Uang sedang menipis, katakanlah sedang tak punya uang, jelas jadikan daya bayar melemah. Apalagi bisa sedekah, untuk cukupi kebutuhan sendiri saja tercegat, apalagi bisa senangkan orang lain, senangkan diri sendiri juga tertunda-tunda.

 

Padahal kaya itu sama saja dengan kemampuan bayar. Anda tidak punya kekayaan berupa rokok kalau Anda tidak mampu membayar harganya, kan? Orang kaya sebentar-sebentar bayar mobil, tak selang lama bayar tanah, kemudian bayar saham, sebentar-sebentar berkemampuan membayar. Ditambah lagi secara sosial sebentar-sebentar bayar sedekah, ya sudah makin menjadi-jadi kekayaannya.

 

Sementara di kondisi tidak punya uang itu daya bayar Anda menurun, ancaman terjatuh dalam kemiskinan itu sangat serius. Ya apa-apa tidak bisa bayar, kalau terus berulang apalagi dalam jangka waktu lama, ya Anda sama saja menuju pola miskin, kan? Apa-apa tidak bisa beli dan akhirnya ala-apa tidak punya.

 

Inti kaya itu kemampuan daya bayar. Maka dalam kondisi tidak punya uang agar Anda tetap kaya Anda harus tetap di frekuensi membayar.

 

Ingat! Membayar dengan uang itu hanya salah satu sarana bayar, bahkan tidak semua bisa dibayar dengan uang. Tetap di kondisi membayar sekalipun tidak punya uang berarti bayar dengan yang lain.

 

Kalau saya sedang tidak punya uang maka saya meningkatkan pembayaran di sisi lain, misal durasi zikir saya tambah, kalau biasanya zikir baca shalawat hanya 1000 kali maka saya lipatkan jadi 10 ribu kali.

 

Dan kadang pula saya lebih disiplin mengajar ngaji santri, atau lebih banyak lagi berbagi ilmu, atau lebih banyak menolong orang lain, atau ditambah durasi Tahajudnya, ditambah puasanya, dan dengan cara apapun yang penting Anda bertahan di kondisi banyak membayar.

 

Apapun amal shaleh itu semua bentuk pembayaran, maka memperbanyak amal shaleh itulah inti membayar sesungguhnya di saat tak punya uang.

 

Tidak punya uang kok malah cari-cari hutangan, ya Anda makin ringsek, karena hutang itu kebalikannya membayar. Dan tidak punya uang lalu hutang ini tindakan umum dilakukan banyak orang, justru tindakan hutang saat tidak punya uang itulah cara terkonsisten untuk makin tidak punya uang.

 

Malah-malah tak punya uang kemudian nyolong, ya modar sekalian, karena mencuri jelas musuh bebuyutannya membayar.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *