MEI 2023

MEI 2023

VALUE UANG AMSTERDAM

Hal paling menarik bagi saya di Eropa ketika berkunjung ke Red Light District Amsterdam; kawasan wisata prostitusi, ganja, sexshow, pornografi dan judi berkelas di Amsterdam, Belanda. Konsumsi hal-hal begitu di kawasan ini semudah dan seelegan Anda belanja bahan bangunan di kota Anda.   Nonton cewek telanjang dalam kaca transparan, pakai celdam cuma nutupi lubang vaginanya saja, dan kadang tidak pakai kutang persis seperti nonton ikan telanjang dalam aquarium.   Belum lagi di tempat-tempat umum, sehari-hari lihat cowok sama cowok dan cewek sama cewek ciuman dan pelukan mesra. Hmmm.   Yang antik sangat tertib dan tertata masyarakatnya, tidak ada pengunjung merasakan aura kejahatan di kawasan tersebut. Kawasan prostitusi, ganja dan judi biasanya kental dengan gank dan mafia, di sana tidak, yang ada aura elegan. Kurang ajar, ya? Tidak berakhlak. Hahaha.   Konstitusi budaya Amsterdam seolah berkata, “Anda bebas karena Anda berharga. Silakan bebas semaumu dan sepuasmu. Anda mau suka sama sama lawan jenis, mau suka sesama jenis, mau suka sama anjing, kucing, kambing, kami lindungi untuk menikah legal. Mau mabok alkohol, mau gitting ganja, mau malas kerja lalu cukup cari makan dengan pasang togel, Anda bebas, asal satu hal jangan pernah dilakukan yakni mengganggu orang lain.”   Karena itu di Amsterdam itu aman dan nyaman, apalagi kejahatan, di transportasi umum saja harus diam tidak boleh bicara, kalau ngobrol-ngobrol itu kena denda sangat mahal karena itu menganggu kenyamanan penumpang lain.  Di gang-gang Red Light District Amsterdam, buang botol minuman sembarangan, tidak sampai satu menit tahu-tahu dihadang polisi dan dendanya sangat mahal. Di transportasi umum sisakan sampah, sama driver didenda hingga 50 Euro (hampir 1 juta rupiahan).   “Anda bebas karena Anda berharga, hanya satu yang tidak boleh yakni ganggu orang lain,” seolah begitu konstitusi budaya Amsterdam.   Saya sering sampaikan, yang berharga itu diri Anda sebagai manusia, bukan uang dan harta Anda. Karena itu kalau mau didekati uang, hargai diri Anda dan hargai jiwa orang lain.   Uang itu pelayan manusia. Ya uang itu berharga, namun harga diri manusia mulianya jauh melampoi uang, sebab Anda tuannya, dan uang adalah pelayan Anda. Karena itu tempatkan harga diri manusia di atas uang.  Kadang manusia itu lucu, istri stres kelola uang rumah tangga, dituntut cukup-cukupkan uang, sementara si suami uangnya disayang-sayang agar awet. Itu namanya merendahkan harga diri istri demi menghargai uang agar awet.   Kemampuan bangsa Eropa menghargai harga diri manusia sudah disampaikan gamblang oleh Nabi S.A.W yang di zaman Nabi disebut bangsa Rum (Romawi).   تَقُومُ السَّاعَةُ والرُّومُ أكْثَرُ النَّاسِ. قالَ: فَبَلَغَ ذلكَ عَمْرَو بنَ العاصِ فقالَ: ما هذِه الأحادِيثُ الَّتي تُذْكَرُ عَنْكَ أنَّكَ تَقُولُها عن رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ؟ فقالَ له المُسْتَوْرِدُ: قُلتُ الذي سَمِعْتُ مِن رَسولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، قالَ: فقالَ عَمْرٌو: لَئِنْ قُلْتَ ذلكَ، إنَّهُمْ لأَحْلَمُ النَّاسِ عِنْدَ فِتْنَةٍ، وأَجْبَرُ النَّاسِ عِنْدَ مُصِيبَةٍ، وخَيْرُ النَّاسِ لِمَساكِينِهِمْ وضُعَفائِهِمْ.   “Kiamat terjadi dan Romawi adalah manusia yang paling banyak.” Kata-kata ini terdengar oleh Amru bin Al-Ash, ia berkata: Ucapan-ucapan apa yang disebut darimu bahwa kau mengatakannya dari Rasulullah S.A.W? Al-Mustaurid berkata padanya, Aku katakan yang aku dengar dari Rasulullah S.A.W. Amru berkata, “Bila kau katakan demikian, mereka adalah orang-orang paling sabar saat terjadi fitnah, paling kuat saat terjadi musibah dan yang terbaik terhadap orang-orang miskin dan orang-orang lemah.” (H.R. Muslim)   Sebab rasa penghormatan yang tinggi pada nilai kemanusiaan, di Eropa untuk jadi orang miskin itu susah sebab negara menggaji warga miskin dan lemah. Nggak usah kerja, jadi warga miskin saja sudah jadi penghasilan yang menyukupi.   Itulah kenapa kita bangsa Timur tidak mampu memahami alur berpikir mereka, LGBT dilindungi, pelacur dilindungi, ganja dilegalkan, judi dilindungi, itu karena mindsett mereka adalah memanusiakan manusia apapun wujud prilakunya.   Pas kan dengan sabda Nabi S.A.W tentang karakter mereka yakni khairun nâsi li masâkînihim wa dhu’afâihim (sebaik-sebaik manusia kepada orang-orang miskin dan orang-orang lemah)?   Nalar pikir kita LGBT adalah persoalan dosa, halal-haram dan moralitas sosial, kalau mereka LGBT adalah prilaku manusia juga yang harus dihormati sebab saking besarnya rasa welas kepada kaum marginal.  Demikian pula soal prostitusi, seks bebas, judi, dan lainnya. Kebalik semua pokoknya beliefnya dengan kita persis seperti air dengan daun talas, namanya juga dunua Barat vs dunia Timur.   Karena itu banyak negara-negara jajahan Eropa yang hingga detik ini tidak mau dimerdekakan, seperti bangsa Mayotte di kepulauan Komoro dan Kaledonia Baru di Ocenia yang tidak mau merdeka dari Prancis.   Hongkong dikontrak Inggris dari Dinasti Qing Tiongkok, ketika mau dimerdekakan dan dikembalikan ke pemilik aslinya malah ogah-ogahan, lebih betah dijajah. Juga Makau yang disewa oleh Portugis juga ogah-ogahan dikembalikan ke pemilik aslinya, Tiongkok.   Konon, mengapa Papua Barat terus-terusan ngeyel minta merdeka dari Indonesia karena mereka merasakan dijajah Belanda merasa dibantu, dijajah Indonesia sebaliknya. Itu kata bangsa Papua.   Mereka ada nilai plus berkemanusiaan tinggi, asih kepada yang lemah. Lalu kenapa banyak bangsa-bangsa terjajah yang dulu merasa dizalimi oleh mereka hingga timbulkan konflik panjang, ya karena yang mau dijajah juga susah diatur. Sama saja Anda sebenarnya mengasihi anak, tapi kalau anaknya susah diatur, bukankah Anda jadi keras kepada anak?   Menempatkan harga diri manusia, baik harga diri sendiri maupun orang lain, itulah resep negara-negara Eropa dibetahi uang.   Kadang kita tolol dengan harga diri kita sendiri, sering kali salah menempatkan diri mana yang masalah yang kita harus melawan, mana yang harus mengalah karena terdoktrin kuat falsafah, “Wani ngalah luhur pungkasane.” Apa-apa mengalah, tidak sadar harga diri kita sedang dicabik orang lain.   Kemarin di Amsterdam di tengah malam saya ngobrol agak keras dengan teman-teman di kamar hotel, eeh langsung dilabrak bule dari kamar sebelah. Lah kita kerap demi memaklumi orang lain tidak berani mengkomplain, tidak berani berekspresi bahwa kita terganggu. Di situlah kesadaran kita pada harga diri lemah karena terdoktrin kuat “wani ngalah luhur pungkasane”.   Belanda negara maju. Kemampuan belanja rakyatnya tinggi, kalau Anda di sini sekali makan biasa habis 500 ribu – 1 juta, ya itu standar makannya orang Amsterdam untuk 1 orang 1 kali makan.   Biaya hidup mereka tinggi, standar sejahteranya juga tinggi, tapi mereka terus tercukupi kebutuhan hidupnya, ya karena pada prinsipnya mereka sadar dan sudah membudaya kalau harga diri manusia

MEI 2023

BAKAT MISKIN ITU KERJANYA UNTUK UANG

Anda yang sudah alami perubahan hidup lalu baca kisah-kisah ini, Anda akan berkata, “Oh iya saya alami itu.” Dan kalau Anda merasa mengalaminya itu pertanda di dalam diri Anda ada sirkulasi harmoni antara spiritual dan material.   Alkisah, dia sekarang kaya raya. Memulai karir sebagai sales roti kacang hjiau, jualan dari toko ke toko dengan kompensasi bagi hasil. Di tahun pertama, sebulannya paling berpenghasilan bersih 800 ribu – 1 jutaan.   Yang namanya ditolak calon pelanggan, dicuekin calon pelanggan, diditarget penjualan sama juragan, sudah jadi makanannya. Belum lagi kehujanan, kepanasan, sudah jadi kewajiban. Pahit.   Duit kecil, tapi ya dijalani saja karena dia sudah punya anak istri. Hingga di tahun kelima, saat itu penghasilannya sudah naik antara 1,5 – 2 juta perbulan. Jaringan jualannya sudah makin meluas.   Dia lumayan lugu orangnya, maklum cuma lulusan SMP dan lahir dari keluarga pas-pasan, sehingga dia yang kuasai pasar penjualan, tapi dia tetap saja menjualkan roti produksi si juragan, ia tidak pernah sadar, kalau jaringan pasar penjualannya kalau dia juali produknya sendiri, dia akan lebih punya duit.   Di tahun ketujuh, juragannya wafat di usia muda. Dia pun bingung kehilangan penghasilan. Lalu dia coba-coba produksi roti sendiri dan dijual ke jaringan pasarnya. Dan dalam 2 tahun, usaha rotinya melesat dengan cepat. Hingga kini, ia sudah jadi juragan roti kaya bahkan sudah merambah ke usaha-usaha lain.   Artinya selama 7 tahun, ia kerja tulus demi hidupi anak istri. Dia yang lugu tidak pernah bertanya hasilnya berapa, ada uangnya atau tidak, yang ada di hatinya cuma, “Aku harus menafkahi anak istri dengan cara yang bisa aku lakukan.” Selama ini ia tidak bekerja untuk uang, ia hanya konsisten memberi nafkah terbaik untuk anak istrinya.   Alkisah, dia sekarang menjadi ulama kaya. Memulai karir dakwah dengan mengampu pengajian rutin 2 mingguan di dua tempat sambil ngajar ngaji beberapa santri yang berniat nyantri kepadanya.   Lima tahun kemudian, salah satu tempat pengajian rutinnya, pimpinan rombongan ngajinya yang seorang haji kaya, wafat. Namun masyarakat di sana masih ingin melanjutkan pengajiannya. Lantas salah satu jamaah menanyakan, “Selama ini, sama pimpinan rombongan, Anda dikasih pesangon berapa?”   Si kyai cuma bisa cengar-cengir, tidak enak hati jelaskan apa adanya. Karena selama ini tidak ada amplop apapun, paling cuma rokok 2 bungkus. Namun karena si kyai merasa itu adalah misi dakwah, ia hanya bisa jalani dengan konsisten demi perjuangkan agama Allah.   Dan bersamaan dengan itu, pondok pesantren si kyai pun maju pesat. Jaringan bisnis si kyai juga merambah macam-macam.   Karena didesak untuk menjelaskan, si kyai jadinya jawab apa adanya. Masyarakat pun melongo dan geleng-geleng kepala.   Akhirnya masyarakat di sana pun melanjutlan pengajian rutinnya, tentu dengan pikirkan ganti energi bensin dan ilmu si kyai.   Artinya si kyai selama ini bekerja tidak untuk uang, ia konsisten dakwah di jalan Allah.   Alkisah, ia sekarang seorang author dan motivational speaker. Sebelum mencapai karir ini, dia hanya ingin berbagi ilmu ke publik melalui artikel-artikel yang ia unggah ke Facebook.   Sudah tidak ada bayaran, kerjaannya dinyinyiri netizen, disangkal, direndah-rendahkan netizen, serta segala hiruk-pikuk medsos ia alami semua.   Namun karena passionnya kepada ilmu, bakat author-nya ia asah terus dengan konsisten menulis di medsos.   Tiga tahun kemudian ia mulai menjadi motivational speaker. Dan saat itu hidupnya, baik karir maupun duitnya mulai berubah.   Artinya, selama 3 tahun, seperti apa capeknya berkarya menulis, dan dengan kondisi tidak ada harapan ada aliran uang, namun karena kecintaannya kepada ilmu, ia tetap konsisten berkarya di medsos. Ia tidak bekerja untuk uang.   Nah saya rasa, Anda yang sekarang sudah sukses, lalu baca kisah-kisah di atas, pasti cuma bilang, “Oh iya saya alami itu.”   Nah kenapa sih untuk tundukan uang harus ada proses seperti di atas? Proses dimana Anda kerja namun tidak ada uangnya, kalaupun ada uangnya kecil sekali? Dan proses tersebut tidak sebentar, tapi tahunan.   Itu karena jiwa Anda didesain untuk merajai dan berkuasa penuh atas sistem materialisme uang di alam semesta. Uang hadir di alam semesta ini karena kehadiran Anda di planet ini. Di Mars tidak ada kehadiran Anda disana, sistem ekonomi pun tidak bisa jalan. Beli pulsa di Mars tidak ada karena tidak ada “telepon”.   Kenapa telepon di sana tidak ada? Karena manusia tidak hadir di sana. Jadi sistem materialisme uang di alam semesta diciptakan untuk layani Anda, kehadirannya semata-mata untuk menjadi pelayan Anda.   Sebab itu desain alam semesta telah menempatkan Anda sebagai raja dan penguasa atas materialisme uang. Legitimasi Tuhan atas takdir ini jelas;   وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا   “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70)   Istimewanya, bukan cuma materialisme uang yang ditundukkan untuk Anda, sistem spiritualisme akhirat juga didesain tunduk kepada Anda. Surga dan neraka didesain tunduk melayani Anda.   Dalam kitab Tafsir Ibn Katsir diriwayatkan beberapa hadits tentang protesnya malaikat atas sistem pengistimewaan manusia ini.   Malaikat pernah protes kepada Tuhan dengan pengistimewaan manusia ini. Malaikat merasa dirinya sama sekali tidak istimewa. Betapa tidak, manusia di dunia sudah diberi segalanya, makanan enak, waktu istirahat, bisa nikah dan ngeseks, punya uang, dan segala kuasa dunia, sementara malaikat tidak, mereka hanya disuruh sujud dan bertasbih, boro-boro diberi kesempatan ngeseks, diberi kesempatan istirahat saja tidak.   Sebab itu malaikat protes, manusia sudah diberi kebaikan di dunia, maka sebaiknya kebaikan di akhirat diberikan kepada para malaikat sebagai penyeimbang. Namun Tuhan tetap gunakan kebijakan otoriter-Nya dengan menolak tegas protes malaikat-Nya.   عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ الْمَلَائِكَةَ قَالَتْ: يَا رَبَّنَا، أَعْطَيْتَ بَنِي آدَمَ الدُّنْيَا، يَأْكُلُونَ فِيهَا وَيَشْرَبُونَ وَيَلْبَسُونَ، وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَلَا نَأْكُلُ وَلَا نَشْرَبُ وَلَا نَلْهُو، فَكَمَا جَعَلْتَ لَهُمُ الدُّنْيَا فَاجْعَلْ لَنَا الْآخِرَةَ. قَالَ: لَا أَجْعَلُ صَالِحَ ذُرِّيَّةِ مَنْ خَلَقْتُ بِيَدِي، كَمَنْ قُلْتُ لَهُ: كُنْ، فَكَانَ”   “Dari Abdullah ibn Amr dari Nabi SAW telah bersabda: Sesungguhnya malaikat berkata, “Wahai Tuhan kami,

MEI 2023

UNTUK PUNYA UANG HARUS AKTIFKAN MENTAL MISKIN

Ketika Anda diberi uang oleh orang lain, lalu Anda menerimanya, di situ martabat kemerdekaan Anda telah terkontrol oleh si pemberi sebab terikat rasa terima kasih. Kenapa Anda menerimanya? Tentu karena Anda butuh.   Anda rela jam 7 pagi sudah berangkat kerja, karena Anda merasa butuh uang sehingga mau tidak mau harus merelakan diri Anda dijajah keadaan, sampai-sampai jam 7 pagi sudah harus berada dalam kontrol orang lain yakni mulai kerja untuk orang lain.   Di dunia perdagangan ada slogan universal “pembeli adalah raja”, dimana slogan ini adalah hukum baku alam semesta seperti halnya hukum gravitasi. Di daerah dan budaya manapun di penjuru dunia, slogan “pembeli adalah raja” merupakan hukum paten perdagangan.   Mungkin aksi memperlakukan pembeli sebagai raja berbeda-beda antara satu budaya dengan budaya lainnya, seperti di negara-negara Eropa Barat yang kemarin saya kunjungi. Di sana makan di restoran ya meja dan piring yang telah kotor dan berantakan harus diberesi sendiri oleh pembeli sehingga pembeli tinggalkan meja makan restoran sudah bersih dan beres seperti semula.   Kan beda dengan di sini, kalau di sini ada pelanggan restoran lantas disuruh harus beres-beres piring sendiri dan lap-lap meja kotor sendiri ya tersinggung pembelinya karena merasa tidak diperlakukan sebagai raja.   Namun di sini dan Eropa Barat intinya sama saja, bagaimanapun aksi adatnya tetap berlaku hukum paten universal bahwa pembeli adalah raja, pembeli punya kuasa untuk minta dilayani ini dan itu.   Sama saja, di sini Anda julurkan lidah ketika bertemu orang, ya Anda disebut asu, kalau di Tibet justru itu salam hormat terhangat.   Pembeli oleh alam semesta ditempatkan sebagai raja karena seorang penjual hakikatnya adalah orang yang berkepentingan dengan pembeli sehingga harus merasa butuh kepada pembeli.   Apa sih kepentingan penjual sehingga ia harus tunduk kepada pembeli dan menempatkan pembeli harus sebagai raja? Ya karena penjual ada kepentingan ngakalin duit pembeli, dia butuh duitnya si pembeli, konsekuensinya pembeli ditempatkan sebagai raja, harus dilayani dan Anda harus merendahkan diri di depannya.   Karena itu Imam Jafar Ash-Shodîq atau dalam sanad hadits sering disebut Abâ ‘Abdillah berkata,   عَنْ عَبْدِ الْأَعْلَى بْنِ أَعْيَنَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ (عليه السلام) يَقُولُ‏ طَلَبُ الْحَوَائِجِ إِلَى النَّاسِ اسْتِلَابٌ‏ لِلْعِزِّ وَ مَذْهَبَةٌ لِلْحَيَاءِ وَ الْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ عِزٌّ لِلْمُؤْمِنِ‏ فِي دِينِهِ وَ الطَّمَعُ هُوَ الْفَقْرُ الْحَاضِرُ   “Dari Abdil A’lâ bin A’yan, dia berkata, aku mendengar Abâ ‘Abdillah–’alaihs salâm–berkata, “Meminta kebutuhan kepada manusia itu adalah pencopetan harga diri dan menghilangkan rasa malu. Dan terputus–dari rasa butuh–dari apa yang ada di tangan manusia itu adalah kemuliaan martabat bagi seorang mukmin dalam agamanya. Dan thoma’ (berharap dibantu orang) itu adalah kefakiran yang hadir.”   Jadi kepentingan dirilah yang kemudian menarik diri Anda untuk butuh kepada orang lain, dan saat Anda butuh itulah Anda harus merendah kepada orang lain sehingga Imam Ja’far Ash-Shodiq menyatakan kalau rasa butuh kepada orang lain adalah penghapus kemuliaan harga dirinya.   Fakir itu sendiri disadap dari kosakata bahasa Arab yakni “faqir” artinya orang yang butuh.   Jika Anda dagang, Anda bersikap “tidak butuh” uang pembeli yakni Anda bersikap kaya, kira-kira Anda bangkrut, tidak? Ada pembeli datang ke toko Anda, lalu Anda bersikap kaya, “Aku nggak butuh duitmu, bodo amat! Aku orang kaya kok,” kira-kira ancur-ancuran tidak dagangan Anda? Tidak usah lama-lama, 3 bulan saja Anda pakai mental kaya dalam transaksi, dijamin ludes dagangannya, Anda pun jadi tidak punya duit.   Orang dagang ya harus bermental fakir, bermental butuh uang orang lain, bagaimana duit milik orang lain kemudian jadi milik Anda.   Karena rasa butuh uang orang lain agar jadi milik Anda, maka penjual harus merendahkan diri kepada pembeli, dia harus melayani, harus memperlakukan pembeli sebagai raja.   Jadi siapa bilang mental miskin itu buruk, tidak kok, pada tempat-tempat tertentu yang jadikan Anda punya duit justru mental miskin yakni rasa fakir.   Setiap orang ditempat tertentu harus aktifkan mental miskin, khususnya pada bidang-bidang yang hasilkan uang. Karyawan harus aktifkan mental miskinnya saat kerja karena ia butuh dapat gaji. Bos harus aktifkan mental miskinnya di depan karyawan karena ia butuh pekerjaannya diselesaikan karyawan. Penjual harus aktifkan mental miskinnya ketika ia bertransaksi karena ia butuh dapatkan cuan dari pembeli.   Pembeli harus aktifkan mental miskinnya di depan penjual karena ia butuh dilayani. Raja harus aktifkan mental miskinnya di depan rakyat karena ia butuh diberi kekuasaan. Rakyat harus aktifkan mental miskinnya karena ia butuh dilindungi oleh raja. Ulama harus mengaktifkan rasa miskinnya di depan umatnya karena ia berpentingan didengarkan ilmu dan diikuti petuahnya. Umat butuh aktifkan mental miskinnya di depan ulama karena ia butuh ilmu dan bimbingan ulama. Dan seterusnya.   Nah sekarang siapa bilang mental kaya selamanya baik? Tidak. Hidup stabil dan harmoni itu tengah-tengah antara mental miskin dan mental kaya, tengah-tengah antara iblis dan malaikat, tengah-tengah antara surga dan neraka.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

KEBERLIMPAHAN HATI SEDANG PANAS

Anda tenang hatinya kalau sedang mendengki ataupun didengki orang? Tentu hati jadi panas. Hati sedang dengki yang muncul rasa benci, bagaimana mau tenang? Atau sedang didengki, bagaimana hati tidak risih? Hati jadi benci juga, munculkan gelisah karena saling hasud. Yang Anda harapkan tentu peroleh hati tenang.   Hati tenang itu energi surga. Di surga semua kedengkian telah dicabut dari hati.   وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ اِخْوَانًا عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ   “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS Al-Hijr: 47)   Cuma surga itu alam akhirat, Anda mencarinya di sini ya tidak ada. Artinya totalitas ketenangan hati di sini ya tidak ada. Mau gunakan tehnik meditasi manapun, tehnik zikir manapun, selagi Anda hidup di alam dunia ini, yang namanya ketenangan dan keresahan hati itu karakternya timbul tenggelam, silih berganti.   Alam semesta ini wujud utuh alam material yang unsur masterplan-nya adalah unsur energi surga sekaligus energi neraka. Satu sisi, tubuh Anda butuh dingin dan beningnya air, sisi lain tubuh Anda harus dialiri unsur plasma dalam darah. Energi surga dan energi neraka utuh terwujud dalam diri Anda.   Saya pernah dirawat di rumah sakit karena kekurangan plasma darah. Sekali transfusi itu harga darah per kantongnya Rp 2.250.000. Saya jadi membatin, “Energi neraka mahal juga. Saya kekurangan plasma dalam darah, dimana plasma itu unsur panas neraka, per kantong saja 2 juta lebih. Hahaha neraka ternyata mahal juga untuk sokong keseimbangan hidup di dunia.”   Sama seperti unsur energi neraka dalam tubuh Anda, dalam kesehatan spiritual pun, Anda butuh unsur energi neraka yang panas-panas itu. Anda bisa mati konyol kalau hati Anda hanya disisi ketenangan, kebahagiaan, berdamai, memaafkan, dan energi surga lainnya.   Kesadaran hati Anda bisa gagal tumbuh lantaran kurang energi panas. Tumbuhan saja bisa layu kalau hanya disirami air tapi kurang energi hara tanah dan energi panas sinar matahari, demikian pula hati Anda.   Anda amati riuhnya Word Cup 2022 di Qatar kemarin. Betapa gesekan panasnya hati dalam kompetisi sepak bola tidak menarik trilyunan uang?   Anda sebagai manusia itu gendeng. Hanya untuk bikin menangis milyaran manusia dan hanya bikin segelintir manusia gembira, manusia dengan bangga keluarkan uang trilyunan dollar USA. Iya, Word Cup itu gendeng. Itu agenda dunia untuk bikin nangis pilu dan melukai 37 negara dari 38 peserta Piala Dunia 2022, dan hanya bikin 1 negara yang gembira yakni sang juaranya.   Belum lagi negara anggota FIFA ada 210 negara, dan semuanya sudah ikuti kualifikasi masuk Piala Dunia Qatar, yang artinya sudah ada ratusan negara yang gagal masuk sebagai peserta Piala Dunia Qatar telah menangis sedih lebih dulu.   Sudah begitu, dimodali lagi dengan uang yang tak tanggung-tanggung. Qatar kucurkan modal kurang lebuh Rp 3.142 triliun untuk sukseskan ajang bikin nangis mayoritas isi bumi tersebut.   Gendeng, kan? Hanya untuk bikin 1 negara bangga dan pesta gembira, yakni sang juara Argentina, Piala Dunia Qatar telah bikin ratusan negara lain merasakan kekecewaan dan kesedihan, dan gendengnya lagi dimodali dengan nominal uang tidak main-main. Ya sebenarnya Anda itu orang gila semua.   Dan gebleknya, baik Qatar maupun FIFA, mereka semua untung. Duitnya makin berlimpah.   Berdasarkan laporan dari Aljazeera, baru-baru ini lembaga sepak bola dunia FIFA menyampaikan laporan bahwa Piala Dunia Qatar mendatangkan keuntungan capai US$ 7,5 miliar atau sekitar Rp 117,75 triliun. Nah?   Coba andai cukup selenggarakan pertandingan persahabatan saja yang lebih damaikan situasi hati, apakah akan menarik uang sebesar itu?   Jadi itulah realitas wujud alam material ini, utuh terdiri dari energi surga dan energi neraka. Hati Anda ketika terlalu dingin, tenang, damai, juga rezeki bisa macet.   Sebab itu salah satu nikmat Tuhan terbesar adalah diturunkannya pendengki untuk menyinyiri hidup Anda supaya hati Anda panas. Karena kalau sudah tidak panas, rezeki kurang seru.   Rumusnya “setiap nikmat pasti ada yang dengki”;   استعينُوا على إنْجَاحِ الحَوَائِجِ بالكتمَانِ ، فإنَّ كلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ   “Sukseskanlah penyelesaian hajat kalian dengan menyembunyikan (hajat tersebut), karena setiap orang yang memiliki nikmat pasti akan mendapatkan sikap hasad (dari orang lain)”. (HR Thabrani)   Maka dengan dosis yang terukur, Anda perlu marah kok, perlu dendam, perlu ambisi, perlu nyinyir, perlu mencela, perlu mendengki dan energi panas lainnya. Justru kalau Anda terlalu tenggelam dalam rasa damai, malahan hidup Anda, termasuk spiritual Anda, jadi terhambat bertumbuh. Tapi ingat ya catatannya “dengan dosis yang terukur”.   Banyak orang mengira bahwa marah tidak suci, konflik tidak suci, pertengkaran tidak suci, tidak juga. Anda lihat tabel Asmâ-ul Husnâ, Zat Allah hadir sempurna dengan 2 unsur energi panas dan dingin. Satu sisi Allah Maha Penyayang, sisi lain Maha Pemurka. Satu sisi Maha Pemaaf, sisi lain Maha Penghukum. Satu sisi Maha Pemberi karunia, sisi lain Maha Pengazab.   Jadi marah, tersinggung, jengkel, itu pun spiritual suci yang kesuciannya menyamai memaafkan, santun, kasih, dan seterusnya, namun catatannya dengan dosis yang terukur dengan kebijaksanaan.   Karena itu kalau Anda merasa hatinya masih kotor, kadang suka mendengki, masih kadang nyinyiri orang, ya sebenarnya itu bagian energi hidup yang menyeimbangkan amal kebaikan Anda. Kalau energi panas hati itu sudah redup, Anda tak lagi bisa hidup harmoni stabil.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

NIKMAT DAN DERITA ITU SETARA

Ada orang yang sakit-sakitan berbagai komplikasi sudah belasan tahun, ditambah dengan tekanan ekonomi yang juga sedemikian berat. Sudah terbiasa sakit, mentalitasnya sudah terbiasa hadapi paniknya sakit dengan ketenangan.   Satu ketika ada rekannya yang baru saja sakit jantung parah. Karena baru terserang penyakit parah ya tentu ribut sana-sini, tidak bisa tenang. Lalu ia berkomentar dengan nada mencibir rekannya, “Lah penyakit saja dibikin panik dan ribut.”   Ada orang yang rezekinya membeludak karena ia memang kreatif dan penuh inspirasi. Karena dedikasinya, tak ada lagi kata “susah duit” dalam hidupnya.   Satu ketika ada saudara yang kehidupan finansialnya runyam sekali. Usaha ini dan itu selalu cuma jalan antara 3 bulan, setelah itu berhenti, tidak ada yang istiqamah, lalu bikin alasan ini dan itu untuk membenarkannya.   Ia pun mengomentari dengan cibiran merendahkan, “Mental miskin. Alasan terus.”   Anda amati, yang satu miskin dan sakit-sakitan yang konsekuensinya berhadapan dengan kesabaran tinggi, ujung-ujungnya kesombongan diri juga, kan? Ia merasa berprestasi dalam ketabahan diri hingga merendahkan orang lain yang seumur hidupnya baru kena sakit parah.   Satunya lagi orang penuh prestasi kekayaan, ia bergelut sekian lama dalam keuletan, pekerja disiplin pantang menyerah, ujung-ujungnya muncul kesombongan diri juga, kan? Melihat orang miskin dengan dedikasi rendah ia mencibir.   Jadi dalam perjalanan spiritual, semua setara. Yang sabar dalam kemiskinan ujung-ujungnya sombongkan diri, banggakan diri merasa berprestasi dalam ketangguhan hadapi kesulitan. Yang berlimpah kekayaan ujung-ujungnya juga sombongkan diri, banggakan diri merasa berprestasi hadirkan harta. Keduanya setara.   Yang miskin, yang kaya, yang rajin, yang malas, yang menderita, yang senang,, yang menyucikan hati, yang bekerja, dan seterusnya masing-masing ada kesombongannya.   Dalam kebaikan dan keikhlasan keduanya juga setara.   Ada orang menggenjot sepeda ontel seharian dengan bawa kayu bakar, di hatinya muncul prinsip kuat demi nafkahi dan cukupi keluarga, hatinya rela berpayah-payah demi keluarga, di situ ia tercatat ikhlas sebagai orang sabar.   Ada orang kemana-mana naiki toyota Alphard dengan layanan mewahnya. Naik turun mobil, pintunya dibukakan asisten. Di hatinya selalu merasa kalau ia hanya sedang ungkapkan nikmat dari-Nya atas kemudahan rezeki dan kesehatannya, di situ ia tercatat ikhlas sebagai orang yang bersyukur.   Ya setara. Yang miskin setara ikhlas dengan yang kaya.   Nabi pun menyebutkan kesetaraan ini di mana orang yang menikmati makanan dengan rasa syukur penuh itu pahalanya menyamai orang yang sabar dalam puasa.   قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الصَّائِمِ الصَّابِرِ   Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang makan lagi bersyukur akan mendapat pahala seperti seorang yang berpuasa lagi bersabar. ” (HR Ibn Majah)   Demikian pula syukurnya orang sehat dan sabarnya orang yang menderita itu disebutkan sederajat;   عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: ” كُنْتُ جَالِسًا بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَذْكُرُ الْعَافِيَةَ ، وَمَا أَعَدَّ اللَّهُ لِصَاحِبِهَا مِنْ عَظِيمِ الثَّوَابِ إِذَا هُوَ شَكَرَ، وَيَذْكُرُ الْبَلَاءَ ، وَمَا أَعَدَّ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ مِنْ عَظِيمِ الثَّوَابِ إِذَا هُوَ صَبَرَ، فَقُلْتُ : بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَأَنْ أُعَافَى فَأَشْكُرَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُبْتَلَى فَأَصْبِرَ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( وَرَسُولُ الِلَّهِ يُحِبُّ مَعَكَ الْعَافِيَةَ )   “Dari Abi Darda, ia bercerita, “Saya sedang duduk di hadapan Nabi SAW, beliau menyebutkan kesehatan. Dan hal yang Allah janjikan besarnya pahala kesehatan ketika ia bersyukur. Dan Nabi SAW menyebutkan bencana. Dan hal yang Allah janjikan besarnya pahala ketika ia bersabar. Aku berkata, “Demi ayah dan ibuku, Ya Rasulullah, saya diberikan kesehatan kemudian bisa bersyukur itu lebih saya senangi daripada saya dicoba bencana kemudian bisa bersabar.” Rasulullah SAW bersabda padaku dan beliau mencintai kesehatan besertamu.” (H.R. Thabrani)   Kalau kesetaraan nikmat dan derita, kaya dan miskin sebagai ujian, itu sudah jelas;   وَنَبۡلُوۡكُمۡ بِالشَّرِّ وَالۡخَيۡرِ فِتۡنَةً‌   “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS Al-Anbiyâ : 35)   Bangsa Eropa mayoritas bangsa maju dan kaya. Duitnya gede-gede. Masyarakatnya juga tertib. Namun mereka sangat liberal. Di jalanan kota-kota Eropa, laki-laki dengan laki-laki, wanita dengan wanita, biasa saja unjuk kemesraan pacaran. Agama ditempatkan di ruang hati sendiri-sendiri, urusan publik baik sosial, politik, negara, kemasyarakatan diurus oleh pendapat mereka sendiri.   Di Amsterdam misalkan. Ganja bebas, alkohol bebas, seks bebas, judi bebas, kawin–mau dengan lawan jenis, dengan sejenis, dengan anjing, asal suka sama suka dan tidak mengganggu orang lain–bebas, mau telanjang, mau rapat berpakaian, bebas. Kehidupan liberal begitu, tapi tertib tertata, elegan dan maju.   Sudah begitu bebas sesenang sendiri, duit disana gede-gede, karena negara maju dan kaya. Orang-orangnya juga jenius-jenius.   Sebaliknya mayoritas negara-negara Afrika. Di sana tidak ada negara maju, masih banyak korupsi, banyak peperangan antar suku, ekonomi susah, kotor dan kumuh, banyak kriminalitas, banyak kebodohan, dan ketertinggalan lainnya.   Lalu apa orang Eropa lebih bahagia dari orang Afrika? Tidak. Keduanya setara.   Kesenangan di dunia itu hasilnya apa sih? Apa bahagia? Hasilnya jenuh. Tipe kesenangan dunia itu nagih, selesai cicipi ini, ingin cicipi itu. Ini dan itu sudah diraih semua, tinggal jenuh karena yang ini dan itu sudah membosankan. Puncaknya stres. Jenuh itu penderitaan tinggi.   Nah bangsa Eropa mereka bukan orang bahagia, mereka orang dalam penderitaan jenuh. Akhirnya mereka sebenarnya setara dengan bangsa Afrika, sama-sama menderita.   Bahagia itu ditemukan kalau kita sudah bisa keluar dari tekanan derita, ada kepuasan batin di sana. Bila deritanya orang Afrika adalah kemiskinan, maka mereka yang bahagia adalah yang konsisten berjuang untuk kaya. Bila deritanya orang Eropa adalah kejenuhan karena kebebasan, maka mereka yang bahagia adalah yang berjuang untuk kendalikan diri.   Biasanya tuduhan sombong dan bangga diri dialamatkan ke orang kaya. Tidak. Yang miskin dan menderita pun punya kesombongan dan kebanggaannya sendiri.   Biasanya tuduhan tidak konsisten dialamatkan ke orang miskin. Tidak. Yang kaya pun punya ketidakkonsistensinya sendiri. Sama-sama begonya, Anda pilih mana?   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

SEGERA BAYAR! SISTEM PELANCAR SIRKULASI UANG

Sistem sirkulasi uang adalah mengalir. Akan menjadi masalah besar ketika aliran uang dihambat. Anda menimbun beras, akan terjadi kelangkaan beras, selanjutnya harganya akan melambung, sistem ekonomi pun goncang. Karenanya para penimbun itu terlaknat karena sistem timbun itu sangat menyumbat sirkulasi peredaran rezeki.   الْجَالِبُ مَرْزُوقٌ وَالْمُحْتَكِرُ مَلْعُونٌ “Orang yang mendatangkan barang akan diberi rezeki, dan yang menimbun barang akan dilaknat”. (HR Ahmad & Hakim)   Allah sebagai Al-Ghani (Maha Kaya) juga Dia mencapainya dengan manajemen “alirkan” rezeki. Seluruh rezeki milik-Nya dialirkan semua untuk menghidupi makhluk-Nya, hingga di sisi-Nya tidak pernah tersisa saldo. Namun di titik itu justru Dia menjadi Al-Ghani.   Sering saya sampaikan, wirausaha adalah profesi yang paling banyak menarik uang ketimbang profesi lainnya, karena di wirausaha kerap terseret di situasi “alirkan uang”. Sebentar-sebentar kulakan, sebentar-sebentar bayar, sebentar-sebentar investasi, sebentar-sebentar modal ini dan itu, para pengusaha sebenarnya kerap tak pegang uang saking kuatnya tarikan energi alirkan uang.   Namun ternyata rekor orang-orang terkaya selalu dipegang para wirausahawan. Dunia wirausaha persis manajemen rezeki Allah yang mencapai Al-Ghani dengan mengalirkan.   Dalam transaksi pembayaran sehari-hari kadang ada saja pembayaran tertunda.   Di hari ini saja saya ada pembayaran yang tertunda. Memang bukan karena saya menunda bayar, tapi orangnya minta uang cash fisik sehingga saya harus ambil dulu di ATM. Dan penundaan begitu kerap Anda alami kan?   Nah sistem pembayaran yang tertunda begitu merupakan salah satu pelambat sirkulasi uang beredar dalam diri Anda. Memang masih sehat, hanya saja sebenarnya kelancaran sirkulasi uang sedikit terhambat ketika ada penundaan bayaran.   Penundaan pembayaran itu sebab awal penghentian peredaran sirkulasi uang, makin lama tertunda, gangguan sistem sirkulasi uang makin menjadi. Akibatnya sirkulasi rezeki Anda pun terganggu.   Karenanya, segera (bahasa Jawa “ceket-ceket”) bayar dan segera selesaikan pembayaran itu salah satu password kelancaran rezeki.   Yang memperparah gangguan pada peredaran sirkulasi uang adalah sengaja menunda bayar, entah dengan alasan apapun. Ditunda, ditunda, ditunda, ditunda, ditunda, terus makin lama menunda bayar sistem sirkulasi makin error terganggu, karena mengalir adalah kerangka sistem sirkulasi uang.   Ketika sudah di level sengaja menunda-nunda bayar, efek seret rezeki sudah mulai terjadi. Kadang sudah ngos-ngosan cari uang, rezeki yang dicari tidak ketemu juga, karena sebenarnya di balik riwayat transaksi ekonominya banyak pembayaran yang tertunda.   Dan menunda-nunda bayar akan menjadi penyakit akut rezeki yang parah bila sudah menjadi habit, dimana telah menjadi pembiasaan. Penyakitnya telah kronis ya jelas melarat rezeki menjadi hasilnya.   Di level ini menunda bayar yang telah jadi habit sudah menjadi catatan hutang.   Hutang itu hakikatnya menghentikan aliran uang bersikulasi. Iya, seharusnya uang sudah mengalir ke banyak orang, namun aliran uang tersebut berhenti di dalam diri Anda, menyumbat. Sumbatan aliran darah itu penyakit akut, sumbatan aliran uang juga begitu.   Maka ini jangan pernah bermimpi jadi orang berkelimpahan uang kalau kerjaannya mengemplang hutang. Jangan mimpi!   Menunda bayar akan menjadi habit, dan selanjutnya menjadi servo. Hari kemarin saya telat datang di jam ngajar ngaji jam 16.00 WIB. Saya datang telat pukul 16.15 WIB. Dan hari ini ternyata terulang lagi, itu disebut servo. Maka menunda bayar, entah apapun alasannya, itu juga lama-lama menjadi sistem servo.   Dan kalau sudah menjadi servo, makin hari akan makin tidak ada uangnya untuk bayar karena telah menjadi sistem servo.   Sebaliknya, kalau disiplin bayar dengan bangun mental “segera bayar” juga akan menjadi habit lalu menjadi servo. Ketika servonya disiplin bayar justru sekalipun uangnya tidak diusahakan ada untuk membayar, uang itu hadir sendiri untuk ada. Iya, ada sendiri.   Saya ingat dulu bagaimana dulu saya membentuk habit disiplin segera bayar. Satu ketika saya ada hutang yang diperkirakan bisa saya bayar bulan depannya. Namun di bulan depannya penghasilan saya malah menurun.   Memang orang yang saya hutangi tidak butuh uangnya segera dikembalikan, bahkan dikembalikan tahun depan juga aman-aman saja. Namun di situ saya sadar sepenuhnya, hal ini kalau dibiarkan akan jadi habit lalu jadi servo.   Satu-satunya harta yang tersimpan itu kalung dan cincin emas istri saya, dan itupun bukan kalung dan cincin simpanan, itu kalung dan cincin pernikahan yang sebenarnya sangat sakral.   Tapi karena untuk antisipasi terbentuknya servomechanism menunda bayar, akhirnya saya dan istri sepakat untuk gadaikan emas dan cincin tersebut kepada orang yang hutangi. Saya bilang begini kepadanya, “Saya bayar hutang saya dengan emas ini dulu, nanti bulan depan kalau saya ada uang, emas ini saya ambil lagi. Tolong jangan dijual dulu ya karena ini perhiasan sakral.”   Memang benar, orang yang saya hutangi itu menolak saya bayarkan dulu dengan emas karena merasa belum butuh, ditambah dia punya rasa hormat kepada saya, ditunda pun tidak masalah, namun kemudian saya jelaskan bahwa saya ambil keputusan ini untuk menutup terjadinya servo tunda bayar hutang. Dengan saya bayar dulu dengan emas perhiasan, servo saya terbentuk menjadi orang yang lancar bayar hutang.   Sampai akhirnya 2 bulan kemudian emas tersebut bisa saya tebus lagi.   Segera bayar! Bayar segera! Kalau inginkan sirkulasi rezeki Anda lancar dan sehat.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

RESIKO YANG SELALU KAYA

Syarat kepemilikan itu karena Anda bisa membayar. Anda memiliki mobil karena Anda telah sanggup membayar harganya. Sesuatu yang belum Anda bayar harganya tidak bisa dimiliki.   Kekayaan itu status kepemilikan, berarti syarat kaya adalah memiliki, sementara untuk memiliki harus sudah membayar. Yang kaya tanah tentu ia yang banyak bayar tanah, dan seterusnya.   Citra orang kaya tentu citra kekuatan daya beli, dan membeli itu artinya membayar, sehingga ujung-ujungnya yang paling banyak membayar adalah orang kaya. Sebentar-sebentar bayar mobil, sebentar-sebentar bayar tanah, sebentar-sebentar belanjaan. Yang kaya itu yang banyak membayar.   Karenanya kalau Anda ingin dibeludaki kekayaan rezeki, Anda gemarlah membayar.   Anda amati, seorang bos masuk warung dengan karyawan-karyawannya, si bos yang pasti terjebak bayar, tapi dia yang paling kaya, kan? Seorang bos di hari raya Idul Fitri, dia yang paling habis-habisan, tapi dia juga yang paling kaya. Ya begitulah resiko berani bayar adalah kaya.   Seorang pria berperan pemberi nafkah keluarga, resikonya di keluarganya ia yang paling kaya. Kalau si pria pengecut, lalu istri yang harus kerja cari dan memberi nafkah, maka yang paling kaya juga si istri.   Itulah resiko membayar, resikonya selalu kaya. Sebab itu sedekah selalu akan menarik kekayaan karena sedekah itu hakikatnya membayar.   Salah satu energi alam yang kerap digunakan untuk membayar adalah uang, namun itu cuma salah satu energi alat bayar. Energi lainnya bisa dengan otot, dengan jasa, dengan pikiran, dengan jerih payah, dan lain sebagainya.   Anda yang bekerja siang malam, Anda yang mengabdi siang malam, Anda yang bersabar hati, Anda yang berusaha tanpa putus asa, Anda yang jungkir balik berjuang itu semua Anda yang sedang berproses membayar. Yang membayar dan selalu lunas itu yang beresiko kaya.   Di depan para santri di pesantren saya, kemarin pagi baru saya sampaikan, dan kebetulan santri yang mengaji kepada saya adalah para santri senior yang sudah memasuki masa khidmah kepada guru. Mereka semua diangkat menjadi pengurus pesantren yang sibuk mengurusi adik-adik santrinya. Mereka tentu sangat capek.   Secapek itu, mereka tidak ada yang dibayar. Bukan kyainya tidak mampu bayar atau tidak mau bikin manajemen bayaran, tapi karena mereka para santri yang ingin mulia dan kaya hidupnya.   Karena itu para santri perlu ditraining untuk konsisten membayar harga. Mereka khidmah siang dan malam ke pondok pesantren dengan jerih payah dan pengabdian sebagai bentuk membayar energi telah diajari ilmu oleh guru. Dengan membayar seperti itulah mereka dimudahkan untuk kaya dan mulia, sebab hukum terkonsisten kekayaan adalah membayar.   Sudah berapa tahun saya menulis di media sosial dan membuat konten spiritual pemberdayaan diri? Sejak 2016 hingga kini. Tulisan dan konten tersebut saya bagikan cuma-cuma. Kenapa saya sekonsisten itu berbagi ilmu? Padahal yang bayar tidak ada, bahkan kerap dibully dan diasu-asukan orang? Jawabannya karena saya sedang membayar.   Ya berbagi ilmu itu energi yang saya keluarkan untuk proses membayar di kehidupan ini. Dan dengan membayar melalui sharing ilmu ke publik, efek kayanya nyata sekali. Bikin kelas training ya walaupun mahal, tapi laris manis. Dagangan saya jadi laris, orang belanja di toko saya tanpa putus silih ganti.   Jadi bayar! Bayar! Bayar! Lunasi! Itu resiko terkonsisten untuk kaya, baik bayar dengan harta maupun jerih payah.   Pingin rezeki lancar kok gemarnya yang gratisan, gemarnya dibayari orang, kerja sukanya telat mintanya gaji naik, tangan sukanya ngedeng di bawah, tanggungan hutang sukanya dilupakan, sukanya ditraktir, sukanya nebeng gratisan, sukanya minta-minta, lah mau kaya dari mana?   Tidak ada rumusnya kaya itu karena banyak dibayar, justru rumus kaya itu banyak membayar.   Tuhan Maha Kaya, kapan Anda membayar Tuhan? Justru Tuhanlah yang selalu membayar Anda, Dia selalu tempatkan Zat-Nya sebagai Zat Pembagi rezeki, Dia selalu membayar.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

KELAS SOSIAL RENDAH KERAP KARENA TAK PUNYA MALU

Siapa yang punya keberanian cantumkan kolom pekerjaan tetap sebagai “pengemis atau pelacur” di kartu identitas diri? Siapa coba yang berani?   Mengemis itu pekerjaan mapan. Pegawai kantor, apalagi di NTT sekarang ini, jam 05.00 pagi sudah harus masuk kantor, lah pengemis jam 10.00 pagi bisa jadi baru bangun tidur, dua jam kemudian baru “jalan”.   Melacurkan diri juga pekerjaan mapan, tak perlu ada skill khusus sudah bisa jualan. Lah Anda jualan keripik tempe, sudah repot kuasai skill produksi masih harus kuasai skill penjualan. Enakan melacur, kan?   Mengemis dan pelacuran sebenarnya profesi mapan, tapi kenapa tidak ada yang berani cantumkan sebagai data diri? Karena memalukan.   Pengemis dan pelacur punya kelas sosial rendah di tengah masyarakat karena mereka tidak punya kapasitas menjaga kehormatan diri di depan uang. Ketika melihat uang, mata mereka hijau, selanjutnya urat malunya sendiri diputus demi peroleh uang.   Jadi kenapa seseorang berstatus sosial rendah? Karena mereka tidak punya rasa malu ketika melihat uang. Ya barangkali mereka punya duit karena bagaimanapun mengemis dan melacurkan diri itu juga usaha, itu profesi, cuma sama sekali tidak berharga, statusnya “asor”.   إِنَّ الْحَيَاءَ وَالإِيمَانَ قُرِنَا جَمِيعًا، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ‏ “Sungguh rasa malu dan iman adalah dua hal yang berbarengan. Ketika salah satunya dihapus, yang lainnya pun terhapus.” (H.R. Baihaqi & Hakim)   Sehingga kalau ditarik ke ranah spiritual religius, kalau Anda ingin melihat orang yang tidak ada imannya, di antaranya mereka yang profesinya mengemis dan melacurkan diri, sebab rasa malu dan iman itu dua hal yang menjadi satu kesatuan, rasa malu hilang, maka iman hilang, atau iman hilang maka rasa malu pun hilang.   Jadi tidak punya rasa malu di depan uang itu vibrasikan energi “asor” hidup. Coba pengemis, dia tidak punya nilai tawar sosial saking rendahnya nilai dirinya, dia sudah meminta-minta dengan capek dan memelas hanya untuk peroleh 2 ribu perak, lalu ada orang yang menolak memberi tak mau berbelas kasih, apa si pengemis pantas menawar seperti sales? Mau tidak mau si pengemis harus bersikap “neriman dan asor”. Coba pelacur harus terima jadi bualan omongan jorok, semacam tok3t dan lainnya, kehormatan dan kemuliannya tidak ada.   Tidak punya rasa malu di depan uang itu vibrasikan energi “asor”, karena itu nyaman cari gratisan, nyamam terima bantuan sosial, nyaman tangan di bawah, gemar meminta-minta, itu semua bila menjadi kegemaran akan jadikan nilai tawar sosial Anda rendah. Hidupnya berposisi asor, dan selanjutnya disebut dhuafa (orang-orang lemah).   Alkisah ada pemuda dari keluarga tak mampu yang keluarganya punya banyak sekali masalah hidup. Karena terlihat menganggur, ia ditawari kerja oleh pakdenya sendiri sebagai pelayan tokonya.   Si pakde tidak begitu butuh ambil karyawan keponakannya, namun rasa ingin membantu sangat besar, sehingga walaupun pembiayaan lebih besar tetap dieksekusi.   Biaya pakai tenaga keponakan lebih besar ketimbang pakai karyawan biasa karena tempat tinggal si keponakan jauh, kemudian dia punya 3 anak cewek sehingga tidak ada sisa kamar di rumahnya. Ia pun berinisiatif ambilkan kos kamar untuk keponakannya.   Sebab takut jadikan hati keponakannya tidak nyaman karena disewakan kos spesial, si pakde pura-pura sewa kos untuk untuk studio musiknya sebab ia musisi dangdut juga. Disewa untuk studio musik, lalu si keponakan disuruh menunggui studionya. Itu judul yang dipakai.   Di pedesaan sekedar jadi pelayan toko tentu tidak pakai UMR, tidak seperti di perkotaan, karena itu gajinya tidak cukup kalau dipakai juga untuk makan sehari-hari. Karena itu pakai keponakan sendiri, si pakde harus menanggung makan di rumahnya. Padahal pakai karyawan biasa, di desanya tidak perlu uang makan, cukup gaji bulanan, pakai keponakan si pakde harus menjamin makannya. Namun karena rasa ingin menolong saudara, walaupun resiko pembiayaan lebih besar, tetap dijalani.   Belum lagi karena dia keponakan sendiri, si keponakan diberi akses berbeda dengan karyawan biasa. Ia dilatih menyetir mobil pakai mobilnya, dilatih editing video dan desain grafis agar bisa jadi asisten digital video-video dangdutnya. Dan jelas, ketika si keponakan terlihat habis duitnya ya dikasih pesangon untuk menyambung rokoknya, kalau si pakde dari manapun ya si keponakan dikasih oleh-oleh spesial, dari baju, sandal, kaos, dan lainnya.   Nah ketika dilatih shoting dan editing video ini, pakdenya menugaskan untuk bikin channel youtube dan agar diurus oleh keponakannya agar nantinya kalau sudah mahir bisa jadi asisten digitalnya sehingga duitnya tidak hanya mengalir sebagai karyawan toko tapi juga ada sampingan asisten. Perjanjiannya nanti bagi hasil 40% dari hasil monetisasi youtube.   Jelang satu tahun, si keponakan mulai terlihat watak aslinya, malam hari suka begadang sehingga masuk kerja di toko kerap telat-telat. Awalnya ditegur biasa, tapi tidak ada itikad berubah. Sebulan kemudian diakali dengan potong gaji karena telat, tidak juga berubah. Masuk bulan ke-3 pakdenya bersikap tegas. Ia menegur langsung dengan tegas.   Di sini justru si keponakan melawan dengan diam-diam. Ia tidak berani membantah langsung, tapi ia tetap tidak mau disiplin masuk kerja.   Di bulan berikutnya si keponakan memang sudah tidak berniat ikut pakdenya lagi. Ia mengundurkan diri.   Dan yang kacau, orang tua si keponakan melabrak si pakde via telepon, menuduh pakdenya tidak mau bayar tenaga editing video youtubenya dan tidak rela anaknya disikapi tegas karena melawan diam-diam ketika ditegur suka tidur pagi dan telat masuk kerja.   Padahal sudah jelas, channel youtube belum lama monetisasi, duit belum ada, dibayar dengan bagi hasil 40% belum puas. Karena itu ortunya melabrak. Dalam labrakan si pakde diposisikan sebagai rentenir yang dituduh mengzalimi karyawan.   Dan lagi dilabrakannya, si pakde dituntut bagaimana nanti kalau ada konten youtube yang viral, dia tidak kebagian apa-apa, duitnya hanya dimakan si pakde.   Untung si pakdenya ini orang tegas, ia merasa membantu sebaik mungkin, dilabrak begitu, ia langsung ia langsung mengerti, “Ini anak dan bapaknya tidak punya malu, tidak punya harga diri. Tahunya cuma hukum buruh. Iya, makan tiap hari di rumah orang, menempat gratis di rumah orang, difasilitasi hidup seperti anak sendiri, dibelajari komputer, setir mobil, eeh yang punya rumah nyuruh cucikan piring malah, yang punya rumah disuruh bayar sebagaimana bayar ART,” begitu batin pakdenya.   Pakdenya hanya suruh editing video youtube, dan si pakde sudah mempertimbangkan pertukaran energinya. Dia sudah difasilitasi sebagaimana anak ya layak lah kalau dia disuruh bantu-bantu cuci piring

MEI 2023

ENERGI KAYA ITU KEKUATAN DAYA BAYAR

Secara materi orang yang menrakrir orang lain itu orang yang kehilangan uang, ia rugi. Ya uang di dompet teman-temannya utuh, uang di dompetnya berkurang, secara materi menraktir itu merugi. Namun berbeda ketika ditakar secara energi.   Secara energi, orang yang menraktir itu orang yang membayar. Anda tidak punya kekayaan berupa motor, namun karena Anda mampu membayar harganya, Anda jadi memiliki kekayaan berupa motor.   Nah orang menraktir itu orang yang membayar secara sosial, siapa yang membayar, ia yang memiliki. Yang memiliki, ia yang kaya. Karena itu orang yang menraktir karena ia telah membayar, maka secara energi ia orang yang diuntungkan, walaupun secara materi dirugikan.   Terbalik yah keuntungan secara nilai materi dan energi?   Materi lahir karena adanya energi, karenanya kalau energi Anda di dalam membayar itu besar, Anda pun berenergi kaya, maka energi tersebut yang lalu mendorong wujudkan kekayaan di dunia materi.   Anda merasa sangat susah rezekinya? Ya karena Anda tidak punya energi kayanya. Kalau energi kayanya kosong, bagaimana materinya terwujud?   Menghimpun energi kaya itu identik dengan membayar, yang di keterangan di atas saya gambarkan dengan menraktir. Makin Anda kuat pembayarannya, energi kaya Anda makin terhimpun kuat.   Sebab itu sedekah disebut tidak lah mengurangi harta, justru menambah harta, sebab sedekah itu membayar. Kapan membayar, Anda sedang update energi kaya.   مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Sedekah tidak mengurangi harta”. (H.R. Muslim)   Miskin itu disebabkan daya bayarnya lemah. Anda tidak punya harta ini dan harta itu karena Anda tidak mampu beli, kan? Tidak mampu beli karena Anda tidak mampu bayar.   Orang jadi miskin memang karena sejak awal daya bayarnya lemah. Saya bolak balik kasih bantuan modal kepada orang miskin yang sedang bingung usaha, ya saya hutangi tapi bayar hutangnya silakan seenaknya, yang penting usahanya jalan dulu. Ada yang gabung dengan satu MLM, terlihat jalan sebulan dua bulan, selanjutnya seperti kena sirep, tidak ada beritanya lagi.   Artinya dia ingin kaya tapi daya bayarnya dari segi cita-cita, kemauan, eksekusi kerja, keistiqamahan, sudah sangat lemah. Gabung MLM belum ada 3 bulan, sudah senyap. Bayarannya untuk mencapai kaya sangat lemah. Dari sisi jerih payah sudah lemah bayarannya.   Berawal dari bayaran dari jerih payah yang lemah, energi kaya tentu tidak terhimpun. Karena lemah energi kayanya, duitnya–sebagai wujud materi kaya–pun seret. Duitnya seret, mau membayar pakai uang, entah mau sedekah, mau belanja, mau menraktir, ya tidak bisa karena tidak punya uang.   Diawali daya bayar jerih payah yang lemah selanjutnya wujud material uangnya seret. Uangnya seret dia tidak bayar apa-apa, tidak bisa sedekah, tidak bisa beli ini dan itu, dan seterusnya. Dan selanjutnya dia terus menerus terjebak pola kemiskinan makin dalam. Makin belangsak, miskin dan makin miskin.   Saya ada cerita bagaimana seorang crazy rich muda menghimpun energi kaya. Benar-benar dari nol.   Usai nikah ia memulai usaha rental play station, karena ia memang lulusan SMK jurusan multimedia sehingga kecenderunganya pada dunia digital lumayan besar.   Dalam kurun 3 tahunan, penghasilan hariannya sekitar 20 – 30 ribu per hari. Sudah begitu, ia punya prinsip gila dimana 35% hasilnya harus ia sedekahkan.   Tentu yang paling kerap jadi oposisi dalam hal sedekah 35% adalah istrinya. Apalagi setelah si istri melahirkan anak, kebutuhan makin bertambah, malahan duitnya yang 35% terus saja disedekahkan tiap hari.   Ditambah keluarganya rata-rata agamis, tidak sedikit yang mencibir usaha rental PS kurang berkah karena melayani hiburan anak-anak yang suka anggur-angguran.   Ganti usaha tidak semudah balik telapak tangan, butuh skill dan modal. Dicibir sebagian keluarganya, apa daya ganti usaha tidak semudah balik telapak tangan. Ia tetap uleti rental PS-nya. Hingga akhirnya perlahan ia bergeser ke bisnis warnet, dan rental PS-nya pelan-pelan ditutup.   Dari bisnis warnet itulah ia mulai kenal digital marketing. Ia merambah ke pasar online. Ya modal bikin website, lalu ia dropship dagangan orang. Prinsip sedekah 35%-nya tetap istiqamah.   Pada saat itu rata-rata bisnis warnet sudah gulung tikar termakan tehnologi mobile, namun ia sudah jalan di pasar online.   Dari bisnis onlinenya inilah dia mulai kenal penghasilan puluhan juta, lalu ratusan juta, dan sekarang mobil mewahnya sudah berjejer beberapa ekor di garasi.   Dan di titik sekarang, tiap tahun ia harus umrahkan minimal 3 orang tiap tahun, dimulai dari keluarga dan karyawan-karyawannya. Dan terus saja ia makin kaya raya, rezekinya makin banjir.   Nah kenapa ia terjebak kekayaan? Karena energi kayanya power full yang ia bangun sejak ia miskin. Dari cita-cita, keuletan usaha, komitmen dan dedikasinya dalam bisnis, dari jerih payah, ia besar pembayarannya. Ditambah istiqamahnya untuk selalu dermawan, minimal 35% dari penghasilannya disedekahkan. Itu ia jalani sejak miskin dan istiqamah hingga ia kaya raya. Energi kayanya terhimpun kuat.   Dan siapapun yang besar bayarnya, ia pasti kaya, sebab energi kaya selalu terhimpun dari daya bayar yang besar, entah bayar dengan jerih payah maupun dengan harta.   Sudah cita-citanya rendah, komitmennya rendah, akhlaknya buruk, ditambah irit dan pelit, suka gratisan lagi, lah dari mana bisa menghimpun energi kaya? Zonk.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

MEKANISME TAGIHAN ULANG MUSIBAH

Anda punya hutang berjibun, lalu Anda lari dari tanggung jawab bayar hutang, apa yang terjadi? Tentu Anda tetap akan dipaksa untuk bayar, ya terima musibah masuk penjara, terdampak masalah ruwet dan lainnya.   Karena itu musibah sebenarnya energi pembayaran, mekanisme bagaimana Anda melunasi sebuah kewajiban.   Jadi musibah ada kalanya menjadi energi pelunasan namun ada kalanya menjadi energi simpanan kekayaan yang nanti saya jelaskan satu-satu.   Pertama, musibah sebagai energi pelunasan itu mekanismenya sama seperti bayar hutang. Inj jenus musibah pasca bayar. Anda kalau hutang ambil energi dulu lalu bayarnya belakangan.   Hidup tentu tidak bisa lepas dari dosa dan kesalahan, nah dosa dan kesalahan ini yang selanjutnya harus dibayar dengan mekanisme paksa yakni musibah.   Orang yang mata hatinya terbuka ia akan dengan sadar melihat kesalahannya setiap ia mengalami musibah. Nah yang mata hatinya tertutup itu yang jadinya bingung, ia merasa hidup kok diamuk musibah bertubi-tubi, merasa bernasib sial, namun karena mata hatinya tertutup ia tidak bisa melihat kesalahannya sendiri, lantas menyalahkan keadaan, menyalahkan nasib, mengeluh, menggerutu, dan mungkin menyalahkan Tuhan.   Ada kisah seorang istri menikahi suami sukses yang telah mapan kehidupannya. Setelah 10 tahun menikah, keluarganya terkena musibah, suaminya alami kecelakaan tunggal, patah tulang kaki dan tulang pinggul.   Di situ dia mulai kelihatan cuci tangannya. Liontin dan perhiasan-perhiasannnya tidak boleh tersentuh untuk biayai pengobatan suami. Malahan ketika biaya rumah sakitnya tidak cukup dibiayai pakai Askes, dia memilih melimpahkannya kepada orang tua suami.   Bahkan dia mencoba cari untung diri dari musibah kecelakaan tunggal tersebut. Biaya pengobatan kan keluar dari Askes, eeh dia mencoba ajukan jasa raharja, kalau dana jasa raharja keluar kan jadi asa uang sisa. Cuma oleh pihak kepolisian lakalantas setempat ditolak. Niatnya cari untung sudah terlihat.   Selepas keluar dari rumah sakit, suami pesakitan di kursi roda, ia malah menuntut cerai, ia menganggap itu musibah suami, resikonya. Benar-benar ingin cuci tangan bersih.   Model hadapi musibah begitu yang nantinya akan ditagih ulang lagi dengan musibah lain yang mungkin lebih tragis dan memprihatinkan.   Apalagi sikap si istri yang seperti di atas termasuk sikap al-baghyu (pengecut) dimana ketika suami enak dia numpang enak, suami menderita disuruh tanggung sendiri.   Dan sikap al-baghyu (pengecut) itu salah satu kategori perbuatan yang hukumannya tidak ada penundaan, eksekusi dari-Nya turun segera tanpa tunda.   ‏ كُلُّ ذُنُوبٍ يُؤَخِّرُ اللَّهُ مِنْهَا مَا شَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، إِلاَّ الْبَغْيَ، وَعُقُوقَ الْوَالِدَيْنِ، أَوْ قَطِيعَةَ الرَّحِمِ، يُعَجِّلُ لِصَاحِبِهَا فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْمَوْتِ‏   “Setiap dosa akan diakhirkan (ditunda) balasannya oleh Allah hingga hari kiamat, kecuali al-baghyu (pengecut), durhaka kepada orang tua dan memutuskan silaturahim. Allah akan menyegerakannya di dunia sebelum kematian menjemput.” (HR Al Hakim).   Kenapa ada tagihan ulang musibah? Karena musibah sebagai energi pelunasan adalah metode pembayaran hutang atas dosa dan kesalahan. Anda punya hutang lantas belum dibayar lunas, ya ditagih lagi kan?   Karenanya bersikap pengecut (al-baghyu) dalam hadapi tanggung jawab musibah itu justru akan memanggil terjadinya musibah lain yang lebih sadis dan mengerikan karena tagihan yang dulu belum lunas dibayarkan. Belum lunas ya pasti ditagih lagi.   Kalau Anda menyaksikan orang yang hidupnya kok beruntun terus didatangi musibah sebenarnya yang terjadi adalah mekanisme tagihan ulang. Ia tidak bertanggung jawab dengan resiko musibah pertama, tidak pula mohon ampunan dengan total kepada-Nya, ia malah berusaha cuci tangan. Hasilnya hutang belum lunas dibayar, ya ditagih lagi.   Lalu bagaimana agar musibah itu lunas sebagai energi pembayaran yang tidak menagih ulang?   Harus hadapi musibah dengan sikap total menyerahkan diri. Umpama ada resiko kehilangan harta, sekalipun habis-habisan ya harus dengan kuat hati dibayarkan. Umpama ada resiko sakit ya harus dengan sabar dijalani dengan segala konsekuensinya mulai dari biaya berobat, rasa sakit dan sumpek, semua harus dijalani dengan kuat hati.   Umpama ada resiko dihukum, diadili, dipenjarakan, ya harus dijalani. Umpama ada resiko harus minta maaf ya harus minta maaf, tanggalkan gengsi diri. Dan seterusnya.   Dan istighfar dan taubat kepada-Nya juga harus benar-benar konsekuen, tidak main-main, harus banyak-banyak istighfar.   Barada Eliezer paling berbeda vonis hukumannya dengan Ferdy Sambo dan cs-nya, itu karena totalitasnya Eliezer dalam hadapi resiko hukum juga sangat berbeda, ia total berada di pihak korban yakni pihak Brigadir Josua. Eliezer total membela Josua, total juga meminta maaf kepada keluarga korban.   Kedua, musibah sebagai simpanan kekayaan. Ini musibah yang sistemnya prabayar.   Ada kisah seorang yang dengan rasa tanggung jawab menghidupi keluarganya. Ia puluhan tahun jadi TKA di luar negeri, kerja di perkebunan nanas di Malaysia. Dengan keluarga penuh kasih dan tanggung jawab. Ibadah juga dia sangat taat, bahkan shalat malam dan Dhuha tidak pernah putus.   Satu ketika ia pulang kampung, lah pulang kondangan dengan istri, ia dan istri alami kecelakaan, tabrakan motor vs motor. Dia patah tulang kaki, istrinya patah tulang kanan dan wajahnya luka-luka parah. Untung pihak lawan kecelakaan tidak luka parah.   Dan setelah dengan tabah dan ikhlas hadapi musibah kecelakaan tragis, anehnya 3 tahun kemudian sesudah patah kakinya pulih, dia jadi kaya raya. Warung kelontongan kecilnya dipinggir jalan berkembang pesat. Lalu ia terkenal juragan beras karena bisnis termenonjolnya itu jual beli beras.   Dia tercatat orang yang berbuat baik, lah kok alami musibah setragis itu? Yang demikian itu model musibah sebagai simpanan kekayaan, sistemnya prabayar.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

Scroll to Top