Jujur, saya termasuk orang yang atasi masalah finansial dengan seenak sendiri menggunakan uang.
Sejak dari miskin dulu saya tidak pernah menghitung-hitung uang lagi. Saya suruh istri siapkan menu makan sehari-hari selengkap mungkin, jangan sampai makan cuma ada dua lauk, misal hanya sayur dan tempe goreng. Dulu isi bensin motor saja pakai Pertamax, enggan isi Pertalite. Rokok konsisten Dji Samsoe Premium, karena waktu itu rokok saya masih cocok kretek. Dan banyak lagi kelakuan konyol saya yang intinya pakai uang “semau gue.” Padahal duit saya ya pas-pasan saja.
Maksud saya melakukan itu ya supaya terbangun rasa kaya, begitu membuka tutup saji di meja makan tersaji lauk pauk enak dan lengkap, di perasaan saya muncul rasa makmur, bukan rasa miskin. Begitu masuk SPBU, ada di area Pertamax, langsung muncul rasa kaya, “Pertamax, BBM horang kaya,” itu yang muncul di hati saya. Saat menghisap rokok, muncul juga rasa kaya, coba kalau saya menghisapnya Djarum 76, mungkin muncul rasa miskin di hati.
Kelakuan finansial begitu apa bedanya dengan boros, hura-hura, sok kaya dan sok gaya?
Namun lucu, tidak ada orang menilai saya orangnya boros, saya sok gaya, saya hedonis, tukang hambur-hambur uang, dan stempel negatif lain. Dari tetangga satu RT sampai publik online semua menangkap saya orang happy, dermawan, kaya, dan parah lagi lalu diikuti orang lain. (Jieeee… narsis amat, Gus. ![]()
![]()
).
Ya saya “sawudel” sendiri menggunakan uang, niat saya untuk membangun rasa kaya, hasilnya tindakannya boros dan hedonis, tapi menuai pujian.
Beda sekali kan dengan si Menteri Kelautan dan Perikanan? Saat ditangkap penyidik KPK, hasil penggeledahannya, KPK menemukan barang mewah seperti tas selempang merk Louis Vuitton (LV) senilai $3.650 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 51,5 juta, sepatu sneakers Louis Vuitton (LV) seharga $1.050 atau sekitar Rp 14,8 juta, serta beberapa barang mewah lainnya dari merk Chanel, Tumi, serta Rolex.
Yang Anda tangkap dari Pak Menteri, apa? Bukankah mewah-mewahan, hedon dan boros?
Beda niat, beda getaran yang ditangkap, beda kesadaran, beda pula kesan yang diterima orang lain.
Alhamdulillah, getaran yang ditangkap publik dari diri saya itu saya orang happy, dermawan dan kaya, bukan ditangkap negatif, itu artinya getaran niat dan kesadaran saya dalam bertindak meroyalkan uang itu getaran hati positif.
Getaran saya ditangkap positif, hasilnya rezeki saya juga merangkak naik, makin tampak gemilang. Nalar awam itu puyeng menyaksikan diri saya, seenak sendiri dengan uang, mereka sangka saya akan makin banyak hutang, malah hasilnya terbalik dari sangkaan mereka.
Nah ketika Anda boros lalu getaran diri Anda ditangkap negatif, ditangkap seperti getarannya Pak Menteri itu, di situ boros Anda akan memiskinkan Anda, bikin duit Anda sempoyongan. Di situ pasti ada niat dan kesadaran Anda yang salah.
Nah Anda sudah pakai ilmu prosperity saya, Anda mulai seenak sendiri memakai uang, sekarang Anda cek bagaimana respons orang-orang di sekitar Anda? Kalau respons negatif, Anda terpuruk, kalau respons positif, rezeki Anda akan naik.
Lalu kalau hasil cek respons ternyata negatif, apa terus Anda harus berhemat ria, menghentikan tindakan boros? Hallah buat apa duit tidak dinikmati sawudel sendiri, hidup di alam duit cuma sekali ini kok tidak bisa nikmati duit, sia-sia hidup Anda. Pingin bakso saja ditunda-tunda cuma karena pingin utuh punya duit, itu kan sia-sia sekali hidup sekali di alam duit tidak bisa nikmati duit.
Kalau respons orang lain negatif, itu tindakan seenak sendiri dengan uang tetap dilanjutkan terus, no kendor! Hanya perbaiki niat dan kesadarannya saja.
Agar niat dan kesadarannya meningkat dan membaik ya terus belajar. Jangan berhenti belajar! Belajar dan perbaiki diri, kalau pakai duitnya sih sawudel sendiri saja.
Hati nurani manusia itu radar bagaimana Tuhan menilai diri Anda. Kalau hati nurani manusia menangkap royalnya duit Anda seperti getarannya Menteri Kelautan dan Perikanan, itu pula penilaian Tuhan. Sebaliknya, kalau hati nurani manusia menangkap dermawan, mental kaya, happy, itu pula penilaian Tuhan.
Anda dinilai orang sebagai orang boros apa dermawan? Orang happy apa hedonis? Orang bermental kaya apa orang sok kaya?
Penilaian hati nurani manusia itu penilaian Tuhan, apa yang dinilai Tuhan tentu itu ridha-Nya. Kalau itu ridha-Nya tentu hajat rezeki Anda juga mudah dikabulkan-Nya.
Soal hati nurani manusia itu sebagai radar Tuhan.
Jadi sadar dan niat Anda itu inti masalahnya, bukan tindakannya.
Allah SWT berfirman:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Hajj : 37).
Nah kan, tindakan qurban Anda tidak berefek apa-apa di sisi-Nya, namun efek itu ada pada kesadaran takwanya?
Jadi rezeki Anda anjlok babak-belur kalau sadarnya hedon, sok kaya, dan boros, namun rezeki Anda akan menggila kalau sadarnya rasa kaya, rasa dermawan, dan rasa happy.
Dan mengecek kesadaran, niat dan rasa Anda, bisa Anda cek dari respons hati nurani orang lain atas diri Anda.

Leave a Reply