudah dipertanyakan, level semangatnya juga sudah menurun, ya sebutlah generasi 4 dan sesudahnya, mereka mulai “kedunyan” (doyan keduniawian), tidak lagi seikhlas Nabi SAW.   Ada salah satu ulama. Ketika di pesantren, beliau sangat dekat dengan guru beliau. Setelah beliau mukim di kampung, alur cerita hidup beliau polanya sama persis seperti si guru.  Si guru punya santri hanya santri putra, tidak punya santri putri, beliau pun sama. Guru beliau naik haji di usia sepuh, beliau pun persis sama. Guru beliau menjadi ulama besar, beliau pun sama. Guru beliau menjadi ulama ahli tirakat dan zikir, beliau pun sama. Hampur semua data nasib si guru didownload oleh beliau.   Jadi bagaimana cara konsisten mendowload nasib kaya? Jawabannya ikuti dan dekatlah dengan orang kaya. Tentu waktunya tidak lah instan, butuh waktu lama mengikuti dan dekat orang sukses, dan tentu dengan proses aneka pahit senang yang harus tetap konsisten ditempuh.   Bukan cuma mendownload nasib kaya, mendownload nasib jadi ulama, jadi ilmuwan besar, jadi pejabat, jadi tokoh politik, jadi selebritis juga demikian.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

BAHAYA MINDSETT BOROS

Tidak semua action benda, lalu konversi energinya bisa diakali hanya dengan intensi dan atensi perasaan hati. Misal Anda berak, lalu Anda gunakan kekuatan intensi dan atensi di dalam hati sebagai bentuk energi makan agar habis berak Anda kenyang, tentu tidak bisa. Berak diniati makan ya tetap tidak bisa hasil kenyang.   Nah uang tidak begitu. Uang adalah getaran energi yang dikonversi melalui perasaan hati. Karena itu kalau diamati yang banyak menganggur itu siapa? Dan yang banyak kerja itu siapa? Yang banyak menganggur itu bos, yang banyak kerja itu karyawan. Lalu yang duitnya banyak itu bos apa karyawan? Tentu bos.   Itu disebabkan si bos nganggur tetapi dia konversikan perasaan hatinya sebagai orang yang bisa bayar orang lain, hasilnya dia nganggurnya jadi uang. Sebaliknya konversi perasaan hati karyawan, dia kerja tetapi konversinya bawahan yang dibayar, hasil konversinya cuma narik gaji bulanan.   Jadi begitulah uang, hanya sebuah permainan getaran energi yang dikonversi melalui perasaan hati. Karena itu dalam Al-Qur’an, agar rezeki baik itu bukan disuruh kerja keras, tapi disuruh syukur, atau tawakal, atau merasa cukup, atau takwa, yang semua itu hanyalah sebuah tarikan konversi energi hati.   Dalam akidah kekristenan, Yesus Kristus itu mati di tiang salib, artinya dia adalah korban kezaliman. Namun Yesus mengonversi energi kezaliman yang dia terima sebagai “juru selamat”.   Prakteknya Yesus dizalimi salib, namun Yesus mengonversinya sebagai rasa jadi pahlawan yakni penyelamat umat manusia, hasilnya kekristenan sekarang menjadi agama terbesar di dunia, yang artinya banyak orang berbondong-bondong berteduh di bawah salib yang mengzalimi Yesus.   Namun ini akidah kekristenan ya, Anda yang muslim atau beragama selain Kristen sebaiknya dilewati saja paragraf di atas. Atau sudah dibaca? Ya hapus saja sendiri. Hahaha.   Anda masuk warung makan bareng teman-teman, lalu Anda terjebak mentraktir. Orang mentrakrir itu prakteknya menjadi korban. Karena menikmati makanan dinikmati bareng-bareng, kenyangnya juga kenyang bareng-bareng, lah isi dompet teman-teman utuh, isi dompet Anda terkuras. Kan Anda jadi korban?   Namun ketika Anda mampu atasi rasa jadi korban mentraktir dengan dikonversi rasa kaya dan rasa berpunya, misal, “Aku orang kaya, saya yang harus bayar,” maka hasilnya kekayaan, berkah dan kemudahan rezeki. Sebaliknya kalau konversinya rasa sesak hati terjebak traktir, ya sudah di situ Anda tak jauh beda sebagai korban pemerkosaan traktir. Merasa sebagai korban tentu hasilnya keterpurukan.   Sejak sebelum TK Anda didoktrin hemat pangkal kaya, yang berarti belief Anda menerima keyakinan kalau boros itu berarti memiskinkan. Nah di situlah perampokan energi uang akan terus terjadi di dalam diri Anda setiap kali Anda keluarkan uang.   Mau begitu terus? Ya yakini sepenuhnya kalau hemat itu pangkal kaya. Hahahaha.   Anda sehari muter-muter pakai sepeda motor di satu kota, masuk toko sana masuk toko sini, karena barang yang Anda cari tidak ketemu-ketemu. Setiap toko Anda kena cas bayar parkir. Lalu perasaan Anda mengonversi rasa sesak hati bolak balik bayar parkir, itu artinya belief Anda berkata hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin.   Coba kalau kasus seperti di atas Anda konversi, “Alhamdulillah hari ini banyak alirkan rezeki ke tukang parkir semoga berkah,” tentu borosnya uang parkir Anda jadi kekayaan rezeki dan keberkahan.   Jadi yang enjoy saja jadi pemboros, nikmati dan istiqamahkan, karena yang salah itu mindsett boros tersebut. Coba ganti dengan mindsett “alirkan rezeki dan keberlimpahan,” prakteknya Anda boros namun hasilnya makin deraskan rezeki.   Buang jauh-jauh rasa bersalah sebagai pemboros saat keluarkan uang karena disitulah perampokan konversi energi uangnya.   Di Eropa kemarin saya kencing di toilet umum bayarnya 1 euro (sekarang sekitar 16.250 rupiah). Coba bandingkan dengan di dalam negeri, kencing di toilet umum bayar cuma 2 ribu. Buang pipis saja bayar 16 ribuan, kalau mindsettnya boros itu kesalahan kelola uang, ya Anda bisa sekarat duit hidup di Eropa.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

Scroll to Top