Tidak semua action benda, lalu konversi energinya bisa diakali hanya dengan intensi dan atensi perasaan hati. Misal Anda berak, lalu Anda gunakan kekuatan intensi dan atensi di dalam hati sebagai bentuk energi makan agar habis berak Anda kenyang, tentu tidak bisa. Berak diniati makan ya tetap tidak bisa hasil kenyang.

 

Nah uang tidak begitu. Uang adalah getaran energi yang dikonversi melalui perasaan hati. Karena itu kalau diamati yang banyak menganggur itu siapa? Dan yang banyak kerja itu siapa? Yang banyak menganggur itu bos, yang banyak kerja itu karyawan. Lalu yang duitnya banyak itu bos apa karyawan? Tentu bos.

 

Itu disebabkan si bos nganggur tetapi dia konversikan perasaan hatinya sebagai orang yang bisa bayar orang lain, hasilnya dia nganggurnya jadi uang. Sebaliknya konversi perasaan hati karyawan, dia kerja tetapi konversinya bawahan yang dibayar, hasil konversinya cuma narik gaji bulanan.

 

Jadi begitulah uang, hanya sebuah permainan getaran energi yang dikonversi melalui perasaan hati. Karena itu dalam Al-Qur’an, agar rezeki baik itu bukan disuruh kerja keras, tapi disuruh syukur, atau tawakal, atau merasa cukup, atau takwa, yang semua itu hanyalah sebuah tarikan konversi energi hati.

 

Dalam akidah kekristenan, Yesus Kristus itu mati di tiang salib, artinya dia adalah korban kezaliman. Namun Yesus mengonversi energi kezaliman yang dia terima sebagai “juru selamat”.

 

Prakteknya Yesus dizalimi salib, namun Yesus mengonversinya sebagai rasa jadi pahlawan yakni penyelamat umat manusia, hasilnya kekristenan sekarang menjadi agama terbesar di dunia, yang artinya banyak orang berbondong-bondong berteduh di bawah salib yang mengzalimi Yesus.

 

Namun ini akidah kekristenan ya, Anda yang muslim atau beragama selain Kristen sebaiknya dilewati saja paragraf di atas. Atau sudah dibaca? Ya hapus saja sendiri. Hahaha.

 

Anda masuk warung makan bareng teman-teman, lalu Anda terjebak mentraktir. Orang mentrakrir itu prakteknya menjadi korban. Karena menikmati makanan dinikmati bareng-bareng, kenyangnya juga kenyang bareng-bareng, lah isi dompet teman-teman utuh, isi dompet Anda terkuras. Kan Anda jadi korban?

 

Namun ketika Anda mampu atasi rasa jadi korban mentraktir dengan dikonversi rasa kaya dan rasa berpunya, misal, “Aku orang kaya, saya yang harus bayar,” maka hasilnya kekayaan, berkah dan kemudahan rezeki. Sebaliknya kalau konversinya rasa sesak hati terjebak traktir, ya sudah di situ Anda tak jauh beda sebagai korban pemerkosaan traktir. Merasa sebagai korban tentu hasilnya keterpurukan.

 

Sejak sebelum TK Anda didoktrin hemat pangkal kaya, yang berarti belief Anda menerima keyakinan kalau boros itu berarti memiskinkan. Nah di situlah perampokan energi uang akan terus terjadi di dalam diri Anda setiap kali Anda keluarkan uang.

 

Mau begitu terus? Ya yakini sepenuhnya kalau hemat itu pangkal kaya. Hahahaha.

 

Anda sehari muter-muter pakai sepeda motor di satu kota, masuk toko sana masuk toko sini, karena barang yang Anda cari tidak ketemu-ketemu. Setiap toko Anda kena cas bayar parkir. Lalu perasaan Anda mengonversi rasa sesak hati bolak balik bayar parkir, itu artinya belief Anda berkata hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin.

 

Coba kalau kasus seperti di atas Anda konversi, “Alhamdulillah hari ini banyak alirkan rezeki ke tukang parkir semoga berkah,” tentu borosnya uang parkir Anda jadi kekayaan rezeki dan keberkahan.

 

Jadi yang enjoy saja jadi pemboros, nikmati dan istiqamahkan, karena yang salah itu mindsett boros tersebut. Coba ganti dengan mindsett “alirkan rezeki dan keberlimpahan,” prakteknya Anda boros namun hasilnya makin deraskan rezeki.

 

Buang jauh-jauh rasa bersalah sebagai pemboros saat keluarkan uang karena disitulah perampokan konversi energi uangnya.

 

Di Eropa kemarin saya kencing di toilet umum bayarnya 1 euro (sekarang sekitar 16.250 rupiah). Coba bandingkan dengan di dalam negeri, kencing di toilet umum bayar cuma 2 ribu. Buang pipis saja bayar 16 ribuan, kalau mindsettnya boros itu kesalahan kelola uang, ya Anda bisa sekarat duit hidup di Eropa.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *