Duit itu punya jaringan luas untuk dijadikan alat membantu sesama makhluk Tuhan. Duit dapat digunakan membantu siapapun dan apapun. Anda mau bantu penjahat dengan duit, bisa. Bantu ulama dengan duit, bisa. Bantu ayam, bisa. Bantu orang miskin, bisa. Bahkan bantu orang kaya dengan duit, juga sangat bisa.
Namun ketika Anda mau membantu sesama makhluk Tuhan dengan ilmu, Anda sangat terbatas aksesnya. Anda mau bantu ayam dengan ilmu matematika, pasti sia-sia. Anda punya ilmu BTQ (Baca Tulis Al-Qur’an) lalu Anda gunakan untuk membantu meramaikan gereja, jelas tidak berguna.
Dan maaf, Anda punya ilmu pemberdayaan diri, mau dipakai membantu orang yang SDM-nya lemah, Anda bisa stres sendiri. Tidak percaya, silakan Anda nasehati pengemis di jalanan bahwa meminta-minta itu penyebab kemiskinan, pasti Anda dijawab olehnya, “Asu,” dia dibantu ilmu pemberdayaan diri bukan berterima kasih, tapi dia akan tersinggung.
Tapi coba Anda bantu si pengemis dengan recehan 2000 perak, dengan santun dia akan mendoakan Anda agar disegerakan naik haji ke Baitulllah, dimudahkan rezekinya, dipanjangkan umurnya.
Itu semua berarti jangkauan duit sangat luas dalam fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan), karena siapapun dan apapun bisa Anda bantu dengan duit, semua doyan duit.
Namun demikian, yang merugi banyak justru makhluk Tuhan yang hanya bisa menerima bantuan duit, sebab duit sebenarnya sedikit sekali bisa mengubah kehidupan. Anda setiap hari memberi bantuan duit pada ayam, tiap hari Anda kasih mereka dedak, pur ayam, air minum, kandang, dan lain-lain.
Apa bantuan duit Anda itu pernah mengubah nasib ayam? Kalau bantuan duit berpengaruh besar mengubah hidup, seharusnya ayam-ayam Anda sekarang ini sudah kaya raya, sudah maju hidupnya.
Itu artinya, bantuan duit energi dayanya sangat kecil. Bantuan warisan harta, bantuan subsidi BBM, bantuan subsidi gas dan listrik, bantuan rumah DP 0%, bantuan zakat mal dan zakat fitrah, bantuan BPJS, bantuan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar, itu semua sangat kecil membantu orang untuk berubah nasibnya, sebab ayam tidak pernah maju hidupnya walaupun setiap hari mereka dapat bantuan duit.
Kemiskinan dan keterpurukan itu disebabkan Anda hanya mampu menerima bantuan duit. Dibantu dengan diberdayakan dengan ilmu, tidak bisa, itu ciri derajat miskin. Dibantu pelatihan ketrampilan, lalu dikasih modal, tinggal check in jualan, eeh modalnya habis, barangnya entah kemana, ketrampilannya tidak diasah untuk dikembangkan.
Diajak jualan tidak mau katanya tak bakat dagang. Diajak jadi karyawan, katanya capek kerja melulu. Disuruh baca buku, katanya malas. Dikasih ilmu lewat tulisan, katanya tulisannya panjang. Dikasih ilmu lewat video, kstanya durasi panjang, enggan menyimak. Dikasih ilmu dengan durasi pendek, mendebat dan nyinyir katanya terlalu pendek tidak memahamkan.
Pokoknya semua bantuan pemberdayaan diri dengan model apapun selalu tidak bisa masuk, kecuali jika bantuannya berupa duit, baru lahap diterima.
Tapi ya disitu masalahnya, ayam tak ada yang berubah hidupnya karena ayam hanya bisa terima bantuan duit. Sebab hanya ilmu lah yang bisa berdayakan diri, lalu bisa mengubah nasib hidup.
Nah orang kaya ternyata karena mereka mampu menerima bantuan ilmu.
Sebab ini orang yang diberi bantuan motivasi malahan nyinyir, itu tanda apa ya?
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply