Ketika Anda sedang ketat hemat dan ketat efesien, bukankah justru uang memaksa untuk bobol keluar? Seolah ada-ada saja bobolnya di sana-sini? Iya, kan?

 

Dan—cuma kalau ini banyak yang tidak sadar—ketika sudah dibobol di sana-sini Anda masih saja bandel untuk hemat dan efesien, biasanya malah sekalian turun musibah. Uang makin mengamuk sejadinya. Biasanya uang sedang diawet-awet, sedang disayang-sayang jangan keluar banyak-banyak, eeh malah hilang, eeh malah kecelakaan motor, eeh malah anak sakit, eeh malah tertipu, dan lain sebagainya.

 

Uang itu punya perasaan, ia butuh dicintai dengan hati.

Pernah saya jelaskan, seluruh partikel materi alam semesta ini punya perasaan. Kalau tidak percaya, Anda gunduli pepohonan gunung-gunung dengan eksploitasi total, nanti si gunung akan mengamuk kepada Anda dengan musibah longsor. Anda buang sampah sembarangan di sungai dengan tidak beradab, nanti sungai akan mengamuk balas dendam dengan menumpahi banjir kepada Anda.

 

Gunung dan sungai punya perasaan, diperlakukan buruk mereka tersinggung. Jika perlakuan buruknya sudah keterlaluan, mereka pun akan mengamuk layaknya Anda yang tersinggung.

 

Uang pun demikian, ia berperasaan, uang ingin Anda perlakukan dengan cinta.

 

Bagaimana rasanya andai Anda punya pasangan over protektif, di mana Anda dituntut untuk menjadi pemeran drama Korea yang selalu mesra, selalu romantis, selalu memanjakan Anda, seolah hidupnya harus terkonsentrasi layani romantisme Anda. Ruang gerak Anda dibatasi ketat, hingga kekhawatirannya kepada Anda begitu besar, seolah-olah ia sangat takut kehilangan Anda.

 

Kira-kira kalau Anda punya pasangan over protektif begitu dalam mencintai, Anda kuat berapa minggu? Seminggu saja insyâ-a-llâh Anda mual-mual.

 

Uang juga begitu, ketika Anda sedang ketat hemat, ketat atur keuangan, ketat efesien, kemudian Anda optimalkan ketat bisa menabung, perasaan uang sama seperti Anda yang punya pasangan over protektif, apa-apa mengatur, apa-apa minta dipuaskan selera hatinya.

 

Iya, demi selera kepuasan hati Anda yang ingin selalu punya uang menumpuk, rakus ingin kaya, uang diperlakukan over protektif.

 

Kalau Anda ingin keluar ke pasar, dicegah, ingin keluar ke sekolah, dicegah, ingin keluar ke warung bakso, dicegah. Pokoknya Anda dibatasi geraknya tidak boleh kemana-mana, harus selalu berada di samping pasangan Anda, ya jelas Anda berontak ngamuk. Uang harus utuh di dompet Anda, utuh di rekening Anda, tidak boleh kemana-mana, ya uang mengamuk, siapa yang betah dengan orang over protektif?

 

Karena itu, orang yang sedang ketat berhemat, ketat menabung, ketat efesien, justru ada-ada saja kebutuhan yang memaksanya harus mengeluarkan uang. Di saat ada-ada saja kebutuhan hidup yang harus dibiayai, sebenarnya di saat itu uang sudah mulai memberontak, ingin keluar dari kurungan over protektif Anda.

 

Dan nanti kalau sudah begitu namun Anda tidak kunjung sadar, saat itu uang mulai jengkel, uang sudah mulai punya rasa ingin mengamuk kepada Anda. Dan di saat itu turunlah musibah.

 

Saat musibah turun, Anda dipaksa dengan sadis untuk habis-habisan keluarkan uang. Istri masuk rumah sakit lah, kecopetan lah, anak kecelakaan motor lah, kecurian lah, dan lain sebagainya yang intinya Anda dipaksa menghabiskan uang.

 

Dan jika Anda masih tetap bandel, tidak kunjung sadar, selanjutnya Anda dipaksa hutang, yang artinya Anda dipaksa memakai uang yang belum jadi milik Anda untuk biayai musibah Anda. Ngenes.

 

Masih mau coba-coba ketat hemat, ketat efesien, ketat atur finansial hanya demi kepuasan hati Anda yang inginkan duit tetap di samping Anda? Anda modar gasik kalau begitu.

 

Lalu bagaimana sih tips mencintai dan dicintai uang?

 

Bisa mencintai pasangan hidup, Anda harus tahu dulu karakternya, sehingga di situ Anda bisa memahaminya. Demikian pula untuk mencintai uang, Anda harus tahu dulu karakter uang.

 

Uang itu karakter penciptaannya untuk dibelanjakan, redaksi bahasa yang dipakai Al-Quran adalah “infâq”.

 

Banyak sekali perintah “infâq” di dalam Al-Quran, mudah bagi Anda melacaknya.

 

Coba Anda lacak, apa ada tugas penciptaan uang untuk “mengkayakan Anda?” Tidak ada perintah, “Hai orang-orang beriman tumpuklah uang-uang kalian dan kumpulkanlah agar kalian kaya raya”.

 

Itu artinya karakter penciptaan uang adalah dibelanjakan, dilepaskan untuk cukupi kebutuhan hidup Anda. Karakter penciptaan uang bukan untuk bikin Anda kaya raya.

 

Jadi songong bin bloon ketika ada orang yang bertahan mati-matian berhemat demi pertahankan uang di dompet dan rekening. Gobloknya super kuadrat. Hanya orang over protektif yang berpikir demikian.

 

Qorun laknatullah diamuk habis-habisan oleh uang dengan ditenggelamkan ke dasar bumi ya karena over protektifnya Qorun dalam mencintai uang. Uang dipaksa olehnya untuk utuh di gudang-gudang hartanya, utuh di dompetnya, dan jangan kemana-mana.

 

Hihihi dan Anda yang kena musibah saat ketat-ketatnya berhemat ria, ya itu nasib Qorun sedang menimpa Anda.

 

Karena itu mencintai uang itu artinya Anda yang enjoy dengan uang, slow dan lentur. Uang minta keluar, keluarkan dengan rasa bahagia, ada kebutuhan ini dan itu segerakan penuhi dengan hati penuh rasa kaya. Nomor belakangkan untuk utuh punya uang, nomor sekiankan untuk bisa menyimpan uang.

 

Dengan begitu Anda telah mencintai uang, dan tunggu respons si uang, ia pun akan segera mencintai Anda, uang betah bersama Anda.

 

Saat Anda telah dicintai uang, bersamaan dengan itu Anda mulai kaya.

 

Dan kronologi bahwa mencintai uang itu dengan tidak over protektif, dan justru harus gesit dibelanjakan (di-infâq-kan) tersurat nyata dalam Al-Qur’an, dan itu dinyatakan sebagai jalan kaya.

 

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

 

“Perumpamaan orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 261)

 

Jadi Anda nge-mall, borong-borong keranjangan kebutuhan dapur dengan niat cukupi dan bahagiakan keluarga yang dititipkan Allah, itu nge-mall Anda menjadi infâq di jalan Allah. Karena sudah infâq di jalan Allah, pulang nge-mall, uang yang Anda belanjakan menjadi sebutir biji yang tumbuhkan 7 tangkai, pada tiap tangkai ada 100 biji rezeki. Berlipatganda kan kekayaannya? Pulang nge-mall makin kaya raya.

 

Makanya kapok iritmu kapan? Keluar kuota buat WhatsApp saja takut, wkkkk.

 

Muhammad Nurul Banan

 

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *