Author name: gus banan

JUNI 2023

DERAJAT HANYA BISA DIBANTU DENGAN UANG

Duit itu punya jaringan luas untuk dijadikan alat membantu sesama makhluk Tuhan. Duit dapat digunakan membantu siapapun dan apapun. Anda mau bantu penjahat dengan duit, bisa. Bantu ulama dengan duit, bisa. Bantu ayam, bisa. Bantu orang miskin, bisa. Bahkan bantu orang kaya dengan duit, juga sangat bisa. Namun ketika Anda mau membantu sesama makhluk Tuhan dengan ilmu, Anda sangat terbatas aksesnya. Anda mau bantu ayam dengan ilmu matematika, pasti sia-sia. Anda punya ilmu BTQ (Baca Tulis Al-Qur’an) lalu Anda gunakan untuk membantu meramaikan gereja, jelas tidak berguna. Dan maaf, Anda punya ilmu pemberdayaan diri, mau dipakai membantu orang yang SDM-nya lemah, Anda bisa stres sendiri. Tidak percaya, silakan Anda nasehati pengemis di jalanan bahwa meminta-minta itu penyebab kemiskinan, pasti Anda dijawab olehnya, “Asu,” dia dibantu ilmu pemberdayaan diri bukan berterima kasih, tapi dia akan tersinggung. Tapi coba Anda bantu si pengemis dengan recehan 2000 perak, dengan santun dia akan mendoakan Anda agar disegerakan naik haji ke Baitulllah, dimudahkan rezekinya, dipanjangkan umurnya. Itu semua berarti jangkauan duit sangat luas dalam fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan), karena siapapun dan apapun bisa Anda bantu dengan duit, semua doyan duit. Namun demikian, yang merugi banyak justru makhluk Tuhan yang hanya bisa menerima bantuan duit, sebab duit sebenarnya sedikit sekali bisa mengubah kehidupan. Anda setiap hari memberi bantuan duit pada ayam, tiap hari Anda kasih mereka dedak, pur ayam, air minum, kandang, dan lain-lain. Apa bantuan duit Anda itu pernah mengubah nasib ayam? Kalau bantuan duit berpengaruh besar mengubah hidup, seharusnya ayam-ayam Anda sekarang ini sudah kaya raya, sudah maju hidupnya. Itu artinya, bantuan duit energi dayanya sangat kecil. Bantuan warisan harta, bantuan subsidi BBM, bantuan subsidi gas dan listrik, bantuan rumah DP 0%, bantuan zakat mal dan zakat fitrah, bantuan BPJS, bantuan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar, itu semua sangat kecil membantu orang untuk berubah nasibnya, sebab ayam tidak pernah maju hidupnya walaupun setiap hari mereka dapat bantuan duit. Kemiskinan dan keterpurukan itu disebabkan Anda hanya mampu menerima bantuan duit. Dibantu dengan diberdayakan dengan ilmu, tidak bisa, itu ciri derajat miskin. Dibantu pelatihan ketrampilan, lalu dikasih modal, tinggal check in jualan, eeh modalnya habis, barangnya entah kemana, ketrampilannya tidak diasah untuk dikembangkan. Diajak jualan tidak mau katanya tak bakat dagang. Diajak jadi karyawan, katanya capek kerja melulu. Disuruh baca buku, katanya malas. Dikasih ilmu lewat tulisan, katanya tulisannya panjang. Dikasih ilmu lewat video, kstanya durasi panjang, enggan menyimak. Dikasih ilmu dengan durasi pendek, mendebat dan nyinyir katanya terlalu pendek tidak memahamkan. Pokoknya semua bantuan pemberdayaan diri dengan model apapun selalu tidak bisa masuk, kecuali jika bantuannya berupa duit, baru lahap diterima. Tapi ya disitu masalahnya, ayam tak ada yang berubah hidupnya karena ayam hanya bisa terima bantuan duit. Sebab hanya ilmu lah yang bisa berdayakan diri, lalu bisa mengubah nasib hidup. Nah orang kaya ternyata karena mereka mampu menerima bantuan ilmu. Sebab ini orang yang diberi bantuan motivasi malahan nyinyir, itu tanda apa ya?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

REZEKI NGE-LAG

Handphone istri saya pernah bolak-balik nge-lag atau lagging. Ternyata saking banyaknya file-file foto dan video yang tidak didelete, belum lagi chache apk yang menumpuk. Padahal foto dan video-video tersebut ya tidak berguna. Lag sendiri artinya ketertinggalan gerakan, kemajuan atau perkembangan. Dalam hal ini yang sering dimaksudkan lag adalah program komputer atau handphone yang mengalami macet saat dijalankan. Penyebab handphone nge-lag adalah banyaknya cache dan sampah yang menggumpal di sistem. Biasanya ini terjadi pada pengguna android yang sangat jarang memperhatikan cache atau sampah dari aplikasi yang digunakan. Cache sendiri adalah sekumpulan data yang terkumpul dalam sistem android. Cache yang tidak dihapus bisa memperberat kinerja handphone dan membuat handphone nge-lag. Sekarang cek almari baju Anda? Banyak tidak pakaian-pakaian sampah? Dipakai tidak, dibuang masih eman? Menumpuk saja di almari. Cek gudang Anda, banyak apa tidak barang-barang bekasan yang tidak terpakai? Dijual rongsokan masih sayang, tapi dimanfaatkan juga tidak? Cek tumpukan kertas, buku rusak, dus bekas, botol-botol bekas, mainan rongsok bekas milik anak, dan lainnya? Ingat! Handphone terlalu banyak sampah dan chache jadi nge-lag. Rezeki Anda pun begitu. Terlalu banyak barang rongsokan di rumah itu salah satu penyebab rezeki Anda nge-lag. Coba bersihkan. Pakaian bekas kalau ada yang terima ya segera berikan. Tidak ada yang terima ya buat lap atau pembersihan terakhir dibakar. Barang-barang rongsok yang bisa dijual, jualah. Tidak bisa dijual, bakar. Pelihara barang rongsok apalagi jika ditilik dari kesadaran spiritual itu sangat buruk. Lah iya, rasa hati terlalu melekat itu salah satunya enggan dilepaskan. Anda punya emas, enggan kan dilepaskan karena begitu melekati dan berharga? Kalau melekati emas itu manfaatnya besar, juga berharga. Lah sampah dan rongsokan saja dilekati di hati? Eman-eman mau dibersihkan. Muhammad Nurul BananGus Banan

JUNI 2023

BENARKAH MENCINTAI UANG TIDAK PERLU?

Ciri sebuah cinta, hati Anda menjadi punya atensi, punya perhatian, lalu Anda jadi tunduk padanya, patuh padanya. ما أحْبَبْتَ شَيئاً إلا كُنْتَ لَهُ عَبْداً، وَهُوَ لا يُحِبُّ أنْ تَكونَ لِغَيْرِهِ عَبْداً “Tidaklah engkau mencintai sesuatu melainkan engkau menjadi hamba baginya, dan Allah tidak ingin engkau menjadi hamba selain-Nya.” (Ibn Athaillah As-Sakandari) Karena ini sifat kehambaan akan selalu dicirikan ketaatan dan ketertundukan. Mencintai dunia (hubbud dun-yâ) termasuk di dalamnya mencintai uang sering dianggap tidak perlu, dianggap sebagai bentuk keburukan, padahal tanpa cinta tidak ada perhatian. Tanpa perhatian rumah kosong justru lekas rusak karena tidak diperhatikan. Uang tidak dicintai akhirnya tidak diperhatikan, tidak diperhatikan konsekwensinya lekas rusak. Coba andai Anda tidak mencintai keluarga, artinya Anda ambil konsekwensi “selain Allah tidak penting” lalu kemudian demi cinta kepada Allah semuanya dilepaskan. Istri diambil lelaki lain, dilepaskan saja karena Anda hanya ingin mencintai Allah. Kan jadi konyol? Tidak ada yang salah Anda mencintai dunia, bahkan di situasi tertentu Anda harus melekatinya, seperti istri Anda agar tidak diambil lelaki lain Anda harus melekatinya sebagai hanya milik Anda. Maka “selain Allah itu tidak penting” ya tidak benar juga. Uang tidak penting, tidak begitu juga. Hubbud dun-yâ itu juga penting agar kualitas hidup Anda dapat atensi baik sehingga terprioritaskan. Allah itu hanya ciptakan satu hati di rongga dada Anda. مَّا جَعَلَ ٱللَّهُ لِرَجُلٍ مِّن قَلْبَيْنِ فِى جَوْفِهِۦ “Sekali-kali Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Q.S. Al-Ahzab : 41) Hati hanya satu harus dipakai mencintai banyak hal, mencintai uang, mencintai Tuhan, mencintai keluarga, dan seterusnya. Satu hati untuk cintai banyak hal itu tidak salah, karena hati dimampukan untuk itu; dimampukan untuk mencintai banyak hal. Bukan cuma mencintai, untuk menampung dua hal berlawanan sekaligus juga hati dimampukan yakni mencintai dan membenci sekaligus. Anda cinta setengah mati dengan cewek, lalu si cewek bikin Anda patah hati, nah itu hati Anda dimampukan cinta sekaligus benci. Karena itu sudah sunnatullah, hati dimampukan mencintai Allah sekaligus mencintai keluarga, mencintai harta, mencintai tanah air dan lainnya. Yang kurang ajar itu gara-gara cinta harta dan cinta dunia lantas hati jadi lupa kepada Allah. Itu yang error. Karena itu mencintai uang bukanlah dosa, dan Tuhan juga tidak cemburu karena memang hati dimampukan mencintai banyak hal sekaligus. Sebab uang tidak dicintai juga jadikan tidak diperhataikan. Apapun yang tidak diperhatikan jadinya rusak seperti halnya rumah kosong. Cintai uangmu, tapi jangan lupakan Tuhanmu. Muhammad Nurul BananGus Banan

JUNI 2023

GETARAN YANG DITANGKAP HATI NURANI MANUSIA ITU NASIB REZEKI ANDA

Jujur, saya termasuk orang yang atasi masalah finansial dengan seenak sendiri menggunakan uang.   Sejak dari miskin dulu saya tidak pernah menghitung-hitung uang lagi. Saya suruh istri siapkan menu makan sehari-hari selengkap mungkin, jangan sampai makan cuma ada dua lauk, misal hanya sayur dan tempe goreng. Dulu isi bensin motor saja pakai Pertamax, enggan isi Pertalite. Rokok konsisten Dji Samsoe Premium, karena waktu itu rokok saya masih cocok kretek. Dan banyak lagi kelakuan konyol saya yang intinya pakai uang “semau gue.” Padahal duit saya ya pas-pasan saja.   Maksud saya melakukan itu ya supaya terbangun rasa kaya, begitu membuka tutup saji di meja makan tersaji lauk pauk enak dan lengkap, di perasaan saya muncul rasa makmur, bukan rasa miskin. Begitu masuk SPBU, ada di area Pertamax, langsung muncul rasa kaya, “Pertamax, BBM horang kaya,” itu yang muncul di hati saya. Saat menghisap rokok, muncul juga rasa kaya, coba kalau saya menghisapnya Djarum 76, mungkin muncul rasa miskin di hati.   Kelakuan finansial begitu apa bedanya dengan boros, hura-hura, sok kaya dan sok gaya?   Namun lucu, tidak ada orang menilai saya orangnya boros, saya sok gaya, saya hedonis, tukang hambur-hambur uang, dan stempel negatif lain. Dari tetangga satu RT sampai publik online semua menangkap saya orang happy, dermawan, kaya, dan parah lagi lalu diikuti orang lain. (Jieeee… narsis amat, Gus. ).   Ya saya “sawudel” sendiri menggunakan uang, niat saya untuk membangun rasa kaya, hasilnya tindakannya boros dan hedonis, tapi menuai pujian.   Beda sekali kan dengan si Menteri Kelautan dan Perikanan? Saat ditangkap penyidik KPK, hasil penggeledahannya, KPK menemukan barang mewah seperti tas selempang merk Louis Vuitton (LV) senilai $3.650 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 51,5 juta, sepatu sneakers Louis Vuitton (LV) seharga $1.050 atau sekitar Rp 14,8 juta, serta beberapa barang mewah lainnya dari merk Chanel, Tumi, serta Rolex.   Yang Anda tangkap dari Pak Menteri, apa? Bukankah mewah-mewahan, hedon dan boros?   Beda niat, beda getaran yang ditangkap, beda kesadaran, beda pula kesan yang diterima orang lain.   Alhamdulillah, getaran yang ditangkap publik dari diri saya itu saya orang happy, dermawan dan kaya, bukan ditangkap negatif, itu artinya getaran niat dan kesadaran saya dalam bertindak meroyalkan uang itu getaran hati positif.   Getaran saya ditangkap positif, hasilnya rezeki saya juga merangkak naik, makin tampak gemilang. Nalar awam itu puyeng menyaksikan diri saya, seenak sendiri dengan uang, mereka sangka saya akan makin banyak hutang, malah hasilnya terbalik dari sangkaan mereka.   Nah ketika Anda boros lalu getaran diri Anda ditangkap negatif, ditangkap seperti getarannya Pak Menteri itu, di situ boros Anda akan memiskinkan Anda, bikin duit Anda sempoyongan. Di situ pasti ada niat dan kesadaran Anda yang salah.   Nah Anda sudah pakai ilmu prosperity saya, Anda mulai seenak sendiri memakai uang, sekarang Anda cek bagaimana respons orang-orang di sekitar Anda? Kalau respons negatif, Anda terpuruk, kalau respons positif, rezeki Anda akan naik.   Lalu kalau hasil cek respons ternyata negatif, apa terus Anda harus berhemat ria, menghentikan tindakan boros? Hallah buat apa duit tidak dinikmati sawudel sendiri, hidup di alam duit cuma sekali ini kok tidak bisa nikmati duit, sia-sia hidup Anda. Pingin bakso saja ditunda-tunda cuma karena pingin utuh punya duit, itu kan sia-sia sekali hidup sekali di alam duit tidak bisa nikmati duit.   Kalau respons orang lain negatif, itu tindakan seenak sendiri dengan uang tetap dilanjutkan terus, no kendor! Hanya perbaiki niat dan kesadarannya saja.   Agar niat dan kesadarannya meningkat dan membaik ya terus belajar. Jangan berhenti belajar! Belajar dan perbaiki diri, kalau pakai duitnya sih sawudel sendiri saja.   Hati nurani manusia itu radar bagaimana Tuhan menilai diri Anda. Kalau hati nurani manusia menangkap royalnya duit Anda seperti getarannya Menteri Kelautan dan Perikanan, itu pula penilaian Tuhan. Sebaliknya, kalau hati nurani manusia menangkap dermawan, mental kaya, happy, itu pula penilaian Tuhan.   Anda dinilai orang sebagai orang boros apa dermawan? Orang happy apa hedonis? Orang bermental kaya apa orang sok kaya? Penilaian hati nurani manusia itu penilaian Tuhan, apa yang dinilai Tuhan tentu itu ridha-Nya. Kalau itu ridha-Nya tentu hajat rezeki Anda juga mudah dikabulkan-Nya.   Soal hati nurani manusia itu sebagai radar Tuhan. Jadi sadar dan niat Anda itu inti masalahnya, bukan tindakannya. Allah SWT berfirman:   لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ   “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Hajj : 37).   Nah kan, tindakan qurban Anda tidak berefek apa-apa di sisi-Nya, namun efek itu ada pada kesadaran takwanya?   Jadi rezeki Anda anjlok babak-belur kalau sadarnya hedon, sok kaya, dan boros, namun rezeki Anda akan menggila kalau sadarnya rasa kaya, rasa dermawan, dan rasa happy.   Dan mengecek kesadaran, niat dan rasa Anda, bisa Anda cek dari respons hati nurani orang lain atas diri Anda.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

MEMATAHKAN KEBESIAN EGO

Untuk memotong dan mematahkan besi bukan memakai gorok yang bergigi besar, tetapi memakai gorok yang bergigi kecil dan lembut. Demikian pula untuk memotong dan mematahkan keangkuhan dan ke-besi-an ego seseorang, tak perlu pakai kekerasan atau keangkuhan yang serupa, tetapi memakai kelembutan dan kesabaran.   Namun itu jika masih bisa dipotong dengan gergaji besi yang kecil dan lembut. Bila besinya sudah membaja, mematahkannya justru dengan dilelehkan, artinya dipanaskan sekalian. Membakar hati orang yang sudah membaja kebesian egonya itu menyakiti orang, tetapi itu sedekah. Karena itu ada kata hikmah;   التَّكَبُّرُ علَى المُتَكَبِّرِ صَدَقَةٌ   “Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah.”   Di tahap melelehkan baja dengan panas, pernah dilakukan Nabi S.A.W;   عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اسْتَقْبَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَعْبَةَ فَدَعَا عَلَى نَفَرٍ مِنْ قُرَيْشٍ عَلَى شَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ وَأَبِي جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ فَأَشْهَدُ بِاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُهُمْ صَرْعَى قَدْ غَيَّرَتْهُمْ الشَّمْسُ وَكَانَ يَوْمًا حَارًّا   “Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, “Nabi S.A.W menghadap Ka’bah lalu mendo’akan kebinasan bagi beberapa orang dari Quraisy, yaitu Syaibah bin Rabi’ah, ‘Utbah bin Rabi’ah, Al-Walid bin ‘Utbah dan Abu Jahal bin Hisyam. Dan aku bersaksi (bersumpah) atas nama Allah. Sungguh aku melihat mereka terbunuh. Jasad mereka berubah karena sengatan matahari, pada saat perang Badar di hari yang sangat panas.” (H.R. Al-Bukhari)   Begitu bengalnya kebesian Syaibah bin Rabi’ah, ‘Utbah bin Rabi’ah, Al-Walid bin ‘Utbah dan Abu Jahal bin Hisyam, dihalusi masih saja menyakiti, Nabi S.A.W sedang shalat saja dilempari kotoran hewan, sampai akhirnya oleh Nabi S.A.W dilelehkan dengan doa panas, dan mereka pun binasa mengenaskan di perang Badar.   Nabi S.A.W diusir dari Mekah, lalu dengan susah payah hijrah ke Madinah. Patahkan besi kecil cukup dengan gergaji bergigi kecil, pengusiran dari tanah kelahiran ini kejahatan level baja, dan oleh Nabi S.A.W dipatahkan, dan pematahannya melalui Fathul Makkah (pembebasan kota Mekah), serang balik dan taklukan.   Anda sudah kerepotan hadapi orang yang selalu sinis kepada Anda? Atau selalu mendengki? Atau selalu memeras? Atau selalu menganiaya? Atau selalu cari enak sendiri? Atau selalu pasang sentimen panas? Ya amuk saja sampai dia kapok.   Namun dengan catatan, dia dipotong pakai gergaji kecil sudah tidak mempan.   Dan asiknya itu berpahala karena sedekah.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

JALAN KAYA; MENCINTAI DAN DICINTAI UANG

Ketika Anda sedang ketat hemat dan ketat efesien, bukankah justru uang memaksa untuk bobol keluar? Seolah ada-ada saja bobolnya di sana-sini? Iya, kan?   Dan—cuma kalau ini banyak yang tidak sadar—ketika sudah dibobol di sana-sini Anda masih saja bandel untuk hemat dan efesien, biasanya malah sekalian turun musibah. Uang makin mengamuk sejadinya. Biasanya uang sedang diawet-awet, sedang disayang-sayang jangan keluar banyak-banyak, eeh malah hilang, eeh malah kecelakaan motor, eeh malah anak sakit, eeh malah tertipu, dan lain sebagainya.   Uang itu punya perasaan, ia butuh dicintai dengan hati. Pernah saya jelaskan, seluruh partikel materi alam semesta ini punya perasaan. Kalau tidak percaya, Anda gunduli pepohonan gunung-gunung dengan eksploitasi total, nanti si gunung akan mengamuk kepada Anda dengan musibah longsor. Anda buang sampah sembarangan di sungai dengan tidak beradab, nanti sungai akan mengamuk balas dendam dengan menumpahi banjir kepada Anda.   Gunung dan sungai punya perasaan, diperlakukan buruk mereka tersinggung. Jika perlakuan buruknya sudah keterlaluan, mereka pun akan mengamuk layaknya Anda yang tersinggung.   Uang pun demikian, ia berperasaan, uang ingin Anda perlakukan dengan cinta.   Bagaimana rasanya andai Anda punya pasangan over protektif, di mana Anda dituntut untuk menjadi pemeran drama Korea yang selalu mesra, selalu romantis, selalu memanjakan Anda, seolah hidupnya harus terkonsentrasi layani romantisme Anda. Ruang gerak Anda dibatasi ketat, hingga kekhawatirannya kepada Anda begitu besar, seolah-olah ia sangat takut kehilangan Anda.   Kira-kira kalau Anda punya pasangan over protektif begitu dalam mencintai, Anda kuat berapa minggu? Seminggu saja insyâ-a-llâh Anda mual-mual.   Uang juga begitu, ketika Anda sedang ketat hemat, ketat atur keuangan, ketat efesien, kemudian Anda optimalkan ketat bisa menabung, perasaan uang sama seperti Anda yang punya pasangan over protektif, apa-apa mengatur, apa-apa minta dipuaskan selera hatinya.   Iya, demi selera kepuasan hati Anda yang ingin selalu punya uang menumpuk, rakus ingin kaya, uang diperlakukan over protektif.   Kalau Anda ingin keluar ke pasar, dicegah, ingin keluar ke sekolah, dicegah, ingin keluar ke warung bakso, dicegah. Pokoknya Anda dibatasi geraknya tidak boleh kemana-mana, harus selalu berada di samping pasangan Anda, ya jelas Anda berontak ngamuk. Uang harus utuh di dompet Anda, utuh di rekening Anda, tidak boleh kemana-mana, ya uang mengamuk, siapa yang betah dengan orang over protektif?   Karena itu, orang yang sedang ketat berhemat, ketat menabung, ketat efesien, justru ada-ada saja kebutuhan yang memaksanya harus mengeluarkan uang. Di saat ada-ada saja kebutuhan hidup yang harus dibiayai, sebenarnya di saat itu uang sudah mulai memberontak, ingin keluar dari kurungan over protektif Anda.   Dan nanti kalau sudah begitu namun Anda tidak kunjung sadar, saat itu uang mulai jengkel, uang sudah mulai punya rasa ingin mengamuk kepada Anda. Dan di saat itu turunlah musibah.   Saat musibah turun, Anda dipaksa dengan sadis untuk habis-habisan keluarkan uang. Istri masuk rumah sakit lah, kecopetan lah, anak kecelakaan motor lah, kecurian lah, dan lain sebagainya yang intinya Anda dipaksa menghabiskan uang.   Dan jika Anda masih tetap bandel, tidak kunjung sadar, selanjutnya Anda dipaksa hutang, yang artinya Anda dipaksa memakai uang yang belum jadi milik Anda untuk biayai musibah Anda. Ngenes.   Masih mau coba-coba ketat hemat, ketat efesien, ketat atur finansial hanya demi kepuasan hati Anda yang inginkan duit tetap di samping Anda? Anda modar gasik kalau begitu.   Lalu bagaimana sih tips mencintai dan dicintai uang?   Bisa mencintai pasangan hidup, Anda harus tahu dulu karakternya, sehingga di situ Anda bisa memahaminya. Demikian pula untuk mencintai uang, Anda harus tahu dulu karakter uang.   Uang itu karakter penciptaannya untuk dibelanjakan, redaksi bahasa yang dipakai Al-Quran adalah “infâq”.   Banyak sekali perintah “infâq” di dalam Al-Quran, mudah bagi Anda melacaknya.   Coba Anda lacak, apa ada tugas penciptaan uang untuk “mengkayakan Anda?” Tidak ada perintah, “Hai orang-orang beriman tumpuklah uang-uang kalian dan kumpulkanlah agar kalian kaya raya”.   Itu artinya karakter penciptaan uang adalah dibelanjakan, dilepaskan untuk cukupi kebutuhan hidup Anda. Karakter penciptaan uang bukan untuk bikin Anda kaya raya.   Jadi songong bin bloon ketika ada orang yang bertahan mati-matian berhemat demi pertahankan uang di dompet dan rekening. Gobloknya super kuadrat. Hanya orang over protektif yang berpikir demikian.   Qorun laknatullah diamuk habis-habisan oleh uang dengan ditenggelamkan ke dasar bumi ya karena over protektifnya Qorun dalam mencintai uang. Uang dipaksa olehnya untuk utuh di gudang-gudang hartanya, utuh di dompetnya, dan jangan kemana-mana.   Hihihi dan Anda yang kena musibah saat ketat-ketatnya berhemat ria, ya itu nasib Qorun sedang menimpa Anda.   Karena itu mencintai uang itu artinya Anda yang enjoy dengan uang, slow dan lentur. Uang minta keluar, keluarkan dengan rasa bahagia, ada kebutuhan ini dan itu segerakan penuhi dengan hati penuh rasa kaya. Nomor belakangkan untuk utuh punya uang, nomor sekiankan untuk bisa menyimpan uang.   Dengan begitu Anda telah mencintai uang, dan tunggu respons si uang, ia pun akan segera mencintai Anda, uang betah bersama Anda.   Saat Anda telah dicintai uang, bersamaan dengan itu Anda mulai kaya.   Dan kronologi bahwa mencintai uang itu dengan tidak over protektif, dan justru harus gesit dibelanjakan (di-infâq-kan) tersurat nyata dalam Al-Qur’an, dan itu dinyatakan sebagai jalan kaya.   مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ   “Perumpamaan orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 261)   Jadi Anda nge-mall, borong-borong keranjangan kebutuhan dapur dengan niat cukupi dan bahagiakan keluarga yang dititipkan Allah, itu nge-mall Anda menjadi infâq di jalan Allah. Karena sudah infâq di jalan Allah, pulang nge-mall, uang yang Anda belanjakan menjadi sebutir biji yang tumbuhkan 7 tangkai, pada tiap tangkai ada 100 biji rezeki. Berlipatganda kan kekayaannya? Pulang nge-mall makin kaya raya.   Makanya kapok iritmu kapan? Keluar kuota buat WhatsApp saja takut, wkkkk.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

“IMPOTEN REZEKI” PARA SUAMI

Dalam seminggu ini saya kok bolak-balik nemui para suami yang rezekinya terhenti sadis. Jadi menggugah saya untuk mengingatkan soal ini lagi.   Di minggu ini saya temui suami yang ijazahnya tinggi, punya pengaruh kepemimpinan di masyarakat, ia kerja dari pagi sampai malam, tapi masyâ-a-llâh hasilnya cuma bisa buat cicil kredit motornya saja. Artinya ia hasilkan uang 1,5 juta sebulan saja sangat sulit.   Ada lagi suami yang punya tangan terampil, servis apa saja bisa, berbagai keahlian tukang, dari las besi, menukang kayu, menukang bangunan, ia bisa, bahkan ketrampilan bernilai seni seperti kaligrafi, melukis, ia bisa. Namun masyâ-a-llâh ia bisa bingung mau kerja apa yang bisa hasilkan uang.   Ada lagi suami yang bakat dan minat dagangnya terlihat sejak masih SD, cerdas sekali bisnis, namun seumur-umur bisnis tetap saja masuk kategori kaum fakir, boro-boro bisnisnya berkembang capai omset besar, stagnan di situ saja dan malah kadang melorot.   Saya amati kasus mereka sama, mereka “gemar menyakiti istri”. Mereka gemar membentak-bentak istrinya, gemar bersikap ketus, selalu getarkan hati geram kepada istri. Apa-apa bentak, apa-apa geram, sedikit-sedikit marah. Padahal kerjaan rumah tangga semuanya istri yang selesaikan, tapi tidak pernah dihargai capeknya, tidak pernah mengalir rasa kasih kepada istrinya sendiri.   Betul itu, suami yang begitu itu sudah pasti masuk antrian kaum fakir miskin, rezekinya mandek dan terhenti.   Ya istri itu tulang rusuk (shulbi) suami. Tulang rusuk sendiri disakiti, siapa yang beresiko berpenyakitan?   Jadi ketika suami dengan sengaja sakiti istrinya, ia sama saja sedang pegang palu besi lalu dihantamkan keras-keras ke tulang rusuknya sendiri. Double kuadrat kan gobloknya?   Cidera otot saja bisa jadikan Anda tidak bisa kerja normal, apalagi tulang rusuk yang tiap hari dipukuli palu besi?   Karena itu suami mau punya ilmu tinggi, mau punya harta warisan banyak, mau punya talent hebat, mau punya leader kuat, mau punya jabatan tinggi, itu semua akan habis tak tersisa sedikitpun untuk angkat martabat dan rezekinya jika ia belum bisa merawat tulang rusuknya sendiri, yakni menghargai istrinya.   Tulang rusuk atau tulang sulbi merupakan salah satu bagian dari tubuh manusia yang jarang diketahui. Tulang sulbi merupakan bagian paling ujung dari tulang belakang manusia, yang biasa disebut dengan tulang ekor.   Tulang sulbi merupakan tempat keluarnya pembuluh darah yang memberikan darah kepada testis dan ovarium.   Disebutkan pula bahwa pembuluh darah vesticular artery dan ovary artery bermula dari satu tempat antara tulang sulbi dan tulang dada.   فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ (5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (7)   “Maka hendaklah manusia memerhatikan dari apakah dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang dipancarkan. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan,” (Q.S. Ath-Thâriq : 5-7)   Dijelaskan bahwa saat manusia mati, seluruh bagian dari tubuhnya akan hancur, kecuali satu organ tubuh yang tidak akan hancur, yaitu tulang sulbi. Dari tulang ini manusia diciptakan dan kelak dibangkitkan kembali.   Dengan tulang sulbi, lelaki memberikan kontribusinya ke alam semesta untuk beranak pinak.   Lah kalau tulang sulbinya rusak karena kerap dipukuli palu sendiri? Tentu ia tidak bisa berkontribusi baik dalam berketurunan, alias impoten maknawi.   Karena ini, suami yang gemar sakiti hati istrinya ia susah menurunkan anak shaleh. Anak-anaknya cenderung durhaka dan tidak berkualitas dikarenakan kualitas pembuluh darah yang memberikan darah kepada testis dan ovarium mengalami kerusakan.   Saya bukan laki-laki romantis, panggil “sayang” saja pada istri terasa kaku, saya juga termasuk suami galak, sekali marah, istri saya tidak berani apa-apa lagi.   Tapi hati saya melihat kalau istri itu adalah makhluk yang harus dimuliakan. Karena saya melihat itu, semua gerak energi saya kepada istri adalah energi yang memuliakan, uang saya memuliakannya, omongan saya memuliakannya, sikap saya memuliakannya.   Dan nyatanya tanya sendiri ke istri saya, ia hidup bersama saya merasa diberi kemuliaan atau kenistaan?   Maka itu, hai para suami, angkatlah derajat istri, muliakan hidupnya, nyamankan lahir batinnya, rezeki Anda, derajat Anda, bahkan kualitas keturunan Anda, bibitnya ada dalam tulang sulbi Anda sendiri yakni istri Anda   Keterangan foto: Dalam foto itu bukan foto istri saya, ya!   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

BEGINI PEMATAH KARIR DAN REZEKI SUAMI

Malam itu saya ketiduran usai Maghrib. Bukan karena kurang tidur atau kecapean, tapi agak masuk angin sehingga mata berat dan terasa mengantuk.   Jam 10 malam saya bangun, belum shalat Isya dan belum makan. Istri di hari itu tidak masak karena para santri, termasuk santri yang melayani rumah tangga kami, sedang liburan semester. Jam 10 malam perut saya lapar. Rempuk sana-sini, nafsu saya mendeteksi ingin mie goreng instan. Dengan segera istri menyiapkan.   Tinggal santap, mie instannnya belum ada potongan cabenya. Saya suruh anak saya ambilkan di kulkas, tapi kemudian yang ambilkan istri.   Masih utuh batangan cabe, belum dipotong. Kebiasaan saya cabe dipotong-potong kecil lalu ditaburkan di atas mie.   Saya menunggu istri sekalian ambilkan pisau atau gunting sambil menyicil menyantap mie goreng. Saya menunggu tapi saya tidak menyuruh, saya pikir istri tahu dengan apa yang kurang. Tidak mungkin cabe dimakan belum dipotong-potong.   Ditunggu malah dia ngajak mengobrol, duduk di depan saya. Lalu dengan hati geram saya ambil cabenya dan saya banting ke lantai.   Hati istri terasa runtuh, ia diam saja dan masuk kamar.   Begitu istri masuk kamar, saya sadar, “Ooh begini ini kelakuan suami yang patahkan tulang rusuk sendiri.”   Ada apa-apa tidak, istri memasakkan dan menyajikan mie instan juga dengan rasa bahagia melayani saya, tapi saya sengaja arogan. Tinggal bilang, “Mana pisaunya?” ia juga pasti bergegas ambilkan, saya malah pakai banting cabe, benar-benar kurang kerjaan.   Saat itu juga saya jadi ingat pesan Nabi S.A.W;   مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَإِذَا شَهِدَ أَمْرًا فَلْيَتَكَلَّمْ بِخَيْرٍ أَوْ لِيَسْكُتْ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا   “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, jika ia menyaksikan sesuatu maka bicara yang baik atau diam. Berwasiat baiklah pada istri, karena dia diciptakan dari tulang rusuk. Bagian tulang rusuk yang paling bengkok ada di atas. Jika kamu berusaha meluruskannya maka dia akan patah, dan bila dibiarkan maka bengkok tetap di posisinya. Sehingga berwasiat baiklah pada istri.” (H.R. Muslim)   Yang paling bengkok dari tulang rusuk itu bagian atasnya, diluruskan terlampau ekstrem akan patah. Dibiarkan tetap bengkok.   Kelakuan saya di atas itu kelakuan arogan, itu yang dimaksud Nabi S.A.W patahkan tulang rusuk.   Nah suami yang kerap lakukan hal-hal begitu pada istrinya sudah pasti ia ambrol karirnya, rontok rezekinya. Bisa-bisa si suami sudah jadi pejabat tinggi, lalu bubar ambyar semua, bisa-bisa sudah punya bisnis besar lalu bangkrut sekarat, bisa-bisa sudah punya karir publik bagus seketika rontok hancur. Dan atau si suami istiqamah melarat, sulit rezeki, sulit kerja, sulit mulia.   Biasanya suami yang berpotensi arogan itu suami yang emosinya menang dari istri, lebih galak dan lebih dominan emosinya. Suami yang demikian itu bagus, itu karakter pemimpin, cuma jebakannya terkadang jadi arogan.   Jujur, saya ini menang segalanya dari istri. Baik emosi, pengaruh, ilmu serta uang, tidak ada satu pun yang istri menang dari saya, sehingga potensi arogan kerap terjadi.   Kalau saya tidak bisa meluruskan tulang rusuk, artinya tidak dapat menasehati dan mengendalikan istri, itu mustahil, karena saya public speaking, motivator sekaligus kyai yang kerjaannya nampari mental orang lain. Namun ya begitu manusia, sesudah merasa kuasa ya jadi arogan. Dan potensi patah tulung rusuk saya dari sisi meluruskan tulang rusuk bengkok dengan ekstrem, alias arogan.   Saya pernah bertemu klien yang pernah punya jaringan bisnis MLM besar, omset hingga milyaran, kemudian runtuh dan ambruk. Saya teliti kesana-kemari ternyata ia doyan selingkuh. Di situ hati istrinya hancur, dan si istri seperti kehilangan rasa segan dan cintanya pada suami.   Karena pintu rusaknya dari hati istri yang hancur, saya nasehatkan ia untuk memperbaikinya agar masuk dari pintu yang sama. “Mengabdi sebaik-baiknya pada istri Anda, taklukan istri agar kembali menyintai dan segan pada Anda,” itu nasehat saya.   Jadi hai para suami yang punya kuasa! Kalau istri Anda sudah hilang respek hatinya kepada Anda, ya mungkin karena kerap dibentak-bentak, kerap diselingkuhi, kerap diperlakukan seenak wudel sendiri, ya saat itu power hidup Anda akan lenyap. Barangkali benar bila pria diciptakan untuk menaklukan dunia, dan wanita diciptakan untuk menaklukan pria.   Itu tipe pematah karir dan rezeki suami yang pertama, ia lebih kuasa tapi terjebak arogan, sehingga ia kerap luruskan barang bengkok dengan ekstrem.   Tipe kedua, suami yang tidak bisa luruskan tulang rusuknya yang bengkok, artinya tidak bisa mengendalikan istri.   Biasanya ini terjadi pada suami yang emosinya kalah dari istri. Ya istri lebih galak, lebih sigap emosinya, sehingga kebijakan biduk rumah tangga kerap diputuskan oleh istri. Artinya istri lebih dominan.   Hihihi, Anda punya suami kalem dan anteng? Kalahan dan neriman dengan Anda? Itu titik dimana suami berkemampuan terbatas meluruskan jika tulang rusuknya bengkok.   Biasanya suami yang begini penghasilannya KO dari istri, ya karena terpimpin dan terkendalikan oleh istri, otomatis dalam karir dan rezeki, akhirnya istri yang ambil alih kemudi.   Hanya bagusnya suami yang demikian sedikit dosanya karena kalem dan anteng sehingga jarang usil dengan kehidupan. Sedikit dosa artinya punya spiritual baik. Cuma lemahnya dari sisi karir dan rezeki, suami yang begini kurang maju hidupnya.   Kalau punya suami begini, bagaimana? Ya si suami punya spiritual baik, sedikit dosa, mengabdi pada orang yang sedikit dosa, kan berkahnya besar? Artinya kuatkan sabarnya dan tetap lah mengabdi karena berkahnya besar.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

UANG ITU HISAB RASA

Di rumah saya ada beberapa kaleng celengan uang milik anak saya; Hissi Billaura Fasyarizan. Selayaknya anak kecil, nalurinya bermain, termasuk main celengan uang.   Jangan dikira karena mainan lalu celengan-celengan tersebut isi recehan 10 ribuan. Tidak. Lembaran merah dan biru. Ya Hissi seenaknya ambil uang entah di dompet bundanya, dompet saya, atau yang kelihatan tergeletak di rumah. Hissi asal ambil, tanpa beban hati, selayaknya anak-anak bermain. Sebutlah memasukkan uang merah dan biru ke celengan, tapi hukum energinya sama seperti memasukkan kertas.   Saya dan istri melihat Hissi hampir tiap hari memasukkan uang kertas merah dan biru ya netral-netral saja hatinya karena tahu Hissi hanya sedang main-main. Kami tidak ada rencana dan harapan apapun, rencana beli sepeda misalkan, rencana titip uang di celengan Hissi, juga tidak. Hati kami netral dengan uang celengan Hissi, pokoknya nuriti anak ingin bermain saja.   Kami hanya sering melarang Hissi memasukkan recehan 10 ribuan atau 20 ribuan, “Jangan yang receh kayak gitu. Itu yang warna merah,” begitu teguran kami.   Ya saya dukung Hissi bermain-main dengan uang gede sekalian, uang yang selama ini dipuja-puji manusia, biarlah itu hanya mainannya anak kecil kami.   Kami tidak tahu uang celengan Hissi terkumpul berapa, yang jelas barangkali banyak, karena hampir setahunan Hissi bermain celengan, dan hampir tiap hari masukkan uang ke celengan.   Saya tidak pernah mendidik Hissi untuk menabung yang energinya menyimpan dan mengumpulkan harta, tapi yang namanya anak kecil salah satu mainannya ya main celengan. Di situ Hissi “hanya bermain”, bukan menabung untuk masa depan, apalagi menabung untuk mengumpulkan harta.   Tindakannya Hissi itu mengumpulkan harta, tapi energinya bermain, dan hasilnya sedikit pun uang yang dikumpulkan Hissi membawa energi buruk ke keluarga kami. Semuanya netral-netral saja.   Di rekening bank, saya juga sering buang uang “turahan” yakni uang kelebihan yang tidak terpakai. Sesudah semua kebutuhan, baik primer atau sekunder, baik yang amal saleh ataupun yang hura-hura seenaknya terpenuhi semua, lalu tiap bulannnya sisanya saya buang ke rekening. Tidak tahu jumlahnya berapa, tapi mungkin banyak, karena setahu saya uang “turahan” tersebut tiap bulannya ada.   Kalau pas tidak ada “turahan”, ya saya tidak tersinggung tidak apa, saya tidak ada nafsu bisa kumpulkan harta di rekening. Pas tidak ada yang “turah”, seenak sendiri pakai uang untuk penuhi kebutuhan hidup tetap saya nomor wahidkan.   Di situ prakteknya saya kumpulkan harta, tapi energinya “uang turah”, memang uang tidak terpakai. Tindakan saya kumpulkan uang, tapi energinya uang “turahan”. Hasilnya semuanya enjoy.   Berbeda dengan yang pernah terjadi pada istri saya.   Pernah istri saya baru sebulan menggenggam uang bayaran mengajar di pesantren, cuma 900 ribu. Namun niat istri saya ingin sisihkan uang agar punya uang sendiri yang tidak terhubung dengan uang milik saya. Ya punya pegangan uang mandiri.   Hasilnya justru istri saya kehilangan uang 2 juta. Uang 2 juta itu raib ditipu pebisnis online.   Di situ istri saya bertindak kumpulkan harta, namun energinya juga menyimpan dan mengumpulkan harta (kanzul mâl), hasilnya azab yang turun, cuma genggam 900 ribu, hilang 2 juta.   Dalam kasus tersebut, istri saya masuk ke dalam mekanisme ayat berikut ini;   وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ٣٤   “Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan keduanya di jalan Allah, maka beritahulah mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (Q.S. At-Taubah : 34).   Anda paham, kan? Kanzul mâl alias kumpulkan harta yang dapat azab, atau infâq fî sabîli-llâh alias membelanjakan harta di jalan Allah yang peroleh rahmat, itu bukan soal tindakan, tapi soal kesadaran di hati Anda, soal perasaan dalam hati Anda. Apa rasa di baliknya.   Karena ini sekarang saya kalau pakai sandal minimal harga 1,5 juta. Sudah malas sandal di bawah 500 ribu. Kenapa? Ya agar hisab saya kelak di akhirat ringan, tidak berat.   Lah iya kalau saya pakai sandal harga di bawah 500 ribu itu artinya saya pelit dengan diri saya sendiri, sebaliknya kalau yang 1,5 juta saya jadi dermawan pada diri saya sendiri.   Dermawan pada diri sendiri itu amal saleh di jalan Allah, hasil hisabnya baik. Karena baik, insya Allah dapat hisab ringan. Paham ya dengan satir sandal saya? Rasa di hati Anda atas uang itu yang akan dieksekusi.   Sebab ini pentingnya Anda punya spiritual, punya nilai-nilai kesalehan dalam diri, karena pengetahuan spiritual dan nilai-nilai kesalehan itu yang akan mengontrol kesadaran-kesadaran Anda atas tindakan Anda pada uang.   Terus belajar, terus berkumpul dengan orang saleh, itu tips agar kesadaran spiritual Anda terjaga.   K.H. Ahmad Abdul Haq, beliau populer sebagai waliyullah, putra wali agung K.H. Dalhar Watucongol, Magelang.   Konon hobi K.H. Ahmad Abdul Haq itu mengoleksi mobil mewah. Keren, kan?   Yang terjadi pada beliau tidak lebih seperti penjelasan saya di atas, bahwa rasa hati Anda dan kesadaran Anda itu yang akan mengeksekusi hasil hisab harta Anda.   Terus belajar ilmu kesadaran dan berkumpullah dengan orang saleh, itu salah satu cara menjaga dan menyalehkan kesadaran Anda.   Kesadaran hati terjaga dalam kesalehan itu enak. Mobil mewah, rumah mewah, uang banyak, nanti mati masuk surga. Hmmm.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

MABOK IKHLAS

Banyak orang menafsirkan kalau ikhlas itu berarti tidak dibayar. Mengajar ngaji tidak dibayar betarti ikhlas, mijiti orang tidak dibayar berarti ikhlas, dan seterusnya.   Padahal kalau ikhlas diukur dengan terima bayaran atau tidak, berarti pedagang yang jelas-jelas cari untung duit mereka tidak ada yang ikhlas dong? Guru dan dosen yang bertarif perjam dan bergaji bulanan, mereka tidak ada yang ikhlas?   Kalau begitu, Nabi S.A.W seorang pedagang ulung yang jelas terima bayaran keuntungan, beliau tidak pernah ikhlas? Atau K.H. Ma’ruf Amin yang terima bayaran sebagai dosen juga tidak pernah ikhlas?   Ikhlas itu tidak terhubung dengan Anda terima bayaran atau tidak.   Ya betul, untuk bangun mental pejuang, Anda perlu melepas dari mengincar bayaran uang ketika mengajar, mengabdi, dan seterusnya. Namun mental pejuang itu tidak ada hubungannya dengan ikhlas atau tidak.   Sebab ikhlas itu dikisahkan dalam hadits musalsal, Hasan R.A ditanyai apa itu ikhlas, beliau tidak tahu lalu menanyakannya pada Hudzaifah R.A. Hudzaifah tidak tahu lalu menanyakannya pada Nabi S.A.W. Nabi pun tidak tahu lalu menanyakannya kepada Jibril. Jibril tidak tahu lalu menanyakannya kepada Allah. Apa jawaban Allah? Ikhlas adalah:   سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِي اسْتَوْدَعْتُهُ قَلْبَ مَنْ أَحْبَبْتُ مِنْ عِبَادِي   “Ikhlas itu rahasia dari rahasia-rahasia-Ku yang Aku menitipkannya di hati hamba-hamba-Ku yang Aku cintai.” (H.R. Al-Qazwini)   “Rahasia dari rahasia-rahasia-Ku”, itu jawaban-Nya. Kesalahannya barang dirahasiakan kok dicari-cari oleh Anda? Ikhlas itu didapatkan bisa jika memang dicintai dan dipilih-Nya, tapi kalau sengaja dicari-cari, lah tahu-tahu rahasia kok dicari. Karena itu kalau Anda mau beramal baik dengan mencari ikhlas, saya percaya Anda malah tidak jadi beramal. Misal mau shalat, sedang takbiratul ihram Anda mengecek hati Anda, “Saya riya enggak, ya?” Dibatalkan shalatnya. Takburatul ihram lagi, mengecek lagi, “Ah ada hajat duniawu ini,” dan batal lagi. Lalu kapan Anda mau shalat?   Makanya ikhlas bukan untuk dicari-cari di balik amal baik Anda sudah ikhlas apa belum. Tapi tugas Anda hanya beramal baik saja, ikhlas atau tidak serahkan pada-Nya karena rahasia-Nya yang artinya kewenangan-Nya untuk diberikan kepada siapa.   Dengan dibayar atau tidak, ikhlas tidak ada hubungannya, hanya kalau ingin bangun mental pejuang, Anda perlu diuji tidak dibayar.   Dulu saya heran dengan para ulama dan para wali, mereka memberikan tuntunan ibadah dan zikir tapi untuk tujuan-tujuan duniawi. Misal shalawat Nariyah untuk hajat dimudahkan rezeki, shalawat Asyghil untuk tujuan keluar dari kezaliman, baca surat Yusuf untuk tujuan pengasihan, shalawat Haybah untuk tujuan bangun kharisma dan wibawa, baca kumpulan shalawat Dalâ-ilul Khairat dengan tujuan kemuliaan dunia akhirat.   Lah ibadah katanya disuruh ikhlas kok malah penuh hajat duniawi? Ya waktu itu saya meragukan, ternyata karena waktu itu saya yang masih “sok ikhlas”, padahal aslinya belepotan dungu.   Begini, semua energi alam semesta itu bisa dikonversikan menjadi energi lainnya. Misal air dikonversi menjadi listrik.   Nah air dikonversi jadi listrik atau tidak, airnya tetap utuh. Anda saksikan saja waduk-waduk yang dijadikan PLTA, apa airnya berkurang karena energinya sudah dikonversi listrik?   Spiritual entah bentuk amal kemanusiaan, amal saleh, ibadah, dan lain-lain itu termasuk energi alam semesta. Karena semua energi alam semesta bisa dikonversikan, termasuk energi spiritual, pun bisa dikonversi menjadi energi apa saja, entah itu kebutuhan dunia maupun kebutuhan akhirat.   Maka ini kemudian ada kisah 3 pemuda yang terjebak di dalam gua, pintu gua tertutup batu. Mereka menggunakan energi spiritual yakni amal-amal shaleh mereka untuk wasilah buka pintu gua yang tertutup batu. Ada yang amal shaleh menahan diri dari niat berzina, ada yang amal shaleh dari berbakti dan melayani orang tua, ada yang amal shaleh memberikan perusahaan ternaknya pada mantan karyawan yang pernah dia tipu. Dan berhasil, amal shaleh dikonversikan untuk hajat selamat terjebak di dalam gua.   Nah satu energi ketika dikonversi ke energi lain, itu energi aslinya sama sekali tidak berkurang. Air dikonversi jadi listrik itu airnya utuh, sama sekali tidak berkurang.   Hajat hidup Anda itu terdiri dari hajat duniawi juga ukhrawi. Maka ini energi spiritual pun bisa Anda konversikan untuk hajat-hajat tersebut.   Dan hukum energi kalau dikonversikan ke dalam energi lain, itu energi aslinya masih utuh. Maka ini Anda ibadah baca shalawat misalkan, dikonversikan agar kaya harta, itu energi ikhlasnya tidak berkurang tidak apa, tidak ganggu sedikitpun li-llâhi ta’âlâ Anda.   Sebab ini para ulama dan para wali mengajarkan tuntunan ibadah untuk hajat-hajat duniawi, karena hakikatnya ibadah itu energi spiritual alam semesta yang bisa Anda konversi ke dalam energi apa saja. Dan dikonversi, suatu energi tidak akan berkurang apa-apa, ikhlas dan li-llâhi ta’âlâ-nya tidak ada yang berkurang kualitasnya.   Guru saya pernah kecurian mobil baru. Merelakan mobil yang hilang itu energi spiritual tinggi. Saat itu beliau mengonversikan dengan berkata penuh tawakal, “Mobil saya yang hilang akan saya jadikan anak shaleh”.   Itu berarti energi spiritual merelakan mobil dicuri dikonversi menjadi energi baru berupa hajat punya anak shaleh.   Lah cara mengonversinya bagaimana? Ya dengan niat, dengan visi di balik aksi.   Ya kalau level spiritual Anda itu level nabi, Anda enak karena urusannya hanya diri Anda dengan Tuhan, kalau level spiritual Anda level rasul? Yang harus sejahterakan keluarga, sejahterakan masyarakat, sejahterakan agama dan bangsa, apa iya Anda bisa ibadah mulus tanpa hajat duniawi? Tidak mungkin. Kalau level spiritual Anda adalah level rasul, mau tidak mau Anda harus konversikan energi spiritual Anda menjadi hajat-hajat duniawi.   Dan tenang saja, dikonversikan duniawi tetap utuh energinya, dikonversikan akhirat tetap utuh energinya, dikonversikan dunia akhirat juga tetap utuh.   Kalau tanpa hajat duniawi boleh saja sih asal Anda hidup di alam kayangan para malaikat.   Kemarin saya menulis status “Awas! Hanya Aksi Kosong” yang isi tulisannya pentingnya memberi visi dalam aksi untuk kemuliaan dan kekayaan Anda, lah ada orang ikhlas (ehm ehm ehm) yang komentar, “Ibadah itu harus ikhlas, masa ibadah dengan visi duniawi. Hahaha,” katanya.   Anda yang kemarin komentar itu, tulisan ini jawabannya, biar ada tambahan pinter sedikit, ya!   Cuma tulisan itu saya delete, karena saya menyontohkan pakai data para teman alumni pesantren, takut kurang etis jadi saya delete. Lain kali saya posting ulang dengan contoh kasus lain yang lebih etis.   Jadi terserah Anda, mau dikonversikan atau tidak, energi spiritual itu utuh volumenya. Kalau Anda sudah tidak

Scroll to Top