Malam itu saya ketiduran usai Maghrib. Bukan karena kurang tidur atau kecapean, tapi agak masuk angin sehingga mata berat dan terasa mengantuk.
Jam 10 malam saya bangun, belum shalat Isya dan belum makan. Istri di hari itu tidak masak karena para santri, termasuk santri yang melayani rumah tangga kami, sedang liburan semester.
Jam 10 malam perut saya lapar. Rempuk sana-sini, nafsu saya mendeteksi ingin mie goreng instan. Dengan segera istri menyiapkan.
Tinggal santap, mie instannnya belum ada potongan cabenya. Saya suruh anak saya ambilkan di kulkas, tapi kemudian yang ambilkan istri.
Masih utuh batangan cabe, belum dipotong. Kebiasaan saya cabe dipotong-potong kecil lalu ditaburkan di atas mie.
Saya menunggu istri sekalian ambilkan pisau atau gunting sambil menyicil menyantap mie goreng. Saya menunggu tapi saya tidak menyuruh, saya pikir istri tahu dengan apa yang kurang. Tidak mungkin cabe dimakan belum dipotong-potong.
Ditunggu malah dia ngajak mengobrol, duduk di depan saya. Lalu dengan hati geram saya ambil cabenya dan saya banting ke lantai.
Hati istri terasa runtuh, ia diam saja dan masuk kamar.
Begitu istri masuk kamar, saya sadar, “Ooh begini ini kelakuan suami yang patahkan tulang rusuk sendiri.”
Ada apa-apa tidak, istri memasakkan dan menyajikan mie instan juga dengan rasa bahagia melayani saya, tapi saya sengaja arogan. Tinggal bilang, “Mana pisaunya?” ia juga pasti bergegas ambilkan, saya malah pakai banting cabe, benar-benar kurang kerjaan.
Saat itu juga saya jadi ingat pesan Nabi S.A.W;
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَإِذَا شَهِدَ أَمْرًا فَلْيَتَكَلَّمْ بِخَيْرٍ أَوْ لِيَسْكُتْ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, jika ia menyaksikan sesuatu maka bicara yang baik atau diam. Berwasiat baiklah pada istri, karena dia diciptakan dari tulang rusuk. Bagian tulang rusuk yang paling bengkok ada di atas. Jika kamu berusaha meluruskannya maka dia akan patah, dan bila dibiarkan maka bengkok tetap di posisinya. Sehingga berwasiat baiklah pada istri.” (H.R. Muslim)
Yang paling bengkok dari tulang rusuk itu bagian atasnya, diluruskan terlampau ekstrem akan patah. Dibiarkan tetap bengkok.
Kelakuan saya di atas itu kelakuan arogan, itu yang dimaksud Nabi S.A.W patahkan tulang rusuk.
Nah suami yang kerap lakukan hal-hal begitu pada istrinya sudah pasti ia ambrol karirnya, rontok rezekinya. Bisa-bisa si suami sudah jadi pejabat tinggi, lalu bubar ambyar semua, bisa-bisa sudah punya bisnis besar lalu bangkrut sekarat, bisa-bisa sudah punya karir publik bagus seketika rontok hancur. Dan atau si suami istiqamah melarat, sulit rezeki, sulit kerja, sulit mulia.
Biasanya suami yang berpotensi arogan itu suami yang emosinya menang dari istri, lebih galak dan lebih dominan emosinya. Suami yang demikian itu bagus, itu karakter pemimpin, cuma jebakannya terkadang jadi arogan.
Jujur, saya ini menang segalanya dari istri. Baik emosi, pengaruh, ilmu serta uang, tidak ada satu pun yang istri menang dari saya, sehingga potensi arogan kerap terjadi.
Kalau saya tidak bisa meluruskan tulang rusuk, artinya tidak dapat menasehati dan mengendalikan istri, itu mustahil, karena saya public speaking, motivator sekaligus kyai yang kerjaannya nampari mental orang lain. Namun ya begitu manusia, sesudah merasa kuasa ya jadi arogan. Dan potensi patah tulung rusuk saya dari sisi meluruskan tulang rusuk bengkok dengan ekstrem, alias arogan.
Saya pernah bertemu klien yang pernah punya jaringan bisnis MLM besar, omset hingga milyaran, kemudian runtuh dan ambruk. Saya teliti kesana-kemari ternyata ia doyan selingkuh. Di situ hati istrinya hancur, dan si istri seperti kehilangan rasa segan dan cintanya pada suami.
Karena pintu rusaknya dari hati istri yang hancur, saya nasehatkan ia untuk memperbaikinya agar masuk dari pintu yang sama. “Mengabdi sebaik-baiknya pada istri Anda, taklukan istri agar kembali menyintai dan segan pada Anda,” itu nasehat saya.
Jadi hai para suami yang punya kuasa! Kalau istri Anda sudah hilang respek hatinya kepada Anda, ya mungkin karena kerap dibentak-bentak, kerap diselingkuhi, kerap diperlakukan seenak wudel sendiri, ya saat itu power hidup Anda akan lenyap. Barangkali benar bila pria diciptakan untuk menaklukan dunia, dan wanita diciptakan untuk menaklukan pria.
Itu tipe pematah karir dan rezeki suami yang pertama, ia lebih kuasa tapi terjebak arogan, sehingga ia kerap luruskan barang bengkok dengan ekstrem.
Tipe kedua, suami yang tidak bisa luruskan tulang rusuknya yang bengkok, artinya tidak bisa mengendalikan istri.
Biasanya ini terjadi pada suami yang emosinya kalah dari istri. Ya istri lebih galak, lebih sigap emosinya, sehingga kebijakan biduk rumah tangga kerap diputuskan oleh istri. Artinya istri lebih dominan.
Hihihi, Anda punya suami kalem dan anteng? Kalahan dan neriman dengan Anda? Itu titik dimana suami berkemampuan terbatas meluruskan jika tulang rusuknya bengkok.
Biasanya suami yang begini penghasilannya KO dari istri, ya karena terpimpin dan terkendalikan oleh istri, otomatis dalam karir dan rezeki, akhirnya istri yang ambil alih kemudi.
Hanya bagusnya suami yang demikian sedikit dosanya karena kalem dan anteng sehingga jarang usil dengan kehidupan. Sedikit dosa artinya punya spiritual baik. Cuma lemahnya dari sisi karir dan rezeki, suami yang begini kurang maju hidupnya.
Kalau punya suami begini, bagaimana? Ya si suami punya spiritual baik, sedikit dosa, mengabdi pada orang yang sedikit dosa, kan berkahnya besar? Artinya kuatkan sabarnya dan tetap lah mengabdi karena berkahnya besar.

Leave a Reply