Ayam broiler merupakan ternak yang paling ekonomis, kelebihan yang dimiliki adalah kecepatan pertambahan/produksi daging dalam waktu yang relatif cepat dan singkat atau sekitar 4 – 5 minggu produksi daging sudah dapat dipasarkan atau dikonsumsi.
Hanya butuh 4 – 5 minggu pertumbuhan, ayam broiler sudah siap menjadi daging layak konsumsi, jauh beda dengan waktu yang dibutuhkan ayam kampung untuk siap dikonsumsi dagingnya.
Karena cepatnya pertumbuhan ayam broiler, alam semesta menyeimbangkannya dengan hasil tekstur daging dan tulang yang lembek dan lunak, beda sekali dengan daging dan tulang ayam kampung yang lebih kenyal dan berisi.
Pohon Sengon atau Albasia mampu tumbuh hingga ketinggian 40 meter selama 15 tahun. Setiap tahunnya, pertambahan tinggi Sengon sebesar 7 meter pada lahan yang subur. Hasilnya pohon Sengon kualitas kayunya lunak dan cepat rapuh.
Beda terbalik dengan pohon Ulin Kalimantan. Pohon ini terkenal keras kayunya dan memiliki kelas keawetan yang paling tinggi, kelas awet 1. Lebih tinggi daripada kayu Jati yang tergolong kelas awet 2. Pohon Ulin termasuk jenis pohon yang pertumbuhannya sangat lambat, dalam setahun diameter bertambah tidak sampai 1 cm.
Waktu 1 tahun hanya bisa tambahkan diameter tidak sampai 1 cm, sangat lambat pertumbuhannya, hasilnya kayu Ulin terkenal akan ketahanannya terhadap perubahan suhu, kelembaban, serta tahan terhadap pengaruh air laut, karena sifat kayunya yang sangat berat dan keras, dan tentu harganya super mahal.
Di asrama putri pesantren saya pernah geger, di tengah malam tiba-tiba keramik mushala putri yang baru selesai dipasang 1 mingguan tiba-tiba lepas sendiri. Ada sekitar 20 keramik lepas dengan ngelotok sendiri dan retak, dan tentu suaranya seperti petasan.
Diselidiki ternyata karena para pekerja saat memasang keramik diburu-buru target cepat selesai, hasilnya kontruksi pemasangan keramik tidak akurat, dalam seminggu sudah jebol.
Itu semua berarti alam semesta butuhkan kelambatan proses untuk melahirkan akurasi hasil yang konsisten, presisi dan akurat.
Imam Muhammad bin Abdillah Ibnu Malik, yang terkenal dengan Ibnu Malik adalah seorang ulama yang memiliki keistimewaan di hati santri nusantara, terlebih santri yang menghafal, mendaras dan memahami nazam beliau yang masyhur; Al-Khulâshah atau Alfiyyah Ibn Malik.
Kitab Alfiyyah Ibn Malik hingga menit ini masih eksis sebagai materi ajar ilmu Lughat Arab di seluruh dunia, padahal karya ini ditulis oleh Imam Ibn Malik pada abad ke-13 Masehi. Hasil karyanya berkualitas, awet eksis, ya karena proses akurasi panjang dalam karir leilmuan Imam Malik.
Imam Ibn Malik termasuk ulama sangat alim, tapi muridnya sangat sedikit. Coba bayangkan betapa guncangan mentalnya tidak besar, ibarat Anda sudah tekun belajar hingga hingga S3, tapi cuma jadi guru TK. Namun keadaan itu tetap dijalani oleh Imam Ibn Malik dengan konsisten.
Dikisahkan, suatu hari Imam Ibn Malik menunggu orang-orang untuk belajar kepada beliau. Namun tak kunjung ada yang datang. Beliau pun berdiri dari jendela memanggil orang-orang yang ingin belajar tanpa rasa gengsi (meski beliau telah menjadi pakar ulama Lughat pada zamannya.
“Yang mau belajar ilmu Qiraat. Yang mau belajar ilmu Arabiyah,” tidak ada yang tertarik. Beliau pun pergi lalu mengucap, “Saya bebas dari beban menyembunyikan ilmu (karena beliau telah memanggil orang-orang yang ingin belajar).” Demikian ungkap Imam Jazari, pakar Qiraat kenamaan asal Suriah dalam kitabnya Ghayatun Nihayah, juz 2, hal. 159-160.
Menurut syaikh Ayyub al-Jazairi, meski Ibnu Malik tidak memiliki banyak murid, Allah memberi beliau satu murid yang luar biasa sekali, yaitu Imam An-Nawawi. Imam An-Nawawi memang sempat berguru kepada Imam Ibnu Malik. Dalam Alfiyah, Bab Ibtida’, Imam Ibnu Malik menyebut murid kesayangannya itu.
وَرَجُلٌ مِنَ الْكِرَامِ عِنْدَنَا
“Dan orang mulia di antara kami.”
Kitab karyanya fenomenal, monumental dan mendunia, namun proses akurasinya dengan harga kelambatan karir Imam Ibn Malik sebagai ilmuan. Alimnya luar biasa, seharusnya sangat populer dan punya banyak murid, namun prakteknya sudah tawar-tawarkan ilmu saja dengan ikhlas, hanya sedikit yang mau beli.
Rajul (seorang lelaki) yang disebut dalam nazham Alfiyyah Ibn Malik itu tak lain adalah Imam An-Nawawi, seorang ulama yang karyanya melampaui umurnya.
J.K Rowling yang draft naskahnya “Harry Potter” ditolak puluhan penerbit untuk menerbitkan karyanya, sekarang coba lihat orang mana sih yang tidak kenal dengan Harry Potter? Dicetak berpuluh-puluh kali, menjadi international best selling novel untuk kategori fiksi, ditayangkan dalam bentuk film, dibuatkan scrap book dan berbagai merchandisenya.
Irjen Polisi Ferdy Sambo begitu cepat moncer karirnya, hingga ia disebut sebagai polisi yang raih pangkat jenderal di usia termuda, usia 48 tahun sudah jadi jadi Brigadir Jenderal Polisi. Bahkan tidak sedikit para seniornya yang karirnya disalip begitu saja.
Seperti ayam boiler, seperti pohon Sengon, seperti pasang keramik diburu-buru cepat selesai, sebuah proses karir pun demikian, untuk punya akurasi hasil, butuh proses melambat. Kalau prosesnya menyepat, tentu ada akurasi sistem yang terpasang tidak presisi.
Karena itu jangan heran, lah seorang jenderal muda yang tangkas yang sudah duduk di kursi Kepala Divisi Popram Polri, dimana divisi ini boleh disebut tangan kanannya Polri, lah kok tiba-tiba terjungkal tamat, menjadi dalang pembunuhan sadis?
Itu dikarenakan banyak kesadaran-kesadaran diri sebagai pembesar yang belum dimiliki Fredy Sambo. Ibarat tubuh fisiknya membesar dewasa, namun psikisnya masih kanak-kanak. Hasilnya rapuh, lunak, lentur, keropos, dan cepat ambruk. Kuda-kudanya tidak kokoh, persis ayam boiler dan pohon Sengon. Segala hal butuh waktu normal untuk berproses agar punya hasil akurat.
Jadi kalau karir Ferdy Sambo yang begitu cepat meroket, lalu runtuh dalam hitungan hari ya justru itu yang normal dan wajar, tanda alam semesta bekerja seimbang.
Jenderal Soedirman saja yang begitu baik dan patriotik, yang karena darurat perang dan darurat sistem negara yang baru lahir kemudian karir militer Soedirman begitu cepat meroket juga diseimbangkan dengan usia beliau yang sangat pendek. Apalagi Ferdy Sambo yang barangkali punya otak jahat.
Sekarang kalau Anda tanya, “Kenapa karirku lambat naiknya, padahal aku telah bekerja keras?” Atau, “Kenapa penghasilanku segini saja, padahal aku telah berupaya payah?” Salah satu jawabannya ya agar Anda tidak jadi ayam boiler, karena Anda memerlukan proses melambat melalui tingkat kesulitan tertentu.
رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ وَرُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ
“Bisa jadi Allah memberimu suatu anugerah kemudian Dia menghalangimu darinya; dan boleh jadi Allah menghalangimu dari suatu anugerah kemudian Dia memberimu anugerah yang lain.” (Ibn Athaillah As-Sakandary dalam Al-Hikam).
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply