Banyak orang menafsirkan kalau ikhlas itu berarti tidak dibayar. Mengajar ngaji tidak dibayar betarti ikhlas, mijiti orang tidak dibayar berarti ikhlas, dan seterusnya.

 

Padahal kalau ikhlas diukur dengan terima bayaran atau tidak, berarti pedagang yang jelas-jelas cari untung duit mereka tidak ada yang ikhlas dong? Guru dan dosen yang bertarif perjam dan bergaji bulanan, mereka tidak ada yang ikhlas?

 

Kalau begitu, Nabi S.A.W seorang pedagang ulung yang jelas terima bayaran keuntungan, beliau tidak pernah ikhlas? Atau K.H. Ma’ruf Amin yang terima bayaran sebagai dosen juga tidak pernah ikhlas?

 

Ikhlas itu tidak terhubung dengan Anda terima bayaran atau tidak.

 

Ya betul, untuk bangun mental pejuang, Anda perlu melepas dari mengincar bayaran uang ketika mengajar, mengabdi, dan seterusnya. Namun mental pejuang itu tidak ada hubungannya dengan ikhlas atau tidak.

 

Sebab ikhlas itu dikisahkan dalam hadits musalsal, Hasan R.A ditanyai apa itu ikhlas, beliau tidak tahu lalu menanyakannya pada Hudzaifah R.A. Hudzaifah tidak tahu lalu menanyakannya pada Nabi S.A.W. Nabi pun tidak tahu lalu menanyakannya kepada Jibril. Jibril tidak tahu lalu menanyakannya kepada Allah. Apa jawaban Allah? Ikhlas adalah:

 

سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِي اسْتَوْدَعْتُهُ قَلْبَ مَنْ أَحْبَبْتُ مِنْ عِبَادِي

 

“Ikhlas itu rahasia dari rahasia-rahasia-Ku yang Aku menitipkannya di hati hamba-hamba-Ku yang Aku cintai.” (H.R. Al-Qazwini)

 

“Rahasia dari rahasia-rahasia-Ku”, itu jawaban-Nya. Kesalahannya barang dirahasiakan kok dicari-cari oleh Anda? Ikhlas itu didapatkan bisa jika memang dicintai dan dipilih-Nya, tapi kalau sengaja dicari-cari, lah tahu-tahu rahasia kok dicari.


Karena itu kalau Anda mau beramal baik dengan mencari ikhlas, saya percaya Anda malah tidak jadi beramal. Misal mau shalat, sedang takbiratul ihram Anda mengecek hati Anda, “Saya riya enggak, ya?” Dibatalkan shalatnya. Takburatul ihram lagi, mengecek lagi, “Ah ada hajat duniawu ini,” dan batal lagi. Lalu kapan Anda mau shalat?

 

Makanya ikhlas bukan untuk dicari-cari di balik amal baik Anda sudah ikhlas apa belum. Tapi tugas Anda hanya beramal baik saja, ikhlas atau tidak serahkan pada-Nya karena rahasia-Nya yang artinya kewenangan-Nya untuk diberikan kepada siapa.

 

Dengan dibayar atau tidak, ikhlas tidak ada hubungannya, hanya kalau ingin bangun mental pejuang, Anda perlu diuji tidak dibayar.

 

Dulu saya heran dengan para ulama dan para wali, mereka memberikan tuntunan ibadah dan zikir tapi untuk tujuan-tujuan duniawi. Misal shalawat Nariyah untuk hajat dimudahkan rezeki, shalawat Asyghil untuk tujuan keluar dari kezaliman, baca surat Yusuf untuk tujuan pengasihan, shalawat Haybah untuk tujuan bangun kharisma dan wibawa, baca kumpulan shalawat Dalâ-ilul Khairat dengan tujuan kemuliaan dunia akhirat.

 

Lah ibadah katanya disuruh ikhlas kok malah penuh hajat duniawi? Ya waktu itu saya meragukan, ternyata karena waktu itu saya yang masih “sok ikhlas”, padahal aslinya belepotan dungu.

 

Begini, semua energi alam semesta itu bisa dikonversikan menjadi energi lainnya. Misal air dikonversi menjadi listrik.

 

Nah air dikonversi jadi listrik atau tidak, airnya tetap utuh. Anda saksikan saja waduk-waduk yang dijadikan PLTA, apa airnya berkurang karena energinya sudah dikonversi listrik?

 

Spiritual entah bentuk amal kemanusiaan, amal saleh, ibadah, dan lain-lain itu termasuk energi alam semesta. Karena semua energi alam semesta bisa dikonversikan, termasuk energi spiritual, pun bisa dikonversi menjadi energi apa saja, entah itu kebutuhan dunia maupun kebutuhan akhirat.

 

Maka ini kemudian ada kisah 3 pemuda yang terjebak di dalam gua, pintu gua tertutup batu. Mereka menggunakan energi spiritual yakni amal-amal shaleh mereka untuk wasilah buka pintu gua yang tertutup batu. Ada yang amal shaleh menahan diri dari niat berzina, ada yang amal shaleh dari berbakti dan melayani orang tua, ada yang amal shaleh memberikan perusahaan ternaknya pada mantan karyawan yang pernah dia tipu. Dan berhasil, amal shaleh dikonversikan untuk hajat selamat terjebak di dalam gua.

 

Nah satu energi ketika dikonversi ke energi lain, itu energi aslinya sama sekali tidak berkurang. Air dikonversi jadi listrik itu airnya utuh, sama sekali tidak berkurang.

 

Hajat hidup Anda itu terdiri dari hajat duniawi juga ukhrawi. Maka ini energi spiritual pun bisa Anda konversikan untuk hajat-hajat tersebut.

 

Dan hukum energi kalau dikonversikan ke dalam energi lain, itu energi aslinya masih utuh. Maka ini Anda ibadah baca shalawat misalkan, dikonversikan agar kaya harta, itu energi ikhlasnya tidak berkurang tidak apa, tidak ganggu sedikitpun li-llâhi ta’âlâ Anda.

 

Sebab ini para ulama dan para wali mengajarkan tuntunan ibadah untuk hajat-hajat duniawi, karena hakikatnya ibadah itu energi spiritual alam semesta yang bisa Anda konversi ke dalam energi apa saja. Dan dikonversi, suatu energi tidak akan berkurang apa-apa, ikhlas dan li-llâhi ta’âlâ-nya tidak ada yang berkurang kualitasnya.

 

Guru saya pernah kecurian mobil baru. Merelakan mobil yang hilang itu energi spiritual tinggi. Saat itu beliau mengonversikan dengan berkata penuh tawakal, “Mobil saya yang hilang akan saya jadikan anak shaleh”.

 

Itu berarti energi spiritual merelakan mobil dicuri dikonversi menjadi energi baru berupa hajat punya anak shaleh.

 

Lah cara mengonversinya bagaimana? Ya dengan niat, dengan visi di balik aksi.

 

Ya kalau level spiritual Anda itu level nabi, Anda enak karena urusannya hanya diri Anda dengan Tuhan, kalau level spiritual Anda level rasul? Yang harus sejahterakan keluarga, sejahterakan masyarakat, sejahterakan agama dan bangsa, apa iya Anda bisa ibadah mulus tanpa hajat duniawi? Tidak mungkin. Kalau level spiritual Anda adalah level rasul, mau tidak mau Anda harus konversikan energi spiritual Anda menjadi hajat-hajat duniawi.

 

Dan tenang saja, dikonversikan duniawi tetap utuh energinya, dikonversikan akhirat tetap utuh energinya, dikonversikan dunia akhirat juga tetap utuh.

 

Kalau tanpa hajat duniawi boleh saja sih asal Anda hidup di alam kayangan para malaikat.

 

Kemarin saya menulis status “Awas! Hanya Aksi Kosong” yang isi tulisannya pentingnya memberi visi dalam aksi untuk kemuliaan dan kekayaan Anda, lah ada orang ikhlas (ehm ehm ehm) yang komentar, “Ibadah itu harus ikhlas, masa ibadah dengan visi duniawi. Hahaha,” katanya.

 

Anda yang kemarin komentar itu, tulisan ini jawabannya, biar ada tambahan pinter sedikit, ya!

 

Cuma tulisan itu saya delete, karena saya menyontohkan pakai data para teman alumni pesantren, takut kurang etis jadi saya delete. Lain kali saya posting ulang dengan contoh kasus lain yang lebih etis.

 

Jadi terserah Anda, mau dikonversikan atau tidak, energi spiritual itu utuh volumenya. Kalau Anda sudah tidak punya hajat dunia dan akhirat boleh sekali Anda polos tanpa konversi. Saya kira, hidup bisa lumayan polos dari hajat dunia itu nanti bila Anda sudah usia 100 tahun, di mana wakafnya sudah 20 hektar, anak-anaknya sudah shaleh dan berilmu semua ples dapat warisan semua.

 

Cuma setelah usia 100 tahun itu sesudah hajat dunia tuntas semua, Anda tinggal harus hadapi hajat akhirat yang jauh lebih ambisius karena di sana selamanya.

 

Kalau saya sudah lama mengonversikan spiritual saya untuk “hidup mulia dan mati mulia”.

 

Masih mau polos li-llâhi ta’âlâ? Hahaha. Gayanya ikhlas, beli rokok saja bingung duit. Gayanya ikhlas, facebook-an saja nyinyir.

 

Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *