Author name: gus banan

MEI 2023

INTENSI CARI UANG YANG STRESKAN UANG

Intensi (niat) sekalipun hanya gerakan hati tetapi intensi itulah hakikat sebuah aktifitas.   Sering saya sampaikan, shalat Hajat dan shalat Taubat yang dilakukan di jam yang sama, itu semua gerakan dan rukunnya sama, doa bacaannya sama, cuma beda di intensinya saja. Cuma selisih di getaran intensi, lantas segala fadhilah beserta hasilnya jadi beda telak. Shalat Hajat punya hasil diijabah hajatnya, shalat Dhuha punya hasil diampuni dosanya, padahal cuma beda “nawaitu-nya” saja.   Sebuah aktifitas tanpa kesadaran intensi itu sedikit sekali membawa perubahan hidup. Kuda delman seperti apa kerja kerasnya dengan lari, tapi tidak punya intensi kaya ya kuda delman tidak ada yang kaya.   Di desa saya ada pengusaha keturunan Tionghoa, dia mulai dagang dengan jualan jajanan anak pakai etalase meja makannya yang dipindah ke teras rumah, eeh sekarang toko kelontongnya menjadi toko terbesar di desa. Itu karena dia ada niat kuat menjadi kaya. Namun ada juga tetangga saya yang buka warung dengan etalase meja makannya lalu amblas tak berbekas, itu karena niatnya lemah.   Getaran niat adalah kerangka dasar untuk menghasilkan apa yang akan Anda kerjakan. Pekerjaan boleh sama, hasilnya akan beda tajam karena beda niat.   Harta itu makhluk pelayanan yang diciptakan untuk layani kepentingan Anda. Semua pelayanan diciptakan hakikatnya untuk memberikan kenyamanan. Di setiap bandara dan stasiun kereta api disediakan layanan ruang khusus merokok, itu artinya agar para perokok merasa nyaman.   Mau melayani tentu karena menghormati dan mencintai. Uang mau melayani tentu karena uang hormat dan mencintai Anda.   Karena itu ketika Anda mencari uang dengan akses niat merendahkan manusia, di situ uang akan alami tekanan stres bersama Anda, dan pungkasnya Anda yang hancur lebur sebab telah bikin stres uang. Ya betapa uang tidak stres, karakternya uang melayani dengan hormat dan cinta kepada tuannya yakni manusia, malahan oleh Anda diajak untuk merendahkan manusia.   Peta niat mencari uang, mencari kekayaan agar uang harmoni bukannya stres bersama Anda, sebagaimana dipetakan dalam hadits berikut ini;   مَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا حَلاَلاً اِسْتِعْفَافًا عَنِ الْمَسْأَلَةِ وَسَعْيًا عَلَى أَهْلِهِ وَتَعَطُّفًا عَلَى جَارِهِ لَقِيَ اللهُ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ، وَمَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا مُكَاثِرًا بِهَا حَلاَلاً مُرَائِيًا لَقِيَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهَ غَصْبَانُ   “Barangsiapa mencari (kenikmatan) dunia dengan halal untuk menjaga diri dari meminta-minta; untuk memenuhi kebutuhan keluarganya; dan untuk berderma kepada tetangganya, maka di hari kiamat ia akan bertemu Allah dan wajahnya bersinar terang laksana bulan purnama. Sedangkan barangsiapa mencari (kenikmatan) dunia dengan halal untuk menumpuk-numpuknya dan pamer kepada sesama maka di hari kiamat ia akan bertemu Allah sedang Allah murka kepadanya. (H.R. Baihaqi dalam Kitab Syu’bul Îmân)   Di hadits di atas, sesudah Anda melewati mekanisme rezeki halal, Anda diajarkan untuk menata niat, mana niat yang bikin uang harmoni bersama Anda, dan mana niat yang bikin uang stres tertekan bersama Anda.   Pertama niat yang bikin uang harmoni, ini adalah getaran hati yang akan memanggil ridha Allah, bahkan dijanjikan kelak di hari kiamat wajah Anda akan bersinar terang bak rembulan purnama, yakni 1). Niat menjaga diri agar tidak meminta-minta. 2). Niat cukupi kebutuhan keluarga. 3). Niat agar bisa berderma kepada sesama manusia.   Anda perhatikan, ketiga niat di atas punya getaran memuliakan manusia. Niat jaga diri agar tidak meminta-minta jelas itu getaran agar harga diri Anda terjaga juga agar Anda tidak menjadi beban bagi orang lain. Demikian pula niat cukupi kebutuhan keluarga itu demi mengangkat martabat keluarga Anda agar sejahtera. Dan niat agar bisa berderma, ini jelas sekali fokusnya untuk memuliakan sesama manusia.   Kedua niat yang bikin uang stres bersama Anda. Ini adalah cari uang dengan getaran niat yang jika dusimpulkan adalah getaran niat yang merendahkan martabat manusia, yakni 1). Niat untuk menumpuk-numpuk harta artinya niat memperkaya diri agar tampak paling banyak hartanya. Dalam niat ini jelas harta digunakan untuk merendahkan martabat orang lain atas diri Anda. 2). Niat pamer-pameran ya karena pamer berpotensi melukai hati orang lain yang ujung-ujungnya juga merendahkan derajat orang lain.   Jadi tali simpulnya uang diciptakan untuk layani manusia dengan hormat dan cinta, maka itu kalau cari uang dengan niat merendahkan martabat manusia di antaranya dengan mengungguli sesama dengan harta. Di situlah uang akan stres bersama Anda karena uang dilencengkan dari karakter aslinya yakni melayani manusia dengan hormat dan cinta.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

MEI 2023

WELASI DIRIMU

Semalam saya suruh santri saya bikin baretan di mobil saya pakai batu. Dia keheranan dan kaget. Ia menolak. Terus dia saya suruh bikin baretan di sepeda rongsok, bekas dipakai anak saya. Dan ia melakukan.   Saya tanya padanya, “Kenapa kamu tidak berani baretin mobil saya?”   “Mobil itu berharga, Gus,” jawab santri.   “Kenapa dengan sepeda bekas berani baretin?” Tanya saya lagi.   “Karena tidak berharga, Gus,” jawabnya.   Itulah sesuatu yang tidak berharga akan mudah menarik koyakan, serangan, bullying dan mudah disakiti.   Setiap diri Anda itu pancarkan getaran perasaan dan pikiran yang pancarannya selalu akan ditangkap oleh obyek di sekitar Anda.   Kalau Anda masuk suatu rumah, dimana Anda telah berpikir ada hantu di situ, selanjutnya pikiran ada hantu men-down-kan mentalitas Anda, muncullah rasa takut. Dan saat mental Anda ketakutan, di situlah hantu akan beneran nongol dan meneror Anda. Artinya hantu pun menangkap pancaran diri Anda, hantu tahu mana orang yang layak dijadikan korbannya.   Itu hantu. Demikian pula penjahat, pembully, pengejek, penghina, penodong, akan datangi korbannya karena mereka sebenarnya sudah mengenali dulu mentalitas korbannya melalui antena tangkapan perasaan mereka. Ketika Anda pancarkan stres dan dalam kondisi mental lemah, penjahat menangkap pancarannya, selanjutnya target korban dijalankan.   Sebab itu wanita ketika di luar rumah banyak menjadi korban kriminalitas dan kejahatan karena mayoritas wanita memang kuat memancarkan perasaan takut, lemah, dan pemalu karena feminisnya.   Begitu juga para penderma datang kepada penerima derma sesuai daya tangkap perasaannya, para penderma tahu mana orang yang mau diberi derma santunan ataukah derma penghormatan.   Ketika penderma menangkap bahwa Anda orang lemah tidak mampu, ia akan bergerak menyantuni. Ketika penderma menangkap bahwa Anda orang terhormat, maka penderma akan bergerak berikan hadiah penghormatan.   Bukan saya bermaksud merendahkan, namun Anda bisa amati realitas nyatanya, kaum dhuafa itu anggota keluarganya rawan sekali sakit-sakitan, ada-ada saja keluhan sakitnya, satu anak mengeluh sakit kepala, esok anak lainnya mengeluh masuk angin, si ayah mengeluh perut kembung, si ibu mengeluh radang tenggorokan.   Terus bergantian begitu. Itu disebabkan keluarga dhuafa kerap pancarkan perasaan sebagai orang lemah. Ya baik lemah dalam finansial, dalam kehormatan sosial maupun lemah dalam kontrol sosial karena mereka tidak punya kuasa sosial.   Karena memancarkan perasaan lemah, virus penyakit menangkapnya, selanjutnya si virus berparadigma, “Ini layak jadi korbanku.” Jadi virus penyakitpun nempel ke tubuh Anda dengan menangkap getaran diri Anda.   Dulu waktu saya masih lemah sekali finansialnya, otomatis perasaan yang saya pancarkan juga perasaan lemah, ya Allah saya buka toko di pinggir jalan raya, bolak-balik saya jadi korban kejahatan, ada sales penipu, ada pembeli penipu yang pakai trik hypnosis untuk kelabui kasir, ada karyawan sendiri yang mencuri uang dan badang dagangan, bahkan sampai laptop toko dibawa kabur penjahat.   Sudah keadaan finansial lemah, tidak punya duit, dagang cuannya kecil, bercampur orang lain sering dapat perendahan dan hinaan, musibah silih berganti datang, eeh malah banyak penjahat mampir dan menyatroni, itu karena para penjahat menangkap getaran lemah diri saya sehingga saya dinilai layak dijadikan korban.   Justru sekarang ini setelah finansial saya menguat, kehormatan menguat, harga diri menguat, malahan kejahatan penjahat di toko saya tidak ada lagi, padahal saya dagang di ruko toko yang sama.   Salah satu teman saya ada yang lebih tragis. Dalam kondisi istri hamil anak pertama, dirinya belum punya pekerjaan dan penghasilan, dia masih serumah dengan mertua. Ia kerap tidak dicocoki mertua, disalah-salahkan, direndahkan dan disakiti mertua. Sisi lain ia dicibir mertua, sisi lain karena ia nganggur, ia harus kerja bantu sawah mertua tanpa dibayar hanya dikasih uang rokok.   Ia memang mampu tabahkan dirinya, namun rasa terpuruknya kemudian anak yang terlahir sedikit cacat di bagian kaki. Anaknya sedikit pincang karena kaki kanannya lebih panjang dari kaki kiri dengan jumlah jari kaki kanan ada enam, jempol kakinya muncul anakan jari.   Karena itu ketika dalam keadaan terpuruk sebaiknya banyaklah beristighfar dan banyak baca lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh untuk menangkis pancaran getaran lemah diri, karena ketika getaran lemah diri sangat kuat terpancar, musibah, hinaan, kefakiran, penyakit, penjahat, perendahan, mudah sekali datang, malahan anak saja bisa lahir cacat karena getaran rasa lemah diri.   Rasionalitasnya sederhana sekali, santri saya tidak bersedia bikin baretan di mobil karena ia tahu mobil itu berharga, tapi ia dengan mudah bareti sepeda rongsok bekas milik anak saya karena tahu itu barang tidak berharga.   Sesuatu yang tidak berharga akan mudah menarik koyakan, serangan, bullying dan mudah disakiti, karena itu rasa diri yang menuduh diri tidak berharga, menuduh diri sendiri tidak berdaya, menuduh diri sendiri lemah, menuduh diri sendiri balung kere, menuduh diri sendiri seperti itu sama saja sedang menganggap diri sendiri sebagai barang rongsok tak berguna. Diri sendiri dibully dan dihujat.   Tiap hari merasa hidup penuh ujian, hidup penuh nasib buruk, merasa kekurangan uang, merasa orang lemah, dan lainnya. Merasa begitu itu sama saja menganggap diri sendiri rongsok.   Sering menuduh diri sendiri begitu, bagaimana diri Anda akan pancarkan getaran berharga? Kalau sudah tertangkap sebagai getaran tidak berharga, ya sepeda rongsok akan begitu mudah terima baretan.   Rasa lemah diri itu biasanya dicirikan dengan orang tersebut susah sekali berkata, “Tidak,” berat sekali menolak. Tahu-tahu diri sendiri merasa tidak nyaman bolak-balik dihutangi, kalau ada orang minta hutangan tidak berani tegas menolak.   Tahu-tahu hanya dimanfaatkan tanpa pernah dihargai, malah mengalah terus tidak ada keberanian menentang.   Tahu-tahu sedang dagang, ada orang minta harga seduluran bahkan minta gratisan, hatinya goyang-goyang tidak berani menegaskan kalau dirinya sedang dagang cari rezeki cuan.   Tahu-tahu kalau ia diberi malahan melunjak, minta lagi, masih terus saja tidak mau hentikan pemberian. Ada kalanya Anda harus berhenti memberi, ketika tahu ia tidak sadar untuk berhenti meminta dan merepotkan.   Banyak orang berpersepsi bahwa “tidak” itu kejahatan, “tidak” berarti tidak berakhlak mulia, kalau menolak takut dianggap tidak berbudi luhur, tidak punya hati, dan lain sebagainya, padahal diri sendiri tersiksa tidak nyaman, bukankah racun bisanya tertolak bila Anda tegas menolaknya alias berani berkata “tidak”?   Welas asihlah dengan diri Anda sendiri, siapa yang akan hormati dan welas asih kepada Anda, bila bukan diri Anda sendiri yang welas asih dan menghormati? Anda sakit, emang orang pertama

MEI 2023

ENERGI DIAM PENARIK KEBERLIMPAHAN #Part2

Anda yang belum menyimak part 1-nya silakan simak dulu Energi Diam Penarik Keberlimpahan Part 1 di konten sebelum ini.   Mangka ta kang aran laku, lakune ngelmu sejati. Tan dahwen pati openan, tan panasten nora jahil. Tan njurungi ing kadurakan, amung eneng amrih ening.   Demikian kutipan Bait ke-94, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV, yang artinya;   Inilah yang disebut laku, pengamalan ilmu sejati. Yakni, tidak suka mencerca, tak suka memungut (berita buruk), tidak nyinyir (mempovokatori) dan tidak suka mengganggu orang lain. Tidak mendorong pada tindak kejahatan, hanya diam agar (hati) menjadi bening.   Eneng atau diam di sini tentu diam dengan kesadaran, bukan sifat pendiam bawaan lahir.   Diam yang tanpa kesadaran tentu tidaklah menjernihkan hati, paling sebatas menyelamatkan, karena bagaimanapun diam itu akses selamat karena mimimnya resiko berat.   مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ   “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, sebaiknya berucaplah yang baik atau diam.” (H.R. Bukhari & Muslim)   Diamnya hati dengan kesadaran inilah yang punya power untuk menarik kelimpahan.   Yang Anda kenal air itu bergerak mengalir, matahari bergerak melakukan rotasi dan revolusi, angin bergerak berhembus. Tidak kok, mereka semua diam.   Kalau Anda membunuh orang, Anda terima resiko berdosa dan kena hukuman, bahkan Anda layak dijahanamkan, tapi kalau ada air dengan banjir bandangnya membunuh ratusan orang, apa air berdosa? Apa air layak masuk neraka Jahanam? Tidak.   Jika air berbuat baik dengan bersihkan tubuh Anda, apa air dapat pahala? Tidak.   Itu karena perbuatan gerak yang dilakukan air tidak dilatari kesadaran, artinya kesadarannya diam. Karena diam tidak punya kesadaran, gerak air tidak menuai hisab baik dan buruk, dosa dan pahala. Beda dengan Anda, berbuat buruk dan baik punya konsekuensi hisab dosa dan pahala, karena kesadaran Anda tidak diam, artinya Anda ada pergerakan emosi dan perasaan.   Jadi air, matahari, angin dan semua komponen alam semesta itu diam, maksudnya kesadarannya yang diam. Walaupun partikel fisikanya bergerak, tapi tidak beresiko apapun karena kesadarannya diam.   Karena itu diamnya hati adalah diam yang sesungguhnya, karena alam semesta ini hakikat kesadarannya adalah diam.   Tentu tidaklah normal kalau kesadaran Anda diam seperti air, Anda manusia yang punya taklif bergerak secara emosi dan kesadaran, hanya saja Anda perlu berlatih mendiamkan hati untuk kurangi kebisingan hati agar hidup lebih tenang, lebih bahagia dan lebih mulia.   Dalam filsafat tasawuf diajarkan, kesadaran manusia akan esensi Tuhan itu dibagi 3;   1.      Kesadaran yang masih lâ ilâha illâ huwa (tiada tuhan selain Dia) di situ kesadaran Anda masih berjarak terlampau jauh dari Zat-Nya. Sebab kata ganti “huwa” itu beresensi ghâib (gaib). Anda sebut teman Anda dengan dia, bukankah teman Anda tidak hadir di depan mata Anda, dia gaib?   Kalau kesadaran Anda menyaksikan Allah dengan huwa, artinya kesadaran Anda berjarak terlampau jauh dengan-Nya, karena esensi kata ganti orang ketiga adalah gaib.   2.    Kesadaran lâ ilâha illâ anta (tiada tuhan selain Engkau). Di situ kesadaran Anda sudah mending, karena kata ganti anta (engkau/kamu) itu beresensi khudhûr (hadir). Kalau Anda menyebut kamu kepada teman Anda, tentu teman Anda itu ada di depan mata Anda, tidak mungkin Anda menyebut kamu tapi orangnya tidak hadir di depan mata.   Karena ini kesadaran hati yang menyaksikan lâ ilâha illâ anta itu sudah mendingan dekat, karena Zat Allah hadir utuh di depan Anda.   3.    Kesadaran hati yang lebih intens lagi, yakni kesadaran lâ ilâha illâ anâ (tiada tuhan selain Aku). Inilah kesadaran yang diajarkan Syaikh Siti Jenar lewat ajaran Manunggaling Kawula Gusti, oleh Ibn ‘Arabi lewat ajaran Wahdatul Wujûd, oleh Al-Hallaj lewat ajaran Hulûl, oleh Abu Yazid Al-Busthami dengan ajaran Ittihâd.   Kalau sudah di kesadaran lâ ilâha illâ anâ menjadi dekat tanpa sekat, tanpa batas, tanpa jarak, beda kualitas dengan yang masih berkesadaran lâ ilâha illâ huwa atau pun lâ ilâha illâ anta.   Nah dari ketiga level kesadaran tersebut, semuanya masih punya kepentingan, satu pun tidak ada yang tulus. Bahkan yang level kesadaran terakhir pun yakni lâ ilâha illâ anâ, kepentingan egonya masih sangat nyata yakni kepentingan ingin manunggal dengan Gustinya. Ingin murni bersatu dengan Tuhannya, bukankah itu juga kepentingan ego?   Sehingga kesadaran untuk diamnya hati justru memuncaki ketiga level kesadaran di atas karena kosong tidak ada apa-apa lagi.   Cuma itu, diamnya hati yang dimaksud adalah diam dengan kesadaran. Sadar untuk diam.   Cuma perlu dimengerti, diam itu artinya sunyi, hening dan kosong. Banyak kasusnya kan, rumah ketika terlalu lama kosong yang berarti lama dalam situasi diam, justru diisi oleh hantu-hantu angker. Diisi pocong, kuntilanak, gendruwo, wewe gombel, dan lain-lain.   Diamnya hati pun bisa begitu, bila tidak diisi dengan tujuan-tujuan kebaikan juga bisa diisi sembarang energi.   Karena itu, ketika Anda diamkan hati, Anda harus punya tujuan-tujuan kebaikan biar hati Anda tidak diisi sundel bolong.   Kalau para spiritualis murni, biasanya diam mereka bertujuan menggapai ridha Tuhan, bertujuan memurnikan hati agar hanya mencintai Allah.   Jika spiritualis prosperity yakni spiritual yang menuju keridhaan Tuhan dengan tarikan keberlimpahan rezeki, bagaimana?   Ya tinggal tunggangi saja pencarian rezeki Anda untuk dapatkan ridha Allah. Energi diamnya hati Anda tinggal diniati untuk menarik kelimpahan rezeki agar dapatkan ridha Tuhan. Itu saja, tata niat dan tujuannya.   Tahun lalu pernah ada satu channel Youtube yang posting konten aksi diam di depan kamera selama berjam-jam. Mata diam dalam melek, bibir diam tertutup, duduk di posisi diam tidak gerak, itu dilakukan di depan kamera shooting selama berjam-jam. Hasilnya viral, jutaan viewers menontonnya.   Diamnya si pembuat konten jelas punya niat dan tujuan menarik penonton, dia diam tapi punya tujuan bikin konten yang ramai. Jadi diamnya bukan bertujuan kesunyian dan keheningan, namun diam untuk bertujuan ramai-ramai.   Kodrat alamnya diam itu sebuah kesunyian, ketenangan dan keheningan, tetapi ketika dipengaruhi niat menarik penonton, diam bisa menjadi energi penarik keramaian, popularitas, dan hiruk-pikuk publik.   Itulah ajaibnya hati Anda, hati bisa merubah prilaku A jadi B, hasil B jadi A, resiko C jadi A, dan seterusnya, hanya dengan mengubah niat hati. Dahsyat kan hati Anda?   Sekarang energi diam bisakah digunakan menarik segala keberuntungan, menarik kemuliaan, menarik uang,

MEI 2023

ENERGI DIAM PENARIK KEBERLIMPAHAN #Part1

Ketika Anda menjadi anak over aktif, semua orang akan risi didekat Anda, keaktifan gerak dan aksi Anda jadikan orang-orang di sekitar Anda ingin menyingkir dan menjauhi.   Ketika gunung berapi meletus, si gunung bergerak terlalu aktif, semua orang akan menyingkir menjauh, ketika air sungai bergerak terlalu aktif dengan meluap-luap juga semua orang akan menjauhi, ketika tanah alami gemoa, tanah bergerak aktif sendiri, semua orang juga menjauhi. Mobil bergerak melaju terlalu cepat juga penumpangnya panik semua, mereka ingin keluar dari dalam mobil cari selamat.   Jadi efek sebuah gerakan ekstrem, apalagi pergerakan dalam skala energi besar, itu hasilnya bukan cuma manusia yang bergerak menjauh, tapi seluruh isi kehidupan akan menjauhi.   Gerak memang tanda kehidupan, tidak ada pergerakan artinya mati, namun di level ekstrem tertentu, gerak itu justru dijauhi karena mematikan.   Hati Anda dengan seisi kesadarannya itu selalu bergerak. Dihina orang, hati Anda bergerak tersinggung. Ditipu orang, hati Anda bergerak membenci. Dipuji orang, hati Anda bergerak tersanjung. Menjadi pemenang, hati Anda bergerak bangga. Lihat bangunan rumah mewah, hati Anda bergerak mencintai. Lihat ruangan rumah kotor, hati Anda bergerak risi dan jijik. Dan seterusnya.   Hati Anda aktif bergerak merespons segala kejadian dalam hidup Anda, buruk dan baik, susah dan senang, hitam dan putih, semua direspons oleh hati Anda dengan melakukan pergerakan emosi, pergerakan kesadaran dan perasaan.   Gerak itu butuh energi, ketika pergerakan hatinya terus menerus aktif berpotensi menguras energi hidup Anda.   Titik masalahnya ketika pergerakan hati Anda terlampau aktif dan agresif. Bertemu dengan pendengki, Anda membenci sehebat-hebatnya, lalu dengan rasa marah berpikir lakukan serangan balik. Bertemu haters, Anda sangat sakit hati lalu marah-marah jengkel, sangat tersinggung.   Bertemu orang yang kurang etika, Anda tersinggung berat lalu menyinyirinya di belakang dengan ketus. Bertemu pesaing karir, Anda gelisah mendalam, khawatir dan ketakutan.   Nanti ketika Anda bertemu fans dan pengagum, Anda girang euforia. Bertemu dengan keberuntungan, Anda gembira bersuka ria. Bertemu dengan kemenangan, Anda bertepuk dada. Dan seterusnya.   Anda pikir sendiri dech? Kira-kira pergerakan hati yang begitu menguras energi, tidak? Capek, tidak?   Energi terkuras hanya untuk membenci yang tidak disukai, terkuras hanya untuk mencintai yang disukai, terkuras hanya untuk stres dan panik untuk yang ditakuti dan dikhawatiri, terkuras hanya untuk bergembira ria dengan keberuntungan yang diperoleh, terkuras hanya untuk melayani pencaci dan pemuji Anda.   Dalam keadaan begitu, kapan Anda punya energi untuk menguatkan dan memberdayakan hidup Anda? Anda bisa mati lemas duluan sebelum Anda bergerak membangun hidup Anda.   Parah lagi ketika ketika keaktifan gerak hati Anda mencapai titik hiperaktif, di titik itu semua hal akan menjauhi Anda, tidak ada yang ingin mendekat dan dekat dengan Anda.   Nah sekarang barangkali hidup Anda sedang sunyi dari rezeki? Bisnis sepi, dagangan tidak laku, orderan sepi, pekerjaan susah didapatkan, cobalah dicek ke dalam, jangan-jangan hati Anda selama ini terlalu banyak keluarkan energi gerak sehingga terlalu gaduh dan bising di dalam.   Barangkali kalau eyel-eyelan dan nyinyir-nyinyiran di medsos tidak mau mengalah, barangkali sedikit tersinggung langsung labrak, barangkali kalau marah langsung meledak-ledak, barangkali kalau jatuh hati, rasa cintanya melekat erat seperti perangko, barangkali kalau mengagumi sesuatu suka hingga berdecak-decak. Dan seterusnya.   Pergerakan hati yang demikian satu pergerakan energi hati yang terlampau aktif, hiper dan over, sehingga energi hati Anda habis di situ, hasilnya ketika energi hati Anda mau digunakan untuk membangun bisnis dan karir, bisnis dan karir Anda stuck tidak bertumbuh, sebab tidak ada lagi stok energinya.   Coba cek, kalau bisnis atau karir Anda sunyi, rezeki Anda sunyi, barangkali hati Anda terlalu agresif bergerak. Kalau benci, kalau cinta, kalau kecewa, kalau gembira, kalau gelisah, kalau khawatir, dan emosi-emosi lain, sering terlalu agresif.   Otak pancarkan gelombang pikiran, jantung pancarkan gelombang perasaan. Nah ketika pancaran gelombang otak dan perasaan begitu kuat membenci, begitu kuat mencintai, begitu kuat bersedih, begitu kuat bergembira, lalu getaran gelombangnya menghantam apapun yang dilalui, seperti apa penderitaan tekanan balik untuk hati Anda? Dalam keadaan ini maka sebenarnya banyak orang yang terkuras lalu kehabisan energi.   Di pusaran energi begitu yang Anda butuhkan adalah diamnya hati.   Hati Anda butuh diam agar kebisingan dan kegaduhan berkurang. Di situasi bising dan gaduh hati, segala hal akan bergerak menjauh, termasuk rezeki juga menjauh dari hati yang bersituasi gaduh dan bising.   Diam hati merupakan situasi hati yang meditatif. Selayaknya Anda sedang semedi, dalam semedi Anda tidak membeli apapun situasi yang terjadi di luar hati Anda. Tidak peduli ada petir, ada hujan, ada keramaian, ada percintaan, ada perkelahian, semua tidak Anda beli karena Anda sedang semedi alias meditasi.   Kalau dalam Islam situasi meditatif itu terjadi dalam shalat dan zikir. Di situasi hati yang khusyuk dalam shalat dan zikir, hati berhenti untuk merespons kejadian-kejadian di luar hati Anda. Hati Anda tidak urus dengan huru-hara di luar diri karena Anda tenggelam dalam nikmat shalat dan zikir.   Diam hati itu artinya Anda berhenti untuk merespons apalagi agresif hati terhadap situasi yang terjadi di luar diri Anda. Ada sesuatu yang dibenci menghampiri, hati diam saja, ada sesuatu yang disenangi datang, hati diam saja. Tidak merespons apalagi bereaksi agresif. Diam.   Jantung yang pancarkan gelombang perasaan hati, karena itu untuk mendiamkan hati agar terukur dalam keluarkan pancaran gelombang perasaan, Anda ketika merasakan ada kejadian hidup yang harus direspons oleh hati, misal perasaan sedang benci sekali dengan orang yang mendengki Anda, atau marah sekali kepada musuh Anda, atau sakit hati sekali, atau sedang sangat gembira, atau sedang cinta sekali, Anda peganglah dada Anda di bagian jantung, lalu usap-usaplah pelan-pelan untuk rilekskan diri sambil berucap Istighfar pelan-pelan.   Atau bisa juga dengan menyerap nafas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan sambil beristighfar.   Trik ini untuk turunkan frekuensi gelombang hatinya. Selanjutnya rasa apapun yang muncul dalam hati, tidak usah dibeli. Lengahkan pikiran ke ruang-ruang pikiran yang tenang, yang meditatif, yang kosong tidak berisi apa-apa.   Umpama muncul rasa benci, rasa dendam, rasa marah, rasa sedih, jangan dibeli. Muncul rasa euforia, rasa gembira, jangan dibeli. Biarkan hati lengang tanpa suara, tanpa bunyi, tanpa kata.   Hati yang diam tentu itulah yang disebut qalbun salîm (hati yang bersih) yakni hati yang tidak banyak mondar-mandir bergerak.   Hadapi

MEI 2023

BELANJA GETARAN

Kalau Anda beli benda, getaran dari sebuah benda material itu hanya getaran gravitasi. Sementara gravitasi sendiri merupakan gaya fundamental alam semesta yang paling lemah.   Satu tembakan tank baja dengan peluru timah paling hanya hancurkan satu gedung itupun dengan durasi waktu lama. Itu karena tank baja hanya satu benda material yang gaya fundamentalnya sebatas keluarkan gaya gravitasi lemah.   Beda dengan gaya nuklir yang berada pada inti atom maha mini, yang kekuatannya 6 ribu triliun triliun triliun (39 nol setelah angka 6) kali lebih kuat dari gaya gravitasi. Sehingga partikel alam semesta itu makin mini, kekuatannya makin dahsyat. Satu bom nuklir, jangankan satu gedung, satu pulau Jawa bisa luluh lantak semua.   Anda belanja, jika kesadaran Anda hanya beli benda materi, daya getarannya akan sangat lemah yang dampaknya hanya akan mengubah isi perut Anda saja. Beli bakso, sementara kesadaran Anda hanya beli makanan pengisi perut, di situ belanja Anda hanya mampu bergetar di energi gravitasi, hasil perubahannya hanya lapar menjadi kenyang.   Sama seperti ayam, ia mengonsumsi dedak hanya dengan kesadaran konsumsi benda materi, hasilnya ya ayam hanya bertumbuh secara fisik, sementara nasib ayam itu-itu saja tidak kemudian jadi kaya raya.   Masuk akal, tidak? Orang yang sudah bisa travelling luar negeri, duitnya makin hari makin gaek ketimbang orang yang travellingnya hanya di dalam negeri, padahal diukur dengan marketing ekonomi, yang travelling luar negeri jauh lebih boros.   Terus pertukaran energi yang dibeli dari travelling itu apa? Kalau beli tanah, wujud bendanya kelihatan wujud tanah, beli mobil, kelihatan wujud mobil, lah beli travelling wujud apa? Mereka hanya beli pengalaman, pemanjaan mata, dan rasa rileks. Namun kekayaan orang yang senang travelling ke luar negeri ya makin meningkat, tidak jauh beda dengan yang beli sawah.   Itu karena mereka yang travelling ke luar negeri sebenarnya belanja getaran kaya alam semesta, karena jelas jalan-jalan luar negeri itu hanya dimampukan bagi yang berduit. Tidak hanya itu saja mereka juga belanja getaran gaya metropolis, modern, berpendidikan, dan lain sebagainya.   Kadang ada orang suka belanja yang mewah-mewah, eeh makin terjatuh finansialnya itu karena kesadarannya hanya membeli getaran bendawi belaka, ia tidak bisa masuk ke pembelian getaran yang lebih detail dan mini lagi. Asal dia senang dan berhasrat, ia beli. Ia tidak berpikir apakah getaran kayanya terbeli atau tidak.   Ia cuma turuti nafsu belanjanya, turuti gaya hidupnya dengan belanja, sementara jiwanya hanya memahami “asal nafsu dan gengsi senang”.   Belanja getaran kaya inilah yang punya kekuatan besar mengubah keadaan finansial Anda. Ciri Anda berhasil membeli getaran kaya itu munculnya rasa punya dan rasa kaya di dalam hati disebabkan belanja Anda.   Nah orang bisa temukan getaran rasa punya dan kaya itu beda-beda. Ada yang dengan punya sawah luas, dia merasa kaya. Punya tabungan banyak, dia merasa kaya. Menjadi dermawan, dia merasa kaya. Beli barang antik, dia merasa kaya. Travelling ke luar negeri, dia merasa kaya.   Bahkan ada juga dengan miliki iphone mewah dan alat-alat elektronik mahal lalu mereka temukan getaran rasa kaya. Macam-macam dan beda-beda di setiap orangnya. Jadi kenali diri Anda dimana Anda temukan rasa kaya setelah membeli sesuatu.   Getaran rasa kaya itulah yang mahal harganya. Kalau Anda hanya beli benda materi namun tidak punya sensasi apapun untuk bangkitkan kesadaran kaya Anda, ya yang begitu itu yang jadinya Anda hanya getarkan efek gaya gravitasi benda dimana hal itu ayam juga dimampukan.   Jadi belanjalah untuk merasa kaya, belanja untuk beli getaran kaya, jangan belanja hanya untuk mengonsumsi kebutuhan Anda atas benda.   Jadi di balik belanja Anda sebenarnya Anda sedang beli getaran-getaran energi alam semesta, makin mini getaran yang bisa Anda beli, di situ belanja Anda makin berdaya dahsyat untuk menggetarkan perubahan dalam hidup, sebab di alam semesta ini segala perubahan materi dimulai dari getaran-getaran energi. Sebenarnya yang Anda beli bukan benda semata, tapi getaran.   Nah yang repot sekali itu jika Anda belanja tapi untuk beli getaran miskin.   Belanja untuk beli getaran miskin itu seperti, “Aku ga punya duit, beli ini saja lah yang murah.”   Kalau Anda belanja kok muncul getaran rasa miskin, rasa berkurang, ya sebaiknya jangan belanja dulu, tunggu situasi hati mendukung untuk menggetarkan rasa kaya. Kecuali dalam keadaan darurat, seperti sakit harus rawat inap di rumah sakit, itu beda.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

WARISAN ENERGI BEJAT

Majapahit adalah imperium besar yang punya cita-cita dan impian satukan nusantara. Puncaknya di masa kekuasaan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.   Anda tahu, satukan nusantara itu cita-citanya siapa? Itu cita-cita Prabu Kertanegara di Kerajaan Singhasari. Kertanegara punya cita-cita besar satukan nusantara, namun ia wafat dan kerajaan Singhasari runtuh di masa kekuasaannya. Menantunya, Raden Wijaya, kemudian mendirikan Majapahit sebagai pewaris kekuasaan Singhasari.   Jadi Majapahit hanya terima warisan cita-cita satukan nusantara, pencetus impiaannya adalah Kertanegara. Cita-cita dan impian diwariskan.   Uni Soviet runtuh. Berdirilah Federasi Rusia. Sekarang musuh-musuh Rusia adalah musuh Uni Soviet. AS dan NATO sebagai musuh Rusia semata-mata musuh warisan Uni Soviet. Musuh pun diwariskan.   Stroke, jantung, diabetes, eksim kulit, penyakit diwariskan.   Anak-anak yang suka begadang malam bangunnya siang, atau anak-anak yang jam 20.00 sudah ngantukan, biasanya memang warisan pola tidur orang tuanya. Pola tidur saja diwariskan.   Nabi Isa A.S begitu lahir punya mukjizat bisa bicara. Bayi merah bisa apa, kok keluar keramat? Itu warisan dari kesucian Maryam, wanita suci yang konsisten mendekat kepada Tuhan. Keramat pun diwariskan.   Menjadi sangat adil bila anak lelaki mendapat bagian warisan 2 kali lipat dari anak perempuan, karena andai warisan tersebut sebuah masalah, sebuah tanggung jawab, sebuah fitnah, maka yang paling berperan menerima masalah tersebut untuk dihadapi dan diselesaikan adalah anak laki-laki.   Jadi bukan cuma harta dan hutang yang diwariskan kepada anak, masalah, musuh, cita-cita, minat, termasuk karma diwariskan. Semua energi yang ada pada Anda saat ini akan diwariskan semua kepada anak.   Saya hanya niteni atau mengamati saja, orang-orang yang tidak mengenal mengalah dalam hidupnya, maunya menang sendiri terus, anak-anaknya cenderung biasa-biasa saja prestasi hidupnya.   Iya. Orang yang sedikit-sedikit melabrak, kalau sedang benci sangat bengis, tidak mau kalah, alot kalau bermusuhan, sedikit tersinggung tidak tanggung-tanggung ngamuknya, anak-anaknya cenderung biasa-biasa saja hidupnya, tidak ada dari anak-anaknya yang punya prestasi menonjol.   Itu disebabkan energi kemenonjolan dan kemenangan sudah dipakai semua oleh orang tuanya. Karena energi menangnya telah dipakai semua oleh ortunya, warisan energi kemenangan untuk anak sudah tidak ada. Ibarat uang sudah habis, anaknya mau pakai sudah tidak tersisa uang.   Tidak mau mengalah dan kadang harus egois itu sangat penting bagi Anda, fungsi utamanya untuk jaga harga diri sehingga orang lain tidak sembrono meremehkan Anda.   Namun jika ketidakmauan mengalah itu di sebuah masalah, segala hal diselesaikan dengan sikap tegas tanpa kompromi, ya berabe. Akibatnya energi menangnya hanya dipakai oleh Anda semua, anak-anak Anda diwarisi apa?   Karena itu Anda perlu cerdas, kapan mengalah, kapan harus egois untuk menang. Masalah-masalah yang masih bisa diselesaikan dengan mengalah, ya lebih baik mengalah. Jika sudah mengalah masih disembrononi, menjauh dulu. Sudah menjauh masih saja direcoki, baru mengamuk. Ngalah, ngalih, ngamuk.   Jadi hematlah menggunakan energi menang, agar anak-anak Anda punya peluang besar jadi pemenang.   Saya sendiri di saat harus mengalah, saya transfer energi menangnya untuk anak-cucu saya. Caranya menransfer ya dengan niat agar kekuatan menangnya kelak untuk anak.   Selalu mengalah juga identik dengan lemah. Orang lemah kerap jadi kerap diperdaya dan dimanfaatkan orang tanpa dihargai. Karena itu mengalah secukupnya, cari menang juga secukupnya.   Nah yang paling mematikan energi kebaikan untuk anak itu energi rakus dan serakah. Rakus itu bukan cuma cari menang sendiri, namun kadang cari menangnya hingga dengan cara-cara culas dan memperdaya demi memenangkan kepentingannya sendiri.   Ada kisah nyata, ada 2 adik lelaki yang punya kakak lelaki sukses dan kaya. Kakaknya meninggal di usia muda dengan tinggalkan seorang istri dengan 3 anak yatim. Anak sulung kakaknya masih kelas 6 SD.   Dua adik lelaki tersebut memperdaya janda kakaknya dan anak-anaknya. Awalnya beralasan minta hak warisan kakak, namun makin jauh sertifikat tanah-tanahnya, sertifikat rumah, BPKB, semua direbut dengan teror dan ancaman.   Janda kakaknya hanya bisa ketakutan, maklum ia hanya seorang perempuan dengan 3 anak yatim.   Sertifikat rumah bisa dipertahankan, namun sertifikat tanah-tanahnya di kampung halaman suami raib semua. Ia bisa pertahankan rumah dan mobil, namun ancaman dan teror dari adik-adiknya terus menghinggapi.   Dan anehnya, setelah lewat 25 tahun kemudian. Anak-anak dari kedua adiknya rata-rata jadi orang gila semua. Yang tidak gila, sangat miskin, tidak berpendidikan, hidup berantakan semrawut. Ya begitu warisan energi rakus.   Anda kerap kan lihat anak-anak raja yang otaknya playboy sejak kecil, kasusnya melecehkan wanita, otaknya cabul dan mesum, isi otaknya seperti tidak penuh. Itu karena karakter raja memang karakter enggan kalah, minat berkuasaanya besar, ketika si raja terjebak dalam obsesi kekuasaan, ia tidak sadar kerap memperdaya musuh politiknya. Hasilnya putra mahkotanya jadi cabul, otak si anak seperti tidak genap.   Nah Anda kaget ya, kadang ada anak tokoh agama, entah ulama, entah pendeta, kok otaknya cabul, ya kurang lebih begitu, pasti ada peran rakus orang tuanya kepada sesamanya.   Energi rakus itu energi bejat. Ketika energi bejat diwariskan kepada anak, ya anaknya jadi orang bejat, tidak peduli apapun peran orang tuanya, sekalipun ulama atau pendeta.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

AWAL MULA MISKIN ITU DERAJAT TERIMA KASIH YANG TAK TERBAYAR

Ada seorang keponakan jadi karyawan pamannya. Sehari-hari ia kuli di toko bangunan pamannya. Karena keponakan, dan rumah aslinya jauh, si keponakan tinggal di rumah paman. Ia dapat gaji normal sebagaimana karyawan lainnya, namun karena keponakan sendiri dan tinggal di rumahnya, tentu si paman kerap beri tambahan rezeki plus, ya setengah dianggap anak sendiri.   Tahu diperlakukan seperti anak sendiri, ditambah makan dan tempat tinggal sudah ditanggung pamannya, walaupun gaji sebagai karyawan tetap berjalan, si keponakan tidak mau bertopang tangan sebagai penerima layanan gratis. Di luar jam kerjanya sebagai karyawan, ia berusaha keras bantu urusan rumah tangga paman.   Dari cuci piring, kadang jadi sopir, kadang bantu masak, kadang bantu ngemongin anak kecil pamannya, menurut dengan perintah pamannya, dan lainnya. Yang jelas si keponakan berusaha sebaik mungkin melayani si paman dan keluarganya.   Capek, letih, tidak enak hati, gembira, cocok, senang, keberuntungan, tersinggung, marah, dilewati semuanya oleh si keponakan dengan sabar dan tawakal. Ya namanya saja hidup tidak di rumah orang tua sendiri, sebaik apapun perlakuan baik si paman dan keluarganya, ia tetap tidak bisa seleluasa di rumahnya sendiri.   Sesudah si keponakan menikah, ia mulai jualkan dagangan bahan bangunan milik pamannya, ia latihan dagang mandiri. Lambat laun toko bangunan yang ia dirikan berkembang.   Sesudah pamannya menua, si keponakan sudah menjadi juragan, persis seperti pamannya.   Kemiskinan itu selalu diawali dari ketidakmampuan membayar, Anda tidak punya tanah karena Anda tidak mampu membayar harganya. Sebaliknya kekayaan selalu diawali kemampuan membayar, Anda punya mobil karena Anda mampu membayarnya.   Sistem pembayaran tidak selamanya dengan uang, bisa dengan jerih payah, doa, tenaga, pikiran, hingga kesabaran hati itu adalah sistem pembayaran. Asisten rumah tangga digaji uang oleh majikan, ia membayarnya dengan tenaga dan pengabdian. Kyai diamplopi uang oleh santrinya, ia membayarnya dengan doa dan jasa mendidik santri.   PNS dibayar oleh negara, ia membayarnya dengan pikiran, tenaga dan pengabdian. Istri dapatkan nafkah dari suami, ia membayarnya dengan layanan ranjang dan mengurusi rumah tangga.   Segala hal menagih bayaran, itulah sistem hidup di alam semesta ini, sehingga mekanisme kepemilikan kekayaan adalah kemampuan membayar. Maka sebego-begonya orang adalah orang yang berpikir ingin kaya dan rezeki deras dengan dapatkan gratisan, subsidian dan bantuan sosial.   Lah iya, kaum dhuafa yang dapatkan bantuan sosial dari pemerintah saja tidak terasa ya mereka harus membayar dengan hati, sebab emang enak dilabeli “masyarakat miskin” dalam status sosial? Label “masyarakat miskin” itu makan hati sekali loh. Judulnya saja bantuan gratis, mekanisme alam semesta di baliknya tetap menagih bayaran dengan caranya sendiri.   Si keponakan dengan konsisten dan istiqamah melayani si paman dan keluarganya, itu artinya si keponakan sedang membayar layanan pertolongan yang diberikan oleh pamannya dengan jerih payah dan pengabdian.   Andai si keponakan kerjaannya “ongkang-ongkang” sementara pamannya terus transfer kebaikan dan pertolongan kepadanya, maka kedudukan si keponakan berada di “derajat terima kasih” telah dibantu.   Anda kalau sudah diberi oleh orang lain maka Anda berada di derajat terima kasih. Ketika berada di derajat terima kasih, Anda tidak akan pernah mampu berkuasa penuh untuk kendalikan orang lain. Contoh, Anda baru saja diberi sumbangan, dan kebetulan Anda sangat membutuhkan sumbangan tersebut.   Lantas Anda tersinggung dengan si pemberi sumbangan, di situ apa Anda berani melabrak dan marah-marah kepada si penyumbang? Anda tidak bisa berbuat banyak karena Anda terbeli. Satu-satunya jalan Anda harus membayarnya dengan hati yakni sabar.   Nah orang yang tidak mampu bayar itu berada di “derajat terima kasih”; level matur nuwun. Sementara kekayaan itu selalu ditandai kemampuan membayar karena dari kemampuan membayar itulah proses untuk lepas dari jeratan derajat terima kasih.   Si keponakan mengabdi dengan jerih payah kepada pamannya itu adalah proses bagaimana ia membayar semua kebaikan pamannya, sehingga derajat si keponakan lama kelamaan keluar dari derajat terima kasih, hasil unduhannya setelah ia merangkak dirikan toko bahan bangunan sendiri, ia pun menjadi kaya, sebab kaya itu selalu diawali dari kemampuan membayar.   Nah tulisan ini adalah resep bagaimana Anda memulai kekayaan. Mengabdilah pada profesi Anda masing-masing sebagai bentuk pembayaran kepada kekayaan.   Dulu pun saya mengawali kebaikan rezeki dengan mengabdi, tidak begitu saja saya ongkang-ongkang lantas rezeki saya membludak.   Di pesantren, saya tahunan mengajar santri mertua, padahal sistem pesantren tidak ada sistem gaji. Tapi saya ngajar ngaji terus dengan konsisten. Hasilnya bisnis-bisnis saya berkembang semua, padahal saya tidak urus-urus amat mengembangkannya.   Hal itu terjadi karena ketika saya mengabdi mengajar ngaji santri mertua, saya sedang membayar, sedang berusaha lepas dari derajat terima kasih.   Di bisnis pemberdayaan diri juga begitu. Sebelum saya menikmati rezeki dari kelas training pemberdayaan diri, saya mengabdi lama kepada publik di medsos dengan aktif menjadi writing content di Facebook.   Saat saya berkarya di konten tulisan itulah proses saya membayar kepada publik. Semua hasil dari unggahan bayaran adalah kekayaan.   Jadi Anda yang mungkin saat ini berada di titik nol untuk membuka kekayaan, mulailah dari titik pembayaran “mengabdi”.   Metode ini saya terapkan kepada santri-santri dan keponakan saya. Mereka yang bilang ingin kaya, selalu saya wajibkan untuk jadi asisten saya minimal 3 tahun. Santri juga demikian, saya wajibkan khidmah melayani saya minimal 3 tahun. Karena dengan khidmah atau mengabdi itulah proses bagaimana membayar kekayaan ke alam semesta.   Kaya adalah keluar dari derajat terima kasih dan untuk keluar dari derajat terima kasih harus bisa dan berani membayar.   شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَ عِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ   “Kemuliaan seorang mukmin adalah bangun malamnya, dan keluhurannya adalah semugihnya (ketidakketergantungannya) dengan manusia.” (H.R. Thabrani)   Sebab itu, kaya sesungguhnya adalah kemampuan “tidak butuh” kepada sesama manusia, sebab rasa butuh bantuan itulah yang menuntut terima kasih. Dan dengan membayar itu artinya Anda sedang berproses untuk membelinya. Segala yang telah Anda beli itulah kekayaan milik Anda.   Imam Ali bin Abi Thalib berkata,   الغِنَى الأَكْبَرُ اليَأسُ عَمَّا فِي أَيْدِي النّاس   “Kekayaan besar adalah terputus dari apa yang ada di tangan manusia.”   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

MEI 2023

HARMONI FINANSIAL TETAP BUTUH ENERGI MISKIN

Kalau Anda menuntut, diri Anda auto dituntut sehingga setiap tuntutan kepada orang lain itu adalah tuntutan kepada diri sendiri.   Anda menuntut karyawan untuk selesaikan kerjaan bisnis, di situ Anda dituntut untuk bayar si karyawan. Demikian pula karyawan menuntut uang Anda, dia pun dituntut untuk serahkan jerih payahnya kerja untuk keuntungan Anda.   Hasilnya adalah ketika Anda menuntut kepada orang lain, hakikatnya Anda sedang menuntut diri Anda sendiri, setiap tuntutan kepada orang lain itu sebenarnya tuntutan kepada diri sendiri.   Jadi hati-hati ketika seorang bos menuntut karyawanya untuk disiplin kerja, untuk wujudkan semua prioritasnya, karena di situ si bos sedang menuntut dirinya sendiri untuk konsisten membayar sebuah konsekuensi. Bila lengah dangan tuntutan konsekuensi yang harus dibayar kepada karyawan yang terlahir adalah kemiskinan.   Demikian pula hati-hati karyawan yang menunut kenaikan bayaran kepada si bos, karena ketika menuntut orang lain hakikatnya sedang menuntut dirinya sendiri untuk ambil suatu konsekuensi. Bila si karyawan lengah, di situlah awal mula lahirnya kemiskinan.   Ingat! Anda menuntut orang lain, diri Anda sendiri yang sedang dituntut.   Kadang ada orang tua yang menuntut anaknya berprestasi, menuntut anaknya taat, menuntut anaknya menurut, di situ si ortu harus sadar bahwa di balik tuntutan itu ada konsekuensi besar sedang menuntut dirinya sendiri. Makin besar tuntutan, akan menagih konsekuensi bayaran lebih besar.   Anak kerjaannya cuma dijewer-jewer, dibentak-bentak, tidak pernah diperjuangkan masa depannya, kok orang tuanya menunut agar anaknya berbakti, ya tidak ketemu logika.   Demikian pula anak yang menuntut kepada orang tuanya dengan permintaan ini dan itu juga berlaku mekanisme hukum yang sama.   Dan ini yang kerap terjadi, suami menuntut ini dan itu kepada istri. Lah istri mau belanja beras saja suami tidak dapat penuhi, kok menuntut istrinya qurratu ‘ain (penentram hati suami), apa ketemu logika?   Karena itu menunut istri agar shalihah butuh konsekuensi bayaran tinggi. Modal apa-apa enggak, anak istri kelaparan, kok mencak-mencak agar anak istrinya taat, ya go8lok kuadrat.   Demikian pula istri, kerjaannya kalau dikasih nafkah duitnya disimpan sendiri, nanti ada kebutuhan keluarga tidak ada tenggang rasanya dengan suami, apa-apa suami yang harus berkorban dan terambil, istri begitu kok menunut suaminya shalih, ya go8lok kuadrat lagi.   Jadi segala hal yang Anda tuntut dari orang lain, di situ Anda sedang menuntut kepada diri sendiri untuk keluarkan energi konsekuensi yang sama besar. Ketika Anda tidak sanggup membayar konsekuensinya, di situlah awal mula kemiskinan.   Karena itu kaya adalah kualitas Anda terputus dari kepentingan kepada orang lain, seperti nasehat Imam Ali bin Abi Thalib;   اَلْغِنَى اَلْأَكْبَرُ اَلْيَأْسُ عَمَّا فِي أَيْدِي اَلنَّاسِ   “Kekayaan besar adalah keterputusan dari sesuatu yang ada di tangan manusia.”   Imam Ali juga berkata,   خَيرُ الغِنَى تَركُ السُؤالِ ، وَشَرُّ الفَقرِ لُزُومُ الخُضُوعِ   “Sebaik-baik kekayaan adalah meninggalkan meminta (menuntut), dan sejelek-jelek kefakiran adalah menetapi ketertundukan (diperbudak)”.   Anda menuntut sesuatu, mau tidak mau Anda harus tunduk dan terikat. Anda menuntut gaji, mau tidak mau Anda harus terikat dan tunduk kepada aturan main profesi kerja.   Mekanisme tuntut menuntut ini juga berlaku di dalam diri sendiri. Anda punya keinginan jadi sarjana, di situ Anda sedang menuntut diri Anda sendiri untuk sebuah konsekuensi besar berjerih payah dalam intelektual, menyiapkan sekian banyak biaya dan waktu.  Setiap keinginan diri sendiri itu adalah tuntutan untuk diri sendiri guna membayar nilai konsekuensinya.   Maka kemudian banyak orang prustasi, putus asa, gila, sampai bunuh diri karena kegagalan meraih impian. Hal itu terjadi sebab adanya ketidaksanggupan diri membayar konsekuensi dari sebuah tuntutan impian.   Sebab ini orang paling kaya adalah orang yang berkemampuan menerima apa adanya (qana’ah) sebab semakin seseorang punya banyak keinginan hakikatnya ia sedang menyiksa dirinya sendiri dengan banyak tuntutan.  Makin diri sendiri banyak tuntutan, maka ia pun berpotensi menuntut diri sendiri untuk lakukan konsekuensi lebih ekstrem, dan jika begitu apa bedanya dengan menyiksa diri sendiri?   Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata,   مَن رُزِقَ ثلاثاً نالَ ثلاثاً وهُو الغِنَى الأكبَرُ: القَناعَةُ بما اُعطِيَ، واليَأسُ مِمّا في أيدِي الناسِ، وتَركُ الفُضولِ   “Barangsiapa diberi rezeki 3 hal maka ia akan peroleh 3 hal pula dimana itu adalah kekayaan besar; 1). Kemampuan menerima apa adanya (qana’ah) dengan apa yang telah diterima. 2). Terputus dari sesuatu yang ada di tangan manusia. 3). Meninggalkan sikap berlebih-lebihan.”   Dalam tabel vibrasi David R. Hawkins pun, desire (keinginan) merupakan getaran perasaan rendah yang berenergi force dengan poin energi 125, karena pada dasarnya orang yang penuh ambisi keinginan itu adalah orang stres yang emosinya labil, ia penuh kemelekatan dan selalu diperbudak.   Sementara Anda adalah makhluk sosial yang mustahil tidak punya kepentingan kepada orang lain, sekaligus mustahil pula tidak punya keinginan. Nah jalan memutusnya agar Anda tetap terjaga kekayaannya adalah konsekuensi membayar tersebut.   Anda ada kebutuhan menuntut orang lain kerja untuk kepentingan Anda, di situ Anda di posisi fakir. Ketika Anda sanggup membayar si pekerja, nilai kaya Anda tetap terjaga.   Ketika punya tuntutan kepentingan, lalu tidak sanggup bayar, di situlah Anda sedang berproses untuk menetap sebagai kaum fakir.   Punya hutang, dibikin santai-santai dan ikhlasan bayarnya, model orang begini tidak mungkin akan kaya, karena Anda menuntut orang lain untuk cukupi kebutuhan Anda yakni menghutangi, sementara Anda sendiri boro-boro berpikir bayar tuntutan Anda kepadanya dengan bayar lunas, malahan Anda memasuki mekanisme minus energi kaya karena satu tuntutan Anda belum terbayar, malahan menambah lagi tuntutannya.  Menunut kepada orang lain itu hakikatnya menunut kepada diri sendiri, kalau diri sendiri tidak sanggup membayarnya, ya sudah itu awal mula kemiskinan.   Ghinal akbar (kekayaan besar) adalah terputusnya rasa butuh Anda kepada orang lain. Siapapun yang punya ghinal akbar ini ia susah untuk ditundukan dan diperbudak sebab minimnya keterikatan kebutuhan dengan orang lain.   Lalu andai Anda sama sekali tidak ada butuhnya kepada sesama, kira-kira apa yang terjadi? Yang terjadi adalah kecongkakan dan kesombongan karena merasa tidak butuh.   Karena itu sekaya-kayanya Anda akan tetap dipasang rasa butuh kepada sesama supaya ada mekanisme kontrol rasa rendah hati di dalam diri Anda bahwa orang lain sama berharganya seperti diri Anda.   Pedagang harus hadirkan rasa miskin (rasa butuh) kepada pembeli, dengan rasa miskin ingin dibeli, pedagang berkenan rendahkan hati kepada pembeli.   Guru harus hadirkan rasa

MEI 2023

PENTINGNYA BERPUTUS ASA

Rafi Ahmad sekaya dan seatas itu papan kekayaan harta dan popularitasnya karena ia memang sanggup membayarnya dengan mahal. Konon ia kerja hingga 18 jam perhari. Mahal, bukan?   Chairil Tanjung juga hari ini masih kerja 14 jam perhari, di awal membangun karir hingga 18 jam kerja perhari. Mahal, ya?   Bukan cuma pengusaha, semua karir pun demikian. Ulama yang sedang kembangkan pondok pesantren, tidak sedikit para ulama besar punya jadwal mengajar lebih dari 12 jam setiap harinya. Para ilmuan hebat, para pejabat sukses, para penulis tersohor, mereka semua melakukan mekanisme kerja yang sama, yakni “kerja di atas rata-rata.”   Itu semua karena mereka orang-orang yang punya impian sehingga mereka harus konsisten mewujudkannya. Ada impian artinya ada keinginan. Setiap keinginan itu adalah tuntutan untuk diri Anda sendiri.   Anda ingin lulus S1, Anda pun dituntut jerih payah intelektualnya, dituntut kesediaan waktu dan kesibukannya sekaligus dituntut biayanya untuk wujudkan keinginan lulus S1 tersebut.   Semua tuntutan tersebut wajib Anda bayarkan tunai, sebab segala hal baru bisa menjadi milik Anda sesudah Anda bayar. Anda tidak punya mobil karena Anda tidak mampu membayarnya, itu artinya Anda punya mobil dengan syarat bayar tunai harganya.   Sehingga ketika seorang Chairil Tanjung yang punya keinginan menjadi pengusaha besar, atau seorang Rafi Ahmad yang punya keinginan menjadi selebritis besar, lantas keduanya tertuntut untuk kerja hingga 18 jam perhari. Karena apapun yang Anda inginkan adalah tuntutan balik kepada diri Anda sendiri untuk mewujudkannya sebagai bentuk mahar bayaran pembelian.   Jangankan keinginan yang besar dan tinggi, ingin pesan makanan di Gofood saja Anda harus sediakan kuota internet, sedikan energi baterai smartphone yang cukup, unduh aplikasi Gofood, installing yang dalam proses ini Anda harus serahkan data digital Anda, harus sediakan waktu untuk pilih-pilih menu, sediakan waktu menunggu, dan jelas harus bayar makanan pesanannya sekaligus bayar jasa ojek pengantarnya. Hanya ingin pesan Gofood, sedemikian besar bayaran dari diri Anda yang harus dikeluarkan.   Sekarang bisa digambarkan, andai keinginan Anda ingin menjadi Youtuber besar, menjadi politikus besar, menjadi pejabat tinggi, menjadi ulama besar, menjadi selebritis tersohor, menjadi pengusaha besar, dan yang paling lazim menjadi orang kaya, kira-kira diri Anda sanggup tidak membayarnya? Dan apapun yang Anda tidak sanggup membayarnya, Anda tidak akan pernah memilikinya.   Karena itu, semua keinginan Anda adalah sistem siksaan yang dipasang untuk menyiksa diri Anda sendiri. Apapun yang Anda inginkan bisanya wujud menjadi milik Anda apabila Anda membayarnya, karenanya tidak ada keinginan yang tidak menuntut pengorbanan bayaran dari diri Anda, entah dibayar dengan apapun, baik bayaran dengan materi maupun jerih payah.   Lah iya, gara-gara ingin pesan makanan lewat Gofood, Anda harus siap sedia menjadi budak suruhan keinginan Anda sendiri. Menyiksa sadis sekali, kan?   Bayangkan rempongnya Anda yang baru inginkan makanan via Gofood, belum lagi ingin baju, ingin rumah, ingin motor, ingin gaji besar, ingin handphone, dan seterusnya. Diri Anda makin stres karena disiksa.   Rafi Ahmad dan Chairil Tanjung baru berkeinginan jadi selebritis dan pengusaha sudah harus membayarnya dengan 18 jam kerja setiap hari, andai mereka mengejar pula keinginan jadi politikus sukses, seperti apa wujud besarnya bayaran yang menuntut balik kepada diri mereka? Seperti apa sadisnya mereka memperbudak diri mereka atas diri mereka sendiri?   Orang yang tidak menyadari kalau keinginan diri adalah sistem siksaan untuk diri sendiri, di situlah seumur-umur hidupnya hanya akan dipakai untuk menzalimi dengan berbagai penderitaan sebab begitu banyaknya tuntutan untuk dirinya.   Repotnya ketika dia tidak sanggup menghandle tuntutan bayaran dari keinginannya, di situ akhirnya orang lain yang dipaksa untuk membayarnya.   Dalam pesugihan kepada iblis, konon seseorang yang ingin kaya harus sediakan korban untuk tumbal. Berarti dia yang ingin kaya, orang lain yang harus membayar derita dan jerih payahnya. Kurang ajar, kan?   Sama saja orang hutang yang mengemplang bayar, dia yang ingin tercukupi kebutuhannya, orang lain yang harus tanggung bayarannya. Ini mekanisme yang sama seperti pesugihan iblis.   Setiap keinginan yang ingin terwujud akan menuntut balik kepada diri Anda untuk membayarnya lunas, entah bayaran jerih payah ataupun bayaran materi. Yang tidak sadar dengan beratnya mekanisme bayaran ini, dia akan terus memperbudakan dirinya untuk wujudkan impian-impiannya.   Sadar ini, Anda perlu sekali untuk berputus asa dari apa-apa yang Anda inginkan. Lah iya yang memperbudak Anda itu keinginan atau asa Anda. Kalau asanya diputus, kan Anda merdeka? Ibn Athaillah dalam Kitab Al-Hikam menyampaikan,   أنْتَ حُرٌّ مِمَّا أنْتَ عَنْهُ آيِسٌ، وَعَبْدٌ لِمَا أنْتَ لَهُ طَامِعٌ   “Engkau merdeka dari segala sesuatu yang tidak kamu harapkan. Dan engkau menjadi budak dari sesuatu yang kau inginkan.” (Al-Hikam karya Ibn Athaillah)   Saat Anda memutus asa atau memutus keinginan Anda, di situ Anda merdeka. Kalau merdeka itulah kekayaan sesungguhnya. Imam Syafii berkata,   وَلَيْسَ اْلغَنِيُّ إِلاَّ عَنِ الشَّيْءِ لاَ بِهِ   “Tidak ada kekayaan kecuali tidak perlu apa-apa dari segala sesuatu.”   Cuma apa iya diri Anda sama sekali tidak berkeinginan? Saya sering ibaratkan dengan kuda delman sebagai pekerja keras dalam lari. Karena kuda delman tidak berkeinginan kaya, tidak ada kuda delman kaya raya walaupun ia pekerja keras. Yang diperoleh oleh si kuda delman tetap hanya apa yang ia inginkan.   Kuda delman hanya ingin rumput dan kawin, akhirnya cuma itu saja yang ia peroleh, sekalipun kerja kerasnya si kuda delman melampoi kerja keras Anda.   Punya impian, punya keinginan, punya ambisi, punya asa, punya motivasi, punya cita-cita itu keharusan, namun Anda perlu menentukan keinginan mana yang Anda prioritaskan dengan konsisten, jangan semua diembat. Karena kalau semua keinginan diembat, nanti diri Anda yang tidak akan sanggup membayar sebab semua keinginan butuhkan mahar jerih payah.   Banyak sekali kan orang kaya yang sudah punya duit, mereka sempoyongan ingin punya pondok pesantren, karena punya pondok pesantren dari sisi kemuliaan—bukan sisi uang—itu jauh lampoi kemuliaan orang kaya, sampai sewa-sewa ustadz untuk ngajar ngaji.   Ada yang sesudah kaya, ngebet ingin jadi pejabat politik, ia pun zig-zag mengabdi di partai. Ada yang sesudah jadi ulama pengasuh pesantren, mereka ingin terkemuka sebagai tokoh organisasi sosial agama.   Ya tidak apa-apa sebenarnya, cuma perlu sadar, diri Anda sanggup bayar, tidak?   Banyak orang miskin yang sesudah punya motor, ingin kulkas, lantas utang-utang kreditan, belum lagi lunas, ingin lainnya lagi, utang

MEI 2023

BAKUNYA KONTRUKSI KAYA ALAM SEMESTA

Kasus Kematian Brigadir J Ditilik dari Sistem Prosperity Alam Semesta   Alam semesta itu konsisten dalam menerapkan hukum kaya, dimana kalau ingin memiliki sesuatu maka bayarlah. Mobil tidak bisa jadi milik Anda kalau Anda belum bayar lunas harganya. Nilai bayar bisa dengan harta, bisa dengan pikiran, tenaga, jasa, dan apa saja. Gondol mobil di dealer tanpa bayar lunas, Anda disebut maling.   Bahkan sekalipun sudah Anda bayar lunas, lalu sudah jadi milik Anda, sesuatu di luar diri Anda pun masih terus diberi kewenangan untuk eksis hargai dirinya sendiri. Iya mobil sudah Anda bayar lunas, sudah sah menjadi milik Anda, lalu ada bagian mobil yang Anda rusak, maka si mobil akan menuntut diri Anda untuk memperbaikinya.   Mobil kena baret misalkan, kalau Anda tidak membayar lunas biayanya, si mobil akan paksa Anda untuk tampilkan kekurangannya, yang tampilan kekurangan tersebut adalah tampilan Anda sendiri yang miskin belum mampu bayar kerusakan baretannya. Di situ Anda dipaksa membayarnya dengan hati dan mental.   Bahkan dalam kondisi tertentu, ada kerusakan mobil yang tanpa kompromi memaksa Anda untuk bayar konstan, kalau tidak langsung dibayar, mobil menuntut mogok tidak bisa dipakai. Kebocoran ban misalkan.   Jelas kan, sesuatu apapun yang sudah jadi milik Anda sekalipun, maka sesuatu tersebut masih memiliki hak eksistensi harga dirinya, ketika ada yang rusak, Anda masih dituntut bayar.   Itu barang milik Anda yang sudah Anda bayar lunas. Lah kalau barang bukan milik Anda yang belum Anda bayar? Hak apapun tidak ada untuk Anda, kecuali hak pinjam atau sewa, itupun keduanya punya mekanisme pembayaran masing-masing.   Jadi segala energi yang berinteraksi dalam diri Anda itu tidak ada yang gratis, opsi gratis untuk bisa kaya itu tidak ada datanya di alam semesta. Bayar dan bayar.   Lah sekarang kalau tetangga Anda punya tangan, lalu Anda hendak memakainya, ya Anda pun harus bayar. Mau pakai tangan tetangga untuk cabuti rumput halaman rumah Anda, ya Anda harus bayar kan?   Tangan Anda sendiri ketika Anda merusaknya, misal tersayat silet, Anda harus membayarnya lunas, yang pasti harus bayar dengan rasa sakit, harga minimal harus bayar obat-obatan medis, dan kalau harus ke dokter, Anda juga yang harus membayarnya. Padahal itu tangan Anda sendiri.   Kalau yang Anda rusak adalah tangan orang lain? Ya Anda harus bayar.   Tikus saja yang digariskan menjadi hewan hama konsisten membayarnya dengan lunas yakni merelakan diri sebagai hewan yang halal dibunuh, tikus rela hidup tanpa perlindungan hukum. Tikus saja konsisten hidup kaya, ia berani jadi hama, ia berani membayarnya.   Dalam hukum kriminal Islam ada mekanisme qishâsh, di mana kalau Anda merontokan gigi orang lain, hukumannya gigi Anda harus sedia dirontokan, Anda patahkan tangan orang, hukumannya tangan Anda harus sedia dipatahkan, Anda melenyapkan nyawa orang lain, hukumannya nyawa Anda harus siap dilenyapkan.   Tentu mekanisme qishâsh di atas berlaku bila tidak ada alasan darurat tertentu untuk lenyapkan nyawa orang lain.   Bila pelaku kejahatan tidak bersedia di-qishâsh, ia harus bayar diyat yakni ganti rugi dengan bayaran harta yang besarannya mencapai 100 ekor unta.   Mekanisme qishâh ini mekanisme alamiah, bukan sekedar aturan baku hukum Islam, Anda menuntut anggota tubuh orang lain bekerja, Anda harus bayar, Anda merusak anggota tubuhnya Anda harus bayar lunas. Semuanya berbayar lunas.   Dan ketika Anda menuntut lenyapnya nyawa orang lain, itu berarti Anda sedang menuntut lenyapnya nyawa sendiri, melenyapkan nyawa orang lain sama saja melenyapkan nyawa sendiri. Bila tidak berani pembayaran dengan nyawa sendiri, harus bayar diyat. Dulu TKW Indonesia di Arab Saudi bayar diyat hingga Rp 15,2 M.   Bayar lunas, begitu pemasangan konstruksi alam semesta, tidak berani bayar resikonya Anda harus bayar dengan kemiskinan.   Kopda Muslimin yang kemarin viral mendalangi pelenyapan nyawa istrinya sendiri ia pun tak kuasa membendung mekanisme alam yang ujung-ujungnya ulahnya menuntut nyawa istrinya lenyap, eh malahan mekanisme kerja alam alam berbalik menuntut nyawanya sendiri lenyap.   Sementara ia sendiri mentalnya gratisan, maunya lenyapkan nyawa istri tapi ia tidak mau bayar dengan resiko apapun. Namun alam semesta tetap baku dengan aturan qishahnya, hasilnya Kopda Muslimin harus bunuh diri melenyapkan nyawanya sendiri.   Disayangkan sekali, Kopda Muslimin secara tindakan sudah bayar lunas dengan nyawanya, namun motifnya adalah motif gtatisan minta luput dari resiko hukum, ia putus asa. Hasilnya nyawanya sendiri lenyap, tapi status kemiskinannya tetap tersemat. Rugi besar.   Yang lagi viral sekarang kasus kematian Brigadir J (Nofriansyah Joshua Hutabarat). Sebegitu heboh.   Keluarga Brigadir J secara ekonomi sebenarnya keluarga pas-pasan, dalam situasi normal, keluarganya untuk biaya sekali terbang ke Jakarta saja mungkin butuh mikir panjang. Namun ketika nyawa Brigadir J dilenyapkan, keluarga ini dimampukan menggerakan uang puluhan hingga ratusan milyar untuk memperjuangkan harga diri nyawa Brigadir J.   Alam semesta dengan enteng mengfasilitasi uang yang angkanya jauh di luar kemampuan ekonomi sebenarnya keluarga Brigadir J. Jangankan untuk bayar puluhan lawyer Brigadir J, untuk sewa 1 lawyer saja—bila diukur kemampuan ekonomi sebenarnya—keluarga Brigadir J masih berat.   Belum lagi berapa juta transaksi keuangan bergerak terkait nyawa Brigadir J? Di luar nalar dan di luar kapasitas ikhtiyar manusia. Namun begitulah kontruksi alam semesta bila sedang menuntut bayar lunas kepada pihak yang minta gratisan.   Lah iya, kenapa kasus Brigadir J seheboh itu? Dikarenakan pelaku pembunuhan Brigadir J minta gratisan atas nyawa orang lain. Si pelaku menuntut nyawa Brigadir J lenyap, di mana menuntut nyawa orang lain konsekuensi bayarannya adalah menuntut nyawanya sendiri.   Namun pelaku inginkan gratis, yang ia inginkan ia tetap eksis hidup dengan segala jabatan, harta, dan kekuasaan. Mentalnya miskin, mentalnya gratisan.   مَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيْلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يُفْدَى وَإِمَّا أَنْ يُقْتَل   “Barangsiapa yang keluarganya terbunuh maka ia bisa memilih dua pilihan, bisa memilih diyat dan bisa juga memilih pelakunya dibunuh (qishâsh).” [H.R. Al-Jamâ’ah].   Ayat di atas adalah ayat kekayaan, bahwa kalau mau kaya harus berani bayar, sampai tidak ada lagi harta untuk membayar, ya siapkan nyawa Anda untuk membayar.   Jadi yang Anda saksikan dari kasus kematian Brigadir J sekarang ini adalah kehebohan dari sebuah kasus mental gratisan, mental miskin.   Hasilnya apa sih orang yang mentalnya gratisan, tidak mau bayar lunas? Hasilnya kemiskinan. Banyak jabatan kepolisian sudah dipaksa lepas, belum lagi vonis hukuman

Scroll to Top